Anda di halaman 1dari 6

BLOK EMERGENSI Journal Reading: MISCARRIAGE

KELOMPOK A-12

Ketua Sekertaris Anggota

: Julia : Firda Jusela : Arif Gusaseano Fatin Fatira Farhah Gwendry Ramadhany Heru Tri Purwanto Indah Kusumawati Irene Ratnasari Karina Lia Pradita
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS YARSI 2013

(1102010137) (1102010102)

(1102010033) (1102010098) (1102010115) (1102010122) (1102010128) (1102010131) (1102010139) (1102010151)

MISCARRIAGE
Keguguran atau abortus spontan adalah pengeluaran hasil konsepsi yang berusia kurang dari 20 minggu gestasi. Abortus spontan berbeda dengan abortus sekunder. Abortus Spontan terjadi dalam 4 tahap: 1. Abortus mengancam/imminens Terjadi pada 20 minggu kehamilan pertama. Terjadi perdarahan pervaginam. Tidak terjadi dilatasi serviks. 2. Aborts tak terhindarkan/insipiens Sudah terdapat dilatasi serviks. 3. Abortus inkomplit Terjadi perdarahan, dilatasi serviks, kram, beberapa jaringan uterus keluar, sementara janin dan sisa plasenta dalam uterus 4. Abortus komplit Semua haisl konsepsi sudah keluar dari vagina Abortus inkomplit berbeda dengan missed abortion. Abortus Inkomplit hanya janin, jaringan telah keluar. Sedangkan missed abortion, janin telah meninggal, dan hasil konsepsi seluruhnya masih tertahan di uterus Kejadian aborsi spontan pada trimester pertama terhitung 80% dari total semua

kejadian keguguran. Kejadian tersering yang terjadi pada aborsi spontan adalah genetic embrio yang abnormal karena kelainan yang terjadi pada kromosom itu sendiri atau mutasi, dan terhitung sekitar 50%-60% kejadian keguguran. Konsepsi yang terjadi di luar masa subur dari siklus ovulasi (konsepsi biasanya 8-10 hari setelah ovulasi) bisa juga berhubungan dengan keguguran pada beberapa kasus. Keguguran 3 kali atau lebih berurutan bias disebut juga dengan habitual abortion. Kondisi ini terjadi di kurang lebih 1% wanita yang mencoba untuk mengandung ; alasan genetic (translokasi kromosom pada orang tua) ditemukan berpengaruh di kurang lebih 2%3% kasus, tetapi penyebab dari habitual abortion masih belum diketahui. Sangat mungkin dari setiap kasus keguguran memiliki penyebab yang berbeda.

Faktor Resiko Semua perempuan dari ras apapun memiliki resiko yang sama. Peningkatan insidensi keguguran disebabkan oleh : Lingkungan dan kebiasaan buruk penderita o Penyalahgunaan obat-obatan dan alkohol o Merokok o Malnutrisi o Konsumsi caffeine berlebihan o Toksik industrial o Penggunaan NSAID berlebihan Penyakit bawaan o Tumor uterus o Fibroids o Defek uterus o Cervical incompetence o Penyakit thyroid tak terkontrol o Ketidakseimbangan hormonal o Penyakit ginjal o Infeksi aktif o Penyakit kronik Diabetes Sindrom Polikistik ovary SLE Hipertensi Sindrom Antiphospholipid o Maternal-fetal ketidakcocokan Rh

Usia juga berpengaruh dalam peningkatan insiden abortus/keguguran : o o o o < 35 tahun 35 39 tahun 40 42 tahun > 42 tahun 15 % 20 25 % 35 % 50 %

Insidensi dan prevalensi Rata-rata 10 15 % abortus spontan, hal ini terjadi bahkan sebelum ibu menyadari bahwa dirinya telah hamil.

Diagnosis Wanita dengan gejala perdarahan vagina, kram, keluarnya sebagian jaringan komsepsi. Disertai gejala nyeri perut bawah menjalar ke belakang, pantat, dan area vagina. Gejala lain keluarnya cairan karena rupturnya kantong amnion. Ditambah tidak ada tanda kehamilan seperti mual dan payudara yang melunak. Riwayat aborsi spontan, penyakit kronis, kehamilan sebelumnya , dan pembedahan biasanya dicantumkan Pemeriksaan Fisik Pemeriksaan pelvis harus dapat menilai sumber dan intensitas perdarahan ,ukuran uterus, serviks dan massa disekitar uterus. Aborsi dapat dilakukan bila terlihat dilatasi serviks dan adanya jaringan yang menonjol dari serviks menandakan jaringan tersebut akan keluar. Pemeriksaan abdomen dilakukan untuk menilai ada tidaknya tanda-tanda kelainan abdomen lain, seperti distensi, pembesaran hepar dan limfe. Bising usus dapat membantu dalam menepis kemungkinan akut abdomen yang tidak berhubungan dengan kehamilan. Pengukuran tanda vital penting dilakukan apabila terjadi perdarahan terus menerus yang akan mempengaruhi tekanan darah dan keseimbangancairan. Terjadinya missed abortion dapat terjadi bila tanda tanda kehamilan dan tanda-tanda aborsi spontan tidak ditemukan. Khas yang terjadi pada missed abortion adalah uterus yang mengecil.

Pemeriksaan Tes kehamilan biasanya telah dilakukan. Pemeriksaan darah yang dilakukan untuk mengukur kadar hCG secara kuantitatif mungkin dilakukan dan diulang dalam beberapa hari untuk melihat adanya peningkatan atau penurunan kadar hCG dasar selain untuk konfirmasi kehamilan. Tes ini penting untuk membedakan apakah perdarahan berhubungan dengan kehamilan atau sebab lain. Jika jaringan telah pulih, pemeriksaan laboratorium (pemeriksaan histopatologi) dapat memastikan perdarahan bersal dari janin. Penghitungan darah total dapat mengevaluasi banyaknya darah yang hilang. Penghitungan sel darah putih dapat mennunjukkan potensi terjadinya infeksi. Tes koagulasi (trombosit, fibrinogen, PT ,PTT) dapat dilakukan jika ada perdarahan yang berarti atau penghitungan darah total menunjukan kelainan hematologi atau DIC. Pemeriksaan kimia darah mungkin dilakukan untuk mengevaluasi ketidak seimbangan cairan selama perdarahan serta fungsi hati dan ginjal. Pemeriksaan golongan darah, skrining antibody dan uji silang dilakukan untuk kemungkinan transfusi. Jika dibutuhkan, ibu dengan Rh (-) harus

mendapatkan Rho (D), RhoGAM untuk menghindari sensitivitas pada kehamilan selanjutnya. Urinalisis diperlukan untuk menyingkirkan infeksi saluran kemih. USG abdomen dan transvaginal dilakukan untuk mengevaluasi dankonfirmasi tingkat abortus, kehamilan ektopik, atau masalah ginekologi. Jika seseorang sudah memiliki riwayat aborsi, diperlukan test ginekologi dan tes lainnya untuk mencari etiologinya. Dapat pula dilakukan pemeriksaan hormon, X-Ray uterus dan tubafalopii.

Diagnosis Banding 1. Apendisitis akut 2. Kanker serviks 3. Polip serviks 4. Servisitis 5. Kehamilan ektopik 6. Mola hidantidosa 7. Kista ovarium, ruptur kista ovarium 8. Protruding uterine fibroid 9. Von Willebrand Disease

Treatment Wanita yang memiliki infeksi setelah mengalami aborsi spontan memerlukan terapi dengan menggunakan antibiotik. Perdarahan membutuhkan penatalaksanaan berupa suplemen besi atau transfusi darah serta rawat inap. Wanita yg memiliki kebiasaan mengalami aborsi spontan sebaiknya pergi konsultasi ke spesialis fertilitas. Kalau perdarahan berlanjut setelah D&C, akibat dari perforasi uterus atau pembuluh darah, tindakan kauterisasi elektro pada bagian yg mengalami perdarahan dapat dilakukan dengan cara laparoskopi atau laparotomi untuk masuk ke kavitas uterus. Wanita dengan rh-negative harus diberikan Rho(D) imun globulin untuk mencegah terbentuknya antibodi dan kemungkinan komplikasi Rh. Terapi psikologi seperti konseling atau psikoterapi bisa diindikasikan untuk membantu menenangkan pasien dalam keadaan kehilangan kehamilannya. Beberapa wanita bahkan mendapat keuntungan dari mendatangi grup support dengan para wanita lainnya yg memiliki pengalaman aborsi spontan juga.

Prognosis Kesembuhan fisik secara lengkap adalah yg diharapkan. Mayoritas wanita yg mengalami aborsi spontan pada akhirnya bisa memiliki bayi melalui kehamilan cukup bulan. Komplikasi Komplikasi yang dapat terjadi: Infeksi Perdarahan hebat atau komplikasi dari D&C atau tranfusi darah Ketepatan waktu melakukan D&C sangat penting dalam mencegah angka kesakitan dan kematian. Anemia : terjadi karena perdarahan DIC : adalah gangguan koagulasi atau pembekuan darah yang dapat mengakibatkan perdarahan tidak berhenti Syok : biasanya disertai DIC D&C merupakan faktor resiko dari Sindrom Asherman (perlengketan cavun uteri) yang dapat mengganggu kesuburan selanjutnya Depresi psikis dapat memperlambat kesembuhan fisik secara sempurna

Yang perlu dihindari Pada awalnya, hindari pekerjaan yang banyak bergrak dan berdiri yang lama serta mengangkat benda berat sampai sembuh sempurna. Faktor yang mempengaruhi lamanya penyembuhan Aborsi inkomplit/miss yang mengakibatkan infeksi atau perdarahan membutuhkan waktu yang lama mengalami keterbatasan dari pada aborsi tanpa komplikasi. Depresi hebat dan kesedihan karena kehilangan kehamilan dapat meningkatkan lamanya keterbatasan.