Anda di halaman 1dari 37

BAKTERI PATOGEN PADA KULIT

KELOMPOK 3 Afria Kusumaningrum Sepra Juasna Pratiwi Juli Safriani Numan Maiz

Melda Elfryda Marpaung


Ayun Ria Cahyanti Arief Candra Nurohman Qisty Rahmawati Husna

Anatomi Kulit
Kulit adalah organ yang terletak paling luar dan

membatasinya dari lingkungan hidup manusia Pembagian kulit secara garis besar tersusun atas tiga lapisan utama yaitu lapisan epidermis atau kutikel, lapisan dermis, dan lapisan subkutis Tidak ada garis tegas yang memisahkan dermis dan subkutis, subkutis ditandai dengan adanya jaringan ikat longgar dan adanya sel dan jaringan lemak

Bakteri Patogen pada Kulit


Staphylococcus aereus Staphylococcus epidermidis Streptococcus pyogenes Pseudomonas aeruginosa Propionibacterium acnes

Staphylococcus aereus
Kingdom : Bacteria Phylum Class Order Family Genus Spesies

: Firmicutes : Bacilli : Bacillales : Srtaphylococcaceae : Staphylococcus : Staphylococcus aereus

Staphylococcus aereus
Morfologi dan fisiologi
Bulat Koloni berbentuk

Gambar

anggur Berwarna kuning emas Anaerob fakultatif Bakteri Gram-positif Menghasilkan enzim katalase positif Bersifat patogen

Staphylococcus aereus
Staphylococcus aureus menghasilkan tiga macam metabolit, yaitu metabolit nontoksin, eksotoksin, dan enterotoksin.
A. Metabolit nontoksin 1) Antigen permukaan 2) Koagulase 3) Hialuronidase 4) Fibrinolisin 5) Gelatinase dan protease 6) Lipase dan tributirinase 7) Fosfatase, lisozim, dan penisilinase 8) Katalase

B. Eksotoksin

1)
2) 3) 4) 5) 6)

-Hemolisin -Hemolisin -Hemolisin Leukosidin Sitotoksin Toksin eksfoliatin

C. Enterotoksin

Toksin ini terbentuk jka bakteri ditanam dalam pembenihan semisolid yang mengandung CO2 30%. Toksin ini terdiri atas protein yang bersifat berikut ini. Nonhemolitik. Nondermonekrotik. Nonparalitik. Termostabil, dalam air mendidih tahan selama 30 menit. Tahan terhadap pepsin dan tripsin.

Staphylococcus aereus
MEKANISME INFEKSI Pelekatan pada protein sel inang Struktur sel Staphylococcus aureus memiliki protein permukaan yang membantu penempelan bakteri pada sel inang Protein tersebut adalah laminin dan fibronektin yang membentuk matriks ekstraseluler pada permukaan epitel dan endotel. Beberapa galur mempunyai ikatan protein fibrin/fibrinogen yang mampu meningkatkan penempelan bakteri pada darah dan jaringan. Sebagian besar galur Staphylococcus aureus mempunyai protein ikatan terhadap fibronektin dan fibrinogen. Adhesin yang dapat berikatan dengan kolagen ditemukan pada galur bakteri yang menyebabkan osteomislitis dan

Staphylococcus aereus
Invasi Beberapa protein berperan penting dalam proses invasi Staphylococcus aureus ke dalam sel inang.
- toksin - toksin

- toksin
Toksin dan leukosidin Koagulase Stafilokinase Enzim ekstraseluler lain

Staphylococcus aereus
Perlawanan terhadap sistem pertahanan inang Staphylococcus aureus memiliki kemampuan mempertahankan diri terhadap mekanisme pertahanan inang. Beberapa faktor pertahanan diri yang dimiliki oleh Staphylococcus aureus : Simpai polisakarida Protein A Leukosidin

Staphylococcus aereus
Pelepasan beberapa jenis toksin Eksotoksin Superantigen

Staphylococcus aereus
PATOGENESIS Staphylococcus aereus menyebabkan infeksi pada kulit seperti bisul dan furunkulosis; infeksi yang lebih serius seperti pneunomia, mastitis, flebitis, dan meningitis; serta infeksi pada saluran urin. Staphylococcus aereus juga menyebabkan infeksi kronis seperti osteomielitis dan endokarditis. Staphylococcus aereus merupakan salah satu penyebab utama infeksi nosokomial akibat luka tindakan operasi dan pemakaian alat perlengkapan perawatan rumah sakit. Staphylococcus aereus juga dapat menyebabkan keracunan makanan akibat enterotoksin yang dihasilkannnya dan menyebabkan sindrom renjat toksik akibat pelepasan superantigen ke dalam aliran

Staphylococcus aereus
Gejala Penyakit: o Impetigo o Folikulitis o Furunkel o Karbunkel o Hidradenitis o Mastitis o Selulitis o Piomiositis o Sindrom kulit terbakar o Blefarisis o Paronikia o Sindrom renjat toksik

Staphylococcus aereus
PENGOBATAN Uji sensitivitas antibiotik diperlukan untuk memilih antibiotik yang tepat untuk mengatasi infeksi. Penicillin atau derivatnya dapat diberikan kecuali pada pasien yang alergi. Terapi oral penicillin semi sintetik seperti kloksasilin atau dikloksasilin cukup berhasil untuk infeksi akut. Oksasilin dan nafsilin tidak dianjurkan untuk terapi oral karena absorbsinya kurang baik dalam saluran cerna. Jika penderita alergi penicillin dapat digunakan eritromisin. Untuk pasien yang alergi dengan injeksi nafsilin atau oksasilin dapat diganti dengan vankomisin atau sefalosporin. Pemberian antibiotik kadang harus dilengkapi

Pseudomonas aeruginosa
Taksonomi
Phylum

: Proteobacteria Class :Gamma Proteobacteria Order : Pseudomonadales Family : Pseudomonadaceae Genus : Pseudomonas Species : Pseudomonas aeruginosa

Pseudomonas aeruginosa
Morfologi & Fisiologi
Gram negatif mempunyai flagel tunggal

Gambar

yang bersifat polar atau terkadang terdiri atas 2-3 flagel ukuran 0,5-1m x 3-4m Pseudomonas aeruginosa merupakan satu-satunya bakteri yang menghasilkan pigmen piosianin, yang berwarna biru kehijauan dan dapat larut dalam kloroform, dan pigmen fluoresen, pioverdin, yang larut dalam air

Pseudomonas aeruginosa
PATOGENESIS Tahapan infeksi bakteri Pseudomonas aeruginosa terdiri atas: Penempelan bakteri dan kolonisai Invasi Penyebaran bakteri melalui sistem peredaran darah PENYAKIT INFEKSI Dermatitis Otitis eksterna Folikulitis Infeksi pada luka bakar Pengobatan dan pencegahan

Staphylococcus epidermidis
Taksonomi
Divisi : Protophyta Kelas :Schizomycetes Bangsa : Eubacteriales Suku : Micrococaceae Marga : Staphylococcus Spesies : Staphylococcus epidermidis

Staphylococcus epidermidis
Morfologi dan fisiologis
- bakteri Gram-positif - koloni berwarna putih

Gambar

atau kuning - bersifat anaerob fakultatif - Bakteri ini tidak mempunyai lapisan protein A pada dinding sel dapat meragi laktosa, tidak meragi manitol dan bersifat koagulase negatif.

Staphylococcus epidermidis
GEJALA PENYAKIT Staphylococcus epidermidis dapat menyebabkan infeksi kulit ringan yang disertai dengan pembentukan abses. Staphylococcus epidermidis biotipe-1 dapat menyebabkan infeksi kronis pada manusia.

Streptococcus pyogenes
TAKSONOMI Divisi : Firmicutes Kelas : Bacilli Bangsa : Lactobacillales Suku : Streptococcaceae Marga : Streptococcus Spesies : Streptococcus pyogenes

Streptococcus pyogenes
Morfologi dan fisiologi
Streptococcus pyogenes

Gambar

atau Streptococcus beta hemolyticus grup A bakteri gram positif Berbentuk coccus diameter 0,5 1 mikrometer Streptococcus pyogenes tumbuh tersusun meyerupai bentuk rantai yang khas. Dalam media perbenihan cair yang sesuai, Streptococcus pyogenes dapat membentuk rantai panjang yang terdiri atas 8 buah coccus atau lebih.

Streptococcus pyogenes
PENYAKIT INFEKSI Streptococcus pyogenes dapat menyebabkan infeksi kulit berupa Erisipelas impetigo Selulitis miositis fasiitis nekrotik.

Streptococcus pyogenes
Beberapa senyawa yang dapat menjadi faktor invasi bakteri Streptococcus pyogenes melalui lesi pada kulit adalah sebagai berikut : Streptokinase Hialuronidase Deoksiribonuklease Leukosidin Streptococcus Toksin eritrogenik

Streptococcus pyogenes
PENGOBATAN Sampai saat ini semua Streptococcus beta hemoliticus group A sensitif terhadap penicilin G.

Propionibacterium acnes
Taksonomi Kingdom : Bacteria Phylum : Actinobacteria Class : Actinobacteridae Orde : Actinomycetales Family : Propionibacteriaceae Genus : Propionibacterium Spesies : Propionibacterium acnes

Propionibacterium acnes
Morfologi dan Fisiologi Propionibacterium acnes merupakan bakteri anaerob yang ditemukan pada kulit Bakteri ini tumbuh dengn lambat Gram-positif. Gambar

Propionibacterium acnes
PATOGENITAS DAN GEJALA PENYAKIT Salah satu penyakit kulit yang di sebabkan oleh bakteri ini adalah jerawat. Jerawat timbul karena beberapa faktor, yaitu : produksi sebum yang berlebihan hiperkeratinasi abnormal pada folikel Hiperkeratinosit kolonisasi bakteri Propionibacterium acnes inflamasi. Pada beberapa individu, jerawat dapat berkembang menjadi nodular cystic acne, yang ditandai dengan terbentuknya nodula atau parut akibat peradangan. Lesi pada kulit ini disertai dengan adanya nanah pada jerawat dan akan meninggalkan bekas luka yang permanen pada kulit ketika sembuh.

Propionibacterium acnes
PENGOBATAN Obat-obat topikal untuk komedo antara lain : sediaan asam salisilat Retinoid Tretinoin Tazaroten Adapalen Jerawat yang disertai peradangan dapat diobati dengan antibiotik yang dapat menghilangkan atau menghambat pertumbuhan bakteri Propionibacterium acnes, antara lain eritromisin dan benzamisin. Beberapa sediaan topikal juga sering digunakan, yaitu salep yang mengandung benzoil peroksida atau tretinoin. Sediaan isotretinoin dapat digunakan secara hati-hati terutama untuk wanita hamil, walaupun hanya untuk beberapa hari, karena mempunyai efek

KEPEKAAN Staphylococcus aureus, Staphylococcus epidermidis dan Pseudomonas aeruginosa TERHADAP EKSTRAK DAUN LEGUNDI (Vitex trifolia Linn.) IRADIASI

Telah digunakan bakteri S. aureus, S. epidermidis dan P. aeruginosa untuk penelitian kepekaannya terhadap ekstrak daun legundi iradiasi. Bakteri tersebut merupakan flora normal kulit, namun dapat bersifat patogen yaitu menyebabkan penyakit kulit yang disebut pioderma. Secara empiris daun legundi bermanfaat untuk menyembuhkan beberapa jenis penyakit diantaranya asitis, kejang perut, batuk, luka, tonsilitis, demam nifas, beri-beri, batuk rejan dan tuberculosis, namun belum banyak didukung data ilmiah. Tujuan percobaan ialah mengetahui aktivitas ekstrak daun legundi iradiasi terhadap biakan ketiga bakteri tersebut. Ekstrak daun legundi diiradiasi dengan menggunakan sinar gama Co-60 pada dosis 0, 10, 25, 35 kGy dan laju dosis 8 kGy/jam. Penentuan aktivitas ekstrak daun legundi terhadap bakteri dilakukan secara teknik difusi untuk mengetahui zona hambat dan dilusi untuk mengetahui konsentrasi hambat minimal (KHM). Hasilnya dapat disimpulkan bahwa ekstrak daun legundi iradiasi masih mempunyai aktivitas terhadap ketiga jenis bakteri tersebut. Diameter tertinggi rona hambat ekstrak daun legundi dengan konsentrasi 100 % yang diiradiasi pada dosis 35 kGy terhadap biakan bakteri P. aeruginosa sekitar 14 mm, sedangkan KHM terendah juga

KORELASI ANTARA JUMLAH KOLONI Staphylococcus aureus & IgE SPESIFIK TERHADAP ENTEROTOKSIN Staphylococcus aureus PADA DERMATITIS ATOPIK
Dermatitis atopik (DA) merupakan suatu penyakit keradangan kulit yang kronik, sering mengalami kekambuhan, keadaan ini juga berhubungan dengan kondisi atopi lain seperti rhinitis alergi dan asma. Sering didapatkan penurunan fungsi sawar kulit, sehingga mikroorganisme lebih mudah masuk pada epidermis. Salah satu mikroorganismenya adalah Staphylococcus aureus. Pada kulit orang DA paling banyak ditemukan kolonisasi Staphylococcus aureus. Pada DA Staphylococcus aureus juga memproduksi enterotoksin yang bersifat sebagai superantigen, yang juga berperan pada timbulnya keradangan dan kekambuhan DA. Tujuan : Menghitung jumlah koloni Staphylococcus aureus pada lesi DA, mengukur kadar IgE spesifik terhadap enterotoksin Staphylococcus aureus dan mengetahui adanya korelasi antara keduanya. Metode : Dilakukan swab kulit pada lesi DA untuk mengetahui jumlah kolonisasi Staphylococcus aureus dan dilakukan pengambilan darah untuk pemeriksaan IgE spesifik terhadap enterotoksin Staphylococcus aureus. Kemudian data diolah dan dilakukan analisa statistik. Hasil : Dari 24 sampel pada penelitian ini, didapatkan pertumbuhan koloni Staphylococcus aureus pada 18 sampel, dan tidak didapatkan pertumbuhan koloni Staphylococcus

Deteksi Bakteri Patogen Streptococcus pyogenes dengan Teknik Polymerase Chain Reaction (PCR)

Deteksi patogen bakteri Streptococcus pyogenes dilakukan oleh Polymerase Chain Reaction (PCR) teknik menggunakan spesies kromosom UAB200, CS24, dan M24 sebagai template. Ketiga kromosom berhasil diisolasi dengan menggunakan metode lisis Bollet kedua. Sebelum lisis dengan microwave, tambahan perawatan seperti mencuci dengan air suling steril dan beku-mencair dilakukan. Produk amplifikasi spesies UAB200, CS24, dan M24 sebagai template dengan PCR menggunakan 30 siklus terdeteksi oleh elektroforesis gel agarosa menggunakan spidol tangga 100pb dan penanda HindIII sebagai standar. Hasil yang diperoleh adalah sebagai berikut Gen emm6 dan emm12 memiliki 1495pb dan 1700pb panjang, masing-masing. Panjang kedua gen yang kurang lebih sama seperti yang di data yang diterbitkan (1452pb untuk gen emm6 dan 1693pb untuk gen emm12). Data dari literatur menunjukkan bahwa panjang gen emm24 adalah 1617pb. Sayangnya, upaya untuk memperkuat gen emm24 gagal.

EFEK GETAH PELEPAH PISANG (Musa spp) TERHADAP PERTUMBUHAN Pseudomonas aeruginosa SECARA IN VITRO Penelitian ini bertujuan untuk membuktikan efek antimikroba getah pelepah pisang terhadap pertumbuhan Pseudomonas aeruginosa secara in vitro yang dilaksanakan pada bulan Mei sampai dengan bulan Oktober 2005. Bahan yang digunakan adalah bakteri Pseudomonas aeruginosa, nutrient agar, MacConkey agar, kristal violet, lugol, alkohol 70% dan 96%, safranin, aquades, kertas uji oksidase, getah pelepah pisang, tissue, kertas roti, kertas penanda, plester bening, korek api. Perlakuan pada penelitian ini (konsentrasi getah pelepah pisang 0%, 20%, 40%, 60%, 80%, dan 100%) dilakukan pada lima isolat Pseudomonas aeruginosa. Metode Penelitian meliputi pembuatan Nutrient Agar Plate, identifikasi bakteri Pseudomonas aeruginosa, perbenihan cair, uji antimikroba getah pelepah pisang terhadap pertumbuhan Pseudomonas aeruginosa dengan menggunakan metode dilusi tabung dan modifikasi metode difusi agar, analisa data jumlah koloni dan diameter zona hambatan pertumbuhan Pseudomonas aeruginosa melalui analisis statistik one way ANOVA, korelasi dan regresi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa peningkatan konsentrasi getah pelepah pisang menyebabkan penurunan jumlah koloni

INFEKSI STREPTOCOCCUS DAN PSORIASIS


Psoriasis merupakan penyakit inflamasi kulit yang mengenai 1-3% populasi penduduk, Beberapa faktor seperti aktifasi sel T oleh APC (antigen presenting cells), sel Langerhans, proliferasi sel2 keratinosit dan sitokin-sitokin diketahui mengalami peningkatan pada lesi psoriasis, tetapi superantigen yg memicu aktifasi sel T sampai saat ini masih belum diketahui. Secara epidemiologi prevalensi psoriasis berhubungan erat dengan riwayat sesudah infeksi Streptococcus seperti meningkatnya kasus-kasus psoriasis sesudah wabah scarlet fever dan timbulnya psoriasis gutata 2 minggu sesudah tonsillitis. Psoriasis berhubungan langsung dengan infeksi Streptococcus, dimana antigen-antigen Streptococcus pada tonsilitis dan gangren radix dentis dapat memicu aktifasi sel T.

Kesimpulan
Berdasarkan uraian di atas maka dapat disimpulkan bahwa : Bakteri patogen pada kulit terdiri dari Staphylococcus aureus, Staphylococcus epidermidis, Steptococcus pyogenes, Pseudomonas aeruginosa, dan Propionibacterium acnes. Koloni bakteri Staphylococcus aureus secara mikroskopis menyerupai anggur dan berwarna kuning keemasan, koloni Staphylococcus epidermidis berwarna putih atau kuning. Koloni Steptococcus pyogenes menyerupai bentuk rantai yang khas. Gejala penyakit yang ditimbulkan oleh infeksi Staphylococcus aureus berupa impetigo, folikulitis, furunkel, karbunkel, hidradenitis, mastitis, selulitis, sindrom kulit terbakar, blefaritis, paronikia, sindrom renjat toksik. Infeksi Staphylococcus epidermidis berupa ruam kulit dan infeksi ringan pada kulit. Infeksi Steptococcus pyogenes berupa erisipelas, impetigo, selulitis, miositis dan fasiitis nekrotik. Infeksi Pseudomonas aeruginosa berupa dermatitis, folikulitis, infeksi oportunistik pada