Anda di halaman 1dari 4

Skrining PTSD di Puskesmas

Mengapa petugas Puskesmas perlu mengetahui tentang stres pasca trauma?


Dokter Puskesmas yang akan menjumpai pertama kali meningkatnya penyandang trauma setelah terjadinya suatu bencana. Kebanyakan pasien ini lebih menampilkan keluhan atau gejala fisiknya daripada gejala-gejala psikiatrik atau emosionalnya. Itulah sebabnya maka petugas Puskesmas harus mengetahui tentang PTSD.

Memiliki pengetahuan tentang stress akibat trauma penting karena:


Trauma sering berlanjut menjadi PTSD dan gangguan jiwa lainnya

Pasien PTSD akan mengalami hendaya fungsional seperti yang terjadi pada pasien depresi berat. Pasien dengan kecemasan yang tidak mendapat terapi yang adekuat dilaporkan mempunyai tingkat fungsi yang sama dengan penderita penyakit fisik khronis seperti diabetes atau gagal jantung menahun. PTSD sering dikaitkan dengan masalah-masalah kehidupan, seperti masalah rumah tangga, kehilangan/tidak punya pekerjaan, dan ide-ide bunuh diri. Pengalaman traumatis dan stress akibat trauma menyebabkan terjadinya berbagai perubahan hormonal, kimiawi saraf, fungsi imunologik dan system saraf otonom yang mempengaruhi kesehatan secara keseluruhan.

PTSD sering dijumpai di Puskesmas, tapi seringkali tidak terdeteksi Kegagalan menidentifikasi PTSD akan mengakibatkan buruknya kesehatan fisik dan mental pasien

Skrining dan prosedur rujukan


A. Skrining administratif. Dokter memberikan dulu self-assessment untuk stress akibat trauma, hasilnya dinilai oleh dokter, perawat atau petugas lain yang terlatih untuk mengetahui apakah ia mengalami stress pasca trauma. Self assessment ini dapat ditambah dengan berbagai pertanyaan sesuai dengan kebutuhan administrative di Puskesmas. B. Pembahasan dan rujukan. Sesudah hasil assessment ada, diskusikan dengan pasien, dokter dapat mempertimbangkan apakah pasien memerlukan pemeriksaan atau tindakan psikiatrik oleh psikiater atau tidak. Pasien yang jelas menunjukkan PTSD sebaiknya dirujuk ke psikiater untuk tindakan lebih lanjut.

Penting untuk difahami alasan pemberian self-assessment. Beberapa pasien yang menunjukkan hasil "positif bisa saja ternyata setelah diperiksa teliti oleh psikiater ternyata tidak menderita PTSD. Namun skrining ini tetap meningkatkan kemampuan petugas di Puskesmas mendeteksi PTSD dan melakukan rujukan secara benar. Pasien yang positif PTSD sebaiknya diskrining juga kemungkinan adanya ide bunuh diri. C. Tindak lanjut. Bila pasien dirujuk, pada kunjungan berikutnya cek apakah ia memenuhi semua prosedur di sarana pelayanan kesehatan jiwa. Bila memenuhinya, tanyakan apakah rujukan tersebut bermanfaat bagi dirinya. Bila ternyata pasien tidak taat pada prosedur tersebut, maka dokter/petugas Puskesmas perlu menanyakan ke sarana yankeswa tersebut tentang apa yang seharusnya dilakukan terhadap pasien.

Bila pasien menolak dirujuk ke sarana pelayanan kesehatan jiwa


Banyak pasien yang tidak mau dirujuk ke RS Jiwa. Tentu stigma terhadap gangguan jiwa ada. Untuk itu beberapa hal berikut ini akan membantu petugas Puskesmas agar pasien mau dirujuk ke RS Jiwa:

Anjurkan untuk pemeriksaan, bukan pengobatan. Kadang-kadang lebih berhasil apabila kita menganjurkan pasien menemui psikiater dengan maksud agar pasien dapat mengetahui tentang stress pasca trauma dan memberi kesempatan pada pasien untuk bertanya sepuasnya. Pengobatan yang akan dilakukan sama seperti pengobatan penyakit fisik . Seringkali bayangan pasien tentang pengobatan mental meliputi berbagai hal yang tidak nyaman, untuk itu beri kesempatan pasien untuk mengenal situasi RS Jiwa. Beri pasien bahan-bahan edukasi tentang PTSD dan berbagai penyakit lain yang menyertai (depresi, penyalahgunaan NAPZA), pengobatan PTSD, dan cara mengatasi PTSD. Seringkali pasien membacanya kemudian atau sembunyisembunyi, baru kemudian mau menjalani terapi mental. Beritahu pasien kemungkinan bantuan lain yang bisa menolongnya. Beberapa diantaranya adalah petugas Puskesmas yang sudah mendapat pelatihan khusus, kelompok terapeutik di masyarakat, keagamaan dan lain-lain. Ikutsertakan pasangan atau anggota keluarga yang dekat dengan pasien dimana hal ini harus atas persetujuan pasien. Hal ini akan lebih menjelaskan pada pasien tentang dampak PTSD kepada orang lain serta dirinya sendiri, sehingga pasien mau ditolong. Pastikan bahwa pasien taat pada terapi yang dijalaninya dan ikuti terus perkembangan PTSD yang dideritanya.

Penggunaan skrining di Puskesmas


Skrining PTSD ini dapat digunakan di Puskesmas karena singkat, sederhana dan mudah dimengerti baik olah petugas Puskesmas maupun pasien. Fokusnya pada masalah yang dihadapi pasien, bukan pada trauma yang pernah dialaminya.

Respons positif tidak selalu menunjukkan bahwa pasien menderita PTSD. Jadi respons positif hanya menunjukkan kemungkinan pasien mengalami PTSD atau masalah lain terkait trauma. Skrining PTSD di Puskesmas Sepanjang hidup saudara, apakah saudara pernah mengalami hal yang begitu menakutkan, mengerukan atau sangat mengejutkan sehingga, selama sebulan terakhir saudara: 1. Mengalami mimpi buruk tentang hal tersebut atau memikirkan hal tersebut ketika saudara tidak ingin mengingatnya? YA / TIDAK 2. Berusaha keras untuk tidak memikirkan atau mengingat hal tersebut, atau berusaha menghindar dari hal-hal yang akan mengingatkan saudara terhadap hal tersebut? YA / TIDAK 3. Selalu berjaga-jaga , waspada, atau sering terkejut? YA / TIDAK 4. Merasa kaku atau ada jarak dengan orang lain, kegiatan atau lingkungan saudara? YA / TIDAK Riset menunjukkan bahwa bila jawaban ya 3 saja sudah mengindikasikan kemungkinan adanya PTSD. Dokter bisa saja mengatakan: "Pada suatu sata dalam kehidupan seseorang, banyak orang yang menghadapisituasi yang mencekam sehingga menjadi stres seperti perang, pelecehan sexual atau kecelakaan yang sangat buruk. Apakah saudara pernah mengalami hal seperti itu?" Setelah skrining, klarifikasi jawaban pasien untuk menentukan: a. Apakah benar pasien pernah mengalami sesuatu yang traumatik b. Bagian mana dari pertanyaan skrining yang benar-benar berkaitan dengan gejala terkait trauma c. Bagian mana dari pertanyaan skrining yang sangat mengganggu kehidupan pasien Buatlah rekomendasi untuk evaluasi selanjutnya dan siapkan rujukan. Bila pasien jelas menunjukkan gejala-gejala PTSD:

Jelaskan mengapa hasil skrining menyebabkan dokter perlu merujuk ke psikiater untuk pemeriksaan/pengobatan lebih lanjut.

Usahakan agar pasien sendiri yang meminta untuk dirujuk. Pastikan bahwa pasien mengerti bahwa ia sakit tapi bukan paikotik. Jelaskan kepada pasien bahwa menghindar dari trauma memang terasa lebih nyaman, tetapi hal tersebut tidak menyembuhkan.

Rujukan ke RS Jiwa disertai dengan:


Fotokopi hasil skrining PTSD Informasi tentang situasi yang traumatis bagi pasien Informasi tentang dugaan dampak negatif dari gejala-gejala pasca trauma terhadap kesehatan pasien.