Anda di halaman 1dari 34

KELOMPOK B-7

Kelompok B-7
Ketua Sekretaris Anggota : Wildan Yoga Winata : Nadya Afiefa Putri : Moch Reza Ikhwanuddin Michael Taufan a.a Mohammad Naufal Y. D. K Muhammad Arie W. R. Muhammad Rizdimas R. P Niken Audi Lestari Rizq Felageti Sofian (1102011292) (1102011189) (1102010168) (1102011163) (1102011165) (1102011171) (1102011181) (1102011194) (1102011241)

Demam sore hari


Seorang wanita 30 tahun, mengalami demam sejak 1 minggu yang lalu. Demam di rasakan lebih tinggi pada sore dan malam hari dibandingkan di pagi hari. Pada pemeriksaan fisik kesadaran somnolen, nadi bradikardia, suhu tubuh hiperpereksia, (pengukuran jam 20.00 WIB), lidah terlihat typhoid tongue . pada pemeriksaan widal didapatkan titer anti salmonella typhi O meningkat. Ibu tersebut bertanya kepada dokter apa diagnosis dan cara pencegahan penyakitnya.

LI 1. Memahami dan menjelaskan tentang demam. LO 1.1 Menjelaskan definisi demam LO 1.2 Menjelaskan etiologi demam LO 1.3 Menjelaskan klasifikasi demam LO 1.4 Menjelaskan mekanisme demam LI 2. Memahami dan menjelaskan tentang bakteri yang menyebabkan demam (Salmonella enterica). LO 2.1 Menjelaskan morfologi dan sifat Salmonella enterica LO 2.2 Menjelaskan daur hidup Salmonella enterica LO 2.3 Menjelaskan epidemiologi Salmonella enterica

LI 3. Memahami dan menjelaskan tentang demam tifoid. LO 3.1 Menjelaskan definisi demam tifoid LO 3.2 Menjelaskan etiologi demam tifoid LO 3.3 Menjelaskan patogenesis demam tifoid LO 3.4 Menjelaskan manifestasi klinis demam tifoid LO 3.5 Menjelaskan diagnosis demam tifoid LO 3.6 Menjelaskan penatalaksanaan demam tifoid LO 3.7 Menjelaskan pencegahan demam tifoid LO 3.8 Menjelaskan prognosis demam tifoid LO 3.9 Menjelaskan komplikasi demam tifoid

LI 4. Memahami dan menjelaskan tentang antibiotika untuk bakteri penyebab demam tifoid. LO 4.1 Menjelaskan definisi antibiotika LO 4.2 Menjelaskan macam-macam antibiotik untuk bakteri penyebab demam tifoid LO 4.3 Menjelaskan cara pemakaian (dosis dan waktu) LO 4.4 Menjelaskan kontra indikasi

LO 1.1 Menjelaskan definisi demam


Demam adalah suatu keadaan suhu tubuh diatas batas normal, diatas 37,4C sebagai akibat peningkatan pusat pengatur suhu di hipotalamus yang dipengaruhi oleh interleukin-1 (IL-1)

LO 1.2 Menjelaskan etiologi demam

Mikrobial Endogen Pirogen

Nonmikrobial
Interleukin 1

Eksogen

LO 1.3 Menjelaskan klasifikasi demam

Demam

Septik

Siklik

Kontinu

Remiten

Intermiten

LO 1.4 Menjelaskan mekanisme demam


inflamasi atau peradangan Mengaktifkan pengeluaran pirogen endogen disekresikannya prostaglandin

Prostaglandin berikatan dengan reseptor di hipotalamus

titik patokan suhu di hipotalamus meningkat

Produksi panas tubuh akan meningkat

DEMAM

LO 2.1 Menjelaskan morfologi dan sifat Salmonella enterica


1. Berbentuk batang, tidak berspora, bersifat negatif pada pewarnaan Gram. 2. Flagel peritrik. 3. Tumbuh pada suasana aerob dan fakultatif anaerob pada suhu 1541oC. Suhu pertumbuhan optimal 37,5oC. 4. Menghasikan H2S.

5. Antigen Vi atau K 6. Antigen O: bagian terluar dari lipopolisakarida dinding sel 7. Antigen H: terdapat di flagel 8. Organisme dapat kehilangan antigen H dan menjadi tidak dapat bergerak bebas. 9. Kehilangan antigen O dapat menimbulkan perubahan bentuk koloni yang halus menjadi kasar.

Sifat Salmonella enterica : Host reservoar nya adalah unggas, babi, hewan pengerat, hewan ternak, dan binatang piaraan. Dapat masuk ke dalam tubuh secara oral, melalui makanan dan minuman yang terkontaminasi. Faktor pejamu yang menimbulkan resistensi terhadap infeksi Salmonella adalah keasaman lambung, flora mikroba normal usus, dan kekebalan usus setempat. Dapat bertahan dalam air yang membeku untuk waktu yang lama (+ 4 minggu).

LO 2.2 Menjelaskan daur hidup Salmonella enterica


Makanan

Perantara (lalat)

Sal. Pencernaan

Feses

Usus

Hati & limfa

Aliiran darah

LO 2.3 Menjelaskan epidemiologi Salmonella enterica Pembawa bakteri Sumber infeksi meliputi : Air Susu, telur, dan daging kerang-kerangan obat-obatan zat warna hewan hewan piaraan.

LO 3.1 Menjelaskan definisi demam tifoid Demam tifoid adalah infeksi Salmonella typhi yang mengenai folikel limfoid ilenum yang disertai dengn menggigil, demam, sakit kepalam batuk, lemah, distensi abdomen, dan spelenomegali.

LO 3.2 Menjelaskan etiologi demam tifoid


Bakteri Salmonella typhi tifoid Salmonella paratyphi A, B, atau C paratifoid Penyebaran bakteri ke dalam makanan atau minuman bisa terjadi akibat pencucian tangan yang kurang bersih setelah buang air besar maupun setelah berkemih Bakteri masuk ke dalam saluran pencernaan dan bisa masuk ke dalam peredaran darah.

LO 3.3 Menjelaskan patogenesis demam tifoid


Hati & Limfa

Makanan/minuman

Sirkulasi darah

Berkembang biak di ruang sinusoid

Lambung

Plak Peyeri & Kel. Getah bening

Diekskresikan bersama cairan empedu

Usus Usus Difagosit oleh makrofag


Dibuang bersama feses Kembali menembus dinding usus

LO 3.4 Menjelaskan manifestasi klinis demam tifoid


Gejala-gejalanya : Panas badan yang semakin hari bertambah tinggi, terutama pada sore dan malam hari. Terjadi selama 7-10 hari, kemudian panasnya menjadi konstan dan kontinyu. Pada fase awal timbul gejala lemah, sakit kepala, infeksi tenggorokan, rasa tidak enak di perut, sembelit atau terkadang sulit buang air besar, dan diare. Pada keadaan yang berat penderita bertambah sakit dan kesadaran mulai menurun. Demam tinggi (39 sampai 40C),

LO 3.5 Menjelaskan diagnosis demam tifoid


Pemeriksaan laboratorium: Darah Sumsum tulang belakang Empedu Urine dan feses Tes Widal Polymerase Chain Reaction (PCR) Uji Tubex Uji Typhidot Uji IgM Dipstick

LO 3.6 Menjelaskan penatalaksanaan demam tifoid


Tatalaksana Demam Tifoid : Istirahat dan perawatan. Diet dan terapi penunjang. Pemberian antimikroba pada penderita.

LO 3.7 Menjelaskan pencegahan demam tifoid


Cara pencegahan : Peningkatan sanitasi Menjaga kebersihan pribadi dan menjaga apa yang masuk mulut (diminum atau dimakan) tidak tercemar Salmonella typhi. Mendapatkan vaksin

LO 3.8 Menjelaskan prognosis demam tifoid


Prognosis demam tifoid tergantung dari umur, keadaan umum, derajat kekebalan tubuh, jumlah dan virulensi Salmonella serta cepat dan tepatnya pengobatan. Angka kematian pada anak-anak 2,6% dan pada orang dewasa 7,4%.

LO 3.9 Menjelaskan komplikasi demam tifoid Komplikasinya :


Banyak penderita yang mengalami perdarahan usus Perforasi usus Pneumonia Infeksi kandung kemih dan hati Infeksi darah

LO 4.1 Menjelaskan definisi antibiotika


Antibiotik adalah senyawa, alami atau sintetik, yang berfungsi untuk menekan atau menghambat efek biokimia dari suatu mikroorganisme asing dalam tubuh manusia.

LO 4.2 Menjelaskan macam-macam antibiotik untuk bakteri penyebab demam tifoid


Kortimoksazol Kloramfenikol Kuinolon (Fluorokuinolon) Sefalosporin

LO 4.3 Menjelaskan cara pemakaian (dosis dan waktu) 1. Kloramfenikol Obat ini merupakan pilihan pertama untuk mengobati tifoid. Dosis yang di berikan 4 x 500 mg per hari, bisa di berikan secara oral atau intramuskular. 2. Kortimoksazol Efeknya hampir sama dengan kloramfenikol. Dosis untuk orang dewasa adalah 2 x 2 tablet sulfametoksazol 400 mg dan 80 mg trimetoprin, di berikan selama 2 minggu.

3. Sefalosporin generasi ketiga (seftriakson) Dosis yang digunakan antara 34 gram dalam dekstrosa 100cc diberikan selama jam per infus sekali sehari, di berikan selama 35 hari. 4. Kuinolon (Fluorokuinolon) Norfloksasin 2 x 400 mg/hari selama 14 hari. Sifroksasin 2 x 500 mg/hari selama 6 hari. Ofloksasin 2 x 400 mg/hari selama 7 hari. Pefloksasin 400 mg/hari selama 7 hari. Fleroksasin 400 mg/hari selama 7 hari.

LO 4.4 Menjelaskan kontra indikasi


Pengobatan tifoid untuk wanita hamil Kloramfenikol tidak dianjurkan pada kehamilan trimester 3, karena di khawatirkan dapat terjadi partus prematur, kematian fetus intrauterin, dan grey syndrome. Tiamfenikol juga tidak dianjurkan pada trimester pertama, karena kemungkinan efek teratogenik terhadap fetus. Tetapi pada bulanbulan berikutnya boleh diberikan. Obat yang dianjurkan adalah ampisilin, amoksisilin, dan seftriakson.

Penanganan tepat kepada penderita komplikasi demam tifoid. 1. Komplikasi intestinal Pendarahan intestinal Tindakan yang harus di lakukan adalah transfusi darah. Tetapi jika transfusi yang diberikan tidak mengimbangi pendarahan, maka tindakan bedah perlu dipertimbangkan.

Perforasi usus Kombinasi kloramfenikol dan amfisilin intravena. Kontaminasi usus dapat di berikan gentamisin atau metronidazol. Cairan harus di berikan dalam jumlah yang cukup serta penderita di puasakan dan di pasang nasogastric tube. Transfusi darah dapat di berikan bila terdapat kehilangan darah akibat pendarahan intestinal.

2. Komplikasi ekstraintestinal Komplikasi hematologi Tindakan yang perlu dilakukan adalah transfusi darah, substitusi trombosit dan atau faktor-faktor koagulasi bahkan heparin.

Pankretitis tifosa Obat yang diberikan adalah antibiotik seftriakson atau kuinolon yang didepositkan secara intravena. Miokarditis kombinasi kloramfenikol 4 x 400 mg di tambah ampisilin 4 x 1 gram dan deksametason 3 x 5 mg.

Chatim, Aidilfiet, dan Agus ,dkk (1993). Mikrobiologi Kedokteran . Edisi Revisi , Jakarta : Binarupa Aksara. Gunawan, Sulista G dan Rianto Setiabudi Nafrialdi (2007). Farmakologi dan Terapi . Edisi 5, Jakarta : Departemen Farmakologi Dan Terapeutik FKUI. Jawetz, Melick, dan Adebergs (2005). Medical Microbilogy. Jakarta : Salemba Medika. Sudoyo, Aru W dan Bambang Setiyohadi (2006). Ilmu Penyakit Dalam. Jilid 3, Jakarta : Departemen Penyakit Dalam FKUI.