Anda di halaman 1dari 27

REFERAT Obstruksi Sleep Apnoe

STASE ILMU PENYAKIT TELINGA HIDUNG DAN TENGGOROKAN FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS TRISAKTI RS TNI AL DR. MINTOHARDJO PERIODE 04 NOVEMBER 2013 07 DESEMBER 2013

PENDAHULUAN
Salah satu bentuk gangguan tidur yang paling sering adalah sleep apnea (henti nafas saat tidur) dan gejala yang sering timbul yaitu mendengkur.3 Mendengkur merupakan masalah sosial yang mengganggu pasangan tidur, menyebabkan

terganggunya pergaulan, menurunnya produktivitas, peningkatan resiko kecelakaan lalu lintas dan peningkatan biaya kesehatan pada penderita OSA.

EPIDEMIOLOGY
Mendengkur dan OSA umumnya terjadi

pada pria dewasa, usia pertengahan, dan obesitas. Sekitar 50 juta orang Amerika tidur mendengkur, dan 20 juta orang sleep apnea syndrome. Hal ini berhubungan terhadap peningkatan resiko penyakit kardiovaskular dan kematian dini.3 Tahun 2008 penelitian OSA membuktikan sekitar 4% pria dan 2% wanita usia (30-60) Angka ini seiring dengan peningkatan insidensi obesitas.4

ANATOMI

Arteries of pharyngeal regions.

OBSTRUCTIVE SLEEP APNEA


keadaan apnea (penghentian aliran udara selama 10 detik atau lebih sehingga menyebabkan 2-4%

penurunan saturasi oksigen hipopnea (pengurangan aliran udara >30% untuk minimal 10 detik dengan desaturasi oksihemoglobin >4% atau pengurangan dalam aliran udara >50% untuk 10 detik dengan desaturasi oksihemoglobin >3%)

ada sumbatan total atau sebagian jalan napas atas yang terjadi secara berulang pada saat tidur selama non-

REM atau REM sehingga menyebabkan aliran udara ke paru menjadi terhambat. Hal tersebut membuat pasien sering terbangun pada malam hari.

Tipe Obstruksi Sleep Apnoe


Tipe Central
Tipe Obstruksi Tipe Campuran

Etiology
keadaan kompleks yang saling mempengaruhi berupa neural, hormonal, muskular dan struktur anatomi, contohnya : kegemukan terutama pada tubuh bagian atas dipertimbangkan sebagai resiko utama terjadinya OSA

Faktor Risiko
Umur
Jenis Kelamin Ukuran dan bentuk jalan nafas Faktor risiko penyakit (Asma, Obstruksi

Nasal, Penyakit Neuromuskular, dll) Risiko Gaya Hidup

PATOGENESIS

MANIFESTASI KLINIS
Gejala Mendengkur Obesitas Tanda

Mengantuk yang berlebihan pada Mandibula/maksila siang hari Tersedak Tidur tidak nyeyak Letih dan lesu sepanjang hari Penurunan konsentrasi Riwayat OSA dalam keluarga hipoplasia Penyempitan orofaring Pembesaran tonsil atau lidah Obstruksi nasal dan nasofaringeal

Pemeriksaan Fisik (untuk menentukan letak Obstruksi)


Hidung :deviasi septum, hypertrofi adenoid, tumor atau polip nasal, hipertrofi konka Orofaring : palatum molle yang besar, hipertrofi tonsil palatine, makroglosia, penebalan(banding) dinding posterior faring Hipofaring : Collapse dinding faring lateral, tumor hipofaring, hipertrofi tonsil lingual, retrognathia dan micrognathia Laring : paralisis pita suara, tumor laring

PEMERIKSAAN PENUNJANG
Fiberoptic Nasopharyngoscopy
Polisomnogram

Screening OSA dapat dilakukan dgn Kuesioner Berlin


Kuesioner ini terdiri dari 3 bagian yaitu bagian pertama berisi tentang apakah mereka mendengkur, seberapa keras, seberapa sering dan apakah sampai mengganggu orang lain. Bagian kedua berisi tentang kelelahan setelah tidur, seberapa sering merasakan lelah dan pernahkah tertidur saat berkendaraan. Bagian ketiga berisi tentang riwayat hipertensi, berat badan, tinggi badan, umur, jenis kelamin dan Body Mass Index (BMI).

Seseorang dinyatakan berisiko tinggi OSA bila memenuhi paling sedikit 2 kriteria di atas. Kuesioner ini

mempunyai validiti yang tinggi.3,8

PENATALAKSANAAN
Terapi Non bedah

nasal Continuous Positive Airway Pressure


(nCPAP). Prinsip nCPAP sangat sederhana yaitu dengan pemberian tekanan positif melalui hidung maka setiap kecenderungan jalan nafas untuk menyempit dan menutup dapat diatasi dan dinding jalan nafas dapat distabilkan sehingga menekan suara dengkur, menormalkan kualitas tidur dan menghilangkan gejala pada siang hari.

Pada penderita OSA yang mengalami obesitas dianjurkan penurunan berat badan. Perlu dilakukan perubahan gaya hidup termasuk diet, olah raga, dan medikamentosa. Posisi tidur dapat membantu menghilangkan gejala OSA. Beberapa pasien mengalami perbaikan setelah tidur dengan posisi miring atau telungkup (pronasi). penggunaan alat mandibular

advancement

Terapi Bedah Tonsilektomi dan adenoidektomi Uvulopalatofaringoplasti (UPPP) dan uvulopalatoplasti Pembedahan pada daerah hidung seperti septoplasti, bedah sinus endoskopik fungsional dan konkotomi bisa menjadi terapi yang efektif bila sumbatan terjadi di hidung. Tindakan bedah pada mandibula atau maksila (maxillomandibular osteotomy dan advancement).

Lidah: lingual tonsillectomy, laser midline glossectomy, lingualplasti dan ablasi massa lidah dengan teknik radiofrekuensi. Teknik terbaru menggunakan alat somnoplasty dengan radiofrekuensi Celon atau Coblation, dan pemasangan implan Pillar pada palatum. Teknik radiofrekuensi menghasilkan perubahan ionik pada jaringan, menginduksi nekrosis jaringan sehingga menyebabkan reduksi volume palatum tanpa kerusakan pada mukosa dan menghilangkan vibrasi (kaku).

Prognosis
Ad vitam
Ad functionam Ad sanationam

: ad bonam : dubia ad bonam : dubia ad malam

KESIMPULAN
Sleep apnea merupakan keadaan henti nafas yang terjadi saat tidur. Sleep apnea sendiri diklasifikasikan menjadi central sleep apnea dan obstructive sleep apnea. Angka kejadian sleep apnea sekitar 4% dialami oleh pria dan 2% wanita usia 30 sampai 60 tahun di Amerika Serikat. Umumnya terjadi pada orang dewasa, terutama pria, usia pertengahan, dan obesitas.

Obstructive sleep apnea disebabkan oleh factor usia, jenis kelamin, dan ukuran serta bentuk jalan napas. Keluhan yang sering timbul pada pasien sleep apnea antara lain mendengkur serta aktivitas harian yang terganggu. Sleep apnea membutuhkan penanganan dan penatalaksanaan yang adekuat antara lain mengatasi penyakit primer yang menyebabkan sleep apnea, Continous Positive Airway Pressure (CPAP), Bileve Positive Airway Pressure (BPAP), Adaptive Servo-Ventilation (ASV), dan terapi bedah.