Anda di halaman 1dari 2

Benarkah Wanita Lebih Dikuasai Oleh Perasaannya?

Sedikit mau ngungkapin sifat-sifat dari seorang wanita. Jujur saya bukan untuk sok tau tentang masalah ini. Ilmu saya masih sedikit untuk hal-hal semacam ini. Bahkan seorang Freud pun mengatakan bahwa sangat sulit untuk memahami sisi-sisi pedalaman wanita. Bisa jadi para psikolog pun hanya baru bisa memahaminya pada sebagian kecil saja. Disini, saya cuma mau menuliskan apa yang saya pahami pada saat ini. Mungkin ini salah. Mungkin juga benar. Atau mungkin tidak kedua-duanya (gimana ya?). Saya senang kalo justru ada yang mengomentari tulisan saya ini dengan pendapat yang kemudian bisa lebih saya terima. Penjelasan singkatnya begini: Mungkin benar wanita itu lebih dominan perasaannya ketimbang akalnya dan pria itu lebih dominan akalnya ketimbang perasaannya. Tapi bagi seorang wanita, mungkin juga benar bahwa perasaannya itu bisa dikalahkan oleh malunya. Saya mau ambil sebuah contoh menyangkut hal ini. Begini: Ada seorang pria yang merasa suka dengan seorang wanita. Lantas sang pria mencari segala cara untuk mendekati wanita tersebut. Tapi karena Islam melarang mereka untuk berpacaran, alhasil akses mereka terhambat untuk bisa saling berhubungan. Sang pria merasa tak kuat lagi untuk menahan gelombang rindunya pada wanita pujaannya itu. Sedang pada saat yang bersamaan, pria tersebut tidak mau gegabah mengambil keputusan untuk segera mengakhiri masa lajangnya. Mungkin karena berbagai macam alasan dan pertimbangan tertentu. Tapi di sisi lain, seorang wanita begitu sabar dalam diamnya. Pria sudah kehabisan akal dan otak menghadapi gejolak cintanya yang demikian bergolak dan menggebu. Sedang wanita masih bisa menahan diri. Di sini, sang wanita lebih mampu menguasai perasaannya ketimbang pria. Jelas bertolak belakang dengan pernyataan bahwa terkait perasaan, wanita pasti akan takluk (kalah). Tapi kok kenyataannya terbalik ya dengan kejadian di atas: pria yang demikian kebawa perasaan, wanita seolah bisa mengendalikan perasaannya. Nah, inilah mungkin yang membuat saya berkesimpulan bahwa rasa malu pada wanita mampu mengalahkan perasaannya. Dia mampu untuk bertahan dalam diamnya karena mungkin ia takut bahwa ketika ia menyatakan cintanya terlebih dahulu pada sang pria, lantas tiba-tiba sang pria menolaknya karena selama ini sang pria ternyata hanya pura-pura mencintainya. Mau ditaru dimana mukanya? Belum lagi sang wanita berpikir tentang apa yang akan terjadi seandainya sang pria mulutnya kaya kentongan yang setiap saat bisa membuka aib sang wanita karena telah berani untuk menyatakan cintanya terlebih dahulu. Entah relevan atau tidak dengan pernyataan di atas, saya coba mengaitkannya dengan hadits Rasulullah di bawah ini: Seorang janda tidak boleh dinikahkan sampai ia sendiri yang menyuruh. Seorang perawan tidak boleh dinikahkan sampai ia diminta izinnya. Para sahabat bertanya, Bagaimana kita tahu mereka mengizinkan ya Rasulullah? beliau menjawab, Kalau ia terdiam. Nah, jelas terlihat dari hadits di atas bahwa sekalipun seorang wanita telah setuju untuk menikah dengan seorang pria, tapi sifat malunya masih mendominasinya sehingga ia lebih memilih diam ketimbang mengatakannya iya saya setuju.

Jadi kesimpulan saya untuk sementara ini adalah: wanita bisa lebih menguasai perasaannya berkat sifat malunya itu. Berbeda dengan pria yang gak tau malu (Upssss.). Wallahu alam.