Anda di halaman 1dari 0

GANGGUANKONVULSI

Disusun Oleh:
Siti Salmiah, drg
NIP. 132 308 186











DEPARTEMEN ILMU KEDOKTERAN GIGI ANAK
FAKULTAS KEDOKTERAN GIGI
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
MEDAN
2010

Siti Salmiah : Gangguan Konvulsi, 2010
DAFTAR ISI



Halaman

DAFTAR ISI... i

BAB 1 PENDAHULUAN............................................................. 1

BAB 2 GANGGUAN KONVULSI...................................................... 2

BAB 3 MANIFESTASI GIGI PENDERITA GANGGUAN
KONVULSI............................................................................... 9

BAB 4 KESIMPULAN........................................................................ 13

DAFTAR PUSTAKA.



















Siti Salmiah : Gangguan Konvulsi, 2010
BAB I
PENDAHULUAN


Dokter gigi harus waspada terhadap etiologi, perawatan, dan prognosis
gangguan konvulsif untuk melakukan perawatan gigi yang lengkap bagi pasien
ini. Selain itu, dokter gigi harus mampu melakukan dukungan yang cukup jika
pasien mempunyai konvulsif saat di tempat praktek. Bab ini akan membahas
etiologi, manifestasi klinis, dan penanganan gangguan konvulsif. Perhatian khusus
harus diberikan pada gangguan konvulsif ini baik yang secara langsung atau tidak
langsung yang mempunyai efek pada struktur rongga mulut.
Konvulsif dapat terjadi pada usia kapanpun tetapi paling sering selama 2
tahun pertama hidup. Cedera lahir intrakranial merupakan penyebab utama
konvulsif pada bayi. Di antaranya adalah pengaruh anoksia dan hemorage. Pada
masa bayi akhir dan masa anak awal, infeksi akut, baik itu intrakranial atau
ekstrakranial, merupakan penyebab utamanya. Ditengah masa anak-anak, epilepsi
idiopati merupakan penyebab utama konvulsif.

Siti Salmiah : Gangguan Konvulsi, 2010

BAB II
GANGGUAN KONVULSI


2.1 Konvulsi Akut pada Bayi dan Anak-Anak
Konvulsi tonik dan klonik umum, serupa dengan serangan grand mal
epilepsi, merupakan tipe paling umum dari konvulsi yang terjadi pada anak-anak.
Penyebabnya bermacam-macam, dan bisa terjadi sebagai manifestasi sementara
penyakit akut yang melibatkan otak. Terlebih lagi, 6-8% anak-anak mempunyai
demam konvulsif, dimana kebanyakan terjadi antara usia 6 bulan dan 3 tahun.
Walaupun kebanyakan konvulsi terjadi sebelum usia 3 tahun merupakan suatu
gejala sakit demam akut, penyebab lain harus dibedakan dengan riwayat medis
menyeluruh dan pemeriksaan fisik lengkap. Gangguan seperti tetanus,
ensefalopati timah, cedera intrakranial, hemorage, tumor, keracunan obat,
hipoglikemi, asfiksia, trombosis sinus serebral karena penyakit jantung sianotik,
nefritis akut, dan epilepsi semuanya harus dimasukan dalam diagnosa banding.
Demam konvulsi diobati dengan mengurangi suhu tubuh dengan dosis sedatif
fenobarbitol. Setelah serangan demam tunggal kemungkinan epiepsi kronis tidak
besar. Kejadian lebih dari satu serangan demam menambah kemungkinan
konvulsi non demam spontan.

2.2 Konvulsi Kronis atau Kambuhan
Epilepsi dan gangguan konvulsi kambuhan adalah istilah yang dapat
digunakan saling bertukar. Keduanya menunjukan suatu gejala kompleks ditandai
dengan serangan paroksismik kambuhan tidak sadar atau setengah sadar, biasanya
dengan serangkaian kejang otot tonik atau klonik. J ika penyebab serangan
diketahui memperlihatkan abnormlitas serebral, pasien dikatakan mengalami
epilepsi organik atau simtomatik. J ika penyebabnya tidak diketahui, pasien
dikatakan mempunyai epilepsi idiopatik. Pada kebanyakan kasus penyebab
serangan kambuhan tidak dapat ditentukan. Namun demikian, kemungkinannya
Siti Salmiah : Gangguan Konvulsi, 2010
adalah cacat genetik spesifik dalam metabolisme serebral yang bertanggung jawab
atas masalah pelik pasien epilepsi idiopati.

2.3 Epilepsi Organik
Banyak keadaan ditentukan secara genetik berhubungan dengan serangan
kambuhan. Bisa terlihat disebabkan anatomi atau biokimia (lihat outline hal. 96).
Konvulsi juga bisa terjadi sebagai akibat dari kerusakan serebral yang diperoleh
selama periode prenatal atau postnatal. Pemeriksaan neurologis pada pasien ini
seringkali memperlihatkan kerusakan motorik dari sistem saraf pusat, yaitu
cerebral palsy dan retardasi mental.











2.4 Manifestasi Klinis Gangguan Konvulsif
Serangan petit mal terdiri dari hilangnya kesadaran sementara yang bisa
bermanifestasi dalam berbagai cara. Mungkin terdapat sedikit gemetar pada otot
badan dan tangan, kepala menunduk, mata berputar ke atas, atau pergerakan
kelopak mata. Bukti klinis epilepsi petit mal jarang muncul sebelum usia 3 tahun
dan seringkali hilang sebelum pubertas.
Serangan grand mal bisa didahului oleh aura sementara, atau dalam
beberapa kasus, oleh kejang terlokalisisr atau kedutan otot. Serangan ini
Siti Salmiah : Gangguan Konvulsi, 2010
merupakan konvulsi umum, biasanya dengan fase tonik atau klonik kejang otot.
Onsetnya cepat dan kejang tonik bisa terjadi secara simultan dengan kehilangan
kesadaran. Pasien jatuh ke tanah, pupil membesar, bola mata berputar ke atas atau
ke samping, wajah terdistorsi, dan glottis tertutup. Kepala bisa mengangkat ke
belakang atau ke samping, otot perut dan dada tertahan kaku, dan tangan dan kaki
berkontraksi tak teratur atau kaku. Lidah bisa tergigit akibat kontraksi otot rahang
yang cepat. Saat fase tonik terus berlangsung, wajah yang pucat cepat menjadi
merah, akibatnya diikuti oleh sianosis yang disebabkan oleh terhentinya smeua
gerakan pernafasan. Fase tonik biasanya berlangsung sekitar setengah menit dan
diikuti oleh fase klonik, yang terdiri dari kejang-kejang dimana kekakuan dan
relaksasi saling berganti dengan cepat. Fase klonik berlangsung selama waktu
yang bervariasi.


Gbr1.FaseTonikdanKlonik
Setelah fase klonik serangan grand mal, fungsi normal tubuh kembali
dalam periode sekitar 15 menit sampai 8 jam. Biasanya, lebih sering pasien
mengalami serangan, semakin cepat periode pemulihan setelah serangan berhenti.
Ada indikasi bahwa kecemasan dalam bentuk ketakutan terfokus spesifik seperti
datang ke dokter gigi untuk bedah periodontal karena hiperplasia gusi cenderung
mempunyai efek yang menekan serangan. Namun demikian, dalam keadaan yang
sangat jarang saat pasien serangan konvulsi sebelum atau selama perawatan gigi,
adalah bijaksana untuk menunda perawatan lebih lanjut di hari lain.

2.5 Terapi Obat
Dua obat utama untuk mengontrol serangan epilepsi grand mal dan
psikomotor adalah fenobarbital dan fenitoin (Dilantin).
Siti Salmiah : Gangguan Konvulsi, 2010
Fenobarbital dalam bentuk tablet merupakan obat pilihan untuk digunakan
jangka panjang pada pasien dengan epilepsi grand mal. Obat ini relatif efektif,
cukup aman dalam dosisi terapi untuk jangka waktu lama, dan murah. Anak-anak
kadang-kadang akan mengalami idiosinkrasi terhadap fenobarbital. Ruam
makulopapular di kulit dan membran mukosa, demam, dan mengantuk berlebihan
bisa menjadi pertanda kelebihan dosis. Tanda ini segera hilang jika dosis obat
dikurangi atau dihentikan. Dosis obat fenobarbital mulai dari 8 mg satu sampai
tiga kali sehari untuk bayi, sampai 100 mg satu hingga tiga kali sehari untuk anak-
anak dengan penyakit berat.

Gbr2.Obatobatanpengontrolepilepsi










Senyawa hidantoin, seperti fenitoin (Dilantin), adalah satu-satunya obat
yang menyamai barbiturat daam mengontrol serangan grand mal. Diberikan pada
anak-anak dalam bentuk kapsul dan pada anak lebih kecil dalam bentuk tablet
dihancurkan dalam makanan atau jus buah. Dosis berkisar antara 25 mg satu atau
dua kali sehari untuk bayi sampai 100 mg sekali atau dua kali sehari untuk anak-
anak. Keuntungan utamanya yang melebihi barbiturat adalah obat ini bekerja
sebagai antikonvulsi efisien tanpa menyebabkan kantuk berlebihan. Ataksia dan
ngantuk bisa teradi jika dosis awal terlalu besar. Idiosinkrasi fenitoin jarang
terjadi tetapi bisa berupa nausea atau muntah-muntah, eritema, tremor tangan,
ataksia, penglihatan ganda, manifestasi paralitik, atau psikosis.
Siti Salmiah : Gangguan Konvulsi, 2010
Efek samping paling umum dari terapi fenitoin jangka panjang adalah
adanya hiperplasia gusi sebagai suatu patologi tersendiri. Tergantung dari
pernyataan penelitian, keberadaannya berkisar antara 32% sampai 84% dari
pasien yang minum obat ini secara kronis. Penjelasan memuaskan penyebab
hiperplasia gusi pada yang meminum fenitoin tidak tersedia saat ini. Namun
demikian, diketahui bahwa menjaga kebersihan rongga mulut merupakan cara
paling efektif dalam mencegah hiperplasia fenitoin dari awal dan juga cara paling
efektif untuk meminimalisasi penyebarannya. Untuk itulah bahwa semua anak
dalam pengobatan fenitoin untuk mengontrol konvulsi harus secara teratur di
bawah perawtan team dokter gigi yang akan membantu memotivasi dan
menginstruksikan anak dan orang tua dengan teknik kebersihan mulut yang baik.

Gbr3.Hiperplasiaakibatpemakaian
fenitoinjangkapanjang






2.6 Tujuan Pengobatan
Karena penderita konvulsi kambuhan parah seringkali mengalami
kerusakan atau penyakit otak, mereka lebih cepat dikenal daripada mayoritas
pasien yang merespon baik terhadap antikonvulsan. Karena hal ini, masyarakat
terlalu sering menghubungkan bentuk gangguan konvulsikambuhan dengan
retardasi mental dan gangguan kepribadian.
Tujuan utama perawatan adalah untuk mengurangi jumlah serangan,
mendorong pasien untuk mencapai kemapuan alami terbaiknya, dan
meningkatkan penerimaannya di rumah dan dalam komunitas berdasarkan atas
kemampuan alaminya. Karena perilaku anak terhadap penyakitnya biasanya
merefleksikan sikap orang tuanya, dalam menangani epilepsi penting bagi seluruh
keluarga mendapat informasi dan konsultasi selama tahap awal setelah diagnosis
dan telah dibuat rognosis. J ika filosofi dokter yang merawat mengkombinasikan
kenyataan dan optimisme, maka dapat diharapkan keuntungan jangka panjang.
Siti Salmiah : Gangguan Konvulsi, 2010
Seringkali psikologis atau psikiatris membantu menuntun pasien dan keluarga
untuk hidup senormal mungkin dalam hidup. Poin-poin berikut menurut Nelson
dan rekan merupakan dasar tidak hanya untuk pasien dan keluarga, tetapi juga
mereka yang berkontak dengan pasien epilepsi.
1. Serangan adalah sebuah gejala, dan akan jarang menyebabkan kerusakan
ireversibel pada sistem saraf pusat kecuali berhubungan dengan bukti syok
klinis (kolaps vaskuler periferal).
2. J ika anak-anak terlihat secara langsung atau tidak langsung mendapat
serangan, kontrol dengan obat saja kemungkinan akan sulit.
3. Pada kebanyakan keadaan menghindari penekanan atas kekambuhan
serangan akan membantu.
4. Pemulihan kepercayaan diri orang tua dan anak adalah penting. Orang
dewasa perlu merasa bahwa mereka adalah orang yang berkompeten dan
mampu memenuhi tanggung jawabnya.
5. J ika anak mendapat pengobatan dalam jumlah sesuai, terapi tidak akan
mempengaruhi kemampuan mental atau kepribadiannya atau
menyebabkan kecanduan obat.
6. Lebih baik melihat anak ini secara normal. memberi hadiah atau
menghukumnya secara berbeda hanya karena mendapat serangan akan
menyebabkan kesulitan perilaku.
7. Pasien perlu lingkungan yang mengizinkan berkompetisi di levelnya
sendiri.
Meskipun pengetahuan penuh oleh profesi medis bahwa epilepsi bukan
penyakit mental atau emosional, banyak masyarakat menganggap epilepsi secara
kabur karena rasa takut dan kepercayaan yang salah. Alasannya mungkin karena
disebabkan oleh tanda fisik yang nyata dari serangan epilepsi dan sebagian karena
fakta bahwa mitos lama dan takhayul menganai epilepsi perlahan-lahan
menghilang. Apapun alasannya, masyarakat seringkali memaksa lebih banyak
batasan pada orang dewasa penderita epilepsi daripada mewaspadai penyakitnya
itu sendiri.
Yayasan Epilepsi Amerika dan organisasi serupa di level negara bagian
dan lokal tidak hanya berfungsi untuk membantu penderita epilepsi dan
Siti Salmiah : Gangguan Konvulsi, 2010
keluarganya dalam mengahadapi penyakitnya, tetapi juga bekerja sebagai forum
untuk memberikan pengetahuan pada publik berkenaan dengan penyakit ini.
Perang melawan diskriminasi masyarakat dan pekerjaan terhadap penderita
epilepsi sedang dilakukan melalui pemberian pemahaman lebih besar pada
masyarakat terhadap penyakit ini. J uga sedang diperjuangkan oleh pengacara
melalui penggunaan penegakan hukum.

Siti Salmiah : Gangguan Konvulsi, 2010
BAB III
Manifestasi Gigi Penderita Gangguan Konvulsi


3.1 Keadaan Gigi Penderita Gangguan Konvulsi
Konvulsif, seperti telah dijelaskan sebelumnya, disebabkan oleh kerusakan
serebral atau cedera yang didapat sebelum, selama atau segera setelah kelahiran.
Karena hal ini, pemeriksaan nerologis pada pasien konvulsi kambuhan bisa
memperlihatkan kerusakan sistem saraf pusat yang mengakibatkan retardasi
mental dan/atau cebral pasy.
Selalu sulit untuk menentukan penyebab, waktu, dan lama cedera sistem
saraf pusat. Namun demikian, hubungan antara abnormalitas morfologi mahkota
gigi yang terlihat dan keruskaan sistem saraf pusat terbukti merupakan area
penelitian yang menarik dalam tahun-tahun terakhir.
Karena masing-masing kelima puluh dua mahkota gigi manusia (primer
dan permanen) mempunyai pola perkembangan osteogenetik berbeda, maka dapat
memberikan suatu jaringan keras atau catatan permanen cedera atau infeksi yang
mempengaruhi mahkota yang sedang berkembang selama periode waktu tertentu.
Gigi primer, insisif permanen, dan molar pertama permanen semuanya mengalami
perkembangan penting mahkota dari 33 hari in utero sampai umur 2 tahun.
Bahan teratogenik hanya mempengaruhi jaringan dan sistem organ dalam
periode kritis perkembangan embriologis pada saat teratogen mengenai tubuh.
Teratogen seperti infeksi virus, yang mungkin masuk pada semester kedua dan
ketiga kehamilan akan mengganggu perkembangan beberapa mahkota gigi yang
ternyata dalam periode kritis perkembangan.
Studi oleh Kraus dan rekan memastikan hipotesa ini. Dalam studi ini,
diperiksa model gigi dari 449 orang antara usia 6 dan 21 tahun. Kelompok kontrol
terdiri dari 260 naracoba, sisanya menderita retardasi mental. Populasi retardasi
mental mempunyai frekuensi gigi abnormal yang lebih tinggi.
J anganlah dipahami dari sini bahwa temuan serupa akan ditemukan pada
populasi orang dengan gangguan konvulsif bentuk lebih ringan. Namun demikian,
teratogen yang menyebabkan gangguan konvulsif bentuk akut dan kronis
Siti Salmiah : Gangguan Konvulsi, 2010
kemungkinan menyebabkan abnormalitas mahkota gigi dengan frekuensi lebih
tinggi.

3.2 Perawatan Gigi Pasien Gangguan Konvulsif
Semua kuesioner dental diisi oleh pasien atau orang tua pasien harus berisi
sebuah pertanyaan yang menanyakan apakah pasien pernah mengalami serangan
atau konvulsi. Setiap jawaban positif terhadap pertanyaan ini harus diselidiki lebih
jauh. Karena 6% sampai 8% anak mempunyai riwayat satu atau lebih konvulsi
febrile, mayoritas respon positif, terutama pada pasien anak, akan berhubungan
dengan konvulsi akut atau nonkambuhan yang terjadi pada masa bayi atau anak
awal.
Namun demikian, dalam kasus dimana pasien mempunyai konvulsi
kambuhan atau kronis, dokter gigi harus mengetahui obat apa yang diminum
pasien, frekuensi konvulsi, faktor apa yang menyebabkan serangan (jika
diketahui), dan seberapa terkontrolnya serangan pasien tersebut. Dalam banyak
kasus, konsultasi dengan dokter pasien diperlukan untuk mengetahui kasus
individual secara menyeluruh.
J ika pasien epilepsi menjalani perawaaan gigi rutin, mereka harus
disarankan untuk terus menjalani terapi obatnya. Serangan kadang-kadang bisa
disebabkan karena pasien menghentikan terapi obatnya. Orang dewasa harus
diperingatkan untuk tidak minum alkohol untuk menenangkan ketegangannya,
karena alkohol adalah dapat mengakibatkan serangan.
Sikap yang tenang dan meyakinkan dari dokter gigi dan stafnya adalah
cara paling efektif untuk menghasilkan efek yang sama pada pasien epilepsi dalam
serangan konvulsif.
Dalam kasus anak dengan epilepsi, selimut penahan seperti jalinan nilon
Pedi-Wrap (lihat bab 16) dapat digunakan selama perawatan. Selain memberikan
rasa aman pada anak, selimut ini juga akan melindungi mereka dari cedera tubuh
akibat goncangan tubuh jika mereka terkena serangan. Selain itu, dengan
menyediakan penahan, akan memungkinkan perawat dan dokter gigi untuk
berkonsentrasi pada jalan nafas dan aspirasi sekresi selama serangan.

Siti Salmiah : Gangguan Konvulsi, 2010






Gbr4.PenggunaanPediWrapuntuk
mencegahcederapenderitaEpilepsy

Kapanpun pasien epilepsi dirawat, lebih baik menyediakan tongue blade
dari kayu, dibungkus dalam kain dan direkat. Alat semacam ini dapat
meminimalisasi lidah tergigit selama serangan. Alat ini juga dapat digunakan
sebagai mouth prop untuk memberikan jalan masuk ujung pengaspirasi untuk
mencegah aspirasi sekresi. J ika digunakan sebagai mouth prop, alat ini juga bisa
bekerja sebagai cara efektif membuka mulut selama serangan berat untuk
membuka jalan nafas. Mouth prop karet, jika diikat dengan benang pengaman,
dapat berfungsi sama untuk menjaga mulut tetap terbuka.
Gbr5.PenggunaanMouthPropuntukmenjaga
muluttetapterbuka







Penggunaan rubber dam selama perawatan pada pasien epilepsi membawa
resiko tertelannya clamp rubber dam jika terjadi serangan mendadak. Namun
demikian, bahaya aspirasi dapat dihilangkan hampir seluruhnya jika clamp rubber
dam diikat dengan seutas dental floss yang bekerja sebagai ikatan pengaman.
Keuntungan lain penggunaan rubber dam adalah mengurangi waktu perawatan,
menambah kenyamanan pasien, dan mengurangi kecemasan pasien, yang
sepertinya melebihi resiko aspirasi. J ika terjadi serangan, semua alat oral seperti
calmp, matriks band, dll. harus dilepas secepat mungkin.


Siti Salmiah : Gangguan Konvulsi, 2010



Gbr6.PenggunaanRubberdam

Kebanyakan serangan epilepsi pulih sendiri dan dalam waktu singkat.
Namun demikian, serangan epilepsi terus menerus atau status epilepticus, meski
jarang, akan terjadi di tempat praktek gigi. Penyebab utama status epilepticus
adalah penghentian pengobatan antikonvulsan sebelumnya. Terapi gawat darurat
terdiri dari perlindungan pasine dari cedera tubuh dan menjaga jalan nafas dan
menjaganya tetap bebas sekresi. Oksigen dapat digunakan dengan face mask.
Terapi obat terdiri dari pemberian fenobarbital intramuskuler dengan segera.
Dosisnya adalah 5 mg/kg brat badan dengan dosis maksimum tunggal, tidak
melebihi 200 mg pada dewasa. J ika konvulsi tidak terkontrol dalam 15 menit,
dosis awal harus diulang. J ika konvulsi telah terkontrol sebagian sebelumnya,
diberikan setengah dosis awal.
Siti Salmiah : Gangguan Konvulsi, 2010

BAB IV
KESIMPULAN



Konvulsif dapat terjadi pada usia kapanpun tetapi paling sering selama 2
tahun pertama hidup.
Konvulsi tonik dan klonik umum, serupa dengan serangan grand mal
epilepsi, merupakan tipe paling umum dari konvulsi yang terjadi pada
anak-anak.
Penyebabnya bermacam-macam, dan bisa terjadi sebagai manifestasi
sementara penyakit akut yang melibatkan otak.
Serangan petit mal terdiri dari hilangnya kesadaran sementara yang bisa
bermanifestasi dalam berbagai cara. Mungkin terdapat sedikit gemetar
pada otot badan dan tangan, kepala menunduk, mata berputar ke atas, atau
pergerakan kelopak mata. Bukti klinis epilepsi petit mal jarang muncul
sebelum usia 3 tahun dan seringkali hilang sebelum pubertas
Dua obat utama untuk mengontrol serangan epilepsi grand mal dan
psikomotor adalah fenobarbital dan fenitoin (Dilantin)



Siti Salmiah : Gangguan Konvulsi, 2010

DAFTAR PUSTAKA

Nowak J Arthur, Dentistry for the Handicapped Patient, Mosby, St Louis,
1976 ; 95-101
http://images.google.co.id/images?hl=id&client=firefox-
a&channel=s&rls=org.mozilla%3Aen-
US%3Aofficial&um=1&sa=1&q=dilantin&btnG=Telusuri+gambar&aq=f&oq=&start
=0
http://images.google.co.id/images?hl=id&client=firefox-
a&channel=s&rls=org.mozilla%3Aen-
US%3Aofficial&um=1&sa=1&q=fenitoin.&btnG=Telusuri+gambar&aq=f&oq=&star
t=0
http://images.google.co.id/images?hl=id&client=firefox-
a&channel=s&rls=org.mozilla%3Aen-
US%3Aofficial&um=1&sa=1&q=fenobarbital&btnG=Telusuri+gambar&aq=&oq=epi
lepsi+idiopatik&start=0
http://images.google.co.id/images?hl=id&client=firefox-
a&channel=s&rls=org.mozilla%3Aen-
US%3Aofficial&um=1&sa=1&q=epilepsi+idiopati&btnG=Telusuri+gambar&aq=&o
q=rubber+dam+in+kid&start=0
http://images.google.co.id/images?hl=id&client=firefox-
a&channel=s&rls=org.mozilla:en-US:official&q=Pedi-Wrap%20&um=1&ie=UTF-
8&sa=N&tab=wi
http://www.google.co.id/search?hl=id&client=firefox-
a&channel=s&rls=org.mozilla%3Aen-
US%3Aofficial&q=idiosinkrasi%2Cwikipedia&btnG=Telusuri&meta=
http://www.google.co.id/search?hl=id&client=firefox-
a&channel=s&rls=org.mozilla%3Aen-
US%3Aofficial&q=epilepsi+idiopati&btnG=Telusuri&meta=
http://www.google.co.id/search?hl=id&client=firefox-
a&channel=s&rls=org.mozilla%3Aen-
US%3Aofficial&q=KONVULSI+KRONIS+ATAU+KAMBUHAN&btnG=Telusuri&
meta=
Siti Salmiah : Gangguan Konvulsi, 2010
Siti Salmiah : Gangguan Konvulsi, 2010