Anda di halaman 1dari 13

MANAJEMEN DASAR CAIRAN Komposisi cairan tubuh Cairan tubuh memiliki berat total mencapai 50-60% dari berat

badan seseorang, dengan proporsi terbesar ada pada ruang intrasel (sekitar 2/3 dari total cairan). Proporsi cairan tubuh ini menurun seiring dengan bertambahnya usia. Pada bayi baru lahir proporsinya mencapai 75% dari berat badan sedangkan pada orang lanjut usia hanya sekitar 55%. Cairan antar ruang dapat saling bergerak (difusi) sesuai dengan kebutuhan tubuh melalui respon terhadap gradien konsentrasi elektrolit. Elektrolit utama pada ruang intrasel adalah potasium (K+), sedangkan natrium (Na+) lebih banyak berada di ruang ekstrasel. Volume ekstrasel terbagi menjadi volume interstitial dan intravaskuler. Secara normal, keseimbangan cairan intravaskuler dijaga oleh adanya tekanan onkotik yang berasal dari molekul-molekul intravaskuler yang berukuran besar, pergerakan cairan limfe dari interstitial ke intravaskuler, serta adanya tekanan yang mempertahankan volume ekstrasel tetap. Semua faktor tersebut akan membuat cairan masuk ke dalam ruang intravaskuler. Sedangkan faktor yang berlawanan seperti adanya tekanan hidrostatik oleh jantung dan sirkulasi serta tekanan onkotik cairan interstitial akan menyebabkan cairan keluar dari ruang intravaskuler. Keseimbangan kedua faktor inilah yang akan menjaga kestabilan hemodinamik intravaskuler seseorang yang penting untuk mengadakan sirkulasi adekuat yang diperlukan oleh sistim organ tubuh. Pada kondisi normal, cairan tubuh manusia didistribusikan intrasel dan ekstrasel dengan perbandingan yang tetap. Dengan demikian segala kondisi yang dapat merubah komposisi tersebut akan mengakibatkan ketidak seimbangan hemodinamik yang dapat menjadi fatal. Kondisi hipovolemia memiliki arti dimana terdapat penurunan volume intravaskuler yang tidak mempengaruhi kondisi volume interstitial. Sedangkan yang dimaksud dengan hipervolemia adalah kondisi peningkatan volume intervaskuler baik disertai peningkatan volume interstitial maupun tidak. Cairan Kristaloid Merupakan larutan dengan air (aqueous) yang terdiri dari molekul-molekul kecil yang dapat menembus membran kapiler dengan mudah. Biasanya volume pemberian lebih besar, onset lebih cepat, durasinya singkat, efek samping lebih sedikit dan harga lebih murah.

Yang termasuk cairan kristaloid antara lain salin (salin 0. Hanya 25% dari jumlah pemberian awal yang tetap berada intravaskuler. ringer laktat. D20%). glukosa (D5%. Plasma expander berguna untuk mengganti cairan dan elektrolit yang hilang pada intravaskuler.9%. sel-sel endotelium pembuluh darah bocor. kemudian didistribusikan ke semua kompartemen ekstra vaskuler. Normal Saline Komposisi (mmol/l) : Na = 154. penting untuk dipikirkan penggantian cairan yang memiliki molekul lebih besar. diikuti oleh keluarnya molekul protein besar ke kompartemen interstisial. cairan NaCl digunakan untuk mengganti cairan yang hilang tersebut. Bersifat isotonik. d. terutama pada kasus dimana terjadi peningkatan resistensi kapiler seperti pada sepsis. b. yaitu jenis koloid. c. 1000 ml. Luka Bakar Manifestasi luka bakar adalah syok hipovolemik. Cairan kristaloid bersifat mudah keluar dari intravaskuler. Kemasan : 100. Keadaan ini juga meningkatkan metabolit nitrogen yaitu ureum dan kreatinin . atau dekstrosa. serta sodium bikarbonat yang merupakan terapi pilihan pada kasus asidosis metabolik dan alkalinisasi urin. dimana terjadi kehilangan protein plasma atau cairan ekstraseluler dalam jumlah besar dari permukaan tubuh yang terbakar. diikuti air dan elektrolit yang bergerak ke intertisial karena gradien osmosis. Resusitasi Pada kondisi kritis. Cl = 154. 250. sehingga penggunaannya membutuhkan volume 3-4 kali dari volume plasma yang hilang. Gagal Ginjal Akut Penurunan fungsi ginjal akut mengakibatkan kegagalan ginjal menjaga homeostasis tubuh. Untuk mempertahankan cairan dan elektrolit dapat digunakan cairan NaCl. sedangkan glukosa biasa digunakan pada penanganan kasus hipoglikemia. Indikasi : a. Masing-masing jenis memiliki kegunaan tersendiri. Mekanisme secara umum larutan kristaloid menembus membran kapiler dari kompartemen intravaskuler ke kompartemen interstisial. D10%. 1. dimana salin biasa digunakan untuk memenuhi kebutuhan cairan tubuh sehari-hari dan saat kegawat daruratan. serta sodium bikarbonat. Diare Kondisi diare menyebabkan kehilangan cairan dalam jumlah banyak. maka efektif dalam mengisi sejumlah cairan kedalam pembuluh darah dengan segera dan efektif untuk pasien yang membutuhkan cairan segera. Pada kondisi tersebut. ringer asetat). ringer laktat. 500.

Indikasi : mengembalikan keseimbangan elektrolit pada keadaan dehidrasi dan syok hipovolemik. Klorida merupakan anion utama di plasma darah. Cl = 109-110. Indikasi : sebagai cairan resusitasi pada terapi intravena serta untuk keperluan hidrasi selama dan sesudah operasi. Kontraindikasi : hipertonik uterus. hipertensi. 2. hiponatremia. Elektrolit-elektrolit ini dibutuhkan untuk menggantikan kehilangan cairan pada dehidrasi dan syok hipovolemik termasuk syok perdarahan. Kalium merupakan kation terpenting di intraseluler dan berfungsi untuk konduksi saraf dan otot.serta gangguan keseimbangan cairan dan elektrolit. retensi cairan. insufisiensi renal. 500 ml. kelainan ginjal. Diberikan pada keadaan oliguria ringan sampai sedang (kadar kreatinin kurang dari 25 mg/100ml). . Natrium merupakan kation utama dari plasma darah dan menentukan tekanan osmotik. Ringer Laktat (RL) Komposisi (mmol/100ml) : Na = 130-140. Kontraindikasi : hipernatremia. Adverse Reaction : edema jaringan pada penggunaan volume yang besar. Kemasan : 500. 3. Pemberian normal saline dan glukosa menjaga cairan ekstra seluler dan elektrolit. Hatihati pemberian pada penderita edema perifer pulmoner. asidosis laktat. karena akan menyebabkan penumpukan asam laktat yang tinggi akibat metabolisme anaerob. 100 gr/l (10%). edema perifer dan edema paru. kerusakan sel hati. Kontraindikasi : Hiperglikemia. Ringer laktat menjadi kurang disukai karena menyebabkan hiperkloremia dan asidosis metabolik. 250. Basa = 2830 mEq/l. Peringatan dan Perhatian : ”Not for use in the treatment of lactic acidosis”. 1000 ml. Ca = 2-3. heart failure/impaired renal function & pre-eklamsia. biasanya paru-paru. Digunakan dengan pengawasan ketat pada CHF. Dekstrosa Komposisi : glukosa = 50 gr/l (5%). K = 4-5. 200 gr/l (20%). Cara Kerja Obat : keunggulan terpenting dari larutan Ringer Laktat adalah komposisi elektrolit dan konsentrasinya yang sangat serupa dengan yang dikandung cairan ekstraseluler. penggunaan dalam jumlah besar menyebabkan akumulasi natrium. Kemasan : 100. Adverse Reaction : edema jaringan pada penggunaan volume besar (biasanya paruparu).

Onizuka dkk (1999) mencoba membandingkan efek pemberian infus cepat RL dengan RA terhadap metabolisme maternal dan fetal. yang umum terjadi setelah anestesi umum/spinal. misalnya pada diare. 4. loading cairan saat induksi anestesi regional. luka bakar/syok hemoragik.Adverse Reaction : Injeksi glukosa hipertonik dengan pH rendah dapat menyebabkan iritasi pada pembuluh darah dan tromboflebitis. Sebagai cairan kristaloid isotonik yang memiliki komposisi elektrolit mirip dengan plasma. dan juga diindikasikan pada stroke akut dengan komplikasi dehidrasi. terlebih pada kondisi yang disertai asidosis. DBD. priming solution pada tindakan pintas kardiopulmonal. RA dan RL efektif sebagai terapi resusitasi pasien dengan dehidrasi berat dan syok. Metabolisme asetat juga didapatkan lebih cepat 3-4 kali dibanding laktat. Studi ini memperlihatkan pemberian RA dapat mencegah hipotensi arteri yang disebabkan hipovolemia sentral. Dehidrasi dan gangguan hemodinamik dapat terjadi pada stroke iskemik/hemoragik akut. sementara asetat dimetabolisme terutama di otot. karena dapat memperbaiki asidosis laktat neonatus (kondisi yang umum terjadi pada bayi yang dilahirkan dari ibu yang mengalami eklampsia atau pre-eklampsia). Hal ini dikarenakan adanya laktat dalam larutan Ringer Laktat membahayakan pasien sakit berat karena dikonversi dalam hati menjadi bikarbonat. RA memiliki manfaat-manfaat tambahan pada dehidrasi dengan kehilangan bikarbonat masif yang terjadi pada diare. Dengan profil seperti ini. Larutan RA berbeda dari RL (Ringer Laktat) dimana laktat terutama dimetabolisme di hati. Untuk kasus obstetrik. sehingga umumnya para dokter spesialis saraf menghindari penggunaan cairan . Ringer Asetat (RA) Larutan ini merupakan salah satu cairan kristaloid yang cukup banyak diteliti. Cairan ini terutama diindikasikan sebagai pengganti kehilangan cairan akut (resusitasi). pengganti cairan selama prosedur operasi. Penggunaan Ringer Asetat sebagai cairan resusitasi sudah seharusnya diberikan pada pasien dengan gangguan fungsi hati berat seperti sirosis hati dan asidosis laktat. Manfaat pemberian loading cairan pada saat induksi anastesi. Ringer Asetat telah tersedia luas di berbagai negara. Studi ini memperlihatkan pemberian RA lebih baik dibanding RL untuk ke-3 parameter di atas. misalnya ditunjukkan oleh studi Ewaldsson dan Hahn (2001) yang menganalisis efek pemberian 350 ml RA secara cepat (dalam waktu 2 menit) setelah induksi anestesi umum dan spinal terhadap parameter-parameter volume kinetik. serta keseimbangan asam basa pada 20 pasien yang menjalani kombinasi anestesi spinal dan epidural sebelum seksio sesarea.

pancretitis. dan 65. Digunakan untuk menjaga dan meningkatkan tekanan osmose plasma. cardiopulmonary bypass. selulitis luas dan luka bakar. bersifat hipertonik dan dapat menarik cairan dari pembuluh darah. Umumnya pemberian lebih kecil. efek samping lebih banyak. Komposisi Beberapa Cairan Kristaloid Cairan Koloid Merupakan larutan yang terdiri dari molekul-molekul besar yang sulit menembus membran kapiler. dan lebih mahal. Pasien dengan hipoproteinemia dan ARDS diterapi dengan albumin dan furosemid yang dapat memberikan efek diuresis yang signifikan serta penurunan berat badan secara bersamaan. tanpa menimbulkan perbedaan yang signifikan pada parameter-parameter hemodinamik (denyut jantung dan tekanan darah sistolik-diastolik). onsetnya lambat. Hasil studi juga memperlihatkan RA dapat mempertahankan suhu tubuh lebih baik dibanding RL secara signifikan pada menit ke 5.  Pengganti volume plasma pada ARDS (Acute Respiratory Distress Syndrome). digunakan untuk mengganti cairan intravaskuler. . Tabel I. efek koagulopati lebih rendah.hipotonik karena kekhawatiran terhadap edema otak. 1. gagal ginjal akut. Albumin merupakan koloid alami dan lebih menguntungkan karena : volume yang dibutuhkan lebih kecil. atau hipoproteinemia. Hahn dan Drobin (2003) memperlihatkan pemberian RA tidak mendorong terjadinya pembengkakan sel. resiko akumulasi di dalam jaringan pada penggunaan jangka lama yang lebih kecil dibandingkan starches dan resiko terjadinya anafilaksis lebih kecil. trauma. hipoalbuminemia. 55. terutama bila ada dugaan terjadinya edema otak. 50. hiperbilirubinemia. Indikasi :  Pengganti volume plasma atau protein pada keadaan syok hipovolemia. durasinya lebih panjang. mediasinitis. Mekanisme secara umum memiliki sifat seperti protein plasma sehingga cenderung tidak keluar dari membran kapiler dan tetap berada dalam pembuluh darah. operasi. karena itu dapat diberikan pada stroke akut. Albumin Komposisi : Albumin yang tersedia untuk keperluan klinis adalah protein 69-kDa yang dimurnikan dari plasma manusia (cotoh: albumin 5%). Oleh karena itu penggunaannya membutuhkan volume yang sama dengan jumlah volume plasma yang hilang. Namun.

disimpulkan HES tidak boleh digunakan pada sepsis karena : . dapat meningkatkan resiko perdarahan setelah operasi. dimana suatu penelitian menyatakan bahwa HES dapat digunakan pada pasien sepsis karena :  Tingkat efikasi koloid lebih tinggi dibandingkan kristaloid. karena dapat meningkatkan resiko acute renal failure (ARF). Kontraindikasi : Cardiopulmonary bypass. HES (Hydroxyetyl Starches) Komposisi : Starches tersusun atas 2 tipe polimer glukosa. dan ekskresi renal berlebih. operasi besar. Sementara itu pada penelitian yang lain. Sirosis memacu terjadinya asites/penumpukan cairan yang merupakan media pertumbuhan yang baik bagi bakteri. hal ini terjadi karena HES berefek antikoagulan pada dosis moderat (>20 ml/kg). Plasbumin 25. anemia berat. Terapi antibiotik adalah pilihan utama. yaitu amilosa dan amilopektin.  Pada syok hipovolemia diperoleh innvestigasi bahwa HES dan albumin menunjukkan manifestasi edema paru yang lebih kecil dibandingkan kristaloid.  2. infeksi (sepsis syok). sehingga dapat menurunkan resiko kebocoran kapiler. Sepsis. Adanya bakteri dalam darah dapat menyebabkan terjadinya multi organ dysfunction syndrome (MODS). kebakaran. yaitu sindroma kerusakan organ-organ tubuh yang timbul akibat infeksi langsung dari bakteri. Penggunaan HES pada sepsis masih terdapat perdebatan. dapat mencegah komplikasi lebih lanjut seperti asidosis refraktori. Indikasi : Penggunaan HES pada resusitasi post trauma dapat menurunkan permeabilitas pembuluh darah.  Dengan menjaga COP. disamping itu HES tetap bisa digunakan untuk menambah volume plasma meskipun terjadi kenaikan permeabilitas.  Pada spontaneus bacterial peritonitis (SBP) yang merupakan komplikasi dari sirosis. Produk : Plasbumin 20. sedangkan penggunaan albumin pada terapi tersebut dapat mengurangi resiko renal impairment dan kematian.Hipoalbuminemia yang merupakan manifestasi dari keadaan malnutrisi. Muncul spekulasi tentang penggunaan HES pada kasus sepsis. berbagai macam kondisi inflamasi.  HES juga mempunyai kemampuan farmakologi yang sangat menguntungkan pada kondisi sepsis yaitu menekan laju sirkulasi dengan menghambat adesi molekuler. Kontraindikasi : gagal jantung.

Contoh : HAES steril. iskemia miokard. yang ditumbuhkan pada media sukrosa. gangguan ginjal dengan oliguria atau anuria yang parah. Gelatin Komposisi : Gelatin diambil dari hidrolisis kolagen bovine. Adverse Reaction : Dextran dapat menyebabkan syok anafilaksis. Adverse reaction : HES dapat terakumulasi pada jaringan retikulo endotelial jika digunakan dalam jangka waktu yang lama. tanda-tanda gagal jantung. dextran menimbulkan efek pendarahan yang signifikan.  HES mempunyai resiko lebih tinggi menimbulkan gangguan koagulasi. Pada dosis tinggi. Expafusin. 4. dan liver failure. namun lebih kecil dibandingkan HES.  HES tidak dapat meningkatkan sirkulasi splanchnic dibandingkan dengan gelatin pada pasien sepsis dengan hipovolemia. Indikasi :  Penambah volume plasma pada kondisi trauma. sehingga dapat menimbulkan pruritus. hipofibrinogenemia). syok sepsis. dextran juga sering dilaporkan dapat menyebabkan gagal ginjal akibat akumulasi molekul-molekul dextran pada tubulus renal. Kontraidikasi : pasien dengan tanda-tanda kerusakan hemostatik (trombositopenia. isotic tearin.  Resiko nefrotoksik pada HES dua kali lebih tinggi dibandingkan dengan gelatin pada pasien dengan sepsis. plasmafusin.Edema paru tetap terjadi baik setelah penggunaan kristaloid maupun koloid (HES). dan penyakit vaskuler perifer.  3. Dextran Komposisi : dextran tersusun dari polimer glukosa hasil sintesis dari bakteri Leuconostoc mesenteroides. yang manifestasinya menyebabkan kerusakan alveoli. Contoh : hibiron.  Mempunyai efek anti trombus. pruritus. . tears naturale II. Pada suatu penelitian dikemukakan bahwa dextran-40 mempunyai efek anti trombus paling poten jika dibandingkan dengan gelatin dan HES. Hal ini terutama terjadi pada pasien dengan kondisi iskemik reperfusi (contoh: transplantasi ginjal). iskemia cerebral. Pada sebuah penelitian invitro dengan tromboelastropgraphy diketahui bahwa gelatin memiliki efek antikoagulan. dan menghambat agregasi platelet. Indikasi : Penambah volume plasma dan mempunyai efek antikoagulan. ARF. mekanismenya adalah dengan menurunkan viskositas darah.

2010) Memasang Infus adalah memasukkan cairan atau obat langsung ke dalam pembuluh darah vena dalam jumlah banyak dan dalam waktu yang lama dengan menggunakan infus set. ke dalam pembuluh vena (pembuluh balik) untuk menggantikan kehilangan cairan atau zat-zat makanan dari tubuh.(Yuda. Memperbaiki volume komponen-komponen darah. melalui sebuah jarum. (Wahyuningsih. dan kalori. (Protap RSUD Indrasari Kabupaten Indragiri Hulu. Biasanya cairan steril mengandung elektrolit (natrium. Contoh : haemacel. Isotonik cairan ke dalam tubuh. b. protein. nutrient (biasanya glukosa). atau glukosa yang diperlukan untuk metabolisme dan memberikan medikasi. untuk memberikan garam yang dirperlukan untuk mempertahankan keseimbangan elektrolit. Memberikan jalan masuk untuk pemberian obat-obatan kedalam tubuh. vitamin atau obat. d. e.000 pasien. Pada penelitian dengan 20. 2006 : 5) Tipe-tipe Cairan Intravena a. (Wahyuningsih. c. Memonitor tekanan vena sentral (CVP). gelofusine. dilaporkan bahwa gelatin mempunyai resiko anafilaksis yang tinggi bila dibandingkan dengan starches. Memberikan nutrisi pada saat system pencernaan diistirahatkan. Adverse reaction : dapat menyebabkan reaksi anafilaksis.Kontraindikasi : haemacel tersusun atas sejumlah besar kalsium. sehingga harus dihindari pada keadaan hiperkalsemia. tidak sadar. (Setyorini. Memberikan atau menggantikan cairan tubuh yang mengandung air. 2005 : 68) 2. kalsium. Memperbaiki keseimbangan asam-basa. Konsep Dasar Terapi Intravena (Infus) 1. Tujuan Pemberian Terapi Intravena (Infus) a. kalium). dehidrasi atau syok. yang tidak dapat dipertahankan secara adekuat melalui oral. 2009) . Cairan Khusus Contoh dalam kelompok ini seperti cairan mannitol. Pengertian Terapi Intravena (Infus) Terapi Intravena adalah menempatkan cairan steril melalui jarum langsung ke vena pasien. vitamin. f. 2005 : 68) Infus cairan intravena (intravenous fluids infusion) adalah pemberian sejumlah Terapi intravena (IV) digunakan untuk memberikan cairan ketika pasien tidak dapat menelan. elektrolit. lemak.

elektrolit. ca++. K+.45% 3) Nacl 0.Suatu cairan yang memiliki tekanan osmotic yang sama dengan ada didalam plasma. dextran. Hipotonik Suatu larutan yang memiliki osmotic yang lebih kecil dari pada yang ada didalam plasma darah.45% 2) Nacl 0. isi bervariasi : air. Balans isotonic. Plasma expanders. plasma) 4) Dextrose 5% dalam air ( D 5 W ) b. 3) Dextrose 10% dalam air 4) Dextrose 20% dalam air 5) Nacl 3% dan 5% 6) Larutan hiperalimentasi 7) Dextrose 5% dalam ringer laktat 8) Albumin 25 (Setyorini. berisi air atau garam dan kalori c. 1) Dextrose 2. cl-. 1) Nacl normal 0. Ringer laktat. Pemberian cairan ini meningkatkan konsentrasi larutan plasma dan mendorong air masuk kedalam sel untuk memperbaiki keseimbangan osmotic. 1) Dextrose 5% dalam Nacl 0.9% 2) Ringer Laktat 3) Komponen-komponen darah (albumin 5%. Pemberian cairan ini umumnya menyebabkan dilusi konsentrasi larutan plasma dan mendorong air masuk ke dalam sel untuk memperbaiki keseimbangan di Intrasel dan Ekstrasel. laktat) d. f. 2006 : 5) Komposisi Cairan Terapi Intravena a. berisi air (Na+.9% 2) Dextrose 5% dalam Nacl 0. sel-sel tersebut akan membesar atau membengkak. kedalam sirkulasi dan meningkatkan volume darah sementara. glukonat ). HCO.5% dalam Nacl 0. Larutan dextrose. e. . menarik cairan dari intertisiall.2% c. Mg++. cl-. kalori ( Na+. cl-) b. Larutan Nacl. berisi albumin. hespan yang dapat meningkatkan tekanan osmotic. fraksi protein plasma 5%.45% (hanya sedikit hipertonis karena dextrose dengan cepat dimetabolisme dan hanya sementara mempengaruhi tekanan osmotic). sel kemudian akan menyusut. K+. Whole blood (darah lengkap) dan komponen darah. Hipertonik Suatu larutan yang memiliki tekanan osmotic yang lebih tinggi dari pada yang ada dalam plasma darah. berisi air dan elektrolit (Na+.

9% 1) Digunakan untuk menggantikan garam(cairan isotonik) yang hilang. dan untuk mengatasi asidosis metabolik tingkat sedang. Pertama atur kecepatan tetesan pada tabung IV. memberikan suplai kalori. c. juga dapat dibarengi dengan pemberian obat-obatan atau berfungsi untuk mempertahankan vena dalam keadaan terbuka dengan infus tersebut 2) Hati-hati terhadap terjadinya intoksikasi cairan (hiponatremia. 2) Hati-hati terhadap kelebihan volume isotonik (misalnya : gagal jantung dan gagal ginjal). Jika kecepatan alirannya tidak tepat. 2) Untuk mendapat respon yang cepat terhadap pemberian obat (furosemid dan digoksin). bagi dengan 60. adalah memberikan obat dari jarum suntik secara langsung kedalam saluran/jalan infus. asam amino. dan kalori). atau untuk pasien dalam kondisi syok hemodinamik. (Setyorini. 2006 : 6) B. Indikasi : 1) Pada keadaan emergency resusitasi jantung paru. Tabung makrodrip dapat meneteskan 10 atau 15 tetes per 1 ml. Atur jumlah mililiter cairan yang akan diberikan dengan jumlah total cairan yang akan diberikan dengan jumlah jam infuse yang berlangsung. Untuk menentukan berapa banyak tetesan yang akan diberikan permenit. (Wahyuningsih.Hiperelimentasi parenteral (cairan. memungkinkan pemberian obat langsung kedalam intravena. 2006 : 6) Menentukan kecepatan cairan Intravena (Infus) a. 2005 : 70) 6. Tipe-tipe Pemberian Terapi Intravena (Infus) 1. g. Kemudian kalikan hasil tersebut dengan faktor tetes. Jumlah tetesan yang diperlukan untuk 1 ml disebut faktor tetes. d. b. elektrolit. IV push IV push (IV bolus). Nacl 0. Hal-hal yang harus diperhatikan terhadap Tipe-tipe Infus a. Tabung mikrodrip meneteskan 60 tetes per 1 ml. diberikan dengan komponen darah. c. b. sesuaikan dengan kecepatan tetesan. Hitung jumlah tetesan permenit yang akan diinfuskan. Ringer laktat Digunakan untuk menggantikan cairan isotonik yang hilang. sindroma pelepasan hormon antidiuretik yang tidak semestinya). elektrolit tertentu. Jangan digunakan dalam waktu yang bersamaan dengan pemberian transfusi (darah atau komponen darah). . D 5 W (dextrose 5% in water) 1) Digunakan untuk menggantikan air (cairan hipotonik) yang hilang. (Setyorini.

Kerugian 1) Memerlukan selang yang khusus. 2) Biaya lebih mahal 3) Pompa infus akan dilanjutkan untuk menginfus kecuali ada infiltrat.3) Untuk memasukkan dosis obat dalam jumlah besar secara terus menerus melalui infus ( lidocain. b. yakni darah mengumpul dalam jaringan tubuh akibat pecahnya pembuluh darah arteri vena. dan intra thecal (spinal) dapat dilengkapi dengan menggunakan pompa khusus yang ditanam maupun eksternal. terjadi akibat penekanan yang kurang tepat saat memasukkan jarum. Infiltrasi. Hematoma. (Setyorini. atau “tusukan” berulang pada pembuluh darah. 2006 : 8) 3. Infus melalui intravena. Intermitten Infusion (Infus Sementara) Infus sementara dapat diberikan melalui heparin lock.(Setyorini. 4) Lakukan pemeriksaan ulang terhadap kecepatan aliran infus. “piggy bag” untuk infus yang kontiniu. xilocain). intra arteri. 2) Perawat harus waspada terhahap terjadinya komplikasi (adanya infiltrat atau infeksi) 3) Ikuti aturan yang diberikan oleh perusahaan yang memproduksi alat tersebut. dengan atau tanpa pengatur kecepatan aliran. 2006 : 9) C. c. atau untuk terapi jangka panjang melalui perangkat infus. 3) Mengurangi waktu perawatan untuk memastikan kecepatan aliran infus. Continous Infusion (infus berlanjut) Continoius Infusion dapat diberikan secara tradisional melalui cairan yang digantung. atau kapiler. Tanggung jawab perawat 1) Efektivitas penggunaan pengaturan infus secara mekanis sama dengan perawat yang memerlukannya. 2. Komplikasi Terapi Intravena (Infus) Beberapa komplikasi yang dapat terjadi dalam pemasangan infus: 1. 2006 : 7) 2. terjadi akibat ujung jarum infus melewati pembuluh darah. Keuntungan 1) Mampu untuk mengimpus cairan dalam jumlah besar dan kecil dengan akurat. 2) Adanya alarm menandakan adanya masalah seperti adanya udara di selang infus atau adanya penyumbatan. . Hal yang perlu dipertimbangkan yatu: a. yakni masuknya cairan infus ke dalam jaringan sekitar (bukan pembuluh darah). 4) Untuk menurunkan ketidaknyamanan pasien dengan mengurangi kebutuhan akan injeksi 5) Untuk mencegah masalah yang mungkin timbul apabila beberapa obat yang dicampur. (Setyorini.

Disinfeksi kulit dengan alkohol swab. Persiapkan set infus 7. dalam kondisi baring atau duduk. Jika kanulasi akan diteruskan dengan pemasangan infus. maka lepaskan atau longgarkan baju dari lengan pasien. Atur posisi pasien senyaman mungkin. tarik stilet keluar secara perlahan. Emboli udara. Pasang tourniquet. Tromboflebitis. adalah sebagai berikut : 1. 6. 5. 2. terjadi akibat infus yang dipasang tidak dipantau secara ketat dan benar. Identifikasi vena yang layak digunakan. 18. atau bengkak (inflamasi) pada pembuluh vena. Gunakan kanula steril. Letakkan perlak pada bagian bawah lengan. 11. 3. Cek aliran infus 8. Prosedur Pemasangan Terapi Intravena (Infus) Prinsip pemasangan terapi intravena (infus) memperhatikan prinsip steril. sedangkan baju pasien agak ketat. Rasa perih/sakit 2. Insersi kanula (IV insertion). 10. 12. Kenakan sarung tangan. untuk memperoleh persetujuan dan kerja sama pasien. . terjadi akibat masuknya udara yang ada dalam cairan infus ke dalam pembuluh darah Komplikasi yang dapat terjadi dalam pemberian cairan melalui infus: 1. Buka tourniquet. Masukkan kanula ke vena (kanulasi) dengan sudut 15-20 derajat. Ciptakan suasana yang mendukung dan bersahabat. yakni masuknya udara ke dalam sirkulasi darah. Pasien hendaknya dalam keadaan tenang. sirkuler (biarkan mengering. cari lengan yang tidak dominan). hal ini yang paling penting dilakukan tindakan untuk mencegah kontaminasi jarum intravena (infus). 4. Cuci tangan medikal. 16. Dorong kanula masuk secara perlahan. 2010) D. 13.3. Persiapkan lengan yang akan dipasang kanulasi (bila memungkinkan. 9. 17. Berikan penjelasan kepada pasien menggenai maksud pemasangan IV line. Dekatkan peralatan (yang telah disiapkan dalam troli injeksi) ke pasien. 4. 14. 15. jangan ditiup). Reaksi alergi (Yuda. Langkah-langkah dalam pemasangan terapi intravena (Infus) menurut Susiati (2008 : 16).

bulan. Letakkan kasa steril di bawah kanula. Tutup dengan plaster transparan. 27. Bersihkan daerah sekitar bekas penusukan dengan kasa steril. Buang kasa kedalam tempatnya. bulan. 26. mulai dan selesai pemberian infus) · Set infus . Buang jarum kedalam sharp container. Atur tetesan infus sesuai program terapi dokter. cantumkan (tanggal. cantumkan (jam. 24. 23. tanggal. Setelah darah tampak keluar. Beri label pada : · Botol infus . tahun. Dokumentasikan kedalam catatan perkembagan pasien. agar jika ada darah yang keluar akan segera diserap. Fiksasi dengan plester antialergi dengan cara jangkar. . 22. Rapikan alat seperti semula. Cuci tangan 30. 29. dan nama pemasang infus). 21. 25.19. 28. 20. sambungkan dengan IV line.