Anda di halaman 1dari 13

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Obat kardiovaskular adalah senyawa yang digunakan untuk mencegah atau mengobati penyakit kardiovaskular (buluh jantung). Penyakit ini menempati ururtan pertama sebagai penyebab kematian di banyak Negara. Di Amerika sekitar 51% kematian disebabkan oleh penyakit kardiovaskular. Untuk pengobatan beberapa penyakit buluh darah dapat dilakukan dengan cara pembedahan dan diberikan vasodilator, obat antihipertensi, obat untuk aterosklerosis atau antilipemik, obat antiangina dan antikoagulan. Nyeri dada merupakan salah satu keluhan yang paling banyak ditemukan di klinik. Sebagian besar penderita merasa ketakutan bila nyeri dada tersebut disebabkan oleh penyakit yang serius misalnya saja penyakit jantung. Salah satu bentuk nyeri dada yang paling sering ditemukan adaalah angina pectoris, yang merupakan gejala penyakit jantung koroner dan dapat bersifat progresif serta menyebabkan kematian. Oleh sebab itu jenis nyeri dada ini memerlukan pemeriksaan yang lebih lanjut dan penanganan yang sangat serius. Agar diagnose lebih cepat diarahkan, maka perlu juga pengenalan mengenai penyakit-penyakit nyeri dada yang disebabkan oleh penyakit lain. Obat antiangina adalah senyawa yang digunakan untuk mencegah dan mengobati gejala angina pectoris, suatu keadaan dengan rasa nyeri hebat di dada, yang disebabkan ketidakseimbangan antara persediaan dan permintaan oksigen pada miokardial. Pemberian antiangina bertujuan untuk : 1) Mengatasi atau mencegah serangan akut angina pectoris. 2) Pencegahan jangka panjang angina.

1.2 Rumusan Masalah 1. Penyakit yang berhubungan dengan antiangina 2. Obat yang digunakan sebagai antiangina yang meliputi : Penggolongan Dosis Mekanisme kerja Kontra indikasi Indikasi Efek samping Toksisitas dan penanganannya

1.3 Manfaat Manfaat disusunnya makalah ini adalah untuk mengetahui obat antiangina mengenai penggolongan, dosis, mekanisme kerja, kontra indikasi, indikasi, efek samping, dan toksisitas serta penangannannya.

1.4 Tujuan Tujuan penyusunan makalah ini adalah agar kami dan yang membaca makalah ini dapat mengetahui dan memahami tentang antiangina mulai dari penyakit yang berhubungan sampai pengobatannya.

BAB II ISI

2.1 Sejarah Obat Anti Angina Angina pektoris pertama kali dijelaskan sebagai suatu penyakit klinik tersendiri oleh Wiliam Heberden di akhir pertengahan abad ke 18.Pada pertengahan kedua abad ke 19 ditemukan bahwa amil nitrit memberikan penyembuhan yang sementara.Tetapi pengobatan yang efektif terhadap serangan akut angina pektoris baru mungkin setelah diperkenalkan nitrogliserin pada tahun 1879. Selanjutnya banyak vasilidator lain, (misalnya: teofilin,papaverin) Diperkenalkan untuk pengobatan angina. Namun ketika di uji klinik bersama ganda,ditemukan bahwa obatobat nonnitrat tersebut ternyata tidak lebih baik daripada plasebo. Kenyataannya beeberapa penelitian klasik terhadap efek plasebo dilakukan pada penderita-penderita angina. Dengan diperkenalkannya obat- obat penghambat beta, profilaksis terapi terhadap angina bisa dilakukan. Akhir-akhir ini ,kalsium antagonis telah ditunjuk berguna untuk pencegahan serangan angina, khususnya pada angina varian.

2.2 Pengertian Obat Anti Angina Obat antiangina adalah senyawa yang digunakan untuk mencegah dan mengobati gejala angina pectoris, suatu keadaan dengan rasa nyeri hebat di dada, yang disebabkan ketidakseimbangan antara persediaan dan permintaan oksigen pada miokardial. Penggunaan antiangina ini berdasarkan penurunan frekuensi kerja jantung (efek kronotop negatif). Dengan demikian keperluan oksigen dari myocard dikurangi pada pengerahan tenaga (exetion), hawa dingin, dan emosi. Terutama berguna pada terapi interval guna mencegah serangan angina stabil kronis, adakalanya dikombinasi dengan obat-obat lain. Pada angina variant hanya efektif sebagai obat tambahan bersama suatu antagonis Ca, khususnya nifedipin (Tjay, 2010).

Keadan ischemia jantung pada angina pectoris dapat diobati dengan vasodilator koroner yang merupakan obat pilihan pertama dan zat-zat yang mengurangi kebutuhan jantung akan oksigen (-blokers dan antagonis-kalsium) (Tjay, 2010).

2.3 Penggolongan dan Dosis Obat Anti Angina 1. Vasodilator Koroner Memperlebar arteri jantung, memperlancar pemasukkan darah serta oksigen dan dengan demikian meringankan beban jantung. Pada serangan akut obat pilihan utama adalah nitrogliserin (sublingual) dengan kerja pesat tetapi singkat. Sebagai terapi interval guna mengurangi frekuensi serangan tersedia nitrat long-acting (isosorbide-nitrat), antagonis Ca (ditiazem, verapamil), dan dipiridamol. a. Nitrogliserin: gliseriltrinitrat, trinitrin, nitrostat, nitroderm TTS (plester). Trinitrat dari gliserol ini sebagaimana juga nitrat lainnya berkhasiat relaksasi otot pembuluh, bronchia, saluran empedu, lambung usus dan kemih. Berkhasiat vasodilatasi berdasarkan terbentuknya

nitrogenoksida (NO) dari nitrat di sel-sel dinding pembuluh. NO ini bekerja merelaksasi sel-sel ototnya, sehingga pembuluh vena terutama vena mendilatasi dengan langsung. Akibatnya, TD turun dengan pesat dan aliran darah vena yang kembali ke jantung (preload) berkurang. Penggunaan oksigen jantung menurun dan bebannya dikurangi. Arteri koroner juga diperlebar, tetapi tanpa efek langsung terhadap myocard. Dosis: pada serangan akut, dibawah lidah (sublingual) 0,4-1mg sebagai tablet, spray atau kapsul digigit, bila perlu dapat diulang sesudah 3-5menit. Bila efek sudah dicapai, obat harus dikeluarkan dari mulut. Profilaksis: tablet retard (nitro-mack) 2-5mg diletakkan dibawah gusi dan bibir atas (oromukosal). Salep 2% (nitro-bid) 3 dd 7,5-30mg pada dada, perut atau lengan. Plester control release (Deponit 5/10,

Nitroderm TTS): 1 dd 5-10mg. Guna menghindari toleransi, sebaiknya plester digunakan hanya siang hari dan malam hari sewaktu tidur dilepas (Tjay, 2010). b. Isosorbida-dinitrat: Isordil, Sorbidin, dan Cedocard Derivat-derivat siklis ini sama kerjanya dengan nitrogliserin, tetapi bersifat long-acting. Di dinding pembuluh zat ini diubah menjadi nitrogenoksida (NO), yang mengaktivasi enzim guanilsiklase dan menyebabkan peningkatan kadar Cgmp (Cyclo-guanilmonophospate) di sel otot polos dan menimbulkan vasodilatasi. Secara sublingual mulai kerjanya dalam 3 menit dan bertahan sampai 2 jam, secara spray masing-masing 1 menit dan 1 jam, sedangkan oral masing-masing 20 menit dan 4 jam. Dosis: pada serangan akut atau profilaksis, sublingual tablet 5mg, bila perlu diulang sesudah beberapa menit. Interval: oral 3 dd 20mg d.c. atau tablet/kapsul retard maks. 1-2 dd 80mg. Spray 1,25-3,75 mg (1-3 semprotan) (Tjay, 2010). c. Isosorbid 5-mononitrat (Ismo, Indur, Mono-Cedocard) Merupakan derivat dengan khasiat dan penggunaan yang sama.obat ini terutama digunakan oral sebagai profilaksis untuk mengurangi frekuensi serangan, juga secara oromukosal. Adakalanya juga oral pada dekompensasi yang dengan obat-obat lazim kurang berhasil. Dosis: oral semula 3 dd 10 mg p.c., sesudah beberapa hari, 2-3 dd 20mg. Tablet retard: pagi hari 50-120mg (Tjay, 2010) d. Dipiridamol: Persantin, Cardial Merupakan penghambat Fosfodiesterase, derivat-dipiperidin ini

berdaya inotrop positif lemah tanpa menaikkan penggunaan oksigen dan vasodilatasi, juga terhadap arteri jantung. Penggunaannya pada angina kini di anggap obsolet, karena kurang efektif. Begiti pula sebagai obat pencegah infark kedua (bersama asetosal), berdasarkan kerja antitrombotiknya. Khusus digunakan

sebagai obat tambahan antikoagulasi pada bedah penggantian katup jantung untuk mencegah penyumbatan karena gumpalan darah (tromboemboli) Dosis: pada angina oral 3 dd 50 mg 1 jam a.c., pada bedah katup jantung: 4 dd 75-100 mg a.c. (Tjay, 2010). 2. Beta-Blokers Zat-zat ini yang juga disebut antagonis -adrenoreceptor digunakan sebagai profilaksis terhadap angina, dengan pilihan utama zat-zat kardioselektif atenolol dan metoprolol. Semua -bloker harus dihindari oleh penderita asma, karena dapat memprovokasi bronchospasm. Zat-zat ini memperlambat pukulan jantung

(Bradicardia, efek kronotrop negatif), sehingga mengurangi kebutuhan oksigen mycard. Juga digunakan pada terapi interval (Tjay, 2010) Disamping ini juga -bloker juga dapat meningkatkan peredaran (Perfusion) darah dari bagian yang kekurangan darah karena penurunan frekuensi pukulan jantung, memperpanjang waktu distole dan demikian waktu yang dibutuhkan bagi penyaluran darah koroner. Contoh obat pada golongan -bloker ini salah satunya adalah : Sotalol: sotacor Derivat sulfonanilida ini adalah -bloker satu-satunya yang berkhasiat antiaritmia kelas III. Berhubung efek sampingnya lebih ringan daripada amiodaron, maka zat ini lebih disukai pada terapi aritmia serambi dan bilik. Selain itu, sotalol juga digunakan untuk hipertensi dan angina pectoris. Dosis: angina 1 dd 160mg (Tjay, 2010) 3. Antagonis -Ca Banyak digunakan dalam terapi angina dan memiliki lebih sedikit efek sampng serius dibandingkan dengan - bloker. Zat- zat ini memblokir calsiumchannels di otot polos arterial dan menimbulkan relaksasi dan vasodilatasi perifer. Tekanan darah arteri dan frekuensi jantung menurun (efek kronotrop negatif), begitu pula penggunaan oksigen pada saat mengeluarkan tenaga. Selain itu, pemasukkan

darah diperbesar karena vasodilatasi myocard, hingga efek inotrop negatifnya hanya ringan atau hilang sama sekali. Berikut contoh obat golongan ini: a. Nifedipin: Adalat/Retard/Oros, Nif-ten Dihidropiridin pertama ini terutama berkhasiat vasodilatasi kuat dengan hanya kerja ringan terhadap jantung. Efek inotrop negatifnya ditiadakan oleh vasodilatasi, bahkan frekuensi jantung serta cardiac output justru dinaikkan sedikit akibat afterload, yaitu volume darah yang dipompa keluar jantung ke aorta. Dosis: angina dan hipertensi pagi hari 30mg tablet retard, berangsurangsur dinaikkan sampai 1 dd 120mg (Tjay, 2010). b. Verapamil: Isoptin Rumus kimia senyawa amin ini mirip papaverin. Khasiat

vasodilatasinya tidak sekuat nifedipin dan derivatnya, tetapi efek inotrop negatifnya lebih besar. Senyawa ini jangan digunakan bersamaan dengan kinidin dan -bloker karena menyebabkan kumulasi efek inotrop negatif. Bekerja kronotrop negatif ringan da memperlambat penyaluran impuls AV. Digunakan pada angina variant/stabil, hipertensi dan aritmia tertentu. Dosis: angina variant/stabil, aritmia dan hipertensi; oral semula 3-4 dd 80mg, pemeliharaan 4 dd 80-120mg; tablet SR (Slow Release): 1-2 dd 240 mg (Tjay, 2010).

c. Diltiazem: Tildiem, Herbesser Derivat benzothiazin ini berkhasiat vasodilatasi lebih kuat daripada verapamil, tetapi efek inotrop negatifnya lebih ringan. Penggunaannya sama dengan verapamil pada angina variant/stabil, hipertensi dan aritmia tertentu. Daya kerjanya terletak antara nipedipin dan verapamil serta sering kali digunakan dalam terapi angina, karena tidak menimbulkan tachycardia. Dosis: angina dan hipertensi semula oral 3-4 dd 60mg, maks. 3 dd 120mg (Tjay, 2010).

2.4 Mekanisme Kerja Obat Anti Angina Memperbaiki perfusi darah ke miokardium Mengurangi kebutuhan metabolik jantung Kombinasi dari keduanya 3 point diatas merupakan prinsip kerja secara umum dari obat antiangina. Adapun mekanisme kerja secara khusus berdasarkan golongannya adalah sebagai berikut: 1. Vasodilator Koroner Memperlebar arteri jantung, memperlancar pemasukkan darah, serta oksigen dan dengan demikian meringankan beban jantung. 2. -Blokers blokade -1 menurunkan frekuensi jantung (efek kronotrop negatif), daya kontraksi (efek inotrop negatif) dan volume menit jantung, kecepatan antrioventrikular diperlambat dan tekanan darah diturunkan. blokade reseptor -2 dapat aurileavae (telinga kiri) menimbulkan bronchokokntriksi dan meniadakan efek vasodilatasi dari katecholamin terhadap pembuluh perifer.

3. Antagonis Ca Obat golongan antagonis Ca ini memblokir calsium-channels di otot polos arterial dan menimbulkan relaksasi dan vasodilatasi perifer. Tekanan darah arteri dan frekuensi darah menurun (efek kronotrop negatif).

2.5 Indikasi, Kontraindikasi serta Efek Samping Obat Anti Angina No. Nama Obat 1 Adalat Terapi dan propilaksi insufisiensi koroner akut dan kronik (terutama angina pectoris, kondisi pasca infark), perlengkapan terapi hipertensi Indikasi Kontraindik Efek Smping -asi Wanita hamil dan menyusui Ringan dan hanya sementara pada awal pengobatan dengan gejala berupa sakit kepala, muka merah, dan sensasi rasa panas, mual, pusing, lesu, reaksi kulit serta reaksi hipotensi 2 Adalat Insufisiensi koron Retard er kronik, angina pectoris, hipertensi Selama masa hamil dan menyusui Sakit kepala, edma, vasodilatasi, konstipasi dan perasaan kurang enak Obat cardiovascula r antiangina Obat cardiovaskul er antiangina Keterangan

badan 3 Cardis Pencegahan mo angina pectoris, hipertensi pulmonal, gagal jantung kongestif yang kurang berespon terhadap glikosida dan deuritik Hipotensi berat, obstruksi Sakit kepala, mual muntah, lemah Obat cardiovascula r antiangina

kardiomipat tachycardia, i hipertropik, perikarditis konsttriktif , stenosis aorta dan mitral, TIK yang tinggi, infark miokardiu m dengan preload rendah hipotensia, methemoglobi n, reaksi alergi kulit

Carva s

Pengobatan dan pencegahan gangguan jantung koroner akut dan kronik terutama angina pectoris , keadaan infark jantung, dan perlengkapan obat hipertensi

Wanita hamil dan pasien hipersensiti f

Kepala terasa berat, tubuh dan muka terasa panas, mual,edma pada kaki, hipotensi dan palpitasi

Obat cardiovascula r antiangina

Coron

Pengobatan dan

Hipersensiti Umumnya

Obat

ipin

profilaksi isufisiensi koroner kronik, terutama angina pectoris setelah infark jantung, pelengkap obat hipertensi

ketergantunga n dosis dan disebabkan dilatasi vaskuler

cardiovascula r Antiangina

2.6 Toksisitas dan Cara Penanganannya Tindakan umum untuk terapi angina pectoris adalah mencegah pengaruh yang menyebabkan meningkatnya kebutuhan oksigen jantung, dengan menerapkan cara hidup sehat sebagai berikut: 1. Berhenti merokok 2. Membatasi minum kopi dan alkohol 3. Meniadakan over-weight (Diet lemak dan kolesterol) 4. Menghindari beban berat (mental, fisik terutama setelah makan) 5. Berjalan cepat atau lari kecil 0,5-1 jam sehari (3-5kali/minggu) untuk memperbaiki sirkulasi jantung 6. Mengobati hipertensi

BAB III PENUTUP

3.1 Kesimpulan

3.2 Saran

DAFTAR PUSTAKA

Staff Pengajar Departemen Farmakologi Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya. Kumpulan Kuliah Farmakologi. 2008. Palembang: penerbit buku kedokteran EGC Tjay,Tan Hoan dan K. Rahardja, 2007, Obat-obat Penting, Jakarta: PT Gramedia, Jakarta.