Anda di halaman 1dari 28

ISSN: 09854-1678

Taki - Takining Sewaka Guna Widya

Kampus Disentralisasi, Harus Siap Migrasi

Laporan Khusus: Fakultas Peternakan Terjebak di Tiga Tempat

Jejak: Eksotisme Pura Gunung Kawi

Essay Foto: Siapkah Bukit Menyatukan Seluruh Mahasiswa?

Resensi film: Cinta dan Tahta di Akhir Era

Budaya: Bala Cinta Si Landung

Opini: Grasi

Buletin AKADEMIKA Edisi 2 - April 2014

DAFTAR ISI
Salam Persma!!! Buletin Edisi II - April 2014 akhirnya terbit. Buletin kali ini membahas mengenai sentralisasi pembelajaran mahasiswa Strata 1 di kampus Bukit Jimbaran. Isu yang masih simpang siur itu, membuat kami tertarik untuk mengulas lebih dalam tentang kebenarannya. Awalnya, pertanyaan yang ada di pikiran kami adalah seperti apa upaya sentralisasi yang merupakan cita-cita rektor Unud? Mampukah Unud menyentralisasikan kegiatan pembelajaran mahasiswa di Kampus Bukit Jimbaran untuk mahasiswa S1? Bagaimana pro dan kontra yang ada di dalamnya? Semua jawaban dari pertanyaan di atas akan terjawab saat membaca buletin ini. Di dalamnya juga mengulas Fakultas Peternakan yang terjebak di tiga tempat. Disisipi pula berita ringan mengenai eksotisme Pura Gung Kawi dan sejarah Barong Landung. Itulah sekilas isi buletin ini. Lebih lengkapnya pembaca bisa simak dengan seksama. Kami sangat berharap buletin ini bisa menjadi bacaan alternatif untuk kawan-kawan mahasiswa. Untuk itu kami mengharapkan kritik dan saran untuk kemajuan kita bersama. Pemimpin Redaksi

Editorial

3 / 4

Laporan Utama Profil / 12 / 16

Essay Foto Resensi /

14

Laporan Khusus Jejak Budaya Opini / / / 26 22 24

20

Diterbitkan oleh: Pers Mahasiswa Akademika Universitas Udayana. Izin terbit: SK Rektor Unud 499/SK/PT/07/OM/LA/83. Alamat Sekretariat: Gedung Student Center Lantai 2, Jalan Dr. R. Goris, Denpasar-Bali. Email: pers_akademika@yahoo.com

Pelindung: Rektor Universitas Udayana. Penasihat: Pembantu Rektor III Universitas Udayana. Ketua Unit/Pemimpin Umum: Jaya Kusuma. Pemimpin Redaksi: Alit Purwaningsih. Redaktur Pelaksana: Nila Pertina Dewi, Dharma Yanti, Resita Yuana, Indah Kusuma. Editor: Ary Pratiwi, Vera Aryantini, Diah Dharmapatni. Tim Redaksi: Sui, Sam, Ari, Ulul, Maya, Rizky, Dea, Sasmita, Dharma, Resita, Sueca, Eka Apsari, Jacklyn, Asykur. Layouter: Gamaliel Sangga Buana. Ilustrasi: Sangga, Adit.
BULETIN AKADEMIKA edisi 2 - APRIL 2014

EDITORIAL

Saatnya Menata Kampus Bukit


Ada hal menarik dari rektor Univerpembelajaran di Kampus Bukit Jimbaran? Sebelum menebak jawaban dari pertanyaan di atas, ada banyak hal yang patut diperhitungkan. Hal yang paling mendesak saat ini yaitu permasalahan lahan dan dana. Universitas Udayana di Kampus Bukit Jimbaran berdiri di atas lahan seluas 175 hektar, namun 25 hektarnya adalah milik masyarakat setempat. Sebagian besar masyarakat setempat menutup telinga bahkan ngotot tak mau pindah. Padahal, keberadaan lahan ini sangat mempengaruhi tata letak pembangunan gedung sebagai penunjang sentralisasi di Kampus Bukit Jimbaran. Selain itu, pengucuran dana untuk melengkapi sarana dan prasarana di Kampus Bukit Jimbaran tentu tak semudah membalikkan telapak tangan. Sebenarnya upaya dalam sentralisasi ini akan berdampak baik. Dengan tata letak yang terpusat, urusan birokrasi dan interaksi antar mahasiswa menjadi lancar. Oleh karena itu, hendaknya urusan aset lahan dan sarana prasarana harus segera terselesaikan, walaupun akan memakan waktu lama. Jika cita-cita rektor tercapai, maka tak ada lagi perbedaan fasilitas Kampus Bukit Jimbaran dan Denpasar bagi mahasiswa program S1. (red) sitas Udayana (Unud) yang baru menjabat tahun 2013 lalu. Prof. Suastika bercita-cita menyentralisasi kegiatan pembelajaran Strata 1 (S1) di Kampus Bukit Jimbaran. Saat blusukan pertama pasca terpilih pun, Prof. Suastika semakin mantap mendengungkan rencana sentralisasi itu. Alasan Prof. Suastika untuk melakukan sentralisasi sangat jelas. Kondisi gedung kampus terpecah-pecah dan kurang nyaman untuk mahasiswa. Upaya sentralisasi ini akan memfokuskan kegiatan pembelajaran mahasiswa program S1 di Kampus Bukit Jimbaran. Kampus di Denpasar pun akan difungsikan untuk kegiatan pembelajaran bagi program pasca sarjana (S2), vokasi (D3) dan ekstensi. Kampus Denpasar memiliki tata ruang yang terkesan sesak dan amburadul. Keadaan Kampus Bukit Jimbaran juga memiliki tata ruang yang amburadul, namun lahannya masih cukup luas dan ada gedung-gedung yang tak terpakai. Sehingga, ada baiknya pembelajaran di Kampus Sudirman difokuskan di Kampus Bukit Jimbaran saja. Kemudian pertanyaannya, mampukah Prof. Suastika menggapai cita-cita untuk menyentralisasikan kegiatan

www.persakademika.com/@persakademika

LAPUT 1

Kampus Disentralisasi, Mahasiswa Unud Harus Siap Migrasi


Gersang, megah namun krodit dan macet. Kontras. Pemandangan klasik di siang terik manakala menilik tiga titik kampus Universitas Udayana yakni Kampus Bukit Jimbaran,

Kampus Sudirman Denpasar dan Kampus Pulau Nias.

atu-persatu daun telah berguguran meninggalkan tangkainya. Berserakan dan menyatu dengan tanah.

Tahun ini, mahasiswa salah satu

program studi Fakultas Kedokteran akan bermigrasi ke Kampus Bukit Jimbaran. Ya, sentralisasi kegiatan pembelajaran S1 di kampus Bukit Jimbaran memang bukan hanya sekadar wacana lagi. Bahkan, Rektor Universitas Udayana pun sudah blusukan ke masing-masing fakultas demi mensosialisasikan kebijakan ini. Rencana pemerkosaan gedung yang sudah diungkapkan oleh Rektor dalam debat Pil-rek setahun silam itu, secara bertahap akan mulai direalisasikan akhir tahun 2014 nanti. Namun kemudian timbul sebuah tanda tanya besar, mampukah Prof. Suastika mewujudkan sentralisasi ini? Berani. Itulah kata yang tepat untuk

Pemandangan inilah yang terlihat sepanjang kanan jalan menuju rektorat universitas tertua di Bali ini. Luas namun gersang, layaknya bukit kapur yang tak terurus memang. Sebaliknya, sekelompok gedung berdiri megah berdesakan di jantung kota Denpasar, Jalan P.B Sudirman. Menjelang siang, area ini berubah bagaikan show room. Motor dan mobil segala merk berdesakan memenuhi setiap ruang yang tadinya lapang. Belum lagi gedung yang bertetangga dengan Rumah Sakit Sanglah. Sirine ambulans, keluarga tersesat dan macet adalah menu biasa bagi mahasiswa.

BULETIN AKADEMIKA edisi 2 - APRIL 2014

LAPUT 1
agi atas beberapa tempat, diantaranya Kampus Bukit Jimbaran (Fakultas Teknik, FMIPA, Fakultas Pertanian, Fakultas Peternakan, Fakultas Ilmu Kelautan dan Perikanan, Fakultas Ekonomi), Kampus Sudirman Denpasar (Fakultas Kedokteran, Fakultas Kedokteran Hewan, Fakultas
Sangga/Akademika

Pariwisata, Fakultas Ekonomi) dan Kampus Pulau Nias Denpasar (Fakultas Sastra dan Budaya serta Fakultas Hukum). Dengan tata kampus yang dianggap kurang efisien, Suastika merencanakan sebuah tata letak yang baru. Rencana sentralisasi tersebut memfokuskan mahasiswa program S1 dari semua fakultas melakukan kegiatan pembelajaran di satu area seluas 150 hektar yakni Kampus Bukit Jimbaran. Sementara itu, gedung-gedung kampus di Denpasar akan difungsikan untuk proses pembelajaran bagi program pasca sarjana (S2), vokasi (D3) dan ekstensi. Sentralisasi tahun ini akan dimulai dari fakultas yang prodinya belum memiliki gedung memadai seperti prodi Kedokteran Gigi atau FISIP, ujar Prof Suastika. Dekan Fakultas Kedokteran, Prof. Dr. dr. Putu Astawa, M.Kes, Sp.OT (K) mengungkapkan sangat setuju dengan rencana sentralisasi tersebut. Kalau ditanya setuju tidak setuju, maka saya sebagai Dekan yang harus melakukan pendidikan

menggambarkan sikap orang nomor satu di Universitas Udayana ini. Ditemui di sela-sela kesibukannya pada Jumat (21/3) lalu, Prof. Dr. dr. Ketut Suastika, Sp. PDKEMD membenarkan adanya rencana pemusatan kegiatan belajar di kampus Bukit Jimbaran untuk program studi Strata 1 tahun ini. Dilihat dari segi luas, kampus di Denpasar dirasa sudah tidak bisa dikembangkan lagi. Maka dari itu sebaiknya kita kembangkan program studi S1 di Bukit Jimbaran mengingat lahan yang masih luas, ujar Suastika sambil tersenyum ramah. Lebih lanjut mantan Dekan Fakultas Kedokteran ini menyatakan bahwa keberadaan Rumah Sakit Unud juga menjadi salah satu alasan untuk memindahkan Fakultas Kedokteran ke Bukit Jimbaran, di samping pertambahan jumlah mahasiswa tahun ajaran baru mendatang. Kampus Universitas Udayana terb-

www.persakademika.com/@persakademika

LAPUT 1
akademik dan profesi yang memerlukan laboratorium serta rumah sakit sebagai tempat belajar, maka saya setuju, ujarnya di sela-sela kesibukannya pada Senin (14/4) lalu. Astawa menambahkan, program sentralisasi ini penting untuk mengatasi berbagai tantangan di masa depan misalnya lahan sempit sehingga pengembangan parkir, bangunan ruang perkuliahan kurang dan lain-lain. Namun mengenai kapan harus dilaksanakan atau harus sudah tersentralisasi di bukit masih belum merupakan keputusan pasti. Ditemui di tempat berbeda, Pembantu Dekan I Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA), Drs. I Made Satriya Wibawa, M.Si. pun mengungkapkan hal senada. Saya setuju, karena akan lebih bagus apabila semua S1 berkumpul, ujarnya saat ditemui di Fakultas MIPA Selasa (15/4) lalu. Sayangnya banyak hal yang di-off the record-kan oleh Satriya Wibawa mengingat masih simpang siurnya informasi. Namun demikian, hal tak senada disuarakan oleh mahasiswa. Ni Nyoman Clara Listyadewi misalnya. Mahasiswi semester 4 Program Studi Hubungan Internasional ini menyatakan lebih baik gedung di FISIP yang ada sekarang dioptimalkan lagi, misalnya seperti renovasi gedung agar lebih layak. Lebih lanjut Clara mengungkapkan jika secara pribadi, dirinya merasa tidak ada salahnya jika dipindahkan ke bukit asalkan gedung yang disiapkan untuk FISIP memang benar-benar capable. Jangan sampai kalau kami sudah pindah malah dikasi gedung yang mangkrak. Apalagi jarak untuk menempuh bukit jauh. Ketika mahasiswa belajar ke sana dan melihat gedungnya tidak memadai malah akan malas untuk kuliah, ujar mahasiswi yang kini menjabat sebagai Menteri Pendidikan BEM PM Unud tersebut. Hal serupa diungkapkan Made Laras Fatmala Eni, mahasiswi semester 2 Program Studi Kedokteran Gigi. Dirinya menginginkan perkuliahan tetap diadakan di Kampus Sudirman. Gosipnya sih semester selanjutnya bakal ditempatkan di bukit, setuju nggaknya ya jelas, nggak setuju, ujar mahasiswi yang mengaku kuliahnya nomaden, tapi akhir-akhir ini selalu di skill laboratorium. Lebih lanjut Laras menyangsikan apakah Bapak/Ibu dosen bersedia mengajar di kampus Bukit dan Sudirman. Kalau dosen sudah dipastikan mau mengajar ya ga papa. Tapi kalau bilang mau ujung-ujungnya malah kuliah bolong-bolong gara-gara dosennya ada mengajar di Sudirman sama aja bohong.
BULETIN AKADEMIKA edisi 2 - APRIL 2014

LAPUT 1
Kuliah terganggu, beber Laras pada hari Minggu (20/4) via Short Message Service (SMS). Ditanya mengenai sosialisasi tentang sentralisasi di Fakultas Kedokteran, Dekan Fakultas Kedokteran, Putu Astawa mengatakan memang wacana tersebut belum disosialisasikan secara terstruktur namun telah disampaikan secara implisit dalam sambutan rektor. Wacana mengenai kesulitan-kesulitan pengembangan kampus Sudirman itu disampaikan secara tidak langsung melalui sambutan-sambutan Rektor pada pertemuan maupun event di Kampus Sudirman, ujar Dekan berwajah ramah itu saat ditemui di kantornya pada Senin lalu (14/4) seusai makan siang. Lebih lanjut Dekan yang menggantikan Prof Suastika sejak tahun 2013 tersebut menyatakan bahwa dirinya menanggapi positif rencana Rektor, terlebih alasan Rektor dalam pengembangan Kampus Sudirman ke depannya. Khusus untuk FK karena pengembangan Rumah Sakit Perguruan Tinggi ada di Kampus Bukit, bukan tidak mungkin FK akan segera kesana kalau semua sarana prasarana sudah dapat direalisasikan. ungkapnya. Permasalahan Klasik Vs Rupiah Mewujudkan sentralisasi memang tidak semudah membalikkan telapak tangan. Banyak hal yang perlu dibenahi berkaitan dengan sarana prasarana, lalu pembenahan tersebut memerlukan waktu dan biaya yang ekstra. Ini memerlukan waktu yang lama mulai dari penataan aset, membuat masterplan baru kemudian membangun gedung. Tentu prodi yang pindah dari Denpasar menuju Jimbaran membutuhkan gedung untuk sarana kegiatan belajar-mengajar, ujar rektor yang hobi blusukan ke fakultas-fakultas ini. Universitas Udayana di Bukit Jimbaran berdiri di atas lahan seluas 175 hektar, dimana 25 hektarnya adalah milik warga setempat. Sayangnya, 25 hektar tanah warga tersebut berada di antara lahan Universitas Udayana sehingga menyulitkan pembangunan dan menghambat sentralisasi kampus. Dari dulu sebelum saya menjadi rektor tentu upaya untuk menukar aset milik beberapa masyarakat yang berada di tengah dengan yang berada pinggiran tanah Unud sudah dilakukan, namun masyarakat masih ngotot tanahnya tidak bisa dipindah, ujar rektor yang baru setahun menjabat itu. Selanjutnya Suastika menyatakan tidak akan menggunakan jalur hukum terkait masalah lahan, melainkan dengan cara musyawarah dengan masyarakat. Namun masyarakat sering sekali

www.persakademika.com/@persakademika

LAPUT 1
tidak menghiraukan apabila ada sosialisasi masalah lahan ini, ujar Suastika seraya menggelengkan kepala. Ditanya mengenai keefektifan sentralisasi terkait dengan pembenahan tata letak di Universitas Udayana, Dekan Fakultas Kedokteran pun angkat bicara. Kampus Sudirman memang sudah sangat sulit dikembangkan baik untuk parkir maupun bangunan lain. Sebagai pengelola pendidikan, sepanjang proses belajar mengajar berjalan dengan baik apalagi melebihi dari Kampus Sudirman, ini sudah efektif, ungkapnya. Meskipun selalu berpikir positif terhadap rencana tersebut, Astawa menambahkan agar program studi Kedokteran Gigi, Rumah Sakit Gigi dan mulut tidak dialokasikan di tempat yang bukan perencanaan semula agar tidak bongkar pasang dan pindah sana sini setelah di Kampus Bukit mengingat hal ini memerlukan biaya tidak sedikit. Berbicara masalah dana, Rektor pun mengaku sentralisasi ini tentunya membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Kalau menunggu dana dari Dikti tentu keluarnya tidak karuan, sehingga kami mengusahakan upaya lain untuk mendapatkan dana baik dari pembayaran UKT dan lainnya, Ditemui di tempat berbeda, Dekan Fakultas Kedokteran menyatakan bahwa tidak ada itu pungutan ke Fakultas Kedokteran atau ke mahasiswa. Yang ada adalah FK bersama-sama Unud melengkapi sarana prasarana pendidikan Kedokteran termasuk operasional Rumah Sakit Perguruan Tinggi Negeri, ungkap Astawa. Lebih lanjut kesulitan terbesarnya mempunyai niat adalah mengubah mindset seluruh civitas akademika untuk dan mau ke tempat yang lebih baik yakni Kampus Bukit. Tidak menutup kemungkinan ada Clara dan Laras Laina yang kompak belum ingin pindah ke bukit. Namun Dekan Fakultas Kedokteran itu optimis mahasiswa akan siap pindah kuliah ke Bukit. Saya kira kalau fasilitas yang telah disediakan itu memadai dan sentralisasi merupakan kebijakan ke arah yang lebih baik pasti mereka manut-manut, Astawa berharap hendaknya sarana prasarana dalam proses belajar mengajar tidak lebih jelek dari Kampus Sudirman. Rektor Universitas Udayana pun berharap semoga program ini bisa direalisasikan dalam beberapa tahun ke depan secara bertahap setelah sarana dan infrastruktur bisa dilengkapi. Sentralisasi tentu akan mempermudah penyampaian informasi sehingga komunikasi bisa berjalan lebih lancar, pungkas Suastika sambil tersenyum mantap. (Dea, Sam)
BULETIN AKADEMIKA edisi 2 - APRIL 2014

LAPUT 2

Pro-Kontra Sentralisasi:

Iya atau Tidak?


Saya nyaman berada di Kampus Sudirman. Lokasinya juga dekat dengan rumah.Begitulah alasan salah seorang mahasiswa Unud yang menolak rencana sentralisasi pembelajaran program S1 di kampus Bukit Jimbaran Unud.

ektor Universitas Udayana, Prof. Dr. Ir Ketut Swastika, Sp. PdKEMD berencana menyentral-

Menurut Swastika, sebenarnya ren-

cana sentralisasi kegiatan pembelajaran di Bukit Jimbaran telah diwacanakan sejak masa kepemimpinan rektor sebelumnya. Namun karena suatu proses yang panjang, wacana ini belum dapat direalisasikan. Sehingga dalam kepemimpinannya Swastika berniat fokus pada rencana ini, mengingat Unud akan mengembangkan beberapa prodi baru. Namun, rencana ini sepertinya tidak mendapat sambutan positif oleh seluruh civitas akademika Unud, terutama mahasiswanya. Selalu ada yang berada di pihak oposisi atau memilih berada di grey area, alias ragu-ragu. Hal ini terbukti dengan hasil polling yang dilakukan Persma Akademika kepada 100 responden di 13 fakultas, diketahui 54 persen mahasiswa Unud

isasikan pembelajaran program S-1 Unud di kampus Bukit Jimbaran. Menurut Swastika Kampus Unud di Denpasar yang terdiri dari dua wilayah, yakni di Sudirman dan Nias dilihat dari segi luas sudah tidak efektif lagi. Sementara Kampus Unud di Bukit Jimbaran sebaliknya, dari segi lahan masih dapat dikembangkan. Kalau kita melihat dari segi luas kampus, rasanya di Denpasar sudah tidak bisa dikembangkan lagi dan rencana itu saya kira sangat logis,terang Rektor Unud yang juga merupakan mantan Dekan FK Unud ketika ditemui di Gedung Rektorat Bukit Jimbaran.

www.persakademika.com/@persakademika

LAPUT 2
menyetujui sentralisasi pembelajaran di Kampus Bukit Jimbaran, 37 persennya tak merestui sentralisasi ini, dan sisanya sebanyak 9 persen masih ragu-ragu. Dari hasil kuesioner, sebagian besar penolakan berasal dari mahasiswa Unud yang berkuliah di Denpasar. Sementara anak bukit (mahasiswa yang kuliah Salah satunya dari mahasiswa Fakul-

tas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Udayana, Yunda Ariesta(19). Terlepas dari statusnya sebagai mahasiswa yang berkuliah di kampus Denpasar, Yunda, panggilan akrab gadis ini, setuju dengan adanya sentralisasi. Aku setuju, karena hal itu akan memudahkan jalannya bi-

Adit/Akademika

di Kampus Bukit Jimbaran) setuju-setuju saja dengan rencana sentralisasi ini. Masing-masingnya pun punya pandangan, serta alasan tersendiri, terhadap ke-proan-nya dan ke-kontra-an-nya.

rokrasi di Unud, ungkapnya. Akan tetapi, apabila gadis berambut panjang tersebut ikut terkena imbas kebijakan tersebut, Yunda pribadi mengaku tidak setuju terhadap kebijakan sentralisasi.

10

BULETIN AKADEMIKA edisi 2 - APRIL 2014

LAPUT 2
Ia beralasan, kalau dirinya terkena imbas, dalam artian beberapa mendatang ia harus pindah ke bukit, tentu ia harus beradaptasi lagi. Kita kan perlu menyesuaikan dengan lingkungan sekitar lagi, menurutku itu akan menggangu konsentrasiku sebagai mahasiswa, akunya. Yunda juga sedikit berkomentar mengenai kebanyakan anak kamsud yang tidak pro terhadap sentralisasi ini. Menurutnya, di mindset anak kamsud, kampus bukit beserta lingkungannya adalah tempat yang kurang cozy. Di pikiran orang-orang, selain letaknya yang jauh, kampus Bukit adalah negeri yang agak terisolir dari jantung kota. Belum lagi, banyak isu-isu angker yang bertebaran di daerah bukit jimbaran, kata Yunda. Ditanya mengenai pendapatnya tentang kemungkinan program ini berhasil, Yunda berkata bahwa mungkin rencana tersebut bisa berhasil, namun dalam jangka waktu yang cukup lama. Aku yakin sih, tapi mungkin akan berlangsung alot, kira-kira 10 tahunan lah. Soalnya, kan lumayan banyak fakultas yang akan dipindahkan, tegas mahasiswa yang duduk di semester 2 ini. Program sentralisasi ini sangat disambut meriah oleh mahasiswa fakultas peternakan. Hal tersebut diakui oleh Kadek
www.persakademika.com/@persakademika

Dwi Febri Dyantari, kami mahasiswa peternakan memang dari dulu ingin kuliah satu sentral. Sekarang kita kan pisah-pisah ada yang di bukit ada yang di Denpasar, ungkap Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Peternakan ini. Febri yang sekarang duduk di semester enam ini juga memaparkan bahwa sebenarnya mahasiswa peternakan sangat setuju sekali dengan kebijakan rektor untuk membangun kembali kampus bukit. Selain itu, kita sebagai mahasiswa memang wajib untuk membuat Kampus Bukit menjadi aktif, terangnya. Sementara itu, pendapat yang agak berbeda datang dari seorang mahasiswi Fakultas Teknik, Citra Arum Sari(18). Citra, sapaan akrabnya, mengakui bahwa ia sangat setuju atas sentralisasi ini. Menurutnya, apabila semua mahasiswa S1 ngampus di Bukit Jimbaran, hal itu akan terasa adil. Sebab, ia merasa fasilitas di Kampus Sudirman lebih terawat ketimbang di Kampus Bukit Jimbaran. Ya menurutku, biar adil lah, dalam artian semua mahasiswa merasakan kehidupan di Bukit, tutur gadis yang duduk di semester 2 ini. (Ari, Sui)

11

PROFIL

Wanita pun Mampu Mengubah Dunia

esan pertama yang terpancar dari Made Nian Anggara

adalah cantik. Pantas ia berhasil menyandang predikat Duta Endek Denpasar 2013. Rupanya tak hanya itu, mahasiswi kelahiran 11 Mei 1993 juga memiliki segudang prestasi dari berbagai bidang. Nian, begitulah sapaan akrabnya. Sebagai duta, Nian tak hanya wajib mempromosikan kain endek kepada masyarakat. Baginya, Duta Endek harus mampu memotivasi dan menginspirasi orang lain untuk melakukan hal positif. Bukan berarti harus menjaga imege atau on tiap saat. Putri dari pasangan Drs. I Nyoman Aryana dan Putu Sugiasih, S.Pd. ini selalu berusaha menjadi diri sendiri dan lebih baik lagi. Duta yang mencontohkan sesuatu atau menjadi role model bagi orang lain, ujar perempuan yang bercita-cita menjadi direktur rumah sakit.

12

Foto: dok. pribadi


BULETIN AKADEMIKA edisi 2 - APRIL 2014

PROFIL
Alumni SMA Negeri 1 Denpasar nya adalah mencintai kewajiban, time management dengan membiasakan membuat jadwal kegiatan dan menentukan skala prioritas. Yakin, deh, kalau kamu udah cinta, kegiatan yang banyak itu pasti terselesaikan dengan baik, ucap Nian. Kesetaraan gender dan emansipasi wanita bukan dilihat dari jabatan, namun bagaimana wanita mampu menempatkan dirinya dan bersikap teladan. Wanita yang berani maju dan siap mengambil resiko untuk menjadi lebih baik, dialah Kartini masa kini! tegas mahasiswi Kedokteran Umum Universitas Warmadewa ini. Nian menganalogikan era globalisasi seperti pisau bermata dua yang berdampak baik dan buruk. Oleh karena itu, pemuda harus meningkatkan wawasan agar mampu bersaing di dunia modern yang global, apalagi dengan pemberlakuan ASEAN Free Trade Area tahun 2015. Sekarang wanita tidak hanya menjadi hiasan rumah seperti zaman R.A Kartini remaja, melainkan wanita yang mampu berprestasi dan menginspirasi. Kalau bukan kita sebagai seorang wanita yang sadar terhadap hak dan kewajiban sendiri, siapa lagi? A woman can change the world, tutupnya. (Maya)

ini bercerita tentang suka-dukanya menjadi seorang duta. Dengan menjadi duta, ia mempunyai kesempatan menambah wawasan dan relasi, menginspirasi dan memotivasi orang-orang di sekitarnya, serta membantu upaya perubahan positif. Di samping itu, ia juga harus siap menjadi sorotan publik, harus siap diwawancara kapan dan dimana saja, serta tanggung jawab kepada diri sendiri dan pemerintah yang mesti dipenuhi. Untungnya, Nian selalu mendapat dukungan dari keluarga dan sahabat. Dukungan inilah yang membuatnya bersemangat mengikuti berbagai lomba. Hal ini semata-mata demi masa depan yang baik, bukan untuk terkenal. Putri bungsu dari 2 bersaudara ini mempunyai segudang prestasi akademik dan non akademik. Prestasi ini diraihnya sejak SMA sampai kuliah, diantaranya Juara 1 Lomba Design Kreasi Wastra (Kategori Putri), Juara Umum 2 Olimpiade Ilmu Sosial FISIP UI 2010 (Juara 1 dalam kategori Analisis Masalah dan Circle of Beat), Mahasiswa Berprestasi FKIK Unwar 2014 dan lain lain. Nian beranggapan bahwa menyelaraskan kegiatan akademis/non akademis dengan tugas-tugasnya sebagai seorang duta merupakan hal yang krusial. Kunci-

www.persakademika.com/@persakademika

13

ESAI FOTO
Siapkah BUKIT Menyatukan Seluruh Mahasiswa?

Tak terasa Universitas Udayana (Unud) memasuki usia ke-53 tahun. Kondisi perkuliahan terbagi menjadi dua, daerah Bukit Jimbaran dan Denpasar. Isu penyatuan tempat perkuliahan di Bukit pun diusung agar birokrasi dapat terpusat di

Kampus Bukit Jimbaran. Namun, saat ini sebagian tanah atas nama Unud digunakan sebagai tempat tinggal, sekolah, bahkan tempat untuk berjualan. Melihat kondisi Bukit yang masih berantakan tersebut, apakah layak untuk disatukan?

14

BULETIN AKADEMIKA edisi 2 - APRIL 2014

ESAI FOTO

3 Dari pojok kiri atas, searah jarum jam: 1. Rumah Sakit Universitas Udayana tampak tak terawat sehingga tulisannya pun tak terbaca. 2. Gedung pencucian mobil yang berdiri di atas tanah Unud. 3. Hotel baru yang masih dalam tahap pembangunan di atas tanah Unud. 4. Stan tanaman yang berada tepat pada papan Tanah Milik Universitas Udayana.

Oleh: Rizky Anugerah

www.persakademika.com/@persakademika

15

RESENSI FILM

Curse of The Golden Flower, Cinta dan Tahta di Akhir Era


dayang bangun dan

atusan

langsung mengenakan pakaian serta saling membantu berias an-

tar dayang di Istana Terlarang. Adegan selanjutnya muncul ratusan langkah kaki kuda menuju suatu tempat di sebuah pegunungan entah dimana. Kembali ke istana, seorang wanita sedang berias dengan sedikit terengah seperti sedang sakit. Wanita itu adalah Sang Ratu, yang kemudian kedatangan Sang Pangeran Bungsu yakni Pangeran Yu. Tak lama kemudian rombongan Sang Pangeran dan Ratu pergi ke kediaman pangeran tertua, namun sempat berhenti saat Sang Ratu hampir terjatuh karena merasakan pusing. Hendak ditolong, sang Ratu menghentikah dayangnya. Sesampai di kamar pengeran tertua, Sang Ratu masuk dan sedikit merayu pangeran, yakni Pangeran Wan. Pangeran Wan berusaha menolak, karena takut ketahuan. Sang Pangeran berkelit, Sang Ratu adalah ibunya dan hal ini tak pantas. Sang Ratu tegas membela diri bahwa ia adalah bukan ibu kandung sang pangeran, sehingga sang pangeran tak usah takut seperti itu lagi, namun yang terjadi mereka berdua semakin berselisih paham dan diakhiri dengan
Sumber: http://a2.mzstatic.com/us/r30/Video/f0/f3/44/mzi.mtuaogcr.jpg

Judul Film : Curse of The Goldern Flower Sutradara : Zhang Yimou Aktor Utama : Chow Yun Pat Jay Chou Liu Ye Aktris Utama : Gong Li Li Man

keluarnya sang ratu dari kamar. Perselisihan selesai dan rombongan hendak menyambut Kaisar Ping namun ada kabar bahwa penyambutan dibatalkan. Sang Kaisar rupanya sedang bertemu dengan pangeran kedua, yakni Pangeran Jai. Sang Kaisar berkata kepada Jai, Kau hanya boleh mendapatkan apa yang aku berikan. Selanjutnya kaisar mengajak putra keduanya itu kembali ke istana. Sesampainya di istana, tabib kaisar memberitahukan bahwa perintah kaisar mengenai ramuan Sang Ratu sudah dijalankan. KaiBULETIN AKADEMIKA edisi 2 - APRIL 2014

16

RESENSI FILM
sar kemudian bertemu dengan ratu dan semua putranya serta mengajak mereka untuk memperlihatkan keharmonisan pada festival bunga krisan nanti. Namun, adegan keluarga tersebut tak terlihat layaknya keluarga yang harmonis. Sebenarnya, timbulnya ketidakharmonisan keluarga kekaisaran itu karena Sang Ratu menjalin hubungan dengan pangeran Wan dan Sang Kaisar mengetahuinya, tidak hanya itu timbul konflik antara pejabat istana kepercayaan Kaisar dengan Kaisar sendiri yakni tabib istana yang memberikan ramuan untuk membuat Sang Ratu semakin lemah. Perselingkuhan Sang Ratu dengan Pangeran Wan juga menimbulkan perselingkuhan baru antara sang pangeran dengan anak tabib istana, dimana itu dilarang dalam aturan istana. Jati diri ibu kandung Pangeran Wan dan siapa sesungguhnya Kaisar Ping sebelum menjadi Kaisar juga akan ditampilkan. Terkahir, puncak ketidakharmonisan keluarga kekaisaran Tang ini akan disuguhkan adegan hebat saat sebelum Festival Bunga Krisan. Film yang disutradarai Zhang Yimou ini begitu mempesonakan penontonnya dengan banyak memperlihatkan keagungan dan kemasyhuran Dinasti Tang. Keindahan istana, pakaian keluarga kerajaan, pasukan elit dan percakapan politik yang penuh intrik membawa penonton ke suasana istana Zaman Dinasti Tang yang identik dengan pernis emasnya dan istana yang megah dan luas, bahkan ada abdi khusus yang bertugas untuk memberitahukan jam karena luasnya istana sehingga matahari tak bisa masuk jauh ke dalam. Alur cerita film ini sangat kuat. Hal ini membuat penonton susah menebak akhir dari film tersebut. Kualitas akting pemainnya pun tak diragukan lagi; pengendalian emosi dan penaikan nada suara secara tiba-tiba begitu menyiratkan pemainnya bisa mendalami karakter seorang dari keluarga kerajaan. Film yang rilis tahun 2007 dengan durasi 114 menit ini terasa membosankan dengan kekolosalannya yang terlalu terlihat, tetapi semua itu akan tertutupi dengan kelebihan dimana cerita berpusat pada kisah cinta Ratu dengan Pangeran Wan dan perebutan tahta serta ramuan Sang tabib akan membuat penonton tercengang. Namun, ada sedikit terasa menggantung pada akhir ceritanya. Penonton menyaksikan adegan yang membuat penasaran bagaimana kelanjutan ceritanya. Hal ini cukup megundang tanya dan mungkin membuat penonon berkeinginan mencari sejarah aslinya. (Sueca)

www.persakademika.com/@persakademika

17

RESENSI BUKU

Sayatan Nada-nada Kehidupan

Identitas Buku Judul Buku : Pengarang : Penerbit : Kota Terbit : Tahun Terbit : Cetakan :

Kisah Lainnya : Catatan 2010-2012 Ariel dkk. KPG (Kepustakaan Populer Gramedia) dan Musica Studios Jakarta 2012 Pertama, Agustus 2012; Kedua, Agustus 2012; Ketiga, September 2012

J
18

adi,

hidup

telah

memilih,

2010-2012. Semua itu berawal pada suatu malam di bulan Mei 2010, kehidupan Ariel berubah seketika menjadi seorang tahanan. Ariel menapaki hidupnya yang baru dalam lingkungan yang asing dan meninggalkan sejenak personil Peterpan untuk kurun waktu yang tidak sebentar, 2 tahun. Tidak tinggal diam, dalam rutan

menurunkan aku ke bumi. Begitulah kalimat pembuka dalam

buku ini, sederhana namun penuh makna. Yang Terucap Akan Lenyap, Yang Tercatat Akan Teringat. Kata-kata bijak inilah yang menginspirasi Ariel, Uki, Lukman, Reza, dan David untuk mencatat segala kejadian yang terjadi selama tahun

Sumber Foto: https://gramediaonline.com/images/prod_images/201800342_large.jpg


BULETIN AKADEMIKA edisi 2 - APRIL 2014

RESENSI BUKU
Ia membuat ukiran pada piano tua, membuat kaligrafi pada gypsum, dan mencoba take vocal lagu yang Ia ciptakan sendiri yaitu Dara dalam sebuah almari tanpa ventilasi yang dibantu rekan Bimkernya. Begitu kemelut kisah Ariel dan Peterpan, membawa banyak pro dan kontra di masyarakat. Masalah internal juga terjadi, sehingga membuat Peterpan memperkuat formasinya dengan David sebagai pianis. Satu persatu kisah mereka dibahas dalam buku ini. Bagaimana perjuangan musik mereka ketika ditentang oleh keluarga dan lingkungan. Lalu pencapaian-pencapaian yang akhirnya didapatkan oleh mereka, penghargaan dari dalam dan luar negeri untuk musikalitas mereka. Buku Kisah Lainnya ini merupakan biografi dari Ariel dkk serta Peterpan sendiri. Penyajiannya menyenangkan dan bahasa yang digunakan juga ringan. Buku ini memiliki alur maju mundur yang membuat pembaca harus lebih jeli dan konsentrasi dalam menanggapi setiap kisah yang dipaparkan secara tidak runtut tersebut. Jika tidak, pembaca mungkin akan merasa sedikit bingung dengan alur yang ada. Namun demikian, judul yang diberikan pada tiap kisah yang ditulisnya membuat setiap pembaca penasaran dan ingin segera mengetahuinya. Seperti pada judul
www.persakademika.com/@persakademika

berikut: Ketika Bintang Terang Menyinari Peterpan dan Yang Lepas dan Yang Terhempas. Keindahan kata yang gunakan dalam buku ini membuat kita semakin terhanyut dalam kisahnya, serta ada banyak foto dan gambar yang ditampilkan sehingga membuat pembaca menikmati dan tidak bosan-bosannya membalik lembar demi lembar kisah yang tertulis didalamnya. Buku Kisah Lainnya memiliki sampul gradasi warna merah gelap dan dan merah terang dengan simbol bulu warna putih menghadap kanan atas, ini merupakan simbol dari band yang ariel gawangi bersama dengan kawan-kawannya. Sampul ini terlihat sederhana namun elegan, memberikan kesan misterius dan menuntun setiap mata untuk mengetahui lebih jauh apa yang tersimpan dibaliknya. Banyak nilai positif yang dapat kita ambil, Keberanian menghadapi persoalan dengan kepala tetap tegak. Itulah kesatuan dari banyak kisah yang satu persatu di uraikan oleh kelima personil tersebut. Oleh karena itu, buku ini dapat dibaca oleh semua orang, segala usia dan kalangan. Sangat tepat untuk mereka yang ingin tahu lebih dalam kisah Ariel dkk serta Peterpan khususnya. (Ulul)

19

LAPORAN KHUSUS

Fakultas Peternakan Terjebak di Tiga Tempat


Kuliah di Hardys itu tidak efektif, karena di sana bukan tempat kuliah. Di sana adalah tempat berjualan. Saat belajar pukul 10.00 WITA, sudah terdengar suara pramuniaga yang menawarkan discount-discount, ungkap Kadek Dwi Pebri Dyantari (Dyan) Ketua BEM Fakultas Peternakan.
Foto: Dharma/Akademika

bergegas memasuki kelasnya masing masing. Tidak ketinggalan pula mahasiswa Fakultas Peternakan (Fapet) yang pagi itu berkuliah di Kampus Sesetan. Tepatnya satu gedung dengan mall Hardys Ramayana Sesetan. Mungkin petugas penjaga parkir di mall tersebut harus bekerja lebih ekstra untuk menghafalkan wajah wajah mahasiswa yang berkuliah di sana. Pasalnya setiap mahasiswa yang memasuki areal tersebut telah terbebas dari biaya parkir. Namun sayang areal tersebut kurang

arum jam menunjukkan pukul 08.30 WITA. Seluruh mahasiswa program S1 regular di Universitas Udayana

aman. Parkir mahasiswa dan pengunjung sama, tapi mahasiswa gak bayar, banyak yang kehilangan helm pula, celetuk Dyan. Awalnya ruang kuliah yang berada satu bangunan dengan Hardys Ramayana tersebut merupakan Pusat Pengembangan Agribisnis dan Kewirausahaan (PPAK). Pendirian gedung PPAK bertujuan untuk melatih mahasiswa Fapet dan orang luar Fapet yang mau belajar berwirausaha. Ada lima ruangan ditambah tiga ruangan baru, terdiri dari kelas dan lab ekonomi dan penyuluhan kewirausaan, ungkap Ir. Tjok Istri Putri, M.P, Pembantu Dekan II Fapet Universitas Udayana. Ketika disinggung masalah kepemilikan lahan, lebih
BULETIN AKADEMIKA edisi 2 - APRIL 2014

20

LAPORAN KHUSUS
lanjut Tjok Istri memaparkan bahwa lahan tersebut adalah milik Udayana yang disewakan dan kemudian didirikan sebuah mall. Namun dalam perjanjian sewa lahan tersebut dinyatakan bahwa Fapet akan dibuatkan sebuah gedung sebagai pusat pengembangan Agribisnis. Karena tren mahasiswa kuliah di Fapet semakin sedikit, makanya kita pakai ruang pengembangan agribisnis untuk berkuliah, tambah Tjok Istri. Lantas gedung yang dimiliki oleh Fapet yang berada di Bukit dilirik oleh Program Studi Farmasi Fakultas Mipa. Ketika Fapet yang mulai jarang memfungsikan gedung perkuliahan di Bukit, maka gedung tersebut dipinjam secara lisan oleh Farmasi atas keputusan dari rektor. Kini mahasiswa Fapet sudah berjumlah 86 orang, lebih banyak dari tahun-tahun sebelumnya. Rencana rencana baru pun mulai disusun oleh Dekan Fapet dan jajarannya demi membenahi kampus. Tahun lalu sudah saya usulkan kepada Pak Bakta (Rektor yang menjabat sebelumnya) agar gedung AI diperbaiki dikarenakan semua mahasiswa Fapet akan difokuskan di Bukit, tegas Tjok Istri. Fapet memiliki tiga tempat perkuliahan saat ini, diantaranya kampus Bukit Jimbaran yang harus rela dibagi dengan Program Studi Farmasi, Fakultas Mipa. Kampus Sesetan yang memiliki konstruksi bangunan satu gedung dengan Mall dan Kampus Sudirman yang merupakan Lab Bersama dan dinaungi oleh empat Fakultas. Keseluruhan proses belajar mengajar mahasiswa Fapet berlangsung pada tiga tempat tersebut. Untuk mahasiswa semester satu dan dua berkuliah di kampus Bukit, Jimbaran. Semester satu dan dua kuliah di Bukit, ruang sidang di lantai tiga dekanat dan ini merupakan kesalahan kami yang menjadikan ruang sidang sebagai tempat kuliah, tegas Tjok Istri. Sementara semester tiga dan seterusnya berkuliah di kampus Sesetan dan praktikum dilaksanakan di Kampus Sudirman. Menanggapi hal tersebut Rektor Universitas Udayana menyatakan sudah merencanakan penataan ulang tentang keberadaan Fapet dan Program Studi Farmasi. Dirancang lagi, ditata lagi, ditata ulang, apakah gedungnya akan ditambah lagi untuk Farmasi, nanti akan ditinjau lagi kebutuhannya nanti bagaimana, karena dulu gedung tersebut tidak dipakai oleh Fapet dan untuk tanah yang di Hardys nanti jika sudah selesai, jangan dikontrakkan lagi, ungkap Prof.Dr.dr Ketut Suastika SpPD KEMD saat diwawancarai disela sela kesibukannya. (Dharma, Sas, Jack)

www.persakademika.com/@persakademika

21

Eksotisme Pura Gunung Kawi, Genah Penglukatan lan Wisata

JEJAK

Keindahan Pura Gunung Kawi terpancar ketika melihat pekarangan yang luas dan asri, lengkap dengan taman yang tertata rapi. Gerak ikan dalam kolam yang jernih menambah kesan keseimbangan alam di dalamnya.

emercik air kolam dan sejuknya udara menyambut wisatawan yang datang ketika pertama sam-

kapi dengan berbagai macam pancuran air suci. Umat Hindu umumnya datang ke pura ini untuk melakukan persembahyangan dan pembersihan diri (penglukatan). Masyarakat setempat percaya bahwa air suci tersebut mampu memberikan kecantikan alami. Banyak pemain drama dan penari kesini mencari kecantikan, ujar Genep (48), salah seorang penjaga pura. Selain umat Hindu, pura ini juga menarik para wisatawan, baik domestik maupun wisatawan mancanegara. This

pai di Pura Gunung Kawi yang terletak di Desa Sebatu, Tegallalang, Gianyar, Bali. Kawasan pura dengan taman yang tertata rapi, kolam ikan yang luas dan jernih yang dipenuhi ratusan ikan menjadi pemandangan indah yang tertangkap mata. Berdasarkan cerita yang berkembang di desa ini, konon pemerintahan Raja Mayadenawa yang lalim tidak mampu menyejahterakan masyarakatnya. Kemudian, Dewa Wisnu memberikan sumber air kehidupan dalam wujud air suci kepada masyarakat setempat. Masyarakat mengungkapkan rasa syukurnya dengan membangun sebuah pura tempat pemujaan Dewa Wisnu yang dikenal dengan nama Pura Gunung Kawi. Pura tersebut dileng-

place is very beautiful. We still can feel the historical value. Its amazing how Balinese people are still able to maintain the beauty of this place until now, papar Kevin,
wisatawan asal Kanada yang datang bersama istrinya, Marissa. Wisatawan juga dapat merasakan sejuknya air suci di kolam pemandian yang telah disediakan.

22

BULETIN AKADEMIKA edisi 2 - APRIL 2014

JEJAK

Biaya Rp. 10.000 bukanlah biaya yang besar jika dibandingkan dengan pengalaman menakjubkan di pura yang cukup keramat ini. Kain dan selendang menjadi sarana yang wajib dikenakan wisatawan selama berwisata di sekeliling pura. Beberapa toko kecil berderet rapi
Kolam terbesar di kawasan Pura Gunung Kawi sebagai habitat para ikan dan salah satu objek yang paling diminati.

di depan pura menjajakan souvenir khas desa setempat. Pilihan menarik sebagai buah tangan bagi wisatawan sebelum meninggalkan pura ini. Pura yang memiliki panorama indah ini berjarak 38 km dari Kota Denpasar. Dengan iringan pemandangan hasil seni pahat yang begitu indah dan berkualitas, hamparan alam nan menawan serta cuaca yang sejuk membuat perjalanan menuju pura ini menjadi menyenangkan. Pura Gunung Kawi bisa menjadi pilihan untuk kabur dari kepenatan dan sesaknya suasana kota yang padat.

Kolam suci di kawasan dalam Pura Gunung Jati.

Such a sweet escape. (Resita)


www.persakademika.com/@persakademika

23

BUDAYA

Sumber gambar: Lester Ledesma/Skylight Images

Bala Cinta Si Landung


Di Bali, kisah cinta tak selamanya berakhir bahagia. Bisa juga berujung petaka.
awal mula perkenalan kisah cinta tragis tersebut. Barong menurut asal katanya dalam bahasa sansekerta yaitu B(h)arwang (Kardji, 1993) dan dalam bahasa Jawa Kuno Barong juga disebut Barwang (Zoetmulder,1995). Kedua asal kata Barong tersebut bermakna sama yaitu Beruang. Tak salah jika pementasan Barong di Bali identik dengan rupa binatang yang besar. Landung dalam bahasa Bali berarti tinggi, sehingga Barong Landung berarti Barong yang memiliki perawakan tinggi. Jangan sangka Barong Landung berupa hewan yang tinggi dan besar. Barong Landung tak sama seperti Barong pada umumnya di Bali. Barong ini unik dan berciri khas. Bagaimana tidak, rupa rupanya adalah manusia. Perawakannya pun manusia. Barong ini identik dengan sepasang wanita lelaki. Wanita beparas gadis Cina, lelakinya berwajah Bali Aga (kuno).

Tak hanya pemandangan alam, seni, budaya, dan religi yang mampu menjadi magnet pesona Bali, namun keromantisan dan cinta di setiap ujung lokasi di Bali juga memberikan icipan cita rasa berbeda. Tak jarang Bali menjadi incaran bagi mereka yang ingin mempersatukan cinta dalam ikatan pernikahan. Bali bahkan lebih sering menjadi destinasi tempat berbulan madu. Film kisah cinta ala Hollywood pun juga pernah singgah untuk shooting di Bali. Siapa kira, di balik romantisme yang ditawarkan Bali ternyata ada kisah cinta memilukan yang pernah terjadi di tanah Dewata ini. Kisah yang terjadi sekitar 100 windu silam, yang telah menelurkan peradaban kuno ditengah Agama Hindu, seni, dan budaya di Bali yang terjaga hingga saat ini. Alkisah Barong Landung, inilah

24

BULETIN AKADEMIKA edisi 2 - APRIL 2014

BUDAYA
Letak kesamaan antara Barong Landung dengan Barong pada umumnya pada makna pementasannya untuk kegaiatan keagamaan, yaitu sebagai penolak bala. Meskipun memiliki makna sebagai penolak bala, tapi bala yang mewarnai kisah sejarah Barong Landung ini tak dapat ditolak. Bala cinta. Kisah bala cinta Barong Landung inilah yang memberikan sentuhan berbeda pada setiap kisah cinta yang berujung di Bali. Dalam kisahnya tersebutlah seorang Raja Balingkang yang bertahta pada tahun 1181 1204 Masehi bernama Jaya Pangus. Beliau memperistri seorang wanita Cina, King Cing Wei. Balingkang merupakan gabungan kata dari dua nama wilayah yang berbeda, yaitu Bali yang berarti Bali dan Khang yang berarti Cina. Raja Jaya Pangus atau yang dikenal pula dengan nama Dalem Balingkang konon sangat mencintai sang istri, sayangnya mereka tak kunjung diberikan putra. Suatu hari Dalem Balingkang berencana untuk bersemedi di Gunung Batur. Namun celakanya, bukan wangsit yang didapat, melainkan seorang wanita bernama Dewi Danu. Tipu muslihat Dalem Balingkang yang mengatakan dirinya perjaka berhasil menikahi Dewi Danu. Dari hubungan itu lahir seorang putra bernama sangat termashyur, Maya Denawa. Gelisah suami tak kunjung kembali, King Cing Wei menyusul ke Gunung Batur. Didapatlah suaminya telah berhati dua, maka murkalah King Cing Wei dan menghardik Dewi Danu. Dewi Danu merasa dibohongi. Dengan kesaktiannya dibinasakanlah Dalem Balingkang dan King Cing Wei. Oleh rakyat yang mencintai Dalem Balingkang dan King Cing Wei, setelah mengetahui keduanya sudah binasa, dibuatkanlah patung yang disebut Stasura dan Bhati Mandul untuk mengenang keduanya, yang akhirnya berkembang menjadi Barong Landung. Hal ini tidak diketahui pasti mengapa diwujudkan dalam perawakan yang landung. Dalam perwujudan Barong Landung yang ada sekarang, lelakinya berwujud hitam, seram, dan gigi bertaring. Sedangkan wanitanya putih, cantik, dan bermata sipit. Barong Landung biasa dipentaskan saat Hari Raya Galungan dan Kuningan, upacara keagamaan, dan terkadang juga sebagai hiburan. Meskipun dalam konteks pementasan maknanya berbeda, namun kisah yang melekat pada Barong Landung tak akan berbeda. Kisah cinta yang berbumbu pengkhianatan, kebohongan, dan petaka. (EkaApsari)

www.persakademika.com/@persakademika

25

OPINI

Grasi
temu Pertengahan tahun 2013 saya berdengan Metta Dharmasaputra,

Oleh: Asykur Anam

Presiden punya hak untuk memberi grasi. Jadi, mintalah grasi, bagi tahanan yang mulai frustasi, dengan rumitnya jalur hukum di republik ini. Contohnya Schapelle Leigh Corby yang pernah merasakan nikmatnya menerima grasi. Tapi kalau yang tak diberi, artinya harus mendekam di bui lebih lama lagi.

sempat melarikan diri ke Singapura. Dia melarikan diri karena mendapatkan ancaman dari pihak Asian Agri. Dalam pelarian itulah Vincent mengancam akan membocorkan skandal pajak Asian Agri Group jika pihak Sukanto Tanoto terus mengancamnya. Metta mengeluarkan laporan investigasi skandal pajak ini dalam bentuk buku berjudul "Saksi Kunci". Bagi saya yang menarik dari laporan investigasi itu adalah upaya pria bernama lengkap Vincentius Amin Sutanto atau Vincent dalam mencari keringanan hukuman. Laporan investigasi "Saksi Kunci" sosok Vincent digambarkan sebagai seorang whistle blower atau peniup peluit. Istilah ini dipakai bagi para pelaku kejahatan atau kriminal, namun pelaku kejahatan tersebut bersedia untuk mengungkapkan kejahatan lain yang lebih besar sehingga merugikan negara. Bahkan di Amerika ada undang-undang federal the False Claims Act atau Lincoln Law yang sudah ada sejak 1863. Undang-undang ini menjelaskan bagaimana seorang whistle blower bukan hanya harus dilindungi keselamatannya,
BULETIN AKADEMIKA edisi 2 - APRIL 2014

Pemimpin Redaksi Kata Data dan mantan wartawan TEMPO. Saya pribadi memanggilnya mas Metta. Saya menjemputnyasiang hari di Bandara Ngurah Rai, Bali. Kami naik taxi dari bandara menuju tempat pelatihan di daerah Kerobokan, Badung. Saya bertanya tentang Vincent kepada Metta di dalam taxi. Vincent adalah pembocor rahasia pajak Asian Agri Group yang merupakan induk perusahaan Raja Garuda Mas (RGM) milik Sukanto Tanoto. Metta menjelaskan, kalau saat ini Vincent telah bebas dan sedang membuka usaha catering. "Tapi harus terus diawasi karena bisa saja terjadi sesuatu yang tidak diinginkan menimpanya," kata Metta. Vincent resmi masuk dan menghuni rumah tahanan Kepolisian Daerah Metro Jaya pada 11 Desember 2006. Dia dijebloskan ke penjara karena terlibat kasus pencurian uang perusahaan Asian Agri senilai US$ 3,1 juta dan baru dicairkan Rp 200 juta. Sebelum menghuni rumah tahanan Kepolisian Daerah Metro Jaya, Vincent

26

OPINI
tapi juga bisa mendapatkan imbalan berupa uang. Sayangnya meski sebagai whistle blower, nasib Vincent benar-benar tak mujur. Singkatnya, Vincent harus mendekam di penjara selama 11 tahun setelah melewati berbagai persidangan termasuk upaya banding. Gagal dengan berbagai upaya banding untuk meringankan hukumannya, Vincent ajukan grasi kepada Presiden. Tapi gagal juga. Susilo Bambang Yudhoyono lebih memilih mengampuni bandar "mariyuana" daripada mengampuni penyelamat uang negara triliunan rupiah. Schapelle Leigh Corby yang kedapatan membawa 4,2 kg ganja di Bandara Ngurah Rai, Bali pada 8 Oktober 2004. Corby pun divonis hukuman penjara 20 tahun pada 27 Mei 2005. Presiden memberikan grasi kepada Corby pada 15 Mei 2012. Grasi itulah yang mengurangi hukuman Corby dari 20 tahun menjadi 15 tahun. Nasib Corby jelas lebih mujur dari Vincent. Namun, tak semua tahanan suka dengan pemberian grasi oleh presiden. Tak semua tahanan di republik ini juga suka dikasihani presiden. Contohnya tahanan politik Filep Karma yang ditahan oleh pengadilan negeri Abepura dan memperoleh hukuman 15 tahun penjara pada 27 Oktober 2005. Dia ditahan karena mengibarkan bendera Bintang Kejora pada saat upacara memperingati ulang tahun kedaulatan Papua tanggal 1 Desember 2004. Karma menolak dengan alasan jika ia menerima grasi tersebut berarti ia mengakui bahwa ia salah. Karma balik meminta presiden untuk membebaskan papua dari kolonialisme Indonesia. Elaine Pearson, Wakil Direktur Asia dari Human Rights Watch menjelaskan, Memenjarakan pesakitan politik merupakan hal memalukan dan sangat jauh dari gambaran negara demokrasi modern yang berusaha digagas Indonesia. Memasuki tahun politik, April 2014. Kita dihadapkan pada banyak persoalan yang belum kelar di negara ini. Dari masalah korupsi hingga pelanggaran HAM. Dari Sabang sampai Merauke. Kita dituntut untuk memilih pemimpin negeri ini selanjutnya. Pasca SBY turun dari kursi terhormatnya. Lagi dan lagi. Selain memilih kita hanya bisa berharap. Semoga yang terpilih kelak dapat memberikan haknya kepada yang pantas mendapatkan hak. Grasi hanya contoh mungil dari setumpuk permasalahan yang serius di negeri ratusan suku ini. Dari negeri yang hanya mengakui lima agama ini. Dari negeri yang pemimpinanya pemurah ampun ini. Pemurah ampun untuk pengedar ganja bukan penyelamat uang negara.

www.persakademika.com/@persakademika

27

Adit/Akademika

Redaksi menerima kiriman artikel, opini, masukkan, kritik, saran atau tanggapan tentang kehidupan civitas akademika Universitas Udayana. Tulisan bisa dialamatkan langsung ke Sekretariat Pers Mahasiswa Akademika Jl. Dr. R. Goris No. 7A, Denpasar atau dikirim lewat email ke pers_akademika@yahoo.com. redaksi berhak menyunting isi tulisan sepanjang tidak menyimpang esensi tulisan. www.persakademika.com @persakademika