Anda di halaman 1dari 28

Taki - Takining Sewaka Guna Widya

ISSN: 09854-1678
Budaya:
Mebayuh Sapuh
Leger
Resensi film:
Captain Phillips,
Perjuangan itu
Nyata
Laporan Khusus:
Peristiwa Enam
Lima: Korban
Rekayasa Sejarah
Opini:
DPD RI: Antara Wakil
Rakyat atau LSM Ber-
plat Merah
Essay Foto: Wisata
Damai di Tengah
Hingar-bingar
Legian
Jejak:
Wisata Tempat
Suci di Bali Utara
JaS MERAH
UNTUK
PEMI MPI N
BARU
Buletin AKADEMIKA Edisi 3 - Juni 2014
2
BULETIN AKADEMIKA EDISI III - JUNI 2014
DAFTAR ISI
Salam Persma!
Buletin Edisi ke-3 akhirnya terbit
di bulan Juli 2014 ini. Edisi kali ini
membawa tema besar mengenai
kepemimpinan dalam bahasannya.
Suasana pemilihan presiden Indonesia
di tahun ini membuat kami yakin untuk
membahas mengenai kepemimpinan.
Dengan mengambil sudut pandang
kepemimpinan sejak awal kemerdekaan,
laporan utama edisi ini mengajak kita
fashback pada pemimpin pemimpin
sebelumnya. Gaya kepemimpinan dan
Asta Brata sebagai tipe kepemimpinan
berdasarkan kepercayaan umat Hindu
kemudian melengkapi pemberitaan kami.
Tidak kalah menariknya, ingatan kita
akan dipaksa untuk menolak lupa kisah
tragis di tahun 1965 yang diceritakan
lewat laporan khusus buletin ini.
Banyak informasi menarik yang sangat
ingin kami bagikan kepada seluruh
pembaca. Dengan penuh kerja keras
seluruh redaksi, berikut adalah buletin
yang kami sajikan dengan sepenuh
hati.
Selamat membaca

Pemimpin Redaksi
Editorial / 3
Laporan Utama / 4
Profil / 8
Essay Foto / 14
Resensi / 16
Laporan Khusus / 18
Jejak / 22
Budaya / 24
Opini / 26
Diterbitkan oleh: Pers Mahasiswa Akade-
mika
Universitas Udayana.
Izin terbit: SK Rektor Unud 499/SK/PT/07/
OM/LA/83.
Alamat Sekretariat:
Gedung Student Center Lantai 2,
Jalan Dr. R. Goris, Denpasar-Bali.
Email: pers_akademika@yahoo.com
Bukan posisi yang menjadikan seseorang pemimpin; justru kepemimpinannyalah yang
membuat posisi tersebut - Stanley Hufty
www.persakademika.com / @persakademika
3
EDITORIAL
Memang, setiap zaman melahirkan
gaya kepemimpinan yang berbeda.
Gaya kepemimpinan mencakup tentang
bagaimana seseorang bertindak dalam
konteks organisasi, maka dengan
menggambarkan jenis organisasi atau
situasi yang dihasilkan adalah cara
termudah untuk membahas berbagai jenis
gaya kepemimpinan.
Teori kepemimpinan secara umum
mengenal ada tiga tipe kepemimpinan,
yaitu kepemimpinan otokratis, demokratis,
dan laissez-fair (semau gue). Ketiga tipe
kepemimpinan tersebut memiliki arti
tersendiri terhadap orang yang dipimpin.
Konteks demokrasi memiliki arti
bahwa seorang pemimpin yang dapat
memberikan ruang bagi rakyat untuk
berperan guna menentukan masa
depannya melalui institusi pemerintahan.
Tipe kepemimpinan ini tentu akan
menghasilkan komitmen yang antusiastik
dari masyarakat.
Namun dalam praktiknya,
masih saja ada unsur otokratis yang
membuat masyarakat menjadi pasif
dari kepatuhan. Sedangkan pada gaya
kepemimpinan laissez-faire menganggap
bahwa organisasinya berjalan sedemikian
baik sehingga pemimpin tidak perlu ikut
campur. Dengan kata lain, membiarkan
segala sesuatunya berjalan dengan
sendirinya.
Tentu saja dalam hal ini demokratis
merupakan tipe kepemimpinan yang
ideal. Mengapa menolak otokratis?
Pemimpin otokratis kerap melanggar hak
asasi manusia, terutama kebebasan setiap
individu untuk menentukan nasibnya
sendiri. Dengan kata lain, benar atau baik
bagi pemimpin, itulah kebenaran dan
kebaikan yang harus diterima masyarakat.
Jika ini terjadi, Indonesia akan menjadi
rimba di tengah arus globalisasi, baik fsik
maupun mental. Padahal pemimpin tak
lain adalah orang yang mendapat mandat
dari rakyat untuk menjalankan fungsinya
untuk kepentingan bersama.
Oleh karena itu, masyarakatlah
yang harus mengawal agar demokratisasi
berjalan sesuai dengan relnya. Sehingga,
demokrasi tak akan menjadi sebatas
prosedural, melainkan secara substantif
dan konstitusional. (red)
Bukan posisi yang menjadikan seseorang pemimpin; justru kepemimpinannyalah yang
membuat posisi tersebut - Stanley Hufty
Demokratis Tanpa Otokratis!
4
BULETIN AKADEMIKA EDISI III - JUNI 2014
T
ahun ini, Republik Indonesia
memasuki usia ke-69
pasca memproklamasikan
kemerdekaannya. Selama itu, ada enam
presiden pernah menduduki pucuk
pimpinan negeri ini. Masing-masing
presiden memiliki gaya kepemimpinan
tersendiri beserta kekuatan dan
kelemahan. Meskipun berbeda, setiap
presiden telah membawa negara
berkembang ini terus melakukan gerakan
ke arah yang lebih baik agar dipandang di
mata dunia. Muara dari kepemimpinan
mereka adalah untuk mempertahankan
kedaulatan dan kesejahteraan bangsa
Indonesia.
Salah satu pemimpin bangsa
dengan gaya kepemimpinan yang
paling fenomenal adalah Soekarno.
Gebrakan proklamasi kemerdekaan yang
Menuju RI Satu, Menanti Pemimpin Baru
Republik ini telah memiliki enam presiden, dimulai dari Soekarno,
Soeharto, B.J. Habibie, Abdurrahman Wahid, Megawati
Soekarnoputri, dan Susilo Bambang Yudhoyono. Selanjutnya, siapa
yang pantas?
www.persakademika.com / @persakademika
5
LAPUT 1
Menuju RI Satu, Menanti Pemimpin Baru
dilakukannya menjadikan dia sebagai
salah satu aktor politik Indonesia yang
paling fenomenal. Tidak hanya disegani
di dalam negeri, dunia barat dan timur
pun sangat kagum terhadap sikap berani,
tegas, dan nasionalis. Ketika orde lama
waktu zamannya Soekarno memang
gaya kepimpinannya lebih mengarah
kepada bagaimana membuat Indonesia ini
merdeka dari yang namanya penjajahan,
ujar Clara Listya Dewi, mahasiswa HI FISIP
UNUD sekaligus Menteri Pendidikan di
dalam BEM PM UNUD.
Kepemimpinan Soekarno banyak
diibaratkan sebagai mercusuar.
Kepemimpinannya mampu menunjukkan
sinar kekuatan ke seluruh penjuru
dunia. Setelah era orde lama, Soeharto
mengambil alih kepemimpinan Republik
Indonesia. Presiden dengan julukan
Bapak Pembangunan ini melakukan
perbaikan kehidupan sosial ekonomi
rakyat. Gaya otoriter menjadi ciri khas
kepemimpinannya pada orde baru.
Pasca runtuhnya era kepemimpinan
Soeharto, B.J. Habibie menjadi presiden
ketiga Republik Indonesia dengan
latar belakang pendidikan berbasis
teknologinya. Presiden berikutnya
adalah Abdurrahman Wahid atau akrab
6
BULETIN AKADEMIKA EDISI III - JUNI 2014
disapa Gus Dur. Presiden keempat ini
memimpin Republik Indonesia dengan
gaya pluralisme dan egaliterismenya.
Megawati Soekarnoputri akhirnya
menjabat posisi RI 1 sebagai satu-satunya
presiden wanita di Indonesia. Selain
itu, Megawati menjadi istimewa karena
ia adalah putri dari Sang Proklamator,
Soekarno. Sejak tahun 2004 hingga
sekarang Susilo Bambang Yudhoyono
(SBY) berhasil memenangkan pemilihan
umum selama dua periode berturut-turut.
SBY merupakan pemimpin negara yang
sangat berhati hati dalam mengambil
keputusan meskipun ia memiliki latar
belakang militer.
Bagi Idin Fasisaka, Dosen
Hubungan Internasional FISIP Unud,
gaya kepemimpinan masing-masing
pemimpin tidak dapat dipungkiri
membawa Indonesia menjadi lebih baik.
Secara general, semua (pemimpin)
membawa Indonesia menjadi lebih baik.
Gaya kepemimpinan dan perspektifah
yang membedakan mereka, ujar dosen
lulusan salah satu universitas di India ini.
Jika melihat calon pemimpin masa kini,
lalu fgur pemimpin seperti apakah yang
bisa memimpin Indonesia? Idin Fasisaka
mengatakan tidaklah mungkin untuk
membicarakan berhasil atau gagalnya
suatu kepemimpinan dari hasil akhir saja.
Hal yang terpenting adalah cara pandang
pemimpin dalam melihat masalah. Tidak
hanya untuk memikirkan solusi, seorang
pemimpin juga harus melihat akar
permasalahan dalam segala bidang.
Komisi Pemilihan Umum (KPU)
telah menetapkan dua pasang calon
presiden dan wakil presiden (capres-
cawapres) pada tanggal 31 Mei 2014.
Sehari kemudian, para capres-cawapres
pun mengambil undian nomor urut
pemilihan. Hasil undian menunjukkan
pasangan Prabowo Subianto dan Hata
Rajasa mendapatkan nomor urut 1,
sedangkan nomor urut 2 menjadi milik
pasangan Joko Widodo dan Jusuf Kalla.
Kedua pasangan telah memperoleh waktu
berkampanye mulai tanggal 4 Juni dan
berakhir pada tanggal 5 Juli 2014. Pesta
demokrasi tahun ini tampak berwarna
dengan gaya kampanye yang bermacam-
macam. Tentu tujuan utamanya merebut
suara untuk duduk di Istana Negara
periode 2014-2019. Namun, saat-saat
yang paling menentukan adalah pada
hari pemilihan presiden tanggal 9 Juli
2014.
Berdasarkan dua pasang capres-
cawapres yang sedang bersaing saat ini,
Idin berpendapat bahwa keduanya adalah
www.persakademika.com / @persakademika
7
fgur yang cukup berbeda. Sebelum
berbicara siapa yang pantas, kita harus
melihat level analisa kebijakan pemimpin
secara individu. Dalam hal ini yaitu
fgurnya. Contohnya terkait kebijakan luar
negeri. Ada fgur yang memang belum
terlihat bagaimana kebijakannya terkait
dunia luar dan bagaimana fgur lainnya
telah membangun hubungan dengan
dunia luar, ujar Idin.
Memang tidak dapat dipungkiri,
setiap pemimpin mempunyai gaya
kepemimpinan mereka masing-
masing. Hal ini kemudian akan sangat
mempengaruhi bentuk kebijakan publik
yang akan diambilnya. Cara pandang dan
cara identifkasi masalah oleh pemimpin
menjadi hal yang lebih penting sebagai
suatu apresiasi atas proses. Dua fgur
capres-cawapres pun muncul dengan
gaya kepemimpinan masing-masing yang
menjadi ciri khas.
Jika melihat kilas balik kepe-
mimpinan Indonesia, fgur-fgur dengan
gaya yang berbeda memberikan dampak
yang juga berbeda. Teringat jelas bagaimana
keadaan sosial rakyat Indonesia pada
masa orde baru saat militer menguasai
pemerintahan. Indonesia sudah terbiasa
dipimpin dengan gaya kepemimpinan
yang tegas dan keras, karena itu militer
dinilai cocok, ujar Nyoman Wijaya, Dosen
Sejarah Universitas Udayana. Namun,
kelanggengan masa kepemimpinan militer
pun tergoyahkan oleh masyarakat yang
ingin kebebasan. Namun untuk sekarang
Indonesia butuh yang merakyat, yang
mengerti kondisi rakyat, tambahnya.
Indonesia akan selalu tumbuh dan
berkembang. Segala aspek kenegaraan
akan terus berubah. Pemimpin sebagai
tonggak kesuksesan pemerintahanlah yang
dipercaya mampu membawa perubahan.
Rakyat mengharapkan pemimpin yang
mampu melihat dari segala aspek. Tidak
hanya fokus pada satu pembangunan
secara fsik, namun pembangunan secara
keseluruhan yang bersifat fundamental.
Bangsa ini pernah mengecap segala bentuk
kepemimpinan oleh para presiden yang
pernah menjabat. Lalu, siapakah presiden
dan wakil presiden yang ideal bagi rakyat
Indonesia saat ini? Presiden dan wakil
presiden terpilih bukan lagi hanya sekadar
mengatasi masalah negara, namun juga
mampu mensejahterakan kehidupan
bangsa. Setiap rakyat Indonesia pun berhak
memilih dan menentukan pemimpinnya
yang ideal baginya. (Resita, Mentari)
LAPUT 1
8
BULETIN AKADEMIKA EDISI III - JUNI 2014
PROFIL
S
iapa yang tak kenal wanita
ini. Gerakan tubuh, tatapan
mata, gaya bicara, gudangnya
akan pertanyaan yang menelanjangi
narasumbernya sampai akhirnya
tidak berkutik. Najwa Shihab lahir di
Makassar 36 tahun silam merupakan
alumni Fakultas Hukum Universitas
Indonesia. Wanita berambut pendek
ini dikenal dengan aksi-aksinya yang
menggugah tanah air dengan jiwa sosial
dan pertanyaan yang mampu memainkan
emosi penonton hingga terenyuh. Dengan
gaya bahasa yang simpel namun dapat
mengungkit segalanya. Ya, wanita yang
mengawali karirnya dengan kebetulan
mendapat kesempatan untuk magang di
RCTI pada saat semester akhir kuliahnya
ini justru membuat ia menjadi jatuh cinta
akan dunia jurnalistik.
Perjalanan menjadi seorang jurnalis
yang sukses seperti saat ini bukan
sebuah perjalanan instan. Semua
butuh proses, saya percaya kerja
keras pasti akan membuahkan
hasil, ungkap wanita
yang memandang tajam
Persistensi, kuncinya! Wartawan yang
sukses itu wartawan yang kekeuh jangan
pernah mau ditolak narasumber. Go for
what you want, be proud for what you
do and persistent, ungkapnya sembari
menyodorkan tubuh dan pandangannya
ke depan menandakan keseriusannya
mendengarkan lawan bicara.
Go For What You Want!
www.persakademika.com / @persakademika
9
narasumbernya ketika berdialog. Diawali
dengan menjadi wartawan pemburu
berita, reporter yang meliput ke lapangan,
presenter, asisten produser, produser,
eksekutif produser atau program
owner hingga sekarang menjadi wakil
pemimpin redaksi Metro TV. Perjuangan
dimulai dari bawah, sampai akhirnya
sekarang mempunyai program dengan
nama sendiri. Semua itu dilakukan secara
bertahap dan berjenjang dengan penuh
perjuangan.
Perjuangan turun ke lapangan
seperti yang pernah dirasakan Najwa,
ketika sepuluh tahun silam menjadi
wartawan pertama yang meliput Tsunami
di Aceh. Suasana ketegangan dan
kepanikan meliput peristiwa di Aceh
baginya merupakan hal yang berkesan.
Ia beranggapan bahwa dengan profesi
sebagai seorang wartawan harus bisa
berada dekat melihat langsung peristiwa
yang terjadi.
Air mata pada saat meliput
Tsunami di Aceh itu bukanlah sebuah
ajang mencari popularitas dan terkesan
dibuat-buat. Baginya, berita itu harus
menggunakan seluruh panca indera
tidak cukup dengan rumus jurnalistik
yang hanya 5W + 1H saja. Jurnalistik
itu bisa menggunakan mata untuk
melihat kejadian yang terjadi, hidung
untuk mencium aroma yang menusuk,
dan telinga untuk mendengar jerit
tangis rakyat. Dengan itulah, mampu
menciptakan sebuah tayangan yang
membuat penonton turut merasakan
betapa getirnya penderitaan korban.
Empat belas tahun merambah dunia
jurnalistik, lantas membuat wanita yang
awal tahun 2014 ini melalui program
acara yang dipandunya mampu menyabet
tiga penghargaan sekaligus, yaitu salah
satunya Indihome Inspiring Women. Terus
mencari hal baru, membuat hal yang
berbeda dan membuat news kreatif.
Alhamdulillah, semua ini terjadi karena
dukungan keluarga yang percaya serta
memberikan peluang dan waktu untuk
mewujudkan impian saya, ungkapnya
saat ditemui di Gedung Rektorat lantai 2
Universitas Udayana seusai mengisi acara
Metro TV On Campus.
Terakhir, pesan Najwa yang
memotivasi adalah, Go for what you
want, bangga terhadap profesi jangan
menggangap enteng sebuah profesi,
ini profesi yang mulia dalam mewakili
keingintahuan publik, tegasnya dengan
penuh semangat. (Tina/YRS)
10
BULETIN AKADEMIKA EDISI III - JUNI 2014
Asta Brata
dalam Balutan Jas Merah
Lika-liku kehidupan mereka pun tak habis jika disoroti sepanjang zaman,
karena salah satu pesan dari pemimpin kita Koesno Sosrodihardjo (Ir.
Soekarno) adalah Jas Merah (Jangan Sekali-kali Meninggalkan Sejarah).
www.persakademika.com / @persakademika
11
LAPUT 2
S
ederet putra bangsa terlahir dalam
balutan jiwa nasionalisme di
Republik Indonesia ini tak terkecuali
Bali, yang sejatinya telah memberikan
sumbangsih yang cukup besar. Pemimpin
yang berasal atau lahir di pulau dewata ini
memiliki proses yang berbeda dan peran
yang berbeda pula di setiap perjalanan
kepemimpinan mereka.
Ketenaran pemimpin yang berasal
dari Bali di masa lampau, tentunya tidak
terlepas dari adanya sifat inti yang perlu
dimiliki oleh pemimpin yang dikenal
dalam tradisi Hindu dan Jawa disebut
dengan Asta Brata. Dalam terjemahan
bebas diartikan sebagai delapan ajaran
utama tentang kepemimpinan yang secara
simbolis merupakan sifat-sifat mulia yang
diambil dari alam semesta dan patut
untuk dijadikan pedoman bagi seluruh
pemimpin di Bali pada khususnya.
Menurut Manawadharmasastra dan
dalam Itihasa Ramayana, Asta Brata terdiri
atas 1) Indra Brata adalah pemimpin
yang mengusahakan kemakmuran bagi
rakyat; 2) Yama Brata adalah pemimpin
menegakkan keadilan menurut peraturan
yang berlaku; 3) Surya Brata adalah yang
mampu memberikan semangat dan
kekuatan pada kehidupan yang penuh
dinamika dan sebagai sumber energi;
4) Candra Brata adalah pemimpin yang
mampu memberikan penerangan bagi
rakyat yang berada dalam kegelapan atau
kebodohan, dengan menampilkan wajah
yang penuh kesejukan dan penuh simpati;
5) Wayu Brata (Maruta) adalah pemimpin
yang senantiasa berada di tengah-tengah
masyarakatnya; 6) Bhumi adalah pemimpin
yang memiliki sifat teguh dan kuat sebagai
landasan berpijak dan memberikan
kesejahteraan kepada masyarakatnya; 7)
Waruna Brata adalah pemimpin memiliki
wawasan yang luas dan mampu mengatasi
setiap gejolak dengan baik, penuh kearifan
dan kebijaksanaan; serta 8) Agni Brata
adalah pemimpin yang memberi semangat
kepada masyarakat untuk berpartisipasi
dalam pembangunan, tetap teguh dan
tegak dalam prinsip dan menindak dengan
tegas yang bersalah tanpa pilih kasih.
Pemimpin Bali yang dapat dijadikan
contoh untuk konsep Asta Brata itu adalah
Raja Dalem Waturenggong dengan
penasihatnya Danghyang Nirartha,
berkuasa sekitar tahun 1500-an pada
Kerajaan Gelgel. Sesuai dengan pendapat
Socrates bahwa kepemimpinan itu harus
merupakan perpaduan antara kekuasaan
dengan kebijaksanaan. Kekuasaan tersebut
terdapat dalam diri Raja dan kebijaksanaan
dalam diri penasihat (tokoh agama) Raja,
12
BULETIN AKADEMIKA EDISI III - JUNI 2014
papar Dr. I Nyoman Wijaya, M.Hum.
Dosen Jurusan Sejarah Fakultas Sastra
dan Budaya Unud.
Hal senada diutarakan oleh pakar
politik I Made Anom Wiranatha, S.IP.,
Ma. Pada awal berdirinya peradaban
Bali, kepemimpinan itu akan dilihat
dari ketulusan orang dan kemampuan
spiritual seseorang. Kita dapat melihat
bagaimana Rsi Markandya mengajak
ribuan orang ke Bali dari Gunung Raung
di Jawa Timur sampai ke Bali untuk
menjalankan sebuah pawisik, papar
Anom Wiranatha.
Namun, Nyoman Wijaya
menganggap bahwa Asta Brata me-
rupakan sesuatu yang normatif, sehingga
akan sulit apabila diwujudkan secara
empiris. Susah sekali mendapatkan
pemimpin yang bisa bersikap seperti
matahari (Surya Brata), yang mampu
menyinari kotoran dan tanah yang penuh
kuman sekalipun. Dalam artian, matahari
tidak pernah membedakan siapapun
yang berada di sekitarnya, jelas Nyoman
Wijaya. Asta Brata dipandang sebagai
pembentukan moralitas suatu pemimpin
terhadap yang ia pimpin atau negaranya.
Susah jika Asta Brata diterapkan
dalam kebijakan kepemimpinan.
Buktinya kalau Asta Brata tersebut
dilaksanakan pasti kita sudah take of, kita
sudah menjadi negara maju. Keadaan kita,
ekonomi mundur, politik amburadul.
Jadi jangan harap Asta Brata itu akan
ada dan diterapkan oleh pemimpin kita,
bahkan Amerika pun tidak bisa. Orang
Hindu sendiri juga tidak akan bisa
melaksanakan kedelapan Asta Brata itu,
jelasnya.
Pemimpin yang berasal dari Bali dan
nama beliau tercatat sebagai pahlawan
nasional berdasarkan SK Presiden No.
106/TK/1975 tanggal 3 November 1975
adalah Surawiroaji yang lebih dikenal
sebagai Untung Suropati. Walaupun
berasal dari Bali, tetapi pahlawan
ini merupakan tokoh dalam sejarah
Nusantara yang tercatat dalam Babad
Tanah Jawi. Kisah perjuangan beliau
menjadi legendaris karena mengisahkan
kehidupan beliau sebagai seorang anak
rakyat jelata dan budak VOC yang
berhasil menjadi seorang bangsawan dan
Tumenggung (Bupati) Pasuruan.
Beralih ke sosok lainnya, ada juga
I Gusti Ketut Jelantik. Beliau adalah
pahlawan nasional yang berasal dari
Karangasem, Bali. Beliau adalah patih
Kerajaan Buleleng yang berperang
dalam Perang Jagaraga pada tahun 1849
di Bali. Perlawanan tersebut bermula
www.persakademika.com / @persakademika
13
karena pemerintah Hindia Belanda ingin
menghapus Hak Tawan Karang yaitu hak
bagi raja-raja yang berkuasa di Bali untuk
mengambil kapal yang kandas di perairan
Bali serta seluruh isinya.
Satu abad kemudian, juga ada
tokoh fenomenal yakni I Gusti Ngurah
Rai. Beliau memiliki pasukan bernama
TOKRING (Kotok Garing) yang melakukan
pertempuran Puputan Margarana.
Puputan berarti habis-habisan, sedangkan
Margarana berarti pertempuran di Desa
Marga, Tabanan. Perjuangan sepenuh hati
yang dilakukan oleh pemimpin terdahulu
tidak menutup kemungkinan akan terulang
lagi di zaman ini, tapi masih adakah
kepercayaan publik terhadap pemimpin
saat ini? Perbandingan pemimpin zaman
dulu dengan pemimpin zaman sekarang
terletak pada tujuan dan latar belakang
dalam kepemimpinannya, ujar Nyoman
Arif Budiman seorang mahasiswa Fakultas
Hukum yang juga merupakan Wakil
Mentri Dalam Negeri BEM PM Unud
periode 2012-2013. Pemimpin zaman dulu
tujuannya memang pure untuk rakyat,
sedangkan sekarang lebih kepada mencari
jabatan dan kekayaan semata.
Pemimpin kita harus memiliki
integritas, dalam artian apa yang di-
pikirkan, dikatakan, dan dilakukan apakah
sudah terbukti melalui tindakannya.
Action, work, louder than speak jadi tindakan
itu harus jauh lebih banyak daripada
sekumpulan kata-kata, papar I Made
Anom Wiranatha, S.IP., Ma.
Berbicara mengenai dua calon dalam
Pemilihan Presiden tahun ini, Anom
Wiranatha mengungkapkan bahwa kedua
calon merepresentasikan dua zaman yang
berbeda dan dibentuk dalam zaman yang
berbeda pula. Terlihat mana pemimpin
yang pencitraan dan memiliki track record
yang jelas. Pencitraan bisa menunjukkan
jati diri yang sebenarnya dan dapat
memunculkan kamufase. Itulah sekarang
yang mengakibatkan adanya kampanye
hitam (black campaign) atau bahasa
kasarnya ftnah, tambahnya.
Hal ini juga diamini oleh Widyartha
Suryawan yang duduk di Fakultas Ilmu
Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Prodi
Hubungan Internasional, bahwa pemimpin
harusnya berkaca pada pemimpin
terdahulu karena sejarah bukan hanya
dikenang tetapi juga harus diteruskan
dan diciptakan kembali. Pemimpin
yang akan terpilih nanti ini diharapkan
dapat meluruskan cita-cita reformasi,
menjalankan isi daripada Undang-undang
Dasar dan juga dasar negara, harap Surya.
(YRS/Andis)
LAPUT 2
14
BULETIN AKADEMIKA EDISI III - JUNI 2014
Duaaarrr!!! Tepat satu tahun,
satu bulan, dan satu hari, setelah
serangan terhadap menara World
Trade Centre di New York - Amerika
Serikat, Bali diguncang bom yang
menelan 202 korban jiwa. 12 Oktober
2012, menjadi malam berdarah yang
sangat mengerikan di Legian. Untuk
menghormati dan mengenang para
Tampak barisan kendaraan yang melintas di depan Monumen Ground Zero.
korban maka dibangun sebuah
monumen yang diresmikan pada
tanggal 12 Oktober 2004. Monumen
Tragedi Kemanusiaan Peledakan Bom 12
Oktober 2002 atau lebih dikenal dengan
Ground Zero, kini menjadi salah satu
tujuan wisatawan yang melintas di Jalan
Legian. (Dhamma)
www.persakademika.com / @persakademika
15
Pelancong sedang berfoto dengan Monumen Ground Zero sebagai latar belakang
ESAI FOTO
Monumen Ground Zero, monumen pengingat untuk kita agar terus menjaga keamanan dan kedamaian di Bali. Beberapa
wisatawan menikmati sore di Ground Zero.
16
BULETIN AKADEMIKA EDISI III - JUNI 2014
RESENSI FILM
Perjuangan itu Nyata
CAPTAIN PHILLIPS
Sutradara : Paul Greengrass
Produser : Scott Rudin, Michael
DeLuca, Kevin Spacey, Dana
Brunetti
Penulis Naskah : Billy Ray
Pemain : Tom Hanks, Barkhad Abdi, Catherine
Keener dll
Genre : Drama, Aksi, Biografi
Durasi : 134 menit
Studio : Columbia Pictures
Tanggal Rilis Perdana : 11 Oktober 2013
K
apal Maersk Alabama
mengangkut kargo
sebesar 17.000 ton
bersama dengan 20 orang awak
dan Kapten Richard Phillips.
Kapten Phillips cukup mengerti
bahwa mereka akan melewati
area pesisir yang berbahaya
karena adanya aktivitas
perompak laut, sampai di hari
berikutnya mereka menyadari
ada dua kapal kecil yang
tengah mengikuti mereka
dari belakang. Kapten Phillips
sudah menduga bahwa kedua
kapal tersebut adalah kapal
perompak. Usaha keras pun
dilakukan untuk menghindari
Diangkat
dari kisah
nyata, film ini
mengingatkan
bahwa
perompakan
bukan hanya
ada di dunia
dongeng.
Foto : Google
www.persakademika.com / @persakademika
17
CAPTAIN PHILLIPS
kedua kapal perompak mencapai kapal
Maersk Alabama.
Namun, usaha Kapten Richard Phillips
menjauhkan kapal Maersk Alabama
dari kapal perompak gagal. Perompak
bersenjata api berhasil naik ke atas
kapal, Kapten Phillips beserta beberapa
kru yang berada bersamanya ditawan.
Kapten Philips yang akhir cerita berhasil
diselamatkan harus berlumuran darah
dari sang perompak yang tertembak tim
penyelamat.
Film yang kabarnya adalah kisah nyata
ini mampu membuat penonton turut
merasakan kengerian serta ketegangan
dari bahaya yang harus pemain
alami dalam flm. Tak hanya sekedar
memberikan unsur thriller, karakter
Kapten Richard Phillips yang dimainkan
Tom Hanks mampu memperlihatkan
emosi serta kepribadian seorang kapten
kapal yang bertanggung jawab dan
berjuang menyelamatkan kapal beserta
awaknya.
Sayangnya, awal cerita flm yang
disutradarai Paul Greengrass ini alurnya
sangat datar. Film ini juga terfokus
untuk menonjolkan karakter dari Kapten
Phillips dan keempat perompak kapal,
sedangkan karakter lain tidak begitu
ditampilkan secara mendalam. Namun,
kekuatan karakter Sang Kapten Philips
dapat menjadi fokus yang menarik.
Film Captain Phillips yang
dirilis tahun 2013 ini bisa dikatakan
sebagai salah satu flm yang berhasil
menggambarkan ulang insiden
pembajakan kapal dengan cukup baik.
Berhasil menyelami emosi penonton.
Pengalaman mencekam teror di laut,
bumbu drama yang cukup emosional,
serta kemampuan akting dari para tokoh
utamanya membuat flm berdurasi
134 menit ini layak menjadi salah satu
tontonan yang menarik. (Yuni)
18
BULETIN AKADEMIKA EDISI III - JUNI 2014
LAPORAN KHUSUS
Sang cakra jingga mulai menghilang
bersama keanggunannya di langit senja.
Kini, sinar rembulan yang menggantikan
singgasana di langit penuh bintang. Gde
Putra memarkir motornya di halaman
rumah. Pria jangkung berambut ikal
itu menuju ruang tamu. Tampak ada
seorang wanita dan dua orang pria lain
telah datang lebih dulu di sana. Mereka
sering bertemu di rumah ini untuk
sekadar bercengkrama dan bertukar
pikiran. Gde Putra memperkenalkan
Roro dan dua orang temannya yang
lain. Suasana perkenalan yang hangat
membuka perbincangan kecil ini. Lalu,
Putra menceritakan tentang Taman 65.
Taman 65 merupakan suatu
komunitas yang statusnya tentu berbeda
dengan LSM. Komunitas ini tidak
mengenal istilah anggota, ketua, dan
sebagainya, tuturnya santai.
Putra, salah satu anggota komunitas
ini mengatakan Taman 65 muncul dari
keluarganya sebab ada sekitar empat
kakek di rumahnya menghilang pada saat
peristiwa tahun 1965. Orang tua Putra
Orang Bali yang sering dicitrakan damai, polos, sopan, dan
berbudaya, sebaiknya harus melihat kembali apa yang sebenarnya
terjadi pada tahun 1965.
Peristiwa Enam Lima:
Korban Rekayasa Sejarah
www.persakademika.com / @persakademika
19
pun tidak pernah menerangkan ke mana
para kakek ini pergi. Demi menghalau
rasa penasaran, Putra membentuk Taman
65 dengan tujuan mempelajari sejarah
peristiwa tersebut sebelum semakin
digelapkan oleh pemerintah. Taman
65 juga sering mendatangkan eks tapol
(bekas tahanan politik) untuk berdiskusi
dan mempelajari sejarah peristiwa 1965
secara mendalam.
Roro, yang juga anggota dari Taman
65 bercerita tentang pembantaian massal
di Tegalbadeng. Pembantaian tersebut
berawal dari seorang tentara bernama Pan
Santun yang sedang mengadakan sebuah
rapat dengan keluarganya di sebelah barat
Pura Pande di Tegalbadeng.
Rapat keluarga tersebut membahas
tentang rencana penyelenggaraan upacara
adat. Namun, rapat ini diisukan sebagai
rapat gelap PKI yang akan menyerbu Kota
Negara, Jembrana, cerita Roro.
Mereka pun diserbu oleh gerakan
pemuda Anshor dan tentara lokal, saat
tengah mengadakan rapat tersebut pada
30 November 1965. Satu orang tentara
dan satu orang pemuda Anshor tewas.
Tewasnya dua orang ini tentu memicu
kemarahan yang sangat dahsyat dari pihak
tentara dan masyarakat. Sebelumnya,
penyerangan sempat terjadi di Tegal-
badeng pada tanggal 1 November 1965.
Foto : ArySandy/Aka
Toko Wong - saksi bisu pembantaian tahanan yang tetap kokoh berdiri.
20
BULETIN AKADEMIKA EDISI III - JUNI 2014
Sehari kemudian terjadi peristiwa
penembakan serta pembantaian di Toko
Wong. Roro mengetahui hal ini dari
seorang teman yang juga anggota Taman
65.
Antara peristiwa G30S/PKI dan 1965
harus dipisahkan. Roro mengungkapkan
bahwa peristiwa 1965 tersebut bermula
dari kematian 7 jenderal di Jakarta.
Kabarnya mereka berperan penting
dalam perpolitikan Indonesia saat itu.
Lalu muncul isu-isu yang disebarluaskan
oleh media propagandis yang kemudian
masuk ke Bali dan membakar amarah
masyarakat. Hal ini membuat ketakutan
yang luar biasa, baik dari sisi PKI maupun
masyarakat. Walaupun sebenarnya
orang-orang tidak begitu tahu apa yang
terjadi di Jakarta.
Peristiwa pembunuhan tujuh
jenderal ini merupakan induk dari
peristiwa lain seperti pembunuhan jutaan
warga Indonesia tanpa proses hukum.
Kemudian berlanjut pada pemenjaraan,
pemerkosaan, perampasan hingga
pembuangan orang tanpa proses hukum.
Terakhir, ada dominasi persepektif
sejarah Indonesia yang membutakan
masyarakat.
Sejarah peristiwa 1965 masih
menjadi misteri karena ditutupi dengan
sejarah palsu yang dibuat oleh pemerintah
yang berkuasa saat itu. Pemerintah
mengeluarkan banyak buku dan tayangan
yang mendominasi persepsi masyarakat.
Sejarah yang dibuat oleh
Foto : ArySandy/Aka
Bale Bengong - Lokasi pembantaian sebelum akhirnya korban ditanam di Pantai Candi Kesuma
LAPORAN KHUSUS
www.persakademika.com / @persakademika
21
pemerintah sangat monolitik. Pemerintah,
dalam hal ini dari zaman orde baru sampai
reformasi juga bisa dikatakan sebagai
tersangka karena membiarkan hal tersebut
terjadi. Mereka membiarkan banyak
nyawa melayang tanpa proses hukum,
tegas Roro.
Sebelum dibumihanguskan, PKI
merupakan partai yang progresif, sebuah
partai yang ingin me-nasionalisasi-kan
segalanya, mendukung nasionalisasi
dan gerakan buruh, mereka juga
meminimalisir investor asing. Namun saat
PKI dibumihanguskan, saat itulah investor
mulai berjamuran, terutama di Bali. Pada
saat itu di Bali sendiri 80.000 orang tercatat
tewas dalam buku yang ditulis oleh Robert
Cribb, belum lagi yang tidak tercatat.
Kita sudah diracuni oleh pariwisata.
Para intelektual Bali lebih suka menulis
yang indah-indah tentang Bali. Justru
para intelektual Barat yang lebih tertarik
mengupas tentang peristiwa ini, sambung
Putra. Sembari menutup perbincangan
hari itu, Roro menganalogikan peristiwa
1965 seperti luka borok. Jika luka tersebut
sudah ada, maka luka itu akan memakan
kita terus. Sekarang pilihannya adalah
apakah kita akan mengobati luka tersebut,
atau membiarkannya. Resikonya, kalau
kita biarkan luka itu, kita akan mati
olehnya, karena luka itu terus ada. Jika kita
mengambil resiko untuk mengobatinya,
kita juga tidak akan tahu apakah kita akan
hidup atau mati, ungkap Roro.
Respon dari keluarga korban pun
bermacam-macam. Ada tiga jenis respon
keluarga korban mengenai peristiwa
1965 ini, yakni dari keluarga korban dari
golongan atas, tidak ingin kompensasi tapi
pengakuan kesalahan dari pemerintah.
Sedangkan korban dari golongan bawah
menuntut kompensasi dan ada juga
dari mereka yang apatis, bersikap acuh
terhadap kasus ini. Namun menurut Putra,
kebanyakan keluarga korban sudah ikhlas.
Ada banyak cara untuk mengikhlaskan
kepergian keluarga dari orang-orang
yang terbunuh, salah satunya upacara
ngaben secara simbolis sekitar tahun 1972
seperti halnya yang Putra lakukan untuk
mendiang kakeknya. Hal ini dilakukan
karena keluarga korban merasa dihantui
korban yang tak bersalah.
Membunuh orang atas dasar
nasionalisme, diibaratkan sesuatu
yang sah. Itulah mengapa kita harus
membongkar peristiwa itu, agar ada
jaminan ketika mengkritisi pemerintah
atau saat kita melakukan sesuatu yang
baik, kita tidak bisa dijadikan tumbal,
tutup Putra dengan semangat. (Ary, Santia)
22
BULETIN AKADEMIKA EDISI III - JUNI 2014
JEJAK
B
ali, terkenal akan pesona
keindahannya. Kebanyakan
wisatawan hanya mengetahui
daya tarik wisata di kawasan Bali
Selatan tempat wisata yang ada di Bali
Selatan. Pernahkah tertarik mengunjungi
daya tarik wisata di kawasan Bali
Utara? Brahmavihara-Arama, salah satu
pilihannya.
Brahmavihara-Arama adalah
tempat suci agama Budha yang terletak
di Kecamatan Banjar, Kabupaten
Buleleng. Tempatnya agak jauh dari
keramaian kota. Perjalanan menuju
Wihara ini memakan waktu sekitar
empat jam dari Kota Denpasar. Sesampai
di Wihara, rasa lelah saat perjalanan
pun seolah terbayar. Pemandangan
bangunan suci yang indah siap membuat
pengunjung berdecak kagum.
Bukan hanya datang untuk
sembahyang saja datang ke tempat ini,
ada juga yang sekedar lancong. Tempat
ini selalu ramai pengunjung saat hari-
hari besar, yaitu Waisak, Katina, Asada,
dan Maga Puja, ujar Made Antara,
penjaga Brahmavihara-Arama.
Bangunan suci Wihara ini terbagi
menjadi tiga, yaitu halaman depan
(tengah, kanan, kiri), halaman tengah,
Brahmavihara-Arama, Wisata
Tempat Suci di Kawasan Bali Utara
Borobudur mini atau miniatur Borobudur, salah satu bangunan suci yang berfungsi sebagai tempat meditasi.
www.persakademika.com / @persakademika
23
dan halaman atas. Setiap halaman
memiliki beberapa bangunan suci yang
berbeda sesuai dengan fungsinya.
Persembahyangan di Wihara ini
dilakukan pada periode tertentu sesuai
dengan ajaran agama Buddha.
Saya dan keluarga selalu
bersembahyang di sini setiap 15 hari,
seperti dalam agama Hindu setiap
Purnama dan Tilem, sahut Putu Pariasa,
salah seorang pengunjung yang datang
bersama keluarganya.
Wihara ini tak serta merta dibangun
begitu saja, namun sarat akan sejarah.
Oleh karena itu, pengurus Brahmavihara-
Arama menyusun buku yang berjudul
Sekelumit Tentang Brahmavihara-
Arama pada tahun 1986. Berdasarkan
buku tersebut, Wihara ini dibangun
oleh seorang Bhikkhu penyebar Buddha
Dharma, yaitu Bhikkhu Girirakkhito.
Bhikkhu Girirakkhito memilih Kecamatan
Banjar untuk membangun Wihara ini
karena mudah dijangkau oleh umat dan
suasana yang tenang. (Yoga)
Salah satu patung Buddha yang sedang
bermeditasi di bawah pohon
24
BULETIN AKADEMIKA EDISI III - JUNI 2014
BUDAYA
W
as was adalah perasaan
setiap orang tua di Bali
(yang beragama Hindu) ke-
tika menerima kenyataan bahwa anakn-
ya lahir pada Wuku Wayang. Sifat keras
kepala dan beberapa hal buruk lainnya
diyakini akan menimpa putranya jika
tidak segera melakukan ruatan. Lantas
ruatan apa yang mereka laksanakan?
Berbicara tentang kelahiran anak
pada wuku wayang, maka yang terbersit
di benak kita tentang sosok Dewa Kala
yang merupakan putra dari Dewa Siwa
dan Dewi Uma. Selanjutnya, Dewa Ka-
la-lah yang akan menjadi tokoh utama
dalam cerita mebayuh Wayang Sapuh
Leger.
Pada suatu hari Dewa Kala bertan-
ya pada ayahnya Makanan apa yang
boleh aku makan? Sang ayah men-
jawab, Makanan yang boleh kau san-
tap adalah adalah orang orang yang
lahir menyamai kelahirannya. Ternyata
lahirlah Putra Dewa Siwa yakni Rare
Kumara yang lahir menyamai kelahiran
Mebayuh Sapuh Leger,
Jauhkan Anak Wuku Wayang
dari Mala
Dewa Kala. Di sinilah keyakinan tentang
ruatan Wayang Sapuh Leger berkem-
bang.
Tatkala dikejar oleh Dewa Kala,
Rare Kumara lari terbarat birit hing-
ga tiba di alam manusia. Setelah lama
bersembunyi akhirnya Rare Kumara
menonton pertunjukan wayang namun
hampir saja tertangkap Dewa Kala.
Mula mula Rare Kumara bersembunyi
di balik punggung sang dalang. Den-
gan sigap Dewa Kala mengejar, hingga
Rare Kumara lari menuju ke belakang
kekayon. Melihat wajah Rare Kumara
sang dalang iba, atas bantuan dari sang
dalang, Rare Kumara bersembunyi pada
daun gender.
Dewa Kala yang lelah mengejar
akhirnya langsung menyantap sesajen
pertunjukan wayang. Sang dalang mar-
ah dan untuk merendamkan kemarahan
sang Dalang, Dewa Kala menyebutkan
sebuah mantra yang luar biasa untuk
menangkal hal hal yang buruk yang
akan menimpa anak yang lahir pada
www.persakademika.com / @persakademika
25
wuku wayang. Tentunya dengan tambah-
an sesaji dan tirta dari yang lemah sapuh
leger tersebut.
Kata Sepuh Leger berasal dari kata
Sepuh dan Leger yang artinya pembersi-
han dari kekotoran dan masyarakat lakon
ini ditampilkan melalui pertunjukkan
wayang. Secara keseluruhan, Wayang
Sapuh Leger adalah drama ritual den-
gan sarana pertunjukkan wayang kulit
yang bertujuan untuk pembersihan atau
penyucian diri seorang akibat tercemar
atau kotor secara rohani. Banyak versi
lain yang menggambarkan cerita dan
mitologi ini. Namun keyakinan ten-
tang anak anak yang lahir pada
wuku wayang harus diruat masih ber-
tahan hingga saat ini.
Dilihat dari segi ekonomi,
bayuhan wayang sapuh leger me-
mang memerlukan
biaya yang relatif
besar. Selain mem-
buat persembahan
seperti banten, orang tua dari
anak anak yang lahir pada
wuku wayang (lebih lebih pada
Tumpek Wayang) harus ngupah
wayang (mengadakan pertun-
jukan wayang). Wayang yang di-
upah biasanya dipentaskan pada
siang hari (saat matahari masih tampak
dan disebut sebagai wayang lemah).
Kekhasan lainnya, karena wayang ini
adalah wayang lemah maka pertunjukan
wayang ini tidak menggunakan kelir, lay-
aknya wayang wayang pada umumnya.
(Dharma)
26
BULETIN AKADEMIKA EDISI III - JUNI 2014
OPINI
ANTARA WAKIL RAKYAT
ATAU LSM BERPLAT MERAH
DPD RI :
S
ejak dilakukannya amandemen
keempat UUD 1945 pada 11
Agustus 2002, Indonesia mengarah
pada sistem parlemen dua kamar
(bicameral system). DPD dilembagakan
berdasarkan Bab VII A Pasal 22C dan
22D. Namun menurut ahli hukum tata
negara dari Universitas Brawijaya,
Malang, M. Ali Syafaat, adopsi sistem
ini masih setengah hati. Karena dalam
Pasal 22D UUD 1945, kewenangan yang
diberikan kepada DPD masih terbatas.
Ada peribahasa yang mengatakan:
tiada rotan akar pun jadi. Peribahasa ini
agaknya ungkapan yang tepat untuk
mengungkap peran DPD dalam proses
legislasi. Sebab, rotan yang dibutuhkan
wewenang penuh DPD dalam proses
legislasi- tidak dimiliki oleh DPD.
Sudah digariskan dalam konstitusi,
wewenang DPD yang hanya memberikan
pertimbangan dalam keseluruhan
fungsi lembaga perwakilan: legislasi,
pengawasan, dan anggaran (budgeter).
Sementara keseluruhan pengambilan
keputusan dilakukan oleh DPR.
Sitem demokrasi yang kita anut
sekarang, sumber kekuasaan atau
sumber mandat untuk berkuasa adalah
pada rakyat, yang dalam hal ini lewat
pemilihan umum. Mandat DPR dan
DPD sama-sama berasal dari rakyat.
Tapi keduanya punya perbedaan
yang sangat fundamental secara
konstitusional: DPR berkuasa, DPD tidak
berkuasa. Ketimpangan itu sah secara
Oleh : Ni Ketut Ari Puspita Dewi
Fungsi Dewan Perwakilan Daerah
(DPD) RI tidak begitu menggigit karena
desain konstitusinya salah. Suaranya
hanya sekadar suara yang tidak terlalu
diperhitungkan oleh DPR, maka
itulah DPD ibarat LSM berplat merah.
Banyak masyarakat yang tidak paham
dengan peran DPD. Lantas, perlukah
masyarakat memilih anggota DPD?
Foto : Google
www.persakademika.com / @persakademika
27
konstitusional, tapi belum tentu sah secara
demokratik atau menurut keinginan rakyat.
Apakah betul rakyat mendukung
ketentuan bahwa DPD tidak perlu
punya wewenang untuk membuat
keputusan tentang undang-undang yang
berkaitan dengan daerah? Tanpa ada
peningkatan peran dan fungsi seperti
selama ini, yaitu menampung aspirasi
kemudian menyerahkan sepenuhnya
tindak lanjut aspirasi masyarakat
kepada DPR, DPD tak ubahnya seperti
lembaga swadaya masyarakat (LSM).
Lembaga Swadaya Masyarakat
atau yang biasa kita sebut dengan nama
LSM adalah organisasi yang dibangun
oleh seseorang atau kelompok untuk
memberikan layanan dan bantuan kepada
masyarakat tanpa mengambil untung.
LSM berbeda dengan lembaga
negara lain di Indonesia. Salah satu
perbedaannya adalah LSM bukan dimiliki
oleh pemerintah. Oleh karena itu, LSM
mempunyai program kerja sendiri yaitu
mendengarkan aspirasi masyarakat,
pemberdayaan masyarakat, bantuan ke
masyarakat, sampai pada fungsi kontrol
terhadap pemerintah dan aparat yang ada.
Namun dilihat lebih dalam lagi,
terdapat banyak LSM yang tidak memiliki
tugas dan juga program kerja jelas di
Indonesia ini. LSM tidak dipegang atau
dikontrol oleh pemerintah. Jadi, LSM
tersebut dapat menjalankan pekerjaannya
dengan sesuka hati atau bahkan jarang
melaksanakan program kerjanya.
Sama halnya seperti DPD. Ia dibentuk
hanya untuk mengakomodasi keinginan
tokoh-tokoh daerah atau nasional yang
ingin masuk ke dalam lingkaran kekuasaan
tanpa melalui partai politik. Tak dipikirkan
lebih jauh mengenai fungsi yang ideal
bagi DPD. Berapa besar anggaran negara
yang dihabiskan hanya untuk membiayai
pemilihan anggota DPD dan membayar
penghasilan anggota DPD tanpa dapat
mengukur hasil kerjanya? Apakah kinerja
DPD dapat begitu saja diukur dari
banyaknya pertimbangan yang diberikan
kepada DPR? Perlukah masyarakat
untuk memilih anggota DPD RI?
Sebaiknya masyarakat berpikir
ulang untuk memilih anggota DPD RI,
karena menurut saya tidak ada peran
dan fungsi yang kuat dari DPD RI. Buat
apa masyarakat menggunakan hak
suaranya untuk memilih calon wakil
daerah jika mereka tidak bisa berbuat
banyak untuk daerah atau konstituen
yang diwakilinya? Lebih baik hapuskan
saja jabatan DPD daripada perannya
layaknya LSM yang berplat merah.
Pelindung: Rektor Universitas Udayana.
Penasihat: Pembantu Rektor III Universitas
Udayana.
Ketua Unit/Pemimpin Umum: Jaya Kusuma.
Pemimpin Redaksi: Alit Purwaningsih.
Redaktur Pelaksana: Nila Pertna Dewi, Dharma
Yant, Resita Yuana, Indah Kusuma.
Editor: Ary Pratwi, Vera Aryantni, Diah
Dharmapatni.
Tim Redaksi: Resita, Mentari, Yuni R.S., Andis,
Santa, Ary Sandy, Hartna, Yuni Surya, Ari
Puspita, Dhamma, Yoga, Dharma.
Layouter: Sangga, Bagus, Sui.
Ilustrasi: Sangga.
Redaksi menerima kiriman artkel, opini,
masukkan, kritk, saran atau tanggapan
tentang kehidupan civitas akademika
Universitas Udayana.
Tulisan bisa dialamatkan langsung ke
Sekretariat Pers Mahasiswa Akademika
Jl. Dr. R. Goris No. 7A, Denpasar
atau dikirim lewat email ke
pers_akademika@yahoo.com.
redaksi berhak menyuntng isi tulisan
sepanjang tdak
menyimpang esensi tulisan.
www.persakademika.com
@persakademika
Taki - Takining Sewaka Guna Widya