Anda di halaman 1dari 5

Ryan Rusyda

12.22.6493
Pembiayaan Salam
Ascarya, Akad dan Produk Bank Syariah, (Jakarta: Rajawali Pers, 2011), hlm.90.
Pengertian As-Salam dan Dasar Hukumnya
As-Salam secara bahasa memiliki banyak arti, di antaranya adalah at-taqdm waat-taslm
(mendahulukan dan menyerahkan). As Salam terkadang dikenal juga dengan sebutan As Salaf
atau Pendahuluan.
Bai as-Salam, atau biasa disebut dengan salam, merupakan pembelian barang yang
pembayarannya dilunasi dimuka, sedangkan penyerahan barang dilakukan di kemudian hari.
Akad as salam ini digunakan untuk memfasilitasi pembelian suatu barang (biasanya barang hasil
pertanian) yang memerlukan waktu untuk memproduksinya.
Dalam jual beli salam ini, resiko terhadap barang yang diperjualbelikan masih berada
pada penjual sampai waktu penyerahan barang. Pihak pembeli berhak untuk meneliti dan
dapat menolak barang yang akan diserahkan apabila tidak sesuai dengan spesifikasi awal yang
disepakati.
Bai as-salam biasanya dipergunakan pada pembiayaan bagi petani dengan jangka waktu
yang relatif pendek, yaitu 2-6 bulan. Karena yang dibeli oleh bank adalah barang seperti padi,
jagung, dan cabai, dan bank tidak berniat untuk menjadikan barang-barang tersebut sebagai
simpanan atau inventory, dilakukanlah akad bai salam kepada pembeli kedua, misalnya kepada
Bulog, pedagang pasar induk, atau grosir. Inilah yang dalam perbankan Islam dikenal dengan
salam paralel.
Baias-salam juga dapat diaplikasikan pada pembiayaan barang industri, misalnya
produk garmen (pakaian jadi) yang ukuran barang tersebut sudah dikenal umum. Caranya, saat
nasabah mengajukan pembiayaan untuk pembuatan garmen, bank mereferensikan
penggunaan produk tersebut. Hal ini berarti bahwa bank memesan dari pembuat garmen
tersebut dan membayarnya pada waktu pengikatan kontrak. Bank kemudian mencari pembeli
kedua. Pembeli tersebut bisa saja rekanan yang direkomendasikan oleh produsen garmen
tersebut.bila garmen itu telah selesai diproduksi, produk tersebut diantarkan pada rekanan
tersebut. Rekanan kemudian membayar kepada bank, baik secara mengangsur maupun tunai.

Akad bai salam diperbolehkan dalam akad jual beli. Berikut dalil-dalil (landasan
syariah)yang terdapat dalam Al-Quran dan hadits:
Al-Qur'an:
Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu bermu`amalah tidak secara tunai untuk
waktu yang ditentukan, hendaklah kamu menuliskannya (Al-Baqarah 2: 282).
Al-Hadits:
1. Ibnu Abbas meriwayatkan bahwa Rasulullah saw. datang ke Madinah dimana penduduknya
melakukan salaf (salam) dalam buah-buahan (untuk jangka waktu) satu, dua, dan tiga
tahun. Beliau berkata, "Barangsiapa yang melakukan salaf (salam), hendaknya ia melakukan
dengan takaran yang jelas dan timbangan yang jelas pula, untuk jangka waktu yang
diketahui.
2. Imam Bukhari dan Imam Muslim meriwayatkan bahwa Nabi SAW datang ke Madinah di mana
mereka melakukan jual beli As salaf untuk penjualan buah-buahan dengan waktu satu tahun
atau dua tahun. Lalu rasulullah SAW bersabda: Siapa yang melakukan salaf, hendaknya
melakukannya dengan takaran yang jelas dan timbangan yang jelas pula, sampai dengan
batas waktu tertentu.

Rukun dan Syarat Jual Beli As-Salam
Rukun:
1) Muaqidain : Pembeli (muslam) dan penjual ( muslam ilaih)
a. Cakap bertindak hukum ( baligh dan berakal sehat).
b. Muhtar ( tidak dibawah tekanan/paksaan).


2) Obyek transaksi ( muslam fih):
a. Dinyatakan jelas jenisnya
b. Jelas sifat-sifatnya
c. Jelas ukurannya
d. Jelas batas waktunya
e. Tempat penyerahan dinyatakan secara jelas
3) Sighat ijab dan qabul
4) Alat tukar/harga
a. Jelas dan terukur
b. Disetujui kedua pihak
c. Diserahkan tunai/cash ketika akad berlangsung

Sedangkan syarat yang harus dipenuhi sebagai berikut:
a. Pembayaran dilakukan dimuka (kontan)
b. Dilakukan pada barang-barang yang memiliki kriteria jelas
c. Penyebutan kriteria barang dilakukan saat akad dilangsungkan
d. Penentuan tempo penyerahan barang pesanan
e. Barang pesanan tersedia pada saat jatuh tempo
f. Barang pesanan adalah barang yang pengadaannya dijamin pengusaha

Ketentuan umum Salam :
- Pembelian hasil produksi harus diketahui spesifikasinya secara jelas, seperti jenis,
macam, ukuran, mutu, dan jumlahnya. Misalnya jual beli 1 ton cabe merah keriting
dengan harga Rp. 10.000-/kg, akan diserahkan pada panen dua bulan mendatang.
- Apabila hasil produksi yang diterima ternyata tidak sesuai dengan akad maka nasabah
(produsen) harus bertanggung jawab, dengan cara antara lain mengembalikan dana
yang telah diterimanya atau mengganti barang yang sesuai dengan pesanan.
- Mengingat bank tidak menjadikan barang yang dibeli atau dipesannya sebagai
persediaan (inventory), maka dimungkinkan bagi bank untuk melakukan akad salam
kepada pihak ketiga (pembeli kedua). Mekanisme seperti ini disebut dengan salam
paralel.

Jual Beli Salam Paralel
Salam paralel berarti melakukan dua transaksi bai as salam antara bank dan nasabah, dan
antara bank dan pemasok (suplier) atau pihak ketiga lainnya secara simultan.1[5]
Adapun syarat yang harus dipenuhi dalam salam paralel yaitu:
1. bank masuk kedalam dua akad yang berbeda, pertama bank bertindak sebagai pembeli
dan yang kedua bank bertindak sebagai penjual.
2. hanya boleh dilakukan dengan pihak ketiga.

Contoh Jual Beli Salam
Seorang petani yang memiliki 2 hektar sawah mengajuan pembiayaan sebesar Rp.
5.000.000,00. Pembiyaan tersebut sudah mencakup ongkos bibit dan upah pekerja. Ia
berencana menanami sawahnya dengan bibit jenis IR36 yang bila telah digiling menjadi beras
dijual dipasar dengan harga Rp. 2.000,00 per kg. Penghasilan yang di dapat dari sawahnya
biasanya berjumlah 4 ton beras per hektar. Ia akan mengantar beras ini setelah 3 bulan.
Bagaimana cara perhitungannya?
Jawaban:
Jumlah pembiayaan yang diajukan oleh petani sebesar Rp. 5.000.000,00, sedangkan harga
beras IR36 di pasar Rp. 2.000,00 per kg. Karenanya, bank bisa membeli dari petani sebanyak 2,5
ton (Rp. 5.000.000,00 dibagi Rp. 2.000,00 per kg). Beras tersebut dapat dijual kepada pembeli
berikutnya. Setelah melalui negoisasi, bank menjualnya sebesar Rp. 2.400,00 per kg., yang
berarti total dana yang kembali sebesar Rp. 6.000.000,00 (dibilang secara umum, bank
mendapat keuntungan jual beli, bukan pembuangan uang, sebesar 20% margin).