Anda di halaman 1dari 5

Keuntungan Tumbuhan Transgenik

Tumbuhan transgenik memiliki banyak keuntungan terutama di bidang


agrikultur. Keuntungan di bidang agrikultur misalnya resistensi terhadap hama,
ketahanan terhadap kondisi lingkungan, baik faktor biotik maupun abiotik, dan hasil
yang lebih banyak. Selain keuntungan bidang agrikultur, tumbuhan transgenik juga
digunakan utnuk memproduksi zat-zat tertentu, misalnya yang berguna di dunia
farmasi.
Salah satu keuntungan tumbuhan transgenik yang jelas bagi petani adalah
tumbuhan menjadi tahan terhadap hama tertentu. Contohnya, pepaya resisten papaya-
ringspot-virus telah dikomersialisasikan dan tumbuah di Hawaii sejak 1996.
Keuntungan bagi lingkungan dari tumbuhan tahan hama yaitu menurunnya
penggunaan pestisida. Tumbuhan transgenik mengandung gen resisten hama dari
Bacillus thuringiensis menjadikan kemungkinan penurunan pemakaian insektisida
secara signifikan di tumbuhan kapas di Amerika. Akan tetapi populasi hama dan
penyebab penyakit mampu segera beradaptasi dan menjadi resisten pada pestisida,
dan kemungkinan juga kan terjadi hal yang sama pada tumbuhan transgenik. Selain
itu, gen resisten hama yang dikembangkan di Amerika belum tentu sesuai dengan
lokasi lain, misalnya untuk daerah tropis, diperlukan penelitian lebih lanjut mengenai
aplikasinya.
Keuntungan lainnya dari tumbuhan transgenik adalah hasil yang lebih
melimpah. Salah satu contohnya yaitu dikembangkannya varietas gandum semi kerdil
dengan hasil melimpah. Gen yang bertanggungjawab untuk reduksi tinggi tumbuhan
yaitu Japanese NORIN 10 (gen kerdil, gibberelin insensitif), gen ini diintroduksikan
pada gandum. Gen ini memiliki dua keuntungan, yaitu mengkode tumbuhan yang
lebih pendek, lebih kuat, dan merespon pupuk lebih banyak tanpa terjadi collaps dan
meningkatkan hasil secara langsung dengan cara mereduksi elongasi sel pada bagian
vegetatif tumbuhan, sehingga memungkinkan tumbuhan untuk lebih menumbuhkan
bagian reproduktif tumbuhan yang dimakan. Gen ini telah diisolasi dan
didemonstrasikan untuk berperan sama saat digunakan pada tumbuhan jenis lain.
Teknik pengerdilan ini berpotensi untuk digunakan untuk meningkatkan produktivitas
pada berbagai tumbuhan dimana hasil ekonomisnya lebih pada bagian reproduktif
bukan vegetatif.
Ketahanan terhadap faktor biotik dan abiotik juga menjadi kelebihan dari
tanaman transgneik. Contohnya pada kasus penyebaran Rice Yellow Mottle Virus
(RYMV) yang menginfeksi dan mengahancurkan lahan padi secara langsung. Efek
sekundernya yaitu, tumbuhan padi yang bertahan hidup akan mudah terkena infeksi
fungi. Sehingga menyebabkan produksi padi di Afrika terancam. Kemudian ilmuwan
membuat padi transgenik yang memiliki sifat resisten terhadap RYMV, dengan begitu
masalah mengenai ketahanan / resistensi terhadap virus terselesaikan dengan
tumbuhan transgenik. Untuk contoh ketahanan teradap faktor abiotik yaitu tumbuhan
yang dimodofikasi untuk menghasilkan asam sitrat dalam jumlah banyak di akarnya
sehingga bisa lebih toleran terhadap kandungan alumunium yang tinggi di tanah yang
asam. Selian itu, gen gutD pada E. coli yang mengkode sifat ketahanan pada salinitas
diintroduksi pada tanaman jagung sehingga menghasilkan jagung transgenik yang
tahan terhadap salinitas dan bisa ditanam di lahan marginal.
Selain untuk menghasilkan tumbuhan yang toleran terhadap faktor tertentu,
tumbuhan transgenik juga sering dibuat untuk menghasilkan suatu zat tertentu.
Contohnya yaitu padi yang mampu memproduksi beta karoten dalam jumlah besar,
sehingga memiliki biji yang berwarna kuning keemasan dan dinamakan gold rice.
Gold rice ini berhasil mengatatasi masalah defisiensi vitamin A di anak-anak daerah
tropis karena mengandung beta karoten yang merupakan prekursor vitamin A.
Ilmuwan saat ini sedang menginvestigasi potensi tumbuhan transgenik untuk
memproduksi vaksin dan produk farmasi. Ini akan menjadikan produksi lebih mudah
dan lebih murah serta lebih menguntungkan. Vaksin untuk penyakit infeksi saluran
gastrointestinal telah diproduksi di tumbuhan , misalnya kentang dan pisang
(Thanavala et al 1995). Antibodi antikanker saat ini telah diekspresi pada biji padi dan
gandum yang mengenali kanker paru-paru, payudara, dan kolon dan akan sangat
berguna untuk diagnosis dan terapi kanker di masa depan.

Kerugian Tumbuhan Transgenik

Potensi resiko yang bisa ditimbulkan oleh tumbuhan transgenik bisa berupa
gangguan terhadap ekosistem atau gangguan kesehatan terhadap manusia. Adanya
gen marker pada tumbuhan transgenik telah menjadi perhatian publik bahwa gen
tersebut akan ditransfer ke organisme lain. Pada kasus merker resisten antibiotik, ada
ketakutan bahwa hal tersebut akan menyebabkan resistensi antibiotik pada bakteri.
Pada kasus marker resisten herbisida, dikawatirkan hal tersebut menyebabkan
pembentukan rumput (gulma) yang agresif.
Tanaman transgenik Bt merupakan tanaman transgenik pertama yang dilepas
di alam untuk tujuan komersial dan menempati urutan pertama dalam daftar tanaman
transgenik tahan hama. Tanaman transgenik Bt merupakan hasil rekayasa genetik
dengan mengintroduksi gen cry1A yang diisolasi dari bakteri gram positif B.
thuringiensis. Bakteri B. thuringiensis adalah bakteri yang pada proses sporulasinya
menghasilkan kristal protein yang bersifat toksik dan dapat membunuh serangga
(insektisidal) (Hofte dan Whiteley 1989). Kristal protein Bt yang bersifat insektisidal
sering disebut dengan -endotoksin. Kristal ini di alam merupakan protoksin yang jika
larut dalam usus serangga karena proses proteolisis akan diubah menjadi polipeptida
yang lebih pendek (27-149 kilo Dalton) serta mempunyai sifat insektisidal. Toksin
aktif ini ber-interaksi dengan sel-sel epitel dari usus (midgut) serangga. Toksin Bt
mengakibatkan terbentuknya pori-pori pada membran sel saluran pencernaan,
sehingga mengganggu keseimbangan osmotik sel tersebut. Sel yang terganggu
tekanan osmosisnya menjadi bengkak dan pecah, sehingga serangga mati.
Efek negatif dari tanaman transgenik Bt ini telah diteliti oleh beberpa peneliti
antara lain pada pengaruh pemberian dengan daun milkweed yang diambil disekitar
ladang jagung Bt. Milkweed (Asdepias sp.) merupakan tumbuhan yang umum
ditemukan di sekitar ladang jagung di AS. Milkweed merupakan satu-satunya
makanan lawa kupu-kupu monarch. Studi laboratorium membuktikan bahwa dosis
tinggi serbuk sari jagung Bt yang disebarkan di atas daun milkweed membunuh larva
kupu-kupu monarch.
Penelitian lain yang dilakukan oleh Hansen dan Obrycki (1999) menghasilkan
hasil yang sama. Mereka memberi makan larva kupu-kupu tersebut dengan daun
milkweed yang diambil disekitar ladang jagung Bt. Studi tersebut memperlihatkan
akibat negatif Bt jagung terhadap kehidupan kupu-kupu monarch yang hidup disekitar
ladang tersebut. Uji lapang dilakukan oleh peneliti lain.
Mereka menemukan bahwa paling sedikit 500 serbuk sari per cm untuk
menyebabkan larva kupu-kupu monarch sakit. Tumbuhan milkweed yang langsung
berdekatan dengan ladang jagung Bt terkontaminasi rata-rata 78 serbuk sari per cm
2
.
Delapan puluh delapan persen milkweed dalam jarak satu meter dari tanaman jagung
Bt tercemar serbuk sari dalam jumlah lebih rendah dari dari ambang batas toksisitas
terhadap larva kupu-kupu monarch.
Gangguan ekologis lain yang timbul karena tumbuhan transgenik yaitu
hilangnya spesies asli non transgenik. Hal ini dikarenakan tumbuhan transgenik
biasanya memiliki keunggulan lebih kompetitif terhadap kondisi lingkungan ekstrem.
Dengan begitu maka spesies asli non transgenik akan kalah dalam kompetisi dan bisa
mengalami kepunahan. Dengan hilangnya spesies asli dari suatu ekosistem maka akan
mengganggu keseimbangan ekosistem tersebut.
Transfer gen horizontal juga menjadi resiko yang timbul dari tumbuhan
transgenik. Penggunaan selectable marker gen resisten antibiotik pada tumbuhan
transgenik telah meningkatkan perhatian pada potensi transfer dari gen-gen tersbebut
pada bakteri di saluran pencernaan dan bakteri tanah atau pada sel hewan yang
memakannya. Kesimpulan dari review yang telah dilakukan oleh banyak ilmuwan
yaitu transfer DNA dari tumbuhan transgenik pada organisme lain sangat jarang
terjadi. Ada sejumlah barrier yang harus dilewati agar transfer gen horizontal terjadi:
gen harus bertahan terhadap pencernaan di saluran pencernaan atau tanah, sel bakteri
atau sel mamalia harus memiliki kemampuan untuk mengambil exogenous DNA,
DNA harus bertahan terhadap enzim restriksi yang dimiliki oleh host untuk
manggabungkan diri pada genom pada proses rekombinasi atau perbaikan DNA.
Lebih jauh lagi, jika transfer gen terjadi, tekanan selektif yang besar akan dibutuhkan
untu terjadinya transfer sehingga menjadi stabil. Data terbaru meningkatkan
kemungkinan transfer gen horizontal mungkin terjadi di bawah kondisi optimal alami
dari transplatomik tumbuhan ketika genom bakteri mengandung sekuens homolog
dengan transgen tumbuhan.
Transfer gen secara horizontal ini secara tidak langsung akan berakibat pada
kesehatan manusia. Hal ini dikarenakan kemungkinan transfer gen terjadi pada
mikroorganisme patogen yang terdapat pada saluran gastrointestinal manusia. Jika
transfer gen horizontal terjadi maka mikroorganisame patogen tersebut akan menjadi
eresisten terhadap antibiotik tertentu dan akan sulit untuk diobati jika sudah
menginfeksi manusia.
Alian gen horizontal juga mungkin terjadi antara tumbuhan trasngenik dengan
tumbuhan lair. Tumbuhan budidaya telah tumbuh berdekatan dengan gulma dalam
waktu yang relatif lama. Aliran gen dari tumbuhan budidaya ke gulma tergantung
pada apakah hibridaisasi dan introgresi mungkin terjadi. Sebagian besar tumbuhan
budidaya di dunia relatif dapat berhibridisasi dengan tumbuhan liar jika tumbuh di
tempat yang sama. Aliran gen dari tumbuhan budidaya ke tumbuhan liar mungkin
dapat menyebabkan perubahan signifikan pada populasi resipien, dan telah menjadi
perhatian tersendiri dimana area kultivasi tumbuhan budidaya tepat berada di tengah,
selain itu hibridisasi juga memungkinkan menjadi penyebab punahnya tumbuhan asli.
Potensi menyebarnya sifat resisten herbisida pada spesies liar dan tumbuhan
budidaya non transgenik telah menjadi perhatian. Aliran pollen antar kultivar canola
yang memiliki sifat resisten herbisida yang berbeda diketahui menghasilkan
penumpukan gen. Penelitian menunjukkan bahwa hal tersebut tergantung dari
lingkungan, varietas, dan faktor agronomi dalam kondisi alami lapangan, derajat
persilangan antara tumbuhan transgenik dengan tumbuhan tetangga yang
berhubungan varietasnya dapat memberi hasil yang berbeda. Peneltitian menunjukkan
bahwa aliran gen akan terjadi antara Brassica rapa dan B. napus ketika keduanya
tumbuh berdekatan tetapi tidak ditemukan adanya aliran gen dengan varietas lainnya
yang relatif dekat. Penanaman tumbuhan barrier yang berfungsi sebagai absorberdar
ipollen tumbuhan transgenik atau mengubah jarak isolasi untuk mencegah polinasi
silang dari tumbuhan transgenik kemungkinan bisa dilakukan.
Sejumlah pendekatan molekuler sedang dikembangkan untuk mencegah aliran
gen dari tumbuhan transgenik ke populasi tumbuhan lainnya dan tumbuhan liar.
Perkembangan transplastomic tumbuhan dimana transgen dimasukkan ke dalam
genom kloroplas merupakan teknologi yang menjanjikan untuk dikembangkan untuk
mengurangi nkemungkinan terjadinya transfer transgen melalui persebaran pollen.
Satu keistimewaan unik dari plastid yaitu diturunkan secara maternal, membatasi
potensi persebaran transgen melalui polen. Penelitian untuk menilai kemungkinan
masa depan transplastomic B. napus untuk berhibridisasi dengan B. rapa
mendemonstrasikan penurunan sifat secara maternal dari kloroplas pada hibrida B.
napus dan B. rapa dan disimpulkan bahwa ada persebaran dimediasi pollen pada
kloroplas dari minyak rapa. Walaupun ilmuwan merasa bahwa aliran gen akan jarang
terjadi jika tumbuhan diubah genetiknya pada genom kloroplas, tidak dapat
memutuskan secara keseluruhan kemungkinan introgresi B. rapa pada B. napus
sebagai induk betina. Sejuah ini tidak ada laporan transformasi kloroplas B. napus.
Transformasi kloroplas tumbuhan atau transplatomic telah dilakukan dimana
transplastomik yang stabil diidentifikasi hanya pada tembakau, tomat, dan
kentang. Penelitian pada tumbuhan lain diperlukan sebelum teknologi ini
diaplikasikan secara luas.
Potensi persebaran karakter transgenik pada tumbuhan liar telah menjadi
perdebatan untuk mengenai perlu tidaknya selectable marker genes di tumbuhan.
Meskipun jika aliran gen pada tumbuhan lain dan populasi tumbuhan non transgenik
tidak menjadi resiko lingkungan atau agrikultur, kemungkinan akan mengurangi
akseptansi publik secara serius pada tumbuhan transgenik. Selectabel marker hanya
akan berkontribusi pada tumbuhan liar jika ada keuntungan selektif dari marker bagi
tumbuhan liar. Di masa depan perkembangan selectable marker tumbuhan dipilih
yang tidak memberikan potensi keuntungan kompetitif. Pada kasus gen resisten
antibiotik, tidak ada bukti yang menyatakan bahwa gen ini memberikan keuntungan.
Bagaimanapun, sulit untuk memprediksi pengaruh individual selectable marker yang
mengubah metabolisme tumbuhan jika selectable marker terintrogresi pada spesies
liar.
Jadi, letak masalah terbesar dari tumbuhan transgenik adalah pada selectable
markernya. Sebaiknya untuk menghindari persebaran gen pada selectable marker
pada mikroorganisme patogen yang secara tidak langsung akan merugikan manusia
karena menghasilkan mikroorganisme patogen yang resisten antibiotik dilakukan
meinimalisir konsumsi bagian tumbuhan transgenik oleh manusia. Jadi tumbuhan
transgenik hanya digunakan untuk memproduksi zat-zat tertentu yang berguna dalam
bidang farmasi, pertanian, atau bidang lainnya asaa tidak dikonsumsi langsung oleh
manusia. Kemudian untuk masalah transfer gen horizontal pada spesies tumbuhan
liar, diperlukan metode transformasi lain. Metode tersebut yaitu dengan transformasi
genetik pada genom plastida tumbuhan. Jadi transfer gen yang biasanya dimediasi
oleh pollen dapat dihinadri. Atau untuk pencegahan lainnya dilakukan pemisahan
tanaman transgenik dari lingkungan luar. Kultivasi tumbuhan transgenik dilakukan di
lokasi yang terisolasi. Untuk pencegahan yang lebih jauh, maka dilakukan
penggantian selectable marker yang digunakan. Selectable marker yang umumnya
menggunakan gen resisten herbisida atau antibiotik diganti dengan gen yang dapat di
amati secara kasat mata karena diekspresikan secara kasat mata, misalnya gen yang
mengkode green fluorescens protein.



DAFTAR PUSTAKA

Bahagiawati, A. 2000. Peranan dan potensi dietary insecticidal protein dalam
rekayasa genetika tanaman tahan hama. AgroBio.