Anda di halaman 1dari 117

TINJAUAN TIORITIS

DIYPEPSIA


A.PENGERTIAN

Dyspepsia adalah suatu penyakit saluran cerna yang disertai dengan nyeri ulu hati ( epegastrium ),
mual,muntah,kembung-kembung, rasa penuh atau rasa cepat kenyang dan sendawa
Dyspepsia setring ditemukan dalam kehidupan sehari- hari, keluhan ini sangat berpariasi, baik dalam
jenis gejala yang ada maupun intensitas gejala tersebut dari waktu kewaktu
( KAPITA SELEKTA KEDOKTERAN )

B.KLASIFIKASI DYSPEPSIA
Dyspepsia dibagi menjadi dua yaitu :

1. Dyspepsia Organik

Terjadi apabila telah diketahuio adanya kelainan organik sebagai penyebab atau adanya kelainan
sistemik yang jelas misalnya ( tukak peptik, gastritis,pankriatitis,kolesitis dan lain-lainnya )

2, Dyspepsia Non Organik ( Dyspepsia fungsional/non ulkos )

Terjadi apabila tidak ada kejelasan penyebabnya atau tanpa didapat kelainan struktur/organik


C.EPIDEMIOLOGI

Penyakit ini sering diderita oleh masyarakat karena penyakit ini berhubungan dengan :

Keadaan sosial ekonomi masyarakat
Pola makan
Keadaan makanan



D.MANIFETASI KLINIS

Klasifikasi klinis praktis didasarkan atas keluhan/ gejala yang dominan, dibagi dalam tiga ( 3 )
katagore :

1.Dyspepsia dengan keluhan seperti ulkos ( Ulkus-Like Dyspepsia )
dengan gejala :

Nyei ulu hati ( epegastrium ) terlokalisasi
Nyeri hilang setelah makan atau pemberian antasid
Nyeri saat lapar
Nyeri epesodic

2.Sdyspepsia dengan gejala seperti dismotilitas ( DYSMOLITY- LIKE
DYSPEPSIA ) dengan gejala

Mual Kenyang
Perut cepat tersa penuh saat makan
M u a l
M u n t a h
Upper abdominal




3.Dus-pepsia non specifik ( tidak ada gejala seperti dua jenis
diatas ) pembagiab akut dan krunisk berdasarkan atas jangka
watu 3 bulan .


E.PATOFISIOLOGI

Dengan keretrtia ada tidaknya kelainan organik pada SCB, maka teori fatogenisisnya sangat
berpariasi, Berbagai usaha telah dilakukan untuk menerangkan korelasi yang ada antara keluhan
dengan sedikitnya temuan kelainan yang ada secara konvensional

F.PENATA LAKSANAAN

Berdasarkan konvensus Nasional penanganan Helicobakter Pylori 1996. ditetapkan penatalaksanaan
skema Dyspepsia yang dibeda bagi senta kesehatan dengan tenaga ahli ( gantrointerolog/ Internis )
yang disertai dengan fasilitas endoskope dengan penatalaksanaannya Dyspepsia di maasyarakat


G.DIAGNOSIS

Untuk menegakkan diagnosis dispepsia diperlukan anamnesis yang baik , pemeriksaan fisik yang
akurat disertai pemeriksan penunjang untuk mengeksklusikan penyakit organik/struktural. Adanya
keluhan tambahan yang mengancam ( Alarm simptom ) seperti adanya penurunan berat badan,
anemia, kesulitan menelan, perdarahan, dugaan obstruksi SCBA, dll, Mengharuskan kita melakukan
ekplorasi diagnosis secepatnya , Untuk itu pemeriksan esopsgos troduodenoscopi memegang
peranan penting, disamping peperiksaan radiologis, laboraturium, endoscope.(
Esopagos,gastrodudenoscopi,sidikan bdomen, monometri esopagos- gastroduodonum ) waktu
pengusungan lambung, Dyspepsia yang ditemukan setelah pemeriksaan penunjang yang akurat,
mempunyai prognosis yang baik.





H.DAFTAR PUSTAKA.

~ PAM Keperawatan Depkes RI Banjarbaru, Askep pada pasien Gangguan Sistem Pencernaan
(Gastritis) 1997.

~ Pusdiknakes, Askep pasien dengan Gangguan Sistem pencernaan Jilid 2 Edisi I, Jakarta 1990.

~ Soeparman, Ilmu Penyakit Dalam Jilid 2 Edisi 1 FKUI Jakarta 1997

~ Sujono Hadi, Gastro Entrologi, Bandung 1995.
















ASUHAN KEPERAWATAN PADA TN.D
DENGAN DIAGNOSA DYSPEPSIA



1. PENGKAJIAN

I. BIODATA.

A. IDENTITAS PASIEN
Nama : Tn.D
Umur : 46 th.
Jenis kelamin : Laki-laki
Pendidikan : P N S
Agama : Islam
Suku / Bangsa : Banjar / Indonesia.
Status perkawinan : Kawin
Alamat : Paringin ( Balangan )
Tgl masuk RS / Pusk : 10 Maret 2005
Tgl pengkajian : 12-02-05
Nomor register : 850.05
Dignosa medis : Dyspepsia


B. IDENTITAS PENANGGUNG JAWAB.

Nama : Ny.Rasunah ( Istri )
Umur : 46 Tahun.
Jenis kelamin : Perempuan
Pendidikan : SLTA
Pekerjaan : Ibu Rumah Tangga
Agama : Islam.
Alamat : Paringin ( Balangan )


II. RIWAYAT PENYAKIT.

A. Keluhan utama.

Nyeri pada daerah epigastrium/ Ulu hati disertai mual dan muntah, anorexia.nyeri pada kuadran
sebelah kanan dan kepala pusing.


B. Riwayat penyakit sekarang.

Keluhan nyeri pada kuadran sebelah kanan atas dan bawah , mual dan muntah dan anorixia
dirasakan pasien sejak seminggu yang lalu , sudah di obati di Puskesmas tapi tidak ada perbaikan,
kerumah sakit H.Daman Huri Barabai, selama dirumah sakit klein mual dan muntah kurang lebin 4
kali dan klein didiagnosa Dyspepsia.

C. Riwayat penyakit terdahulu.

Klein tidak pernah menderita penyakit menular seperti TBC juha tidak pernah hypertensi, Diabetis
Melitus, sedang riwayat penyakit keluarga klein menyatakan tidah ada yang menderita penyakit
seperti klein dan tidak ada penyakit TBC Juga hepertensi.






III. PEMERIKSAAN FISIK.

A. Keadaan umum.

Kesadaran : Komposmentis
Vital sign TD : 110 / 90 mmhg
Temp : 37, C.
Nadi : 80 x / mt
Resp : 24 x / mt
B. Kulit.

Lesi (-). WKK (-), Tanda peradangan (-).
Turgor kulit baik, cepat kembali < 1 detik.
Kelembaban kulit tampak kering.
Gejala Cyanosis (-).

C. Kepala.

Warna rambut hitam pekat, distribusi merata.
Kotoran kulit kepala / ketombe (-).
Bentuk simetris, tidak terdapat adanya benjolan.

D. Penglihatan.

Gerakan bola simetris, konjungtiva & membran mukosa
pucat.
Refleks terhadap cahaya (+).
Tidak ada gangguan penglihatan ( Visus ).

E. Penciuman & Hidung.

Bentuk hidung simetris.
Pernafasan cuping hidung (+).
Penciuman berfungsi baik, dapat membedakan aroma / bau.

F. Pendengaran & Telinga.

Bentuk telinga simetris dextra dan sinistra.
Tidak terdapat adanya sekret.
Pendengaran berfungsi baik, dapat bereaksi bila
dipanggil.

F. Mulut.

Mukosa bibir kering, lidah merah muda/
Gusi berwarna merah muda.
Jumlah gigi lengkap, tidak terdapat adanya lubang,
karang gigi / plak (-).

G. Leher.

Pulsasi vena jugularis (+) teraba kuat.
Tekanan vena jugularis (-).
Tidak ada pembatasan gerak leher.










I. Dada / Pernafasan / Sirkulasi.

Bentuk simetris, Retraksi dinding dada (+).
Fremitus vokal dextra & sinistra simetris.
Bj 1 dan Bj 2 tunggal, tidak trdengar adanya bunyi
nafas tambahan.

J. Abdomen.

Bentuk simetris, kembung (-).
Nyeri tekan daerah hipogastrik kiri, tidak teraba
pembesaran hati.
Bunyi timpany (+). Kembung (-).
Peningkatan bising usus (+).

K. Sistem reproduksi.

Jenis kelamin perempuan, Merarche usia 13 th.
Pola menstruasi 1 bulan sekali dengan lama 5 7 hari.
Disminorhoe selama menstruasi (-).

L. Ekstremitas atas & bawah.

Akral hangat, bentuk tangan simetris dextra dan
sinistra, jumlah jari lengkap. Tidak ada pembatasan
gerak ekstremitas atas.
Bentuk kaki simetris, tidak terdapat gejala / tanda
oedema. Jumlah jari lengkap. Tidak ada pembatasan gerak
ekstremitas bawah.


IV. KEBUTUHAN FISIK, PSIKOLOGIS, SOSIAL & SPIRITUAL.

A. Aktivitas & Istirahat.

Aktivitas sehari-hari sebagai Pensiunan bagu pagi-pagi
Istirahat siang 2 Jam
Istirahat malam sekitar 6 jam.

B. Personal hygiene.

Pola mandi 2 x sehari, gosok gigi 2 x sehari.
Sumber air bersih dari PDAM
Ganti baju 2 x sehari.

C. Nutrisi.

Pola makan 3 x sehari, menu bervariasi, terdiri dari
lauk dan pauk.
Kadang-kadang sore hari px suka jajan bakso.
Minum air putih antara 6 7 gelas perhari.












D. Eliminasi.

Pola BAB 1 x sehari, biasanya pada pagi hari.
Pola BAK 5 6 x sehari.
Tidak pernah ada keluhan / gangguan dalam pola
eliminasi.

E. Sexualitas.

BAIK.

F. Psikososial.

Saat mulai terjadi keluhan pasien selalu ditemani anak
dan keluarga lainya yang sangat berpartisipasi
terhadap keadaan pasien.
Pasien tampak cemas terhadap penyakitnya.

G. Spiritual.

Pasien beragama Islam.
Pasien percaya bahwa penyakitnya dapat disembuhkan
setelah berobat ke PKM atas izin dari Tuhan YME.


V. PROSEDUR DIAGNOSTIK DAN PENGOBATAN.


A. Laboratorium.

Typoid ( - )
Hemoglobin 15,2 Gram %
Lekosid 5980/mm3
L e d 20/40
Ureum 24,6
Kreatin 1,38
Hitung jenis Eos 0 %.Bas 0%Siab0% Seg 43%,Lymp 57% Mono 0%

B.Rontgen

Hasil :..


C.EKG.

Hasil :.


B. Pemeriksaan lain ( EEG, USG, CT Scan, dll ).


Hasil :.













E. Pengobatan :

Rl : D5 0,5 Ns : 28 /Tss
Ulsikur 1 Ampul : Tiap 8 Jam
Raclonid 1 Ampul : Tipa 8 Jam
Plantacid syruf : 3 x 2 Sdd/Hr.


VI. DATA FOKOS :


Inspeksi : Klein tampak lemah
Palpasi : Nyeri tekan pada kuadran kanan
Bawahdan atas dengan skla nyeri 2
( Nyeri sedang )
Perkusi : -
Auskultasi : -


VII. ANALISA DATA


DATA SUBYEKTIF & OBYEKTIF
ETIOLOGI MASALAH
Data Subyektif :
Klein mengatakan nyeri pada ulu hati ( Skala 2 ) dengan frekwensi nyeri kadang-kadang dengan
karaktreristik nyeri seperti di iris.

Data Obyektif :
Peristaltik usus meningkat.
Keadaan umum pasien tampak lemah

Data Subyektif :
Pasien mengatakan tidak ada nafsu makan karena rasa mual.

Data Obyektif :
Kelembaban kulit tampak kering, mukosa bibir tampak kering. K/ U lemah.
Konjungtiva & membran mukosa pucat

Data Subyektif :
Pasien mengatakan kekhawatirannya terhadap penyakitnya.

Data Obyektif :
Raut muka pasien terlihat cemas dan gelisah. Adanya perlukaan/iritasi pada mokosa lambung





Intake yang tidak adekuat.


















Kurang pengetahuan tentang penyakitnya
Gangguan rasa nyaman sehubungan dengan nyeri ulu hati




Nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh.

















Cemas.





INTERVENSI KEPERAWATAN


NO HARI & TANGGAL DIAGNOSA KEPERAWATAN
PERENCANAAN IMPLEMENTASI

TUJUAN TINDAKAN RASIONALISASI
1
































2



























3 Sabtu 12-03-2005.






























Sabtu 12-03-2005.

























Sabtu 12-03-2005.

Gangguan rasa nyaman nyeri berhubungan dengan iritasi mukosa gaster karena peningkatan asam
lambung, ditandai dengan :
Pasien mengatakan rasa mual & muntah 1 x.
Peningkatan peristaltik usus.
K/U pasien tampak lemah.













Nutrisi kurangdari kebutuhan tubuh berhubungan dengan intake yang tidak adekuat, ditandai
dengan :
Pasien menyatakan tidak ada nafsu makan karena rasa mual,
Mukosa bibir dan kelembaban kulit kering.







Cemas berhubungan dengan ketidaktahuan pasien tentang penyakitnya, ditandai dengan :
Raut muka tegang
Pasien gelisah dan sering menanyakan tentang pennyakitnya.
Jangka pendek
Pasien menyatakan rasa nyeri berkurang / hilang.

Jangka panjang
Tidak terjadi iritasi berulang


















Jangka pendek
Rasa mual dapat teratasi

Jangka panjang
Pasien mampu menunjukan BB stabil & bebas tanda malnutrisi











Jangka pendek
Pasien dapat mendiskusikan permasalahan yang dihadapinya.

Jangka panjang
Pasien dapat memecahkan masalah dengan menggunakan sumber yang efektif.
1. Puasakan pasien pada 6 jam pertama

2. Identifikasi dan batasi makanan yang dapat menimbulkan ketidaknyamanan

3. Berikan makanan sedikit tetapi sering sesuai indikasi untuk pasien.



4. Berikan informasi kepada pasien tentang therapy yang diberikan. Indikasi dari antasida.


1. Anjurkan istirahat sebelum makan..

2. Dorong tirah baring dan pembatasan aktivitas selama fase sakit akut.

3. Dorong pasien untuk menyatakan perasaan terhadap masalah tentang makan.




1. observasi respon fisiologis, misalnya takipnoe, palpitasi, pusing.

2. Catat petunjuk perilaku seperti gelisah, mudah marah, tersinggung



3. Ciptakan hubungan saling percaya




4. Bimbing tehnik relaksasi latihan nafas dalam.

1. Mengurangi imflamasi pada mukosa usus.


2. Makanan khusus yang menyebabkan distres bermacam-macam antar individu.


3. Makanan mempunyai efek penetralisir asam, juga menghancurkan kandungan gaster, makan
sedikit dapat mencegah distensi dan haluaran gastrin

4. Therapi jenis antasida dapat menurunkan keasaman gaster dengan absobsi atau dengan
menetralisir.




1. Menenangkan peristaltik dan meningkatkan energi untuk makan.

2. Menurunkan kebutuhan metabolik untuk mencegah penurunan kalori & simpanan energi.

3. Keragu-raguan untuk makan mungkin diakibatkan oleh takut makan akan menyebabkan
eksaserbasi gejala.




1. Dapat menjadi indikasi derajat ancietas yang dialami pasien.



2. Indikator derajat ancietas.






3. Membuat hubungan terapiutik, membantu klien menerima perasaan dan menurunkan ancietas
yang tidak perlu tentang ketidaktahuan.

4. Cara relaksasi dapat membantu menurunkan takut dan ancietas.
1. Memberitahukan kepada pasien untuk melakukan persiapan puasa pada 6 jam pertama.
2. Mengidentifikasi dan membatasi makanan yang dapat menimbulkan ketidak nyamanan.

3. Menganjurkan untuk makan sedikit tapi sering sesuai indikasi.




4. HE kepada pasien mengenai therafi yang diberikan dan indikasi dari pemberian obat - obatan .




1. Menyaran untuk istirahat sebelum makan.


2. Menyarankan tirah baring dan membatasi gerak selama fase akut.


3. Memberi penjelasan tentang pentingnya makanan sehingga tidak terjadi keragu raguan
terhadap makanan yang dapat menyebabkan eksaserbarsi gejala.




1. Memantau respon fisiologis untuk mengindari terjadi masalah.

2. Membuat catatan perilaku seperti gelisah, mudah marah danmmudah tersinggung.




3. Menciptakan hubungan saling percaya dengan sering melakukan komunikasi yang terafiutik.


4. Membantu pasien melakukan latihan nafas dalam.


CATATAN PERKEMBANGAN.


NO HARI / TANGGAL NO DXN PERKEMBANGAN PARAF

1.














2.
















3.
Minggu 13-02-2005












Minggu 13-02-2005














Minggu 13-02-2005

No 1















No 2















No 3

S : Pasien mengatakan
rasa nyeri pada ulu hati
tidak terasa lagi.

O : Pasien mampu beraktifitas
seperti biasa tanpa ada
keluhan lagi.

A : Tidak terjadi iritasi
berlanjut.

P : HE pasien untuk mencegah
berulangnya penyakit.


S : Pasien mengatakan rasa
mual sudah tidak terasa
lagi.

: BB dalam keadaan stabil
yaitu 45 kg.

A : Masalah teratasi.

P : Pertahankan keadaan umum.


S : Pasien menyatakan
pemahamannya tentang
penyakit gastritis dan
pencegahannya.

O : Pasien mampu mendiskusikan
kembali tentang gastritis.

A : Masalah dapat teratasi.
http://deddyrn.blogspot.com/2009/09/dyspepsia.html
LAPORAN PENDAHULUAN DISPEPSIA


LAPORAN PENDAHULUAN DISPEPSIA
PENGERTIAN
Dispepsia adalah merupakan kumpulan keluhan atau gejala klinis yang
terdiri rasa tidak enak atau sakit diperut bagian atas yang menetap atau
mengalami kekambuhan. Keluhan refluks gastroesofagus klasik berupa
rasa panas didada (heart burn) dan regurgitasi asam lambung, kini tidak
lagi termasuk dispepsia. Pengertian dispepsia terbagi dua, yaitu :
Dispepsia organik, bila telah diketahui adanya kelainan organik sebagai
penyebabnya.
Dispepsia non organik atau dispepsia fungsional atau dispepsia non
ulkus (DNU), bila tidak jelas penyebabnya.


ETIOLOGI
Penyebab dispepsia, yaitu :
Dalam Lumen Saluran Cerna.
Tukak peptic
Gastritis
Keganasan
Gastroparesis
Obat-obatan
AINS
Teofilin
Digitalis
Antibiotik
Hepato Biller
Hepatitis
Kolesistitis
Kolelitiatis
Keganasan
Disfungsi spincter odii
Pancreas
Pankreatitis
Keganasan
Keadaan Sistematik
DM
Penyakit tiroid
Gagal ginjal
Kehamilan
PJI
Gangguan Fungsional
Dispepsia fungsional
Sindrom kolon iritatif


PATOFISIOLOGI
Dengan kriteria tidak adanya kelainan organik pada SCBA, maka teori
patogenesisnya sangat bervariasi. Berbagai usaha telah dicoba untuk
menerangkan korelasi yang ada antara keluhan dengan sedikitnya
temuan kelainan yang ada secara konvensional.


MANIFESTASI KLINIS
Klasifikasi klinis praktis, didasarkan atas keluhan atau gejala yang
dominan, membagi dispepsia menjadi 3 tipe :
Dispepsia dan keluhan seperti ulkus (ulcus-like dyspepsia), dengan
gejala :
1. Nyeri epigastrium terlokalisasi.
2. Nyeri hilang setelah makan atau pemberian antasid.
3. Nyeri saat lapar.
4. Nyeri episodik.
Dispepsia dengan GFI seperti dismotilitas (dysmotility-like
dyspepsia), dengan gejala :
1. Mudah kenyang
2. Perut cepat terasa penuh saat makan
3. Mual
4. Muntah
5. Upper abdominal bloating
6. Rasa tak nyaman bertambah saat makan.
Dispepsia nonspesifik (tidak ada gejala seperti kedua tipe
diatas)


PEMERIKSAAN PENUNJANG
Pemeriksaa Radiologi
1. OMD dengan kontras ganda
2. Serologi Helicobacter pylori
3. Urea breath test




Pemeriksaan Endoskopi
1. CLO (rapid urea test)
2. Patologi anatomi (PA)
3. Kultur mikroorganisme (MO) jaringan
4. PCR (polymerase chain reaction), hanya dalam rangka
penelitian.


PENATALAKSANAAN
Pengobatan dispepsia mengenal beberapa golongan obat, yaitu :
1. Antasid 20-150 ml/hari
Golongan obat ini mudah didapat dan murah. Antasid akan
menetralisir sekresi asam lambung. Campuran yang biasanya
terdapat dalam antasid antara lain Na bikarbonat, AL (OH)3, Mg
(OH)2 dan Mg trisilikat. Pemakaian obat ini sebaiknya jangan
diberikan terus-menerus, sifatnya hanya simtomatis, untuk
mengurangi rasa nyeri. Mg trisilikat dapat dipakai dalam waktu
lebih lama, juga berkhasiat sebagai adsorben sehingga bersifat
nontoksik, namun dalam dosis besar akan menyebabkan diare
karena terbentuk senyawa MgCl2.
2. Antikolinergik
Perlu diperhatikan, karena kerja obat ini tidak spesifik. Obat yang
agak selektif yaitu pirenzepin bekerja sebagai anti reseptor
muskarinik yang dapat menekan sekresi asam lambung sekitar 28-
43%. Pirenzepin juga memiliki efek sitoprotektif.
3. Antagonis reseptor H2
Golongan obat ini banyak digunakan untuk mengobati dispepsia
organik atau esensial seperti tukak peptik. Obat yang termasuk
golongan antagonis reseptor H2 antara lain simetidin, roksatidin,
ranitidin dan famotidin.
4. Penghambat pompa asam (proton pump inhibitor = PPI)
Sesuai dengan namanya, golongan obat ini mengatur sekresi asam
lambung pada stadium akhir dari proses sekresi asam lambung.
Obat-obat yang termasuk golongan PPI adalah omeperazol,
lansoprazol dan pantoprazol.
5. Sitoprotektif
Prostaglandin sintetik seperti misoprostol (PGE) dan enprestil
(PGE2). Selain bersifat sitoprotektif, juga menekan sekresi asam
lambung oleh sel parietal. Sukralfat berfungsi meningkatkan
sekresi prostaglandin endogen, yang selanjutnya memperbaiki
mikrosirkulasi, meningkatkan produksi mukus dan meningkatkan
sekresi bikarbonat mukosa, serta membentuk lapisan protektif
(sebagai site protective), yang senyawa dengan protein sekitar lesi
mukosa saluran cerna bagian atas (SCBA).
6. Golongan prokinetik
Obat yang termasuk golongan prokinetik, yaitu sisaprid, dom
peridon dan metoklopramid. Golongan ini cukup efektif untuk
mengobati dispepsia fungsional dan refluks esofagitis dengan
mencegah refluks dan memperbaiki bersihan asam lambung (acid
clearance).












PROSES KEPERAWATAN
DISPEPSIA


1. PENGKAJIAN
Kaji tanda dan gejala dispepsia
Apakah klien mengalami nyeri ulu hati, tidak dapat
makan, mual atau muntah.
Kapan gejala tersebut terjadi, apakah terjadi
sebelum/ sesudah makan, setelah mencerna makanan
pedas/ pengiritasi/ setelah mencerna obat tertentu/
alkohol.
Apakah gejala berhubungan dengan ansietas, stres,
alergi, makan/ minum terlalu banyak.
Kaji terhadap riwayat penyakit lambung sebelumnya/
pembedahan lambung.
Kaji nutrisi klien.
Kaji tanda yang diketahui pada saat pemeriksaan fisik
meliputi nyeri tekan abdomen dehidrasi (perubahan turgor
kulit, membran mukosa).
Kaji terhadap tindakan klien untuk mengatasi gejala dan
efek-efeknya.


1. DIAGNOSA KEPERAWATAN
Berdasarkan semua data pengkajian, diagnosa keperawatan yang
mungkin muncul meliputi :
1. Risiko kekurangan volume cairan berhubungan dengan
masukan cairan tidak cukup dan kehilangan cairan
berlebihan karena muntah.
2. Perubahan nutrisi, kurang dari kebutuhan tubuh
berhubungan dengan masukan nutrisi yang tidak adekuat.
3. Nyeri berhubungan dengan mukosa lambung teriritasi.
4. Ansietas berhubungan dengan pengobatan.
5. Kurang pengetahuan tentang penatalaksanaan diet dan
proses penyakit.


1. PERENCANAAN DAN IMPLEMENTASI
Tujuan utama mencakup mempertahankan keseimbangan cairan,
menghindari makanan pengiritasi dan menjamin masukan nutrisi
adekuat, menghilangkan nyeri, mengurangi ansietas,
meningkatkan kesadaran tentang penatalaksanaan diet.


1. INTERVENSI KEPERAWATAN
1. Meningkatkan keseimbangan cairan.
1. Pantau masukan dan haluran cairan setiap hari untuk
mendeteksi tanda-tanda awal dehidrasi.
2. Kaji nilai elektrolit (natrium, kalium, klorida) setiap 24
jam untuk mendeteksi indikator awal
ketidakseimbangan.
2. Meningkatkan nutrisi
1. Kaji adanya mual, muntah, sakit ulu hati dan
kelelahan.
2. Hindari makanan/ minuman yang mengandung kafein
karena kafein adalah stimulan sistem saraf pusat yang
meningkatkan aktivitas lambung.
3. Hindari penggunaan alkohol dan nikotin.
3. Menghilangkan nyeri
1. Kaji tingkat nyeri dan kenyamanan klien.
2. Menghindari makanan dan minuman yang dapat
mengiritasi mukosa lambung.
4. Mengurangi ansietas
1. Gunakan pendekatan untuk mengkaji pasien dan
menjawab semua pertanyaan selengkap mungkin.
2. Menjelaskan semua prosedur dan pengobatan sesuai
dengan tingkat pemahaman klien.


1. EVALUASI
Hasil yang diharapkan :
1. Mempertahankan keseimbangan cairan.
1. Mentoleransi terapi intravena
1. Minum 6-8 gelas air setiap hari
2. Mempunyai haluaran urin kira-kira 1 liter
setiap hari
3. Menunjukkan turgor kulit
2. Menghindari makan makanan pengiritasi/ minuman yang
mengandung kafein/ alkohol.
1. Melaporkan nyeri berkurang
2. Menunjukkan berkurangnya ansietas
3. Mematuhi program pengobatan
4. Memilih makanan dan minuman bukan pengiritasi
5. Menggunakan obat-obatan sesuai resep




DAFTAR PUSTAKA




1. Mansjoer, Arief et all.2001.Kapita Selekta Kedokteran.Jilid 1 Edisi
III.Jakarta : Media Aesculapius.
2. Perhimpunan Dokter Spesialis Penyakit Dalam
Indonesia.2001.Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam.Jilid 2 Edisi
3.Jakarta : FKUI.
3. Smeltzer, Suzanne C.2001.Buku Ajar Keperawatan Medikal
Bedah Brunner dan Suddarth.Edisi 8.Vol 2.Jakarta : EG
http://umarberita.blogspot.com/2012/11/laporan-pendahuluan-dispepsia.html
Askep Kasus Dispepsia Rumah Sakit
By rafimerpati on April 9, 2013
BAB I
PENDAHULUAN

1. A. Latar Belakang
Kata Dyspepsia berasal dari bahasa -Yunani yang berarti pencernaan yang sulit / jelek, juga
dikenal sebagai sakit perut atau gangguan pencernaan, mengacu pada kondisi gangguan
pencernaan Ini adalah suatu kondisi medis yang ditandai dengan nyeri kronis atau berulang di
atas. perut kepenuhan dan merasa kenyang lebih awal dari yang diharapkan ketika makan.
Hal ini dapat disertai dengan kembung, bersendawa, mual, atau mulas. Dispepsia adalah
masalah umum, dan sering akibat penyakit gastroesophageal reflux (GERD) atau gastritis,
tetapi dalam sebuah minoritas kecil mungkin merupakan gejala pertama dari penyakit ulkus
peptikum (tukak lambung dari lambung atau duodenum) dan kadang-kadang kanker
Banyak sumber, banyak juga angka yang diberikan. Ada yang menyebut 1 dari 10 orang,
namun ada juga yang menyatakan sekitar 25 persen dari populasi. Mengenai jenis kelamin,
ternyata baik lelaki maupun perempuan bisa terkena penyakit itu. Penyakit itu tidak mengenal
batas usia, muda maupun tua, sama saja. Di Indonesia sendiri, survei yang dilakukan dr Ari F
Syam dari FKUI pada tahun 2001 menghasilkan angka mendekati 50 persen dari 93 pasien
yang diteliti. Sayang, tidak hanya di Indonesia , di luar negeri pun, menurut sumber di
Internet, banyak orang yang tidak peduli dengan dispepsia itu. Mereka tahu bahwa ada
perasaan tidak nyaman pada lambung mereka, tetapi hal itu tidak membuat mereka merasa
perlu untuk segera memeriksakan diri ke dokter.
Padahal, menurut penelitian- masih dari luar negeri-ditemukan bahwa dari mereka yang
memeriksakan diri ke dokter, hanya 1/3 yang tidak memiliki ulkus (borok) pada lambungnya
atau dispepsia non-ulkus. Angka di Indonesia sendiri, penyebab dispepsi adalah 86 persen
dispepsia fungsional, 13 persen ulkus dan 1 persen disebabkan oleh kanker lambung.
Menurut Depkes (2003), dispepsia berada pada peringkat ke 10 dengan proporsi 1,5% untuk
kategori 10 penyakit terbesar pada pasien rawat jalan diseluruh rumah sakit di Indonesia.
Tahun 2004 dispepsia menempati urutan ke 15 dari daftar 50 penyakit dengan pasien rawat
inap terbanyak di Indonesia dengan proporsi 1,3 % dan menempati urutan ke 35 dari 50
penyakit penyebab kematian. Survei yang dilakukan dr Ari F. Syam dari FKUI pada tahun
2001 dari 93 pasien yang diteliti, hampir 50% mengalami dispepsia. Berdasarkan data dari
Rumah Sakit umum Mokopido Tolitoli tahun 2011 didapatkan bahwa angka kejadian rawat
inap kasus dispepsia diruang teratai interna berjumlah 204 pasien (22,7%), dan untuk tahun
2012 periode bulan Januari sampai dengan bulan Juni 2012 adalah 154 pasien, dengan
presentase 17,2%.
Masalah kesehatan yang tersebut diatas menarik minat peneliti untuk menulis karya tulis
ilmiah oleh karena masalah tersebut harus ditanggulangi untuk mengurangi dan mencegah
komplikasi komplikasi yang lebih berat. Dan untuk mengatasi masalah masalah yang
lazim tersebut, diperlukan asuhan keperawatan yang komprenhensif ditujukan untuk
meningkatkan mencegah, mengatasi dan memulihkan kesehatan dengan mempergunakan
pendekatan proses keperawatan.
B. Rumusan Masalah
Adapun rumusan masalah dalam penelitian ini adalah :Bagaimana pelaksanaan asuhan
keperawatan pada ny. m dengan kasus dispepsia diruang terarai interna rsu mokopido
tolitoli.

C. Tujuan Penulisan
1. 1. Tujuan umum
Untuk memperoleh pengalaman tentang penerapan Asuhan Keperawatan Pada Ny. M
Dengan Kasus Dispepsia Di Ruang Teratai Interna RSU Mokopido Tolitoli

1. 2. Tujuan khusus
1. Mampu melakukan tahapan pengkajian Asuhan Keperawatan Pada Ny. M Dengan
Kasus Dispepsia Di Ruang Teratai Interna RSU Mokopido Tolitoli
2. Mampu melaksanakan perencanaan Asuhan Keperawatan Pada Ny. M Dengan Kasus
Dispepsia Di Ruang Teratai Interna RSU Mokopido Tolitoli
3. Mampu melaksanakan implementasi Asuhan Keperawatan Pada Ny. M Dengan
Kasus Dispepsia Di Ruang Teratai Interna RSU Mokopido Tolitoli
4. Mampu melakukan evaluasi Asuhan Keperawatan Pada Ny. M Dengan Kasus
Dispepsia Di Ruang Teratai Interna RSU Mokopido Tolitoli
5. Mampu melakukan catatan perkembangan Asuhan Keperawatan Pada Ny. M
Dengan Kasus Dispepsia Di Ruang Teratai Interna RSU Mokopido Tolitoli

D. Metode Penulisan
Dalam penulisan Karya Tulis Ilmiah ini, penulis menggunakan metode deskriptif dengan
menggambarkan data secara objektif dimulai dari pengumpulan data, pengolahan sampai
evaluasi dan selanjutnya menyajikan dalam bentuk narasi. Dalam penyusunan Karya tulis
ilmiah ini penulis memperoleh data melalui :
1. Wawancara langsung dengan tanya jawab pada klien, keluarga, pembimbing.


1. Observasi yaitu dengan cara mengamati langsung pada saat melakukan asuhan
keperawatan.
2. Pengkajian fisik sebelum melakukan perencanaan dan tindakan keperawatan.














BAB II
TINJAUAN TEORI

1. A. Konsep Teori Penyakit
2. Pengertian
Dyspepsia merupakan kumpulan gejala/simtom atau sindrom yang terdiri dari keluhan nyeri
uluh hati, kembung, mual, muntah, sendawa, rasa cepat kenyang, rasa penuh/begah dan rasa
panas di dada/epigastrium (FKUI,Dharmika, 2001).
Dispepsia merupakan sekumpulan gejala seperti rasa panas di ulu hati, perih, mual dan
kembung. (http://mgo 1.Wordpress. Com/ 2011/11/asuhan-keperawatan-klien-dengan
dispepsia.html)
1. Etiologi
Penyebab dispepsia adalah :
1. Menelan udara (aerofagi)
2. Regurgitasi (alir balik, refluks) asam dari lambung
3. Iritasi lambung (gastritis)
4. Ulkus gastrikum atau ulkus duodenalis
5. Kanker lambung
6. Peradangan kandung empedu (kolesistitis)

1. Intoleransi laktosa (ketidakmampuan mencerna susu dan produknya)
2. Kelainan gerakan usus
3. Manifestasi Klinik
Nyeri dan rasa tidak nyaman pada perut atas atau dada mungkin disertai dengan sendawa dan
suara usus yang keras (borborigmi). Pada beberapa penderita, makan dapat memperburuk
nyeri; pada penderita yang lain, makan bisa mengurangi nyerinya. Gejala lain meliputi nafsu
makan yang menurun, mual, sembelit, diare dan flatulensi (perut kembung).
http://koranindonesiasehat.wordpress.com/2012/10/asuhan-keperawatan-dispepsia.html
1. Klasifikasi Dispepsia
2. a. Dispepsia Fungsional
Terdapat bukti bahwa dispepsia fungsional berhubungan dengan ketidaknormalan pergerakan
usus (motilitas) dari saluran pencernaan bagian atas (esofagus, lambung dan usus halus
bagian atas). Selain itu, bisa juga dispepsia jenis itu terjadi akibat gangguan irama listrik dari
lambung atau gangguan pergerakan (motilitas) piloroduodenal.
Beberapa kebiasaan yang bisa menyebabkan dispepsia adalah menelan terlalu banyak udara.
Misalnya, mereka yang mempunyai kebiasaan mengunyah secara salah (dengan mulut
terbuka atau sambil berbicara). Atau mereka yang senang menelan makanan tanpa dikunyah
(biasanya konsistensi makanannya cair).
Keadaan itu bisa membuat lambung merasa penuh atau bersendawa terus. Kebiasaan lain
yang bisa menyebabkan dispesia adalah merokok, konsumsi kafein (kopi), alkohol, atau
minuman yang sudah dikarbonasi.
Mereka yang sensitif atau alergi terhadap bahan makanan tertentu, bila mengonsumsi
makanan jenis tersebut, bisa menyebabkan gangguan pada saluran cerna. Begitu juga dengan
jenis obat-obatan tertentu, seperti Obat Anti-Inflamasi Non Steroid (OAINS), Antibiotik
makrolides, metronidazole), dan kortikosteroid. Obat-obatan itu sering dihubungkan dengan
keadaan dispepsia.
Yang paling sering dilupakan orang adalah faktor stres/tekanan psikologis yang berlebihan.
1. b. Penyakit Refluks Asam/Organik
Cukup sering ditemukan dispepsia akibat asam lambung yang meluap hingga ke esofagus
(saluran antara mulut dan lambung). Karena saluran esofagus tidak cukup kuat menahan
asam -yang semestinya- tidak tumpah, karena pelbagai sebab, pada orang tertentu asam
lambung bisa tumpah ke esofagus dan menyebabkan dispepsia. Dispepsia jenis itu bisa
menyebabkan nyeri pada daerah dada.
1. c. Diagnosis
Mencari tahu sebab (diagnosis) dari dispepsia tidaklah mudah. Dalam dunia kedokteran,
diagnosis harus ditegakkan dulu sebelum memberi pengobatan. Dalam hal itu pengobatan
dispepsia boleh dibilang relatif sukar karena untuk mengetahui dengan pasti penyebab
penyakit itu relatif tidak gampang.
Dokter harus dengan saksama membedakan antara dispepsia yang mempunyai ulkus dan
yang tidak, antara dispepsia fungsional dan dispepsia organik. Beberapa hal yang bisa
dijadikan petunjuk oleh para dokter, yaitu sebagai berikut.
1. Penelitian yang besar menunjukkan bahwa secara
statistisnyeri ulu hati yang terjadi pada malam hari dan berkurang dengan pemberian antasid,
cenderung dihubungkan dengan luka pada lambung (peptic ulcer).
1. Pada dispepsia non-ulkus, tidak terjadi komplikasi dari perdarahan seperti kurang darah,
penurunan berat badan atau muntah-muntah.
2. Nyeri atau ketidaknyamanan akibat Irritable Bowel Syndrome
dapat terjadi pada ulu hati. Untuk membedakannya dengan dispepsia adalah dengan
memperhatikan pola buang air besar.
Dengan pemeriksaan fisik saja, sangat sukar membedakan dispepsia ulkus dan non-ulkus.
Pengobatan
Intervensi dini terhadap sakit maag yaitu dengan mengonsumsi obat yang bisa menetralkan
atau menghambat produksi yang berlebihan dari asam lambung (jenis antasid). Bisa juga
diberikan obat yang memperbaiki motilitas lambung. Apabila setelah dua minggu obat yang
diberikan tidak bermanfaat, biasanya dokter akan memeriksa dengan peralatan khusus.
1. Phatofisiologi
Obat obatan, penyakit sitemik, endotoksin bakteri, makanan yang terkontaminasi, makanan
yang berbumbu seperti lada, cuka atau mustard, kafein, alcohol, dan aspirin, obat obatan
lain seperti, NSAID (indometasin, ibuprofen, naproksen), sulfonamide, steroid dan digitalis
keadaan tersebut dapat menyebabkan kerusakan jaringan, khususnya pembuluh darah, hal ini
akan merangsang pengeluaran histamine, pengeluaran histamine merangsang peningkatan
vasodilatasi, meningkatkan permiabilitas kapiler terhadap protein, plasma bocor ke
interstisium, mukosa menjadi edema, dan sejumlah protein plasma hilang, mukosa kapiler
dapat hilang, mukosa kapiler menjadi rusak
Peningkatan asam akan mengakibatkan perangsangan kolinergik sehingga mengakibatkan
peningkatan motalitas, juga meningkatnya sekresi pepsinogen dan menyebabkan fungsi sawar
menurun dan terjadinya perubahan kualitatif mucus lambung keadaan ini menyebabkan
terjadinya dyspepsia (Brunner & Suddart, 2002)
1. Pemeriksaan Diagnostik
2. Anamnesis akurat untuk menilai apakah keluhan itu local atau berdasarkan gangguan
sistemik
3. Pemeriksaan fisis untuk mengidentifikasi kelainan intralumen yang padat misalnya massa
intra abdomen, tanda peritonitis, organomegali
4. Laboratorium : mengidentifikasi adanya factor infeksi (leukositosis), penkreatitis
(amylase/lipase), keganasan (CEA, CA 19,9,AFP)
5. Ultrasonografi : pemeriksaan ini dapat mengidentifikasi dengan baik kelainan pada hati
(sirosis hati, tumor), pangkreas (pangkreatitis), dan saluran empedu (kolesistitis, batu).
6. Endoskopi : pemeriksaan ini sangat dianjurkan untuk segera dikerjakan bila dyspepsia
tersebut disertai pula oleh adanya anemia, berat badan yang turun, muntah hebat diduga
adanya obstruksi, adanya muntah darah atau keluhan sidah lama dan terjadi pada usia > 45
tahun. Keadaan tersebut kita sebut sebagai alarm symptom karena sangat dicurigai sebagai
suatu keadaan gangguan organic terutama keganasan. Pemeriksaan ini dapat
mengidentifikasi kelainan organic intra lumen seperti tukak, tumor, lesi inflamasi, adanya
obstruksi saluran cerna. (H. Harjono,2001)
1. Penatalaksanaan Pengobatan
2. Farmakologik (Medikamentosa)
1) Antasida
2) Antagonis reseptor H
2

a) Semitidin
b) Ranitidine
c) Famotidin
d) Roksatidin
e) Nizatidin
3) Protein pump inhibatori (Omeprazol)
4) Prokinetik :
a) Metolokpramid
b) Donperidon
c) Cisapride

5) Antikolonergik
6) Psikoterapi (corwin,2003)
1. Non farmakologik
1. Istirahat
2. Diet :
a) Seimbang antara karbo hidrat, protein, lemak dan vitamin
b) Jangan banyak pantangan
( Harrrison,1999)
B. Teori Asuhan Keperawatan (Doengus E. Marilynn,2000)
1. Pengertian Asuhan Keperawatan
Asuhan keperawatan adalah Menurut Ali (1997) proses keperawatan adalah metode asuhan
keperawatan yang ilmiah,sistematis,dinamis,dan terus- menerus serta berkesinambungan
dalam rangka pemecahan masalah kesehatan pasien/klien,di mulai dari pengkajian
(pengumpulan data,analisis data,dan penentuan masalah) diagnosis keperawatan,
pelaksanaan, dan penilaian tindakan keperawatan. Asuhan keperawatan di berikan dalam
upaya memenuhi kebutuhan klien. Menurut A Maslow ada lima kebutuhan dasar manusia
yaitu kebutuhan fisiologis meliputi oksigen,cairan,nutrisi,kebutuhan rasa aman dan
perlindungan,kebutuhan rasa cinta dan saling memiliki,kebutuhan akan harga diri dan
kebutuhan aktualisasi diri. dimana tahapan asuhan keperawatan terdiri dari :



1. a. Pengkajian Keperawatan
Pengkajian adalah merupakan tahap awal proses keperawatan dan merupakan suatu proses
yang sistematis dalam pengumpulan data dari berbagai sumber data untuk mengevaluasi dan
mengidentifikasi status kesehatan klien. Pengkajian keperawatan pada klien dengan dispepsia
adalah sebagai berikut :
1. Identitas klien
Nama :
Umur :
Jenis Kelamin :
Pekerjaan :
Agama :
Suku Bangsa :
Alamat :
1. Pengkajian Dasar Data Klien
Aktivitas / Istirahat
Gejala Kelemahan, kelelahan
Tanda Takikardi, takipnea/hiperventilasi (respon terhadap aktivitas
Sirkulasi
Gejala Hipotensi (termasuk postural), takikardia, distritmia
(hipovolemia/hipoksemia), kelemahan, nadi perifer, lemah, pngisian kapiler
lambat/perlahan (vasokontriksi), warna kulit : pucat, sianosis (tergantung pada jumlah
kehilangan darah), kelembaban kulit/membrane mukosa, berkeringat (menunjukkan status
syok, nyeri akut, respon psikologik)
Integritas Ego
Gejala Factor stress akut atau kronik (keuangan, hubungan kerja)
Tanda Tanda ansietas misalnya : gelisah, pucat, berkeringat, perhatian
menyempit, gemetar, suara gemetar
Eliminasi
Gejala Riwayat pengobatan di rumah sakit sebelumnya karena perdarahan Gi atau
masalah yang berhubungan dengan GI,mis : luka, peptic/gaster, gastritis, bedah
gaster,iradiasi are gaster, peubahan pola defekasi/karakteristik feses
Tanda Nyeri tekan abdomen, distensi, bunyi usus : sering hiperaktif selama
perdarahan, hipoaktif setelah perdarahan. Karakter feces : diare, darah warna gelap,
kecoklatan, atau kadang kadang merah cerah, berbusa, bau busuk (steatorhoe). Konstipasi
dapat terjadi
(perubahan diet, penggunaan antasida). Haluran urine : menurun, pekat
Makanan/Cairan
Gejala Anoreksia, mual, muntah (muntah yang memanjang diduga obstruksi
pilorik bagian aluar sehubungan dengan luka duodenal).
Masalah menelan : cegukan. Nyeru uluh hati, sendawa bau asam, mual, muntah. Tidak
toleran terhadap makanan, cotoh makanan pedas, coklat: diet kusus untuk penyakit ulkus
sebelumnya. Penurunan berat badan.
Tanda Muntah : Warna kopi atau warna cerah, dengan atau tanpa bekuan darah.
Membrane mukosa kering, penurunan produksi mukosa, turgor kulit buruk (perdarahan
kronis). Berat jenis urin menigkat.
Neurosensori
Gejala Rasa berdenytu, pusing/sakit kepala karena sinar, kelemahan.
Status mental :Tingkat kesadaran dapat terganggu, agak cendrung tidur, disorientasi. bingung,
sampai pingsan dan koma (tergantung pada volume sirkulasi/oksigenasi)
Nyeri/Kenyamanan
Gejala Nyeri, digambarkan sebagai tajam, dangkal, rasa terbakar, perih : nyeri
hebat tiba tiba dapat disertai perforasi. Rasa ketidaknyamanan/distress samar samar
setelah makan banyak dan hilang dengan makan (gastritis akut). Nyeri epigastrium kiri
sampai tengah/atau menyebar kepunggung terjadi 1- 2 jam setelah makan dan hilang dengan
antasida (ulkus gaster).Nyeri epigastrium terlokalisir di kanan terjadi kurang lebih 4 jam
setelah makan bila lambung kosong dan hilang dengan makanan atau makan antasida (ulkus
duodenali). Tak ada rasa nyeri (varises esofageal atau gastritis). Factor pencetus : Makanan,
rokok, alcohol, penggunaan obat obat tertentu (salisilat, reserpin, antibiotic,
ibuprofen),stress psikologis.
Tanda Wajah berkerut, berhati hati pada area yang sakit, pucat, berkeringat,
perhatian menyempit
Keamanan
Gejala Alergi terhadap obat/sensitive mis ASA
Tanda Peningkatan suhu. Spider angioma, eritema palmar
(menunjukan sirosis/hipertensi portal)
Penyuluhan/Pembelajaran
Gejala Adanya penggunaan obat resep/dijual bebas yang mengandung ASA,
alcohol, steroid, NSAID menyebabkan perdarahan Gi. Keluhan saat ini bisa diterima
karena (mis, anemia) atau disgnosa yang tak berhubungan (mis, trauma kepala) : flu usus,
atau episode muntah berat. Masalah kesehatan lama mis, sirosis, alkoholisme, hepatitis,
gangguan makanan
Pertimbangan rencana pemulangan :Dapat memerlukan perubahan program terapi/
pengobatan.
1. b. Diagnose Keperawatan
1. Pengertian diagnose keperawatan
A nursing diagnosis is a clinical judgment about individual, family, or community responses
to actual or potential health problems / life processes. Nursing diagnoses provide the basic
for selection of nursing interventions to achieve outcomes for which the nurse is accountable
(NANDA, 1992 p.5) atau diagnose keperawatan merupakan keputusan klinik tentang respon
individu, keluarga dan masyarakat tentang masalah kesehatan aktual atau potensial, dimana
berdasarkan pendidikan dan pengalamannya, perawat secara akontabilitas dapat
mengidentifikasi dan memberikan intervensi secara pasti untuk menjaga, menurunkan,
membatasi, mencegah dan merubah status kesehatan klien (Carpenito, 2000; Gordon, 1976 &
NANDA) Menurut Inayah (2004) bahwa diagnosa keperawatan yang lazim timbul pada klien
dengan dispepsia.
1. Diangnose keperawatan yang di jumpai pada kasus dispepsia adalah sebagai berikut :
1. Nyeri epigastrium berhubungan dengan iritasi pada mukosa lambung.
2. Nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan dengan rasa tidak enak setelah makan,
anoreksia.
3. Perubahan keseimbangan cairan dan elektrolit berhubungan dengan adanya mual,
muntah
4. Kecemasan berhubungan dengan perubahan status kesehatannya

1. c. Rencana Keperawatn Klien Dengan Dispepsia
1. Pengertian rencana keperawatan
Perencanaan keperawatan adalah sesuatu yang telah dipertimbangkan secara mendalam,
tahap yang sistematis dari proses keperawatan meliputi kegiatan pembuatan keputusan dan
pemecahan masalah dalam perencanaan keperawatan ,Dalam perawat menetapkannya
berdasarkan hasil pengumpulan data dan rumusan keperawatan yang merupakan petunjuk
dalam membuat tujuan dan asuhan keperawatan untuk mencegah, menurunkan, atau
mengeliminasi masalah kesehatan klien (Potter & Perry, 1997).
1. Rencana keperawatan berdasarkan asuhan keperawatan yang di jumpai pada kasus
dispepsia adalah sebagai berikut:
Rencana keperawatan adalah tindakan keperawatan yang akan dilaksanakan untuk
menanggulangi masalah keperawatan yang telah ditentukan dengan tujuan.
1. Nyeri epigastrium berhubungan dengan iritasi pada mukosa lambung.
Tujuan :Terjadinya penurunan atau hilangnya rasa nyeri, dengan kriteria klien melaporkan
terjadinya penurunan atau hilangnya ras nyeri
1) Kaji tingkat nyeri, beratnya (skala 0 10)
Rasional :Berguna dalam pengawasan kefektifan obat, kemajuan penyembuhan
2) Berikan istirahat dengan posisi semifowler
Rasional :Dengan posisi semi-fowler dapat menghilangkan tegangan abdomen yang
bertambah dengan posisi telentang
3) Anjurkan klien untuk menghindari makanan yang dapat meningkatkan kerja asam
lambung
Rasional :Dapat menghilangkan nyeri akut/hebat dan menurunkan aktivitas peristaltik
4) Anjurkan klien untuk tetap mengatur waktu makannya
Rasional :Mencegah terjadinya perih pada ulu hati/epigastrium
5) Observasi TTV tiap 24 jam
Rasional :Sebagai indikator untuk melanjutkan intervensi berikutnya
6) Diskusikan dan ajarkan teknik relaksasi
Rasional : Mengurangi rasa nyeri atau dapat terkontrol
7) Kolaborasi dengan pemberian obat analgesik
Rasional :Menghilangkan rasa nyeri dan mempermudah kerjasama dengan intervensi terapi
lain
1. Nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan dengan rasa tidak enak setelah makan,
anoreksia
Tujuan :Menunjukkan peningkatan berat badan mencapai rentang yang diharapkan individu,
dengan kriteria menyatakan pemahaman kebutuhan nutrisi
1) Pantau dan dokumentasikan dan haluaran tiap jam secara adekuat
Rasional :Untuk mengidentifikasi indikasi/perkembangan dari hasil yang diharapkan
2) Timbang BB klien
Rasional :Membantu menentukan keseimbangan cairan yang tepat
3) Berikan makanan sedikit tapi sering
Rasional :Meminimalkan anoreksia, dan mengurangi iritasi gaster
4) Catat status nutrisi paasien: turgor kulit, timbang berat badan, integritas mukosa mulut,
kemampuan menelan, adanya bising usus, riwayat mual/rnuntah atau diare.
Rasional :Berguna dalam mendefinisikan derajat masalah dan intervensi yang tepat Berguna
dalam pengawasan kefektifan obat, kemajuan penyembuhan
5) Kaji pola diet klien yang disukai/tidak disukai.
Rasional : Mengukur keefektifan nutrisi dan cairan
6) Monitor intake dan output secara periodik.
Rasional Dapat menentukan jenis diet dan mengidentifikasi pemecahan masalah untuk
meningkatkan intake nutrisi.
1. Perubahan keseimbangan cairan dan elektrolit berhubungan dengan adanya mual, muntah
Tujuan :Menyatakan pemahaman faktor penyebab dan prilaku yang perlu untuk memperbaiki
defisit cairan, dengan kriteria mempertahankan/menunjukkan perubaan keseimbangan cairan,
dibuktikan stabil, membran mukosa lembab, turgor kulit baik.
1) Awasi tekanan darah dan nadi, pengisian kapiler, status membran mukosa, turgor kulit
Rasional : Indikator keadekuatan volume sirkulasi perifer dan hidrasi seluler
2) Awasi jumlah dan tipe masukan cairan, ukur haluaran urine dengan akurat
Rasional : Klien tidak mengkomsumsi cairan sama sekali mengakibatkan dehidrasi atau
mengganti cairan untuk masukan kalori yang berdampak pada keseimbangan elektrolit
3) Diskusikan strategi untuk menghentikan muntah dan penggunaan laksatif/diuretic
Rasional :Membantu klien menerima perasaan bahwa akibat muntah dan atau penggunaan
laksatif/diuretik mencegah kehilangan cairan lanjut
4) Identifikasi rencana untuk meningkatkan/mempertahankan keseimbangan cairan
optimal misalnya : jadwal masukan cairan
Rasional :Melibatkan klien dalam rencana untuk memperbaiki keseimbangan untuk berhasil
5) Berikan/awasi hiperalimentasi IV
Rasional :Tindakan daruat untuk memperbaiki ketidak seimbangan cairan elektrolit
1. Kecemasan berhubungan dengan perubahan status kesehatannya
Tujuan :Mendemonstrasikan koping yang positif dan mengungkapkan penurunan kecemasan,
dengan kriteria menyatakan pemahaman tentang penyakitnya.
1) Kaji tingkat kecemasan
Rasional :Mengetahui sejauh mana tingkat kecemasan yang dirasakan oleh klien sehingga
memudahkan dlam tindakan selanjutnya
2) Berikan dorongan dan berikan waktu untuk mengungkapkan pikiran dan dengarkan
semua keluhannya
Rasional :Klien merasa ada yang memperhatikan sehingga klien merasa aman dalam segala
hal tundakan yang diberikan
3) Jelaskan semua prosedur dan pengobatan
Rasional :Klien memahami dan mengerti tentang prosedur sehingga mau bekejasama dalam
perawatannya.
4) Berikan dorongan spiritual
Rasional :Bahwa segala tindakan yang diberikan untuk proses penyembuhan penyakitnya,
masih ada yang berkuasa menyembuhkannya yaitu Tuhan Yang Maha Esa.
1. Implementasi
Implementasi dilakukan sesuai rencana setelah dilakukan validasi, penguasaan ketrampilan
interpersonal, intelektual dan tehnikal.
1. Evaluasi Keperawatan
Tahap evaluasi dalam proses keperawatan mencakup pencapaian terhadap tujuan apakah
masalah teratasi atau tidak, dan apabila tidak berhasil perlu dikaji, direncanakan dan
dilaksanakan dalam jangka waktu panjang dan pendek tergantung respon dalam keefektifan
intervensi



1. Catatan Perkembangan
Pada tahap ini ada dua evaluasi yang dapat dilaksanakan oleh perawat, yaitu evaluasi formatif
yang bertujuan untuk menilai hasil implementasi secara bertahap sesuai dengan kegiatan
yang dilakukan secara kontrak. Dan pada tahapan catatan perkembangan dilakukan secara
evaluasi sumatif yang bertujuan menilai secara keseluruhan terhadap pencapaian diagnosis
keperawatan apakah rencana diteruskan, diteruskan sebahagian, diteruskan dengan perubahan
intervensi, atau dihentikan.












BAB III
APLIKASI ASUHAN KEPERAWATAN
1. Pengkajian
2. Data Umum
No Register : 070145
Tanggal masuk : 27 juli 2012
Tanggal pengkajian : 27 juli 2012
Diagnosa medis : Dispepsia
1. Identitas klien
Nama : Ny. M
Umur : 55 thn
Jenis kelamin : Perempuan
Agama : Islam
Suku/bangsa : Buol/Indonesia
Pekerjaan : URT
Pendidikan : SD
Alamat : Kelurahan Baru
1. Identitas penangggung jawab
Nama : Tn.S
Umur : 54 thn
Jenis kelamin : Laki-Laki
Agama : islam
Pendidikan : SD
Pekerjaan : Kuli Bangunan
Alamat : Kelurahan Baru
Hub.dengan klien : Suami
1. Riwayat Kesehatan
1. Keluhan utama : Nyeri uluh hati
2. Riwayar keluhan utama
Klien masuk rumah sakit pada tanggal 27 juli 2012 pukul 11.00 dengan keluhan nyeri uluh
hati. Keadaan ini dirasakan klien sejak kemarin sore, dirasakan seperti pedis dan rasa terbakar
di daerag erigastrium tembus belakang. Nyeri dirasakan hilang timbul dengan skala nyeri 8.
Klien mengatakan nyeri akan bertambah jika kalin makan sesuatu, oleh karena itu klien
memilih untuk tidak makan. Perasaan nyeri disertai dengan mual . Klien belum pernah
merasakan nyeri seperti saat ini.
1. Keluhan saat dikaji :
Klien mengatakan nyeri uluh hati seperti terbakar , klien memegang bagian perut yang sakit,
klien cemas dan tegang, Sekali-kali klien meremas-remas tangannya, klien tidak konsentrasi
pada saat diajak komunikasi,klien juga mengatakan bahwa nafsu makan kurang.
1. Riwayat kesehatan masa lalu
Klien mengatakan belum pernah mengalami penyakit seperti yang diderita saat ini dan belum
pernah di rawat di Rumah Sakit.
1. Riwayat kesehatan keluarga
Klien mengatakan didalam keluarganya tidak ada yang menderita penyakit yang sama dengan
klien
1. Riwayat alergi
Klien mengatakan bahwa keluarganya tidak ada yang menderita alergi, baik bahan kimia,
udara, makanan dan lain-lain sebagainya.










1. Data Demografi
Gambar 1.Genogram 3 generasi



Ket: = laki-laki
= perempuan
= penderita
=bersaudara
.. = tinggal serumah
x = meninggal





1. Tabel 1 pola kebiasaan sehari-hari
No Kegiatan Di rumah Dirumah sakit
1






Nutrisi
a. Pola makan
b. frekuensi
c. nafsu makan
d. makanan kesukaan
e. makanan pantangan


Nasi,sayur, ikan
3 x 1 sehari
Baik
Nasi putih
Tidak ada


Bubur,sayur, ikan
1 kali sehari
Menurun
Bubur
Tidak ada

2




3










4





5


Cairan ( minum )
Frekuensi
volume
minuman yang disukai

Eliminasi
1. BAB
Frekuensi
Konsisten
Warna
bau
1. BAK
Frekuensi
Warna
Bau

Personal hygiene
Mandi
Cuci rambut
Memotong kuku
Penampilan

Pola istrahat tidur
Tidur siang
Tidur malam

Setiap haus
1000 ml/hari
Air putih



2 x sehari
Lunak
Kuning
Khas makanan

3 4 x sehari
Putih
Pesing


2 x sehari
1 minggu 3x
1 kali seminggu
Cukup bersih


Tidak pernah

Setiap haus
800 ml/ hari
Air putih



>10 kali
cair
Coklat
Khas makanan

3 4 kali/sehari
Putih
Pesing


Hanya dilap
Tidak perna
Tidak perna
Kusut. Tidak rapi


11.00 12.00




1. Pemeriksaan fisik
2. Keadaan umum : Lemah
3. Tingkat kesadaran : Composmentis
4. Vital sign :
TD : 140 / 80 mmHg
ND : 90 x/mnt
SB : 37
o
c
RR : 20 x/mnt
BB sebelum sakit : 60 kg
BB selama sakit : 50 kg
BB ideal : 70 Kg
1. Pemeriksaan head to toe
1) System integument
Inspeksi Keadan kulit kering,kulit tidak bersisik,dan tidak ada lesi
Palpasi Tidak teraba adanya nyeri tekan, tidak teraba adanya massa/benjolan
2) Kepala dan rambut
Inspeksi Bentuk kepala branchiosepalus,warna rambut hitam, kotoran (-), tidak
ada benjolan,penyebaran rambut merata, tidak teraba lesi.
Palpasi Tidak ada nyeri tekan, dan tidak ada benjolan
3) Wajah
Inspeksi Bentuk wajah oval,simetris kiri dan kanan,tidak ada edema, wajah
meringis pada saat dilakukan palpasi di bagian epigastrium
Palpasi Tidak terba adanya nyeri tekan, tidak teraba adanya massa atau benjolan.
4) Mata
20.00 12.00
Kebiasaan
menahan kencing

21.00 08.00
Sering terbangun pada
saat mau BAK
Inspeksi Mata kiri dan kana simetris,gerak bola mata normal, konjungtiva tidak
anemis
Palpasi Tidak ada nyeri tekan, tidak teraba adanya massa
5) Telinga
Inspeksi Bentuk telinga kira dan kanan simetris,tidak ada serumen, fungsi
pendengaran baik, bersih
Palpasi Tidak teraba adanya nyeri tekan, tidak teraba adanya massa atau benjolan
6) Hidung
Inspeksi Hidung simetris kira dan kanan, tidak ada peradangan, fungsi penciuman
baik, septum deviasi (-), pasase udara kuat
Palpasi Tidak ada nyeri tekan pada sinus

7) Mulut dan tenggorokan
Inspeksi Mukosa bibir kering dan kotor,warna lidah merah, tidak ada peradangan
pada gusi, terdapat banyak karang gigi
Palpasi Tidak teraba adanya massa, tidak teraba nyeri tekan
8) Leher
Inspeksi Tekanan vena jungularis meningkat, tidak ada pembesaran kelenjar
tiroid,
Palpasi Tidak teraba nyeri tekan, teraba denyut nadi arteri carotis
9) Dada
Inspeksi Bentuk dada simetri kiri dan kanan, tidak ada pembesaran pada
dinding dada, tidak ada lesi, frekuensi pernapasan teratur 20 x /mnt.
Palpasi Tidak ada nyeri tekan, tidak teraba adanya benjolan
Auskultasi Tidak ada suara tambahan
Perkusi tidak terdengar adanya suara pekak

10) Jantung
Inspeksi Tidak ada pembesaran pada jantung, tidak ada lesi
Palpasi Tidak teraba adanya nyeri tekan atau benjolan
Perkusi Tidak terdengar suara pekak
Auskultasi BJ 1 terdengar di ICS 5 dan 6,BJ 2 terdengar di ICS 2 dan 3
11) Abdomen
Inspeksi Bentuk permukaan abdomen datar, tidak ada lesi
Palpasi teraba nyeri tekan dengan skala 8, nyeri yang dirasakan terasa pedis dan seperti
terbakar di daerah epigastrium tembus kebagian belakang.
Auskultasi Peristaltic usus terdengar 24 x/mnt
12) Ekstermitas
Superior
Inspeksi Kulit kering, tangan kiri terpasang infuse RL 16 tts/mnt, tidak ada lesi,
tangan kanan memegang abdomen yang sakit
Palpasi Tidak ada nyeri tekan, kekuatan oto skala 5 yaitu dapat melakukan gerakan
kesegala arah
Inferior
Inspeksi Simetris kiri dan kanan, kulit kering, tidak ada lesi
Palpasi Kekuatan tonus otot skala 5, yaitu dapat melakukan gerakan kesegala arah

1. Pemeriksaan Diagnostik :
Table 2 : Pemeriksaan laboratorium Ny. M Di Ruang Teratai Interna tanggal 27 Juli 2012
Jenis pemeriksaan Hasil Satuan Nilai normal
WBC
8,3 H 10
3
/ml 5,0 10,0
RBC
4,9 10
6
/ml 4,00 5,50
HGB
12,7 g/dl 12,0 15,0
HCT
37,9 % 40,0 48,0
MCV
90,5 Fl 80,0 95,0
MCH
30,3 p/g 25,0 34,0
MCHC
33,5 g/dl 32,0 36,0
PLT
238 10
3
/ml 150 400

(%) (10
3
/ml) (%)
Ly
F2 2,5 11,0 49,0
MO
F2 0,6 0,0 9,0
GR
F4 10,8 42,0 85,0
RDW
11,9 % 10,0 16,5
PCT

% 0,10 1,00
MPV
4,5 PL 5,0 10,0
PDW
H % 12,0 18,0

1. Data pengobatan
Tanggal 27 Juli 2012 :
a. RL 16 tetes/menit
1. PCT 3 x 1
2. Injeksi ranitidine 1 amp/12 jam
3. Sotatik 2 x 1

1. Klasifikasi Data
1. Data Subjektif :
2. Klien mengatakan kurang nafsu makan
3. Klien mengatakan mual
4. Klien mengatakan nyeri uluhati seperti terbakar dan pedis serta tembus belakang
5. Klien mengatakan nyeri hilang timbul
6. Klien menanyakan tentang penyakitnya
7. Klien mengatakan baru pertama kali mengalami penyakit yang saat ini diderita oleh
klien
8. Data Objektif :
1. Mucosa bibir dan hidung kering
2. Klien lemah
3. Rush kulit kering
4. Observasi vital sign : TD = 140 / 80 mmHg, ND = 90 x/mnt, RR = 20
x/mnt, S = 37
o
c
5. Bising usus (+)
6. Peristaltik usus 24 kali/menit
7. Meringis
8. Memegang bagian yang sakit
9. Tidak konsentrasi pada saat diajak komunikasi
10. Klien cemas
11. Klien tegang
12. Klien meremas-remas tangan
13. m. BB. 50 kg














1. Analisa Data
Tabel 3 :Analisa Data Keperawatan Tanggal 27 Juli 2012 Pada Ny.M Di Ruang Teratai
Interna RSU Mokopido Tolitoli
Tgl/Jam Pengelompokan Data Etiologi Problem
1 2 3 4
27/07/2012
09.10
1. Data Subjektif :
a.Klien mengatakan nyeri
Iritasi pada mukosa
lambung
Nyeri
epigastrium
uluhati seperti terbakar dan
pedis serta tembus belakang
b. klien mengatakan nyeri
hilang timbul
2. Data Objektif :
1. Meringis
2. Memegang bagian yang
sakit
3. Tegang
4. Pemeriksaan
laboratorium tanggal 27
Juli 2012 : HCT = 38,3%;
MPV = 4,2
5. Tidak konsentrasi pada
saat diajak komunikasi
6. Observasi vital sign :
TD = 140 / 80 mmHg
ND = 90 x/mnt
RR = 20 x/mnt
S = 37
o
c
DS :
- Klien mengatakan kurang
nafsu makan
- Klien mengatakan mual
- Istri klien mengatakan porsi
makan dihabiskan 5 sendok
-
DO :
BB 50 kg
Anoreksia Nutrisi kurang
dari kebutuhan
27/07/2012
09.20
1. Data Subjektif :
1. Klien menanyakan
tentang penyakitnya
2. Klien mengatakan baru
pertama kali mengalami
penyakit yang saat ini
Perubahan proses
kesehatan


Kecemasan






1. H
.
Diagnosa
Keperaw
atan
Prioritas
Diagnos
e
Keperaw
atan Prioritas Tanggal 22 Juli 2012 Pada Ny.M Di Ruang Teratai Interna RSU Mokopido
Tolitoli

Diagnosa Keperawatan
1

2

3
Nyeri epigastrium berhubungan dengan Iritasi pada mukosa
lambung.
Nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan dengan anoreksia
Kecemasan berhubungan dengan Perubahan proses kesehatan


1. Rencana Tindakan
Rencana Tindakan, pada Ny. M,Tanggal 26 Juli 2012 di Ruang Teratai Interna RSU
Mokopido Tolitoli .
Diagnose keperawatan
1. Nyeri epigastrium berhubungan dengan iritasi pada mukosa lambung
Tujuan : setelah dilakukan tindakan 24 jam nyeri dapat berkurang yang ditandai dengan :
1. Rasa nyeri berkurang
diderita oleh klien
2.Data Objektif :
1. Klien cemas
2. Klien tegang
3. Klien meremas-remas
tangannya
4. Pemeriksaan
laboratorium tanggal 22
Juli 2012 : HCT = 38,3%;
MPV = 4,2 PL
5. Observasi vital sign :
TD = 140 / 80mmHg
ND = 90 x/m
RR = 16 x/mnt
2. Pasien tenang
3. Ekspresi wajah cerah
4. Pasien dapatmenyebutkan penyebab dan cara mengatasi nyeri
5. Observasi vital sign
TD = 110 / 90 mmhg
ND = 80 x/mnt
RR = 16 x/mnt
S = 36c
Intervensi : 1. Kaji tingkat nyeri beratnya (skala 0 10)
1. Berikan istirahat dengan posisi semifowler
1. Anjurkan klien untuk menghindari makanan yang dapat meningkatkan keja asam
lambung
2. Anjurkan klien untuk tetap mengatur waktui makanya
3. Observasi TTV tiap 24 jam
4. Diskusikan dan ajarkan teknik relaksasi
5. Kolaborasi dengan pemberian:
Obat analgesic :
Paracetamol 3 x 1
Cemitidine 1 amp
Rasional :1. Berguna dalam pengawasan ke efektifan obat kemajuan penyembuhan
1. Dengan posisi semi fowler dapat menghilangkan tegangan abdomen yang bertambah
dengan posisi terlentang
2. Dapat menghilangkan nyeri akut / hebat dan menurunkan aktivitas peristaltic
3. Mencegah terjadinya perih pada ulu hati / epigastrium
1. Sebagai indikator untuk melanjutkan intervensi berikutnya
2. Mengurangi rasa nyeri atau dapat terkontrol
1. Menghilangkan rasa nyeri dan mempermudah kerjasama dengan intervensi
terapi lain cemitidin penghambat histamine H2 , menurunkan produksi
asam gaster & menurunkan iritasi pada mukosa gaster penting untuk
penyembuhan juga pencegahan pembentukan lesi.

1. kecemasan berhubungan dengan perubahan proses kesehatan
Tujuan :setelah dilakukan tindakan keperawatan diharapkan kecemasan berkurang dengan
kriteria :
1. klien dapat mendemonstrasikan koping yan positif dan mengungkapkan penurunan
kecemasan
2. menytakan pemahaman tentang penyakitnya.
Intervensi :1. Kaji tingkat kecemasan
2. Berikan dorongan dan berikan waktu untuk mengungkapkan pikiran dan dengarkan semua
keluhanya
3. Jelaskan semua prosedur dan pengobatan
4. Berikan dorongan spiritual
Rasional : 1. mengetahui sejauh mana tingkat kecemasan yang dirasakan oleh klien
sehingga memudahkan dalam tindakan selanjutnya
2. Klien merasa ada yang memperhatikan sehingga klien merasa aman dalam segala hal
tindakan yang diberikan
3. Klien memahami dan mengerti tentang prosedur sehingga mau bekerja sama dalam
perawatanya
4. Bahwa segala tindakan yang diberikan untuk proses penyembuhan penyakitnya, masih ada
yang berkuasa menyembuhkanya yaitu tuhan yang maha esa.
3 . Nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan dengan anoreksia.
. Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 124
jam diharapkan muntah
1. Menunjukkan nafsu makan yang adekuat.
1. Mengerti dengan kebutuhan nutrisi.
2. Berat badan ideal.
Intervensi
1. Pantau dan dokumentasikan dan haluaran tiap jam secara adekuat, timbang berat badan
klien
1. Berikan makanan sedikit tapi sering.
2. Catat status nutrisi pasien: turgor kulit, integritas mukosa
3. mulut, kemampuan menelan, adanya bising usus, riwayat
1. mual/muntah atau diare.
1. anjurkan klien makan ketika makanan masih hangat
Rasional
1. Untuk mengidentifikasi indikasi/perkembangan dari hasil yang diharapkan
2. Membantu menentukan keseimbangan cairan yang tepat.
3. Meminimalkan anoreksia, dan mengurangi iritasi gaster
4. Berguna dalam mendefinisikan derajat masalah dan intervensi yang tepat Berguna dalam
pengawasan kefektifan obat, kemajuan penyembuhan.
5. membantu menigkatkan nafsu makan Makanan yang hangat







1. Implementasi
Tabel 4 : Implementasi Keperawatan Ny.M tanggal 27 Juli 2012 di Ruang Teratai Interna.
No
Dx
Diagnose
Keperawatan
Tgl/Jam Tindakan
1 2 3 4
1 Nyeri epigastrium
berhubungan
dengan Iritasi pada
mukosa lambung.

27/07/2012
09.00 09.15wita
09,15 09.17 wita
09,17 10.00 wita


10,00 11.00 wita
12.00 12.15 wita
12.20 12.15 wita
13.00 13,05 wita

1. Mengkaji tingkat nyeri,
beratnya (skala 0 10) : Skala
nyeri yang dirasakan klien
sakala 8
2. Memberikan istirahat dengan
posisi semifowler
3. Mengaanjurkan klien untuk
menghindari makanan yang
dapat meningkatkan kerja
asam lambung : seperti
makanan yang pedis, asam
4. Menganjurkan klien untuk
tetap mengatur waktu
makannya
5. Observasi TTV tiap 24 jam :
TD = 140 / 80 mmHg, ND
= 90 x/mnt, RR = 20 x/mnt,
S = 37
o
c
6. Mendiskusikan dan
Mengaajarkan teknik
relaksasi dengan cara :
Menarik nafas dalam 3 kali,
menahannya sesaat &
menghembuskannya secara
spontan.
7. Kolaborasi dengan
pemberian obat analgesic :
obat analgesic : Paracetamol
3 x 1, Cemitidine 1 amp

2 Nutrisi kurang dari
kebutuhan
berhubungan
dengan anoreksia

27/07/12
09.00 09.15wita
09,15 09.17 wita
09,17 10.00 wita

10,00 11.00 wita
1. Memantau masukan dan
keluaran dengan hasil
makanan dihabiskan 5
sendok.
2. Menimbang BB dengan hasil
50 Kg
3. Mengajurkan untuk
memberikan makanan sedikit
tapi sering
4. Mencatat status nutrisi
dengan hasil klien mual tapi
tidak muntah
5. Menganjurkan untuk makan
makanan ketika masih
hangat.


3

Kecemasan
berhubungan
dengan perubahan
proses kesehatan
27/07/2012
09,00.- 09,15 wita
1. Mengkaji tingkat kecemasan
: kecemasan
ringan

1. Memberikan dorongan dan
berikan waktu untuk
mengungkapkan pikiran dan
dengarkan semua keluhanya.

1. Menjelaskan semua prosedur
dan pengobatan

1. Memberikan dorongan
spiritual.








1. Evaluasi
Tabel 5 : Evaluasi Keperawatan Ny.M Tanggal 28 Juli 2012 di Ruang Rawat Teratai Interna
No
Dx
Diagnose
Keperawatan
Tgl/Jam Evaluasi
1 2 3 4
1 Nyeri epigastrium
berhubungan dengan
Iritasi pada mukosa
lambung.

28/07/2012
09.00 wita

S :
1. Klien mengatakan nyeri uluhati
seperti terbakar dan pedis serta
tembus belakang
2. Klien mengatakan nyerinya terus
menerus
3. Klien mengatakan mua dan muntah
4 kali
O :
1. Meringis
2. Memegang bagian yang sakit
3. Tegang
4. Tidak konsentrasi pada saat diajak
komunikasi
5. Observasi vital sign : TD = 140 /
80 mmHg, ND = 90 x/mnt, RR =
20 x/mnt
A :
Nyeri epigastrium
P :
1. Kaji tingkat nyeri, beratnya (skala 0
10)
2. Berikan istirahat dengan posisi
semifowler
3. Anjurkan klien untuk menghindari
makanan yang dapat meningkatkan
kerja asam lambung
4. Anjurkan klien untuk tetap
mengatur waktu makannya
5. Observasi TTV tiap 24 jam
6. Diskusikan dan ajarkan teknik
relaksasi
7. Kolaborasi dengan pemberian: obat
analgesic : Paracetamol 3 x 1,
Cemitidine 1 amp
2 Nutrisi kurang dari
kebutuhan
berhubungan dengan
anoreksia

28/07/12
09.00 wita

S :
- Klien mengatakan nafsu makan
berkurang
- Klien mengatakan mual
- Porsi makan dihabiskan kurang
lebih 5 sendok
O: -
A: Nutrisi kurang dari kebutuhan

P: Intervensi dilanjutkan
- Pantau pemasukan makanan
- Timbang BB
- Beri makanan sedikit tapi sering
Anjurkan untuk makan ketika
masih hangat.
3 Kecemasan
berhubungan
dengan Perubahan
proses kesehatan

28/07/12
09.20
10.00Wita
S :
1. Klien menanyakan tentang
penyakitnya
2. Klien mengatakan baru pertama
kali mengalami penyakit yang saat
ini diderita oleh klien
O :
1. Klien cemas
2. Klien tegang
3. Klien meremas-remas tangannya
4. Observasi vital sign :TD = 130 /
60mmHg, ND = 88 x/mnt, RR =
20 x/mnt
A :
Kecemasan
P :
1. Kaji tingkat kecemasan
2. Berikan dorongan dan berikan
waktu untuk mengungkapkan
pikiran dan dengarkan semua
keluhannya
3. Jelaskan semua prosedur dan
pengobatan
4. Berikan dorongan spiritual
1. Catatan Perkembangan
Tabel 6 : Catatan Perkembangan Ny.M Tanggal 28 Juli 2012 di Ruang Rawat Teratai
Interna
No Dx Diagnose
Keperawatan
Tgl/Jam Evaluasi
1 2 3 4
1 Nyeri epigastrium
berhubungan
dengan iritasi pada
mukosa lambung.
28/07/2012











S :
1. Klien mengatakan nyeri uluhati
seperti terbakar dan pedis serta
tembus belakang.
2. Klien mengatakan nyerinya terus
menerus
3. Klien mengatakan mual

O :
1. Meringis
2. Memegang yang sakit
3. Tegang
4. Tidak konsentrasi saat
diajak komunikasi
1. Observasi TTV :
TD = 140/80 mmhg, ND = 90X/mnt =
90 x/mnt, RR = 20 x/mnt



09.00 09.15
wita
12.00 12.15
wita
12.00 12.15
wita
A :
Nyeri epigastrium
P :
1. Kaji tingkat nyeri, beratnya (0-10)
2. Observasi TTV tiap 24 jam
3. Kolaborasi pemberian dengan :
obat analgesic : paracetamol 3 x 1,
cemitidine 1 amp
I :
1. Mengkaji tingkat nyeri beratnya (0
10) : skala nyeri yang dirasakan
klien skala 8
2. Observasi TTV tiap 24 jam : TD =
140/80 mmhg, ND = 90 x/mnt, S =
37c
3. Kolaborasi dengan pemberian obat
analgesic : Paracetamol 3 x 1,
cemitidine 1 amp.
E :
Masalah belum teratasi
R :
1. Kaji tingakat nyeri, beratnya skala
(0-10)
2. Berikan istirahat dengan posisi
semifowler
3. Anjurkan klien untuk menghindari
makanan yang dapat meningkatkan
asam lambung
4. Anjurkan klien untuk tetap
mengatur waktu makanya
5. Observasi TTV tiap 24 jam
6. Kolaborasi dengan pemberian obat
analgesic : paracetamol 3 x 1
cemitidine
2 Nutrisi kurang dari
kebutuhan
berhubungan
dengan anoreksia
28/07/12
09.00
09.15wita
09,15 09.17
S :
1. Klien mengatakan nafsu makan
berkurang
2. Klien mengatakan mual
wita
09.20 09.25
wita


O :
Porsi makan dihabiskan 7
sendok

A : Masalah belum teratasi

P :
1. Pantau pemasukan makanan
2. Ajurkan untuk makanan sedikit tapi
sering
3. Anjurkan untuk makan ketika masih
hangat.
I :
1. Memantau masukan makanan
dengan hasil porsi makan
dihabiskan hanya 7 sendok
2. Menganjurkan untuk makan sedikit
tapi sering
3. Menganjurkan untuk makan ketika
masih hangat
E :
S :
- Klien mengatakan nafsu makan
berkurang
- Klien mengatakan tidak mual
- Istri klien mengatakan porsi
makan dihabiskan 7 sendok
O : -
A : Masalah belum teratasi
P : Intervensi dilanjutkan
- Pantau pemasukan makanan
- makan Ajurkan untuk makanan
sedikit tapi sering
- ketika masih hangat.Anjurkan untuk
R :Intervensi dilanjutkan.
3 Kecemasan
berhubungan
dengan Perubahan
proses kesehatan

28/07/12














09.00-09.15wita
10,00 11.00
wita

S :
1. Klien menanyakan tentang
penyakitnya
2. Klien mengatakan baru pertama
kali mengalami penyakit yang saat
ini diderita oleh klien

O :
1. Klien cemas
2. Klien tegang
3. Klien meremas-remas tangannya
4. Observasi vital sign :TD = 130 /
60mmHg, ND = 88 x/mnt, RR =
20 x/mnt
A :
Kecemasan
P :
1. Kaji tingkat kecemasan
2. Berikan dorongan dan berikan
waktu untuk mengungkapkan
pikiran dan dengarkan semua
keluhannya
I :
1. Mengkaji tingkat kecemasan :
Kecemasan ringan
2. Memberikan dorongan dan berikan
waktu untuk mengungkapkan
pikiran dan dengarkan semua
keluhannya
E :
Masalah belum teratasi
R :
1. Mengkaji tingkat kecemasan
Kecemasan ringan
1. Menjelaskan semua prosedur dan
pengobatan
2. Memberikan dorongan spiritual










Tabel 7 : Catatan Perkembangan Ny.M Tanggal 29 Juli 2012 di Ruang Rawat Teratai
Interna
No Dx Diagnose
Keperawatan
Tgl/Jam Evaluasi
1 2 3 4
1 Nyeri epigastrium
berhubungan
dengan Iritasi pada
mukosa lambung.

29/07/2012
.
09.00 09.15
wita
09.15 09.17
wita
S :
1. Klien mengatakan nyeri uluhati
seperti terbakar dan pedis serta
tembus belakang
2. Klien mengatakan nyerinya terus
menerus
3. Klien mengatakan mual
09.17 -10.00
wiat
10.00 11.00
wita
12.00 12.15
wita
12.20 12.30
wita


O :
1. Meringis
2. Memegang bagian yang sakit
3. Tegang
4. Tidak konsentrasi saat diajak
komunikasi
5. Observasi TTV : TD = 140/90 mmhg,
ND = 90 x/mnt, RR = 20 x/mnt .
A :
Nyeri epigastrium
P :
1. Kaji tingkat nyeri, beratnya (0- 10)
2. Berikan istirahat dengan posisi
semifowler
3. Anjurkan klien untuk menghindari
makanan yang dapat meningkatkan
kerja asam lambung
4. Anjurkan klien untuk mengatur
waktu makanya
5. Observasi TTV tiap 24 jam
6. Diskusikan dan ajarkan tehnik
relaksasi
7. Kolaborasi dengan pemberian obat
analgesic : paracetamol 3 x 1,
cemitidine 1 amp

I :
1. Mengkaji tingkat nyeri beratnya (0
10) : skala nyeri yang diraskan
klien skala 8
2. Memberikan istirahat dengan posisi
semifowler
3. Menganjurkn klien untuk
menghindari makanan yang dapat
meningkatkan kerja asam lambung
seperti makanan yang pedis, asam
4. Menganjurkan klien untuk tetap
mengatur waktu makanya
5. Observasi TTV tip 24 jam : TD = 140
/ 80 mmhg, ND = 90 x/mnt, RR = 20
x/mnt, S = 37c
6. Mendiskusikan dan mengajarkan
tehnik relaksasi dengan cara :
menarik nafas dalam 3 kali,
menahanya sesaat
&menghembuskanya secara
spontan.
E :
Masalah belum teratasi
R :
1. Kaji tingkat nyeri, beratnya (skala 0
10 )
2. Berikan istirahat dengan posisi
semifowler
3. Observasi TTV tiap 24 jam
4. Klolaborasi dengan pemberian obat
analgesic : Paracetamol 3 x 1,
cemitidine 1 amp
2 Nutrisi kurang dari
kebutuhan
berhubungan
dengan anoreksia
29/07/12
09.00
09.15wita

09,15 09.17
wita
10,00 11.00
wita

S :
1. Klien mengatakan nafsu makan
berkurang
2. Klien mengatakan mual
3. Istri klien mengatakan porsi makan
dihabiskan 9 sendok.
O : -

A :
Masalah belum teratasi

P :
1. Pantau pemasukan makanan
2. Ajurkan untuk makanan sedikit tapi
sering
3. Anjurkan untuk makan ketika masih
hangat.
I :
1. Memantau masukan makanan
dengan hasil porsi makan
dihabiskan hanya sekitar 9 sendok
2. Menganjurkan untuk makan sedikit
tapi sering
3. Menganjurkan untuk makan ketika
masih hangat.
E :
S :
1. Klien mengatakan nafsu makan
berkurang
1. Klien mengatakan tidak
mual
2. Klien mengatakan porsi
makan dihabiskan 9 sendok
O : -
A : Masalah belum teratasi
P : Intervensi dilanjutkan
1. Pantau pemasukan makanan
2. Ajurkan untuk makanan sedikit
tapi sering
3. Anjurkan untuk makan ketika masih
hangat.
R :
Intervensi dilanjutkan.
3 Kecemasan
berhubungan
dengan Perubahan
proses kesehatan

29/07/12








S :
1. klien menanyakan tentang
penyakitnya
2. klien mengatakan baru pertama kali
mengalami penyakit yang saat ini
diderita oleh klien

O :
1. klien cemas
2. klien tegang
3. klien meremas remas tanganya
4. observasi vital sign : TD = 130/60
mmhg, ND = 88 X/mnt, RR = 20



















09.15 09.17
wita
09,15 09.17
wita
10,00 11.00
wita

x/mnt

A :
Kecemaan

P :
1. kaji tingkat kecemasan
2. jelaskan semua prosedur dan
pengobatan
3. memberikan dorongan spiritual

I :
1. Mengkaji tingkat kecemasan :
kecemasan ringan
2. Menjelaskan semua prosedur dan
pengobatan
3. Memberikan dorongan spiritual

E :
Masalah belum teratasi

R :
1. Kaji tingkat kecemasan
2. Jelaskan semua prosedur dan
pengobatan
3. Berikan dorongan spiritual












Tabel 8 : Catatan Perkembangan Ny.M Tanggal 30 Juli 2012 di Ruang Rawat Teratai
Interna
No Dx Diagnose
Keperawatan
Tgl/Jam Evaluasi
1 2 3 4
1 Nyeri epigastrium
berhubungan
dengan Iritasi pada
mukosa lambung.

30/07/2012








S :
1. Klien mengatakan nyeri uluhati
seperti terbakar dan pedis serta
tembus belakang
2. Klien mengatakan nyerinya terus
menerus
3. Klien mengatakan mual
O :
1. Meringis
2. Memegang bagian yang sakit
3. Tidak konsentrasi saat diajak
komunikasi
4. Observasi vital sign : TD = 140 / 80
mmhg, ND = 90 x/mnt, RR = 20
x/mnt

09.00 09.15
wita
09.15 09.17
wita
13.00 13.05
wita

A :
Nyeri epigastrium
P :
1. Kaji tingkat tingkat nyeri beratnya
(skala 0 10)
2. Observasi TTV tiap 24 jam
3. Kolaborasi pemberian obat
analgesic : Paracetamol 3 x 1,
cemitidine 1 amp
I :
1. Mengkaji tingkat (skala 0 10) :
skala nyeri yang dirasakan skala 8
2. Observasi TTV tiap 24 jam : TD =
140/80 mmhg, ND = 90 x/mnt, RR =
20 x/mnt, S = 37C
3. Kolaborasi dengan pemberian obat
analgesic : parcetamol 3 x1,
cemitidine 1 amp
E :
Masalah belum teratasi
R :
2 Nutrisi kurang dari
kebutuhan
berhubungan
dengan anoreksia
30/07/12









S :
1. Klien mengatakan mulai ada nafsu
makan
2. Klien mengatakan tidak mual

O :
Porsi makan dihabiskan kurang lebih 10
sendok

A :
Masalah belum teratasi
P :


09,15 09.17
Wita
10.00 11.00
wita
12.00 12.15
wita

1. Pantau pemasukan makanan
2. Ajurkan untuk makanan sedikit tapi
sering
3. Anjurkan untuk makan ketika masih
hangat.
I :
1. Memantau masukan makanan
dengan hasil porsi makan
dihabiskan hanya kurang lebih 10
sendok
2. Menganjurkan untuk makan sedikit
tapi sering
3. Menganjurkan untuk makan ketika
masih hangat.
E :
S :
1. Klien mengatakan nafsu makan
bertambah
2. Klien mengatakan tidak mual
O :
Porsi makan dihabiskan kurang lebih 10
sendok
A :
Masalah belum teratasi
P : Intervensi dilanjutkan dirumah
1. Ajurkan untuk makanan sedikit tapi
sering
2. Anjurkan untuk makan ketika masih
hangat.
R :
Intervensi dilanjutkan dirumah

3 Kecemasan
berhubungan
dengan Perubahan
30/07/12

S :
1. Klien mengatakan sudah mengerti
tentang penyakitnya
proses kesehatan


















09.15 09.17
wita
10.00 11.00
wita
12.00 12.15
wita
2. Kilen mengatakan baru pertama
kali mengalami penyakit yang saat
ini diderita oleh klien
O :
1. Cemas (-)
2. Klien lebih rileks
3. Observasi vital sign :TD = 130 /
60mmHg, ND = 88 x/mnt, RR =
20 x/mnt
4. Observasi vital sign : TD = 130 / 60
mmhg, ND = 88x/mnt, RR =
20x/mnt
A :
Kecemasan
P :
1. Kaji tingkat kecemasan
2. Jelaskan semua prosedur
pengobatan
3. Berikan dorongan spiritual
I :
1. Mengkaji tingkat kecemasan :
Kecemasan ringan
2. Menjelaskan semua prosedur
pengobatan
3. Memberikan dorongan spiritual
E :
Masalah teratasi
R : -
1. Kaji tingkat kecmasan
Berikan dorngan spiritual




BAB IV
PEMBAHASAN
1. A. Pengkajian
Secara teori pengkajian dimulai dengan pengumpulan data, pengelompokan, atau analisa
data, dan perumusan diagnosa, pengkajian juga merupakan tahap pertama dari proses
keperawatan
Pada tahap pengkajian, penulis tidak banyak menemukan hambatan dalam mendapatkan
informasi baik dari klien, keluarga, dan perawat.
Data yang dikumpulkan berupa: data dasar yaitu semua informasi tentang klien mencakup :
riwayat kesehatan, riwayat keluhan utama, riwayat kesehatan masa lalu, riwayat kesehatan
keluarga, riwayat psikososial dan riwayat spiritual.
Berdasarkan hasil pengumpulan data pada kasus Ny.M didapatkan data bahwa.
1. Gejala
Klien mengatakan nyeri uluhati seperti terbakar serta tembus belakang ,klien mengatakan
mual, klien memegang bagian perut yang sakit, klien cemas dan tegang, sekali-kali klien
meremas remas tanganya, Klien mengatakan nyerinya terus menerus,Klien menanyakan
tentang penyakitnya,Klien mengatakan baru pertama kali mengalami penyakit yang saat ini
diderita oleh klien.

1. Tanda :
Mucosa bibir dan hidung kering, Klien lemah,Rush kulit kering,Pemeriksaan laboratorium
tanggal 27 Juli 2012 : HCT = 37,9%; MPV = 2,6 L, Observasi vital sign : TD = 140 / 80
mmHg, ND = 90 x/mnt, RR = 20 x/mnt, S = 37
o
c, Bising usus (+), Peristaltik usus
24 kali/menit, Meringis,Memegang bagian yang sakit, Tidak konsentrasi pada saat diajak
komunikasi, Klien cemas,Klien tegang, Klien meremas-remas tangannya.
Tidak ada kesenjangan yang didapatkan oleh peneliti antara data yang didapatkan oleh
peneliti melalui hasil pengkajian dengan teori tentang gejala dan tanda pada klien dengan
dispepsia, hanya saja format pengkajian yang peneliti gunakan tidak mencakup seluruh aspek
yang akan dinilai. Misalnya saja untuk mengkaji integritas ego, neurosensori, dan
nyeri/kenyamanan.
Sebab dari data hasil pengkajian yang dilakukan didapatkan data data yang termasuk dalam
lingkup aspek integritas ego, neurosensori, dan nyeri/kenyamanan, yang menunjang terhadap
masaalah keperawatan yaitu nyeri dan kecemasan.
B. Diagnosa keperawatan
Berdasarkan analisa data yang penulis lakukan dengan kasus dispesia pada Ny.M didapatkan
diagnosa keperawatan :
1. Nyeri berhubungan dengan Iritasi mukosa lambung akibat
2. Nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan dengan anoreksia
3. Kecemasanberhubungan dengan Perubahan proses kesehatan
Secara teori diagnosa keperawatan yang mungkin timbul pada kasus dispepsia adalah adalah :
1. Nyeri epigastrium berhubungan dengan iritasi pada mukosa lambung.
2. Nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan dengan rasa tidak enak setelah makan,
anoreksia.
3. Perubahan keseimbangan cairan dan elektrolit berhubungan dengan adanya mual, muntah
4. Kecemasan berhubungan dengan perubahan status kesehatannya
Dari ketiga diagnosis keperawatan yang didapatkan peneliti setelah peneliti melakukan
analisa terhadap data objektif dan data subjektif diagnose yang didapatkan oleh peneliti dari
hasil pengkajian, ada satu diagnose keperawatan yang seharusnya actual tetapi dalam
penulisan karya tulis ini peneliti menempatakan diagnose perubahan keseimbangan cairan
dan elektrolit berhubungan dengan mual, muntah kedalam diagnose resiko oleh karena data
yang didapatkan oleh penulis tidak mendukung masalah tersebut untuk ditempatkan sebagai
diagnose actual.
Sebagaiman kita ketahui bahwa Obat obatan, penyakit sitemik, endotoksin bakteri,
makanan yang terkontaminasi, makanan yang berbumbu seperti lada, cuka atau mustard,
kafein, alcohol, dan aspirin, obat obatan lain seperti, NSAID (indometasin, ibuprofen,
naproksen), sulfonamide, steroid dan digitalis keadaan tersebut dapat menyebabkan
kerusakan jaringan, khususnya pembuluh darah, hal ini akan merangsang pengeluaran
histamine, pengeluaran histamine merangsang peningkatan vasodilatasi, meningkatkan
permiabilitas kapiler terhadap protein, plasma bocor ke interstisium, mukosa menjadi edema,
dan sejumlah protein plasma hilang, mukosa kapiler dapat hilang, mukosa kapiler menjadi
rusak
Peningkatan asam akan mengakibatkan perangsangan kolinergik sehingga mengakibatkan
peningkatan motalitas, juga meningkatnya sekresi pepsinogen dan menyebabkan fungsi sawar
menurun dan terjadinya perubahan kualitatif mucus lambung keadaan ini menyebabkan
terjadinya dyspepsia (Brunner & Suddart, 2002) (Corwin, 2003) sehingga menyebabkan
masalah masalah keperawatan sebagaimana yanag telah disebutkan di atas.
Sedangkan dalam kasus Ny.M terdapat diagnosa yang tidak ditemukan dalam teori (E.
Doengoes, 1999) yaitu :
1. Perubahan keseimbangan cairan dan elektrolit berhubungan dengan adanya mual dan
muntah.
Disinilah terdapat kesenjangan, bahwa tidak semua diagnosa keperawatan yang terdapat
diteori , dapat diangkat pada kasus dispepsia pada Ny.M karena berdasarkan data penulis
peroleh, hanya menemukan sebagian data dari tanda dan gejala pada kasus dispepsia dilahan
praktek. Dan juga kasus yang sama tidak selalu memiliki diagnosa yang sama.
C. Intervensi
Dalam intervensi tidak didapatkan adanya kesenjangan antara intervesi yang ada dalam teori
dan intervensi yang penulis terapkan dalam praktek. Alasannya karena semua intervensi yang
ada dalam teori telah diterapkan dalam praktek klinik dilapangan.

D. Implementasi
Pelaksanaan rencana keperawatan mengacu pada rencana yang telah ditetapkan dalam teori.
Namun penulis tidak dapat melaksanakan semua rencana yang ada dalam teori tapi dapat
melaksanakan semua rencana sesuai dengan diagnosa keperawatan pada Ny.M dengan kasus
dipepsia diruang Teratai Interna RSU Mokopido Tolitoli.
Pada tahap pelaksanaan ini dalam memberikan asuhan keperawatan penulis tidak sepenuhnya
berada diruangan selama 24 jam. Maka selama penulis tidak berada diruangan perawatan
dilanjutkan oleh perawat yang ada diruangan.
Adapun yang menjadi faktor penghambat dalam memberikan asuhan keperawatan pada
Ny.M dengan kasus dispepsia diruang Teratai Interna RSU Mokopido Tolitoli adalah tidak
terpantaunya perawatan secara kontinue yang penulis rawat, karena tidak sebandingnya
jumlah perawat diruangan dengan klien yang dirawat.

1. E. Evaluasi
Evaluasi adalah proses yang berkelanjutan untuk menilai efek dari tindakan keperawatan
pada klien. Evaluasi dilakukan terus menerus pada respon klien terhadap tindakan
keperawatan yang telah dilaksanakan. Dalam melaksanakan evaluasi, penulis menggunakan
evaluasi proses dan evaluasi hasil.
Evaluasi proses dilakukan setiap selesai melaksanakan tindakan. Sedangkan evaluasi hasil
dilakukan dengan membandingkan respon klien pada tujuan yang telah ditentukan.
Evaluasi yang penulis lakukan pada asuhan keperawatan Ny.M dengan kasus dispepsia
dilakukan dengan pendekatan SOAP dan didokumentasikan pada catatan perkembangan
dengan menggunakan pendekatan SOAPIER.
Dari hasil pelaksanaan tindakan keperawatan yang diamati melalui catatan perkembangan
selama tiga hari, maka hasil yang diperoleh adalah pada tanggal 29 Juli 2012 untuk diagnose
kedua masalah teratasi yaitu cemas , sedangkan diagnose ketiga, yaitu : nutrisi kurang dari
kebutuhan. Tidak terjadi sampai hari ketiga dilakukan catatan perkembangan. Sedangkan
yang tidak teratasi adalah diagnose pertama yaitu nyeri sejak dilakukannya catatan
perkembangan dari tanggal 28 Juli sampai tanggal 30 dan terus diimplementasi berdasarkan
catatan perkembangan.
BAB V
PENUTUP
A. Kesimpulan
1. Di dalam pengkajian dan penegakkan diagnosa keperawatan tidak ditemukan adanya
kesenjangan dan yang ditemukan oleh peneliti antara data yang didapatkan oleh peneliti
melalui hasil pengkajian dengan teori tentang gejala dan tanda pada klien dengan dispepsia,
hanya saja format pengkajian peneliti gunakan tidak mencangkup seluruh aspek yang akan
dinilai. Misalnya saja untuk mengkaji integritas ego,dan neurosensori.
Sebab data dari hasil pengkajian yang dilakukan didapatkan data-data yang termasuk dalam
lingkup aspek integritas ego, neurosensori, dan nyeri/kenyamanan, yang menunjang terhadap
masalah keperawatan yaitu nyeri dan kecemasan.
1. Data yang diperoleh pada klien merupakan langkah awal yang ditempuh oleh penulis untuk
memperoleh data-data yang dibutuhkan agar asuhan keperawatan dapat ditegakkan. Dan
hasil dari data pengkajian keperawatan yang timbul pada klien kasus dispepsia dalam teori
tidak selamanya sama dengan yang ditemukan pada Ny.M dengan kasus dispepsia diruang
Melati RSU Mokopido Tolitoli.
2. Dari 4 diagnosa yang ada diteori, ketiga diagnosa yang didapatkan penulis pada Ny.M kasus
dispepsia yaitu, nyeri, nutrisi kurang dari kebutuhan dan cemas. . berdasarkan teori (E
Doenges, 1999) , nanda dan carpenito. Dimana diagnosa tersebut penulis tidak
mencantumkannya diteori. Dan tidak selamanya kasus yang sama mempunyai diagnosa yang
sama.
3. Perencanaan keperawatan kasus pada Ny.M dengan kasus dispepsia dibuat berdasarkan
teori yang ada. Namun penulis hanya menyesuaikan perencanaan yang ada dikasus
berdasarkan masalah keperawatan yang timbul
4. Pada tahap pelaksanaan, penulis dapat melaksanakan rencana yang telah disusun dengan
adanya dukungan dan bantuan klien serta keluarga.
5. Tahap evaluasi berdasarkan tujuan yang ditetapkan maka penulis menganalisa bahwa tidak
semua masalah dapat segera diatasi karena memerlukan waktu untuk perawatan dan
pengobataan teratur.






B. Saran
1. Bagi Institusi Rumah Sakit Khususnya Ruang Teratai Interna
Sebagai bahan acuan dalam penerapan proses keperawatan khususnya pasien dengan
dispepsia ruang melati, sehingga dapat meningkatkan mutu pelayanan keperawatan
1. Instisusi Pendidikan
Sebaiknya membuat acuan pengkajian asuhanan keperawatan sistim pencernaan yang baku
sehingga menjadikan panduan dalam penyusunan asuhan keperawatan di klinik baik bagi
mahasiswa maupun dosen. juga dapat mencegah timbulnya persepsi yang berbeda antara
dosen yang satu dengan dosen yang lainnya
1. Bagi Peneliti
Merupakan pengalaman yang sangat berharga bagi peneliti, dan dapat dijadikan bekal pada
saat peneliti melakukan implementasi asuhan keperawatan kepad individu, keluarga,
kelompok dan masyarakat
1. Bagi Pasien dan Keluarga
Sebagai sumber informasi bagi pasien dan keluarga, sehingga dapat dijadikan pedoman
dalam pencegahan dan penatalaksanaan jika pasien menderita dyspepsia atau dapat
memberikan informasi tersebut kepada orang lain baik yang membutuhkan.


RIWAYAT HIDUP PENULIS



1. Riwayat Hidup
Nama : MOH. RIZAL M. SAMAH
Tempat Tanggal Lahir : Kwala Besar, 26 Juni 1991
Umur : 20 Tahun
Agama : Islam
Alamat : Jln.Garuda Trans Sulawesi

1. Riwayat Pendidikan
2. Tamat SDN 08 Palele Tahun 2003
3. Tamat SMP Negeri 1 Palele Tahun 2006
4. Tamat SMA Negeri 1 Palele Tahun 2009
5. Mengikuti Pendidikan Akper Pemda Tolitoli tahun 2009
Senin, 14 Juni 2010
ASKEP GASTROENTERITIS
BAB II
LANDASAN TEORI

A. Konsep dasar medis
1. Anatomi dan fisiologi saluran pencernaan.
Saluran pencernaan makanan merupakan saluran yang menerima makanan dari luar dan
mempersiapkannya untuk diserap oleh tubuh dengan jalan proses Pencernaan (pengunyahan,
penelanan dan percampuran) dengan enzim dan zat cair yang terbentang mulai dari mulut (oris)
sampai anus.
(Syaifuddin, 1996, hal 87).
Saluran pencernaan terdiri dari: mulut, faring, osofagus, lambung, usus halus, usus besar, rectum,
anus.
a). Anatomi mulut (oris)
Mulut adalah permulaan saluran pencernaan yang terdiri atas dua bagian yaitu:
1) Bagian luar yang sempit atau vestibula yaitu ruang diantara gusi, gigi, bibir dan pipi.
2) Bagian rongga mulut/bagian dalam, yaitu rongga mulut yang dibatasi sisinya oleh tulang
maksilaris, palatum dan mandibularis disebelah belakang bersambung dengan faring.
a) Kelenjar parotis
b) Kelenjar submaksilaris
c) Kelenjar sublingualis (Syaifuddin, 1996, hal.88).
b) Faring
Faring merupakan organ yang menghubungkan rongga mulut dengan kerongkongan (osofagus), di
dalam lengkungan faring terdapat tonsil (amandel) yaitu kumpulan kelenjar limfe yang banyak
mengandung limfosis dan merupakan pertahanan terhadap infeksi. Disini terletak bersimpangan
antara jalan napas dan jalan makanan ( Syaifuddin, 1996, hal 88).
c) Osofagus.
Merupakan saluran yang menghubungkan tekak dengan lambung, panjangnya kurang lebih 25 cm,
mulai dari faring sampai pintu masuk kardiak dibawah lambung (Syaifuddin, 1996, hal 89).
d) Lambung
Bagian lambung terdiri dari:
1) Fundus Ventrikuli
2) Korpus ventrikuli
3) Antrum Pilorus
4) Kurvatura Minor
5) Kurvatura Mayor
6) Osteum Kardiakum.
Susunan lapisan dari dalam keluar terdiri dari: lapisan selaput lendir, lapisan otot melingkar, lapisan
otot miring, lapisan otot panjang, dan lapisan jaringan ikat/serosa.
Fungsi lambung terdiri dari:
1) Makanan, menghancurkan dan menghaluskan makanan oleh peristaltik lambung dan getah
lambung.
2) Getah cerna lambung yang dihasilkan:
a) Pepsin fungsinya, memecah putih telur menjadi asam amino (albumin dan pepton).
b) Asam garam (HCL) fungsinya: mengasamkan makanan, sebagai antiseptik dan desinfektan, dan
membuat Suasana asam pada pepsinogen sehingga menjadi pepsin.
c) Renin fungsinya, sebagai ragi membekukan susu dan membentuk kasein dari kasinogen
(kasinogen dan protein susu).
d) Lapisan lambung, jumlahnya sedikit memecah lemak menjadi asam lemak yang merangsang
sekresi getah lambung (syaifuddin, 1996, hal 91).
e) Usus Halus
Usus halus adalah tabung yang kira-kira sekitar dua setengah meter panjang dalam keadaan hidup
dan merupakan saluran pencernaan diantara lambung dan usus besar. Usus halus panjang, tube
yang berliku-liku yang memenuhi sebagian rongga abdomen.
Usus halus terdiri dari duodenum, yeyenum dan ileum.
1) Duodenum
adalah tube yang berbentuk huruf C dengan panjang kira-kira 25 cm, pada bagian belakang
abdomen, melengkung melingkari pancreas.
Duodenum di gambarkan kedalam 4 bagian:
Bagian I : menjalar kearah kanan
Bagian II : menjalar kearah bawah
Bagian III : menjalar kearah tranversal kiri dan disebelah depan vena kava inferior dan aorta.
Bagian IV : menjalar kearah atas untuk selanjutnya bergabung dengan yeyenum (Gibson John, 1995,
hal 163).
Bagian kanan duodenum terdapat selaput lendir yang membukit disebut papilla vateri, pada papilla
vateri ini bermuara saluran empedu (duktus koledokus) dan saluran pancreas (duktus
wirsungi/duktus pankreatikus). Empedu di buat di hati untuk dikeluarkan keduodenum melalui
duktus koledokus yang fungsinya mengemulsikan lemak, dengan bantuan lipase. Dinding duodenum
mempunyai lapisan mukosa yang banyak mengandung kelenjar-kelenjar brunner, berfungsi untuk
memproduksi getah intestinum (Syaifuddin, 1996, hal 91).
2) Yeyenum dan Ileum
Yeyenum merupakan bagian pertama dan ileum merupakan bagian kedua dari saluran usus halus.
Semua bagian usus tersebut mempunyai panjang yang bervariasi dari 300 cm sampai 900 cm (Gibson
John, 1995, hal 164).
Lekukan yeyenum dan ileum melekat pada dinding abdomen posterior dengan perantaraan lipatan
peritoneum yang berbentuk kipas dikenal sebagai mesenterium. Akar mesenterium memungkinkan
keluar dan masuknya cabang-cabang arteri dan vena mesentrika suporior, pembuluh limfe dan saraf
keruang antara 2 lapisan peritoneum yang membentuk mesenterium. Sambungan antara yeyenum
dan ileum tidak mempunyai batas yang tegas.
Ujung bawah ileum berhubungan dengan seikum dengan perantaraan lubang yang bernama
orifisium Ileoseckalis. Orifisium ini diperkuat oleh spinter ileuseikalis dan pada bagian ini terdapat
katup valvula seikalis atau valvula Baukini yang berfungsi untuk mencegah cairan dalam kolon
asendens tidak masuk kembali keadaan ileum (Syaifuddin, 1996, hal 91).
Fungsi usus halus adalah:
a) Mensekresi cairan usus.
b) Menerima cairan empedu dan pancreas.
c) Mencerna makanan.
d) Mengabsorbsi air, garam dan vitamin.
e) Menggerakkan kandungan kandungan usus sepanjang usus oleh kontraksi segmental pendek dan
gelombang cepat yang menggerakkan kandungan usus sepanjang usus menjadi lebih cepat.
f. Usus Besar.
Usus besar mempunyai panjang kurang lebih 1,5 meter dengan lebar 5-6 cm. Lapisan-lapisan usus
besar dari dalam keluar adalah:
1) Selaput lendir
2) Lapisan otot melingkar.
3) Lapisan otot penampang.
4) Jaringan ikat.
Fungsi usus besar, terdiri dari menyerap air dari makanan, tempat tinggal bakteri koli dan tempat
feses (Syaifuddin, 1996, hal 92).
Adapun bagian-bagian dari usus besar adalah sebagai berikut:
1. Seikum
Di bawah seikum terdapat apendiks vermiformis yang berbentuk seperti cincin sehingga disebut
umbai cacing, dengan panjang 6 cm. Seluruhnya ditutupi oleh peritoneum, mudah bergerak
walaupun tidak mempunyai mensentrium dan dapat diraba melalui dinding abdomen. (Syaifuddin,
1996, hal 92).
2. Colon Asenden
Panjangnya 13 cm, terletak dibawah abdomen sebelah kalon membujur keatas dari ileum kebawah
hati. Dibawah hati membengkok kekiri, lengkungan ini disebut fleksura hepatica dan dilanjutkan
sebagian kolon transversum (Syaifuddin, 1996, hal 92).
3. Apendiks
Bagian usus besar yang muncul seperti corong dari akhir seikum, mempunyai pintu keluar yang
sempit tapi masih memungkinkan dapat dilewati oleh beberapa isi usus (Syaifuddin, 1996, hal 92).
4. Colon Transversum
Panjangnya kurang lebih 38 cm, membujur dari kolon asendes sampai kekolon desendens berada
dibawah abdomen, sebelah kanan terdapat fleksura hepatica dan sebelah kiri terdapat fleksula
lienalis (Syaifuddin, 1996, hal 92).
5. Colon Desendens
Panjangnya kurang lebih 25 cm, terletak dibawah abdomen bagian kiri membujur dari atas kebawah
dari fleksura lienalis sampai kedepan ileum kiri, bersambung dengan colon sigmoid (Syaifuddin,
1996, hal 92).
6. Colon Sigmoid
Merupakan lanjutan dari kolon desendens terletak miring, dalam rongga pelvis sebelah kiri
bentuknya menyerupai huruf S, ujung bawahnya berhubungan dengan rectum (Syaifuddin, 1996, hal
92).
7. Rektum
Terletak dibawah colon sigmoid yang menghubungkan intestinum mayor dengan anus, terletak
dalam rongga pelvic didepan oscracum dan oscogcigis (Syaifuddin, 1996, hal 92).
8. Anus
Adalah bagian dari saluran pencernaan yang menghubungkan rectum dengan dunia luar. Terletak
didasar pelvik, dindingnya diperkuat oleh tiga spincter:
a) Spincter Ani Internus, bekerja tidak menurut kehendak.
b) Spincter Levator Ani, bekerja tidak menurut kehendak.
c) Spincter Ani Eksternus, bekerja menurut kehendak (Syaifuddin, 1996, hal 92).

1. Definisi
a. Gastroentritis adalah defekasi encer lebih dari tiga kali sehari dengan / tanpa darah dan /atau
lendir dalam tinja (Suhariyono, 2003).
b. Gastroentiris akut adalah defekasi yang terjadi secara mendadak dan berlangsung kurang dari 7
hari pada bayi dan anak yang sebelumnya sehat (Mansyoer Arief, et al., 1999, hal. 470).
c. Diare adalah perubahan tiba-tiba dalam frekuensi dan kualitas defekasi (Sandra M.Nettina, 2001,
hal 123).
d. Diare adalah kondisi dimana terjadi frekuensi defekasi yang abnormal (lebih dari 3 kali/hari) serta
perubahan dalam isi (lebih dari 200 gram/hari) dan konsistensi feses cair (Smeltzer dan Bare, 2001,
hal 1093)
e. Gastroenteritis adalah radang dari lambung dan usus yang memberikan gejala diare dengan atau
tanpa disertai muntah (muntah berak) (capital selekta.edisi 3.1999)
f. Diare adalah defekasi yang tidak normal, baik frekuensi maupun konsiistensinya.frekuensi diare
lebih dari 4X/hr (capital selekta,edisi 3.1999).

2. Etiologi
Gastroenteritis dapat disebabkan oleh obat-obatan tertentu (penggantian hormon tiroid, pelunak
feses dan laksatif, antibiotik, kemoterapi, dan antasida), selain itu semua gastroenteritis dapat juga
disebabkan oleh:
a. Faktor infeksi
1) Infeksi enteral; infeksi saluran pencernaan makanan yang merupakan penyebab utama diare pada
anak. Meliputi infeksi enteral sebagai berikut:
i. Infeksi bakteri: vibria, E.Coli, salmonella, shigella, compylobacter, yersiria, aeromonas dan
sebagainya.
ii. Infeksi virus: Enterovirus, (virus Echo, Coxsackie, Poliomielitis) Adenovirus, Rofavirus, Astrovirus,
Trichuris, Oxyuris, strongy loides, Protozoa, (Entomoeba histolyfica, giardia, lamblia, Trichomonas
hominis), jamur (candida albicans).
2) Infeksi parenteral ialah infeksi diluar alat pencernaan makanan seperti otitis media akut (OMA),
Tonsillitis/tonsilofaringitis, bronkopneumonia, ensefalitis, pemberian makanan perselang, gangguan
metabolic dan endokrin (Diabetes, Addison, Tirotoksikosis) serta proses infeksi virus/bakteri
(disentri, shigellosis, keracunan makanan).

b. Faktor Malabsorbsi
- Mal absrobsi karbohidrat: disakarida, (Intoleransi laktosa, maltosa dan sukrosa): monosakarida
(intoleransi glukosa, fruktosa dan galaktosa). Pada bayi dan anak yang tersering intoleransi laktosa)
- Mal absorbsi lemak
- Mal absorbsi protein.
c. Faktor makanan
Makanan basi, beracun, alergi terhadap makanan.

d. faktor psikologis
rasa takut dan cemas (jarang, tetapi dapat terjadi pada anak yang lebih besar) (Ngastriyah, 1997, hal
144).
e. Malnutrisi
f. Gangguan imunologi

3. Patofisiologi Gastroenteritis
Mekanisme dasar yang menyebabkan timbulnya gastroenteritis ialah:
a. Gangguan osmotik
Akibat terdapatnya makanan atau zat yang tidak dapat diserap akan menyebabkan tekanan osmotik
meninggi dalam rongga usus. Isi rongga usus yang berlebihan akan merangsang usus untuk
mengeluarkannya sehingga timbul gastroenteritis.
b. Gangguan sekresi
Akibat rangsangan tertentu (misalnya toksin) pada dinding usus akan terjadi peningkatan sekresi, air
dan elektrolit kedalam rongga usus dan selanjutnya timbul gastroenteritis karena terdapat
peningkatan isi rongga usus.
c. Gangguan motilitas usus
Hiperperistaltik akan mengakibatkan berkurangnya kesempatan usus untuk menyerap makanan
sehingga timbul gastroenteritis. Sebaliknya bila peristaltik usus menurun akan mengakibatkan
bakteri tumbuh berlebihan, selanjutnya timbul pula gasteoenteritis. Berdasarkan cairan yang hilang
tingkat dehidrasi terbagi menjadi:
1). Dehidrasi ringan, jika kekurangan cairan 5% atau 25 ml/kg/bb.
2). Dehidrasi sedang, jika kekurangan cairan 5-10% atau 75 ml/kg/bb.
3). Dehidrasi berat, jika kekurangan cairan 10-15% atau 125 ml/kg/bb. (Ngastiyah, 1997, hal 144).

Gastroenteritis dapat disebabkan oleh infeksi virus atau bakteri secara langsung atau oleh efek dari
nurotoxin yang diproduksi oleh bakteria. Infeksi ini menimbulkan peningkatan produksi air dan
garam ke dalam lumen usus dan juga peningkatan motilitas, yang menyebabkan sejumlah besar
makanan yang tidak dicerna dan cairan dikeluarkan. Dengan gastroenteritis yang hebat, sejumlah
besar cairan dan elektrolit dapat hilang, menimbulkan dehidrasi, hyponatremi dan hipokalemia
(Long, 1996).
Selain itu juga gastroenteritis yang akut maupun yang kronik dapat meyebabkan gangguan gizi akibat
kelaparan (masukan kurang, pengeluaran bertambah), hipoglikamik, dan gangguan sirkulasi darah
(Ngastiyah, 1997, hal 144).




4. Tanda dan gejala
Menurut Mansyoer Arief (2000), tanda dan gejala gastroenteritis atau diare adalah:
a. Mula-mula bayi atau anak cengeng, gelisah.
b. Suhu badan mungkin meningkat.
c. Nafsu makan berkurang atau tidak ada.
d. Diare.
e. Feses cair dengan darah atau lendir.
f. Warna tinja berubah menjadi kehijau-hijauan karena tercampur empedu.
g. Anus dan sekitarnya lecet karena tinja menjadi asam.
h. Gejala muntah dapat terjadi sebelum atau sesudah diare.
i. Dehidrasi, bila banyak cairan keluar mempunyai tanda-tanda ubun-ubun besar cekung, tonus dan
turgor kulit menurun, selaput lendir mulut dan bibir kering.
j. Berat badan turun.
5. Pemeriksaan Diagnosa
Menurut Mansyoer Arief (2000), pemeriksaan diagnostik pada klien gastroenteritis adalah sebagai
berikut:
a. Pemeriksaan tinja
1). Makroskopis dan mikroskopis.
2). Biarkan kumanuntuk mencari kuman penyebab.
3). Tes resistensi terhadap berbagai antibiotik (pada diare persisten).
4). PH dan kadar gula jika diduga ada toleransi gula (sugar Intolerance).
b. Pemeriksaan darah
1). Darah perifer lengkap.
2). Analisis gas darah dan elektrolit (terutama Na,K, Ca dan P serum pada diare yang disertai kejang).
3). PH dan cadangan alkali untuk menentukan gangguan keseimbangan asam basa.
4). Kadar uream dan kreatinin darah untuk mengetahui faal ginjal.
c. Duodenal intubation
Untuk mengetahui kuman penyebab secara kuantitatif dan kualitatif terutama pada diare kronik.
6. Penatalaksanaan
Menurut Mansyoer Arief (2000), penatalaksanaan gastroenteritis adalah terdiri dari:
i. Simtomatis
1). Terapi rehidrasi
Tujuan terapi rehidrasi untuk mengoreksi kekurangan cairan dan elektrolit secara cepat kemudian
mengganti cairan yang hilang sampai diarenya berhenti dengan cara memberikan oralit, cairan infus
yaitu Ringer Laktat, Dekstrose 5%. Dekstrosa dalam salin, dll.
2). Antispasmodik, Antikolinergik (Antagonis stimulus kolinergik pada reseptor muskarinik), contoh
obat: Papaperin.
3). Obat anti diare:
a). Obat anti motilitas dan sekresi usus (Loperamid).
b). Oktreotid (Sondostatin) sudah dicoba dengan hasil memuaskan pad
diare sklerotik.
c). Obat antidiare yang mengeraskan tinja dan absorbsi zat toksik yaitu: Norit 1-2 tablet diulang
sesuai kebutuhan.
4). Antiemetik (metoclopramid).
5). Vitamin dan mineral, tergantung kebutuhan yaitu vitamin B1, asam folat.
6). Makanan harus diteruskan bahkan ditingkatkan selama diare
untuk menghindarkan efek buruk pada status gizi.
b. Kausal
Pengobatan kausal diberikan pada infeksi maupun non infeksi, pada kasus kronik dengan penyebab
infeksi, obat diberikan berdasarkan etiologinya.

7. Komplikasi
Menurut Ngastiyah ( 1997), akibat yang ditimbulkan gastroenteritis atau diare adalah:
a. Dehidrasi (ringan, sedang, berat, hipotonik atau hipertonik).
b. Renjatan hipovolemik.
c. Hipokalemia (dengan gejala meteorismus, hipotoni otot, lemah, bradikardia, perubahan
elektrokardiogram).
d. Hipoglikemia.
e. Intoleransi sekunder akibat kerusakan vili mukosa usus dan defisiensi enzim laktosa.
f. Kejang, terjadi pada dehidrasi hipertonik.
g. Malnutrisi energi protein, (akibat muntah dan diare, jika lama atau kronik).

B. Konsep Dasar Keperawatan
Proses keperawatan adalah metode dimana suatu konsep diterapkan dalam praktik keperawatan.
Hal ini bisa disebut sebagai pendekatan problem solving (pemecahan masalah) yang memerlukan
ilmu, tehnik dan ketrampilan interpersonal dan ditujukan untuk memenuhi kebutuhan klien atau
keluarga dengan memberikan asuhan keperawatannya sesuai dengan lima tahap proses
keperawatan, yaitu: pengkajian, perumusan diagnosa, perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi
(Nursalam, 2001).
1. Pengkajian
Pengkajian merupakan tahap awal dari proses keperawatan dan merupakan suatu proses yang
sistematis dalam pengumpulan data dari berbagai sumber dan untuk mengevaluasi dan
mengidentifikasi status kesehatan klien (Nursalam, 2001).
Dalam tahap ini dilakukan pengumpulan data dengan cara anamnesa yang diperoleh dengan
wawancara, observasi, pemeriksaan fisik, pemeriksaan penunjang, serta mempelajari status klien.
Ada dua tipe data pada pengkajian yaitu: data subjektif dan data objektif.
Data subjektif adalah data yang diperoleh dari keluhan yang dirasakan pasien atau keluarga. Data
objektid adalah data yang diperoleh dari data pengukuran, pemeriksaan dan pengamatan (Ali, 2002,
hal 74).
Setelah pengumpulan data langkah berikutnya dalam pengkajian adalah pengelompokan data yang
terdiri atas data fisiologis, psikologis, social dan spiritual (PPNI, 1994). Pengelompokan data akan
memudahkan perawatan dalam menegakkan masalah keperawatan klien.
Untuk kasus gastroenteritis, pengkajian yang dilakukan meliputi:
a. Identitas klien
Nama, umur, jenis kelamin, alamat, tempat tanggal lahir, nama orang tua, pekerjaan dan pendidikan.
b. Riwayat kesehatan yang lalu
Penyakit yang pernah diderita, apakah sebelumnya pernah menderita gastroenteritis atau penyakit
lain, kebiasaan hidup, riawayat alergi dan lain-lain.
c. Riwayat kesehatan saat sakit
1). Keluhan utama: Keluhan yang sering ditemukan adalah BAB encer lebih dari empat kali sehari,
warna feses kuning kehijauan, hijau, bentuk mukoid dan mengandung darah.
2). Riwayat perjalanan penyakit: beberapa lama penyakit diderita, hal-hal yang meringankan dan
memperberat penyakit.
3). Upaya yang dilakukan untuk mengatasi keluhan.
d. Riwayat kehamilan dan persalinan ibu
Kehamilan dengan gawat janin, diabetes mellitus, malnutrisi, intrauteri, infeksi intra-natal,
persalinan dengan ada komplikasi, persalinan dengan tindakan karena ada komplikasi, penolong
persalinan (Sacharin, 1996).
e. Riwayat penyakit keluarga
Ada riwayat penyakit gastroenteritis
f. Riwayat alergi juga penting karena dapat juga menjadi indicator
penyakit terutama obat.
g. Riwayat pemberian imunisasi
Imunisasi lengkap atau tidak (Sastroasmoro, 1996).
h. Pengkajian fisik
1. Tanda-tanda vital: tekanan darah menurun akibat ketidakseimbangan cairan elektrolit, suhu
meningkat, nadi cepat, lemah, respirasi meningkat akibat asidosis metabolic.
2. Keadaan penyakit
Penyakit akut bila tidak segera ditangani dapat mengakibatkan dehidrasi yang ditandai depresi
fontanel anterior, mata cekung, turgor kulit buruk, selaput lendir kering, tidak ada air mata bila
menangis, sehingga klien dapat jatuh kedalam syok hipovolemik dan dapat meyebabkan kematian.
3. Keadaan umum klien
Mula-mula jatuh pada dehidrasi ringan yang apabila tidak segera diatasi maka akan jatuh pada
dehidrasi sedang dan berat, yang diawali kelemahan fisik.
4. Sistem integumen
Eksoriasi bokong akibat tinja asam, turgor kulit baik dan bila jatuh pada tahap dehidrasi berat maka
turgor kulit buruk.
5. Sistem hemotologi
Hiponatremia atau hipernatremia akibat kekurangan natrium, hipokalemia atau hiperkalemia akibat
kekurangan kalium, asidosis metabolic.

6. Sistem pernapasan
Respiratori meningkat akibat adanya asidosis metabolic apabila jatuh pada dehidrasi berat.
7. Sistem gastrointestinal
Nyeri atau kram abdomen, dehidrasi abdomen, hiperperistaltik usus.
i. Pola fungsi kesehatan
Pola fungsi kesehatan dapat di kaji melalui pola Gordon dimana pendekatan ini memungkinkan
perawat untuk mengumpulkan data secara sistematis dengan cara
mengevaluasi pola fungsi kesehatan dan memfokuskan pengkajian fisik pada masalah khusus.
j. Pola persepsi kesehatan dan pemeliharaan kesehatan
Kaji persepsi keluarga terhadap kesehatan dan upaya-upaya keluarga untuk mempertahankan
kesehatan. Termasuk juga penyakit anak sekarang ini dan upaya yang diharapkan.
k. Pola nutrisi metabolik
Kaji pola nutrisi anak dan bagaimana dengan pemberian ASI. Klien mengalami gangguan nafsu
makan, mual, muntah dan diare.
l. Pola eliminasi
Kaji pola eliminasi feses dan urin, berapa frekuensinya dan bagaimana sifatnya, BAB lebih empat kali
sehari, BAK tak terkaji, berat jenis urine tinggi, oliguria.
m. Pola istirahat-tidur
Gangguan tidur biasanya disebabkan oleh badan panas atau demam, BAB yang sering.
n. Pola kognitif perseptual
Pola ini sulit dan tak bisa dikaji/dilakukan
o. Pola peran hubungan
Kaji siapa yang mengasuh bayi. Klien sering digendong karena rewel.
p. Pola aktivitas dan latihan
Kaji tingkat perkembangan atau tumbuh kembang sesuai dengan usia.
q. Pola reproduksi
Tidak bisa di kaji pada bayi, tapi dapat dilihat dari cara orang tua memperlakukan anaknya sesuai
dengan jenis kelamin (pakaian, alat permainan).
r. Pola koping dan toleransi terhadap stress.
Untuk mengkaji pola ini sulit karena bahasa untuk bayi tidak dimengerti (menangis).
s. Pola keyakinan
Kajian tentang pola keyakinan ini lebih banyak pada bagian bagaimana pola keyakinan orang tua
klien.

2. Diagnosa keperawatan
Gastroenteritis mungkin menyebabkan interaksi fungsi normal dari system tubuh yang dipengaruhi.
Berdasarkan data pengkajian diagnosa keperawatan pasien yang utama yang berhubungan dengan
gastroenteritis meliputi: sesuai teori, bukan askep
b. Risiko terhadap kekurangan volume cairan berhubungan dengan pasase feses yang sering dan
kurangnya asupan cairan.
b. Risiko terhadap kerusakan integritas kulit berhubungan dengan pasase feses yang sering atau
encer (Smeltzer dan Bare, 2001, hal.1094)
c. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan masukan makanan tak
adekuat.
d. Kurang pengetahuan tentang kondisi, prognosis dan kebutuhan pengobatan berhubungan dengan
kurang mengenal informasi tentang kondisi ( Doenges, 2000, hal 426).
e. Perubahan pola eliminasi Bab, diare berhubungan dengan proses infeksi pada saluran cerna.
f. Perubahan ketidak nyamanan yang berhubungan dengan kram abdomen, diare, dan muntah
sekunder terhadap dilatasi vaskuler dan hiperperistaltik.

3. Perencanaan
Dalam menentukan perencanaan perlu menyusun suatu system untuk menentukan diagnosa yang
akan diambil tindakan pertama kali. Salah satu system yang bisa digunakan adalah hirarki kebutuhan
manusia Fyer et al, 1996 ( Nursalam, 2001, hal 52 ). Perencanaan meliputi pengembangan
strategi untuk mencegah, mengurangi atau mengoreksi masalah-masalah yang akan diidentifikasi
pada diagnosa kutipan dari Fiyer, taptik dan bernocehi, 1996 ( Nursalam, 2001, hal 51), dalam
pengaturan prioritas, perencanaan ada dua hirarki yang bisa digunakan:
1). Hirarki Maslow
Maslow menjelaskan kebutuhan manusia dibagi dalam lima tahap: fisiologi, rasa aman dan nyaman,
sosial, harga diri dan aktualitas diri. Dia mengatakan bahwa klien memerlukan suatu tahapan
kebutuhan. Jika klien menghendaki suatu tindakan yang memuaskan. Dengan kata lain kebutuhan
fisiologis biasanya sebagai prioritas utama bagi klien dari pada kebutuhan lain
( Nursalam, 2001, hal 52).
Dimana Maslow menggambarkan dengan skema piramida yang menunjukkan bagaimana seseorang
bergerak dari pemenuhan kebutuhan dasar dari tingkat kebutuhan yang lebih tinggi dengan tujuan
akhir adalah fungsi dan kesehatan manusia yang terintergrasi.



Keterangan:
a). Kebutuhan fisiologis O2, Co2, Elektrolik, makanan, sex .
b). Kebutuhan keselamatan dan keamanan, terhindar dari penyakit, pencuri dan perlindungan
hokum.
c). Mencintai dan dicintai : kasih sayang, mencintai, dicintai, diterima kelompok.
d). Harga diri: dihargai dan menghargai (Respek dan toleransi).
e). Aktualisasi diri: ingin diakui, berhasil dan menonjol
( Smeltzer and Bare, 2002, hal 14)

2). Hirarki kalish
Kalish 1983, lebih menjelaskan kebutuhan Maslow dengan membagi kebutuhan fisiologi menjadi
kebutuhan untuk bertahan dan stimulasi. Kalish mengidentifikasi kebutuhan untuk
mempertahankan hidup: udara, air, temperatur, eliminasi, istirahat dan menghindari nyeri, jika
terjadi kekurangan kebutuhan tersebut, klien cenderung menggunakan prasarana untuk memuaskan
kebutuhan tertentu, hanya saja mereka akan mempertimbangkan terlebih dahulu kebutuhan yang
paling tinggi prioritasnya, misalnya keamanan dan harga diri. Di kutif dari Iyer, el al, 1996 (Nursalam,
2001, hal 53)
Berdasarkan diagnosa keperawatan yang sering muncul pada klien dengan gastroenteritis maka
rencana keperawatan yang dapat dirumuskan adalah:
1). Risiko terhadap kekurangan volume cairan berhubungan dengan pasase feses yang sering dan
kurangnya asupan cairan.
Tujuan: volume cairan seimbang.
Kriteria hasil: - BAB tidak lebih dari satu kali perhari.
- Intake dan out put seimbang.
- Turgor kulit baik.
- Mata tidak cekung.
Intervensi:
a). Kaji adanya dehidrasi (penurunan turgor kulit, tacikardi, nadi lemah, penurunan natrium serum,
haus).
Rasional: keseimbangan cairan sulit di pertahankan selama episode akut. Karena feses di dorong
melalui usus terlalu cepat untuk memungkinkan absorbsi air; haluaran melebihi asupan
b). Mencatat intake dan output.
Rasional: Mengetahui kesimbangan antara intake dan output klien dan mengetahui banyak
pergantian cairan yang di perlukan.
c). Timbang berat badan setiap hari.
Rasional: sebagai indikasi dalam pemenuhan cairan dan nutrisi.
d). Berikan cairan parenteral sesuai indikasi.
Rasional: memperbaiki kehilangan cairan.
(Smeltzer and Bare, 2002, hal 1095).
2). Risiko terhadap kerusakan integritas kulit berhubungan dengan pasase feses yang sering atau
encer.
Tujuan: menunjukkan waktu penyembuhan yang tepat tanpa konplikasi.
Kriteria evaluasi: menunjukkan prilaku orang tua untuk mempertahankan kulit halus, kenyal dan
utuh.
Intervensi:
a). Observasi kemerahan, pucat, ekskoriasi.
Rasional: Area ini meningkat risikonya untuk kerusakan dan memerlukan pengobatan lebih intensif.
b). Gunakan krim kulit dua kali sehari dan setelah mandi.
Rasional: melicinkan kulit dan menurunkan gatal.
c). Tekankan pentingnya masukan nutrisi atau cairan adekuat.
Rasional: perbaiki nutrisi dan hidrasi akan memperbaiki kondisi kulit.
d). Dorong mandi dua hari satu kali, pengganti mandi tiap hari.
Rasional: sering mandi menyebabkan kekeringan kulit.
(Doenges, 2000, hal 434).
3). Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan masukan makanan tak
adekuat.
Tujuan: kebutuhan nutrisi dapat terpenuhi .
Kriteria hasil: dapat menghabiskan porsi makanan yang di hidangkan.
Intervensi:
a). Kaji dan catat masukan oral klien.
Rasional: mengetahui perkembangan nafsu makan klien dan memantau peningkatan masukan oral.
b). berikan klien makan dengan diet lunak, diet dengan porsi kecil tapi sering.
Rasional: mencegah kekosongan lambung yang dapat mengiritasi lambung .
(Doenges, 2002, hal 426).
4). Kurang pengetahuan tentang kondisi, prognosis dan kebutuhan pengobatan berhubungan
dengan kurang mengenal informasi tentang kondisi.
Tujuan: keluarga memahami proses penyakit dan pengobatan.
Kriteria hasil: - keluarga mengerti tentang penyakit dan pengobatan.
- keluarga berpartisipasi dalam pengobatan dan perawatan.
Intervensi:
a). Tentukan persepsi keluarga tentang proses penyakit.
Rasional: mengetahui tingkat pengetahuan dasar tentang proses penyakit dan pengobatan.
b). Kaji ulang proses penyakit, penyebab yang menimbulkan gejala.
Rasional: pengetahuan dasar yang akurat memberikan kesempatan keluarga untuk membuat
keputusan tentang penyakitnya.
c). Kaji ulang obat, tujuan, frekwensi, dosis dan kemungkinan efek samping.
Rasional: memungkinkan pemahaman dan dapat meningkatkan kerja sama dalam program.
d). Tekankan pentingnya perawatan kulit seperti tehnik. Cuci tangan yang bersih dan perawatan
perineal.
Rasional: Menurunkan penyebaran bakteri dan resiko iritasi kulit
(Doenges, 2002, hal 435).

5). Perubahan pola eliminasi Bab: diare berhubungan dengan proses infeksi pada saluran cerna.
Tujuan : Pola eliminasi kembali normal.
Kirteria hasil: BAB tidak lebih dari satu kali perhari, intake dan output seimbang, konsistensi feses
lembek.
Rencana tindakan:
a). Kaji dan catat frekwensi BAB, karakteristik feses dan faktor pencetus.
Rasional: Mengetahui penyebab diare dan menentukan tindakan selanjutnya.
b). Berikan istirahat yang cukup bagi klien.
Rasional: Membantu menurunkan mobilitas usus dan menurunkan metabolisme bila ada infeksi.
c). Observasi tanda-tanda vital
Rasional: Melalui tanda-tanda vital dapat diketahui perubahan suhu, nadi, tekanan darah dan
pernapasan yang abnormal atau kemungkinan terjadinya pre syok atau syok.
d). Berikan oral yang adekuat, porsi kecil tapi sering.
Rasional: Mempertahankan kondisi tubuh klien dan mencegah kekosongan lambung.
e). Kolaborasi dalam pemberian antibiotik.
Rasional: Mengobati sufuratif lokal.
6). Perubahan ketidaknyaman yang berhubungan dengan kram abdomen, diare, dan muntah
sekunder terhadap dilatasi vaskuler dan hiperperistaltik.
Tujuan: Rasa ketidaknyaman berkurang sampai hilang.
Kriteria hasil:
- Klien tidak rewel atau gelisah
- Hiperperistaltik dan diare sudah tidak ada lagi.
Rencana tindakan:
a). Baringkan klien dalam posisi terlentang dengan bantalan penghangat diatas abdomen.
Rasional: Tindakan ini meningkatkan relaksasi otot GI dan mengurangi kram.
b). Berikan masukan cairan sedikit tapi sering.
Rasional: Cairan dalam jumlah yang kecil tidak akan mendesak area gastrik dengan demikian tidak
memperberat gejala.
c). Lindungi daerah perianal dari iritasi.
Rasional: Sering BAB dengan peningkatan keasaman dapat mengiritasi kulit perianal (Carpenito,
1999, hal.190).
4. Pelaksanaan
Iyer (1996) mengatakan bahwa pelaksanaan tindakan keperawatan adalah inisiatif dari rencana
tindakan untuk mencapai tujuan yang spesifik.
Pelaksanaan atau implementasi merupakan aflikasi dari perencanaan keperawatan oleh perawat dan
klien. Hal-hal yang harus kita perhatikan ketika akan melakukan implementasi adalah intervensi yang
dilakukan sesuai dengan rencana. Setelah dilakukan validasi, pengasahan ketrampilan interpersonal,
intelektual dan psikologi individu. Terakhir melakukan pendokumentasian keperawatan berupa
mencatatan dan pelaporan (Nursalam, 2001).
Tahap ini merupakan tahap keempat dalam proses keperawatan, oleh karena itu pelaksanaannya
dimulai setelah rencana tindakan dirumuskan dan mengacu pada rencana tindakan sesuai skala
sangat urgen, urgen dan tidak urgen atau non urgen.
Dalam pelaksanaan tindakkan ada tiga fase yang harus dilalui yaitu: persiapan, perencanaan, dan
dokumentasi (Griffith, 1986), berikut penjelasannya:
a. Fase persiapan meliputi:
1). Revieuw antisipasi tindakan keperawatan.
2). Menganalisa pengetahuan dan ketrampilan yang diperlukan.
3). Mengetahui komplikasi yang mungkin timbul.
4).Persiapan alat.
5). Persiapan lingkungan yang konduksif.
6). Mengidentifikasi aspek hukum dan etik.


b. Fase intervensi terdiri atas:
1). Independen: tindakan yang dilakukan oleh perawat tanpa petunjuk atau perintah dokter atau tim
kesehatan lain.
2). Interdependen: tindakan perawat yang memerlukan kerjasama dengan tim kesehatan lain (gizi,
dokter, laboratorium, dll).
3). Dependen: berhubungan dengan tindakan medis atau menandakan dimana tindakan medis di
laksanakan.
c. Fase dokumentasi merupakan suatu catatan lengkap dan akurat dari tindakan yang telah
dilaksanakan. Dalam pelaksanaan tindakan asuhan keperawatan pada klien gastroenteritis perawat
berperan sebagai pelaksana keperawatan, pemberi support, pendidik, advokasi, konselor dan
pencatatan atau penghimpun data.

5.Evaluasi
Evaluasi adalah suatu yang direncanakan dan dibandingkan yang sistematis pada status kesehatan
klien ( Griffith dan Christensen, 1986).
Sedangkan Ignatavicius dan Bayne (1994) mengatakan evaluasi adalah tindakan intelektual untuk
melengkapi proses perawatan yang menandakan seberapa jauh diagnosa keperawatan, rencana
tindakan dan pelaksanaannya sudah berhasil dicapai.
Evaluasi terdiri atas dua jenis yaitu: evaluasi formatif dan evaluasi sumatif. Evaluasi formatif disebut
juga sebagai evaluasi proses, evaluasi jangka pendek atau evaluasi berjalan, dimana evaluasi
dilakukan sampai tujuan tercapai. Sedangkan evaluasi sumatif bisa disebut juga evaluasi hasil,
evaluasi akhir, evaluasi jangka panjang. Evaluasi ini dilakukan pada akhir tindakan keperawatan
paripurna dan menjadi suatu metode dalam memonitor kualitas dan efisiensi tindakan yang
diberikan. Bentuk evaluasi ini lazimnya menggunakan format SOAP (Nursalam, 2001).
Tujuan evaluasi adalah untuk mendapatkan umpan balik rencana keperawatan, nilai serta
meningkatkan mutu asuhan keperawatan melalui hasil perbandingan standar yang telah ditentukan
sebelumnya.
Dalam hal ini penilaian yang diharapkan pada klien dengan gastroenteritis adalah:
a. Konsistensi feses normal.
b. Klien atau bayi tidak lagi rewel.
c. Turgor kulit baik.
d. Gangguan keseimbangan cairan tubuh teratasi.

6.Perencanaan pulang (Dischange Planning)
Pada klien dengan gastroenteritis perlu adanya penyuluhan tentang cara-cara mencegah terjadinya
diare yaitu tidak mengkonsumsi makanan yang basi, mencuci sayur dan makanan sebelum dimasak,
minum air yang sudah dimasak, serta tidak boleh jajan di sembarang tempat (warung di pinggir
jalan), dan cuci tangan sebelum makan makanan yang kita makan.

Bila klien mengalami diare yang berat hendaknya cepat kerumah sakit untuk mendapatkan
pertolongan. Jika mengalami komplikasi hendaknya berobat teratur dan cek ulang secara teratur
pula.
Diposkan oleh Alfreed Richardson di 08.49
Reaksi:

Tidak ada komentar: Link ke posting ini
Kirimkan Ini lewat EmailBlogThis!Berbagi ke TwitterBerbagi ke FacebookBagikan ke Pinterest
Label: ASKEP GASTROENTERITIS BY ALFREED RICHARDSON
ASKEP HEPATITIS
BAB II
LANDASAN TEORI

A. Konsep dasar medis
1. Anatomi dan fisiologi
a. Hati
Hati terletak di belakang tulang-tulang iga ( Kosta ) dalam rongga abdomen daerah atas. Hati
memiliki berat sekitar 1.500 gr di bagi menjadi empat lobus. Setiap lobus hati terbungkus oleh
lapisan tipis jaringan ikat yang membentang kedalam lobus itu sendiri dan membagi massa hati
menjadi unit-unit yang lebih kecil disebut lobus. ( Smeltzer & Bare, 2001, ed 8 vol 2, hal. 1150 ).
b. Fungsi hati
Hati adalah pabrik kimia terbesar dalam tubuh. Hati memiliki suplai darah yang besar ( 1-1 Liter
per menit ) yang di terima melalui :
1) Vena porta, yang membawa produk pencernaan dari saluran cerna.
2) Arteri hepatica, yang membawa O2 yang dibutuhkan oleh hati
Fungsi hati meliputi :
- Mengubah zat makanan yang diasorbsi dari usus halus dan yang disimpan di suatu tempat dalam
tubuh, dikeluarkan sesuai dengan pemakaiannya dalam jaringan.
- Mengubah zat buangan dalam bahan beracun untuk disekresikan dalam empedu dan urine
- Menghasilkan enzim glikogenik glukosa menjadi glikogen
- Sekresi empedu
- Pembentukan ureum
- Menyimpan lemak untuk pemecahan terakhir asam karbonat dan air.
c. Fungsi metabolik hati
1). Metabolisme Glukosa
Glukosa yang diambil dari vena portal disimpan dan diubah dalam hepatosit sebagai cadangan
energi. Pada saat diperlukan glukogen diubah menjadi glukosa dan dilepaskan kedalam aliran darah
untuk mempertahankan kadar glukosa normal.
2). Konversi Amonia
Amonia merupakan hasil samping dari proses glukoneogenesis dengan penggunaan asam amino.
3). Metabolisme Lemak
Asam lemak dapat dipecah oleh hati untuk memproduksi energi dan badan keton yang dapat masuk
aliran darah dan menjadi sumber energi bagi otot dan jaringan tubuh. Pemecah asam lemak terjadi
pada kondisi seperti kelaparan dan diabetes tidak terkontrol.
4). Metabolisme Protein
Hati mensintesis hampir seluruh plasma protein. Vitamin K diperlukan hati untuk mensintesis
protombin dan sebagian faktor pembekuan lain.
5). Menyimpan Vitamin dan zat besi
Vitamin A, D dan beberapa vitamin b kompleks serta besi dan tembaga disimpan didalam hati.
6). Pembentukan empedu
Secara kontinyu hepatosit membentuk empedu dan dikumpulkan dalam kanalikulus serta saluran
empedu. Empedu dikumpulkan dan disimpan dalam kandungan empedu untuk kemudian dialirkan
kedalam intestinum bila diperlukan bagi pencernaan.
7). Ekskresi bilirubin
Hepatosit mengeluarkan bilirubin dari dalam darah, melalui reaksi kimia mengubahnya menjadi
asam glukoronat lewat konjugasi sehingga lebih dapat larut dalam larutan encer.
8). Metabolisme obat dalam hati meliputi proses konjugasi akibat tersebut dengan sejumlah
senyawa seperti asam glukoronat untuk membentuk substansi yang lebih larut sehimgga dapat
diekskresikan kedalam feses atau urine seperti ekskresi bilirubin
(Smeltzer dan Bare (2001), edisi 8 vol 2, hal.1152 )

2. Pengertian
a) Hepatitis adalah inflamai hati yang dapat terjadi karena invasi bakteri,
cedera oleh agen fisik atau kimia (non-verbal) atau infeksi virus (Hepatitis
A,B,C,D,E.). (Doenges, 1999, hal 534).
b) Istilah Hepatitis dipakai untuk semua jenis peradangan pada hati (liver Penyebabnya dapat
berbagai macam, mulai dari virus sampai dengan obat- obatan termasuk obat tradisional
(www.chom.is-try.org/-41k).

3. Etiologi
a. Bakteri serta virus hepatitis
b. Toksin/racun
c. Obat-obatan
d. Malnutrisi
e. Alkohol

4. Patofisiologi
Disfungsi hati terjadi akibat kerusakan pada sel-sel parenkim hati. Proses perjalanan penyakit yang
berkembang menjadi disfungsi hepatoseluler seperti bakteri serta virus, obat-obatan dan defisiensi
nutrisi.
Sel hati bereaksi terhadap unsur-unsur yang paling toksik melalui glikogen lipid sehingga terjadi
infiltrasi lemak. Metabolisme abnormal menyebabkan penurunan konsentrasi albumin serum dan
edema.
Hepatitis B terutama ditularkan melalui darah (Jalur perkutan dan permuosa). Virus tersebut pernah
ditemukan dalam darah, saliva, secret vagina, dan dapat ditularkan melalui membrane mukosa serta
luka pada kulit.
Hepatitis memiliki massa inkubasi yang panjang (1 sampai 6 bulan).Virus hepatitis mengadakan
replikasi dalam hati dan tetap berada dalam serum selama periode yang relative lama sehingga
memungkinkan penularan virus tersebut. Gejala dan tanda hepatitis B dapat samaran dan bervariasi.
Klien dengan hepatitis B dapat mengalami atralgia dan ruam, penurunan selera, makan, dyspepsia,
nyeri abdomen, pegal-pegal menyeluruh, tidak ene badan dan lemah.gejala ikterus dapat terlihat
atau kadang-kadang tidak nampak.
PATOFLODIAGRAM




5. Manifestasi klinis
a. Penurunan selera makan, anoreksia
b. Dyspepsia, nyeri tekan abdomen, nyeri tekan pada hepar
c. Pegal-pegal yang menyeluruh, tidak enak badan dan lemah
d. Ikterus, tinja berwarna cerah dan urine berwarna gelap
e. Hati dan limfa membesar
( Smeltzer & Bare (2001), ed 8 vol 2, hal 1174 ).

6. Pemeriksaan diagnostic
a. Tes fungsi hati : Abnormal (4 10 kali)
b. SGOT/SGPT : Awalnya meningkat. Dapat meningkat 1 2 minggu
sebelum ikterik, kemudian tampak menurun.
c. Darah lengkap : SDM menurun berhubungan dengan penurunan hidup
SDM/mengakibatkan perdarahan
d. Leucopenia : Trombositopenia mungkin ada
e. Feses : Warna tanah liat.
f. Albumin serum : Menurun
g. Gula darah : Hiperglikemia transient/hipoglikemi.
h. HBsAg : Dapat positif (tipe B)/negatif (tife A)
i. Masa protrombin : Mungkin memanjang
j. Urinalisa : peningkatan kadar bilirubin
( Doenges, 1999. hal 535 ).

7. Penatalaksanaan
a. Tirah baring
b. Nutrisi yang adekuat, diare rendah protein
c. Masa pemulihan, pengembalian aktivitas fisik
d. Tidak mengkonsumsi alcohol
e. Melindungi individu yang berisiko tinggi

8. Komplikasi
a. Nekrosis sel hati
Nekrosis diikuti oleh regenerasi dari jaringan hepar, tetapi tidak dalam cara yang normal. Jaringan
fibrosa yang terbentuk merusak bentuk normal lobule hepar. Perubahan fibrosa yang terbentuk
merusak bentuk normal lobule hepar.
b. Kegagalan hati Fulminan
Gagal hati fulminan ditandai oleh ensefalopati hepatic yang terjadi dalam waktu beberapa minggu
sesudah dimulainya penyakit pada pasien yang tidak terbukti menunjukan riwayat disfungsi hati.
Hepatitis virus merupakan penyebab gagal hati fulminan yang paling sering ditemukan. Penyebab
lainnya mencakup obat-obatan toksik dan zat-zat kimia, gangguan metabolic dan perubahan struktur
hati.


B. Konsep dasar keperawatan
Ilmu keperawatan didasarkan pada teori yang sangat luas. Proses keperawtan adalah metode
dimana suatu konsep diterapkan dalam praktek keperawatan. Hal ini disebut sebagai suatu
pendekatan problem-solving yang memerlukan ilmu, tekhnik, dan keterampilan intrapersonal dan
ditunjukan untuk memenuhi kebutuhan klien/keluarga. Proses keperawatan terdiri dari : pengkajian,
diagnosa keperawatan, perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi
1. Pengkajian
Pengkajian adalah tahap awal dari proses keperawatan dan merupakan proses yang sistematis
dalam pengumpulan data sebagai sumber data untuk mengevaluasi dan mengidentifikasikan status
kesehatan klien ( Nursalam, 2001, hal. 1 ). Tahap pengkajian merupakan dasar utama dalam
memberikan Asuhan keperawatan sesuai dengan kebutuhan individu. Setelah dilakukan pengkajian
data kemudian dikumpulkan dan terdiri dari 2 tipe data yaitu :
a. Data subjektif, data yang didapat dari klien sendiri sebagai salah satu pendapat terhadap situasi
dan kejadian. Informasi tersebut tidak dapat
ditentukan oleh perawat secara independen tetapi melalui interaksi atau komunikasi.(Nursalam
dikutip dari et-al,1996,2001,hal.19).
b. Data objektif, data yang dapat diobservasi dan diukur
( Nursalam dikutip dari Iyer et. al, 1996, 2001, hal. 19).
Untuk kasus hepatitis pada klien pengkajian yang dilakukan menurut Doenges (1999), hal 533
a. Makan/cairan
Gejala :hilang nafsu makan (anoreksia), penurunan berat badan atau meningkat (edema)
mual/muntah.
Tanda : Asites
b. Sirkulasi
Tanda : bradikardi (hiperbilirubinemia berat), ikterik pada sclera
c. Eliminasi
Gejala urine gelap, diare/konstipasi.
d. Neurosensori
Tanda : peka rangsang, cenderung tidur, letargi, asteriksis
e. Nyeri/ketidaknyamanan
Gejala : kram abdomen, nyeri tekan pada kuadran kanan atas, mialgia, artrolgia, sakit kepala, gatal.
Tanda : otot tegang, gelisah
f. Pernafasan
Gejala : tidak minat/enggan merokon (perokok)
g. Keamanan
Gejala : adanya transusi darah/produk darah
Tanda : demam, urtikasia, lesi makulopopuler, splenomegali.
h. Seksualitas
Gejala : pola hidup/perilaku meniingkat resiko terpajan

2. Diagnosa keperawatan
Diagnosa keperawatan adalah cara mengidentifikasikan, memfokuskan dan mangatasi kebutuhan
spesifik klien serta respon terhadap masalah aktual dan resiko tinggi. ( Doenges, 1999, hal. 8 ).
Diagnosa keperawatan adalah suatu pernyataan yang menjelaskan respon manusia dan individu
atau kelompok perawat secara pasti untuk menjaga, membatasi, mencegah dan mengubah status
kesehatan. (Nursalam, 2001. hal. 35 ).
Ada dua contoh Hirarki yang digunakan untuk menentukan prioritas masalah, yaitu :
a. Hirarki maslow.
Maslow (1976) menjelaskan kebutuhan dasar manusia di bagi lima, yaitu: fisiologi, rasa aman dan
nyaman, mencintai dan dicintai, harga diri dan aktualisasi diri. Kebutuhan fisiologi biasanya sebagai
prioritas utama bagi dan dari kebutuhan lainnya. (Sumber ; Nursalam, 2001, hal.52).
Gambar skema hirarki
kebutuhan manusia menurut maslow.

Keterangan :
1) Kebutuhan fisiologis.
Contoh : udara, air, makanan, elektrolit.
2) Kebutuhan keselamatan dan keamanan.
Contoh : terhindar dari penyakit, pencurian dan perlindungan hukum.
3) Kebutuhan rasa memiliki dan afeksi.
Contoh : mendambakan kasih sayang, ingin mencintai dan dicintai, diterima oleh kelompok.
4) Kebutuhan harga diri dan hormat diri.
Contoh : dihargai dan menghargai, respon dari orang lain, toleransi dalam hidup berdampingan.
5) Kebutuhan aktualisasi diri.
Contoh : pemenuhan diri, hasrat untuk mengetahui dan memahami kebutuhan estetik, ingin di akui,
berhasil dan menonjol dari orang lain.
(Sumber : Smeltzer dan Bare (2001), edisi 8 vol 2, hal.14).
b. Hirarki Kalish.
Kalish 91983) lebih jauh menjelaskan kebutuhan Maslow dengan berbagai kebutuhan fisiologis
menjadi kebutuhan untuk bertahan hidup, yaitu udara, air, temperature, eliminasi, istirahat dan
menghindari nyeri.
(Nursalam 2001 h-53) Dikutip dari Iyer et.al 1996.
Adapun diangnosa yang muncul pada klien dengan hepatitis adalah:
a. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan kelemahan umum dan gangguan rasa nyaman
(Doenges, 1999)
b. Perubahan nutrisi : kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan anoreksia, mual/muntah
(Doenges,1999).
c. Resiko tinggi transmisi infeksi berhubungan dengan sifat dapat menular agen virus
(Capernito,1999)
d. Kurang pengetahuan mengenai proses penyakit berhubungan dengan kurang inormasi.
(Doenges,1999).

3. Perencanaan
Perencanaan meliputi pengembangan strategi desain masalah untuk mencegah. Mengurangi atau
mengoreksi masalah-masalah yang diidentifikasikan pada diagnosa keperawatan. Tahap ini dimulai
setelah menentukan diagnosa keperawatan dan mengumpulkan rencana dokumentasi. (Nursalam
dikutip dari Iyer, Tap tich dan Bernocchi-Losey, 1996).
Langkah-langkah perencanaan untuk mengevaluasi rencana tindakan keperawatan, maka ada
beberapa komponen yang perlu di perhatikan, yaitu :
a. Menentukan prioritas
b. Menentukan criteria hasil
c. Menentukan rencana tindakan
d. Dokumentasi
(Sumber : Nursalam, 2001, hal.52).
Adapun perencanaan dari tiap-tiap diagnosa yang sudah ditetapkan adalah ;
a. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan kelemahan umum dan gangguan rasa nyaman
Tujuan :
Peningkatan energi dan partisipasi dalam aktivitas
Kriteria :
- Melaporkan peningkatan kekuatan dan kesehatan klien
- Menunjukan teknik/perilaku yang memampukan kembali melakukan aktivitas
Intervensi :
1. Tingkatkan tirah baring/duduk
Rasional: meningkakan istirahat dan ketenangan
2. Ubah posisi dengan sering. Berikan perawatan kulit yang baik.
Rasional : meningkatkan fungsi pernafasan dan meminimalkan tekanan pada area tertentu untuk
menurunkan resiko kerusakan jaringan
3. Tingkatkan aktivitas sesuai toleransi, bantu melakukan latihan gerak sendi pasif/aktif
Rasional : tirah baring lama dapat menurunkan kemampuan.
4. Awasi terulangnya anoreksia dan nyeri tekan pembesaran hati
Rasional : menunjukan kurangnya resolusi/ekaserbasi penyakit, memerlukan istirahat lanjut,
menganti program terapi (Doenges,1999,hal.534)

b. Perubahan nutrisi : kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan anoreksia,
mual/muntah.
Tujuan :
Perbaikan status nutrisi
Kriteria :
- Melaporkan peningkatan selera makan dan rasa sehat
- Menunjukan peningkatan berat badan
Intervensi :
1 Awasi pemasukan diet/jumlah kalori
Rasional : makan banyak sulit untuk mengatur bila klien anoreksia
2 Berikan perawatan mulut sebelum makan
Rasional : menghilangkan rasa tak enak dapat meningkatkan nafsu makan
3 Anjurkan makan pada posisi duduk tegak
Rasional : menurunkan rasa penuh pada abdomen dan dapat meningkatkan pemasukan
4 Dorong pemasukan sari jeruk, minuman karbonat dan permen sepanjang hari
Rasional : bahan ini merupakan ekstra kalori dan dapat lebih mudah dicerna (Doenges,1999,hal.534)

c. Resiko tinggi transmisi infeksi berhubungan dengan sifat dapat menular agen virus
Tujuan :
Mencegah/menurunkan resiko penyebaran infeksi
Kriteria :
Mencapai waktu perbaikan infeksi berulang tampa komplikasi
Intervensi :
1 Pantau tanda-tanda vital dengan ketat khususnya selama awal terapi
Rasional : selama periode waktu ini, potensial komplikasi fatal dapat terjadi.
2 Tunjukan/dorong teknik mencuci tangan yang baik
Rasional : efektif berarti menurunkan penyebaran/ tambahan infeksi
3 Batasi pengunjung sesuai indikasi
Rasional : menurunkan pemejanan terhadap pathogen infeksi lain.
4 Lakukan isolasi pencegahan sesuai individual
Rasional : tergantung pada tipe infeksi, respon terhadap antibiotic, kesehatan umum pasien, dan
terjadinya komplikasi, teknik isolasi mungkin diperlukan untuk mencegah penyebaran
(Doenges,1999,hal 169)

d. Kurang pengetahuan mengenai proses penyakit berhubungan dengan kurang informasi
Tujuan :
Klien mengerti tentang proses penyakit dan pengobatan
Kriteria :
- Menyatakan pemahaman proses penyakit dan pengobatan
- Melakukan perubahan perilaku dan berpartisipasi pada pengobatan
Intervensi :
1. Kaji tingkat pemahaman proses penyakit, harapan/ prognosis,
kemungkinan pilihan pengobatan
Rasional : Mengidentifikasi area kekurangan pengetahuan/ salah
informasi dan memberikan kesempatan untuk memberikan informasi tambahan sesuai keperluan
2. Berikan informasi khusus tentang pencegahan/penularan penyakit
Rasional : Kebutuhan akan bervariasi karena tipe hepatitis
3. Bantu klien mengidentifikasi aktivitas pengalih
Rasional : Aktifitas yang dapat dinikmati akan membantu klien
menghindari pemusatan pada penyembuhan panjang
4. Diskusikan efek samping dan bahaya obat yang dijual bebas
Rasional : Beberapa obat merupakan toksik untuk hati (Doenges,1999,hal 535)

4. Pelakasanaan
Pelaksanaan adalah inisiatif dari rencana tindakan untuk mencapai tujuan yang spesifik dikutip dari
Iyer et-al., 1996 (Nursalam, 2001, hal.63). Tujuan dari pelaksanaan adalah membantu klien dalam
mencapai tujuan yang telah ditetapkan, yang mencakup peningkatan kesehatan, pencegahan
penyakit, pemulihan kesehatan dan memfasilitasi koping(Nursalam, 2001, hal.63).

5. Evaluasi
Evaluasi adalah tindakan intelektual untuk melengkapi proses keperawatan yang menandakan
seberapa jauh diagnosa keperawatan, rencana tindakan dan pelaksanaannya sudah berhasil dicapai
(Nursalam,2001,hal.71). Tujuan evaluasi adalah untuk melihat kemampuan klien dalam mencapai
tujuan (Nursalam, 2001, hal.71).
Evaluasi yang digunakan mencakup dua bagian, yaitu evaluasi formatif yang disebut juga evaluasi
yang dilaksanakan secara terus menerus terhadap tindakan yang telah dilakukan. Sedangkan
evaluasi sumatif yang disebut juga evaluasi akhir tindakan yang dilakukan dan menggambarkan
perkembangan dalam mencapai tindakan yang dilakukan dan menggambarkan perkembangan
dalam mencapai sasaran yang telah ditentukan. Bentuk evaluasi ini lazim menggunakan format
SOAP. (Iyer,et-al,1996, Dalam Dokumentasi Nursalam).

6. Perencanaan pulang
a. Jelaskan kepada klien dan keluarga mengenai tanda gejala serta komplikasi yang mungkin timbul
b. Jelaskan kepada klien dan keluarga mengenai penyebaran virus hepatitis B dan cara melindungi
diri dari virus hepetitis B
c. Dorong keluarga untuk memberikan dukungan yang positif selama proses penyembuhan
d. Pengobatan lanjut di rumah
e. Rencanakan kontrol ulang untuk mengetahui kemajuan dalam pengobatan
Diposkan oleh Alfreed Richardson di 03.13
Reaksi:

Tidak ada komentar: Link ke posting ini
Kirimkan Ini lewat EmailBlogThis!Berbagi ke TwitterBerbagi ke FacebookBagikan ke Pinterest
Label: ASKEP HEPATITIS BY ALFREED RICHARDSON
ASKEP DHF
BAB II
TINJAUAN TEORI

A. KONSEP DASAR MEDIS
1. Pengertian
a. Dengue Hemorrhagic Fever (DHF) adalah penyakit yang disebabkan oleh virus dengue, sejenis
virus yang tergolong arbovirus dan masuk kedalam tubuh penderita melalui gigitan nyamuk aedes
aegypti betina (Christantie.E, 1995).
b. Dengue Hemorrhagic Fever adalah penyakit yang terdapat pada anak dan dewasa dengangejala
utama demam, nyeri otot dan sendi. (Mansjoer, Arif et al, 2001).

2. Etiologi
Penyebab DHF disebabkan oleh virus dengan sejenis yang tergolong arbovirus dan masuk kedalam
tubuh penderita melalui gigitan nyamuk aedes aegypti betina.

3. Perubahan Hematologi Pada Infeksi Dengue
Infeksi sekunder virus dengue menyebabkan terjadinya perubahan yang kompleks dan unik pada
berbagai mekanisme homeostatis dalam tubuh penderita antara lain.
a. Hematokrit dan Hemoglobin
Nilai hematokrit biasanya mulai meningkat pada hari ketiga, dari perjalanan penyakit dan makin
meningkat sesuai dengan proses perjalanan penyakit Dengue Hemorrhagic Fever (DHF). Peningkatan
hematokrit merupakan manifestasi hemokonsentrasi yang sering terjadi akibat kebocoran plasma
keruang ekstravaskuler disertai dengan efusi cairan serosa, melalui kapiler yang rusak. Akibat
kebocoran ini volume plasma menjadi berkurang yang dapat menyebabkan terjadinya syok
hipovolemik dan kegagalan sirkulasi. Pada kasus-kasus yang berat yang telah disertai perdarahan,
umumnya nilai hematokrit tidak meningkat, bahkan malah menurun. Kadar hemoglobin pada hari-
hari pertama biasanya normal atau sedikit menurun tetapi kemudian kadarnya akan naik mengikuti
peningkatan hemokonsentrasi dan merupakan kelainan hematologi paling awal yang dapat
ditemukan pada Dengue Hemorrhagic Fever (DHF).
b. Trombosit
Trombositopenia merupakan salah satu kriteria sederhana yang diajukan oleh WHO sebagai
diagnosis klinis penyakit Dengue Hemorrhagic Fever (DHF). Jumlah trombosit biasanya normal
selama 3 hari pertama. Trombositopenia mulai tampak beberapa hari setelah panas, dan mencapai
titik terendah pada fase syok.
Penyebab trombositopenia pada DHF masih kontroversial, sebagian peneliti mengatakan
kemungkinan penyebabnya adalah trombopolosis yang menurun dan destruksi trombosit dalam
darah yang meningkat. Peneliti lain menemukan adanya gangguan fungsi trombosit. Mekanisme
yang menyebabkan peningkatan destruksi dan gangguan fungsi trombosit belum diketahui dengan
jelas. Ditemukannya kompleks imun pada permukaan trombosit diduga sebagai penyebab agregasi
trombosit yang kemudian akan dimusnahkan oleh sistem retikloendotel khususnya dalam limfa dan
hati.
c. Leukosit
Pada penderita DHF dapat terjadi leukopenia ringan sampai leukositosis sedang. Leukopenia dapat
dijumpai antara hari pertama dan ketiga dengan hitung jenis yang masih dalam batas normal.
Jumlah granolosit menurun pada hari ketiga sampai hari kedelapan. Pada syok berat dapat dijumpai
leukositosis dengan neutropenia absolut.
Hal lain yang menarik adalah ditemukannya cukup banyak (20-50%) limfosit bentranformasi atau
atifik dalam sediaan apus darah tepi penderita DHF terutama pada infeksi sekunder. Limfosit atifik
ini merupakan sel berinti satu (mononuler) dengan struktur kromatin inti halus dan agak padat, serta
sitoplasma yang relatif lebar dan berwarna biru tua, oleh karenanya sel ini juga dikenal sebagai
limfosit plasma biru. Limfosit plasma biru ini sudah dapat ditemukan sejak hari ketiga terjadinya
panas, dan merupakan penunjang diagnosis DHF.
d. Sistem Koagulasi, fibrinolisis, kirin dan komplemen.
Sistem koagulasi disusun oleh faktor-faktor koagulasi berupa protein inaktif yang beredar dalam
darah, apabila terjadi aktivasi normal ataupun abnormal, faktor koagulasi akan diaktifkan secara
beruntun, mengikuti suatu dekade yang diawali dengan aktifasi faktor XII mulai dari sedikit
kemudian malah lama makin banyak sehingga aklhirnya terbentuk fibrin. Kompleks virus pada DHF
ternyata dapat juga mengaktifkan sistem ini.

4. Patofisiologi
Setelah virus dengue masuk kedalam tubuh, pasien akan mengalami keluhan dan gejala karena
viremia, seperti demam, sakit kepala, mual, nyeri otot, pegal seluruh badan, hiperemi
ditenggorokan, timbulnya ruam dan kelaianan yang mungkin muncul pada sistem retikuloendotelial
seperti pembesaran kelenjar-kelenjar getah bening, hati dan limfa. Ruam pada DHF disebabkan
karena kongesti pembuluh darah dibawah kulit.
Fenomena patologis yang utama pada penderita DHF adalah meningkatnya permealitas dinding
kapiler yang mengakibatkan terjadinya perembesan plasma keruang ekstra seluler dibuktikan
dengan ditemukannya cairan dalam rongga serosa, yaitu dalam rongga peritonium, pleuera dan
perikardium. Renjatan hipovolemik yang terjadi sebagai akibat kehilangan plasma, bila tidak segera
diatasi akan terjadi anoxia jaringan, asidosis metabolik dan kematian. Sebab lain kematian dari DHF
adalah perdarahan hebat, perdarahan umumnya dihubungkan dengan trombositopenia, gangguan
fungsi trombosit dan kelainan fungsi trombosit.
Fungsi agregasi trombosit menurun mungkin disebabkan proses imunologis erbukti dengan
terdapatnya kompleks imun dalam peredaran darah. Kelainan sistem koagulasi disebabkan
diantaranya oleh kerusakan hati iyang fungsinya memang terbukti terganggu oleh aktifasi sistem
koagulasi.
Masalah terjadi DIC pada DHF/DSS, terutama pada pasien yang perdarahan hebat.



5. Kasifikasi DHF
WHO, 1986 mengklasifikasikan DHF menurut derajat penyakitnya menjadi 4 golongan, yaitu :
a) Derajat I
Demam disertai gejala klinis lain, tanpa perdarahan spontan, panas 2-7 hari, uji tourniguet positif,
trombositopenia dan hemokonsentrasi.
b) Derajat II
Sama dengan derajat I, ditambah dengan gejala-gejala perdarahan spontan seperti petekie,
ekhimosis, hematemesis, melena, perdarahan gusi
c) Derajat III
Ditandai dengan gejala kegagalan peredaran darah seperti nadi lemah dan cepat, tekanan nadi
sempit, tekanan darah menurun
d) Derajat IV
Nadi tidak teraba, tekanan darah tidak teratur (denyut jantung 140x/menit), anggota gerak teraba
dingin, berkeringat dan kulit tampak biru.

6. Tanda dan Gejala
Selain tanda dan gejala yang ditampilkan berdasarkan derajat penyakitnya, tanda dan gejala lain
adalah :
Hati membesar, nyeri spontan yang diperkuat dengan reaksi perabaan
Acites
Cairan dalam rongga pleura (kanan)
Ensephalitis: kejang, gelisah, sopor koma.

7. Pemeriksaan dan Diagnosis
Trombositopenia ( 100.000/mm3).
Hb dan PCU meningkat ( 20 %).
Leukopenia (mungkin normal atau leukositosis)
Isolasi virus
Serologi (uji H): respon anti bodi sekunder.
Pada renjatan yang berat, periksa: Hb, PCU berulang kali (setiap jam atau 4-6 jam apabila sudah
menunjukan tanda perbaikan), faal hemostasis, FDP, EKG, foto dada, creatinin serum.

8. Penatalaksanaan
Indikasi rawat tinggal pada dugaan infeksi virus dengue : panas 1-2 hari disertai dehidrasi (karena
panas, muntah, masukan kurang) atau kejang-kejang, panas 3-5 hari disertai nyeri perut,
pembesaran hati, uji tourniguet positif/negatif, kesan sakit keras (tidak mau bermain), Hb dan PCV
meningkat, panas disertai perdarahan dan panas disertai renjatan.
a) Grade I dan II : belum atau tanpa rejatan
Oral ad libitum
Infus cairan ringer laktat dengan dosis 75 cc/kg BB/ hari untuk anak dengan BB <10kg> dari 80
MmHg dan nadi cepat lemah, akral dingin maka penderita tersebut memperoleh plasma atau plasma
ekspander (dekstran L atau yang lainnya) sebanyak 10 ml/kg BB/ 1jam dan dapat diulang maksimal
30 ml/kg BB/ dalam kurun waktu 24 jam.
Jika keadaan umum membaik dilanjutkan cairan RL sebanyak kebutuhan cairan selama 24 jam
dikurangi cairan yang sudah masuk dibagi sisa waktu setelah dapat mengatasi renjatan.


B. KONSEP DASAR KEPERAWATAN
Asuhan keperawatan adalah faktor penting dalam survival klien dan dalam aspek preventative,
pemeliharaan dan rehabilitatif perawatan kesehatan. Untuk itu samapai pada hal ini, profesi
keperawatan telah mengidentifikasi proses pemecahan massalah yang menggabungkan elemen yang
paling relevasi dari sistem teori dengan menggunakan metode ilmiah . dalam melakukan asuhan
keperawatan terdapat beberapa langkah yang harus ditempuh, langkah tersebut adalah:

1. Pengkajian
Pengkajian adalah tahap awal dari proses keperawatan dan merupakan suatu proses yang sistematis
dalam pengumpulan data dari berbagai sumber data untuk mengevaluasi dan mengidentifikasi
status kesehatan klien (Iyer, et al, 1996). Tahap pengkajian merupakan dasar utama dalam
memberikan asuhan keperawatan sesuai dengan kebutuhan individu. Oleh karena itu pengkajian
yang akurat, lengkap, sesuai dengan kenyataan, kebenaran data sangat penting dalam merumuskan
suatu diagnosa keperawatan dan memberikan pelayanan keperawatan sesuai dengan respon
individu. Oleh karena itu pengkajian yang akurat, lengkap sesuai dengan kenyataan, kebenaran data
sangat penting dalam merumuskan suatu diagnosa keperawatan dan memberikan pelayanan
keperawatan sesuai dengan respon individu, sebagaimana yang telah ditentukan dalam standar
praktek keperawatan ANA (American Nursing Association). Empat tahap pengkajian yaitu :
pengumpulan data, validasi data, pengorganisasian data dan identifikasi masalah atau analisa
masalah (La odo Junaidi Gaffar, S.Kp, 1999). Untuk klien dengan DHF pada pengkajian didapat data-
data sebagai berikut :
a) Identitas
DHF adalah penyakit yang disebabkan oleh virus dengue sejenis virus yang tergolong arbovirus dan
masuk kedalam tubuh penderita melalui gigitan nyamuk aedes aegypti (betina). (Christanti, 1995).
b) Keluhan Utama
c) Riwayat Penyakit Sekarang.
d) Riwayat Penyakit Dahulu
e) Riwayat Penyakit Keluarga
f) Riwayat Kesehatan Lingkungan
g) Riwayat Tumbuh Kembang
h) Pengkajian Persistem

2. Diagnosa Keperawatan
Diagnosa keperawatan adalah suatu pernyataan yang menjelaskan respon manusia (status
kesehatan atau resiko perubahan pola) dari individu atau kelompok dimana perawat secara
akuntabilitas dapat mengidentifikasi dan memberikan intervensi secara pasti untuk menjaga status
kesehatan menurun, membatasi, mencegah dan merubah (carpenito, 2000, dikutip dari Nursalam,
2001). Diagnosa Keperawatan yang muncul pada klien dengan DHF adalah:
a. Peningkatan suhu tubuh (hipertermia) b.d proses penyakit (viremia)
b. Gangguan pemenuhan kebutuhan nutrisi :kurang dari kebutuhan tubuh b.d, mual, muntah
anorexia, dan sakit saat menelan.
c. Kurang pengetahuan tentang proses penyakit, diet, perawatan, pengobatan dan pencegahan b.d
kurang informasi.
d. Gangguan aktivitas sehari-hari b.d kelemahan fisik.
e. Gangguan rasa nyaman: nyeri b.d mekanisme patologis (proses penyakit).
f. Resti terjadinya perdarahan lebih lanjut b.d trombositopenia.
g. Resti terjadi syok hipovolemik b.d perdarahan hebat.

3. Perencanaan
Setelah merumuskan diagnosa keperawatan, langkah berikutnya adalah menentukan perencanaan
keperawatan meliputi pengembngan strategi desain untuk mencegah, mengurangi dan mengoreksi
masalah-masalah yang teridentifikasi pada diagnosa keperawatan, dimana tahapan ini dimulai
setelah menentukan diagnosa keperawatan dan mengumpulkan rencana dokumen (Iyer, Taptich dan
Bennocchi Losey, 1996 dikutip dari Nursalam, 2001).
Tahapan dalam menentukan perencanaan ini meliputi menentukan prioritas, kriteria hasil, rencana
tindakan dan pendokumentasian (nursalam, 2001). Terdapat tiga rencana tindakan dalam tahap
rencana tindakan yaitu rencana tindakan perawat, rencana tindakan pelimpahan (medis dan tim
kesehatan lainnya) dan program medis. Untuk klien yang dalam pelksanaannya dibantu oleh
perawat (Carpenito, 2000). Berdasarkan diagnosa keperawatan yang muncul pada klien dengan DHF,
maka rencana keperawatan yang dapat dirumuskan antara lain :
a. Peningkatan suhu tubuh (hipertermia) b.d proses penyakit (viremia)
Tujuan:
Suhu tubuh dalam batas normal.
Kriteria hasil :
Suhu tubuh 36.5-37.5oC

Intervensi
1. Mengkaji saat timbulnya demam.
Rasional:
Untuk mengidentifikasi pola demam klien. (Christantie, E, 1995 h.29)
2. Mengobservasi tanda-tanda vital.
Rasional:
Tanda-tanda vital merupakan acuan untuk mengetahui keadaan umum klien. (Christantie, E, 1995
h.29)
3. Memberikan penjelasan tentang penyebab demam.
Rasional:
Penjelasan tentang kondisi yang dialami klien dapat membantu keluarga mengurangi
kecemasan.(Christantie, E, 1995 h.29)
4. Menganjurkan klien untuk banyak minum 2500cc/hari.
Rasional:
Peningkatan suhu tubuh mengakibatkan penguapan tubuh meningkat sehingga perlu diimbangi
dengan asupan cairan yang banyak.(Christantie, E, 1995 h.29)

b. Gangguan pemenuhan kebutuhan nutrisi: kurang dari kebutuhan tubuh b.d mual, muntah,
anorexia, dan sakit saat menelan.
Tujuan :
Kebutuhan nutrisi terpenuhi.
Kriteria hasil :
Klien mampu menghabiskan makanan sesuai porsi yang diberikan.
Intervensi :
1. Mengkaji keluhan mual, sakit menelan dan muntah yang dialami klien.
Rasional :
Untuk menetapkan cara mengatasinya (Christantie, E, 1995, h 30)
2. Mengkaji cara/bagaimana makanan dihidangkan.
Rasional :
Cara menghidangkan makanan dapat mempengaruhi nafsu makan. (Christantie, E, 1995, h 30)
3. Memberikan makanan yang mudah ditelan.
Rasional :
Membantu mengurangi keluhan klien dan meningkatkan asupan makanan karena mudah ditelan
(Christantie, E, 1995, h 30)
4. Memberikan makanan porsi kecil dan frekuensi sering.
Rasional :
Untuk menghindari mual dan muntah (Christantie, E, 1995, h 30)

c. Kurang pengetahuan tentang proses penyakit, diet,perawatan, pengobatan dan pencegahan b.d
kurang informasi.
Tujuan :
Pengetahuan keluarga meningkat.
Kriteria hasil :
Mampu menjawab waktu ditanya tentang proses penyakit.
Intervensi :
1. Mengkaji tingkat pengetahuan.
Rasional :
Untuk mengetahui sejauh mana informasi tentang penyakit yang diketahui serta kebenaran
informasi yang didapatkan sebelumnya.(Christiantie, E, 1995, h 33)
2. Mengkaji latar belakang pendidikan keluarga.
Rasional :
Agar perawat dapat memberikan penjelasan sesuai tingkat pendidikan sehingga dipahami dan
tujuan yang direncanakan tercapai. (Christiantie, E, 1995, h 30)
3. Menjelaskan tentang proses penyakit dengan sederhana.
Rasional :
Agar informasi dapat diterima dan mudah dimengerti.
(Christiantie, E, 1995, h 33)
4. Menggunakan leaflet atau gambar dalam memberikan penjelasan.
Rasional :
Dapat membantu mengingat penjelasan yang telah diberikan (Christiantie, E, 1995, h 33)

d. Gangguan aktivitas sehari-hari b.d kelemahan fisik.
Tujuan :
Kebutuhan aktivitas terpenuhi.
Kriteria hasil :
Klien mampu mandiri setelah bebas demam.
Intervensi :
1. Mengkaji keluhan klien.
Rasional :
Untuk mengidentifikasimasalah-masalah klien.
(Christiantie, E, 1995, h 36)
2. Mengkaji hal-hal yang mampu/tidak mampu dilakukan klien.
Rasional :
Untuk mengetahui tingkat ketergantungan..
(Christiantie, E, 1995, h 36)
3. Membantu klien memenuhi kebutuhan sesuai tingkat kemampuan.
Rasional :
Pemberian bantuan sangat diperlukan oleh klien pada saat saat kondisi lemah dan perawat
bertanggung jawab dalam pemenuhan kebutuhan sehari-hari.
(Christiantie, E, 1995, h 36)
4. Memberi penjelasan tentang hal-hal yang dapat membantu dan meningkatkan kekuatan fisik.
Rasional :
Dengan penjelasan yang diberikan kepada klien, maka klien termotivasi untuk kooperatif, seperti
mau menghabiskan makanan yang disediakan.
(Christiantie, E, 1995, h 36)

e. Gangguan rasa nyaman: nyeri b.d mekanisme patologis.(proses penyakit)
Tujuan :
Nyeri berkurang sampai hilang.
Kriteria hasil :
Wajah tampak rileks, skala nyeri 0-1
Intervensi :
1. Mengkaji tingkat nyeri.
Rasional :
Untuk mengetahui berapa berat nyeri yang dialami klien.
(Christiantie, E, 1995, h 38)
2. Memberikan posisi yang nyaman dan ruangan yang tenang.
Rasional :
Respon individu berbeda terhadap nyeri.
(Christiantie, E, 1995, h 38)
3. Melakukan distraksi.
Rasional :
Untuk mengurangi rasa nyeri.
(Christiantie, E, 1995, h 38)
4. Memberikan obat-obat analgesik kolaborasi dengan medis.
Rasional :
Dapat menekan atau mengurangi nyeri.
(Christiantie, E, 1995, h 38)

f. Resti terjadinya perdarahan lebih lanjut b.d trombositopenia.
Tujuan :
Tidak terjadi tanda-tanda perdarahan.
Kriteria hasil :
Trombosit meningkat.
Intervensi :
1. Monitor tanda-tanda penurunan trombosit.
Rasional :
Penurunan tanda-tanda trombosit merupakan tanda-tanda ada kebocoran pem buluh darah yang
pada tahap tertentu akan menimbulkan tanda-tanda klinis nyeri
(Christiantie, E, 1995, h 38)
2. Menjelaskan tentang pengaruh trombositopenia pada klien.
Rasional :
Agar keluarga mengetahui hal-hal yang mungkin terjadi pada klien
(Christiantie, E, 1995, h 38)
3. Memonitor jumlah trombosit
Rasional :
Untuk mengetahui tingkat kebocoran pembuluh darah.
(Christiantie, E, 1995, h 38)
4. Menganjurkan klien banyak istirahat.
Rasional :
Mengajukan klien banyak tidur. (Christiantie, E, 1995, h 38)

g. Resti terjadi syok hipovolemik b.d perdarahan hebat.
Tujuan :
Tidak terjadi syok.
Kriteria hasil :
Tanda-tanda vital dalam batas normal. (sesuai umur)

Intervensi :
1. Monitor keadaan umum klien.
Rasional :
Untuk mengetahui kondisi klien selama masa perawatan.
(Christiantie, E, 1995, h 38)
2. Monitor tanda-tanda vital.
Rasional :
Tanda-tanda vital normal menandakan keadaan umum klien baik.
(Christiantie, E, 1995, h 38)
3. Monitor tanda-tanda perdarahan.
Rasional :
Perdarahan yang cepat diketahui dapat diatasi sehingga klien tidak sampai syok. (Christiantie, E,
1995, h 38)
4. Pasang infus dan beri terapi cairan.
Untuk mengatasi cairan yang hilang. (Christiantie, E, 1995, h 38)

4. Pelaksanaan
Pelaksanaan adalah inisiatif dari rencana tindakan untuk mencapai tujuan yang spesifik (Nursalam
2001) tahap ini merupakan tahap keempat dalam proses keperawatan oleh karena itu pelaksanaan
dimulai setelah rencana tindakan dirumuskan sesuai skala urgent dan non urgent.
Dalam pelaksanaan tindakan ada tiga yang harus dilalui yaitu : persiapan, perencanaan, dan
pendokumentasian ( Nursalam 2001)
a) Fase persiapan meliputi
1) Review antisipasi tindakan keperawatan
2) Menganalisa pengetahuan dan keterampilan yang diperlukan
3) Mengetahui komplikasi yang mungkin timbul
4) Persiapan alat
5) Persiapan lingkungan yang kondusif
6) Mengidentifikasi aspek hukum dan etik

b) Fase implementasi
1) Independen
2) Interdependen
3) Dependen

c) Fase dokumentasi
Merupakan suatu catatan lengkap dan akurat dari tindakan yang telah dilaksanakan dalam
pelaksanaan tindakan asuhan keperawatan pada klien dengan bronkopneumonia perawat dapat
berperan sebagai pelaksana keperawatan, memberi support, pendidikan, advokasi dan pencatatan.

5. Evaluasi
Adalah salah satu yang direncanakan dan perbandingan yang sistematis pada status kesehatan klien
(Nursalam 2001) evaluasi terdiri dari dua jenis yaitu evalusi formatif atau evaluasi jangka pendek
dimana evaluasi ini dilakukan secepatnya setelah tindakan keperawatan dilakukan sampai tujuan
akhir. Sedangkan evaluasi sumatif ini disebut evaluasi akhir atau jangka panjang, dimana evaluasi
dilakukan pada akhir tindakan keperawatan. Sistem penulisan pada tahap evaluasi ini umumnya
menggunakan sistem SOAP (Nursalam 2001 hal 74)

6. Perencanaan Pulang
a. Kondisi, prognosis, dan pencegahan dipahami.
b. Anjurkan klien dan keluarga lebih menjaga kesehatan dirumah dengan melaksanakan 3 M.
c. Keluarga dan klien mengetahui tanda-tanda komplikasi seperti perdarahan.
Diposkan oleh Alfreed Richardson di 02.58
Reaksi:

Tidak ada komentar: Link ke posting ini
Kirimkan Ini lewat EmailBlogThis!Berbagi ke TwitterBerbagi ke FacebookBagikan ke Pinterest
Label: ASKEP DHF BY ALFREED RICHARDSON
ASKEP HERNIA
BAB II
TINJAUAN TEORITIS

A. Konsep Dasar Medis

1. Pengertian
a. Hernia adalah menonjolnya suatu organ atau struktur organ dari tempatnya yang normal melalui
sebuah defek congenital atau yang didapat (Barbara C.Long, hal 246).
b. Hernia adalah suatu alat dalam (viskus) atau bagiannya keluar dari pembungkusnya, sehingga
merupakan keadaan abnormal (David Oxedof, 1995, hal 60).
c. Hernia adalah ptotrusi atau penonjolan isi suatu rongga melalui defek atau bagian lemah dari
dinding rongga bersangkutan (Sjamsuhidayat, 1995, hal 700).
d. Hernia Inguinalis lateralis (indirek) ialah hernia yang melalui anulus inguinalis internus yang
terletak disebelah lateral vasa epigastrika inferior, menyusuri kanalis inguinalis dan keluar ke rongga
perut melalui anulus inguinalis eksternus (Kapita Selekta, 1982, hal 353).

2. Klasifikasi Hernia
a. Menurut lokalisasi
1) Hernia Inguinalis
- Indirek: batang usus melewati cincin abdomen dan mengikuti saluran sperma masuk ke dalam
kanalis inguinalis.
- Direk: batang usus melewati dinding inguinalis bagian posterior.
2) Hernia Diafragma
Hernia yang melalui diafragma.
3) Hernia Umbilikal
Batang usus melewati cincin umbilikal.

4) Hernia Femoralis
Batang usus melewati femoral ke bawah ke dalam kanalis femoralis.
5) Hernia Scrotalis
Batang usus yang masuk ke dalam kantong skrotum.
b. Hernia insisi menurut sifatnya
1) Hernia Reponibel
Isi hernia dapat keluar masuk, usus keluar jika mengedan, dan masuk jika berbaring atau didorong
masuk, tidak ada keluhan nyeri/gejala.
2) Hernia Ireponibel
Kantong hernia tidak dapat dikembalikan ke dalam rongga, ini disebabkan oleh perlekatan isi
kantong pada peritonial.
3) Hernia Inkaserada/Hernia Stragulata
Isi hernia terjepit oleh cincin hernia/terperangkap, tidak dapat kembali ke dalam rongga perut.

3. Anatomi Fisiologi
Saluran pencernaan makanan merupakan saluran yang menerima makanan dari luar dan
mempersiapkannya untuk diserap oleh tubuh dengan jalan proses pencernaan dengan enzim dan zat
cair yang terbentang mulai dari mulut sampai anus. Struktur pencernaan adalah:
a. Mulut
Mulut merupakan permulaan saluran pencernaan, selaput lendir mulut ditutup epithelium yang
berlapis-lapis. Dibawahnya terletak kelenjar-kelenjar halus yang mengeluarkan lendir. Selaput ini
kaya akan pembuluh darah dan memuat ujung akhir saraf sensoris didalam rongga mulut.
b. Faring
Faring merupakan organ yang menghubungkan rongga mulut dan kerongkongan (esofagus). Didalam
lengkung faring terdapat tonsil (amandel) yaitu kumpulan
kelenjar limfe yang banyak mengandung limfosit dan merupakan pertahanan terhadap infeksi, disini
terletak persimpangan antara jalan nafas dan jalan makanan, letaknya dibelakang rongga mulut dan
hidung.
c. Esofagus/Kerongkongan
Esofagus merupakan saluran pencernaan yang menghubungkan tekak dengan lambung, 25cm, mulai
dari faring sampai pintu masuk kardiak dibawahpanjangnya lambung.
d. Gaster/Lambung
Lambung merupakan bagian dari saluran yang dapat mengembang paling banyak terutama di daerah
spingter. Lambung terdiri dari bagian atas fundus uteri berhubungan dengan osofagus melalui
orifisium pilorik, terletak dibawah diafragma didepan pankreas dan limpa, menempel di sebelah kiri
fundus uteri.
e. Usus halus
Merupakan bagian dari sistem pencernaan makanan yang berpangkal dari pilorus dan berakhir pada
sekum, panjangnya 6 meter, merupakan saluran paling panjang tempat proses pencernaan dan
absorbsi hasil pencernaan.
Usus halus dibagi tiga bagian, yaitu:
1) Duodenum/Usus 12 jari, panjang 25cm berbentuk seperti tapal kuda melengkung kekiri, bagian
kanan duodenum terdapat selaput lendir yang disebut papilla vateri, disini terdapat muara saluran
empedu dan saluran pankreas. Empedu dibuat dihati untuk dikeluarkan di duodenum melalui duktus
koleduktus yang fungsinya mengemulsikan lemak dengan bantuan lipase. Pankreas menghasilkan
amilase yang berfungsi mencerna hidrat arang menjadi disakarida dan tripsin yang berfungsi
mencerna protein menjadi asam amino atau albumin dan polipeptida.
2) Yeyunum/Jejunum
Terletak di regio abdominalis media sebelah kiri dengan panjang 2-3 meter.
3) Ileum, terletak di regio abdominalis bawah dengan panjang 4-5 meter, lekukan yeyenum dan
ileum melekat pada dinding abdomen posterior dengan perantara lipatan peritonium yang
berbentuk kipas atau yang dikenal sebagai mesenterium.
f. Usus besar/Intestinum mayor
Panjangnya 1,5m, lebarnya 5-6cm. Bagian-bagian usus besar yaitu kolon asenden panjangnya
13cm, apendik (usus buntu), kolon tranversum panjangnya 38cm, kolon desenden panjangnya
25cm, kolon sigmoid, anus
g. Peritonium (selaput perut)
Peritonium terdiri dari dua bagian yaitu: peritonium parietal yang melapisi dinding rongga abdomen
dan peritonium viseral yang melapisi semua organ yang berada dalam rongga abdomen.
Fungsi peritonium:
1) Menutupi sebagian dari rongga abdomen dan pelvis.
2) Membentuk pembatas yang halus sehingga organ yang ada dalam rongga peritonium tidak saling
bergesekan.
3) Menjaga kedudukan dan mempertahankan hubungan organ terhadap dinding posterior abdomen.
4) Kelenjar limfe dan pembuluh darah yang membantu melindungi terhadap infeksi.

4. Etiologi
Penyebab Hernia Inguinalis yaitu:
a. Kongenital/cacat bawaan
Sejak kecil sudah ada, prosesnya terjadi intrauteri, berupa kegagalan perkembangan.
b. Herediter (kelainan dalam keturunan)
c. Umur (hernia dijumpai pada semua umur)
d. Jenis kelamin
Lebih banyak terjadi pada laki-laki dibandingkan dengan wanita
e. Didapat, seperti mengedan terlalu kuat, mengangkat barang-barang yang berat.

5. Patofisiologi
Hernia adalah potrusi atau penonjolan isi suatu rongga melalui defek atau bagian lemah dari dinding
rongga bersangkutan (R. Sjamsuhidjat, 1997). Hernia inguinalis dapat terjadi karena anomali
kongenital atau karena yang didapat (mengangkat beban berat, ngedan), hernia dapat terjadi pada
semua umur, lebih banyak pada pria dari wanita.
Faktor yang dipandang berperan kausal adalah adanya prosesus vaginalis yang terbuka, dan
kelemahan otot dinding perut karena usia.
Proses turunnya testis mengikuti prosesus vaginalis. Pada neonatus kurang lebih 90% prosesus
vaginalis tetap terbuka sedangkan pada bayi umur satu tahun sekiar 30% prosesus vaginalis belum
tertutup. Tetapi kejadian hernia pada umur ini hanya beberapa persen. Tidak sampai 10% anak
dengan prosesus vaginalis paten menderita hernia. Pada anak dengan hernia unilateral dapat
dijumpai prosesus vaginalis paten kontralateral lebih dari separo, sedangkan insidens hernia tidak
melebihi 20%. Umumnya disimpulkan bahwa adanya prosesus vaginalis yang paten bukan
merupakan penyebab tunggal terjadinya hernia tetapi diperlukan faktor lain seperti anulus ingunalis
yang cukup besar.
Tekanan intraabdomen yang meninggi secara kronik seperti batuk kronik, hipertrofi prostat,
konstipasi, dan asites sering disertai hernia ingunalis.
Insidens hernia meningkat dengan bertambahnya umur mungkin karena meningkatnya penyakit
yang meninggikan tekanan intraabdomen dan jaringan penunjang berkurang kekuatannya.
Dalam keadaan relaksasi otot dinding perut, bagian yang membatasi anulus internus turut kendur.
Pada keadaan itu tekanan intraabdomen tidak tunggu dan kanalis inguinalis berjalan lebih vertikal.
Sebaliknya bila otot dinding perut berkontraksi, kanalis inguinalis berjalan lebih transversal dan
anulus inguinalis tertutup sehingga dapat mencegah masuknya usus kedalam kanalis inguinalis.
Kelemahan otot dinding perut antara lain terjadi akibat kerusakan n.ilioinguinalis dan n.iliofemoralis
setelah apendektomi.
Jika kantong hernia inguinalis lateralis mencapai skrotum disebut hernia skrotalis. Hernia ini disebut
lateralis karena menonjol dari perut lateral pembuluh epigastrika inferior. Disebut indirek karena
keluar melalui dua pintu dan saluran yaitu anulus dan kanalis inguinalis; berbeda dengan hernia
medialis yang langsung menonjol melalui segitiga Hesselbach dan disebut sebagai hernia direk. Pada
pemeriksaan hernia lateralis, akan tampak tonjolan berbentuk lonjong sedangkan hernia medial
berbentuk tonjolan bulat.
Pada bayi dan anak, hernia lateralis disebabkan oleh kelainan bawaan berupa tidak menutupnya
prosesus vaginalis peritonium sebagai akibat proses penurunan testis ke skrotum. Hernia geser
dapat terjadi disebelah kanan atau kiri. Sebelah kanan isi hernia biasanya terdiri dari sekum dan
sebagian kolon asendens, sedangkan sebelah kirinya terdiri dari sebagian kolon desendens.
Pada umumnya keluhan pada orang dewasa berupa benjolan di lipat paha yang timbul pada waktu
mengedan, batuk, atau mengangkat beban berat, dan menghilang waktu istirahat baring. Pada bayi
dan anak-anak adanya benjolan yang hilang timbul di lipat paha biasanya diketahui oleh orang tua.
Jika hernia mengganggu dan anak atau bayi sering gelisah, banyak menangis, dan kadang-kadang
perut kembung, harus dipikirkan kemungkinan hernia strangulata (R. Sjamsuhidajat, 1997).



6. Tanda dan Gejala
a. Berupa benjolan keluar masuk/keras
b. Adanya rasa nyeri pada daerah benjolan
c. Terdapat gejala mual dan muntah atau distensi bila telah ada komplikasi
a. Terdapat keluhan kencing berupa disuria pada hernia femoralis yang berisi kandung kencing

7. Pemeriksaan Diagnostik
Dalam menegakkan diagnostik pada penderita hernia dapat dilakukan:
a. Pemeriksaan fisik, pasien diminta untuk mengejan dengan menutup mulut dalam keadaan berdiri
bila ada hernia maka akan tampak benjolan.
b. Bila sudah ada benjolan dapat diperiksa dengan cara meminta pasien untuk berbaring bernafas
dengan mulut untuk mengurangi tekanan intra abdominan, lalu scrotum diangkat perlahan-lahan.
c. Limfadenopati inguinal. Perhatikan apakah ada infeksi pada kaki sesisi.

8. Pengobatan dan Perawatan
a. Secara konservatif (non operatif)
1) Reposisi hernia
Hernia dikembalikan pada tempat semula bisa langsung dengan tangan.
2) Penggunaan alat penyangga dapat dipakai sebagai pengelolaan sementara, misalnya pemakaian
korset.
b. Secara operatif
1) Hernioplasty
Memindahkan fasia pada dinding perut yang lemah, hernioplasty sering dilakukan pada anak-anak
2) Hernioraphy
Pada bedah elektif, kanalis dibuka, isi hernia dimasukkan kantong diikat, dan dilakukan basiny plasty
atau tehnik yang lain untuk memperkuat dinding belakang kanalis inguinalis. Ini sering dilakukan
pada orang dewasa.
3) Herniotomy
Seluruh hernia dipotong dan diangkat lalu dibuang. Ini dilakukan pada klien dengan hernia yang
sudah nekrosis.
Perawatan untuk post operasi
a. Hindari penyakit yang mungkin terjadi yaitu: Perdarahan, Syok, Muntah, Distensi, Kedinginan,
Infeksi, Dekubitus, Sulit buang air kecil.
b. Observasi keadaan klien.
c. Cek TTV.
d. Cuci luka dan ganti balutan operasi sesuai pesanan dokter.
e. Perhatikan drainase.
f. Penuhi nutrisi.
g. Mobilisasi diri
- Perawatan tidur dengan sikap Fowler (sudut 450-600).
- Hari kedua boleh duduk (untuk herniotomi hari ke-5).
- Hari ketiga boleh jalan (untuk herniotomi hari ke-7).
h. Diet
- Hari 0: Bila pengaruh obat anestesi hilang boleh diberi minum sedikit-sedikit
- Hari 1: Diet Vloiher (herniotomi diet sama dengan post laparatomi)
- Hari 2: Diet bubur saring
- Hari 3: Berturut-turut diet ditingkatkan.

9. Komplikasi
a. Terjadi perlengketan dengan isi hernia dengan dinding kantong hernia, sehingga isi hernia tidak
dapat dimasukkan kembali
b. Obstruksi usus
c. Gangguan perfusi jaringan
d. Perforasi
e. Nekrosis isi hernia dan kantong hernia akan berisi transudat berupa cairan serosanguinus
f. Nyeri hebat ditempat hernia


B. Konsep Dasar Keperawatan

1. Pengkajian
Tahap ini merupakan tahap awal dalam proses keperawatan dan menentukan hasil dari tahap
berikutnya. Pengkajian dilakukan secara sistematis mulai dari pengumpulan data, identifikasi dan
evaulasi status kesehatan klien (Nursalam, 2001).
Untuk kasus hernia pengkajian data dasar (Lemone & Burke, 1996), meliputi:
a. Pola persepsi kesehatan dan pemeliharaan kesehatan
Data subjektif:
1) Kaji tingkat pengetahuan klien dan keluarga tentang pengobatan dan pemeliharaan kesehatan.
2) Kaji riwayat penyakit yang pernah dialami klien sebelumnya.
3) Apa upaya untuk mempertahankankesehatan dan mencegah penyakit.
4) Apa yang dilakukan klien bila mengalami gangguan kesehatan.
Data objektif:
1) Observasi penampilan dan keadaan fisik klien
2) Kaji kebutuhan klien dan kebutuhan ADL sehari-hari

b. Pola nutrisi metabolik
Data subjektif:
1). Tanyakan makanan dan minuman sehari-hari dalam 24 jam.
2). Kaji makanan kesukaan atau yang tidak disukai klien.
3). Kaji adanya gangguan menelan, mual, dan muntah.
4). Apakah ada alergi atau pantangan terhadap suatu makanan?
5). Tanyakan frekuensi makan dan jumlah makanan yang mampu dihabiskan.
Data objektif:
1). Observasi dan kaji nilai laboratorium.
2). Timbang berat badan dan catat hasilnya.

c. Pola eliminasi
Data subjektif:
1). Tanyakan kebiasaan buang air besar, teratur atau tidak, frekuensinya dalam sehari, warna dan
konsistensinya, adakah sulit saat membuang air besar dan bagaimana klien mengatasinya.
2). Kaji frekuensi buang air kecil, apakah sering menahan kencing?
Data objektif:
1). Observasi dan catat intake dan output setiap shift.

d. Pola aktivitas dan latihan.
Data subjektif:
1). Kaji tingkat aktivitas klien setiap hari.
2). Tanyakan adanya keluhan lemah, nyeri untuk beraktivitas.
Data objektif:
1). Observasi tingkat aktivitas klien.
2). Kaji kemampuan memenuhi kebutuhan ADL.

e. Pola tidur dan istirahat
Data subjektif:
1). Tanyakan jumlah tidur semalam.
2). Tanyakan kebiasaan dan jumlah tidur pada siang hari.
3). Tanyakan kebiasaan sebelum tidur.
4). Adakah kesulitan untuk tidur.

Data objektif:
1). Observasi keadaan lingkungan yang dapat mengganggu istirahat klien.
2). Kaji faktor intrinsik individu yang dapat mengganggu istirahat klien.

f. Pola peran sosial
Data subjektif:
1). Tanyakan apakah penyakit ini mempengaruhi klien dan keluarga.
2). Tanyakan apakah hubungan klien dengan keluarga, teman akan mengalami perubahan.
Data objektif:
1). Kaji interaksi klien dengan pasien disebelah kiri, kanan dan dengan tenaga perawat dan dokter.

g. Persepsi diri-konsep diri
Data subjektif:
1). Tanyakan pada klien bagaimana perasaannya terhadap gangguan yang dialaminya saat ini.
2). Bagaimana masalah ini dapat membuat pandangan klien terhadap diri sendiri.
3). Tanyakan pada klien bagaimana perasaannya tentang operasi yang dialaminya.
Data objektif:
1). Kaji adanya ungkapan rendah diri klien.
2). Kaji respon verbal dan non verbal klien.

h. Pola nilai kepercayaan
Data subjektif:
1). Tanyakan apakah klien menganut sistem kepercayaan tertentu.
2). Tanyakan kebebasan klien dalam melakukan kegiatan ibadahnya.

Data objektif:
1). Kaji respon verbal dan non verbal klien saat menanyakan nilai kepercayaannya.

2. Diagnosa Keperawatan
Diagnosa keperawatan adalah suatu pernyataan yang menjelaskan respon manusia dan individu
atau kelompok dimana perawat secara akuntabilitas dapat mengidentifikasi dalam memberikan
intervensi secara pasti untuk menjaga status kesehatan membatasi mencegah dan merubah
(Carpenito, 2000).
Adapun diagnosa keperawatan yang sering muncul pada klien pasca operasi Hernioraphy menurut
Doenges (1999) adalah:
a. Gangguan rasa nyaman nyeri berhubungan dengan insisi bedah.
b. Gangguan integritas kulit berhubungan dengan insisi bedah.
c. Resiko tinggi infeksi berhubungan dengan luka operasi.
d. Kurang pengetahuan (kebutuhan belajar) mengenai kondisi penyakit dan kebutuhan pengobatan
berhubungan dengan kurang informasi.

3. Rencana keperawatan
Perencanaan meliputi perkembangan strategi desain untuk mencegah, mengurangi dan mengoreksi
masalah-masalah yang diidentifikasi pada diagnosa keperawatan, dimana tahapan ini dimulai setelah
menentukan diagnosa keperawatan dan menyimpulkan rencana dokumentasi (Nursalam, 1999)
Berdasarkan diagnosa keperawatan yang muncul pada klien pre dan post operasi hernia, rencana
tindakan keperawatan yang dapat dilakukan antara lain:
a. Gangguan rasa nyaman: nyeri berhubungan dengan insisi bedah.
Tujuan: nyeri terkontrol sampai hilang

Kriteria evaluasi:
1). Klien melaporkan nyeri berkurang atau tidak ada nyeri
2). Klien mampu beristirahat/tidur dengan tepat
3). Tanda-tanda vital dalam batas normal
Rencana tindakan keperawatan:
1). Selidiki keluhan nyeri, perhatikan lokasi, intensitas dan faktor pemberat/penghilang. Perhatikan
petunjuk non verbal misalnya melindungi otot, nafas dangkal, respon emosi
Rasional:
Nyeri insisi pada fase pasca operasi awal, diperberat oleh gerakan, batuk distensi abdomen, mual.
Membantu mengidentifikasi intervensi yang tepat dan mengevaluasi keefektifan analgesia (Doenges,
1999).
2). Anjurkan klien untuk melaporkan nyeri segera saat mulai
Rasional:
Intervensi diri pada kontrol nyeri memudahkan pemulihan otot/jaringan dengan menurunkan
tegangan otot dan memperbaiki sirkulasi (Doenges, 1999).
3). Pantau tanda-tanda vital
Rasional:
Respon autonomik meliputi perubahan pada TD, nadi, dan pernafasan, yang berhubungan dengan
keluhan/penghilang nyeri. Abnormalitas tanda vital terus menerus memerlukan evaluasi lanjut
(Doenges, 1999).
4). Kaji insisi bedah, perhatikan edema atau inflamasi, pembentukan hematoma, mengeringnya tepi
luka.
Rasional:
Pendarahan pada jaringan, bengkak, inflamasi atau terjadinya infeksi dapat menyebabkan
peningkatan nyeri insisi (Doenges, 1999).


5). Ambulasi klien sesegera mungkin.
Rasional:
Menurunkan masalah yang terjadi karena imobilisasi misal: tegangan otot, tertahannya flatus
(Doenges, 1999).

b. Gangguan integritas kulit berhubungan dengan insisi bedah.
Tujuan: klien mencapai pemulihan luka tepat waktu tanpa komplikasi
Kriteria evaluasi:
1). TTV dalam batas normal
2). Klien tidak demam
3). Tidak terjadi infeski
4). Luka tidak mengeluarkan drainase atau inflamasi
Rencana tindakan keperawatan:
1). Pantau tanda-tanda vital dengan sering, perhatikan demam, takipnea, takikardia dan gemetar.
Rasional:
Mungkin indikatif dari pembentukan hematoma (Doenges, 1999).
2). Periksa luka dengan sering terhadap bengkak insisi berlebihan, inflamasi dan drainase.
Rasional:
Terjadinya infeksi menunjang perlambatan pemulihan luka (Doenges, 1999).
3). Bebas insisi selama batuk dan latihan nafas.
Rasional:
Meminimalkan stress/tegangan pada tepi luka yang sembuh (Doenges, 1999).
4). Gunakan plester kertas/bebat montgonery untuk balutan sesuai indikasi.


Rasional:
Penggantian balutan sering dapat mengakibatkan kerusakan pada kulit karena perlekatan yang kuat
(Doenges, 1999).

c. Resiko tinggi infeksi berhubungan dengan ketidakadekuatan pertahanan primer, luka operasi
Tujuan: tidak terjadi infeksi
Kriteria evaluasi:
1). Klien mencapai pemulihan luka tepat waktu
2). Klien bebas dari demam
3). Luka bebas dari drainase purulen atau eritema
4). TTV dalam batas normal
Rencana tindakan keperawatan
1). Pantau tanda-tanda vital, perhatikan peningkatan suhu
Rasional:
Suhu malam hari memuncak yang kembali normal pada pagi hari adalah karakter infeksi.
Peningkatan suhu 4-7 hari setelah pembedahan sering menandakan abses luka (Doenges, 1999).
2). Observasi penyatuan luka, karakter drainase, adanya inflamasi
Rasional:
Perkembangan infeksi dapat memperlambat pemulihan (Doenges, 1999).
3). Pertahankan perawatan luka aseptik. Pertahankan balutan kering
Rasional:
Melindungi pasien dari kontaminasi silang selama penggantian balutan. Balutan basah menyerap
kontaminasi eksternal (Doenges, 1999).
4). Berikan obat-obatan sesuai indikasi: antibiotik.
Rasional:
Diberikan secara profilatif dan untuk mengatasi infeksi (Doenges, 1999).

d. Kurang pengetahuan (kebutuhan belajar) mengenai kondisi, prognosis dan kebutuhan pengobatan
berhubungan dengan kurang informasi.
Tujuan : memenuhi kebutuhan belajar klien
Kriteria evaluasi:
1). Klien dan keluarga mengungkapkan pemahaman tentang proses penyakit dan pengobatan .
Rencana tindakan keperawatan
1). Tentukan persepsi klien tentang proses penyakit
Rasional:
Membuat pengetahuan dasar dan memberikan kesadaran kebutuhan belajar (Doenges 1999)
2). Kaji ulang proses penyakit, penyebab/efek hubungan faktor yang menimbulkan gejala dan
mengidentifikasi cara menurunkan faktor pendukung. Dorong pertanyaan
Rasional:
Pengetahuan dasar yang akurat memberikan kesempatan pasien untuk membuat keputusan
informasi/pilihan tentang masa depan dan kontrol penyakit kronis. Meskipun kebanyakan pasien
tahu tentang proses penyakitnya sendiri, mereka dapat mengalami informasi yang telah tertinggal
atau salah konsep (Doenges 1999).
3). Identifikasi tanda-tanda, gejala yang memerlukan evaluasi medis (misalnya demam menetap,
bengkak, eritema, terbukanya tepi luka, dan perubahan karakteristik drainase).
Rasional:
Pengenalan dini dari komplikasi dan intervensi segera dapat mencegah progresi situasi serius,
mengancam hidup (Doenges 1999)
4). Demonstrasikan perawatan luka/mengganti balutan yang tepat.
Rasional:
Meningkatkan penyembuhan, menurunkan resiko infeksi, memberikan kesempatan untuk
mengobservasi pemulihan luka (Doenges 1999)
5). Anjurkan peningkatan aktivitas bertahap sesuai toleransi dan keseimbangan dengan periode
istirahat yang adekuat
Rasional:
Mencegah kelelahan, merangsang sirkulasi dan normalisasi fungsi organ. Meningkatkan
penyembuhan (Doenges 1999).

4. Implementasi
Pelaksanaan tindakan keperawatan adalah inisiatif dari rencana tindakan untuk mencapai tujuan
yang spesifik (Nursalam, 2001). Pelaksanaan asuhan keperawatan dengan hernioraphy tentunya
merujuk pada rencana keperawatan yang telah dirumuskan.
Dalam tahap pelaksanaan ini, perawat berperan sebagai pelaksana keperawatan, memberi
dorongan, pendidik, advokasi, konselor dan penghimpunan data (Carpenito, 1999).

5. Evaluasi
Tindakan intelektual untuk melengkap proses keperawatan yang menandakan seberapa jauh
diagnosa keperawatan, rencana tindakan dan pelaksanaannya sudah berhasil dicapai (Nursalam,
2001).
Evaluasi terdiri dari 2 jenis, yaitu evaluasi formatif dan evaluasi sumatif.
a. Evaluasi formatif (evaluasi proses, evaluasi jangka pendek, atau evaluasi berjalan) dimana evaluasi
dilakukan secepatnya setelah tindakan keperawatan dilakukan sampai tujuan tercapai.
b. Evaluasi sumatif (evaluasi hasil, evaluasi akhir dan evaluasi jangka panjang), evaluasi ini dilakukan
diakhir tindakan keperawatan paripurna dilakukan dan menjadi metode dalam memonitor kualitas
dan efisiensi tindakan yang diberikan. Bentuk evaluasi ini lazimnya menggunakan format SOAP
(Nursalam, 2001).
Tujuan evaluasi adalah untuk mendapatkan umpan balik dalam rencana keperawatan, nilai serta
meningkatkan mutu asuhan keperawatan melalui hasil perbandingan, dan standar yang telah
ditentukan sebelumnya.
Ada empat kemungkinan yang dapat terjadi pada tahap evaluasi, yaitu: masalah teratasi seluruhnya,
masalah teratasi sebagian, masalah tidak dapat teratasi, dan timbulnya masalah baru.

6. Perencanaan Pulang
Pada klien dengan post hernioraphy perlu adanya penyuluhan tentang penyakit hernia dan cara
merawat luka bekas operasi dan mencuci luka dengan baik serta mengetahui tanda-tanda penyebab
infeksi. Dan anjurkan klien supaya tidak mengangkat beban berat dan beraktivitas berat.
Bila klien mengalami infeksi pada luka operasi maka hendaknya segera di bawa ke rumah sakit untuk
segera mendapatkan pertolongan serta pengobatan teratur dari rumah sakit.