Anda di halaman 1dari 14

KEBIJAKAN DAN

PERENCANAAN ENERGI
LETY TRISNALIANI
TEKNIK ENERGI
POLITEKNIK NEGERI SRIWIJAYA
SILABUS
Nama Mata Kuliah : Kebijakan dan
Perencanaan Energi
Kode Mata Kuliah : TI 084702
SKS : 2
Semester : 6
Program Studi : Teknik Energi


Tujuan Mata Kuliah

Setelah menyelesaikan mata
kuliah ini diharapkan
mahasiswa dapat memiliki
pengetahuan tentang
perencanaan dan kebijakan
umum bidang energi
nasional

Standar Kompetensi

Mahasiswa dapat menjelaskan sistem energi (konsep energy, lokasi dan
energy konsentrasi, statistik energy nasional dan internasional)
Mahasiswa dapat memahami dan menjelaskan kebijakan umum bidang
energi (KUBE)
Mahasiswa mampu memahami dan menjelaskan aspek aspek studi
kelayakan dalam perencanaan energi
Mahasiswa mampu memahami dan menjelaskan metode perencanaan
energy secara komulatif (perencanaan energy selaku faktor perhitungan
moneter, perhitungan sumber energy, produksi panas buang, perhitungan
energy pada pembangkit pembangkit sumber energy seperti
pembangkit listrik, reaktor nuklir, energy matahari, dan energy
biomassa).
Mahasiswa dapat memahami dan menjelaskan permasalahan analisa
energy.


Strategi Perkuliahan

Perkuliahan menggunakan
strategi tatap muka dengan
metode ceramah, diskusi,
tanya jawab dan latihan.
Mahasiswa mendapatkan
tugas mandiri dan kelompok
berupa paparan

Evaluasi Belajar

Komponen penilaian
Tugas
Kuis
Ujian Tengah Semester
( Mid 1 dan Mid 2)
Ujian Akhir Semester


SISTEM ENERGI

Energi diperlukan untuk menggerakkan berbagai
aktivitas, baik alami maupun buatan. Energi menjadi
salah satu penentu keberlangsungan hidup suatu
masyarakat, dalam kemampuannya menjaga berbagai
proses ekologis, menggerakkan berbagai aktivitas
ekonomi dan secara umum meningkatkan kualitas
hidup. Keberlangsungan tingkat dan kualitas aktivitas
sangat tergantung kepada ketersediaan dan konsumsi
energy (Hughes, 2000). Secara teknis, energy diartikan
sebagai kemampuan untuk melakukan usaha. Namun
demikian, energy sering secara keliru disinonimkan
dengan sumber energy (seperti listrik, gas, batubara,
biomassa dan lainnya). Terdapat perbedaan mendasar
pula antara energy dan suatu komoditas, misalnya besi,
tembaga, atau beras.
Yang dimanfaatkan dari energy adalah layanan yang
disediakannya, bukan energy itu sendiri. Layanan energy
(energy service) adalah berupa manfaat yang dihasilkan oleh
pembawa energy bagi kepentingan hidup manusia (Modi
dkk., 2005). Contoh layanan energy yang diterima oleh
manusia seperti panas untuk memasak, cahaya untuk
penerangan rumah atau pabrik, daya mekanis untuk
menumbuk atau menggiling biji bijian, komunikasi, dan
lainnya. Sementara Lovins (2004) mengartikan layanan
energy sebagai fungsi yang dituju dengan melakukan
konservasi energy sebagai fungsi yang dituju dengan
melakukan konversi energy dalam berbagai piranti. Fungsi
tersebut misalnya kenyamanan, mobilitas, udara segar,
fisibilitas, hiburan, reaksi elektrokimia, dan sebagainya.
Terdapat berbagai macam pembawa energy, seperti listrik yang
dapat dibangkitkan dari bermacam macam sumber energy (air,
angin, matahari atau batubara). Sementara itu, layanan energy
dapat diperoleh dari beragam pembawa energy tersebut, misal
cahaya dari bahan bakar atau listrik atau daya mekanik yang
diperoleh dari energy potensial air, energy kinetic angin, atau dari
listrik. Sementara itu yang penting dari sisi pemakai adalah layanan
energy, bukan sumber energy. Pemakai (rumah tangga, bisnis dan
lainnya) menuntut adanya kehandalan (reliability), keterjangkauan
(affordability) dan akses (accessibility) terhadap layanan energy.
Ketersediaan energy merupakan salah satu kebutuhan dasar
manusia. Ketersediaan energy tersebut mempengaruhi cara
manusia mengolah bahan dan hasil pertanian, memasak, menerangi
ruangan, menyediakan fasilitas pendidikan, fasilitas kesehatan,
fasilitas usaha, fasilitas telekomunikasi, fasilitas hiburan dan
sekitarnya.

Ada tingkat minimal konsumsi energy per kapita
per hari tertentu yang harus dicapai oleh suatu
negara agar warganya dapat terpenuhi kebutuhan
hidup dasarnya dan mencapai standar hidup yang
layak. Satu analisis memperkirakan bahwa
diperlukan setidaknya 100 watts per kapita per
hari (Najam dan Cleveland, 2003) untuk
penyediaan fasilitas masak dengan gas (seperti
LPG-Liquidi Petroleum Gas) serta listrik untuk
penerangan, kipas angin, lemari pendingin kecil,
dan televisi. Angka tersebut hanya sepersepuluh
konsumsi energi yang diperlukan untuk memenuhi
standar hidup Eropa Barat.

Peran Energi di Indonesia
Energi mempunyai peran luas dan signifikan bagi Indonesia.
Dalam perekonomian Indonesia yang mendasarkan pada
kerangka pembangunan nasional, peran sector energy sering
dikaitkan dengan sector sumber daya mineral. Menurut ESDM
(2008), peran dua sector tersebut dapat ditelaah dari Sembilan
sudut pandang sebagai berikut:
Sebagai sumber energy domestic
Sebagai sumber penerimaan negara
Sebagai pendukung pembangunan daerah
Sebagai faktor penting dalam neraca perdagangan
Sebagai sumber sasaran investasi
Sebagai beban subsidi
Sebagai faktor penting Indeks Harga Saham Gabungan
Sebagai bahan baku industri
Sebagai pemicu efek positif berantai

KETAHANAN ENERGI
Dewasa ini ketahanan energy makin menjadi pusat perhatian
dominan dalam kebijakan energy. Berbagai organisasi masing
masing mengemukakan definisi ketahanan energy mereka yang
dapat dicermati misalnya dalam UN-ESCAP (2008). Laporan Asia
Pacific Energy Research Centre mendefinisikan ketahanan energy
sebagai kemampuan sebuah sistem ekonomi untuk menjamin
ketersediaan pasokan energy secara berkelanjutan dan dalam
waktu yang tepat dengan tingkat harga yang tidak merugikan
kinerja sistem ekonomi tersebut.
Konsep ketahanan energy mencakup berbagai jenis energy di
sepanjang rantai pasokannya (supply chain) dengan memasukkan
variabel ketersediaan fisik dan harga. Ketahanan energy
merupakan kondisi yang menghubungkan berbagai variabel,
seperti energy, politik dan pembangunan ekonomi. Dapat
dikatakan secara singkat bahwa perwujudan ketahanan energy
ditandai dengan tercapainya kemampuan merespon dinamika
perubahan energy global (eksternal) dan kemandirian dalam
menjamin ketersediaan energy (internal). Hal ini harus
diusahakan dengan kebijakan yang sekaligus mengatur sisi
pasokan dan sisi kebutuhan.

Persoalan Mendasar Sistem Energi

Layanan energy perlu ditopang oleh suatu sistem yang berkelanjutan. Seperti
halnya ekosistem, sistem energy yang berkelanjutan ditandai oleh
kemampuannya memasok layanan energy dalam batas ketersediaan sumber
energy dan kemampuan mengurai berbagai limbah dan dampak negative sebagai
akibat siklus hidup pemanfaatan sumber energy tersebut (Hughes, 2000).
Kemampuan suatu ekosistem untuk mendaur ulang bahan makanan dan limbah
dibatasi oleh kemampuan berbagai organisme (seperti berbagai tumbuhan dan
berbagai bakteri an aerobic) dalam mengkonversi sumber energy non-organik
(misal energy matahari) menjadi berbagai bentuk organic energy (misal melalui
proses fotosintesis). Namun demikian aplikasi berbagai teknologi memungkinkan
manusia membangkitkan aliran energy jauh di atas yang ditemui dalam sistem
biologis alami. Dalam aktivitas manusia laju produksi barang dan jasa serta
berbagai jenis limbah berhubungan sangat erat dengan laju konsumsi energy.
Sistem energy yang berkelanjutan tersebut harus mampu memenuhi kebutuhan
energy umat manusia secara berkelanjutan, suatu sistem yang selalu mampu
memenuhi kebutuhan namun tidak membahayakan daya dukungan lingkungan.
Lebih luas dari sekedar tinjauan
lingkungan dalam sistem berkelanjutan,
saat ini terdapat berbagai persoalan
mendasar, yang dapat dikelompokkan
sebagai berikut :
Ketergantungan berlebih terhadap sumber
energy fosil
Rendahnya rasio elektrifikasi
Ketergantungan terhadap biomassa
tradisional