Anda di halaman 1dari 16

BAB II

PENDAHULUAN

Karsinoma ovarium merupakan penyebab utama kematian akibat kanker ke-5
terbanyak di Amerika Serikat dan merupakan salah satu dari 7 keganasan tersering di seluruh
dunia. Pada sebagian besar karsinoma ovarium berbentuk tumor kistik dan sebagian kecil
berbentuk tumor padat. Walaupun tampaknya karsinoma ovarium memiliki respons yang
cukup baik terhadap pengobatan, namun prognosis karsinoma ovarium masih tetap buruk.
Angka kematian yang tinggi ini disebabkan karena penyakit ini awalnya bersifat
asimptomatik dan baru menimbulkan keluhan apabila sudah terjadi metastasis, sehingga 60-
70% pasien datang pada stadium lanjut sehingga penyakit ini disebut juga sebagai silent
killer.
Menurut data statistik American Cancer Society , insiden karsinoma ovarium di dunia
sekitar 4% dari seluruh keganasan pada wanita dan menempati peringkat kelima penyebab
kematian akibat kanker. Kanker ovarium umumnya baru menimbulkan keluhan apabila telah
menyebar ke rongga peritoneum, pada keadaan seperti ini tindakan pembedahan dan terapi
adjuvan sering kali tidak menolong. Penderita akan meninggal karena malnutrisi dan
obstruksi usus halus akibat tumor intraperitoneal.
Kira-kira 15% tumor ovarium adalah ganas dan kanker ovarium merupakan penyebab
kematian wanita nomor lima. Insiden keganasan meningkat dengan pertambahan usia, rata-
rata 50-59 tahun. Lebih dari 80% kematian akibat kanker ovarium terjadi antara umur 35-75
tahun. Resiko seumur hidup mengalami kanker ovarium di Amerika Serikat (tidak berubah
dalam 30 tahun) adalah 1,4%. Karena tumor ini sulit didiagnosis dan diobati dini,
kelangsungan hidup 5 tahun hanya sebesar 35-38%, meskipun kemoterapi dan radioterapi
sudah semakin baik.
Diagnosis kanker ganas ini lebih sering dibuat sesudah laparatomi atas indikasi
ditemukannya tumor ovarium. Agar tindakan yang benar tidak terlambat dilakukan,
seharusnya dilakukan pemeriksaan histologik durante operationem (frozen section atau beku).
Pada laparatomi juga tidak boleh dilupakan pembilasan kavum peritonei untuk diperiksakan
tentang ada/tidak adanya sel ganas (sitologi eksfoliatif cairan ascites atau cairan bilasan
kavum peritoneum).

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Anatomi
Ovarium merupakan salah satu organ reproduksi wanita yang terletak di rongga
pelvis, terutama di fossa ovarika, yang bergantung pada ligamentum infundibulopelvis lateral
dan ligamen medial uteroovarian. Sebagian ovarium berada di intraperitoneal dan tidak
dilapisi oleh peritoneum. Pada bagian inferior, setiap permukaan ovarium melekat pada
ligamentum luas oleh mesoovarium. Bagian dorsal ovarium merupakan mesosalping dan tuba
falopi. Ovarium yang normal berukuran 5x3x3 cm. Ukuran ovarium yang bervariasi
ditentukan dari hasil produksi hormon endogen, usia dan setiap siklus menstruasi. Zat
eksogen, termasuk kontrasepsi oral, agonis gonadotropin-releasing hormone, atau obat yang
merangsang ovulasi, dapat mempengaruhi ukuran ovarium.
Setiap ovarium terdiri dari korteks dan medula dan ditutupi oleh satu lapisan kuboidal
dan berubah pada peritoneum di mesovarium dilapisi oleh epitel kolumnar rendah. Korteks
terdiri dari stroma khusus dan folikel dalam berbagai tahap baik itu folikel yang sedang
bertumbuh maupun folikel yang mengalami erosi. Folikel yang matang mengandung estrogen
dan siap untuk berovulasi. Medula menempati sebagian kecil dari ovarium pada daerah hilus
dan terutama terdiri dari jaringan fibromuskular dan pembuluh darah.
1

Perdarahan ovarium berasal dari arteri ovarium yang merupakan anastomosis dari
arteri uterina. Sedangkan ovarium dipersarafi oleh pleksus ovarium dan pleksus uterovaginal.
Pada waktu lahir, bayi mempunyai sekitar 750.000 oogonium yang jumlahnya akan
berkurang akibat pertumbuhan dan degenerasi folikel. Pada wanita yang menua ovarium
secara bertahap memproduksi sedikit estrogen dan progesteron, produksi telur matang juga
menurun dan periode wanita menjadi tidak teratur dan akhirnya berhenti. Hal ini dikenal
sebagai menopause, yang biasanya terjadi antara usia 45 sampai 55 tahun. Setelah
menopause, tidak lagi mungkin untuk memiliki anak dengan cara alami karena pada
menopouse semua folikel sudah menghilang.
4




Definisi
Kanker ovarium merupakan suatu keganasan yang terbentuk pada jaringan ovarium,
yang merupakan salah satu kelenjar reproduksi wanita di mana sel telur terbentuk. Sebagian
besar kanker ovarium merupakan karsinoma epitel ovarium (kanker yang dimulai di sel-sel
pada permukaan ovarium) atau tumor ganas sel germinal (kanker yang dimulai di sel telur).

2.2 Epidemiologi
Kanker ovarum merupakan kanker tersering pada wanita setelah kanker serviks dan
kanker payudara.
3
Setiap tahun diperkirakan 21.650 perempuan didiagnosis kanker dan
15.520 akan meninggal akibat kanker ovarium. Kanker ovarium memiliki angka kematian
tertinggi dari semua keganasan sistem reproduksi wanita.
5
Di Australia, setiap tahunnya
sekitar 1300 wanita didiagnosis menderita kanker ovarium,
3
sedangkan di Amerika, 1 dari 70
wanita sangat berisiko terjadinya kanker ovarium.
Pada umumnya semua wanita dapat berisiko mendapat kanker ovarium sesuai dengan
pertambahan usia. Insiden terus meningkat menjadi sekitar 40 kasus per 100.000 perempuan
usia 50 dan kemudian meningkat menjadi sekitar 50 kasus per 100.000 pada usia 65.
Meskipun tingkat kejadian di negara-negara Asia lebih rendah, penelitian telah menunjukkan
peningkatan angka kejadian pada negara-negara lain selain di Asia.
6
Kanker ovarium
didiagnosis rata rata pada usia 63 tahun.
5

Dalam beberapa kasus herediter, peningkatan risiko kanker ovarium mungkin lebih
dari 50%, tergantung pada jenis dan jumlah anggota keluarga yang terkena dan usia onset.
Faktor-faktor lain yang telah terlibat tetapi tidak memiliki bukti epidemiologi yang memadai
termasuk diet tinggi lemak, bedak, dan penggunaan obat infertilitas dan terapi penggantian
hormon.
6

2.3 Etiologi dan faktor risiko
Penyebab kanker ovarium sampai saat ini masih belum diketahui dengan pasti.
Namun ada beberapa faktor risiko yang dapat menyebabkan terjadinya kanker ovarium
diantaranya usia, paritas, endometriosis, gaya hidup, faktor hormonal dan keturunan.
1.2

Kanker ovarium biasanya terjadi diatas usia 50 tahun atau sesudah menopouse. Selain itu
menurut epidemiologi, kanker ovarium sering terjadi pada wanita yang tidak pernah
melahirkan atau pernah melahirkan diatas usia 30 tahun. Wanita yang mempunyai gaya hidup
yang buruk juga dapat berisiko kenaker ovarium, sepert merokok, overweight dan sering
mengkonsumsi makanan berlemak. Faktor hormonal seperti mendapatkan pubertas dini,
menopouse yang terlambat, dan mendapatkan terapi estrogen (tanpa progesteron) selama 5
tahun atau lebih juga dapat berisiko terjadinya kanker ovarium.
2
Selain itu, penelitian juga
menunjukkan bahwa mengkonsumsi obat fertilitas, talcum powder juga dapat berisiko kanker
ovarium meskipun ini bukan merupakan faktor risiko yang kuat.
3

Faktor keturunan merupakan faktor risiko terpenting. Wanita yang keluarganya,
terutama ibu, anak, atau saudara kandung yang mempunyai kanker ovarium, berisiko
terjadinya kanker juga besar. Selain wanita yang keluarganya menderita kanker ovarium,
penyakit keganasan lainnya juga dapat berisiko kanker ovarium, seperti kanker mammae,
kanker kolon, dan kanker uterus.
3


2.4 Patologi
Letak tumor yang tersembunyi dalam rongga perut dan sangat berbahaya itu dapat
menjadi besar tanpa disadari oleh penderita. Secara patologi, karsinoma ovarium dapat
berupa kanker invasif dan tumor borderline. Sekitar 75% dari kanker ovarium yang bersifat
invasif merupakn kanker epitel dari jenis histologis serous. Selain jenis serous, secara
histologis kanker invasif dapat berupa mucinous (20%), endometrioid (2%), clear cell,
Brenner, dan karsinoma yang tak terdifrensisasi kurang dari 1% dari lesi epitel. Setiap jenis
tumor memiliki pola histologis yang mirip dengan mukosa aluran genital bawah seperti pola
serosa atau papiler memiliki penampilan mirip dengan lapisan epitel kelenjar tuba fllopi
sedangkan tumor mucinous mengandung sel-sel yang menyerupai kelenjar endoserviks, dan
tumor endometrioid menyerupai endometrium.
1

Pertumbuhan tumor primer diikuti oleh infiltrasi ke jaringan sekitar yang
menyebabkan berbagai keluhan samar-samar seperti perasaan sebah, makan sedikit terasa
cepat menjadi kenyang, sering kembungn nafsu makan menurun. Kecenderungan untuk
melakukan implantasi di rongga perut merupakan ciri khas suatu tumor ganas ovarium yang
menghasilkan asites.
4

Tumor borderline adalah tumor yang cenderung menetap dan terbatas pada ovarium
untu waktu yang lama, terjadi terutama pada wanita premenopause, dan biasanya mempunyai
prognosis yang baik. Tumor borderline sering ditemui pada wanita antara usia 30 sampai 50
tahun, sedangkan karsinoma invasif terjadi lebih sering pada wanita antara usia 50 sampai 70
tahun. Meskipun jarang, lesi metastatik dapat terjadi pada tumor borderline. Lesi tersebut
telah dibagi ke dalam bentuk non-invasif dan invasif yang kemungkinan progresif.
Kriteria untuk diagnosis tumor borderline antara lain hiperplasia epitel dalam bentuk
pseudostratifikasi, kribiformis, dan micropapillary, atypia nuklear dan peningkatan aktivitas
mitosis, cluster sel terpisah, dan tidak adanya invasi stroma destruktif (tanpa kerusakan
jaringan).
1


2.5 Klasifikasi
4

Klasifikasi tumor ovarum menururt WHO yang sudah dimodifikasi :
1. Tumor epitelial umum a) Serosa
b) Musinosa
c) Endometrioid
d) Clearcell (benigna, borderline malignancy,
karsinoma)
e) Brenner
f) Epitelial Campuran
g) Karsinoma tak terdifrensiasi
h) Umor tidak terklasifikasi
2. Tumor stroma sex cord a. Tumor granulosa theca sel (benigna,
maligna)
b. Androblastoma
c. Gynandroblastoma
d. Tidak terklasifikasi
3. Tumor sel lipid
4. Tumor germ cell a. Disgerminoma
b. Tumor sinus endodermal
c. Karsinoma embrional
d. Poli embrioma
e. Khoriokarsinoma
f. Teratoma (immatur, matur, monodermal)

Tumor epitelial ovarium merupakan tumor tersering pada ovarium. Secara umum,
tumor epitelial mempunyai 2 jenis berdasarkan histopatologis yang tersering yaitu serosa dan
musinosa. Keduanya mempunyai kecenderungan untuk tumbuh bilateral dan berimplantasi di
rongga peritoneum.
4
Tumor serosa berkembang dengan invaginasi dari epitel permukaan
ovarium, menghasilkan cairan serous dan dapat membuat perlengketan, sedangkan tumor
musinosa merupakn tumor yang dilapisi oleh musin dan biasanya ukuran tumor ini sangat
besar.
1
Tumor epitelial ovarium lainnya seperti endometrioid, mesonephroid, brenner jarang
ditemukan.
Tumor stroma sex-cord diduga berasal dari mesenkim gonad yang berpotensial
mendifrensiasi ke dalam struktur gonad laki laki dan wanita sehingga pasien dengan tumor
ini mempunyai sifat maskulinisasi atau feminisasi. Sedangkan tumor sel germinal berasal dari
sel germinal dan derivatnya.
Disgerminoma merupakan tumor ganas sel germinal ovarium yang tersering dan
meliputi 50% kasus. Pada disgerminoma biasanya didapatkan kadar AFP normal, dan
kadang-kadang didapatkan peningkatan kadar hCG. Secara makroskopik biasanya bilateral
pada 10-15% kasus, dan secara mikroskopis dapat disertai penyebaran ke ovarium
kontralateral pada 10% kasus. Disgerminoma lebih sering menyebar secara limfogen
dibandingkan dengan tumor ganas sel germinal lainnya. Penderita disgerminoma biasanya
menunjukan gejala amenore primer, virilisasi, atau perkembangan organ genitalia yang
abnormal dan pada beberapa kasus dapat ditemukan adanya kromosan Y. Lebih dari 50% dari
tumor ini tidak menunjukkan gejala yang jelas, gejala dapat berupa adanya massa pada
daerah abdomen atau pelvis dengan pembesaran perut dan nyeri. Gejala timbul secara cepat 1
bulan sampai dengan 2 tahun dan setengah dari penderita kurang dari 4 bulan. Bila
bersamaan dengan kehamilan, tumor ditemukan secara tidak sengaja dan dapat menganggu
jalannya persalinan. Gangguan haid jarang didapatkan pada wanita muda. Kurang lebih 10%
asimtomatik, anak dapat menunjukan pubertas prekok, virilisasi. Hampir 2-5% dari wanita
yang tidak hamil menunjukan tes kehamilan positif dan hCG yang dihasilkan dapat diisolasi.
Poli embrioma tumor sel germinal sangat jarang, mengandung komponen embrional
bodies yang berasal dari sel embrio normal. Neoplasma jenis ini sering mengenai testis.
Tumor ini radioresisten dan respon terhadap kemoterapi belum jelas.
Teratoma juga merupakan jenis tumor sel germinal, dibagi dalam tiga kategori yaitu
teratoma matur (jinak), teratoma imatur dan teratoma monodermal dengan diferensiasi
khusus tergantung dari kuantitas derajat jaringan imatur menunjukan potensi timbulnya
keganasan. Teratoma imatur merupakan keganasan tumor sel germinal ke tiga tersering
setelah disgerminoma dan tumor sinus endodermal. Freksuensi 25% dari tumor sel germinal
pada wanita usia dibawah 15 tahun dengan usia median 19 tahun. Gejala yang timbul tidak
spesifik timbul dalam jangka waktu pendek tetapi sering terjadi akut. Kurang lebih 80%
penderita terdapat massa dalam abdomen atau pelvis yang dapat diraba, sering terdapat nyeri.
Sebagian kecil penderita menunjukkan haid yang tidak teratur. AFP dan hCG tidak
meningkat. Gambaran makroskopis berupa tumor yang besar unilateral dengan diameter 18
cm, permukaan rata dan licin. Pada pembelahan tumor berwarna abu-abu agak kemerahan
dengan bagian perdarahan dan nekrosis. Adanya rambut dapat ditemukan pada 2/5 kasus, gigi
jarang ditemukan tetapi tulang, tulang rawan dan kalsifikasi sering ditemukan. Walaupun
komponen utama adalah tumor padat tetapi adanya bagian yang kistik selalu ditemukan.
Karsinoma embrional murni jarang ditemukan diantara tumor sel germinal ovarium,
tidak lebih dari 5%. Ditemukan pada usia 4-28 tahun dengan usia median 14 tahun. Gejala
klinis pada kebanyakan penderita sering dikeluhkan adanya massa pelvis yang disertai rasa
nyeri, sering menyerupai keadaan appendisitis, kehamilan ektopik terganggu, terutama bila
hasil tes kehamilan positif. Selain ini dapat ditemukan adanya amenore atau perdarahan
pervaginam abnormal, serta kemungkinan juga disertai adanya hirsutisme dan virilisasi.Pada
penampakan makroskopik, didapatkan tumor kistik, bulat, berkapsul dan lunak, dapat
ditemukan bagian hemoragis dan nekrosis, dengan ukuran rata-ratanya 17 cm, warna kuning
keabuan. Secara mikroskopik, karsinoma embrional terdiri atas sel-sel primitif yang
pleomorfik, berukuran sitoplasma bervakuola dan inti yang vesikuler disertai dengan 1 atau 2
nukleolus.
Koriokarsinoma ovarium bisa ditemukan sebagai koriokarsinoma murni atau lebih
sering sebagai bagian dari suatu tumor sel germinal campuran. Koriokarsinoma ini
kemungkinan suatu metastasis dari uterus atau tuba. Gejala klinis pada kelainan ini, sering
dengan keluhan pembesaran perut dan nyeri, serta dapat disertai dengan pubertas prekok.
Tumor ini sering terjadi pada penderita berkisar 7 bulan sampai 35 tahun, dengan usia rata-
rata 13 tahun. Pada penampakan makroskopik, tumor khas berukuran besar, unilateral,
konsistensi padat dengan warna putih keabuan, hemoragis, dan mungkin pula ditemukan
bagian yang mengalami nekrosis. Secara makroskopis koriokarsinoma sering terdiri atas 2
jenis sel, sitotrofobla dan sinsitiotrofoblas serta mungkin pula ditemukan sel intermediet.
Sitotrofoblas berbentuk sel poligonal dengan ukuran sedang, bulat, atau oval dengan
sitoplasma jernih dan batas tegas, dan beberapa diantaranya dengan inti yang hiperkromatik.
Sinsitiotrofoblas berbentuk sel basofilik bervakuola dengan tepi irreguler, dengan inti
hiperkromatik dengan ukuran dan bentuk yang bervariasi, membentuk pola fleksiformis
bifasik.
Secara internasional hingga saat ini diakui 2 sistem klasifikasi yang umum digunakan
yaitu, sistem TNM dari UICC (Union Internationale Contra le Cancer) dan sistem FIGO
(Federation de Gynecologie et dObstetrigue).

Tabel 2. Klasifikasi Tingkat Keganasan
UICC Kriteria FIGO
T1 Tumor terbatas pada ovarium I
T1a Satu ovarium, tanpa asites Ia
T1b Kedua ovarium tanpa asites Ib
T1c Satu atau dua ovarium dengan asites Ic
T2 Dengan perluasan ke panggul II
T2a Uterus dan/ atau tuba, tanpa asites IIa
T2b Jaringan panggul lainnya , tanpa asites IIb
T2c Jaringan panggul lainnya, dengan asites IIc
T3 Perluasan ke usus halus/ omentum dalam panggul, atau
penyebaran intraperitoneal/ kelenjar retroperitoneal
III
M1 Penyebaran ke alat alat jauh IV

2.6 Patofisiologi
Terjadinya keganasan pada ovarium disebabkan oleh banyak faktor risiko, salah
satunya keturunan. Sebagian besar kanker ovarium herediter berhubungan dengan mutasi
pada gen BRCA1 mereka, terletak pada kromosom 17, juga bisa karena mutasi gen BRCA2
yang terletak pada kromosom 13. Kedua gen ini juga berhubungan dengan kecenderungan
genetik untuk kanker kedua ovarium dan payudara. Selain itu, ada risiko yang lebih tinggi
dari yang diperkirakan dari kanker ovarium dan endometrium pada sindrom Lynch II, yang
dikenal juga sebagai sindrom nonpolyposis kanker kolorektal herediter (sindrom HNPCC).
Mutasi diwariskan pada dominan autosomal karena itu analisis silsilah kedua belah
keluarga pihak ibu dan ayah dari harus hati-hati dievaluasi. Berdasarkan analisis wanita yang
memiliki mutasi pada gen BRCA1 dan berasal dari keluarga berisiko tinggi, risiko seumur
hidup dari kanker ovarium mungkin setinggi 28% menjadi 44%, dan risiko telah dihitung
setinggi 27 % untuk para wanita dengan mutasi BRCA2. Risiko kanker payudara pada wanita
dengan mutasi BRCA1 atau BRCA2 mungkin setinggi 56% menjadi 87%. Kanker ovarium
herediter pada umumnya terjadi pada wanita sekitar 10 tahun lebih muda dari mereka dengan
tumor nonhereditary. Karena usia rata-rata kanker ovarium epitel adalah di pertengahan
sampai akhir 50-an, seorang wanita dengan seorang kerabat pertama atau kedua-derajat yang
menderita kanker ovarium premenopause mungkin memiliki kemungkinan lebih tinggi untuk
membawa gen yang termutasi.
Sindrom HNPCC, yang mencakup beberapa adenocarcinoma, melibatkan kombinasi
dari kanker usus besar familial atau yang dikenal sebagai sindrom Lynch I berpengaruh
terhadap keganasan ovarium, endometrium, dan payudara, dan keganasan lain dari
gastrointestinal dan sistem genitourinari. Mutasi yang telah dikaitkan dengan sindrom ini
adalah MSH2, MLH1, PMS1, dan PMS2. Resiko bahwa seorang wanita yang merupakan
anggota dari salah satu keluarga ini akan mengembangkan kanker ovarium epitel tergantung
pada frekuensi penyakit ini pada saudara-saudara dan tingkat dua, meskipun wanita ini
tampaknya memiliki setidaknya 3 kali risiko relatif populasi umum.
1


2.7 Manifestasi Klinis
Kanker ovarium ini relatif jarang terjadi pada wanita yang lebih muda dari usia 45.
Kurang dari 1% dari kanker ovarium epitel terjadi sebelum usia 21 tahun, dua pertiga dari
keganasan ovarium pada pasien tersebut menjadi tumor germ cell. Pada sebuah survei dari
1725 kanker ovarium, 95% mengeluhkan gejala sebelum diagnosis, termasuk 89% dengan
penyakit stadium I dan II, dan 97% dengan penyakit stadium III dan IV. Sekitar 70%
memiliki gejala abdomen atau gastrointestinal, 58% nyeri, 34% gejala urinaria, dan 26%
ketidaknyamanan pelvis.
Kanker ovarium biasanya digambarkan sebagai "silent killer" tanpa tanda-tanda atau
gejala yang cukup sampai penyakit lanjut secara klinis jelas. Namun sebenarnya, pasien
seringkali memiliki gejala selama beberapa bulan sebelum diagnosis, bahkan dengan
penyakit stadium awal. Kesulitannya adalah dalam membedakan gejala ini dari orang-orang
yang terjadi secara normal pada wanita.
Wiliams gyn

Wanita dengan keganasan biasanya mengeluhkan gejala 20 sampai 30 kali per bulan
seperti peningkatan ukuran perut, kembung, urgensi kemih, dan nyeri panggul. Selain itu juga
terdapat keluhan kelelahan, gangguan pencernaan, ketidakmampuan untuk makan normal,
sembelit karena kompresi rektum oleh tumor, dan sakit punggung. Perdarahan vagina
abnormal jarang terjadi. Pada penyakit stadium awal, pasien dapat mengalami menstruasi
iregular jika masih premenopause. Terkadang pasien juga mengeluh mual, muntah, dan
obstruksi usus parsial jika karsinomatosis sangat luas. Sayangnya, banyak wanita dan dokter
yang mendiagnosis gejala tersebut sebagai gejala menopause, penuaan, perubahan pola
makan, stres, depresi, atau masalah fungsional usus. Akibatnya, penegakkan diagnosis sering
terlambat. Tumor ganas ovarium dapat menyebar secara limfogen ke kelenjar para aorta,
mediastinal dan supraklavikular, dan menyebar ke organ lain seperti paru paru, hati dan otak
sehingga dapat menimbulkan gejala lain seperti perut membuncit, sering kencing dan nafas
pendek akibat efusi pleura dan asites yang masif.
Wiliams gyn

Tanda paling penting dari kanker ovarium epitelial ialah adanya massa pelvis pada
pemeriksaan fisik. Massa solid, iregular, dan menetap merupakan massa yang mengarah
tinggi ke arah keganasan ovarium. Jika ditemukan adanya massa abdominal atas atau asites,
diagnosis kanker ovarium pasti dapat ditegakkan. Karena pasien biasanya melaporkan adanya
gejala abdomen, pasien mungkin tidak mendapatkan pemeriksaan pelvis, dan tumor dapat
tidak terdeteksi. Pada pasien yang telah menopause minimal 1 tahun, ovarium harus menjadi
atrofi dan tidak dapat dipalpasi. Telah dinyatakan bahwa adanya massa pelvis yang teraba
pada pasien ini harus dicurigai berpotensi keganasan, sebuah situasi yang merujuk pada
sindroma ovarium terpalpasi pada wanita postmenopausal. Konsep ini masih perlu
dipertimbangkan, karena penulis melaporkan bahwa hanya 3% dari massa terpalpasi dengan
ukuran <5 cm pada wanita postmenopausal ialah ganas

2.8 Diagnosis
Karena letak tumor sangat tersembunyi dan gejala kurang spesifik, maka untuk
melakukan deteksi dini cukup sulit. Diagnosis biasanya didasarkan atas 3 gejala yang
biasanya muncul dalam perjalanan penyakit yang sudah agak lanjut yaitu gejla desakan,
gejala diseminasi/ penyebaran, dan gejala hormonal. Gejala desakan merupakan gejala yang
timbul akibat pertumbuhan primer dan infiltrasi ke jaringan sekitar. Gejala diseminasi
merupakan gejala yang timbul akibat implantassi peritoneal dan bermanifestasi adanya asites.
Gejala hormonal bermanifestasi sebagai defiminisasi, masukulinisasi atau hiperestrogenisme.,
intensitas gejala ini sangat bervariasi dengan tipe histologik tumor dan usia penderita.
4

Pemeriksaan ginekologik dan palpasi abdominal akan mendapatkan tumor atau massa,
di dalam panggul dengan bermacam-macam konsistensi mulai dari yang kistik sampai yang
solid (padat). Kondisi yang sebenarnya dari tumor jarang dapat ditegakkan hanya dengan
pemeriksaan klinik. Pemakaian USG dan CT-scan dapat memberi informasi yang berharga
mengenai ukuran tumor dan perluasannya sebelum pembedahan. Laparatomi eksploratif
disertai biopsi potong beku (frozen section) masih tetap merupakan prosedur diagnostik
paling berguna untuk mendapat gambaran sebenarnya mengenai tumor dan perluasannya
serta menentukan strategi penanganan selanjutnya. Diagnosis tergantung penilaian klinis,
laboratorium dan pembedahan yang tepat.
Evaluasi perioperatif untuk kecurigaan kanker ovarium meliputi pemeriksaan darah
lengkap dan hitung jenis, kimia darah, urinalisis, sitologi serviks dan vagina, pemeriksaan
radiologi dada dan perut, pielografi intravena, barium enema dan mungkin uji fungsi hati,
profil koagulasi, pemeriksaan gastrointestinal serial. Pada pemeriksaan darah rutin dan
laboratorium metabolik sering menunjukkan 20 sampai 25 persen pasien menglami
trombositosis (jumlah trombosit lebih dari 400.000/ mm
3
. Hal ini diyakini hasil dari sel-sel
ovarium ganas melepaskan sitokin yang meningkatkan tingkat produksi trombosit.
Hiponatremia, biasanya berkisar antara 125 dan 130 mEq / L, adalah temuan umum lainnya.
Pada pasien ini, sekresi tumor zat vasopressin seperti dapat menyebabkan gambaran klinis
yang menunjukkan sindrom of inappropriate antidiuretic hormone (SIADH).
Pemeriksaan penunjang lainnya dapat berupa USG Ginekologi, CT-Scan (Computed
Tomography Scanning) dan MRI (Magnetic Resonance Imaging), laparoskopi, arasentesis
cairan asites, dan tumor marker. Ultrasonografi merupakan pemeriksaan penunjang dalam
diagnosis suatu tumor ganas atau jinak. Pada keganasan akan memberikan gambaran dengan
septa internal, padat, berpapil, dan dapat ditemukan adanya asites. Walaupun ada
pemeriksaan yang lebih canggih seperti CT-Scan, MRI, dan positron tomografi akan
memberikan gambaran yang lebih mengesankan, namun pada penelitian tidak menunjukan
tingkat sensitifitas dan spesifisitas yang lebih baik dari ultrasonografi. Pengambilan cairan
asites dengan parasintesis tidak dianjurkan pada penderita dengan asites yang disertai massa
pelvis, karena dapat menyebabkan pecahnya dinding kista akibat bagian yang diduga asites
ternyata kista yang memenuhi rongga perut. Pengeluaran cairan asites hanya dibenarkan
apabila penderita mengeluh sesak akibat desakan pada diafragma. Bila terdapat cairan ascites
yang tidak dapat diterangkan asalnya atau sebabnya (misalnya akibat Cirrhosis hepatis),
laparatomi eksploratif harus dijalankan.
Serum CA 125 saat ini merupakan petanda tumor yang paling sering digunakan dalam
penapisan kanker ovarium jenis epitel, walaupun sering disertai keterbatasan. Perhatian telah
pula diarahkan pada adanya petanda tumor untuk jenis sel germinal, antara lain Alpha-
fetoprotein (AFP), Lactic acid dehidrogenase (LDH), human placental lactogen (hPL),
plasental-like alkaline phosphatase (PLAP) dan human chorionic gonadotrophin (hCG).

2.9 Skrining
Nilai penanda tumor dan USG untuk skrining kanker ovarium epitelial belum jelas
dipublikasikan. Hasil skrining dengan USG transabdominal masih terbatas spesifisitasnya.
Daripada itu, USG transvaginal telah menunjukkan sensitivitas yang sangat tinggi (>95%)
untuk deteksi kanker ovarium stadium awal, meskipun dengan tes ini saja, dapat dilakukan 10
dari 15 prosedur laparotomi untuk setiap kasus kanker ovarium yang terdeteksi. Pemeriksaan
pelvis manual rutin memberikan hasil yang mengecewakan untuk deteksi dini kanker
ovarium. USG Doppler transvaginal untuk menentukan vaskularisasi pembuluh darah
ovarium telah ditunjukkan tidak terlalu berguna untuk skrining. CA 125 telah ditunjukkan
memiliki kontribusi untuk diagnosis dini kanker ovarium epitelial. Berdasarkan sensitivitas
dari tes, CA 125 dapat mendeteksi 50% pasien dengan penyakit stadium I. Data menyatakan
spesifisitas diperbaiki ketika pemeriksaan tersebut dikombinasikan dengan USG transvaginal
atau ketika level CA125 diperiksa secara berkala. Data ini didukung dari perkembangan studi
skrining prospektif di Swedia dan Inggris. Pada studi ini, pasien dengan peningkatan level
CA125 (>30 U/mL) dan dilakukan USG abdomen, didapatkan 14 kanker ovarium dari 27.000
wanita yang diskrining. Sekitar 4 laparotomi dilakukan untuk setiap kasus dimana kanker
terdeteksi. RCT yang dilakukan di Inggris pada 22.000 wanita usia 45 tahun atau lebih,
dimana pasien dilakukan pemeriksaan pelvis rutin pada kelompok kontrol atau ke kelompok
skrining. Skrining terdiri dari pengukuran level serum CA125, USG pelvis jika CA125 ialah
30 U/mL atau lebih tinggi, dan rujukan untuk pemeriksaan ginekologik jika volum ovarium
8,8 mL atai lebih besar dengan USG. 468 wanita pada kelompok skrining dengan
peningkatan CA125, 29 orang dirujuk untuk operasi, 6 kanker ditemukan, dan 23 memiliki
hasil skrining positif palsu, dengan nilai prediktif positif 20,7%. Selama periode follow-up 7
tahun, kanker berkembang pada 10 wanita kelompok skrining, dan 20 wanita kelompok
kontrol. Meskipun angka harapan hidup median pada wanita dengan kanker yang
berkembang pada kelompok skrining ialah 72,9 bulan, dibandingkan dengan kelompok
kontrol 41,8 bulan, angka kematiannya tidak jauh berbeda, dengan risiko relatif 2.0.maka dari
itu, skrining multimodal diperlukan untuk menentukan kanker ovarium, namun butuh
penanganan lanjut untuk menentukan apakah menentukan kematian atau tidak. Karena hasil
yang positif palsu untuk CA125 dan USG transvaginal, terutama pada wanita premenopause,
tes ini tidak efektif dan tidak dianjurkan untuk menskrining kanker ovarium secara rutin.

2.10 Tatalaksana
Pada dasarnya setiap tumor ovarium yang diameternya lebih dari 5 sentimeter
merupakan indikasi untuk tindakan laparatomi, karena kecenderungan untuk mengalami
komplikasi. Apabila tumor ovarium tidak inemberikan gejala dan diameternya kurang dari 5
sentimeter, biasanya merupakan kista folikel atau kista lutein.
Pengobatan baku dari kanker ovarium stadium awal adalah dengan pembedahan
radikal berupa pengangkatan tumor secara utuh, pengangkatan uterus beserta kedua tuba dan
ovarium, pengangkatan omentum, pengangkatan kelenjar getah bening, pengambilan sampel
dari peritoneum dan diafragma, serta melakukan bilasan rongga peritoneum di beberapa
tempat untuk pemeriksaan sitologi. Tindakan pembedahan ini juga dimaksudkan untuk
menentukan stadium dari kanker ovarium tersebut (surgical staging). Setelah pembedahan
radikal ini, jika diperlukan diberikan terapi adjuvant dengan kemoterapi, radioterapi atau
immunoterapi.
Operasi
Terapi standar terdiri atas histerektomi abdominal total (TAH), salpingoooforektomo
bilateral (BSO) dan omentektomi serta APP (optional). Nodus retroperitoneal harus
dipalpasi dan dibiopsi jika mencurigakan. Sebanyak mungkin tumor (untuk memperkecil)
harus diangkat untuk mengurangi keseluruhan massa tumor. Namun pembedahan lebih
radikal belum terbukti menambah manfaat.
Dapat didahului frozen section untuk kepastian ganas dan tindakan operasi lebih lanjut.
Hasil operasi harus dilakukan pemeriksaan PA, sehingga kepastian klasifikasi tumor
dapat ditetapkan untuk menentukan terapi.
Pada sebagian kasus, penyakit terlalu luas untuk histerektomi total, adneksektomi dan
omentektomi.pada kasus-kasus seperti ini sebaiknya sebanyak mungkin tumor diangkat
untuk meningkatkan hasil terapi tambahan (kemoterapi dan terapi radiasi). Operasi tumor
ganas diharapkan dengan cara debulking (cytoreductive) pengambilan sebanyak
mungkin jaringan tumor sampai dalam batas aman. Dengan debulking memungkinkan
kemoterapi maupun radioterapi menjadi lebih efektif.
Radiasi untuk membunuh sel-sel tumor yang tersisa, hanya efektif pada jenis tumor yang
peka terhadap sinar (radiosensitif) seperti disgerminoma dan tumor sel granulosa.
Radioterapi sebagai pengobatan lanjutan umumnya digunakan pada tingkat klinik T1 dan
T2 yang diberikan kepada panggul saja atau seluruh rongga perut.
Kemoterapi merupakan terapi tambahan awal yang lebih disukai karena terapi radiasi
mempunyai keterbatasan (misalnya merusak hati atau ginjal). Setelah mendapatkan
radiasi atau kemoterapi, dapat dilakukan operasi ke dua (eksplorasi ulang) untuk
mengambil sebanyak mungkin jaringan tumor.
Untuk memastikan keberhasilan penanganan dengan radioterapi atau kemoterapi, lazim
dilakukan lapatotomi kedua (second-look laparotomi), bahkan kadang sampai ketiga
(third-look laparotomi). Hal ini memungkinkan kita membuat penilaian akurat proses
penyakit, hingga dapat menetapkan strategi pengobatan selanjutnya. Bisa dihentikan atau
perlu dilanjutkan dengan alternatif pengobatan lain.

2.11 Pencegahan
Memiliki minimal satu anak dapat menjadi faktor protektif untuk penyakit ini, dengan
penurunan risiko 0,3-0,4. Kontrasepsi oral menurunkan risiko kanker ovarium epitelial.
Wanita yang menggunakan kontrasepsi oral selama 5 tahun atau lebih dapat mengurangi
risiko relatif menjadi 0,5 (terdapat penurunan risiko 50% dari perkembangan kanker
ovarium). Wanita yang memiliki 2 anak dan menggunakan kontrasepsi oral 5 tahun atau lebih
memiliki risiko relatif serendah 0,3, atau penurunan sebesar 70%. Oleh karena itu, pil
kontrasepsi oral merupakan metode satu-satunya yang dicatat sebagai kemopreventif untuk
kanker ovarium, dan harus direkomendasikan untuk wanita yang berisiko. Ketika melakukan
konseling pasien dalam pemilihan jenis kontrasepsi, manfaat ini harus ditekankan, terutama
bagi wanita dengan riwayat keluarga dengan kanker ovarium.
Fenretinid (asam 4-hidroksiretinoid), derivatif vitamin A, diberikan pada wanita
dengan kanker payudara unilateral untuk mengurangi risiko kanker payudara kontralateral.
Pada penelitian RCT di Italia, wanita dengan kanker payudara unilateral diberikan fenretinid
oral atau plasebo selama 6 bulan. Pada kelompok dengan obat-obatan, tidak ada
perkembangan kanker ovarium, dimana terdapat 6 kasus kanker ovarium pada kelompok
kontrol. Percobaan lebih besar yang dilakukan ternyata juga memverifikasi data ini.
Dilakukannya profilaksis dengan salpingo-ooforektomi dapat mengurangi, tetapi tidak
mengeliminasi risiko kanker ovarium dan tuba fallopi. Karena peritoneum juga memiliki
resiko, kanker peritoneum dapat terjadi setelah profilaksis ooforektomi. Pada wanita
premenopause dengan risiko kanker ovarium yang rendah, risiko dan manfaat ooforektomi
harus didiskusikan. Ovarium dapat memberikan perlindungan dari penyakit kardiovaskular
dan ortopedik, dan mortalitas jangka panjang dapat tidak menurun oleh adanya ooforektomi
profilaksis.

2.12 Prognosis
Angka kelangsungan hidup 5 tahun (Five years survival rate) penderita kanker
ovarium stadium lanjut hanya kira-kira 20-30%. Prognosis dari tumor ovarium tergantung
dari beberapa hal antara lain usia stadium, jenis histologis, derajat diferensiasi tumor, residu
tumor. Pada kasus dengan tingkat klinik T1 dan T2, AKH-5 tahun sekitar 60-70%. Pada
kasus tingkatan lebih lanjut (T2 dan T3) dengan fasilitas memadai dapat dicapat AKH-5
tahun antara 30-60%, sedangkan T4 harapan hidup untuk 5 tahun tak ada (0%).
4



DAFTAR PUSTAKA

1. Berek novak
2. Wueiliner L, Cancer Council Helpline. Understanding Ovarian Cancer A Guide
For Women With Cancer, Their Families and Friends. Australia ; May 2012.
3. National Cancer Institute. What You Need to Know About Ovarian Cancer. July
2006.
4. Sarwono buku biru
5. Hurt KJ, Guille MW, Bienstock JL, Fox HE, Wallach EE. The Johns Hopkins
Manual of Gynecology and Obstetrics. 4
th
ed. Philladelphia: Lippincott Williams
& Wilkins ; 2011.
6. Gibbs RS, Karlan BY, Haney AF, Nygaard IE. Danforths Obstetrics and
Gynecology. 10
th
ed. Philladelphia: Lippincott Williams & Wilkins ; 2008.

Beri Nilai