Anda di halaman 1dari 13

BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang
Pembelajaran pada hakikatnya merupakan suatu proses komunikasi
transaksional yang bersifat timbal balik, baik antara guru dengan siswa
maupun antara siswa dengan siswa untuk mencapai tujuan yang telah
ditentukan. Komunikasi transaksional adalah bentuk komunikasi yang dapat
diterima dan dipahami, juga disepakati oleh pihak-pihak yang terkait dalam
proses pembelajaran.
Ada tiga komponen yang paling dominan disamping komponen
lainnya yang berkaitan dengan proses pembelajaran, yaitu guru, siswa dan
tujuan pembelajaran. Guru menempati posisi kunci strategis dalam
menciptakan suasana belajar yang kondusif, inovatif dan menyenangkan
untuk mengalihkan siswa agar mampu mencapai tujuan secara optimal.
Menurut Syamsudin (1997: 18), guru harus mampu menempatkan dirinya
sebagai desiminator, informatory, transmitor, transformator, organizator,
fasilitator, motivator, dan evaluator bagi terciptanya proses pembelajaran
siswa ang dinamis dan inovatif. Siswa sebagai peserta didik merupakan
subjek utama dalam proses pembelajaran.
Dalam rangka proses belajar mengajar, siswa dan guru merupakan
komponen yang utama dilengkapi dengan alat pembelajaran untuk
dikembangkan dan dipahami. Dalam hal ini guru menyadari peranannya
sebagai pembimbing dan fasilitator yang dihadapkan dengan siswa dan
karakteristik yang beraneka ragam. Sehingga menyajikan berbagai metode
mengajar dalam proses pembelajaran, tetapi tidak lepas dari permasalahan-
permasalahan baik dalam hasil akhir maupun dalam sikap siswa.
Keberhasilan pencapaian tujuan belajar banyak tergantung kepada
persiapan dan cara belajar siswa itu sendiri. Cara belajar dapat dilakukan
secara kelompok (klasikal) maupun perorangan (individu). Oleh karena itu,
guru dalam mengajar harus memperhatikan kesiapan, tingkat kematangan dan
cara belajar siswa.
Sedangkan yang dimaksud hasil belajar adalah hasil yang dicapai
seseorang dalam waktu tertentu atau dengan perkataan lain hasil perolehan
tingkah laku dalam waktu tertentu. Hal ini sesuai dengan pendapat Alwi
(2001: 17), ia mengatakan Hasil belajar adalah hasil yang dicapai oleh murid
dalam bidang studi tertentu yang diukur dengan menggunakan tes standar
sebagai pengukur keberhasilan belajar seseorang.
Sejalan dengan itu, Sudjana (1989: 22) mengemukakan bahwa hasil
belajar merupakan kemampuan yang dimiliki siswa setelah ia menerima
pengalaman belajarnya.
Berdasarkan uraian di atas, hasil belajar IPA adalah hasil yang dicapai
oleh murid pada mata pelajara IPA yang diperoleh berdasarkan pengalaman
belajarnya yang diukur dengan tes standar sebagai pengukur keberhasilan
belajarnya.
Keberhasilan siswa dalam pembelajaran IPA di sekolah dipengaruhi
oleh dua faktor utama, baik faktor dari dalam dirinya (faktor intrinsik)
maupun faktor yang berasal dari luar diriniya (faktor eksternal). Dari kedua
faktor tersebut di atas, maka guru merupakan faktor yang paling dominan
dalam menentukan keberhasilan belajar siswanya di sekolah.
Bertolak dari uraian di atas, penulis ingin mengetahui hubungan usaha
guru dalam pembuatan model dengan hasil belajar siswanya yang dituangkan
dalam suatu judul Upaya Meningkatkan Hasil Belajar Siswa melalui
Pembuatan Model dalam Pelajaran IPA di kelas V MI Al-Ihya 2 Cihaur
Kecamatan Ciawigebang Kabupaten Kuningan.

1.2. Identifikasi Masalah

1.3. Pembatasan Masalah
Pelajaran IPA merupakan salah satu pelajaran umum yang didalamnya
mencakup semua materi yang terkait dengan objek alam serta persoalannya,
bumi dan alam semesta serta proses materi dan sifatnya. Karena luas dan
kompleksnya cakupan IPA tersebut, maka penulis membatasi penelitian
sekitar cahaya dan sifat-sifatnya yang kemudian penulis tuangkan dalam
sebuah judul Upaya Peningkatan Hasil Belajar Siswa melalui Pembuatan
Model dalam Pelajaran IPA di kelas V MI Al-Ihya 2 Cihaur Kecamatan
Ciawigebang Kabupaten Kuningan.

1.4. Perumusan Masalah
Berdasarkan uraian tersebut di atas, maka dapat dirumuskan masalah
penelitian sebagai berikut :
1. Bagaimanakah proses pembelajaran IPA kelas V (lima) di Madrasah
Ibtidaiyah Al-Ihya 2 Cihaur Kecamatan Ciawigebang Kabupaten
Kuningan?
2. Bagaimanakan hasil belajar siswa kelas V (lima) pada pelajaran IPA di
Madrasah Ibtidaiyah Al-Ihya 2 Cihaur Kecamatan Ciawigebang
Kabupaten Kuningan?
3. Bagaimanakan hubungan usaha guru dalam pembuatan model
pembelajaran dengan hasil belajar siswa kelas V (lima) pada pelajaran
IPA di Madrasah Ibtidaiyah Al-Ihya 2 Cihaur Kecamatan Ciawigebang
Kabupaten Kuningan?

1.5. Tujuan Penelitian
Tujuan penelitian yang penulis lakukan dalam penyusunan PTK ini
adalah :
1. Ingin mengetahui proses pembelajaran IPA kelas V (lima) di Madrasah
Ibtidaiyah Al-Ihya 2 Cihaur Kecamatan Ciawigebang Kabupaten
Kuningan.
2. Ingin mengetahui hasil belajar siswa kelas V (lima) pada pelajaran IPA di
Madrasah Ibtidaiyah Al-Ihya 2 Cihaur Kecamatan Ciawigebang
Kabupaten Kuningan.
3. Ingin mengetahui hubungan usaha guru dalam pembuatan model
pembelajaran dengan hasil belajar siswa kelas V (lima) pada pelajaran
IPA di Madrasah Ibtidaiyah Al-Ihya 2 Cihaur Kecamatan Ciawigebang
Kabupaten Kuningan.

1.6. Kegunaan Penelitian
Berdasarkan tujuan penelitian tersebut di atas, maka penulis
mengharapkan penelitian bermanfaat untuk siswa, guru, sekolah dan
pengembangan ilmu pengetahuan. Untuk memperjelas kegunaan penelitian
ini penulis uraikan sebagai berikut :
a. Bagi siswa
- Meningkatkan hasil belajar siswa
- Merasa senang dan nyaman mengikuti pembelajaran
- Meningkatkan motivasi siswa
- Membantu siswa untuk lebih aktif dan kreatif
b. Bagi guru
- Dapat menyampaikan materi dan menguasai materi dengan baik
- Memberikan informasi tentang perencanaan pembelajaran
- Membantu guru berkembang secara professional
- Sebagia masukan bagi guru dalam memilih dan menilai menggunakan
model pembelajaran yang diterapkan
c. Sekolah
- Meningkatkan kualitas sekolah
- Menumbuhkan kerjasama di lingkungan sekolah
- Meningkatkan sekolah untuk lebih berkembang
- Menjadikan penelitian ini sebagai acuan dalam mengajar materi
cahaya dan sifat-sifatnya dalam pelajaran IPA
d. Pengembangan ilmu pengetahuan
- Sebagai rujukan atau pedoman bagi penelitian selanjutnya.

1.7. Kerangka Pemikiran
Belajar adalah merupakan proses perubahan tingkah laku berkat
interaksi dengan lingkungannya. Herman Hudoyo (1990: 1) menyatakan
bahwa seseorang dikatakan belajar apabila dapat diasumsi dalam diri orang
itu suatu proses yang mengakibatkan perubahan tingkah laku. Dalam hal ini
perubahan tingkah laku tersebut merupakan hasil belajar. Jadi, seseorang
dikatakan melakukan kegiatan belajar setelah ia memperoleh hasil yaitu
terjadinya perubahan. Misalnya dari tidak tahu menjadi tahu, dari tidak
mengerti menjadi mengerti.
Sejalan dengan itu. Slameto (1989: 2) mengemukakan bahwa belajar
adalah proses usaha yang dilakukan oleh individu untuk memperoleh suatu
perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan sebagai hasil
pengalaman individu itu sendiri dalam lingkungannya.
Selanjutnya Abdullah (1985: 2) berpendapat bahwa belajar adalah
proses untuk mencapai perubahan tingkah laku dalam bentuk sikap,
pengetahuan dan keterampilan yang dimilikinya.
Sehubungan dengan kedua pendapat di atas, dapat disimpulkan bahwa
belajar adalah perubahan tingkah laku pada diri seseorang melalui proses
tertentu yang terbentuk sikap, pengetahuan dan keterampilan yang
dimilikinya. Perubahan yang dimaksud adalah perubahan yang positif yaitu
adanya peningkatan yang dicapai akibat pengalaman yang diperoleh.
Sedangkan pembelajaran itu pada hakekatnya merupakan suatu proses
komunikasi timbal balik antara guru dengan muted atau antara siswa dengan
siswa untuk mencapai tujuan yang telah ditentukan.
Dari keterangan di atas dapat disimpulkan bahwa sedikitnya ada tiga
komponen pokok yang dominan dalam menentukan keberhasilan kegiatan
belajar mengajar, yaitu guru, siswa dan tujuan pembelajaran.
Dengan demikian, untuk mencapai hasil belajar siswa yang maksimal
tentunya menjadi bahan renungan seorang guru. Terdapat dua landasan bagi
seorang guru dalam mengambil keputusan yaitu keputusan situasional ketika
merencanakan pembelajaran dan keputusan transaksional ketika
melaksanakan pembelajaran.

1.8. Hipotesis Penelitian
Hipotesis ialah perumusan jawaban sementara dalam penyelidikan
untuk mencapai jawaban yang sebenarnya (Winarno Surachmad, 1985: 39).
Dalam penelitian ini akan diajukan hipotesis alternatif (Ha). Pengujian
hipotesis ini didasarkan pada beberapa hal, diantaranya (1) penelitian ini
terdiri dari dua variabel yaitu upaya pembuatan model pembelajaran IPA
(variabel X) dan hasil belajar siswa kelas V (lima) pada pelajaran IPA
(variabel Y). (2) dari kedua variabel tersebut akan dicari hubungan antar
keduanya. Maksudnya bagaimana hubungan variabel X (variabel bebas)
dengan variabel Y (variabel terikat).
Rumusan hipotesis yang diajukan dalam penelitian ini adalah tidak
terdapat peningkatan hasil belajar siswa melalui model pembelajaran IPA
kelas V (lima) di MI Al-Ihya 2 Cihaur Kecamatan Ciawigebang Kabupaten
Kuningan.


BAB II
LANDASAN TEORI

2.1. Pelajaran IPA di Sekolah Dasar
Pendidikan IPA merupakan disiplin ilmu yang di dalamnya terkati
dengan ilmu pendidikan dan IPA itu sendiri. Sebelum mengetahui lebih jelas
mengenai pendidikan IPA serta ruang lingkupnya, IPA memiliki dua
pengertian yaitu dari segi pendidikan dan IPA itu sendiri.
2.1.1. Pengertian pendidikan
Pendidikan menurut Siswoyo (2007: 21) merupakan proses sepanjang
hayat dan perwujudan pembentukan diri secara utuh dalam arti
pengembangan segenap potensi dalam rangka pemenuhan dan cara komitmen
manusia sebagai makhluk individu dan makhluk sosial, serta sebagai makhluk
Tuhan. Sugiharto (2007: 3) menyatakan bahwa pendidikan merupakan
suatu usaha yang dilakukan secara sadar dan sengaja untuk mengubah tingkah
laku manusia baik secara individu maupun kelompok untuk mendewasakan
manusia melalui upaya pengajaran dan latihan.
Dari definisi di atas dapat disimpulkan bahwa pendidikan adalah suatu
proses sadar dan terencana dari setiap individu maupun kelompok untuk
membentuk pribadi yang baik dan mengembangkan potensi yang ada dalam
upaya mewujudkan cita-cita dan tujuan yang diharapkan. Dari definisi di atas
dapat dikatakan bahwa pendidikan tidak hanya menitikberatkan pada
pengembangan pola piker saja, namun untuk mengembangkan semua potensi
yang ada pada kepribadian seseroang. Jadi, pendidikan menyangkut semua
aspek pada kepribadian seseorang untuk membuat seseorang tersebut lebih
baik.

2.1.2. Pengertian IPA
IPA sendiri berasal dari kata sains yang berarti alam. Sains menurut
Suyoso (1998: 23) merupakan pengetahuan hasil kegiatan manusia yang
bersifat aktif dan dinamis tiada henti-hentinya serta diperoleh melalui metode
tertentu yaitu teratur, sistematis, bermetode dan berlaku secara universal.
Menurut Abdullah (1998: 18) merupakan pengetahuan teoritis yang
diperoleh atau disusun dengan cara yang khas atau khusus, yaitu dengan
melakukan observasi, eksperimentasi, penyimpulan, penyusunan teori,
eksperimentasi, observasi, dan demikian seterusnya kait mengkait antara cara
yang satu dengan cara yang lainnya.
Dari pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa IPA merupakan
pengetahuan dari hasil kegiatan manusia yang diperoleh menggunakan
langkah-langkah ilmiah yang berupa metode ilmiah dan didapatkan dari hasil
eksperimen atau observasi yang bersifat umum sehingga akan terus
disempurnakan.
Dalam pembelajaran IPA mencakup semua materi yang terkait dengan
objek alam serta persoalannya, bumi dan alam semesta serta proses materi
dan sifatnya.
Pendidikan IPA menurut Tohari (1978: 3) merupakan usaha untuk
menggunakan tingkah laku siswa sehingga siswa memahami proses-proses
IPA berupa fakta, konsep, prinsip, hokum dan teori IPA
Pendidikan IPA menurut Sumaji (1998: 46) merupakan suatu ilmu
pengetahuan sosial yang merupakan disiplin ilmu bukan bersifat teoritis
melainkan gabungan (kombinasi) antara disiplin ilmu yang bersifat
produktif.
Dari kedua pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa pendidikan IPA
merupakan suatu usaha yang dilakukan secara sadar untuk mengungkap
gejala-gejala alam dengan menerapkan langkah-langkah ilmiah serta untuk
membentuk kepribadian atau tingkah laku siswa sehingga siswa dapat
memahami proses IPA dan dapat dikembangkan di masyarakat.
Pendidikan IPA menjadi suatu bidang ilmu yang memiliki tujuan agar
setiap siswa terutama yang ada di sekolah dasar memiliki kepribadian yang
baik dan dapat menerapkan sikap ilmiah serta dapat mengembangkan potensi
yang ada di alam untuk dijadikan sebagai sumber ilmu dan dapat diterapkan
dalam kehidupan sehari-hari.
Dengan demikian pendidikan IPA bukan hanya sekedar teori akan
tetapi dalam setiap bentuk pengajarannya lebih ditekankan pada bukti dan
kegunaan ilmu tersebut. Bukan berarti teori-teori terdahulu tidak digunakan,
ilmu tersebut akan terus digunakan sampai menemukan ilmu dan teori baru.
Teori lama digunakan sebagai pembuktian dan penyempurnaan ilmu-ilmu
alam yang baru. Hanya saja teori tersebut bukan untuk dihapal namun
diterapkan sebagai tujuan proses pembelajaran. Melihat hal tersebut di atas,
nampaknnya pendidikan IPA saat ini belum dapat menerapkannya. Perlu
adanya usaha yang dilakukan agar pendidikan IPA sekarang ini dapat
dilaksanakan sesuai dengan tujuan awal yang akan dicapai, karena kita tahu
bahwa pendidikan IPA tidak hanya pada teori-teori yang ada namun
menyangkut pada kepribadian dan sikap ilmiah dari peserta didik. Untuk itu
maka kepribadian dan sikap ilmiah perlu ditumbuhkan agar menjadi manusia
yang sesuai dengan tujuan pendidikan.

2.1.3. Belajar IPA dan Prosesnya
Belajar adalah suatu usaha. Perbuatan yang dilakukan secara sungguh-
sungguh, dengan sistematis, mendayagunakan semua potensi yang dimiliki,
baik fisik, mental serta dana, panca indra, otak dan anggota tubuh lainnya,
demikian pula aspek kejiwaan seperti intelejensi, bakat, motivasi, minat dan
sebagainya.
Sedangkan menurut pengertian secara psikologis, belajar merupakan
suatu proses perubahan tingkah laku sebagai hasil interaksi dengan
lingkungannya dalam memenuhi kebutuhan hidupnya. Herman Hudoyo
(1990: 1) menyatakan bahwa seseorang dikatakan belajar apabila dapat
diasumsi dalam diri orang itu suatu proses yang mengakibatkan perubahan
tingkah laku. Dalam hal ini perubahan tingkah laku tersebut merupakan hasil
belajar. Jadi, seseorang dikatakan melakukan kegiatan belajar setelah ia
memperoleh hasil yaitu terjadinya perubahan. Misalnya dari tidak tahu
menjadi tahu, dari tidak mengerti menjadi mengerti.
Sejalan dengan itu. Slameto (1989: 2) mengemukakan bahwa belajar
adalah proses usaha yang dilakukan oleh individu untuk memperoleh suatu
perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan sebagai hasil
pengalaman individu itu sendiri dalam lingkungannya.
Selanjutnya Abdullah (1985: 2) berpendapat bahwa belajar adalah
proses untuk mencapai perubahan tingkah laku dalam bentuk sikap,
pengetahuan dan keterampilan yang dimilikinya.
Sehubungan dengan beberapa pendapat di atas, dapat disimpulkan
bahwa belajar adalah perubahan tingkah laku pada diri seseorang melalui
proses tertentu yang terbentuk sikap, pengetahuan dan keterampilan yang
dimilikinya. Perubahan yang dimaksud adalah perubahan yang positif yaitu
adanya peningkatan yang dicapai akibat pengalaman yang diperoleh.
IPA seringkali dikatakan pengetahuan yang tersusun secara teratur,
logis dan berjenjang yaitu melakukan observasi, eksperimentasi,
penyimpulan, penyusunan teori, eksperimentasi, observasi dan demikian
seterusnya kati mengkait antar cara yang satu dengan yang lainnya.
Seseorang dikatakan belajar IPA, apabila pada diri orang itu terjadi
suatu kegiatan yang dapat mengakibatkan perubahan tingkah laku yang
berkaitan dengan IPA. Misalnya, memahami proses-proses IPA, memiliki
nilai-nilai dan sikap yang baik terhadap IPA serta menguasai materi IPA
berupa fakta, konsep, prinsip, hukum dan teori-teori IPA. Mengingat IPA
sekolah merupakan pelajaran yang diberikan pada jenjang persekolahan,
mulai pada jenjang pendidikan dasar sampai kepada jenjang pendidikan
menengah. Dengan demikian belajar IPA sekolah adalah merupakan suatu
proses yang mengakibatkan seseorang mengalami perubahan tingkah laku
berdasarkan pengalaman atau latihannya mengenai materi IPA di jenjang
persekolahan.
Setiap orang yang ingin belajar IPA dengan baik, harus menguasai
konsep dasar sebagai prasyarat. Untuk menjawab soal-soal IPA ada sejumlah
aturan yang perlu dipelajari terlebih dahulu. Dengan demikian, untuk
menjawab soal-soal IPA seseorang hendaknya mengetahui hal-hal yang telah
dipelajari dan kemudian menggunakannya dalam situasi yang baru atau
menjawab soal-soal yang baru.
Berdasarkan uraian di atas, dapat dikatakan bahwa belajar IPA
merupakan proses psikologis, yaitu berupa kegiatan aktif dalam upaya
memahami dan menguasai IPA berdasarkan pengalaman belajar yang telah
diberikan pada jenjang persekolahan.

2.1.4. Hasil Belajar IPA
Dalam melakukan kegiatan pelajaran terjadi proses berpikir yang
melibatkan kegiatan mental, terjadi penyusunan hubungan informasi-
informasi yang diterima sehingga timbul suatu pemahaman dan penguasaan
terhadap materi yang diberikan. Dengan adanya pemahaman dan penguasaan
yang didapat setelah melalui proses belajar mengajar maka siswa telah
memahami suatu perubahan dari yang tidak diketahui. Perubahan inilah yang
disebut dengan hasil belajar.
Menurut Crow and Crow dalam Sofyan mengemukakan bahwa hasil
belajar merupakan perolehan kebiasaan-kebiasaan, pengetahuan dan sikap.
Pemrolehan ini termasuk suatu cara baru melakukan sesuatu dan cara
mengatasi masalah pada situasi baru.
Dari definisi di atas bahwa hasil belajar merupakan suatu perubahan
yang berupa perubahan tingkah laku, pengetahuan dan sikap yang diperoleh
seseorang setelah melakukan proses kegiatan belajar.
Hasil belajar merupakan peristiwa yang bersifat internal dalam arti dari
kecakapan-kecakapan potensial atau kapasitas yang dimiliki seseorang.
Penguasaan hasil belajar oleh seseorang dilihat dari perilakunya, baik
perilaku dalam bentuk penguasaan pengetahuan, keterampilan berpikir
maupun keterampilan motorik. Pencapaian belajar atau hasil belajar diperoleh
setelah dilaksanakannya suatu program pengajaran. Penilaian atau evaluasi
hasil belajar merupakan langkah untuk mengetahui seberapa jauh tujuan
kegiatan belajar mengajar (KBM) suatu bidang studi atau mata pelajaran telah
dapat dicapai. Jadi hasil belajar yang dilihat dari tes hasil belajar berupa
keterampilan pengetahuan intelegensi, kemampuan dan bakat individu yang
diperoleh di sekolah biasanya dicerminkan dalam bentuk nilai-nilai tertentu.
Tes bertujuan untuk membangkitkan motivasi siswa agar dapat
mengorganisasikan pelajaran dengan baik.
Bertolak dari uraian di atas, dapatlah dikatakan bahwa hasil belajar IPA
itu adalah hasil yang dicapai oleh murid pada mata pelajaran IPA yang
diperoleh berdasarkan pengalaman belajarnya yang diukur dengan tes standar
sebagai pengukur keberhasilan belajarnya.

2.2. Penggunaan Model Pembelajaran
2.2.1. Model Pembelajaran
Guru sebagai salah satu komponen pokok dalam mencapai keberhasilan
belajar siswa, maka seorang guru harus mampu menentukan metode
pembelajaran yang dipandang dapat membelajarkan siswa melalui proses
pembelajaran yang dilaksanakan agar tujuan pembelajaran dapat tercapai
secara efektif dan hasil belajar pun diharapkan dapat lebih ditingkatkan.
Berdasarkan uraian di atas, maka metode pembelajaran dapat diartikan
benar-benar sebagai metode tetapi dapat pula diartikan sebagai model atau
pendekatan pembelajaran.
Sedangkan yang dimaksud model pembelajaran dalam penelitian ini
adalah cara, model atau pendekatan yang dipakai oleh guru untuk
menyampaikan pikiran atau ide yang telah diolah secara bermakna melalui
pembelajaran.

2.2.2. Ragam Model Pembelajaran
Metode atau model pembelajaran sangat beraneka ragam. Setiap
metode pembelajaran mempunyai keunggulan dan kelemahan dibandingkan
dengan yang lain. Tidak ada satu metode pembelajaran pun yang dianggap
tepat untuk segala situasi. Suatu metode pembelajaran dapat dipandang tepat
untuk suatu situasi, namun tidak tepat untuk situasi lain.
Metode atau model yang biasa digunakan dalam pembelajaran di
sekolah, antara lain :
1. Metode ceramah
2. Metode simulasi
3. Metode demonstrasi dan eksperimen
4. Metode inquiry dan discovery, dan
5. Metode latihan dan praktek
Mengingat banyak macam atau ragamnya model pembelajaran, maka
seorang guru dituntut agar dapat dan tepat menentukan model atau metode
yang akan digunakan dalam kegiatan belajar mengajar. Karena dengan
pilihan metode ataumodel pengajaran yang tepat diharapkan hasil belajarnya
pun bisa dicapai dengan baik.

2.2.3. Penggunaan Model Pengajaran IPA
Sebagaimana telah disebutkan dalam uraian sebelumnya bahwa hasil
belajar siswa dapat dicapai dengan baik apabila dilakukan oleh guru yang
professional, tujuan yang jelas dan metode atau model yang digunakannya
tepat.

2.3. Hubungan antara Model Pembelajaran dengan Materi IPA
Sebagaimana telah dijelaskan dalam uraian terdahulu bahwa hasil
belajar siswa yang telah diraih siswa dalam proses belajar IPA khususnya,
bukan dihasilkan atas kemampuan dirinya semata, melainkan dipengaruhi
juga oleh faktor-faktor yang berhubungan dengan proses belajar mengajar.
Dari sejumlah faktor tersebut, guru sebagai salah satu faktor
pembimbing dengan segala upaya yang dilakukannya adalah merupakan
faktor pendorong tercapainya keberhasilan belajar siswa yang baik dalam
pelajaran IPA.
Pembuatan model yang dilakukan guru di sekolah merupakan salah
satu upaya untuk membantu mencapai tujuan pendidikan. Oleh karena itu,
bimbingan pembuatan model yang dilaksanakannya berfungsi sebagai
pengembangan, peningkatan dan pemantapan terhadap pemahaman siswa
dalam pelajaran IPA yang diajarkan dalam ruang-ruang kelas.