Anda di halaman 1dari 15

1

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Kalau kita meneliti tentang kehidupan manusia dari sejarah
perkembangan kehidupannya, sejak adam hingga kini telah
berkembang menjadi milyaran umat manusia. Bahan pangan
penunjang kehidupan yang utama berasal dari tumbuh-tumbuhan,
yang ternyata tumbuh-tumbuhan tak kalah bagi kehidupan dan
perkembangan Biota Laut. Ini berarti bahwa kehidupan dan
perkembangan baik manusia maupun Biota Laut sangat bergantung
pada tumbuh dan berkembangnya tumbuh-tumbuhan.
Telah berabad-abad lalu manusia telah mengenal kegunaan
tumbuhan sebagai penghasil obat-obatan. Namun pengetahuan
tersebut diperoleh bukan berdasarkan pemikiran secara rasional
namun melalui perasaan instinktif dan kemudian setelah pilihan
tersebut dapat memberikan apa yang diharapkan, yaitu penyakitnya
sembuh atau rasa sakitnya berkurang. Dari sinilah secara turun
temurun pengetahuan tersebut dipertahankan melalui penuturan
secara lisan. Nanti setelah manusia mengenal peradaban,
pengetahuan tentang tumbuhan berkhasiat obat itu pun mulai
dituangkan dan diabadikan sebagai dokumen.

1
2



Laut seperti halnya daratan,dihuni oleh biota,yakni tumbuh-
tumbuhan-tumbuhan Biota Laut dan mikroorgnisme hidup,mulai dari
pantai,permukaan laut sampai dasar laut yang terjeluk sekali
pun.Keberadaan Biota Lautt ini saangat menarik perhatian
manusia,bukan saja karena kehidupannya yang penuh rahasia,tetapi
juga karena manfaatnya yang besar bagi kehidupan
manusia.Pemanfaatan Biota Lautt yang makin hari makin meningkat
dibarengi oleh kemajuan pengetahuan tentang kehidupan Biota Lautt
yang tertampung dalam ilmu pengetahuan alam laut yang dinamakan
biologi laut (marine biology)
Begitu besarnya jumlah jenis Biota Lautt dan beraneka
ragamnya bentuk dan sifat hidup mereka,menyebabkan tidak
seorang biologiwan pun atau sekelompok biologiwanpun yang
mampu mempelajari semua jenis biota tersebut.Untuk menciptakan
pembagian kerja maka bidang biologi yang mendasar yang dapat
menolong adalah pembagian Biota Lautt.Ilmu yang membagi-bagi
Biota Lautt dalam kelompok-kelompok menurut sifat-sifat
morfologi,sifat-sifat hidup,hubungan keturunan dan lingkungan
tempat hidup mereka dinamakan taksonomi (taksonomy).Taksonomi
memegang peranan penting dalam mempermudah kita untuk
memilih biota

3



1.2. Rumusan Masalah
Bagaimana cara pemeriksaan farmakognostik ganggang
coklat (Sargassum sp.), yang meliputi pemeriksaan morfologi, dan
pembuatan herbarium?
1.3 Tujuan Praktikum
Untuk memperoleh data farmakognostik yang meliputi
morfologi serta khasiat pada Biota Laut ganggang coklat
(Sargassum sp.).
1.4 Manfaat Praktikum
Untuk memberikan informasi ilmiah tentang morfologi dan
kandungan ganggang coklat (Sargassum sp.). Dan juga mengetahui
khasiat dari ganggang coklat (Sargassum sp.) yang bisa digunakan
sebagai obat bagi masyarakat luas.
1.5 Kontribusi penelitian
Adapun kontribusi penelitian bagi IPTEK adalah dengan
adanya Praktek Kerja Lapangan ini diharapkan mampu
mengidentifikasi manfaat dari Biota Lautt ganggang coklat
(Sargassum sp). bagi ilmu pengetahuan dan teknologi sehingga bisa
dikelolah menjadi suatu bahan obat.




4



BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Tinjauan Tentang Biota Laut
2.1.1 Sistematika Biota Laut (Anonim, 1996)
Kingdom : Plantae
Division : Phaeophyta
Class : Phaeophyceae
Order : Fucales
Family : Sargassaceae
Genus : Sargassum
Species :Sargassum spinuligerum Sonder
2.1.2 Nama Daerah Biota Laut
Oseng (Kep. Seribu), Kembang karang (Banten),
dandigum, arien wari (Ambon), agar-agar kupan (Maluku)
(Wirdiono, 2010)
2.1.3 Morfologi Biota Laut
Morfologi Sargassum polycystum tidak jauh berbeda
dengan ciri-ciri umum Phaeophyta. Talus silindris berduri-duri
kecil merapat, holdfast membentuk cakram kecil dan di
atasnya terdapat perakaran/stolon yang rimbun berekspansi ke
segala arah. Batang pendek dengan percabangan utama
4
5



tumbuh rimbun. Mempunyai gelembung udara (bladder) yang
umumnya soliter (berkelompok),
panjangnya mencapai 7 meter, warna talus umumnya
coklat (Anonim, 2011)
2.1.4 Kandungan Kimia Biota Laut
kandungan bahan kimia gangganh coklat (Sargassum
sp) mengandung protein, vitamin C, tannin, iodine dan phenol
(Anonim, 2009)
2.1.5 Kegunaan Biota Laut
Kandungan koloid alginat dari algae Sargassum dalam
industri kosmetik digunakan sebagai bahan pembuat sabun,
pomade, cream bodylotion, sampo dan cat rambut. Di industri
farmasi sebagai bahan pembuat kapsul obat, tablet, salep,
emulsifier, suspensi dan stabilizer. Di bidang pertanian sebagai
bahan campuran insektisida dan pelindung kayu. Di industri
makanan sebagai bahan pembuat saus dan campuran
mentega. Manfaat lainnya dalam industri fotografi, kertas, tekstil
dan keramik. Di bidang kesehatan iodine digunakan sebagai
obat pencegah penyakit gondok (Anonim, 2009).
2.1.6 Bioaktifitas Biota Laut
Sargassum mengandung senyawa bioaktif, seperti
triterpenoid, steroid dan fenolat. senyawa-senyawa tersebut
berperan penting dalam pengaturan pertumbuhan Biota Laut
(Suradikusumah, 1989).
6



2.2 Tinjauan Tentang Pemeriksaan Farmakognostik
2.2.1 Pengertian dan Sejarah Farmakognostik
Farmakognosi berasal dari dua kata Yunani yaitu
Pharmakon (obat) dan Gnosis (ilmu/pengetahuan). Jadi
farmakognosi adalah ilmu pengetahuan tentang obat, khususnya
dari nabati, hewani dan mineral. Definisi yang mencakup seluruh
ruang lingkup farmakognosi diberikan oleh Fluckiger, yaitu
pengetahuan secara serentak berbagai macam cabang ilmu
pengetahuan untuk memperoleh segala segi yang perlu
diketahui tentang obat (Silfasi, 2010).
Pada kurang lebih 2500 tahun SM, penggunaan Biota Laut
obat sudah digunakan orang, hal ini dapat diketahui dari
lempeng tanah liat yang tersimpan di perpustakaan Ashurbanipal
di Assiria, yang memuat simplisia antara lain kulit delima, opium,
adas manis, madu, ragi, minyak jarak. Seorang tabib telah
mengenal kayu manis hiosiamina, gentiana, kelembak, gom arab
dan bunga kantil (Silfasi, 2010).
Pada tahun 1737 linnaeus, seorang ahli botani swedia,
menulis buku Genera Plantarum yang kemudian menjadi buku
pedoman utama dari sistematik botani, sedangkan farmakognosi
modern mulai dirintis oleh Martiuss, seorang Apoteker jerman
dalam bukunya Grundriss Der Pharmakognosie Des
Planzenreisches telah menggolongkan simplisia menurut segi
7



morfologi, cara-cara untuk mengetahui kemurnian simplisia
(Silfasi, 2010 ).
Farmakognosi mulai berkembang pesat setelah
pertengahan abad ke 19 dan masih terbatas pada uraian
makroskopis dan mikroskopis, dan sampai dewasa ini
perkembanganya sudah sampai ke usaha-usaha isolasi,
identifikasi dan juga teknik-teknik kromatografi untuk tujuan
analisa kualitatif dan kuantitatif (Silfasi, 2010).
2.2.2 Ruang Lingkup Pemeriksaan Farmakognosi
2.2.2.1 Identifikasi dan Determinasi Tumbuhan
Menentukan kunci determinasi Biota Laut
dilakukan berdasarkan bentuk morfologi Biota Laut
berdasarkan uraian deskripsi Biota Laut secara lengkap
melalui pendekatan hubungan kekerabatan (suku, dan
genus), nama daerah, alat-alat khusus yang teradapat
pada Biota Laut tersebut tempat tumbuh. Untuk
mempermudah determinasi Biota Laut dilakukan
pembuatan herbarium khusus (steenis,1992).
2.2.2.2 Morfologi Biota Laut
Morfologi tumbuhan adalah ilmu yang mengkaji
berbagai organ tumbuhan, baik bagian-bagian, bentuk
maupun fungsinya.Secara klasik, tumbuhan terdiri dari
tiga organ dasar (Masbuhdi, 2011)

8



2.2.2.3 Anatomi Biota Laut
Anatomi tumbuhan atau fitoanatomi merupakan
analogi dari anatomi manusia atau hewan. Walaupun
secara prinsip kajian yang dilakukan adalah melihat
keseluruhan fisik sebagai bagian-bagian yang secara
fungsional berbeda, anatomi tumbuhan menggunakan
pendekatan metode yang berbeda dari anatomi hewan.
Organ tumbuhan terekspos dari luar, sehingga
umumnya tidak perlu dilakukan "pembedahan" (Wales,
2010).
Anatomi tumbuhan biasanya dibagi menjadi tiga
bagian berdasarkan hierarki dalam kehidupan (Wales,
2010) :
o Organologi, mempelajari struktur dan fungsi organ
berdasarkan jaringan-jaringan penyusunnya;
o Histologi, mempelajari struktur dan fungsi
berbagai jaringan berdasarkan bentuk dan peran
sel penyusunnya; dan
o Sitologi, mempelajari struktur dan fungsi sel serta
organel-organel di dalamnya, proses kehidupan
dalam sel, serta hubungan antara satu sel dengan
sel yang lainnya. Sitologi dikenal juga sebagai
biologi sel.
9



BAB III
MATERI DAN METODE PRAKTIKUM
3.1 Bahan, Alat dan Instrument Praktikum
3.1.1 Bahan Biota Laut
Bahan Biota Laut Biota Lautt yang digunakan yaitu
ganggang hijau (Sargassum sp.)
3.1.2 Bahan kimia
Adapun bahan kimia yang digunakan yaitu Formalin 4%
3.1.3 Alat
Adapun alat yang digunakan antara lain ember, handscun,
loyang plastik dan toples.
3.2 Lokasi Praktikum
Lokasi pengambilan sampel dilakukan di Desa Lampoko,
Kecamatan Balusu, kabupaten Barru, dan pemeriksaan morfologi
sampel dilakukan di Laboratorium Farmakognosi, Fakultas Farmasi,
Universitas Muslim Indonesia, Makassar.







9
10



Tanaman
Segar
Herbarium
Basah
Pemeriksaan:
a. Morfologi
b. Anatomi
Hasil

3.3 Skema kerja














Gambar 1. Skema Kerja pembuatan Herbarium Ganggang coklat
(sargassum sp)








Pembahasan dan Kesimpulan
11



BAB IV
PEMBAHASAN
Biota Laut adalah semua makhluk hidup yang ada di laut baik hewan
maupun tumbuhan atau karang. secara umu Biota Lautt dibagi menjadi
tiga kelompok besar yaiutu plankton, nekton dan Bentos pembagain ini
tidak ada kaitannya dengan klasifikasi ilmiah, ukuran, hewan ataukah
tumbuhan tapi berdasarkan pada kebiasaan hidup secara umu, seperti
gerak berjalan, pola hidup dan sebaran menurut ekologi.
Sargassum tumbuh sepanjang tahun, tumbuhan ini bersifat
"perenial" atau setiap musim barat maupun timur dapat dijumpai di
berbagai perairan. Algae Sargassum tumbuh berumpun dengan untaian
cabang-cabang. Panjang thalli utama mencapai 1 - 3 m dan tiap-tiap
percabangan terdapat gelembung udara berbentuk bulat yang disebut
"Bladder," berguna untuk menopang cabang-cabang thalli terapung ke
arah permukaan air untuk mendapatkan intensitas cahaya matahari.
Kandungan koloid alginat dari algae Sargassum dalam industri
kosmetik digunakan sebagai bahan pembuat sabun, pomade, cream
bodylotion, sampo dan cat rambut. Di industri farmasi sebagai bahan
pembuat kapsul obat, tablet, salep, emulsifier, suspensi dan stabilizer. Di
bidang pertanian sebagai bahan campuran insektisida dan pelindung
kayu. Di industri makanan sebagai bahan pembuat saus dan campuran
mentega. Manfaat lainnya dalam industri fotografi, kertas, tekstil dan
11
12



keramik. Di bidang kesehatan iodine digunakan sebagai obat pencegah
penyakit gondok.





















13



BAB V
PENUTUP
5.1 Kesimpulan
Kesimpulan pada laporan Biota Lautt mengenai gangang coklat
(Sargassum sp) sebagai berikut :
1. Morfologi pada biota laut ganggang coklat yaitu tidak jauh
berbeda dengan ciri-ciri umum Phaeophyta. Talus silindris
berduri-duri kecil merapat, holdfast membentuk cakram kecil dan
di atasnya terdapat perakaran/stolon yang rimbun Manfaat
Teripang bagi kesehatan adalah dalam kehidupan sehari-hari
yaitu dimanfaatkan sebagai obat untuk beberapa penyakit, dan
bahan pangan.
2. Kandungan kimia dari ganggang coklat menurut literatur yaitu
kandungan bahan kimia gangganh coklat (Sargassum sp)
mengandung protein, vitamin C, tannin, iodine dan phenol
5.2 Saran
Diharapkan penelitian yang lebih lanjut mengenai Biota Lautt
ganggang (Sargassum sp.) sehingga dapat diketahui khasiat dan
kandungan kimia lain dari Biota Laut ini.




13
14



DAFTAR PUSTAKA

Anonim,1996.(online),http://www.itis.gov/servlet/SingleRpt/SingleRpt?sear
ch_topic=TSN&search_value=203836 (diakses pada 15 November
2011)

Anonim, 2009. (Online) http://farmasea.blogspot.com/2009/01/kandungan-
senyawa-kimia-sargassum_20.html (diakses pada 15 November
2011)

Anonim 2010.(Online) http://niesurya.wordpress.com/2010/02/17/manfaat-
sargassum/ (diakses pada 15 November 2011)

Anonim, 2010. (Online) http://en.wikipedia.org/wiki/Sargassum (diakses
pada 15 November 2011)

Suradikusumah, E. 1989. Kimia Tumbuhan.IPB. Bogor

Wardiono,2011.(online)http://www.prosea/prohati4/browser.php?docsid=3
2 (diakses pada 15 November 2011)

























15



LAMPIRAN


Gambar 2. Ganggang Hijau (Serggasum sp)