Anda di halaman 1dari 39

Persaingan Pada Pasar Oligopoli, Kasus: Industri Chip Microprocessor

1. Pendahuluan
Pergulatan untuk mempertahankan posisi dominan di pasar, sampai pada kondisi tertentu
seringkali membutuhkan tidak hanya keunggulan teknologi, kehandalan jajaran manajemen,
namun juga kepiawaian merancang dan melaksanakan strategi bisnis serta kemahiran dalam
berperkara di pengadilan. Suasana seperti ini tergambar dalam persaingan antara Advanced
Micro Devices (AMD) dan Intel, keduanya merupakan produsen chip microprocessor, suatu
perangkat utama dalam komputer. Bagi Intel yang lebih dahulu eksis dan menguasai hampir
60% pangsa pasar, persaingan dengan AMD merupakan upaya agar selalu waspada bahwa
ada orang lain yang dapat menggerogoti kue bisnisnya. Sementara itu, bagi AMD,
pertarungannya dengan Intel merupakan pertaruhan untuk merebut kehormatan dan
kelangsungan hidup.

1.1. Perkembangan Industri Semikonduktor
Akhir 60-an hingga awal 70-an merupakan kurun waktu yang menandai diawalinya produk
Teknologi Informasi, beberapa di antaranya adalah mini-computer, modulator-demodulator
(Modem), integrated circuits (IC), hingga teknologi yang memungkinkan pesawat ruang
angkasa Apollo mendarat di Bulan. Semua inovasi dan karya besar ini dimungkinkan setelah
ditemukannya bahan Silicon yang selanjutnya digunakan sebagai komponen utama bahan
semi penghantar listrik (semiconductor).

Pertengahan 70-an mulai menunjukkan adanya peningkatan permintaan terhadap
microprocessor dan core memory, ketika banyak perusahaan elektronika mulai menyadari
banyak aplikasi menggunakan semikonduktor dapat diterapkan pada produk konsumer
maupun bisnis. Barang barang elektronik, seperti radio, televisi, amplifier, jam tangan,
kalkulator, telepon, facsimili, dan masih banyak lagi merupakan produk elektronika yang
memanfaatkan semikonduktor dalam wujud transistor, atau IC. Kemampuan komputer
melakukan kerja komputasi juga semaikn meningkat dengan penggunaan semikonduktor
menggantikan tabung hampa udara (vacuum tubes). Jika semula, dengan teknologi transistor
komputer main frame merupakan produk unggul dengan kemampuan time-sharing, dengan
ditemukannya IC, penggunaan komputer tidak lagi bergantung pada ketersambungan kepada
main frame, namun individu dapat menggunakan komputer pribadi di mejanya (desktop
personal computer / PC).


Awal 80-an ditandai dengan mulai menanjaknya penggunaan PC, tidak saja di kantor namun
juga mulai dipakai di rumah, dan mengubah tata cara berkomunikasi, bekerja, dan
pemrosesan informasi. Tahun 1986 terjadi penurunan tajam permintaan terhadap PC yang
berdampak pada pengurangan permintaan terhadap chip microprocessor. Intel dan AMD di
satu sisi dan dan pelanggan mereka, yang notabene adalah perusahaan perusahaan produsen
PC berjuang untuk menemukan keunggulan kompetitif baru terutama didorong oleh makin
sulitnya lingkungan bisnis. Pada pertengahan hingga akhir dekade 80-an, dengan
microprocessor i386 dan i486 Intel berhasil mendominasi pasar microprocessor untuk PC,
sehingga produsen PC hanya memiliki satu sumber. Kondisi ini berubah ketika tahun 1991
AMD mulai berhasil membuat processor yang dapat bersaing dengan produk Intel.

Di pihak lain, awal 90-an komunikasi selular mulai tumbuh, demikian pula Internet mulai
memasuki tahap komersial setelah beberapa tahun sebelumnya dilepas oleh Pemerintah
Amerika Serikat dari penggunaan khusus untuk militer agar dapat digunakan oleh masyarakat
awam. Komunikasi data dan mobile computing mulai merebak, integrasi antara
telekomunikasi dan teknologi informasi tidak terelakkan. Pertengahan hingga akhir dekade
90-an produsen dan masyarakat pengguna PC mulai menikmati buah kompetisi baru di
industri microprocessor. Di sisi lain, fenomena ini menunjukkan bahwa sementara kemajuan
teknologi bergerak sangat cepat, menjadi jelas bahwa perusahaan penghasil teknologi perlu
bekerja sama untuk memberikan teknologi yang dibutuhkan pelanggan, dari pada melakukan
inovasi hanya untuk memenuhi kepentingannya sendiri.

Memasuki abad milenium yang ditandai dengan hiruk pikuk produk teknologi informasi,
muncul peningkatan permintaan terhadap PC yang dilengkapi dengan sarana akses Internet
dan komunikasi nirkabel (internet-ready and wireless comunication devices). PC yang tidak
dilengkapi kedua perangkat ini menjadi tidak laku di pasaran. Awal milenium juga ditandai
dengan melejitnya bisnis dotcom yang meski relatif sebentar namun dapat menghidupkan
kembali gairah industri Teknologi Informasi (TI). Ketika bisnis dotcom tidak mewujudkan
janjinya, industri TI secara umum, termasuk semiconductor, mengalami penurunan kinerja.
Kondisi ini juga ditunjang oleh evolusi strategi produsen PC yang semula memfokuskan pada
perluasan produk kepada penggantian komponen dan peningkatan kapasitas komputer dengan
peralatan tambahan (peripherals).

Meski dihadapkan pada tuntutan untuk membangun perusahaan agar lebih ramping, namun
pada awal 2001 permintaan terhadap TI, khususnya kompuer yang Internet-ready masih tetap
kuat. Namun demikian peristiwa penghancuran gedung World Trade Center di New York
pada tanggal 11 September 2001 mengubah segalanya. Kinerja industri semikonduktor
mengalami penurunan paling tajam dalam sejarah, sementara perusahaan dituntut untuk
selalu kompetitif. Awal tahun 2002 menunjukkan gejala perbaikan. Penjualan consumer
electronics meningkat, didorong oleh penjualan DVD, perekam-suara digital, dan kamera
digital. Tahun 2003 industri TI kembali menancapkan kakinya, permintaan kembali menguat,
dan hal ini mendorong peningkatan harga saham perusahaan - perusahaan TI. Penjualan PC
tumbuh dengan mantap, wireless computing memperoleh momentumnya, dan komputasi 64-
bit memasuki arus utama.

1.2. Lisensi sebagai Awal Persaingan
Lembah Silicon (Silicon Valey) di California melahirkan teknologi khususnya Teknologi
Informasi (TI) yang setelah diimplementasikan di pasar mengubah tatanan industri,
masyarakat, dan bahkan tata hubungan dunia. Komputer salah satunya. Ditemukannya bahan
silikon yang memiliki sifat semi-penghantar listrik (semi-conductor) mengilhami dibuatnya
transistor yang selanjutnya digunakan sebagai pengganti tabung hampa udara (vacuum tube)
yang sebelumnya digunakan sebagai komponen inti perangkat elektronika. Perubahan besar
terjadi setelah digunakannya transistor. Ukuran fisik komputer yang semula besar sekali
berangsur mengecil, demikian pula kapasitas pengolahan data melonjak cukup besar
dibandingkan dengan ketika masih menggunakan tabung hampa udara. Lihat Gambar 1.

Perkembangan teknologi terus bergulir, transistor yang semula ukurannya sudah seper-sekian
dari tabung hampa udara, dengan ditemukannya teknologi mikro elektronik dapat dibuat
semakin kecil dan dirangkai dalam sebuah integrated circuit (IC). Awalnya, dalam satu IC
yang berdimensi 0.5 x 3 x 1cm (tebal x panjang x lebar), terdapat setidaknya 1000 transistor.
Awal tahun 2006, dengan kemampuan yang makin berkembang, IC dengan dimensi sama
dapat terdiri dari 100.000 transistor. Akibat peningkatan kemampuan untuk memperkecil
ukuran IC, perangkat elektronik digital berukuran makin kecil sementara kemampuannya
(features) makin banyak bahkan hampir tidak terbatas.

Intel muncul di masa komputer digital baru diperkenalkan. Pembuat IC terbesar pada masa
itu adalah Fairchild yang mengoperasikan pabrik di banyak negara termasuk Indonesia.
Pendiri Intel Bob Noyce dan Gordon Moore meninggalkan Fairchild setelah keduanya
melihat peluang yang sangat besar apabila mereka membangun bisnis sendiri. Intel semula
menekuni bisnis pembuatan chip IC yang digunakan sebagai Random Access Memory
(RAM). Dalam perjalanan waktu, dan sebagai reaksi atas munculnya pemain baru dari Jepang
(NEC, Fujitsu, Toshiba, Sharp, dll.) maupun dari dalam negeri (USA), Intel akhirnya
menghentikan produksi RAM dan fokus hanya pada memroduksi microprocessor.

Tidak lama setelah Intel berdiri, tepatnya pada tanggal 1 Mei 1969 Jerry Sander mantan
pegawai Fairchild mendirikan Adanced Micro Devices (AMD) yang produknya sebagian
besar sama dengan yang dibuat oleh Intel. Berdirinya AMD menambah pemasok IC dan tentu
saja mengubah situasi industri IC yang semula dikuasai oleh Fairchild, Motorola, Texas
Instrument, Zilog, dan Intel. Dalam perjalanan waktu Fairchild perlahan lahan mengurangi
perhatian pada produksi IC, sementara Motorola mulai fokus pada perangkat telekomunikasi,
sehingga praktis pada industri microprocessor pemain utamanya tinggal Intel dan AMD.

Persaingan Intel versus AMD diawali pada tahun 1975 ketika Intel memberi lisensi kepada
AMD untuk membangun microprocessor-nya sendiri menggunakan rancangan
microprocessor 8080A karya Intel. Berangkat dari lisensi Intel inilah, AMD membangun
kompetensi barunya di industri microprocessor. Perjalanan waktu membuktikan, pertarungan
dua perusahaan ini dalam memengaruhi standar komputer, agar produsen komputer
menggunakan processor hasil produksinya, tidak saja merupakan pergulatan membangun
teknologi baru, tetapi juga melibatkan kegiatan mata mata (industrial spionage), perjuangan
di pengadilan, serta melibatkan politisi dan pejabat pemerintah di berbagai negara di mana
kedua perusahaan ini eksis.

2. Kerangka Teori
Industri elektronika dunia, khususnya chip microprocessor tergolong industri yang oligopoli
karena dikuasasi oleh segelintir pemain. Dua pemain besar yang saling bersaing sejak akhir
tahun 60-an: Intel dan Advanced Micro Devices (AMD) menguasai tak kurang dari 90%
pangsa pasar, 10% sisanya harus dibagi untuk pemain lainnya seperti Zilog, Motorola, NEC,
National Semiconductor, Texas Instrument, dan lain lain. Berbeda dengan industri
komputer yang merupakan hilir dari industri chip micropocessor dan struktur pasarnya
beranjak dari monopoli, oligopoli dan akhirnya menjadi persaingan sempurna (Baye, 2006),
dalam industri microprocessor struktur pasarnya relatif stabil.

2.1. Pasar Oligopoli
Oligopoli terjadi ketika hanya ada sejumlah kecil pengusaha dalam suatu industri tertentu di
mana keputusan masing masing saling berpengaruh. (Pindyck & Rubinfeld, 1998).
Perusahaan membedakan produk yang dihasilkan dari produk pesaingnya secara substantial
melalui kombinasi rancangan produk, promosi, dan distribusi (Douglas, 1995). Dalam pasar
oligopoli manajer dituntut tidak hanya membuat strategi persaingan yang istimewa, namun
juga dituntut untuk selalu memerhatikan reaksi pesaing terhadap setiap strategi yang
diluncurkan perusahaan. Sebagai contoh, ketika pesaing menurunkan harga, manajer
dihadapkan pada banyak pilihan untuk menjawab strategi pesaing tersebut, apakah ikut
menurunkan harga, atau tidak terpengaruh, atau bahkan menaikkan kualitas produk dan
sekaligus menaikkan harga. Kerterkaitan strategi antar-pelaku bisnis menjadi ciri khas pasar
oligopoli. Penjual berperan sebagai pembuat harga (price makers), sedangkan pembeli hanya
dapat menyepakati harga (price taker) yang dibuat oleh pengusaha. Setiap pengusaha
memiliki peran strategis. Sementara itu, entry ke pasar industri yang berstruktur oligopoli
relatif terbuka namun sulit untuk dimasuki oleh pemain baru.

Dua perusahaan dengan produk yang hampir identik dalam suatu industri secara bersama
sama menghadang masuknya pemain baru. Perilaku seperti ini menghasilkan marginal cost
yang konstan. Apabila kondisi seperti ini terus berlangsung akan menjurus pada pembentukan
kartel. Namun demikian pembentukan kartel secara penuh di mana perusahaan secara
bersama mengatur harga menjadi sulit dilakukan karena adanya peluang untuk mengingkari
kesepakatan. Keseimbangan antara di antara pelaku oligopoli terjadi pada perpotongan kurva
reaksi. Setiap perusahaan memilih strategi terbaik, yang selanjutnya dapat berpengaruh
kepada strategi perusahaan lainnya. Namun demikian jika semua pelaku oligopli dapat
konsisten dengan komitmennya untuk tidak melakukan pengingkaran, maka oligopoli
menjadi bentuk pasar yang dapat merugikan konsumen.

Dalam industri chip microprocessor, model yang tepat untuk menggambarkan persaingan
adalah Bertrand Oligopoli (Baye, 2006; halaman 336), hal ini karena memenuhi persayaratan:
1. ada sedikit perusahaan yang melayani banyak pelanggan;
2. perusahaan yang bersaing menghasilkan produk yang identik dengan biaya marginal yang
konstan;
3. perusahaan memilih terlibat dalam persaingan harga dan bereaksi secara optimal terhadap
perubahan harga yang dilakukan kompetitor;
4. konsumen memiliki informasi yang mencukupi dan tidak ada biaya transaksi; dan
5. terdapat barrier to exist.

2.2. Model Duopoli Cournot
Model Duopoli Cournot digunakan untuk menjelaskan perilaku pasar bila hanya ada dua
pelaku usaha dalam satu industri. Keduanya secara bersama melakukan upaya menghambat
masuknya pendatang baru. Produk yang dihasilkan oleh keduanya memiliki kesamaan
manfaat (homogeneous). Demikian pula penambahan biaya yang dihasilkan atas penambahan
satu unit produk (marginal cost) konstant dan identik di antara kedua perusahaan tersebut.
Bila kedua perusahaan bersetuju, mereka dapat membuat kartel untuk menentukan jumlah
produksi, harga jual dan wilayah pemasaran. Namun demikian, bial ada salah satu yang
mengingkari kesepakatan (cheating) kartel tidak dapat dipertahankan.

Cournot-Nash Equilibrium
Keseimbagan yang terjadi antara dua pelaku pasar pada titik perpotongan antara dua kurva
reaksi. Setiap perusahaan memilih strategi terbaiknya, dengan memperhatikan strategi
perusahaan lain. Masing masing berusaha menepati kesepatan yang dibuat, karena
mempercayai perusahaan lain juga akan menepatinya. Ketika perusahaan berada pada pasar
oligopoli, masing masing berupaya memaksimalkan profit, mereka memroduksi sejumlah
output lebih besar dari yang dihasilkan oleh pelaku monopoli namun lebih kecil dari produksi
pelaku kompetisi. Harga oligopoli lebih murah dari monopoli namun lebih mahal dari pada
harga pelaku kompetisi. Dengan demikian agregat output lebih besar dari monopoli namun
lebih kecil dari yang dapat dihasilkan oleh pasar kompetitif. Adapun total profit lebih kecil
dari keuntungan yang dapt diraih oleh monopoli.

Pengaruh jumlah pelaku pasar terhadap harga dan kuantitas: Efek output: karena harga lebih
tinggi dari marginal cost, menjual lebih banyak pada harga pasar berdampak pada
peningkatan profit; Efek harga: peningkatan produksi akan menaikkan jumlah produk yang
terjual, yang pada gilirannya akan menurunkan harga dan profit per unit daru semua unit
yang terjual. Jika jumlah penjual di dalam pasar oligopoli bertambah banyak, pasar oligopoli
berangsur berubah menjadi pasar kompetitif. Harga akan mendekati marginal cost, dan
kuantitas produk mendekati level sosial yang efisien.

2.3. Keunggulan Kompetitif (Competitive Advantage)
Perusahaan yang memiliki keunggulan kompetitif memiliki peluang lebih besar untuk tetap
eksis di industri yang digelutinya (Day & Reibstein, 1997). Perusahaan memiliki keunggulan
kompetitif manakala aksinya dalam industri atau pasar tertentu menciptakan nilai ekonomi
dan beberapa perusahaan lain sejenis mengikutinya (Barney, 2002, halaman 9). Pemahaman
terhadap pentingnya perusahaan memiliki keunggulan kompetitif menjadikannya sebagai
tujuan. Padahal, keunggulan kompetitif sejatinya merupakan alat manajemen (management
tools) yang setelah dimiliki kemudian dioperasionalkan sehingga perusahaan mencapai posisi
terbaik yang diinginkan. Iika tidak cermat dalam merancang strategi, perusahaan dapat
terjebak pada fokus terlalu besar meraih keunggulan kompetitif, namun setelah itu tidak dapat
menjaga keunggulan tersebut agar tetap terbaik dalam industri yang digelutinya.

Dari perspektif teori, tantangan yang harus dijawab antara lain bagaimana sebuah perusahaan
menjadi unggul di industri yang dipilihnya dan bagaimana agar mampu mempertahankan
keunggulan yang sudah diraih. Menjawab pertanyaan ini, ada beberapa hal yang
memengaruhi tetap dimilikinya keunggulan kompetitif (Collis & Montgomery, 2005).
Pertama, adanya ancaman peniruan (imitation) yakni pesaing membuat produk atau jasa
serupa dengan yang dimiliki perusahaan. Kedua, masuknya pendatang baru (new entry),
walaupun penentuan harga dari monopolistic competition lebih besar dari marginal cost,
namun hal ini tidak menjamin bahwa keuntungan yang diperolehnya akan langgeng.
Pendatang baru dengan sedikit diferensiasi akan menggerogoti pangsa pasar. Ketiga, adanya
produk yang menguasai celah pasar tertentu (distinct niche products) sehingga perusahan
tidak dapat memasuki pasar tersebut.

Keunggulan kompetitif dapat dibangun dengan menggunakan pendekatan sistem terintegrasi
di mana setiap elemen strategi saling diselaraskan (Collis & Montgomery, 2005).
Sumberdaya perusahaan dievaluasi untuk melihat apakah dapat memenuhi faktor faktor
penentu sukses, sehingga dapat menjadi pertimbangan (justification) apakah akan tetap di
bisnis yang sekarang atau masuk ke bisnis baru. Selanjutnya, bisnis tersebut dipantau dan
dikendalikan dengan mengandalkan infrastruktur organisasi. Jika manajemen puncak tidak
mampu mengendalikan bisnisnya secara indenpenden, maka besar kemungkinan keunggulan
kompetitif yang diharapkan tidak pernah tercapai.

Selain membutuhkan kemampuan pengawasan dan pengendalian, guna mencapai keunggulan
kompetitif juga diperlukan hubungan yang kuat (coherence) di antara berbagai elemen
organisasi bisnis. Hal ini dapat dilakukan melalui rancangan struktur, sistem dan proses yang
memungkinkan perusahaan secara efektif memanfaatkan sumber dayanya. Struktur perlu
dirancang agar mampu memberi dukungan terhadap setiap sumberdaya dengan intervensi
minimal. Sedangkan sistem dan proses yang sesuai dengan karakter perusahaan dipilih untuk
mendukung ketrampilan sumberdaya manusia, dan koordinasi berbagai macam aktivitas.

2.4. Keunggulan Perusahaan Berbasis Sumberdaya
Perusahaan harus mampu menciptakan value yang lebih tinggi dari pesaing. Penciptaan value
tersebut memerlukan ketersediaan sumber daya dan kemampuan mengelolanya (disctinctive
capabilities). Semua perusahaan mempunyai sumberdaya dan kemampuan (capabilities),
yang membedakan adalah kelangkaan (scarcity) and imperfect mobile. Kelangkaan
dimaksudkan bahwa hanya sedikit yang memiliki sumberdaya dan kemampuan seperti yang
dipunyai perusahaan. Meski demikian, kelangkaan tidak menjamin bahwa tidak ada
perusahaan lain yang dapat memiliki sumber daya serupa atau sumber daya substitusi.
Sumberdaya langka yang telah dimiliki dapat dengan mudah beralih ke tangan pesaing,
kecuali bila sumberdaya tersebut dilengkapi dengan imperfectly mobile. Umpamanya,
sumber daya tersebut tidak dapat dengan mudah menjual dirinya sendiri ke pesaing. Contoh,
supplier K- Mart hanya bisa menjual ke K-mart. Beberapa sumberdaya merupakan
imperfectly mobile; umpamanya teknologi atau ketrampilan yang didapat dari beberapa tahun
pengalaman, reputasi, hak cipta, keterikatan akan geography dan lain sebagainya. Sebaliknya,
bila sumberdaya langka yang dimiliki berwujud pegawai ahli, informasi, teknologi dan rumus
yang bisa di-copy maka akan dengan mudah sumberdaya tersebut menjadi mobile.

2.4.1. Mekanisme Isolasi
Kepemilikan sumberdaya langka dan yang bersifat sulit untuk ditiru tidak cukup untuk
menjamin perusahaan tetap memiliki keunggulan kompetitif. Xerox produsen mesin photo
copy mendapat perlawanan dari Canon dengan produk yang kualitasnya baik dan jarang
rusak, sehingga menumpulkan sustainable competitive advantage-nya Xerox. Isolating
mechanism mencegah perusahaan lain mengambil sebagian atau seluruh keuntungan
perusahaan. Mekanisme isolasi guna melindungi produk atau jasa dilakukan dengan
mencegah duplikasi (impediment to imitation) produk unggulan. Sebagai contoh, Cisco
dengan produk routers, penghubung jaringan yang dibangun berdasarkan konsep yang
berbeda dari peralatan sejenis yang sudah ada sebelumnya berhasil mendominasi pasar
perangkat jaringan dan memberikan kontribusi keuntungan yang sangat besar melebihi dari
apa yang telah dicapai oleh Coca Cola, Intel dan Microsoft.

2.4.2. Kendala Terhadap Imitasi
Selain upaya menghambat imitasi secara nyata (tangible barriers to imitation), ada teknik lain
yang dapat digunakan yakni secara tidak nyata (intangible barriers). Hambatan tidak nyata
dapat tercipta secara tidak langsung, ketika perusahaan berhasil menciptakan kemampuan
unik (distinctive organizational capabilities). Adapun hambatan hambatan tersebut berupa
causal ambiguity, dependence on historical circumstances, dan social complexity.

Causal Ambiguity.
Merujuk pendapat Richard Rumelt, Causal Ambiguity adalah situasi dimana perusahaan
dengan kemampuan yang tidak mudah didefinisikan (obscure) dan hanya dapat dimengerti
secara tidak sempurna namun masih dapat menciptakan nilai bagi stakeholders. Pengetahuan
dan ketrampilan (knowledge and knowhow) yang dimiliki merupakan tacit knowledge, yaitu
kemampuan yang sudah menjadi satu dengan pemiliknya, namun sulit diartikulasikan ke
dalam bentuk formula, algoritma atau peranturan. Pengetahuan tersebut biasanya didapat dari
uji coba dan diperhalus melalui praktek dan pengalaman, jarang ditulis datau dikodifikasi ke
dalam buku petunjuk, dan hanya bisa dibuktikan bila dipraktekkan secara langsung. Di pihak
lain, causal ambiguity juga mempunyai dampak negatif yakni perusahaan tidak mampu mem-
transplantasi-kan kesuksesan di suatu pabrik ke pabrik lain walaupun dari perusahaan yang
sama.

Dependence on Historical Circumstances.
Perusahaan mungkin juga tidak dapat mereplikasi kemampuan pesaing karena sejarah dan
pengalamannya. Ketergatungan kepada masa lalu (historical dependence) membatasi
kemampuan untuk tumbuh dan berkembang dari kebutuhan operasional baru. Historical
dependence hanya dapat digunakan untuk masa yang pendek. Contohnya People Express
mendapatkan keuntungan dari adanya perubahan regulasi dengan pemanfaatan tenaga buruh
yang rendah di mana perusahaan besar masih terkunci dengan serikat buruhnya, namun
setelah perusahaan besar tersebut telah berhasil merenegosiasikan kontrak dengan buruhnya,
People Express mendapatkan kesulitan untuk mempertahankan keunggulannya.

Social Complexity
Hubungan yang baik dari manajer perusahaan terhadap pemasok dan konsumen termasuk
yang sulit ditirukan. Salah satu penyebab sukses Toyota adalah kepercayaan yang diperoleh
dari para pemasoknya. Ketergantungan perusahaan didalam mempertahankan keunggulan
bersaing dari causal ambiguity, history dan social complexity menyebabkan perusahaan yang
melakukan perubahan organisasi secara besar-besaran dan melupakan aspek di atas berakibat
kehancuran perusahaan.

2.5. Keunggulan Pelaku Pertama
Konsep pelaku pertama (first mover) dipengaruhi oleh karya ekonom terkenal Joseph
Schumpeter yang beragumen: perusahaan mencapai keunggulan kompetitif dengan jalan
inovasi (Hoskisson, Hitt & Ireland, 2004). Perusahaan dikatakan sebagai pelaku pertama bila
mengambil langkah kompetitif awal (terlebih dahulu sebelum pesaing melakukanya) guna
membangun atau mempertahankan posisi atau meningkatkan keunggulan yang sudah
diraihnya. Pada umumnya first mover mengalokasikan dana yang cukup besar yang akan
digunakan untuk membiayai inovasi dan pengembangan produk, kampanye pemasaran, serta
kegiatan penelitian dan pengembangan.

Menjadi first mover memiliki peluang untuk meraih manfaat yang substansial, khususnya
dalam pasar yang siklusnya relatif cepat di mana periode pengenalan produk produk baru
terjadi dalam waktu singkat, sehingga menjadi sulit bagi perusahaan untuk tetap
mempertahankan keunggulan kompetitif bila tetap mempertahankan produk produk lama.
Oleh karena itu, meski keuntungan yang diraihnya tidak pernah absolut, namun demikian
dalam lingkungan industri yang perubahannya sangat cepat akibat pengembangan teknologi,
menjadi first mover merupakan pilihan strategi yang mendukung kenunggulan kompetitif.

Selain dapat memperoleh tingkat keuntungan di atas rata rata, sampai dengan pesaing
mampu merespon langkah suksesnya, sebagai first mover dapat memetik manfaat dari:
kesetiaan pelanggan yang tetap memilih produk pertama karena kualitas maupun
ketersediannya; dan pangsa pasar yang telah dibangun sementara belum ada pesaing. Di
samping itu, ada keuntungan lain yang dapat diterima oleh first mover, yakni: kurva
pembelajaran (learning curve), reputasi dan ketidak-pastian pembeli (reputation and buyer
uncertainty), biaya pengalihan yang dialami pembeli (buyer switching-cost), dan efek
jaringan (network effects).

Perusahaan yang mampu menjual produknya lebih awal akan mendapatkan kurva
pembelajaran dan menghasilkan biaya yang lebih rendah daripada pesaing. Semakin rendah
struktur biaya akan mampu memotong pesaing, seterusnya meningkatkan penjualan dan
mendapatkan kurva pembelajaran lagi. Perusahaan yang mempunyai reputasi kualitas produk
yang baik, memiliki peluang untuk mendapatkan tingkat keuntungan yang besar. Hal ini salah
satunya disebabkan oleh karena pembeli cenderung ragu untuk pindah ke produk lain yang
belum dikenal. Contoh; penjualan obat aspirin. Perusahaan pioneer menjualnya dengan harga
US$ 2.5. Setelah beberapa lama, pendatang baru tidak bisa menjual dengan harga yang sama,
karena pembeli cenderung untuk tidak berganti produk kepada yang telah diyakini
kualitasnya. Sehingga dalam memasuki pasar, pendatang baru mau tidak mau harus
menjualnya dengan harga yang lebih murah. Disini first mover menikmati harga
premiumnya, ditambah dengan kepercayaan pembeli yang semakin banyak.

Ada beberapa limitasi dari dampak reputasi yang perlu mendapat perhatian. Perusahaan
mungkin sangat percaya terhadap produknya dan mengeksploitasinya secara berlebihan.
Perubahan demography dan perubahan selera mungkin akan menggerogoti nilai dari merek
yang telah terbentuk. Teknologi akan memperpendek jarak antara merek terkenal dengan
merek yang kurang terkenal.

Pembeli mengeluarkan biaya pengalihan (swithcing costs) untuk berganti pemasok.
Contohnya; pengguna Microsoft Word harus mengeluarkan investasi baru untuk membeli
software dan biaya pelatihan ketika hendak beralih ke produk WordPerfect. Switching cost
dapat sangat berguna untuk menghalangi pesaing baru, namun juga mempunyai keterbatasan.
Terjadi peningkatan biaya untuk menjaga loyalitas pelanggan. Sistim garansi meningkatkan
biaya service. Membuat produk komplemen juga menciptakan pembeli kedalam satu niche;
yang apabila terdapat perubahan selera, konsumen akan berganti produk secara keseluruhan.
Ekonom, menyebutkan perusahaan yang sudah mapan tidak tertarik untuk berkompetisi
menggunakan instrumen harga untuk mendapatkan pembeli baru., karena akan mengurangi
profit margin dari pelanggan lama. Sebaliknya pendatang baru cenderung menyerang dari sisi
harga.

Besaran efek jaringan tergantung dari semakin banyak produk menggunakan produk sejenis,
atau semakin banyak pelanggan menggunakan produk dan atau jasa yang dihasilkan
perusahaan. Contohnya, pengguna jasa telephone. Jika seseorang di suatu kota ingin
menghubungi keluarganya yang ada di desa, namun saudaranya tidak mempunyai pesawat
telephone, maka manfaat jaringan telepon menjadi berkurang. Semakin banyak actual
network saling berkomunikasi, semakin meningkat nilainya. Untuk virtual network, sesama
pelanggan tidak saling bertemu. Contoh dari virtual network adalah computer operating
systems, video gaming, personal digital assistant, dan lain - lain. Bila jumlah anggota virtual
network bertambah, maka permintaan untuk produk produk komplementer akan meningkat.
Efek jaringan memberi peluang kepada perusahaan first mover untuk meraih pelanggan baru
dan membentuk pasar yang baru (competing for the market). Microsoft misalnya, dengan
produk Operating System yang dihasilkannya (Windows O/S) berhasil mengubah pasar dan
memenangkan persaingan membentuk pasar sistem operasi personal computer yang
sebelumnya dikuasai oleh proprietary software.

3. Persaingan Antara Intel Versus AMD
3.1. Intel
Intel didirikan oleh Bob Noyce dan Gordon Moore pada tahun 1968, setelah keduanya
meninggalkan Fairchild, sebuah perusahaan elektronik produsen integrated circuit (IC).
Semula perusahaan yang didirikan Noyce dan Moore diberi nama NM Electronics,
kependekan dari nama kedua orang tersebut. Setahun setelah mendirikan NM Electronics
mereka menggunakan nama perusahaan Intel setelah membeli perusahaan kecil Intelco.
Keduanya kemudian mendapat dukungan dari Arthur Rock yang menanamkan modalnya
sebesar US$ 2.5 juta dan kemudian Arthur menjalani jabatan sebagai Chairman pertama Intel.
Tahun 1969 Intel mulai mengenalkan logo perusahaan yang kemudian menjadi terkenal di
dunia. Pada tahun yang sama Intel meluncurkan produk pertamanya IC3101 yakni Schottky
Bipolar Random Acess Memory (RAM), suatu bagian penting dari komputer. Masih di tahun
1969 Intel juga memperkenalkan suatu jenis produk baru IC1101 sebuah Metal Oxide
Semiconductor Static RAM yang pada waktu itu langsung mengungguli bipolar transistor
konvensional.

Beberapa kondisi dapat ditunjuk sebagai sukses faktor Intel dalam bisnis DRAM, antara lain:
karakteristik individu eksekutif pada umumnya sangat percaya diri dan pengambil resiko;
bisnis DRAM merupakan industri yang unik; Intel merupakan pihak yang pertama kali
membuat chip memory dengan peralatan terbaru; memiliki keunggulan dalam desain dan
teknologi produksi; dan menerapkan strategi pengembangan produk yang berupaya agar
selalu menjadi pemimpin pasar. Sementara itu, setelah beralih fokus ke produk chip
microprocessor, Intel berupaya membangun keunggulan bersaing dengan menerapkan
kebijakan inovatif untuk membuat desain central processing unit (CPU) semikonduktor
inovatif yang kemudian digunakan secara luas sebagai komponen utama komputer mikro.

Pada tahun 1971 Intel meluncurkan microprocessor 4004 sebagai CPU semikonduktor
pertama di dunia. Keberhasilan ini diikuti dengan peluncuran microprocessor 8-bit 8008 pada
bulan April 1972. Dua tahun kemudian Intel berhasil memasarkan microprocessor seri 8080
yang dalam perjalanan selanjutnya dilisensikan kepada AMD. Pada tahun 1979, menyusul
keberhasilan membuat microprocessor 8088, Intel memenangkan proyek dari IBM untuk
membuat Personal Computer (PC) generasi pertama. Proyek ini menandai dimulainya
arsitektur komputer yang bersifat terbuka baik untuk hardware dan software, berbeda dengan
desain komputer sebelumnya yang bersifat tertutup (proprietary).

Pesaing utama Intel pada masa awal berdirinya adalah Motorola dan Fairchild. Untuk
mengalahkan pamor kedua pesaingnya yang telah lebih dahulu eksis di industri
semikonduktor, Intel menerapkan strategi pemasaran yang sangat agresif di berbagai lini
terutama dimaksudkan untuk mengalahkan Motorola. Mengantisipasi kecenderungan ke masa
depan, berkat sukses bisnis bersama IBM, Intel membuat kebijakan drastis menghentikan
produksi DRAM yang semula menjadi lini bisnis utamanya dan fokus hanya pada
microprocessor. Budaya entrepreneurship dan independensi manajer menengah dalam
menentukan arah strategik dan dikombinasikan dengan perencanaan srategik menghasilkan
pertumbuhan dan menjaga keunggulan. Selain itu, Intel menerapkan strategi outsourcing
dengan menerbitkan lisensi kepada 12 perusahaan untuk memroduksi chip, keberhasilan
strategi ini menobatkan Intel sebagai pemasok utama processor 80386 bagi semua produsen
PC kecuali IBM. Untuk mengantisipasi pertumbuhan industri PC, Intel mengubah proses
internalnya dengan membangun beberapa pabrik.

Tahun 1971 mulai membuat microprocessor pertama di dunia. Pada akhir tahun 2005, dengan
jumlah pegawai mendekati 100 ribu yang tersebar di 200 kantornya di seluruh dunia, selain
memroduksi microprocessor, Intel juga sebagai produsen komputer, networking, dan
perangkat komunikasi. Pendapatan (revenue) tahun 2005 mencapai US$ 38.8 milyar,
menempati posisi 50 dalam ranking Fortune 500. Intel saat ini dipimpin oleh Paul Otellini
sebagai President & CEO dan Craig R Barrett sebagai Chairman of The Board. Berusaha
selalu di depan (Leap Ahead), Solusi, Inovasi, Kepemimpinan Dalam Industri (Industry
Leadership), dan Corporate Citizenship merupakan serangkaian strategi yang dijadikan bekal
bagi membawa Intel sebagai pemain utama dalam industri chip di dunia.

Dalam mengantisipasi pertumbuhan permintaan dari indsutri PC, Intel mengubah proses
internalnya dengan mengembangkan berbagai sumber internal, beberapa pabrik dan proses
pembuatan chip secara simultan. Hal ini dilakukan karena Intel percaya bahwa inovasi dan
teknologi yang diberikan kepada pelanggan akan membawa keuntunggan tinggi. Keyakinan
ini terbukti ketika Intel sukses menjalin bisnis dengan IBM, yang ketika itu berperan sebagai
pembeli utama untuk microprocessor-nya. Selain itu, Intel juga menunjukkan kekuatannya
dalam mendukung Compaq sebagai pemain baru dalam industri PC. Dengan mendukung
Compaq pada dasarnya Intel membuka pasar baru bagi produk microprocessor-nya dan
membuat IBM menyadari bahwa sudah ada pesaing kuat di industri PC. Munculnya
Microsoft membuka peluang baru bagi Intel, sebagai mitra strategis untuk kerja sama bisnis
yang lebih luas. Dengan semua keberhasilan tersebut, Intel menunjukkan dirinya sebagai
perusahaan Amerika Serikat yang sukses mentransformasikan pasar komputer dari semula
berorientasi vertikal menjadi horisontal dengan standar terbuka, yang pada gilirannya
menawarkan kepada industri perilaku yang cost-efective.

Dalam mengelola sumber daya untuk mencapai ketangguhan, Intel melakukan berbagai aksi
yang mendukung strategi persaingan. Dalam menghadapi persaingan seiring munculnya
standar Reduced Instruction System of Computing (RISC) Intel melakukannya dengan
mendengarkan masukan dari pelanggan dan akhirnya membuat keputusan untuk tetap
memroduksi microprocessor 80486, hal ini didukung oleh kenyataan pelanggan enggan
menggunakan standard RISC dan ingin tetap menggunakan standard Complex Instruction
System of Computing (CISC) yang menjadi konsep keunggulan Intel.
Dalam menghadapi produk produk tiruan (cloning products) Intel mengembangkan strategi
khusus yang dimaksudkan untuk menunjukkan kepada pelanggan dan pengguna komputer
bahwa produk original karya Intel masih lebih unggul dari pada produk tiruan. Strategi ini
dilakukan dengan investasi pada sumber daya manusia dan teknologi manufaktur. Intel
menerapkan kampanye Intel Inside guna menjaga hubungan baik dengan pengguna
komputer. Dengan kampanye ini diharapkan semua PC menggunakan processor Intel di
dalamnya. Selain itu, dalam menyikapi makin pendeknya daur hidup microprocessor, Intel
menetapkan harga premium untuk produk yang baru diluncurkan guna membatasi
permintaan, hal ini tentu saja menciptakan peluang bagi Intel untuk menghasilkan lebih
banyak keuntungan pada awal sebuah produk baru. Ketika kompetitor sudah mulai
memasarkan produk sejenis, dan kompetisinya sudah mulai sengit, secara bertahap Intel
menurunkan harganya, sehingga menekan tingkat keuntungan pesaing. Di samping
menerapkan strategi harga, Intel juga mengalokasikan produknya untuk Original Equipment
Manufacturers (OEM) sehingga ada keseimbangan antara supply dan permintaan, dengan
memerhatikan perilaku pembelian pelanggannya guna menentukan persediaan.

Dalam hal berhubungan dengan pemasok, pada awalnya Intel menerapkan kebijakan
standarisasi, namun ketika menyadari kebijakan ini menuai banyak permasalahan,
manajemen mengubah kebijakan tersebut menjadi dual-sourcing khususnya untuk bahan
baku yang kritikal.

Kinerja keuangan Intel tahun 2005 menunjukkan kenaikan yang cukup signifikan dibanding
tahun tahun sebelumnya. Hal ini merupakan hasil dari perubahan strategi bisnis,
pengembangan teknologi dan proses manufaktur, serta strategi produk yang semakin luas.


3.2. AMD
Tanggal 1 Mei 1969 menandai berdirinya Advanced Micro Devices (AMD) oleh Jerry Sander
bersama tujuh orang temannya di rumah salah satu dari tujuh teman Jerry tersebut. Sama
dengan Noyce dan Moore, Sander yang mengawali karier sebagai engineer, sebelumnya juga
bekerja di Fairchild Semiconductor sebagai Direktur Marketing Internasional. Dengan
filosofi bisnis mengutamakan sumber daya manusia, karena sesudah itu produk dan profit
akan diperoleh, Sander berupaya mendahulukan kepentingan dan kepuasan pelanggan. Hal
ini terutama didorong oleh kondisi Lembah Silicon pada masa itu bersamaan munculnya
berbagai perusahaan semi-conductor serupa AMD, persaingan memerebutkan pelanggan
besar seperti IBM, Honeywell, HP, Prime, Bourough, dan lain lain menjadi tak terelakkan.

Sebagian besar pelanggan AMD adalah perusahaan komputer yang membutuhkan pasokan
komponen dan suku cadang komputer secara stabil dengan kualitas produk yang prima.
Menyadari hal ini, AMD memanfaatkan teknologi produksi yang mampu menghasilkan
produk dalam tempo cepat serta efisien. Bersamaan dengan itu, dicanangkan pula standar
kualitas tinggi dengan menerapkan uji laboratorium untuk semua produk menggunakan
standar produk militer. Respon pelanggan cukup memuaskan, pada akhir tahun 1974 AMD
memiliki 1500 karyawan dengan membuat 200 jenis produk sebagian besar proprietary
dan menghasilkan penjualan senilai US$ 26.5 juta.

Tahun 1975 AMD mulai membuat chip memory dalam bentuk Random Access Memory
(RAM) Am9102. Pada tahun yang sama, dengan lisensi dari Intel, AMD berhasil
mengembangkan microprocessor dengan melakukan reverse engineering terhadap processor
8080A yang dibuat oleh Intel. Keberhasilan ini menjadi awal bagi AMD memasuki pasar
microprocessor. Pada tahun yang sama AMD juga memperkenalkan keluarga produk
Am2900 sebuah seri processor menggunakan teknologi bit-slice, yang memungkinkan
pengguna memperoleh keuntungan dari kemampuan komputer untuk mengolah data dengan
jalur yang lebih lebar, dengan disipasi panas rendah, dan kecepatan pengolahan data lebih
tinggi. Am2900 juga menyediakan fleksibilitas bagi perancang software untuk
mengembangkan instruksi pemrograman menggunakan bahasa mereka sendiri, independen
dari set instruksi microprocessor. Periode pertengahan 1970-an ditandai pula dengan
pengembangan lokasi pabrik dari Sunnyvale di California ke Austin di Texas, Manila di
Philippina, dan Penang di Malaysia. Kinerja tahun 1975 ditutup dengan meraih penjualan
senilai US$168 juta, kenaikan gabungan sebesar 60% dari sejak perusahaan berdiri.

Pada akhir 1981 angka penjualan mencapai dua kali lipat dari penjualan tahun 1979. Hal ini
tercapai berkat dukungan strategi perluasan pabrik di San Antonio dan Austin texas. Hampir
bersamaan dengan itu AMD mengeluarkan investasi yang cukup besar untuk membiayai
kegiatan riset dan pengembangan, yang pada akhirnya menghasilkan INT.STD.1000 sebuah
standar kualitas pabrikasi tertinggi pada masa itu. Pertengahan hingga akhir 80-an merupakan
periode yang sangat menantang bagi pelanggan AMD, ketika mereka dihadapkan pada
tuntutan perubahan strategi bisnis. Tahun 1986 AMD meluncurkan satu-juta-bit EPROM
(erasable programmable read-only memory) suatu peningkatan kapasitas dan fleksibilitas
bagi komponen PC yang sangat kritikal. Dengan EPROM ini produsen PC dapat
mengembangkan peluang produk baru dengan cara diferensiasi produk. Setahun sesudah itu
AMD berhasil membangun kolaborasi dengan Sony sehingga memiliki akses kepada
teknologi pembuatan microprocessor berbasis CMOS (complementary metal oxide
semiconductor).
Akhir 80-an dan awal 90-an menandai titik balik bagi AMD setelah selama 8 tahun
melakukan upaya hukum melawan Intel sebagai pelaku dominan, untuk menegakkan
perjanjian cross-licensing yang mengizinkan AMD (dan perusahaan lain) untuk berkompetisi
dan menyediakan alternatif dalam pasar microprocessor. Proses yang sulit ini telah
memperluas perspektif majemen AMD ke dalam suasana yang disebut lingkungan pengaruh
(Spheres of Influence). Dengan perspektif ini AMD bermaksud memperluas cakupan
produknya, sehingga tidak hanya memroduksi microprocessor namun juga programmable
logic device (PLC), memori berkinerja tinggi, chips elektronik untuk networking dan
telekomunikasi. Tahun 1991 AMD meluncurkan Am386 yang dimaksukan untuk bersaing
langsung dengan Intel 80386 yang diluncurkan pertama kali Oktober 1985. Demikian juga
ketika tahun 1993 AMD meluncurkan Am486 untuk mendampingi Intel 486 yang
diluncurkan 4 tahun sebelumnya (April 1989). Tahun 1993 ditandai juga dengan joint venture
dengan Fujitsu mewujudkan Fujitsu AMD Semiconductor yang menghasilkan Flash memory.

Tahun 1997 AMD menerbitkan AMD-K6 yang head to head bersaing dengan Intel Pentium
yang dibuat 1993. Kemudian disusul dengan peluncuran AMD-K6-2 pada tahun 1998 guna
menyaingi Pentium Pro yang diluncurkan tahun 1995. Tahun 2000 AMD membuat AMD
Athlon dan Mobile AMD-K6-2 yang didukung oleh teknologi AMD PowerNow!. Di bulan
Oktober 2000 AMD mengumumkan produk chipset AMD-760 yang memiliki teknologi
memori Double Data Rate (DDR). Processor AMD yang berikutnya diperkenalkan ke pasar
adalah AMD Athlon XP, AMD Alchemy, Au1100, AMD Opteron, AMD Athlon
64 FX, dan AMD Sempron


Pada saat ini AMD menghadapi tantangan dinamika pasar dan para pesaing yang
menggairahkan (invigorated). Selain itu, persaingan antara AMD dan Intel telah sampai pada
tahap peperangan menyeluruh pada setiap front. Menghadapi semua ini, manajemen AMD
telah menyiapkan strategi bisnis ke depan komprehensif yang meliputi peluncuran produk
produk baru, inisiatif pemasaran dan akuisisi.

Khusus di dalam menghadapi persaingan dengan Intel, AMD menyiapkan produk
microporcessor dan IC pendukung Personal Computer. Makin maraknya penggunaan
notebook juga disikapi AMD dengan menyiapkan produk yang dirancang khusus mendukung
desktop PC. Selain itu, sejalan dengan kampanye hemat energi dan conta lingkungan, AMD
mulai memroduksi karya rintisan berupa microprocessor yang hemat energi dan ramah
lingkungan. Perubahan dalam gaya hidup yang ditandai dengan penggunaan mobile
computing, juga disikapi AMD dengan membuat microprocessor yang dapat digunakan untuk
mendukung mobile PC maupun Personal Digital Asistant (PDA).

Investasi di fasilitas perangkat lunak ditingkatkan. Sebagai elemen utama dalam industri
microprocessor, perangkat lunak yang berfungsi untuk memberi instruksi dasar bagi
bekerjanya sebuah microprocessor menempati posisi yang sangat strategis. Keunggulan
software instruksi microprocessor (firm-wired software) akan menentukan bagi suksesnya
kinerja microprocessor. Selain software tersebut, proses dan kapasitas pabrikasi juga
mempengaruhi kinerja perusahaan secara kesuluruhan. Menyadari hal ini, AMD mengubah
proses pabrikasi yang telah berlangsung selama ini dengan proses baru yang sekaligus dapat
meingkatkan kapasitas produksi.

Aliansi strategis dengan produsen komputer menjadi salah satu kunci sukses yang
diperkirakan menjadi pendukung keberhasilan AMD. Kerja sama dengan HP-Compaq, IBM,
Dell, Toshiba, Sony, Acer, dan banyak lagi produsen komputer domestik untuk memasok
microprocesor sebagai alternatif dari Intel sudah mulai berjalan. Dalam banyak kasus,
pembeli PC lebih suka menggunakan AMD dari pada Intel, karena harganya yang relatif
lebih murah, sementara kinerjanya tidak jauh berbeda.

4. Analisis
4.1. Perspektif Dinamika Persaingan
Perbedaan karakter pasar antara DRAM dan microprocessor dapat dilihat dari hal hal
sebagai berikut: Teknologi pembuatan DRAM sudah tersebar (diffused) dan banyak yang
menguasainya, kondisi semacam ini mengakibatkan patent bukan merupakan upaya
menghalangi masuknya pemain baru (isolating mechanism) yang efektif. Di sisi lain,
meskipun semua perusahan pembuat semikonduktor berangkat dari teknologi yang hampir
sama, microprocessor memiliki keunikan dan dilindungi oleh undang undang perlindungan
hak cipta intelektual. Hal inilah yang menjadi awal kasus dinamika persaingan antara Intel
dan AMD.

Pada umumnya perusahaan perusahaan Amerika mendominasi bisnis microprocessor
dibandingkan dengan perusahaan dari negara lain yang menghasilkan produk serupa, hal ini
diduga disebabkan oleh beberapa hal:
a. Teknologi elektronika termasuk semi-conductor, komputer dan Internet diciptakan di USA,
oleh sebab itu majoritas standar industri komputer berasal dari Amerika Serikat dari pada
negara negara lain seperti Jepang, dan Eropa;
b. Sebagian besar perusahaan elektronik AS mengalokasikan anggaran yang cukup besar bagi
membiayai kegiatan penelitian dan pengembangan;
c. Adanya pasar domestik yang sangat besar bagi produk produk elektronika yang di
dalamnya menggunakan microprocessor sebagai komponen utamanya;
d. Kelompok industri elektronik dan semi-conductor membentuk cluster industri komputer di
Silican Valey;
e. Riset Porter et all (2000) menunjukkan bahwa Jepang sebagai negara produsen elektronik
kedua terbesar di dunia cenderung memroduksi perangkat elektronik yang tidak
membutuhkan microprocessor berkemampuan unggul, hal ini berakibat pada ketergantungan
produsen PC Jepang seperti NEC, Sony, Fujitsu, Toshiba kepada produsen microprocessor
Amerika seperti Intel dan AMD.
f. IBM, dan HP-Compaq sebagai lokomotif industri menerapkan strategi outsourcing yang
membuka peluang bisnis bagi pemasok komponen komputer seperti Intel, Motorola,
Fairchild, dan lain lain.

Tanpa persaingan yang bebas dan terbuka, inovasi sulit muncul. Konsumen mengalami
kerugian karena adanya keterbatasan pilihan, harga yang relatif tinggi, dan pertumbuhan yang
lambat. Munculnya AMD dengan kemampuan membuat microprocessor yang setara dengan
produk Intel, mendorong terjadinya dinamika persaingan.
Intel berulang kali mengumumkan akan melakukan tuntutan hukum bila ada pihak yang
melanggar hak cipta dan paten atas produk microprocessor-nya. Hal ini dibuktikan ketika
Intel menuntut AMD dengan tuduhan telah melanggar paten dan hak cipta. Langkah Intel
merupakan sinyal yang dimaksudkan untuk mengecilkan hati (discourage) pesaing utamanya
untuk tidak coba coba meniru produknya. Selain menggunakan sinyal untuk mengurungkan
niat pesaing, Intel juga membuat komitmen yang dimaksudkan sebagai senjata strategik
mengalahkan pesaing.

Jika manajer mampu menjalani komitmen atas strategi tertentu, pesaing akan memerhatikan
hal ini ketika menentukan aksi terbaik mereka (Day et all, 1997, halaman 295). Manajer
dengan kemampuan melihat ke depan dapat memilih strategi dan sumber daya yang dapat
memengaruhi keputusan pesaing. Komitmen dapat dibuat dengan cara tegas maupun lembut
berdasarkan pada pengaruhnya terhadap profit yang diperoleh pesaing. Menambah kapasitas
produksi yang dapat berdampak pada pengurangan profit pesaing tergolong komitmen tegas
(tough), sedangkan membuat perjanjian dengan pelanggan dapat digolongkan sebagai
komitmen lunak. Baik komitmen tegas maupun komitmen lunak akan mendatangkan respon
yang berbeda dari para pesaing. Komitmen tegas bersifat lebih mengancam dan oleh
karenanya dapat pula menimbulkan reaksi agresif dari pesaing, namun demikian komitmen
tegas dapat digunakan dengan cara yang dapat menimbulkan respon yang bersifat akomodatif
dari pesaing.

Komitmen tegas memiliki dua bentuk, capacity pre-emption dan komitmen kepada merek dan
iklan. Dalam industri semikonduktor perusahaan melakukan komitmen tegas dengan
membangun terlebih dahulu (sebelum pesaing mengerjakan serupa) fasilitas pabrikasi (fabs)
guna meningkatkan kapasitas sehingga terjadi kelebihan kapasitas, yang pada akhirnya
memberi sinyal kepada pesaing untuk tidak melakukan hal serupa bila tidak ingin merugi.
Strategi ini telah mendukung Intel untuk tetap berada pada posisi dominan pembuat
microprocessor. Membangun fabs sebelum pesaing melakukannya memberi Intel peluang
untuk mendahului persaingan dan menurunkan profit pesaing.

Dalam kasus dinamika persaingan tertentu, undang undang antirust dapat digunakan
sebagai strategi persaingan yang ampuh. Kasus gugatan antitrust sering berakhir dengan
perubahan mendasar: merger dapat dicegah, pabrik didivestasi, pemberian lisensi
diamanatkan, dan berbagai upaya penguasaan pasar secara tidak fair digagalkan. Namun
demikian pengaruh tidak langsung dari gugatan antitrust juga perlu mendapat perhatian:
terjadi ketidak-pastian pada lingkungan bisnis, penangguhan eksekusi strategi, gangguan
terhadap citra perusahaan, dan perhatian manajemen menjadi teralihkan. Jika objek
penuntutan dimaksudkan untuk mengubah perilaku pasar dari tergugat, keputusan pengadilan
diharapkan berpengaruh pada daya tarik dari berbagai opsi strategi yang tersedia bagi
penuntut. Dalam kasus persaingan antara AMD versus Intel, AMD harus memutuskan apakah
akan meng-copy microcode milik Intel (dari pada menciptakannya sendiri), dan keputusan ini
dibuat ketika litigasi atas hak hukum AMD menggunakan microcode tersebut masih
berlangsung. Jika AMD meng-copy microcode Intel dan kemudian kalah dalam gugatannya,
pengadilan dapat mencegah penjualan microprocessor AMD yang menggunakan microcode
tersebut. Dalam kasus seperti ini, strategi kompetisi dan strategi legal bertautan.
Intel merupakan perusahaan yang menggunakan pendekatan opsi (options approach) dalam
berbagai strategi aliansi, khususnya dengan perusahaan perusahaan yang terlibat dalam
pengembangan teknologi Internet (Day & Schoemaker, 2000). Intel beranggapan teknologi
Internet tertentu memiliki potensi yang tinggi, sebagaimana juga mengandung potensi
ancaman karena teknologi Internet tersebut menginjinkan pengguna individual untuk
tersambung kepada aplikasi, data dan pemrosesannya melalui perangkat komputer yang
relatif sederhana dan murah. Teknologi ini dapat menghancurkan bisnis Intel. Untuk
melindungi diri dari resiko semacam ini Intel melakukan investasi lebih dari $500 juta dalam
venture capital, memiliki opsi untuk membeli saham saham perusahaan perusahaan yang
terlibat dalam pengembangan teknologi Internet.

4.2. Anomali Oligopoli
Jika kajian dibatasi hanya pada perilaku persaingan antara Intel dan AMD, maka dapat dilihat
terdapat anomali dari sifat pasar yang oligopolis. Intel dan AMD tidak memiliki minat untuk
membentuk kartel yang berfungsi menguasai pasar secara bersama sama dengan mengatur
harga. Meski dikatakan bahwa model yang tepat untuk menggambarkan persaingan di
industri chip microprocessor adalah Bertrand Oligopoli dengan sifat sifatnya, tetapi dalam
kasus Intel versus AMD masih ada parameter yang belum termasuk dalam model Bertrand
tersebut. Industri microporcessor mirip industri jasa telekomunikasi, dimana pada level
infrastruktur para perusahaan dapat saling bekerja sama, namun di tataran produk akhir
masing masing saling berkompetisi. Intel memberikan lisensi kepada AMD untuk
menggunakan teknologinya agar dapat dikembangkan secara rekayasa terbalik (reverse
engineering). Demikian juga dengan microcodes yang merupakan firmware dari sebuah
microporcessor, Intel sebagai pemain dominan memberikan lisensi kepada AMD untuk
menggunakan microcode produk tertentu. Hal ini merupakan wujud kerjasama pada level
infrastruktur.

Persaingan sangat terasa dan menonjol terlihat di tataran produk. Masing masing berupaya
agar produknya menjadi pemimpin pasar dan selalu menjadi pemenang. Strategi inovasi yang
dilakukan secara terus-menerus dengan dukungan aktivitas riset dan pengembangan
menjadikan Intel sebagai pemenang dan AMD menjadi follower. Dalam perkembangannya,
persaingan yang sengit menjurus pada perilaku bisnis yang melewati koridor hukum sehingga
kedua perusahaan saling berperkara di pengadilan. Suatu kondisi yang relatif jarang terjadi di
pasar oligopoli yang cenderung saling bekerja sama pada setiap level bisnis.

4.3. Memenangi Persaingan
Setelah hampir empat dekade kedua perusahaan eksis, masing-masing memiliki keunggulan
kompetitif yang berbeda. Intel mengandalkan kecepatan masuk ke pasar (time to market)
sebelum AMD atau produk lain sejenis diluncurkan. Strategi ini dapat pula dianggap sebagai
sinyal agar para pesaingnya mulai merasa bahwa produknya sudah ketinggalan jaman. Selain
itu, meluncurkan produk baru dalam siklus produk yang semakin cepat juga merupakan
upaya isolasi untuk menjamin perusahaan tetap memiliki keunggulan kompetitif. Citra
sebagai perusahaan yang selalu terdepan dalam menghasilkan produk TI dapat dijaga dengan
strategi time to market. Intel meraih keuntungan besar dari strategi ini.

Di sisi lain, Intel sulit mencegah terjadinya imitasi atas produk produk yang dihasilkannya.
Pada umumnya pengetahuan dan ketrampilan yang diperoleh dari keterbukaan informasi
menjadikan teknik membuat microprocessor sudah tidak dapat dikategorikan sebagai tacit
knowledge karena semuanya tersusun dalam suatu dokumentasi yang terinci sehingga siapa
saja termasuk pesaing dapat memelajarinya. Makin berkembangnya penggunaan Internet
sebagai jaringan terbuka memudahkan pihak pihak yang memiliki kepentingan terhadap
industri microprocessor mendapatkan informasi tentang bagaimana membuat microprocessor
yang berkualitas, reliable, dan murah.

Dibanding AMD, Intel tergolong first mover, dan oleh karenanya layak memperoleh benefit
yang lebih baik dari AMD. Di pihak lain, melalui strategi aliansi dengan banyak produsen
komputer, agar makin banyak komputer yang spesifikasi standard-nya menggunakan
microprocessor AMD; serta aliansi strategik dengan pembuat teknologi lain seperti Sony
untuk menghasilkan processor dengan teknologi CMOS, atau dengan Fujitsu untuk
menghasilkan Flash memory, dan penetrasi ke pasar China untuk membangun kerja sama
dengan Lenovo, Founder, Thunis, dawning, IBM, HP dan SUN telah berhasil menempatkan
AMD pada posisi yang sejajar dengan Intel.

Meski sedang saling tuntut di pengadilan untuk memperkuat posisi persaingan, kedua
perusahaan selama lima tahun terakhir selalau meraih keuntungan. Hal ini membuktikan
bahwa strategi persaingan yang selalu dikendalikan dengan baik, dapat mengatasi berbagai
persoalan yang menghadang laju tumbuhnya perusahaan. Artinya, secara finansial kedua
perusahaan tidak ada yang kalah. Dari sisi penguasaan pasar Intel masih lebih dominan
dibanding AMD. Hal ini menunjukkan industri microprocessor masih terus tumbuh,
walaupun persaingan di dalamnya sangat sengit. Pertumbuhan ini diduga disebabkan oleh
kuatnya permintaan terhadap PC, dan dipengaruhi pula oleh inovasi perangkat lunak yang
dihasilkan oleh pemain dominan di sektor piranti lunak, yang selalu menerbitkan versi baru
sebelum pesaing berhasil menyamainya. Kemajuan teknologi perangkat lunak, pada
gilirannya menuntut peningkatan kemampuan dan kapasitas microporcessor. Dengan
demikian aliansi strategis antara produsen microprocessor dengan produsen sistem operasi
dan piranti lunak lainnya, serta dengan produsen PC menjadi faktor kunci suksesnya bisnis
microprocessor.

Dari aspek dukungan industri terkait, Intel memperoleh dukungan dari cluster industri
semikonduktor yang berlokasi di wilayah California yang sering disebut Lembah Silicon. Di
wilayah ini, beroperasi ratusan bahkan ribuan perusahaan TI yang saling bekerja sama
melahirkan karya inovatif. Sebaliknya, AMD memilih strategi yang berbeda. Dengan lokasi
pabrik tersebar di berbagai negara, AMD mengharapkan makin mendekati konsumen di
samping biaya produksi relatif lebih rendah dibanding bila diproduksi di Amerika.

5. Kesimpulan dan Saran
5.1. Kesimpulan
Kebutuhan terhadap microprocessor berkorelasi positif dengan pertumbuhan permintaan
terhadap PC. Hal ini dapat dipahami karena pada dasarnya microprocessor merupakan mesin
utama dari PC. Sementara teknik pembuatan komputer semakin mudah karena dukungan
modularisasi, dan hal ini menghilangkan entry barrier bagi pendatang baru untuk memasuki
bisnis perakitan komputer, di pihak lain teknologi pembuatan chip microprocessor semakin
kompleks, membutuhkan investasi tinggi dan pada akhirnya hanya sedikit pemain yang dapat
bertahan. Dengan demikian struktur pasar yang terbentuk merupakan pasar kompetisi
sempurna di hilir (produksi PC), dan oligopoli di hulu (produksi microprocessor).

Saling ketergantungan (inter-dependensi) terjadi antara produsen PC dan microprocessor. Hal
inilah yang menjadi latar belakang terjadinya strategi aliansi antara Intel di satu pihak dengan
para produsen PC di pihak lain. Intel mengawali strategi ini pada tahun 1980 ketika
melakukan lock-in dengan IBM mengalahkan Motorola sebagai pesaing terkuatnya pada
waktu itu. Strategi ini dimaksudkan untuk memperluas pangsa pasar secepat mungkin. Selain
itu, upaya menciptakan standar baru dalam teknologi PC juga diluncurkan Intel untuk
menjawab kondisi pasar yang masih terbelah (fragmented). Standar dimaksud adalah
arsitektur terbuka (open architecture) di mana PC dapat menggunakan software dan
komponen yang dapat dibeli dari berbagai sumber.

Strategi aliansi terus dikembangkan dengan produsen PC lain seperti Compaq, Dell, Acer,
Toshiba, dan lain sebagainya. Motto yang digunakan untuk sekaligus menutup peluang
masuknya pesaing adalah Intel Inside. Suatu upaya kompetisi monopolistik yang sangat
berhasil. Selain dengan produsen PC, Intel juga menjalin kerjasama dengan Microsoft guna
membuka peluang bisnis baru.

Menyusul kemenangan dalam membuat standar baru PC, Intel melakukan kampanye
pemasaran yang agresif untuk mengalahkan Motorola, pesaing utamanya. Pada periode ini,
produk AMD belum dikenal luas dan oleh karenanya belum dianggap sebagai pesaing kuat.
Ketika sukses mulai diraih, Intel justru membuat keputusan strategik meninggalkan produksi
DRAM dan fokus hanya pada membuat microprocessor. Keputusan ini bukan merupakan
arahan strategik dari manajemen senior tetapi merupakan kebulatan tekad para manajer
tingkat menengah (Collis & Pisano, 2002).

Keunggulan Intel, didukung pula oleh strategi operasional berupa komitmen untuk melayani
semua kebutuhan industri PC. Intel mengubah proses internal dengan mengoperasikan semua
fabs secara simultan, dan memanfaatkan kerja sama dengan pemasok dalam suatu industrial
cluster. Produktivitas dan efisiensi menjadi sasaran yang berhasil dicapai dengan strategi ini.
Pergulatan menghadapi berbagai tantangan membawa Intel berhasil melakukan tranformasi
pasar komputer dari vertical alignment yang berbasis teknologi proprietary menjadi
horizontal alignment dengan standar terbuka.

Di pihak lain, AMD sebagai pendatang baru perlahan tapi pasti beranjak dari posisi tidak
dikenal berubah menjadi pesaing kuat yang diperhitungkan eksistensinya. AMD lebih dikenal
sebagai follower dan bahkan sementara pihak mengatakan produk AMD sebagai tiruan
(clone) dari produk Intel. Peran AMD dalam evolusi bisnis microprocessor sungguh penting.
Selain menjadi alternatif bagi produk Intel, sehingga dominasi Intel menjadi berkurang,
AMD juga menjadi contoh keberhasilan dapat diraih dengan keteguhan mewujudkan visi,
ketekunan melahirkan inovasi, dan kedisplinan melaksanakan strategi.

5.2. Saran
Studi mengenai dinamika persaingan dalam pasar oligopoli sudah banyak dilakukan.
Berbagai strategi untuk memenangkan persaingan dalam persaingan semacam ini juga sudah
diajukan bahkan diterapkan. Sebagai bidang bisnis yang baru berumur hampir lima dekade,
dinamika persaingan industri microprocessor cukup menarik untuk diamati.Terkait dengan
kondisi Indonesia sebagai pengguna komputer, masih banyak peluang riset yang dapat
dikembangkan dari topik ini misalnya bagaimana dampak persaingan antara Intel dan AMD
terhadap industri PC nasional. Atau adakah industri elektronika (non-kompuer) nasional yang
menggunakan microprocessor dari kedua produsen ini, dan bagaimana kinerja industri ini.


















MEDAN, MINGGU - Hasil kajian Komisi Pengawas Persaingan Usaha terhadap pasar
semen di tiga provinsi, Nanggroe Aceh Darussalam, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat
menemukan, struktur pasar semen di ketiga daerah ini oligopolistik atau praktik penguasaan
pasar oleh beberapa pelaku usaha. Dua produsen semen, PT Semen Padang dan PT Semen
Andalas Indonesia menguasai 85,99 persen pasar industri semen di ketiga provinsi ini.
Menurut Kepala Kantor Perwakilan Daerah Medan Komisi Pengawas Persaingan Usaha
(KPPU) Verry Iskandar, dengan struktur pasar oligopoli, PT. Semen Padang dan PT. Semen
Andalas Indonesia dapat melakuka n penyesuaian untuk tetap menguasai pasar semen di
wilyah distribusi ketiga provinsi ini. Menurut Verry, sangat mungkin kedua produsen semen
tersebut menjaga sisi penawaran, dengan tidak memaksimalkan kapasitas produksi yang ada.
"Kondisi ini menimbulkan potensi persaingan usaha tidak sehat dalam pasar industri semen,"
ujar Verry di Medan, Minggu (15/2). Verry mengungkapkan, kajian KPPU terhadap pasar
semen di NAD, Sumut dan Sumbar ini dilakukan karena sejak tahun 2007 terjadi kelangkaan
semen dan tingkat harga yang tinggi di ketiga darah ini.
"Ada kenaikan harga yang signifikan dan terjadinya kelangkaan semen. KPPU bergerak dari
dua hal tersebut," katanya. Kelangkaan dan kenaikan harga yang sangat signifikan tersebut
lanjut Verry jadi tanda tanya mengingat kapasitas produksi dua perusahaan tersebut
sebenarnya sanggup memenuhi permintaan pasar.
Data hasil kajian KPPU menyebutkan, PT. Semen Padang memiliki kapasitas terpasang
sebesar 5.870.000 ton per tahun dan PT. Semen Andalas 1.400.000 ton per tahun. Kapasitas
terpasang tersebut tidak dimanfatkan secara maksimal.
PT Semen Padang hanya memproduksi 5.398.598 ton per tahun dan PT Semen Andalas
1.235.597 ton per tahun . Total kapasitas produksi kedua perusahaan tersebut 6.594.195 ton
per tahun, atau tidak maksimal jika dibandingkan dengan kapasitas terpasang yang mencapai
7.270.000 ton per tahun. Kapasitas produksi kedua perusahaan hanya sebesar 90,70 persen
dari kapasitas terpasang.
Hasil kajian KPPU juga menyebutkan, pasokan semen untuk ketiga provinsi mencukupi
permintaan pasar. Rata-rata kebutuhan semen di tiga provinsi pertahunya mecapai 3.560.000
ton. Sedangkan rata-rata pasokan semen untuk ketiga daerah ini sebesar 6.594.195 ton per
tahun, atau terjadi kelebihan pasokan 53,98 persen.
"Kenyataannya sempat terjadi kelangkaan semen di pasaran dan harga semen yang tinggi,"
kata Verry. Dia mengungkapkan, kecenderungan struktur pasar oligopolistik memang
membuat harga sebuah produk menjadi tidak kompetitif.
"Kami masih mengkaji, apakah tingginya harga ini terkait juga dengan ongkos transportasi
yang membuat produsen semen di luar kedua perusahaan itu enggan memasarkan produknya
di ketiga provinsi ini," kata Very.
Hasil kajian KPPU Kantor Perwakilan Medan ini kata Verry akan dilaporkan ke KPPU Pusat
untuk tindakan lebih lanjut, terutama terkait munculnya praktik larangan persaingan usaha
tidak sehat dalam pasar semen di NAD, Sumut, dan Sumbar.

Pasar Oligopoli

BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Pasar merupakan tulang punggung perekonomian masyarakat, baik masyarakat yang
berada dikalangan kelas bawah ataupun masyarakat yang berada di kalangan kelas atas.
Semua unsur yang berkaitan dengan hal ekonomi berada di pasar oligopoli mulai dari unsur
produksi, distribusi, ataupun unsur konsumsi.
Dalam pasar oligopoli, setiap perusahaan memposisikan dirinya setiap perusahaan
memposisikan dirinya sebagai bagian yang terikat dengan permainan permainan pasar,
dimana keuntungan yang mereka dapatkan tergantung dari tindak-tanduk pesaing mereka.
Sehingga semua usaha promosi, iklan, pengenalan produk baru, perubahan harga dan
sebagainya dilakukan dengan tujuan untuk menjauhkan konsumen dari pesaing mereka.
Praktek oligopoli umumnya dilakukan sebagai salah satu upaya untuk menahan perusahaan-
perusahaan potensial untuk masuk ke dalam pasar dan juga perusahaan-perusahaan
melakukan oligopoli sebagai salah satu usaha untuk menikmati laba normal di bawah tingkat
maksimum dengan menetapkan harga jual, sehingga menyebabkan kompetisi harga diantara
pelaku usaha yang melakukan praktek oligopoli menjadi tidak ada.
Dalam Undang-undang No. 5 Tahun 1999, oligopoli dikelompokkan ke dalam kategori
perjanjian yang dilarang, padahal umumnya oligopoli terjadi melalui keterkaitan reaksi,
khususnya pada barang-barang yang bersifat homogen atau identik dengan kartel (kelompok
produsen independen yang bertujuan menetapkan harga untuk membatasi suplai dan
kompetisi), sehingga ketentuan yang mengatur mengenai oligopoli ini sebaiknya digabung
dengan ketentuan yang mengatur mengenai kartel.
1.2 Perumusan Masalah
Masalah yang akan dibahas dalam karya tulis ini adalah mengenai pasar oligopoli,
dan segala hubungan mengenai pasar oligopoli ini.
1.3 Tujuan Penelitian
Tujuan yang diinginkan oleh penulis dalam karya tulis ini adalah sebagai berikut :
Menambah pengetahuan kepada penulis mengenai pasar oligopoli, ciri-cirinya dan
perilakunya, kelebihan dan kekurangannya, jenis-jenis persaingan dan karakteristik, contoh
kegiatan pasar oligopoli.


















BAB II
PEMBAHASAN

1. Pengertian
Istilah oligopoli berarti beberapa penjual. Beberapa penjual di dalam konteks ini
maksudnya dimana penawaran satu jenis barang dikuasai oleh beberapa perusahaan.
Beberapa dapat berarti paling sedikit 2 dan paling banyak 10 sampai 15 perusahaan. Pasar
oligopoli merupakan suatu struktur pasar dimana hanya terdapat beberapa produsen yang
menghasilkan barang-barang yang bersaing. Jika pasar oligopoli hanya terdiri dari dua
perusahaan saja maka disebutduopoli.
Dalam oligopoli, setiap perusahaan memposisikan dirinya sendiri sebagai bagian yang terikat
dengan permainan pasar, dimana keuntungan yang mereka dapatkan tergantung pada tindak-
tanduk pesaing mereka, sehingga semua usaha promosi, iklan, pengenalan produk baru,
perubahan harga dan sebagainya dapat dilakukan dengan tujuan untuk menjauhkan konsumen
daripesaingmereka.
Praktek oligopoli umumnya dilakukan sebagai salah satu upaya untuk menahan
perusahaan-perusahaan potensial untuk masuk ke dalam pasar. Perusahaan-perusahaan
melakukan oligopoli sebagai salah satu usaha untuk menikmati laba normal dibawah tingkat
maksimum dengan menetapkan harga jual terbatas sehingga menyebabkan kompetisi harga
diantara pelaku usaha yang melakukan praktek oligopoli menjadi tidak ada.

2. Faktor-faktor Penyebab Terbentuknya Pasar Oligopoli
Ada dua faktor penting yang menyebabkan terbentuknya pasar oligopoli yaitu sebagai
berikut:
a. Efisiensi Skala Besar
Dalam dunia nyata, perusahaan-perusahaan yang bergerak dalam industri mobil,
semen, kertas, pupuk dan peralatan mesin umumnya berstruktur oligopoli. Teknologi padat
modal (capital intensive) yang dibutuhkan dalam proses produksi menyebabkan efisiensi
(biaya rata-rata minimum) baru tercapai bila output diproduksi dalam skala sangat besar.
Dalam industri mobil, untuk satu jenis, skala efisiensi baru tercapai jika produksi mobil
minimal 50.000 sampai 100.000 unit per tahun. Bila perusahaan memproduksi tiga jenis
mobil saja, output minimal seluruhnya antara 200.000 300.000 unit per tahun. Selanjutnya
bila biaya produksi per mobil puluhan juta rupiah, maka dana yang dibutuhkan untuk
memproduksi sebanyak ratusan miliyar rupiah per tahun. Jika dihitung dengan biaya investasi
awal, maka perusahaan yang ingin memasuki industri mobil harus menyiapkan dana triliunan
rupiah.
Keadaan tersebut merupakan hambatan untuk masuk (barries to entry) bagi
perusahaan-perusahaan pesaing. Tidak mengherankan jika dalam pasar oligopoli hanya
terdapat sedikit produsen.
b. Kompleksitas Manajemen
Berbeda dengan tiga struktur pasar lainnya (persaingan sempurna, monopoli, dan
persaingan monopolistik), struktur pasar oligopoli ditandai dengan kompetisi harga dan non
harga. Perusahaan juga harus cermat memperhitungkan setiap keputusan agar tidak
menimbulkan reaksi yang merugikan dari perusahaan pesaing. Karena itu dalam industri
oligopoli, kemampuan keuangan yang besar saja tidak cukup sebagai modal untuk bertahan
dalam industri. Perusahaan juga harus memiliki kemampuan manajemen yang sangat baik
agar mampu bertahan dalam struktur industri yang persaingannya begitu kompleks. Tidak
banyak perusahaan yang memiliki kemampuan tersebut, sehingga dalam pasar oligopoli
akhirnya hanya terdapat sedikit produsen.

3. Karakteristik Pasar Oligopoli
a. Menghasilkan barang standard atau barang berbeda corak(differenciated products).
b. Kekuasaan menentukan harga ada kalanya lemah dan ada kalanya sangat kuat. Jika diantara
produsen oligopoli yang terdapat dipasar tidak melakukan kerjasama(non collusive), maka
kekuasaan menentukan harga sangat terbatas(lemah). Tetapi kalau diantara produsen
oligopoli terswebut berkolusi dalam menetapkan harga, maka kekuasaan mereka dalam
menentukan harga adalah sangat kuat, yaitu menyerupai monopoli.
c. Pada umumnya perusahaan oligopoli perlu melakukan promosi secara iklan. Iklan secara
terus menerus diperlukan oleh produsen oligopoli yang menghasilkan barang yang berbeda
corak. Kegiatan promosi secara iklan yang sangat aktif tersebut adalah untuk dua tujuan,
yaitu menarik pembeli baru dan mempertahankan pembeli lama.
d. Hambatan untuk masuk dalam industri cukup tangguh.
e. Terdapat banyak pembeli di pasar.
4. Jenis-jenis Pasar Oligopoli
Berdasarkan produk yang diperdagangkan, pasar oligopoli dapat dibedakan menjadi 2 jenis,
yaitu :
a. Pasar Oligopoli Murni (Pure Oligopoly)
Jenis ini merupakan praktek oligopoli dimana barang yang diperdagangkan merupakan
barang yang bersifat identik, misalnya praktek oligopoli pada produk air mineral.
b. Pasar Oligopoli dengan Pembedaan (Differentiated Oligopoly)
Pasar ini merupakan suatu bentuk praktek oligopoli dimana barang yang diperdagangkan
dapat dibedakan, misalnya pasar sepeda motor di Indonesia yang dikuasai oleh beberapa
merek terkenal seperti Honda, Yamaha dan Suzuki.

5. Hambatan Dalam Persaingan Oligopoli
Biasanya perusahaan yang bermain dalam persaingan oligopoli adalah perusahaan yang
telah mapan, baik dari segi pengalaman, modal, sumber daya (manusia dan bahan baku) serta
teknologi. Oleh karena itu, untuk persaingan oligopoli agaknya sukar bagi perusahaan baru
untuk memasukinya, terutama pada persaingan yang didalamnya terdapat kesepakatan/kartel.
Adapun hambatan-hambatan itu diantaranya adalah sebagai berikut :
a. Skala Ekonomis
Perusahaan yang telah lama berproduksi dan beroperasi relatif lebih memiliki
kesempatan untuk menikmati skala ekonomis, karena untuk memperbesar produksinya
perusahaan tersebut cukup menambah dari produksi yang sudah ada, sehingga sangat
memungkinkan untuk menurunkan biaya produksi dan relatif akan mampu menjual
produksinya dengan harga yang relatif lebih murah bila dibandingkan para pendatang baru.
b. Ongkos Produksi yang Berbeda
Perusahaan bisa menurunkan biaya produksi dengan membuka kapasitas produksi baru
daripada tetap menggunakan kapasitas yang lama dan seterusnya, sementara bagi perusahaan
baru hal itu dilakukan karena harus mengeluarkan segala macam biaya yang tidak disertai
dengan produksi langsung (misalnya biaya pendidikan karyawan agar menjadi terampil).

6. Kelebihan dan Kekurangan Pasar Oligopoli
Tentu saja pasar oligopoli memiliki kelebihan dan kekurangannya. Kelebihan dari pasar
oligopoli adalah mendorong perkembangan teknologi dan inovasi. Struktur pasar ini yang
paling memberikan dorongan terbesar dalam mengembangkan teknologi dan inovasi. Hal ini
dikarenakan perusahaan mendapat untung yang lebih dari normal dan menekankan
persaingan dimana sangat membahayakan kedudukan perusahaan dalam industri.
Keuntungan yang lebih disebabkan perusahaan baru sulit untuk memasuki pasar ini. Sehngga
keuntungan lebih normal berlangsung dalam jangka panjang dan perusahaan memiliki dana
yang cukup untuk kepentingan melakukan riset dalam mengembangkan teknologi serta
melakukan inovasi.
Selain itu melakukan pengembangan teknologi dan melakukan persaingan dalam pasar ini,
sebab perusahaan tidak mungkin melakukan persaingan dalam harga. Terdapat sedikit
penjual karena dibutuhkan biaya investasi yang besar, jumlah penjual yang sedikit membuat
penjual dapat mengendalikan harga dalam tingkat tertentu, dan bila terjadi perang harga,
konsumen akan diuntungkan serta adanya efisiensi dalam menjalankan produksi dan
persaingan di antara perusahaan akan memberikan keuntungan bagi konsumen dalam hal
harga dan kualitas barang.
Adapun kekurangan dari pasar ini adalah tidak adanya efisiensi dalam menggunakan
sumber-sumber daaya. Efisiensi penggunaan sumber daya akan tercapai apabila ongkos
marjinal sama dengan harga. Pada umumnya keadaan ini tidak dicapai pada pasar oligopoli.
Tetapi jika dipandang dari sudut skala ekonomis yang mungkin diperoleh, terdapat
kemungkinan bahwa perusahaan oligopoli akan memproduksi barang dengan ongkos yang
lebih rendah daripada perusahaan yang ada dalam persaingan sempurna. Terdapat rintangan
yang kuat untuk dapat masuk ke pasar oligopoli, akan terjadi perang harga dan produsen
dapat melakukan kerja sama (kartel) yang pada akhirnya akan merugikan konsumen. Selain
itu juga dibutuhkan investasi dan modal yang besar untuk memasuki pasar, karena adanya
skala ekonomi yang telah diciptakan perusahaan sehingga sulit bagi pesaing baru untuk
masuk ke dalam pasar, apabila terdapat perusahaan yang memiliki hak paten atas sebuah
produk, maka tidak memungkinkan bagi perusahaan lain untuk memproduksi barang sejenis,
perusahaan yang telah memiliki pelanggan setia akan menyulitkan perusahaan lain untuk
menyainginya, adanya hambatan jangka panjang seperti pemberian hak waralaba oleh
pemerintah sehingga perusahaan lain tidak memasuki pasar, adanya kemungkinan terjadinya
kolusi antara perusahaan di pasar yang dapat membentuk monopoli atau kartel yang
merugikan masyarakat.

7. Analisis Perilaku Produsen Oligopoli Dalam Memaksimumkan Profit.
Menerangkan sikap seorang produsen oligopoli adalah lebih sulit dari pada
menerangkan sikap seorang produsen ang berada pada bentuk struktur pasar lainnya. Ini
disebabkan oleh perilaku perusahaan yang berbeda apabila didalam pasar hanya terdapat
3(tiga) perusahaan, dengan apabila terdapat 9(sembilan) perusahaan. Perilaku perusahaan
juga akan berbeda apabila diantara mereka melakukan kesepakatan(kolusi), dengan apabila
tidak melakukannya. Begitu juga apabla produk yang dihasilkannya berbeda
corak(differenciated product) atau identical produk. Oleh karena perbedaan-perbedaan
tersebut, kita tidak dapat membuat suatu analisis yang bersifat umum untuk menerangkan
perilakun produsen dalam pasar oligopoli, dalam usahanya untuk memaksimumkan profit.
Dalam pasar oligopoli paling tidak dapat dibedakan dua keadaan yang mempengaruhi
analisis terhadap perilaku perusahaan dalam memaksimumkan profit.
1. Tidak terdapat kerjasama diantara perusahaan-perusahaan yang terdapat di dalam pasar
oligopoli.
2. Perusahaan-perusahaan didalam pasar oligopoli secra diam-diam menjalin kerjasama
didalam menentukan harga dan tingkat output yang harus dijual.
8. Hubungan Antara Perusahaan-perusahaan Dalam Pasar Oligopoli
Ada dua macam bentuk hubungan antara perusahaan-perusahaan yang terdapat di dalam
pasar oligopoli yaitu sebagai berikut :
Oligopoli dengan kesepakatan (Collusive Oligopoly)
Kesepakatan antara perusahaan dalam pasar oligopoli biasanya berupa kesepakatan harga dan
produksi (kesepakatan ini kadang disebut sebagai kolusi atau kartel) dengan tujuan
menghindari perang harga yang akan membawa kerugian bagi masing-masing perusahaan
pada kondisi tertentu (contoh adalah kesepakatan produksi dan harga pada OPEC). Bentuk
persepakatan ini biasanya mengatur tentang banyaknya jumlah produksi yang boleh
dihasilkan oleh masing-masing perusahaan berikut dengan harganya yang sama juga.
Kesepakatan dalam jumlah produksi dapat berupa pembagian secara merata, yaitu pembagian
produksi yang didasarkan pada banyaknya jumlah permintaan efektif di pasar terhadap
jumlah perusahaan yang menghasilkan produk yang sama.
Pasar Oligopoli Tanpa Kesepakatan (Non Collusive Oligopoly)
Jika didalam pasar oligopoli tidak terdapat kesepakatan diantara produsen yang terdapat
di pasar, maka setiap tindakan yang dilakukan oleh suatu perusahaan akan memancing reaksi
dari perusahaan lain. Apabila suatu perusahaan menurunkan harga, maka perusahaan yang
lain juga akan ikut menurunkan harga. Sebab jika ia tidak ikut menurunkan harga, maka ia
akan ditinggalkan ole banyak pelanggannya yang beralih pada produk perusahaan yang telah
diturunkan harganya. Sehingga agar tidak banyak kehilangan pelanggan, maka ia harus ikut
menurunkan harga.
Dengan demikian dalam pasar non collusive oligopoly penurunan harga produk akan
mendorong perusahaan-perusahaan lain ikut menurunkan harga.
Sebaliknya jika suatu perusahaan didalam pasar non collusive oligopoly menaikan
harga, maka perusahaan lain tidak akan ikut-ikutan menaikan harga. Jika ia tidak ikut
menaikan harga, maka ia akan mendapat tambahan pelanggan yang bersal dari pelanggan
perusahaan yang telah menaikan harga.
Kurva Permintaan Perusahaan Non Collusive Oligopoly.
Cara menggambar kurva permintaan suatu perusahaan oligopoli yang tidak
melakukan kesepakatan dengan perusahaan lain yang berada dalam pasar yang sama
dilakukan berdasarkan reaksi perusahaan-perusahaan lain apabila harga produk suatu
perusahaan mengalami perubahan(diturunkan atau dinaikan). Gambar 1. berikut ini
menunjukan proses penggamabran kurva permintaan(deman curve) produsen non collusive
oligopoly yang berupa kurva bengkok(kinked demand curve).
d
c
P
2

P($)
Q(output)



Qa
Po
Qo
Qb
Qc
b
a
D2
D1
0
Qd
P
1








Gb. 1.Kurva Demand Produsen Non Collusive Oligopoli
Kurva D1 adalah kurva permintaan yang dihadapi oleh perusahaan oligopoli dengan asumsi
apabila ia merubah(menaikan atau menurunkan) harga maka perusahaan lain tidak
memberikan reaksi atas perubahan harga tersebut. Sedangkan kurva D2 adalah kurva
permintaan yang dihadapi oleh perusahaan oligopoli dengan asumsi perubahan harga produk
yang dilakukannya akan diikuti oleh perusahaan lain yang ada didalam industri yang sama.
Dimisalkan harga yang berlaku di pasar mula-mula adalah Po dan jumlah permintaan
yang dihadapinya adalah sebanyak Qo. Jika perusahaan tersebut menurunkan harga
produknya, maka jumlah permintaan terhadap produk tersebut akan bertambah. Seandainya
penurunan harga tersebut tidak diikuti oleh perusaan lain maka penurunan harga dari Po ke
P
1
, maka permintaan yang dihadapinya akan bertambah menjadi sebanyak Qa. Pertambahan
permintaan yang banyak tersebut diakibatkan oleh:
1. Para pelanggan perusahaan lain yang tidak ikut menurunkan harga akan meninggal
perusahaan langganannya dan membeli barang dari perusahaan yang telah
menurunkan harga tersebut.

2. Karena adanya efek penggantian(substitution effect) dan efek pendapatan(income
effect) dari pelanggannya sendiri.

Namun apabila perusahaan-perusahaan lain dalam pasar oligopoli tersebut ikut menurunkan
harga atas penurunan harga yang telah dilakukan oleh perusahaan yang pertama, maka
kenaikan permintaan terhadap produk perusahaan pertama tersebut hanya sebesar Qb.
Kenaikan ini hanya disebakan oleh substitution effect dan income effect dari pelanggannya.
Sebaliknya jika perusahaan oligopolist tersebut menaikan harga produknya menjadi
P
2
, sedangkan perusahaan lain tidak ikut menaikan harga produk yang dijualnya dan tetap
menjualnya dengan harga Po, maka perusahaan yang menaikan harga tersebut akan
kehilangan banyak pelanggan, dan jumlah barang yang dapat dijual hanya sebesar Qd. Tetapi
jika perusahaan lain yang ada di pasar juga ikut menaikan harga, maka perusahaan yang
pertama kali menaikan harga tersebut tidak akan kehilangan pelanggannya. Oleh karena itu ia
akan dapat menjual produknya sebanyak Qc.
Dengan asumsi bahwa suatu perusahaan tidak ingin kehilangan pelanggannya, dan
akan merasa gembira apabila mendapat pelanggan yang baru, maka perusahaan oligopoli
tersebut akan berperilaku sebagai berikut:
1) Meraka akan ikut menurunkan harga apabila ada perusahaan didalam pasar yang
menurunkan harga produknya, agar tidak kehilangan banyak pelanggan.

2) Mereka tidak akan ikut menaikan harga, apabila perusahaan lain menaikan harga produk
yang dijualnya. Karena jika harga penjualan produknya tidak ikut dinaikan, mereka akan
mendapat tambahan pelanggan dari perusahaan yang telah menaikan harga tersebut.

Maka berdasarkan asumsi tersebut kurva permintaan suatu perusahaan oligopoli adalah
berupa kurva bengkok (kinked demand curve) seperti ditunjukan oleh kurva d b D
2
pada
gambar 1 diatas.


Pemaksimuman Keuntungan Perusahaan Dalam Pasar Non Collusive Oligopoli
P
MR
MC
o


a2
a1
a
Q
Q
MC
1

MC
2


0
Gb.2 Penentuan Profit Maksimum Non Collusive Oligopoli
$








Jika biaya marjinal(marginal cost) mula-mula yang dihadapi oleh seorang produsen oligopoli
adalah MCo, maka agar diperoleh keuntungan maksimum, perusahaan harus beroperasi pada
tingkat output dimana MCo=MR. Dalam kondisi yang demikian ini, jumlah output yang
harus diproduksi =Q dengan harga jual= P.
Seandainya terjadi perubahan biaya produksi, yaitu biaya produksi mengalami kenaikan,
maka biaya marjinalnya akan menjadi MC
1
yang masih berada pada kurva MR yang
diskontinu a
1
a
2
, dan keuntungan maksimum masih tetap dicapai oleh perusahaan tersebut
pada tingkat harga P dan jumlah output=Q. Kondisi yang sama juga akan terjadi bila terjadi
penurunan biaya produksi dan biaya marjianalnya berubah menjadi MC
2
.
Selama kurva MC memotong kurva MR yang diskontinu a
1
a
2
, maka tingkat harga dan
jumlah output yang diproduksi perusahaan oligopoli tersebut tidak akan mengalami
perubahan.
Kesimpulan : Dalam pasar oligopoli, dimana perusahaan-perusahaan yang ada didalam pasar
tidak melakukan kolusi diantara mereka, maka tingkat harga bersifat rigid(sulit mengalami
perubahan). Ia cenderung untuk tetap bertengger pada kondisi ditetapkan semula.
9. Contoh yang Berhubungan dengan Pasar Oligopoli
Industrusi transportasi udara dan TELKOM mewarisi struktur pasar monopoli-oligopoli.
Kedua industri ini sangat padat moral, sehingga di masa lalu negara mengambil inisiatif
dengan memprakarsai lebih dulu melalui pembentukan BUMN. Tetapi lambat laun swasta
mulai masuk ke dalam pasar tersebut sehingga semakin banyak pesaing-pesaing baru yang
terlibat. Industri transportasi udara telah berhasil melakukan transformasi dari pasar monopoli
menjadi pasar yang bersaing dengan tekanan pasar yang memaksa terjadinya efisiensi.
Akhirnya konsumen memperoleh manfaat yang besar karena biaya transportasi udara
semakin murah.
Tetapi industri telekomunikasi belum berhasil melakukan transformasi seperti itu. Telkom
di dalam pasar telekomuniasi masih sangat dominan sehingga mekanisme persaingan yang
sehat masih belum sepenuhnya terwujud dengan baik.
Struktur pasar seperti ini masih menjadi kendala bagi efisiensi pelaku didalamnya dan masih
belum berhasil menurunkan tarif telepon sampai setara dengan negara-negara lainnya.
Sebagai contoh, ketika kita berada di negara AS, Australia, atau Eropa dan iseng menelepon
ke Jakarta, maka carilah kartu telepon internasional. Kita dapat menelepon ke Jakarta sampai
kuping panas dengan tarif sangat murah, hanya beberapa dolar saja. Ini terjadi karena pasar
dibuka dan ditransformasikan menjadi pasar yang lebih bersaing dengan banyak pelaku-
pelaku pasar di dalamnya.
Telkom dalam waktu cepat atau lambat akan mengalami tekanan dari publik, konsumen,
media dan parlemen untuk masuk ke dalam pasar yang lebih bersaing secara sehat. Pasar
telekomunikasi seluler masih bersifat oligopolis dengan tarif yang sangat mahal. Lambat laun
produk-produk teknologi baru dalam bidang komunikasi ternyata memberi tekanan pada
persaingan yang lebih dan semakin terbuka luas. Produk Flexi, Esia dan sejenisnya mulai
memberi tekanan pada pasar seluler sehingga membuat banyak item biaya yang
dikurangi. Pulsa untuk internet yang mahal mulai mendapat tekanan yang kuat dari
produk-produk GPRS, yang memberikan tarif cukup murah untuk pemakai layanan internet.
Jadi, dengan teknologi dan informasi yang semakin terbuka, konsumen dan masyarakat luas
akan semakin mendapat akses yang lebih banyak pada pasar telekomunikasi. Pada gilirannya,
harga pulsa telepon akan lebih murah.
Contoh lainnya adalah masuknya Petronas dan Shell membuat praktek monopoli
penjualan BBM di Indonesia berakhir. Pertamina kini memiliki pesaing. Untuk
mempertahankan pasarnya Pertaminan harus dapat meningkatkan daya saing dengan
melakukan inovasi, efisiensi dan efektivitas dalam kegiatan usahanya.

















KESIMPULAN
Pasar oligopoli merupakan suatu struktur pasar dimana hanya terdapat beberapa
produsen yang menghasilkan barang-barang yang bersaing.
Ciri-ciri pasar oligopoli adalah barang yang diproduksi adalah barang yang standar
atau barang yang berbeda corak atau bisa bersifat homogen, dan bisa juga berbeda, namun
memenuhi standar tertentu, terdapat banyak pembeli di pasar, barang yang diproduksi adalah
barang yang standar atau barang yang berbeda corak atau bisa bersifat homogen, dan bisa
juga berbeda, namun memenuhi standar tertentu, hambatan untuk masuk dalam industri
cukup tangguh, melakukan promosi dengan iklan atau penggunaan iklan sangat intensif, dan
hanya ada beberapa penjual.
Kelebihan dan kekurangan pasar oligopoli adalah adanya efisiensi dalam menjalankan
kegiatan produksi, dan Persaingan di antara perusahaan akan memberikan keuntungan bagi
konsumen dalam hal harga dan kualitas barang. dibutuhkan investasi dan modal yang besar
untuk memasuki pasar, karena adanya skala ekonomis yang telah diciptakan perusahaan
sehingga sulit bagi pesaing baru untuk masuk ke dalam pasar, apabila terdapat perusahaan
yang memiliki hak paten atas sebuah produk, maka tidak memungkinkan bagi perusahaan
lain untuk memproduksi barang sejenis, perusahaan yang telah memiliki pelanggan setia akan
menyulitkan perusahaan lain untuk menyainginya, adanya hambatan jangka panjang seperti
pemberian hak waralaba oleh pemerintah sehingga perusahaan lain tidak bisa memasuki
pasar, adanya kemungkinan terjadinya kolusi antara perusahaan di pasar yang dapat
membentuk monopoli atau kartel yang merugikan masyarakat.
Jenis pasar oligopoli di bagi menjadi 2 yaitu pasar oligopoli murni (pure oligopoly)
dan pasar oligopoli dengan pembedaan (differentiated oligopoly) dengan contoh-contoh
produknya.
Di Indonesia pasar oligopoli dapat dengan mudah kita jumpai, misalnya pada pasar semen,
pasar layanan operator selular, pasar otomotif serta pasar yang bergerak dalam industri berat.
Dan Produk layanan dari operator selular GSM dan CDMA di Indonesia, dapat
dikelompokkan ke dalam pasar oligopoli.















DAFTAR PUSTAKA

Endang S, Dkk, 2003. Ekonomi Mikro Pengantar, Penerbit: Bagian Penerbitan STIE YKPN,
Yogyakarta.
Indrastuti. 2007. Pasar Oligopoly. Jakarta: Sinar Grafika Jakarta.
Nuraini, Ida, 2005. Pengantar Ekonomi Mikro, Cetakan ke empatPenerbit: UMM Pres,
Malang.
Nopirin, 2000. Pengantar Ilmu Ekonomi Makro dan Mikro, Penerbit: BPFE, Yogyakarta.
Ritonga M.T dan Yoga Firdaus. 2007. Ekonomi Untuk SMA Kelas X. Jakarta: Phibeta Aneka
Gamma.
Rosyidi, Suherman, Pengantar Teori Ekonomi (Pendekatan Kepada Teori Ekonomi Mikro
Dan Makro),Cetakan ke empat, Penerbit: Duta Jasa, Surabaya, 1991.
Sukirno, Sadono.2010. Teori Pengantar Mikro Ekonomi. Edisi Ketiga. Jakarta: Rajawali
Pers.
http://elkemy.multiply.com