Anda di halaman 1dari 10

AKAL DAN WAHYU

Disusun oleh:
NAMA NIM JURUSAN SEMESTER/KELAS : HANIFAH SILFIANIE : 1111082000051 : AKUNTANSI : I/B

JURUSAN AKUNTANSI FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA

A. AKAL 1. Pengertian akal Kata akal berasal dari kata Arab al-Aql yang dalam bentuk kata benda tidak terdapat dalam al-Quran hanya membawa bentuk kata kerjanya aqaluh dalam 1 ayat, taqilun 24 ayat, naqil 1 ayat, yaqiluha 1 ayat dan yaqilun 22 ayat. Kata-kata itu dalam arti paham dan mengerti.1 Sebagai contoh dapat disebutkan ayat-ayat berikut yang artinya : Apakah kamu masih mengharapkan mereka akan percaya kepadamu, padahal segolongan dari mereka mendengar firman Allah, lalu mereka mengubahnya setelah mereka memahaminya, sedang mereka mengetahui. (Q.S. Al-Baqarah : 75). Secara bahasa akal berarti paham, mengerti, berpikir, mengikat, menahan, mengekang hawa nafsu, kebijaksanaan (an nuha), kalbu (al qalbu), memahami, kecerdasan praktis (practical intellegence), kecakapan memecahkan masalah (ploblem solving capacity). Sedangkan secara istilah akal berarti menghubungkan peristiwa dengan sebab akibat dan konklusinya. Akal juga berarti merupakan salah satu dari daya jiwa manusia. Daya bernafsu (al quwwatusy syahwatiyah) diperut, daya berani (al quwwatul ghadhabiyah) didada, dan daya berpikir (al quwwatun nathiqah) dikepala. (Men.Al Kindi 769-873 M). 2. Macam-macam akal
1

Harun Nasution, Op. Cit.,

Akal terbagi menjadi dua yaitu : a. Akal praktis (amilah), yang menerima arti-arti yang berasal dari materi melalui indera pengingat yang ada pada nafsu bahamiyah. b. Akal teoritis (alimah), yang menangkap arti-arti murni, yang tidak berbentuk materi seperti Tuhan, roh dan malaikat. Akal teoritis ini mempunyai empat derajat, yaitu : 1. Akal Materiil : berfikir materi 2. Akal Bakat : berfikir abstrak 3. Akal aktuil : menangkap kaidah umum, gudang akal abstrak 4. Akal Perolehan (Akal Mustafad) : akal abstrak yang mudah sekali dikeluarkan. Akala mustafad ini adalah akal tertinggi dan terkuat dayanya, tidak pernah berada dalam alam materi. 3. Kekuatan akal2 a. Mengetahui tuhan dan sifat-sifatnya. b. Mengetahui adanya hidup akhirat. c. Mengetahui bahwa kebahagian jiwa di akhirat bergantung pada mengenal tuhan dan berbuat baik, sedang kesngsaran tergantung pada tidak mengenal tuhan dan pada perbuatan jahat. d. Mengetahui wajibnya manusia mengenal tuhan. e. Mengetahui wajibnya manusia berbuat baik dan wajibnya ia menjauhi perbuatan jahat untuk kebahagiannya di akhirat. f. Membuat hukum-hukum mengenai kewajiban-kewajiban itu.

B. Wahyu 1. Pengertian wahyu Ayat al-Quran yang menjelaskan cara terjadinya komunikasi antara Tuhan dengan Nabi-nabi di antaranya. Yang artinya sebagai berikut :

Ibid hal 44.

Tidak terjadi bahwa Allah berbicara kepada manusia kecuali dengan wahyu, atau dari belakang tabir, atau dengan mengirim seorang utusan, untuk mewahyukan apa yang ia kehendaki dengan seizing-Nya. Sungguh ia maha Tinggi lagi maha Bijaksana. (Q.S. Asy-Syuura; 51) Ayat di atas menjelaskan adanya komunikasi antara Tuhan dengan manusia, baik cara penyampaian wahyu itu di belakang tabir maupun dengan mengutus malaikat. Wahyu yang dalam Islam bukanlah hanya isi tetapi juga teks Arab dari ayat-ayat sebagai terkadang dalam al-Quran dalam teks Arabnya dari Tuhan adalah bersifat absolute. Wahyu menurut ilmu bahasa adalah isyarat yang cepat dengan tangan dan sesuatu isyarat yang dilakukan bukan dengan tangan. Juga bermakna surat, tulisan dan juga bermakna segala sesuatu yang kita sebuat kepada orang lain untuk diketahui.3 Sedangkan menurut istilah wahyu berarti apa yang disampaikan tuhan kepada nabi-nabi, firman Tuhan yang disampaikan oleh orang pilihan-Nya agar diteruskan kepada umat manusia untuk dijadikan pegangan hidup, wahyu juga bisa berarti ajaran, petunjuk dan pedoman yang diberikan Allah kepada Nabi yang diperlukan manusia dalam perjalanan hidupnya didunia maupun diakhirat. Arti lainnya secara istilah yaitu sabda Tuhan yang disampaikan kepada Nabi Muhammad yang semuanya terkumpul di dalam al-Quran. Ada tiga cara wahyu diturunkan kepada Nabi, yaitu: a. Melaui jantung hati seseorang dalam bentuk ilham, b. Dari belakang tabir seperti yang terjadi pada Nabi Musa, c. Melalui utusan yang dikirimkan Allah yaitu Malaikat.

M. Hasbi-Asy-shidiqy, Sejarah dan Pengantar Ilmu Al-Quran/Tafsir, Bulan Bintang, Jakarta. 1954 hal 12

Nabi Muhammad mendapatkan wahyu dengan cara ketiga yaitu melalui Malaikat Jibril. Pemberian wahyu adalah komunikasi antara Allah (immateri) dengan Nabi Muhammad (materi), hal ini dapat terjadi menurut ahli filsafat dan tasawuf. Rasulullah tanpa latihan dapat berkomunikasi dengan Malaikat Jibril. Akal demikian mempunyai kekuatan suci, diberinama hads, dan hanay dimiliki oleh para Nabi. Komunikasi Nabi Muhammad dengan Malaikat Jibril bersifat materi, bukan immateri. 2. Kekuatan wahyu4 a. Wahyu lebih condong melalui dua mukjizat yaitu Al-Quran dan As-Sunnah. b. Membuat suatu keyakinan pada diri manusia c. Untuk memberi keyakinan yang penuh pada hati tentang adanya alam ghaib. d. Wahyu turun melalui para ucapan nabi-nabi. Akal dan Wahyu menurut Mutazilah, Asyariyah, dan Maturidiyah 1. Mutazilah Mutazilah adalah aliran teologi yang bersifat tradisional dan liberal, dan dikenal juga dengan nama Kaum Rasionalisme Islam.5 Bagi kaum Mutazilah daya akal kuat tetapi fungsi wahyu penting yaitu memperkuat apa yang telah diketahui oleh akal. Memang akal dapat mengetahui yang baik dan yang jahat. Tetapi tidak semua yang baik itu baik dan yang jahat itu jahat seperti apa yang diketahui oleh akal. Jadi hanya sebagian saja yang diketahui oleh akal. Dari uraian diatas dapat disimpulkan bagi kaum Mutazilah akal cukup mampu mengetahui keempat persoalan pokok tersebut, akan tetapi persoalan baik dan jahat yang dapat diketahui akal secara garis besarnya saja. Sedangkan secara terperinci ditetapkan oleh wahyu. Oleh sebab itu, bagi kaum Mutazilah fungsi wahyu lebih banyak bersifat konfirmasi daripada informasi.

4 5

Ibid hal 44. Harun Nasution, Op. Cit., hal. 38

2. Asyariyah Asyariyah system teologinya bersifat tradisional, kaum ini memberikan daya terkecil kepada akal dan fungsi terbesar kepada wahyu. Bagi mereka akal manusia hanya dapat mengetahui adanya Tuhan saja, sedangkan mengetahui baik dan jahat dan kewajiban-kewajiban manusia dapat diketahui melalui wahyu. Dengan demikian, jika sekiranya wahyu tidak ada manusia tidak akan tahu kewajiban-kewajibannya. Sekiranya syariat tidak ada, kata al-Ghazali, manusia tidak akan berkewajiban mengetahui Tuhan dan tidak akan berkewajiban berterima kasih kepada-Nya atas nikmat yang diturunkanNya kepada manusia.6 Pendapat ini bertentangan dengan konsep kaum Mutazilah, bagi Mutazilah, Allah wajib memberi pahala atas perbuatan yang dianggap jahat oleh akal karena pada perbuatan itu sendiri terdapat sifat kebaikan dan kejahatan. Tidak ada kewajiban sebelum datangnya syariat dan akal tidak dapat menentukan kewajiban sebelum datangnya syariat.7 Dengan demikian persoalan baik dan buruk tidak dapat diketahui oleh akal. Dari pendapat-pendapat yang dikemukakan oleh tokoh Asyariyah satu pendapat tentang kemampuan akal manusia, bagi mereka akal hanya dapat mengetahui wujud Tuhan, dalam tiga pokok lainnya dapat diketahui manusia dengan adanya wahyu. Oleh sebab itu, wahyu lebih banyak bersifat informasi daripada konfirmasi, karena akal manusia menurut system teologi Asyariyah lemah. Tetapi pengiriman rasul bagi aliran ini jaiz.8 Sesuai dengan konsep Kehendak Mutlak Tuhan tidak ada kewajiban bagi Tuhan untuk mengutus rasul. 3.Maturidiyah
6

Ibid., hal. 100 Al-Juwaini, al-Syamil fi ushul al-Din, Al-Maarif. Iskandariyah, 1969, hal. 115 Al-Ghazali, Op. Cit., hal. 160

Menurut Maturidiyah, akal dapat mengetahui adanya Tuhan, kewajiban mengetahui dan berterima kasih kepada Tuhan, tetapi tidak dapat mengetahui bagaimana kewajiban berbuat baik dan meninggalkan yang buruk. Maka perlu adanya wahyu. C. FUNGSI WAHYU9 Wahyu berfungsi memberi informasi bagi manusia. Bagi aliran kalam tradisional, akal manusia sudah mengetahui empat hal, maka wahyu ini berfungsi memberi konfirmasi tentang apa yang telah dijelaskan oleh akal manusia sebelumnya. Tetapi baik dari aliran Mutazilah maupun dari aliran Samarkand tidak berhenti sampai di situ pendapat mereka, mereka menjelaskan bahwa betul akal sampai pada pengetahuan tentang kewajiban berterima kasih kepada tuhan serta mengerjakan kewajiban yang baik dan menghindarkan dari perbuatan yang buruk, namun tidaklah wahyu dalam pandangan mereka tidak perlu. Menurut Mutazilah dan Maturidiyah Samarkand wahyu tetaplah perlu. Wahyu diperlukan untuk memberi tahu manusia, bagaimana cara berterima kasih kepada tuhan, menyempurnakan akal tentang mana yang baik dan yang buruk, serta menjelaskan perincian upah dan hukuman yang akan di terima manusia di akhirat. Sementara itu, bagi bagi aliran kalam tradisional karena memberikan daya yang lemah pada akal fungsi wahyu pada aliran ini adalah sangat besar. Tanpa diberi tahu oleh wahyu manusia tidak mengetahui mana yang baik dan yang buruk, dan tidak mengetahui apa saja yang menjadi kewajibannya. Dari uraian sebelumnya dapatlah kiranya disimpulkan bahwa wahyu bagi Mutazilah mempunyai fungsi untuk informasi dan konfirmasi, memperkuat apa-apa yang telah diketahui akal dan menerangkan apa-apa yang belum diketahui akal. Dan demikian menyempurnakan pengtahuan yang telah diperoleh akal. Bagi kaum Asyariyah wahyu mempunyai kedudukan yang sangat penting. Manusia mengetahui yang baik dan yang buruk, dan mengetahui kewajibankewajibannya hanya turunnya wahyu. Dengan demikian sekiranya wahyu tidak ada, manusia tidak akan tahu kewajiban-kewajibannya kepada tuhan, sekiranya syariatnya tidak ada Al-Ghozali berkata manusia tidak aka ada kewajiban mengenal tuhan dan tidak
9

Ibid hal 65.

akan berkewajiban berterima kasih kepadanya atas nikmat-nikmat yang diturunkannya. Demikian juga masalah baik dan buruk kewajiban berbuat baik dan mnghindari perbuatan buruk, diketahui dari perintah dan larangan-larangan tuhan. Al-Baghdadi berkata semuanya itu hanya bisa diketahui menurut wahyu, sekiranya tidak ada wahyu tak ada kewajiban dan larangan terhadap manusia. Jelas bahwa dalam aliran Asyariyah wahyu mempunyai fungsi yang banyak sekali, wahyu yang menentukan segala hal, wahyu perlu untuk mengatur masyarakat, dan demikianlah pendapat kaum Asyariyah. Al-Dawwani berkata salah satu fungsi wahyu adalah memberi tuntunan kepada manusia untuk mengatur hidupnya di dunia. Aliran Maturidiyah bagi cabang Samarkand mempunyai fungsi yang kurang wahyu tersebut, tetapi pada aliran Maturidiyah Bukhara adalah penting, bagi Maturidiyah Samarkand perlu hanya untuk mengetahui kewajiban tentang baik dan buruk, sedangkan bagi Maturidiyah Bukhara wahyu perlu untuk mengetahui kewajiban-kewajiban manusia.10 Oleh Karena itu di dalam system teologi yang memberikan daya terbesar adalah akal dan fungsi terkecil kepada wahyu, manusia dipandang mempunyai kekuasaan dan kemerdekaan.tetapi di dalam system teologi lain yang memberikan daya terkecil pada akal dan fungsi terbesar pada wahyu. Manusia dipandang lemah dan tak merdeka. Tegasnya manusia dalam pandangan aliran Mutazilah adalah berkuasa dan merdeka sedangkan dalam aliran Asyariyah manusia lemah dan jauh dari merdeka. Di dalam aliran maturidiyah manusia mempunyai kedudukan menengah di antara manusia dalam pandangan aliran Mutazilah, juga dalam pandangan Asyariyah. Dan dalam pandangan cabang Samarkand manusia lebih berkuasa dan merdeka dari pada manusia dalam pandangan cabang Bukhara. Dalam teologi Maturidiyah Samarkand, yang juga memberikan kedudukan yang tinggi pada akal, tetapi tidak begitu tinggi dibandingkan pendapat Mutazilah, wahyu juga mempunyai fungsi relatif banyak tetapi tidak sebanyak pada teologi Asyariyah dan maturidiyah Bukhara.

10

Harun Nasution Teologi Islam Aliran Aliran Analisa perbandingan hal 101.

DAFTAR PUSTAKA
Al Baghdadiy, Abu mansur Abd al-Qahir ibn Tahir al-Tamimi. Kitab Ushul al-Din, 1 st. cd. Constantinopel: Maktabah al-Hahiyyat, 1928. A. Hanafi. Pengantar Teologi Islam. Jakarta: Bulan Bintang, 1987. Abi Mansur al-Maturidi. Kitab al-Tauhid. Istambul: Makhtabah al-Islamiyah, 1979. Al-Bazdawi. Ushul al-Din. Kairo: Dar al-Ihyaal-Kutub al-arabiah, 1963. Ahmad Mahmud Shubhi. Fi Ilm al-Kalam al-Asyariyah. Tsaqafah, Iskandariyah, 1982. Al-Ghazali. al-Iqtishad ti al-Itiqad. Beirut: Dar al-Amanah, 1969. Yunan Yusuf, M. Alam Pemikiran Islam Pemikiran Kalam. Jakarta; Perkasa Jakarta, 1990. Rozak, Abdul, Dkk. Ilmu Kalam. Bandung; CV. Pustaka, 2003. Nasution, Harun. Teologi Islam Dan Aliran Analisa Perbandingan. Jakarta; Universitas Indonesia (UI-Press), 1986. Al-Majid, Al-Najjar. Pemahaman Islam. Bandung: PT. Remaja Rodsakarya, 1997. Nasution, Harun, Muhammad Abduh. Teologi Rasional Mutazilah. Jakarta: Penerbit Universitas Indonesia (UI-Press), 1987.