Anda di halaman 1dari 4

1.

Kita berinteraksi dengan siapa saja dan interaksi dapat berjalan dengan baik
apabila ada batasan yang menjadi kesepakatan bersama dan ditaati oleh
semua pihak. Aturan itu yang disebut dengan etiket, berasal dari bahasa
Prancis ETIQUETTE yang artinya sopan-santun dalam pergaulan.
Sedangkan Etika, berasal dari bahasa Yunani ETHOS, artinya falsafah moral
dan merupakan cara hidup yang benar dilihat dari sudut budaya, susila dan
agama.
Perbedaan antara Etika dengan etiket:
Etiket menyangkut cara melakukan perbuatan manusia. Etiket menunjukan
cara yang tepat artinya cara yang diharapkan serta ditentukan dalam sebuah
kalangan trtentu. Sedangkan etika tidak terbatas pada cara melakukan
sebuah perbuatan, etika memberi norma tentang perbuatan itu sendiri. Etika
juga menyangkut maslah apakah sebuah perbuatan boleh dilakukakn atau
tidak boleh dilakukan
Etiket hanya berlaku untuk pergaulan. Sedangkan etika selalu berlaku
walaupun ada orang lain. Barang yang dipinjam harus dikembalikan
walaupun pemiliknya sudah lupa.
Etiket bersifat relatif. Yang dianggap tidak sopa dalam sebuah
kebudayaan, dapat saja dianggap sopan dalam kebudayaan lain. Sedangkan
etika jauh lebih absolut. Perintah seperti jangan berbohong, jangan
mencuri merupakan prinsip etika yang tidak dapat ditawar-tawar.
Etiket hanya memandang manusia dari segi lahiriah saja sedangkan setika
memandang manusia dari segi dalam. Penipuan misalnya tutur katanya
lembut, memegang etiket namun menipu. Orang dapat memegang etiket
namun munafik sebaliknya seseorang yang berpegang pada etika tidk
mungkin munafik karena seandainya dia munafik maka dia tidak berskapetis
orang yang bersikap etis adalah orang yang sungguh-sungguh baik
2. BEBERAPA TEORI ETIKA
1. Egoisme
Rachels (2004) memperkenalkan dua konsep yang berhubungan dengan egoisme,
yaitu egoisme psikologis dan egoisme etis. Egoisme psikologis adalah suatu teori
yang menjelaskan bahwa semua tindakan manusia dimotivasi oleh kepentingan
berkutat diri. Egoisme etis adalah tindakan yang dilandasi oleh kepentingan diri
sendiri. Yang membedakan tindakan berkutat diri (egoisme psikologis) dengan
tindakan untuk kepentingan diri (egoisme etis) adalah pada akibatnya terhadap
orang lain. Tindakan berkutat diri ditandai dengan ciri mengabaikan atau
merugikan kepentingan orang lain, sedangkan tindakan mementingkan diri tidak
selalu merugikan kepentingan orang lain.
2. Utilitarianisme
Utilitarianisme berasal dari kata Latin utilis, kemudian menjadi kata
Inggris utility yang berarti bermanfaat (Bertens, 2000). Menurut teori ini, suatu
tindakan dapat dikatan baik jika membawa manfaat bagi sebanyak mungkin
anggota masyarakat, atau dengan istilah yang sangat terkenal the greatest
happiness of the greatest numbers. Perbedaan paham utilitarianisme dengan
paham egoisme etis terletak pada siapa yang memperoleh manfaat. Egoisme etis
melihat dari sudut pandang kepentingan individu, sedangkan paham utilitarianisme
melihat dari sudut kepentingan orang banyak (kepentingan bersama, kepentingan
masyarakat).
3. Deontologi
Istilah deontologi berasal dari kata Yunani deon yang berarti kewajiban. Paham
deontologi mengatakan bahwa etis tidaknya suatu tindakan tidak ada kaitannya
sama sekali dengan tujuan, konsekuensi atau akibat dari tindakan tersebut.
Konsekuensi suatu tindakan tidak boleh menjadi pertimbangan untuk menilai etis
atau tidaknya suatu tindakan. Suatu perbuatan tidak pernah menjadi baik karena
hasilnya baik. Hasil baik tidak pernah menjadi alasan untuk membenarkan suatu
tindakan, melainkan hanya kisah terkenal Robinhood yang merampok kekayaan
orang-orang kaya dan hasilnya dibagikan kepada rakyat miskin.
4. Teori Hak
Dalam pemikiran moral dewasa ini barangkali teori hak ini adalah pendekatan
yang paling banyak dipakai untuk mengevaluasi baik buruknya suatu perbuatan
atau perilaku. Sebetulnya teori hak merupakan suatu aspek dari teori deontologi,
karena hak berkaitan dengan kewajiban. Malah bisa dikatakan, hak dan kewajiban
bagaikan dua sisi dari uang logam yang sama. Dalam teori etika dulu diberi
tekanan terbesar pada kewajiban, tapi sekarang kita mengalami keadaan
sebaliknya, karena sekarang segi hak paling banyak ditonjolkan. Biarpun teori hak
ini sebetulnya berakar dalam deontologi, namun sekarang ia mendapat suatu
identitas tersendiri dan karena itu pantas dibahas tersendiri pula. Hak didasarkan
atas martabat manusia dan martabat semua manusia itu sama. Karena itu teori hak
sangat cocok dengan suasana pemikiran demokratis. Karena itu manusia individual
siapapun tidak pernah boleh dikorbankan demi tercapainya suatu tujuan yang lain.
5. Teori Keutamaan (Virtue Theory)
Teori tipe terakhir ini adalah teori keutamaan (virtue) yang memandang sikap atau
akhlak seseorang. Dalam etika dewasa ini terdapat minat khusus untuk teori
keutamaan sebagai reaksi atas teori-teori etika sebelumnya yang terlalu berat
sebelah dalam mengukur perbuatan dengan prinsip atau norma.nKeutamaan bisa
didefinisikan sebagai disposisi watak yang telah diperoleh seseorang dan
memungkinkan dia untuk bertingkah laku baik secara moral. Kebijaksanaan,
misalnya, merupakan suatu keutamaan yang membuat seseorang mengambil
keputusan tepat dalam setiap situasi. Keadilan adalah keutamaan lain yang
membuat seseorang selalu memberikan kepada sesama apa yang menjadi haknya.
Kerendahan hati adalah keutamaan yang membuat seseorang tidak menonjolkan
diri, sekalipun situasi mengizinkan. Suka bekerja keras adalah keutamaan yang
membuat seseorang mengatasi kecenderungan spontan untuk bermalas-malasan.
Ada banyak keutamaan semacam ini. Seseorang adalah orang yang baik jika
memiliki keutamaan. Hidup yang baik adalah hidup menurut keutamaan (virtuous
life).
6. Teori Etika Teonom
Sebagaimana dianut oleh semua penganut agama di dunia bahwa ada tujuan akhir
yang ingin dicapai umat manusia selain tujuan yang bersifat duniawi, yaitu untuk
memperoleh kebahagiaan surgawi. Teori etika teonom dilandasi oleh filsafat risten,
yang mengatakan bahwa karakter moral manusia ditentukan secara hakiki oleh
kesesuaian hubungannya dengan kehendak Allah. Perilaku manusia secara moral
dianggap baik jika sepadan dengan kehendak Allah, dan perilaku manusia
dianggap tidak baik bila tidak mengikuti aturan/perintah Allah sebagaimana
dituangkan dalam kitab suci.

3. Etika Bisnis merupakan cara untuk melakukan kegiatan bisnis, yang
mencakup seluruh aspek yang berkaitan dengan individu, perusahaan dan
juga masyarakat. Etika Bisnis dalam suatu perusahaan dapat membentuk
nilai, norma dan perilaku karyawan serta pimpinan dalam membangun
hubungan yang adil dan sehat dengan pelanggan/mitra kerja, pemegang
saham, masyarakat.
Etika Perbankan ialah suatu kesepakatan para bankir yang merupakan
suatu norma sopan santun dalam menjalankan usahanya, dan merupakan
prinsip-prinsip moral atau nilai-nilai (Values) mengenai hal-hal yang
dianggap baik, serta tugas dan tanggung jawab unsur-unsur untuk
mewujudkan hal yang baik dan mencegah hal yang tidak baik.
Berikut adalah alasan mengapa etika dalam berbinis sangat diperlukan :
1. Akan dapat mengurangi biaya akibat dicegahnya kemungkinan terjadinya friksi
baik intern perusahaan maupun dengan eksternal.
2. Akan dapat meningkatkan motivasi pekerja.
3. Akan melindungi prinsip kebebasan berniaga
4. Akan meningkatkan keunggulan bersaing
1. Para Pelaku Bisnis dituntut Profesional
3. Kepuasan konsumen faktor utama
4. Perusahaan dapat dipercaya dalam jangka panjang
5. Mencegah jangan sampai dikenakan sanksi-sanksi pemerintah pada akhirnya
mengambil keputusan.
Etika perbankan sangat diperlukan karena :
1. Menjaga keselarasan dan konsistensi antara gaya manajemen, strategi dan
kebijakan dalam mengembangkan usaha perbankan.
2. Menciptakan iklim usaha yang sehat
3. Mewujudkan intregitas bank terhadap lingkungan dan masyarakat luas dan
pemerintah
4. menciptakan ketenangan, keamanan dan kenyamanan para pemilik dana,
pemegang saham dan karyawan dalam mendapatkan hak-haknya.
5. mengangkat harkat perbankan nasional di mata internasional.