Anda di halaman 1dari 16

Industri Alas Kaki di Malaysia

Berdasarkan Kajian Euromonitor International


Untuk Kedutaan Besar Republik Indonesia di Kuala Lumpur

1. Gambaran Umum

Pada tahun 2007 total penjualan retail Alas Kaki di Malaysia mencapai jumlah 57,5 juta
pasang dengan nilai sekitar RM 2.904 juta. Industri Alas Kaki menunjukkan potensi
pertumbuhan yang kuat. Ditinjau dari sisi volume, diperkirakan industri ini akan tumbuh
lebih dari 15% per tahun untuk periode tahun 2008-2010. Dari sisi nilai, pasar akan
tumbuh dengan laju sekitar 11% per tahun karena meningkatnya impor Alas Kaki
dengan harga murah yang mengakibatkan harga retail Alas Kaki di Malaysia secara
rata-rata akan rendah pula.

Malaysia tidak luput dari fenomena peningkatan inflasi yang melanda dunia. Hal ini
secara langsung juga mempengaruhi belanja konsumen (consumer spending). Belanja
konsumen Malaysia untuk Alas Kaki diperkirakan akan menurun dari 5,7% pada tahun
2007 menjadi 5,1% pada tahun 2008. Meskipun demikian, hal ini tidak akan
mempengaruhi kinerja industri Alas Kaki karena belanja konsumen Malaysia yang
menurun tersebut diimbangi dengan pertumbuhan kuat di sektor industri pariwisata,
khususnya belanja Alas Kaki oleh wisatawan Asia dan Timur Tengah.

Gambaran industri Alas Kaki Malaysia yang menunjukkan pertumbuhan kuat dimaksud
dibarengi juga dengan tekanan kompetitif yang juga semakin menguat. Hal ini antara
lain disebabkan oleh faktor-faktor: (i) tidak adanya hambatan yang berarti dan tarif yang
relatif kondusif bagi negara anggota ASEAN; (ii) meningkatnya jumlah impor Alas Kaki
murah dari China; dan (iii) banyak perusahaan Alas Kaki Malaysia yang merelokasi
fasilitas produksinya ke China guna memperoleh biaya operasional yang lebih rendah.

Industri Alas Kaki di Malaysia sangat terfragmentasi dengan jumlah pelaku kurang lebih
800 perusahaan pada tahun 2008. Namun demikian, dua perusahaan peraih pangsa
terbesar adalah Adidas (M) dan Nike Sales (M) yang mengimpor Alas Kaki dari negara
ketiga, termasuk Indonesia. Dua perusahaan ini secara bersama-sama merebut pangsa
pasar 31,1% pada tahun 2007. Posisi mereka diikuti kemudian oleh perusahaan lokal,
yaitu Bata (M), Bonia Corp dan Vincci Ladies Specialties Centre dengan kombinasi
pangsa pasar sebesar 15,1%. Sisa pangsa pasar terbagi di antara pemain-pemain kecil
lokal.

Saluran distribusi produk Alas Kaki terbagi atas: (i) retailers baju dan Alas Kaki (misal
GAP, Zara, H&M, Foot Locker) dengan total nilai penjualan sebesar 82% pada tahun
2007, (ii) supermarket besar dan hypermarket seperti Carrefour, TESCO, Giant yang
menawarkan banyak variasi Alas Kaki dan di tahun-tahun yang akan datang nampak
mulai menawarkan produk yang berkelas lebih tinggi (high end products).

Posisi Indonesia: Unggul di Produk Alas Kaki HS 6403

Dari sisi volume, impor Alas Kaki Malaysia pada tahun 2007 terdiri atas produk dengan
kode HS 6404, disusul oleh produk HS 6403. Dari sisi nilai, impor HS 6403 dan HS 6404
masing-masing menyumbangkan 47% dan 18% dari total nilai impor. Dari perspektif
perusahaan Alas Kaki Indonesia, HS 6403 merupakan produk utama karena harga
retailnya tertinggi di antara HS yang lain. Di samping itu secara tradisional Indonesia
merupakan negara utama pengekspor Alas Kaki dengan kode ini. Namun demikian,
pada tahun 2007 China mengungguli Indonesia dengan meraih pangsa impor sebesar
80% dari impor HS 6403. Indonesia menempati posisi ke dua baik dari sisi nilai maupun
volume.

Pangsa impor HS 6401, 6404, 6405 dan 6406 dari Indonesia juga menurun selama
periode 2005-2007. Meskipun demikian, pangsa Indonesia dalam total volume impor
meningkat lebih dari tiga kali lipat pada periode 2005-2007, sementara dari sisi nilai
pangsa Indonesia meningkat dari 12,1% di tahun 2005 menjadi 13,8% di tahun 2007.

Hal yang cukup menarik, pada tahun 2008 kebanyakan impor Alas Kaki dari Indonesia
berupa Alas Kaki bermerek yang dimiliki oleh perusahaan multinasional dan diproduksi
di Indonesia seperti Nike, Adidas, Reebok atau Timberland. Sementara Alas Kaki
dengan merek asli Indonesia yang terdapat di pasar Malaysia hanya Edward Forrer dan
tidak sepenuhnya dikenal sebagai merek Indonesia karena namanya yang berbau Barat.
Konsumen Malaysia sendiri pada dasarnya tidak terlalu peduli dengan negara asal
produk Alas Kaki dan hanya terfokus pada merek yang terkenal dan harga yang
kompetitif. Oleh karena itu perusahaan Indonesia harus mempertimbangkan investasi
dalam hal kegiatan ”brand building” di Malaysia karena hingga saat ini tidak ada
kegiatan branding bagi Alas Kaki dengan merek Indonesia

Industri Alas Kaki mulai berkembang di Malaysia sejak awal 1900an dan dianggap
sebagai salah satu kegiatan manufaktur tertua di Malaysia. Pada saat itu, dan bahkan
hingga saat ini, sejumlah pemain industri yang signifikan terdiri atas pengusaha skala
kecil dan menengah yang beroperasi di rumah masing-masing dan sangat bersifat padat
karya.

Menurut data Malaysia Industrial Development Authority (MIDA), pada awal tahun 2000
terdapat 1.030 perusahaan Alas Kaki yang menngunakan tenaga kerja sebanyak 30.000
orang. Namun demikian, menurut Malaysian Footwear Manufacturers Association
(MFMA), jumlah perusahaan Alas Kaki ini menurun hingga 800 pada awal tahun 2008.

Kendala utama yang dihadapi perusahaan lokal adalah kurangnya tenaga kerja dan
industri pendukung untuk komponen Alas Kaki. Kebanyakan produsen Alas Kaki
Malaysia hanya memproduksi bagian bawah/sol luar baik dari plastik atau karet dan sol
bagian dalam dari sepatu Sangat sedikit perusahaan yang memproduksi bagian atas
dari sepatu. Oleh karena itu mereka harus mengimpor sekitar 70% bahan baku kulit dan
komponen dari luar negeri dan dengan demikian meningkatkan biaya produksi hingga
70%.

Guna menghadapi persaingan dari China, India, Thailand dan Vietnam, perusahaan
Alas Kaki Malaysia memusatkan perhatian pada produk dengan nilai tambah, berskala
menengah atas serta memiliki kualitas, desain dan pengerjaan (workmanship) yang
lebih baik. Mereka juga mulai memperbaiki upaya R&D dan branding guna
memposisikan Alas Kaki ”Made-in-Malaysia” sebagai produk kelas atas dan dengan
demikian membedakannya dari Alas Kaki produk massal asal China.

Industri Alas Kaki asal China sendiri memproduksi sejumlah besar variasi, berkisar dari
sepatu industri hingga sepatu olah raga dan fashion. Merek Alas Kaki Malaysia yang
utama, meliputi Bonia, Dr. Cardin, Crocodile, John Bird, Lewre, dan Larrie. Selain itu,
beberapa perusahaan Alas Kaki Malaysia juga memproduksi di bawah lisensi merek
internasional seperti Camel Active, Hush Puppies, Scholl, Puma, Renoma dan Pierre
Cardin.

Perusahaan Alas Kaki Malaysia pada umumnya berlokasi di di negara bagian Perak,
Selangor dan Johor. Namun demikian, ibukota industri Alas Kaki Malaysia sebenarnya
berlokasi di Seri Kembangan di negara bagian Selangor yang berjarak kurang lebih 50
km dari Kuala Lumpur. Di tempat ini akan didirikan industrial park untuk Alas Kaki.

2. Data Perdagangan

Ekspor

Pada tahun 2005, volume ekspor Malaysia mencapai 34,1 juta pasang dengan nilai
ekspor RM 494 juta. Ekspor tersebut meliputi produk di bawah kode HS 6401-HS 6405.
Sementara Komponen Alas Kaki dengan kode HS 6406 mencatat volume 884,350 kg
dengan nilai RM 12,4 juta. Pada tahun 2006, volume ekspor Alas Kaki Malaysia
menurun 4,9% menjadi 32,5 juta pasang, namun demikian nilai ekspornya meningkat
26,8% menjadi RM 609,7 juta. Nilai ekspor yang terutama diperoleh dari produk HS
6403 yang meningkat 67,4% dari RM 68,3 juta pada tahun 2005 menjadi RM 111,3 juta
di tahun 2006.

Pada tahun 2007, ekspor Alas Kaki Malaysia berkurang menjadi 25,1 juta pasang
dengan nilai RM 338,7 juta. Volume ekspor yang berkurang disebabkan oleh banyaknya
perusahaan lokal yang menutup pabriknya dan merelokasi kegiatan utama proses
produksinya ke China. Diperkirakan pada tahun 2008 volume ekspor akan meningkat
disusul oleh penurunan di tahun 2010 dengan hanya mencapai volume 28,4 juta pasang
Alas Kaki dengan nilai RM 431,9 juta.

Impor

Sebelum tahun 2005 produk Alas Kaki yang diimpor oleh Malaysia pada umumnya dire-
ekspor ke negara lain. Hal ini disebabkan karena pengenaan bea masuk anti dumping
oleh negara-negara Uni Eropa atas produk Alas Kaki Malaysia yang diproduksi di China.
Oleh karena itu produk Alas Kaki tersebut diekspor ke Malaysia dan direekspor ke Uni
Eropa dan negara lain. Alas Kaki yang mengalami reeksportasi ini pada umumnya
adalah kode HS 6402, HS 6403 dan HS 6405.

Sejak tahun 2005 (berakhirnya pengenaan bea masuk anti dumping), impor Alas Kaki
Malaysia adalah lebih banyak untuk konsumsi domestik tidak lagi untuk reekspor.
Perusahaan Alas Kaki Malaysia di China dapat langsung mengekspor produknya ke
Malaysia atau langsung ke negara lain. Hal ini merupakan salah satu penyebab
turunnya volume impor sebesar 74,8% dari 123,9 juta pasang di tahun 2005 menjadi
31,2 juta pasang di tahun 2006 dan semakin menurun lagi menjadi 26,4 juta pasang di
tahun 2007.

Impor Berdasarkan Kode HS dan Negara Asal Impor


HS 6401—Waterproof footwear with outer soles and uppers of rubber of plastics,
the uppers of which are neither fixed to the sole nor assembled by stitching,
riveting,nailing, screwing,plugging or similar processes

• Alas Kaki di bawah kode HS ini adalah untuk keperluan industri dan meliputi boot
tahan air. Pada tahun 2007, kategori ini menyumbangkan 2,5% dari total volume
impor Alas Kaki Malaysia.
• China merupakan negara utama asal impor, yaitu mencapai 80% dari total
volume impor periode tahun 2005-2007. Pada tahun 2007 terdapat 516,170
pasang yang diimpor dari China dengan nilai RM 3,86 juta. Karena biaya
produksinya yang rendah maka rata-rata harga impor (landed price) Alas Kaki
dari China adalah RM 7,42.
• Negara sumber impor utama lain adalah Hong Kong, Taiwan dan Thailand.
Harga impor rata-rata dari Hongkong adalah RM 42/pasang. Sementara harga
impor dari Taiwan dan Thailand masing-masing adalah RM 35 dan RM 10.
• Vietnam juga merupakan suplier utama Alas Kaki pada periode tahun 2005-2006
namun sedikit menurun pada tahun 2007. Menurut informasi MFMA, beberapa
produknya memasuki Malaysia melalui Thailand.
• Indonesia secara konsisten mengekspor HS 6401 ke Malaysia meskipun dalam
jumlah kecil. Pada tahun 2007 hanya 370 pasang Alas Kaki di bawah HS ini
yang diimpor oleh Malaysia.

HS 6402—Other footwear with outer soles and uppers of rubber or plastics

• Jenis Alas Kaki yang masuk ke dalam kategori ini adalah sepatu olah raga,
sepatu casual dan sandal. Negara asal impor utama adalah China dengan impor
lebih dari 3,1 juta pasang pada tahun 2007.
• Thailand dan Indonesia mengekspor kategori ini secara konsisten ke Malaysia
dengan volume masing-masing 1,2 juta pasang dan 281,016 pasang (2007).
Negara lain yang juga menjadi sumber impor kategori ini adalah Vietnam,
dengan volume impor 577.685 pasang pada tahun 2007.
• Nilai impor rata-rata per pasang dari Thailand, Indonesia dan Vietnam hampir
sama dan dapat dirangkum pada kisaran landed price seharga RM 10 - RM 14.

HS 6403—Footwear with outer soles of rubber, plastics, leather or composition


leather and uppers of leather

• Kategori ini meliputi sepatu kulit, sepatu olah raga (seperti sepatu bola, sepatu
golf dan sepatu jogging), sepatu formal dan sepatu casual kulit. China
merupakan sumber utama impor dengan volume ekspor ke Malaysia sebanyak
4,3 juta pasang di tahun 2007.
• Sejak tahun 2005, impor dari Indonesia tumbuh secara signifikan mencapai
volume 718.330 pasang di tahun 2007 dan menduduki peringkat ke 2 terbesar
asal impor setelah China. Impor dengan volume yang lebih rendah berasal dari
Vietnam, Hong Kong dan Taiwan.
• Nilai impor rata-rata per pasang untuk Alas Kaki dari Hong Kong berkisar antara
RM 39 - RM 41. Sementara dari Taiwan berkisar antara RM 48-RM 51 dan
Vietnam berada di tengah-tengah dengan harga di antara RM 43-RM 46.

HS 6404—Footwear with outer soles of rubber, plastics leather or composition


leather and uppers of textile materials

• China mendominasi impor kategori ini dengan mencatatkan jumlah mendekati


9,8 juta pasang di tahun 2007. Disusul kemudian oleh Vietnam (508,670
pasang), Hong Kong (162.110 pasang), Indonesia (101.120 pasang) dan
Thailand (96.013 pasang).
• Nilai impor rata-rata per pasang dari Vietnam berkisar antara RM 16 - RM 19
lebih tinggi dari Hong Kong, China atau Indonesia dengan kisaran harga antara
RM 13 - RM 15. Harga paling kompetitif ditawarkan oleh Thailand dengan
kisaran antara RM 7 – RM 10.

HS 6405—Other footwear

• Kategori ini meliputi sepatu dengan bagian atas berbahan kulit atau tekstil.
China masih merupakan negara asal impor utama dengan volume impor
mencapai lebih dari 3,6 juta pasang pada tahun 2007.
• Pada tahun 2007, Indonesia mengekspor 94.620 pasang sepatu ke Malaysia
dengan nilai RM 0.95 juta. Disusul kemudian oleh Vietnam dengan volume
76,644 pasang dan Thailand serta Hong Kong.
• Nilai impor rata-rata per pasang dari Hong Kong RM 23 – RM 25. Sementara
dari Indonesia berkisar antara RM 19 – RM 22 dan dari Vietnam RM 12 – RM
14.

HS 6406—Parts of footwear (including uppers whether or not attached to soles


other than outer soles); removable in-soles, heel cushions and similar articles:
gaiters, leggings and similar articles, and parts thereof

• Kode HS ini digunakan untuk kategori komponen Alas Kaki. Dua negara asal
impor terbesar adalah China dengan volume 576,525 kg dan India dengan
volume 205,91 kg pada tahun 2007.
• Pada tahun 2005 impor komponen dari Indonesia tercatat mencapai 560.000 kg.
Namun pada tahun 2006 dan 2007 angka tersebut menurun secara signifikan
menjadi 646 kg dan 232 kg. Impor dari Indonesia umumnya berupa kulit atau
kombinasi ”leather uppers” dan ”rubber outer soles”. Sementara komponen dari
China banyak berbentuk inner soles, plastic outer soles, heel cushions,leggings
dan dari India adalah uppers made from leather, composition of leather and
textile.

3. Kondisi Pasar Malaysia


Produksi

Pada tahun 2007 volume produksi Alas Kaki lokal di Malaysia mencapai jumlah 72 juta
pasang, dengan estimasi pertumbuhan tahunan sebesar 4,5% selama tiga tahun ke
depan. Sementara nilai produksi diperkirakan meningkat dari RM 1.872 juta di tahun
2007 menjadi RM 2.460 juta pada tahun 2010, atau peningkatan sebesar 33% selama
periode tersebut. Peningkatan nilai produksi yang signifikan tersebut merupakan
konsekuensi dari meningkatnya harga bahan bakar, upah buruh, biaya transportasi dan
tarif listrik.

Pasar ekspor utama Malaysia meliputi Singapura, Amerika Serikat, Inggris, Italia,
Prancis, Jepang, Hong Kong dan negara-negara Timur Tengah. Jenis Alas Kaki yang
diekspor pada umumnya adalah sepatu formal dan casual pria maupun wanita.

Konsumsi

Total penjualan retail pada tahun 2007 diperkirakan berjumlah sekitar 57,5 juta pasang.
Pangsa pasar untuk sepatu casual meningkat dari 30% di tahun 2006 menjadi sekitar
35% di tahun 2007, atau dari 15 juta pasang menjadi 20 juta pasang. Hal ini disebabkan
karena masyarakat Malaysia menggunakan lebih banyak waktunya untuk keluar rumah
selama akhir pekan atau hari libur dan menyebabkan tuntutan akan sepatu casual
semakin meningkat.

Kesadaran yang meningkat untuk cara hidup sehat juga telah mendorong maraknya
masyarakat kelas menengah atas menjadi anggota jaringan fitness center internasional
seperti Fitness First, Celebrity Fitness dan Clark Hatch di daerah perkotaan. Sementara
masyarakat Malaysia menengah bawah juga mulai melakukan olah raga tennis, sepak
bola, badminton, dan jogging. Perubahan gaya hidup ini berperanan pada tingginya
pangsa pasar sepatu olah raga yaitu sekitar 24% di tahun 2007, atau sekitar 13,8 juta
pasang sepatu olah raga. Hal ini lebih didukung lagi dengan tersedianya sepatu olah
raga dengan harga terjangkau di hypermarkets seperti Tesco, Giant dan Carrefour.

Sepatu formal mencatat pangsa pasar sebesar 28% di tahun 2007, atau 16,1 juta
pasang. Sepatu wanita menyumbangkan porsi terbesar dari sepatu formal yang terjual
dengan ratio 60:40 dibandingkan dengan sepatu pria. Hal ini disebabkan karena wanita
cenderung lebih sering membeli sepatu baru dibandingkan pria guna mengikuti mode.

Meningkatnya pangsa pasar sepatu casual dan sepatu olah raga menimbulkan dampak
negatif bagi sepatu pesta (evening shoes). Pangsa pasar jenis ini menurun dari 20%
(2006) menjadi 16% pada tahun 2007, atau dari 10 juta pasang menjadi 9,2 juta pasang.
Biaya hidup yang semakin meningkat nampaknya telah menyebabkan konsumen
Malaysia mengurangi kehadiran mereka di resepsi, atau menggantikan penggunaan
sepatu pesta dengan sepatu formal.

Persepsi Pasar mengenai Produk Indonesia

Indonesia lebih dikenal di Malaysia untuk produk kosmetik tradisional dan produk
perawatan kecantikan seperti Mustika Ratu dan Jamu Nyonya Meneer. Beberapa
produk makanan olahan Indonesia yang dikenal dan terdapat di retail utama Malaysia
adalah produk dengan merek Daia, Mee Sedap dan IndoMie.
Untuk Alas Kaki, menurut MFMA, konsumen Malaysia tidak terlampau peduli dengan
negara asal barang pada saat mereka berbelanja. Banyak di antara mereka yang
mengetahui bahwa sepatu bermerek seperti Adidas, Nike, Reebok, Renoma dan Hush
Puppies diproduksi di negara lain di mana biaya produksi rendah. Meskipun demikian,
karena merek-merek tersebut adalah merek terkenal maka mereka percaya bahwa
kontrol kualitas yang ketat telah diterapkan dalam proses pembuatan Alas Kaki tersebut.

Pada tahun 2008 kebanyakan impor Alas Kaki dari Indonesia terdiri atas sepatu
bermerek, khususnya Nike, Adidas, Reebok atau Timberland. Merek sepatu asli
Indonesia di Malaysia hampir tidak dikenal. Hanya terdapat satu merek Indonesia yang
terdapat di pasaran yaitu Edward Forrer dan konsumen Malaysia tidak menyadari
bahwa merek tersebut adalah produk Indonesia karena namanya yang keBarat-baratan.
Merek asli Indonesia ini kurang mendapatkan upaya pemasaran atau kegiatan
promosional lainnya guna memperoleh ”brand awareness” atas produk Indonesia di
Malaysia.

Pangsa Indonesia dalam total volume impor alas Kaki Malaysia sebetulnya meningkat
lebih dari tiga kali lipat selama periode 2005-2007, yaitu dari 1,4% menjadi 4,5%.
Sementara pangsa nilai impor tumbuh dari 12,1% di tahun 2005 menjadi 13,8% di tahun
2007. Sementara unuk kode HS 6403, Indonesia dapat mempertahankan pangsa
pasarnya dalam volume impor sementara meningkatkan pangsa pasar dalam volume
impor kode HS 6402. Kode HS 6403 diperkirakan menawarkan peluang besar bagi
eksportir Indonesia guna meningkatkan pangsa pasar dan nilai penjualan selama
periode 2008-2010.

Merek Edward Forrer

Merek Edward Forrer diperkenalkan di pasar Malaysia pada tahun 2005 oleh
perusahaan franchisee Malaysia Lira Calzoleria & Apparel Sdn Bhd. Harga jual retail
sepatu ini berkisar antara RM 80 – RM 250 dan merupakan pesaing terdekat merek-
merek seperti Bonia, Alain Delon, Renoma atau Lewre. Merek ini hanya didistribusikan
di toko Edward Forrer yang hanya terdapat pada dua outlet di seluruh Malaysia, yaitu di
The Curve dan di Klang City Square. Semenjak pengenalan produk ini di pasar, Edward
Forrer hanya melakukan kegiatan pemasaran sebanyak 1 (satu) kali. Pada tahun 2006,
ia ikut mensponsori event yang diorganisir oleh koran lokal Berita Harian yang disebut
dengan Anugerah Bintang Popular Berita Harian 2006. Selain kegiatan promosi
tersebut, belum terdengar lagi adanya upaya promosi yang dilakukan oleh Edward
Forrer di Malaysia.

4. Kondisi Persaingan

Lima perusahaan Alas Kaki utama di Malaysia adalah Adidas (M) Sdn Bhd, Nike Sales
(M) Sdn Bhd, Bata (M) Sdn Bhd, Vincci Ladies Specialties Centre Sdn Bhd dan Bonia
Corp Bhd.

Pada tahun 2007 market size perdagangan retail Malaysia adalah RM 2,9 milyar. Lima
perusahaan terbesar tersebut di atas secara kolektif mengambil pangsa sebesar 48%.
Pangsa pasar Adidas adalah 17,5%, sementara Nike menduduki tempat ke dua
(13,6%), Bata (8,5%) sementara Vincci dan Bonia masing-masing 5,2% dan 3,2%.
Baik merek Adidas dan Nike Sales yang mendistribusikan sepatu olahraga dan casual
tidak memiliki fasilitas produksi di Malaysia. Bata Malaysia memiliki fasilitas manufaktur
di Malaysia dan memproduksi serta mendistribusikan produknya hanya untuk pasar
domestik. Sementara Bonia dan Vincci merupakan manufaktur Alas Kaki domestik yang
mengekspor produknya ke negara lain di samping melayani pasar domestik.

Penjualan Adidas dan Nike terutama berasal dari sepatu bola karena sepak bola dan
futsal merupakan olah raga yang cukup populer di Malaysia. Alas Kaki casual
(sneakers) dari dua merek ini juga populer di kalangan konsumen Malaysia. Harga
sepatu dari dua merek ini berkisar antara RM 160 – RM 500 per pasang. Bata, dengan
andalan utamanya yaitu sepatu sekolah dan sepatu wanita Marie Claire, berkompetisi di
pasar produk massal dengan kisaran harga antara RM 15 – RM 90. Sementara
spesialisasi Vincci adalah pada Alas Kaki wanita dengan harga di bawah RM 50. Alas
Kaki Bonia yang umumnya terbuat dari kulit berada pada kisaran harga RM 180 – RM
300.

Berdasarkan studi Euromonitor International, preferensi konsumen Malaysia lebih ke


arah ”brand and price driven” ketika berbelanja Alas Kaki. Pada segmen sepatu olah
raga, konsumen mencari kualitas dan fitur sepatu terutama apabila mereka
memperbandingkan merek seperti Adidas, Nike, atau Reebok. Pada umumnya mereka
ingin mendapatkan kualitas yang bagus atas harga yang mereka bayar.

5. Distribusi

Retailers khusus pakaian dan sepatu meruoakan saluran penjualan Alas Kaki yang
utama, yaitu mencapai sekitar 82% nilai penjualan retail pada tahun 2007, atau RM 2,4
milyar. Konsumen Malaysia cenderung berbelanja di retailer pakaian dan sepatu karena
mereka memiliki banyak pilihan dan desain serta dapat langsung memasangkan
pakaian dan sepatu pada saat mereka berbelanja.

Retailers campuran (toko serba ada) merupakan saluran distribusi utama kedua di
Malaysia, yaitu mencatat sekitar 8,5% nilai penjualan retail di tahun 2007. Retailers
campuran ini biasanya cenderung berkonsentrasi pada merek tertentu dalam
penawarannya, sejalan dengan posisi retail mereka. Department store seperti Metrojaya
dan Isetan sebagai contoh, memusatkan pada segmen menengah atas sehingga
mereka menawarkan variasi sepatu impor dari Italia, Prancis dan Inggris yang lebih
banyak. Department store Jusco dan Parkson mentargetkan kaum berpendapatan
menengah sebagai konsumen mereka dan oleh karenanya merek yang mereka
tawarkan juga merupakan kombinasi dari merek lokal seperti Bonia, La Primavera atau
Lewre dan merek internasional seperi Renoma, Obermain, Hush Puppies, Pierre Cardin
dan Alain Delon.

Di samping itu, sepanjang tahun 2005-2007 peranan grocery retails sebagai saluran
distribusi juga meningkat secara signifikan khususnya untuk konsumen berpendapatan
rendah hingga menengah bawah. Hypermarket seperti Tesco, Giant dan Cafferour telah
menyediakan one-stop shopping center untuk konsumer tidak hanya untuk produk
rumah tangga, tetapi juga Alas Kaki. Mayoritas Alas Kaki yang dijual di supermarket ini
tidak menyandang merek terkenal dan diproduksi secara lokal atau diimpor dari China
dan Vietnam. Meskipun demikian, beberapa outlet mulai menawarkan produk bermerek
untuk segmen pasar mengah bawah seperti Bata, Pallas, Admiral dan Axel. Pada tahun
2007 penjualan Alas Kaki melalui grocery retailers ini mencapai sekitar 5,5% dari total
nilai penjualan retail, atau berjumlah RM 159.7 juta.

Retail melalui internet terhitung hanya sekitar 3% dari total nilai penjualan retail Alas
Kaki pada tahun 2007. Pemebelian melalui internet umumnya digunakan untuk Alas
Kaki yang tidak tersedia di pasar lokal atau untuk jenis produk yang baru diluncurkan.

6. Trend Ekonomi Malaysia

Menurut Malaysian Institute of Economic Research (MIER) ekonomi Malaysia masih


akan dapat bertahan di tengah perlambatan ekonomi global. MIER memprediksi
ekonomi Malaysia akan tumbuh sebesar 5,6% untuk tengah tahun pertama 2008
sebelum menurun lagi menjadi 5,2% pada tengah tahun kedua. MIER mengharapkan
pertumbuhan ekonomi akan ditopang oleh harga komoditas yang tinggi seperti CPO
dan karet, konsumsi swasta yang tinggi dan dukungan fiskal. Peningkatan harga
komoditas akan menjamin kekuatan belanja yang stabil bagi masyarakat di luar kota dan
dengan demikian mendukung konsumsi. Permintaan domestik selanjutnya dapat
didukung lebih jauh oleh pengeluaran fiskal yang berkelanjutan sebagaimana ditetapkan
oleh garis besar haluan negara the Ninth Malaysia Plan untuk tahun 2006-2010.

Pada paruh kedua tahun 2008 pertumbuhan ekonomi Malaysia diprediksi akan
memburuk karena dampak krisis di Amerika Serikat. MIER berpendapat bahwa
meskipun harga komoditas yang mengalami penguatan akan menguntungkan ekonomi
pedesaan namun dampak kenaikan harga energi akan memperlemah keuntungan
dimaksud. MIER memperkirakan bahwa ekonomi Malaysia akan membaik dan mencatat
pertumbuhan 5,7% di tahun 2009.

Peningkatan harga bahan bakar sejak 5 Juni 2008--dari RM 1.92 menjadi RM 2,70 per
liter untuk bensin dan RM 1,58 menjadi RM 2,58 per liter untuk diesel—yang dibarengi
dengan peningkatan harga pangan akan berdampak pada peningkatan pengeluaran
konsumen. Tingkat inflasi diperkirakan akan meningkat dari 4% menjadi 5% dari prediksi
semula 2,5% menjadi 3,1%. CIMB Research menyatakan bahwa pengeluaran
masyarakat untuk bahan bakar menyumbangkan 5,3% dari pengeluaran keluarga. Oleh
karena itu peningkatan 40,6% dalam harga bahan bakar akan menurunkan tingkat
pertumbuhan konsumsi dengan 2-3%. Berdasarkan perhitungan ini, maka CIMB
menurunkan prediksi tingkat pertumbuhan konsumsi masyarakat dari 7% pada tahun
2008 menjadi 6,3% dan 5,5% di tahun 2009.

Di lain pihak, dalam review tengah tahunnya, institusi pemerintah Economic Planning
Unit menetapkan target pertumbuhan konsumsi swasta sebesar 7,6% untuk periode
2008-2010. Diharapkan juga tingkat pertumbuhan ini dapat memacu pertumbuhan
ekonomi dan membangun kepercayaan masyarakat karena meningkatnya lapangan
pekerjaan dan tingginya disposable income masyarakat.

Hal ini secara langsung mempengaruhi pengeluaran konsumen di Malaysia. Data


Euromonitor International menunjukkan bahwa belanja produk Alas Kaki diharapkan
tumbuh sebesar 5,1% di tahun 2008, menurun dari pertumbuhan 7,6% dan 5,7% di
tahun 2006 dan 2007.

Pada sektor retail dan jasa, industri pariwisata masih tetap menjadi pemicu
pertumbuhan. Pada paruh pertama tahun 2007, kehadiran wisatawan asing di Malaysia
meningkat sebesar 24,8% mencapai 10,7 juta orang. Pemerintah Malaysia
mentargetkan kehadiran sebanyak 20,1 juta wisatawan asing di tahun 2008 yang akan
menghasilkan pendapatan sebesar RM 44,5 milyar. Malaysian Retail Association
meyakini bahwa sektor retail akan diuntungkan dari pertumbuhan pesat industri
pariwisata. Sejak tahun 2001 terdapat peningkatan jumlah wisatawan dari Asia Barat
seperti Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Suriah dan Bahrain di samping China, India,
Jepang, dan Taiwan. Hal yang menarik adalah wisatawan dari Asia Barat pada
umumnya menetap di Malaysia lebih lama dan berbelanja lebih banyak.dibandingkan
wisatawan dari negara lain. Oleh karena itu meskipun wisatawan Asia Barat hanya
mencapai 1% dari jumlah total wisatawan asing, mereka memiliki kemampuan
berbelanja (spending power) yang lebih besar dibandingkan wisatawan lain dan pada
umumnya banyak berbelanja pakaian dan Alas Kaki.

7. Profil Importir dan Distributor

a. A D Shoes Sdn Bhd

A D Shoes Sdn. Bhd.


Nama Perusahaan A D Shoes Sdn. Bhd.
Kategori Perusahaan Distributor
Alamat AS 79, Jalan Hang Tuah 4, Taman Salak
Selatan, 57100 Kuala Lumpur, Malaysia
Telepon +603-7834 911
Faksimil +603-7815 025
Email lhsb@silk.net.my
Merek produk yang diimpor/didistribusi Alain Delon, US Polo Association
Kontak person Mr. Patrick W.K. Chan, Founder
Sumber: Euromonitor International

b. Balene Enterprise (M) Sdn Bhd

Balene Enterprise (M) Sdn. Bhd.


Nama Perusahaan Balene Enterprise (M) Sdn. Bhd.
Kategori Perusahaan Distributor/Pemborong
Alamat AS-87, Jalan Hang Tuah 4, Salak South
Garden, 57100 Kuala Lumpur
Telepon +603-7983 1011
Faksimil +603-7981 8869
Email baleen@tm.net.my
Merek produk yang diimpor/didistribusi Balene, Roadmaster, Mooty & Candy,
Monalisa
Kontak person Mr. Ng Thang Seng, Direktur Manajer
Sumber : Euromonitor International

c. Harian Shoes Sdn Bhd


Harian Shoes Sdn. Bhd.
Nama Perusahaan Harian Shoes Sdn. Bhd.
Kategori Perusahaan Importir/Distributor/Pemborong
Alamat 71-1, Jalan Mega mendung, Bandar Park,
Jalan Klang Lama, 58200 Kuala Lumpur,
Malaysia
Telepon +603-7981 4735
Faksimil +603-7981 3491
Email product.info@jukebox.com.my
Website www.jukebox.com.my
Merek produk yang diimpor/didistribusi Jukebox, Windy, Sport
Kontak person Mr. Leow Chow Ngee, Managing Director
(Pendiri)
Sumber : Euromonitor International

d. Hong Leung Shoe Sdn Bhd

Hong Leung Shoes Sdn. Bhd.


Nama Perusahaan Hong Leung Shoes Sdn. Bhd.
Kategori Perusahaan Manufaktur/Distributor/Pengecer
Alamat 15 Jalan Helang Bukit (Jalan 115) Industrial
Estate, Kepong Baru, 52100 Kuala Lumpur
Telepon +603-6274 3334, +603-62744976, +603-
6276 6659
Faksimil +603-6276 7868
Email enquiry@hlshoe.com
Website www.hlshoe.com
Merek produk yang diimpor/didistribusi Santa Barbara Polo & Racquet Club,
Jaguar, Kamachi, Yasaki, Doo Doo, Bartiic
Sumber : Euromonitor International

e. Kong Brothers Enterprise Sdn Bhd

Kong Brothers Enterprise Sdn. Bhd.


Nama Perusahaan Kong Brothers Enterprise Sdn. Bhd.
Kategori Perusahaan Manufaktur/Importir/Distributor
Alamat No. 5, Jalan BS 7/18, Kawasan
Perindustrian Bukit Serdang, 43300 Seri
Kembangan, Selangor, Malaysia
Telepon +603-8948 8811
Faksimil +603-8942 2252
Email enquiry@kongbrothersshoescity.com
Website www.kongbrothersshoescity.com
Merek produk yang diimpor/didistribusi Guzzo, Knight Original, Green Point Club,
Speedy Rhino, Spanner, M. Sixteen Team,
Bi Collection
Sumber : Euromonitor International

f. Larrie Corp (M) Sdn Bhd

Larrie Corp (M) Sdn. Bhd.


Nama Perusahaan Larrie Corp (M) Sdn. Bhd.
Kategori Perusahaan Manufaktur/Pemborong/Distributor
Alamat A23, Jalan Tuanku satu, Taman Salak
Selatan, 57100 Kuala Lumpur, Malaysia
Telepon +603-7982 4611, +603-7982 4031
Faksimil +603-7981 4629
Email customercare@larrieshoes.com
Website www.larrieshoes.com
Merek produk yang diimpor/didistribusi Alain Delon, Camel Active, Crocodile,
Larrie, Marelli, NYC, Zang Toi, Geox
Breathes, Stephanie Classcs, Church’s
English Shoe, Santoni, The Original Car
Shoes
Kontak person Mr. Stepen Chong, Managing Director
Sumber : Euromonitor International

g. Rediwear Corp Sdn Bhd

Rediwear Corp Sdn. Bhd.


Nama Perusahaan Rediwear Corp Sdn. Bhd.
Kategori Perusahaan Importir/Pemborong
Alamat 16-1, Jalan Cerapu off Jalan Cheras, 56100
Kuala Lumpur, Malaysia
Telepon +603-9285 3818
Faksimil +603-9284 8857
Email sharon@rediwear.com
Website www.rediwear.com
Merek produk yang diimpor/didistribusi One & One, Pop Corn Kid
Kontak person Mr. Leow Quai Seong, the Managing
Director
Sumber : Euromonitor International

h. Syarikat Perniagaan Sooi Seng Sdn Bhd

Syarikat Perniagaan Sooi Seng Sdn. Bhd.


Nama Perusahaan Syarikat Perniagaan Sooi Seng Sdn. Bhd.
Kategori Perusahaan Pemborong/Distributor
Alamat 573-577, Jalan Pasir Putih, 31650 Ipoh,
Perak Darul Ridzuan, Malaysia
Telepon +605-3226 633
Faksimil +605-3227 866
Email sooiseng@tm.net.my
Website www.sooiseng.com.my
Merek produk yang diimpor/didistribusi Pallas, King’s, Warrior, Fung Keong, Diadora,
Free Time, K2, Korakoh
Kontak person Mr. Low Heng Keat, Managing Director
Sumber : Euromonitor International
i. Transmarco Concepts Sdn. Bhd.

Transmarco Concept Sdn. Bhd.


Nama Perusahaan Transmarco Concept Sdn. Bhd.
Kategori Perusahaan Pemborong/Distributor/Retailer
Alamat No. 5, Jalan U1/15, Seksyen U1, Hicom
Glenmarie Industrial Park, 40150 Shah
Alam, Selangor
Telepon +603-5569 1119
Faksimil +603-5569 1116
Website www.lovinshoes.com
Merek produk yang diimpor/didistribusi Hush Puppies, Obermain, Renoma, I=AM
Kontak person Mr. Chong Kin Foon, Country Manager
Sumber : Euromonitor International

j. Y-Nung Plastic Enterprise Sdn Bhd

Y-Nung Plastic Enterprise Sdn. Bhd.


Nama Perusahaan Y-Nung Plastic Enterprise Sdn. Bhd.
Kategori Perusahaan Importir/Distributor
Alamat Plot 108, Lengkok Rishah 2, Silibin
Industrial Estate, 30100 Ipoh, Perak Darul
Ridzuan, Malaysia
Telepon +605-5263 521
Faksimil +605-5263 520
Email hlchan@y-nung.com
Website www.y-nung.com
Merek produk yang diimpor/didistribusi Falantino, Ceagare
Kontak person Mr. Chan Heng Loong, Managing Director
Sumber : Euromonitor International

8. Prosedur Impor

Common Effective Preferential Tariff—ASEAN Free Trade Area

Perjanjian CEPT-AFTA ditandatangani pada tahun 1992. Tujuannya adalah untuk


menciptakan kawasan perdagangan bebas pada tahun 2003. Di bawah skema ini,
negara-negara ASEAN sepakat untuk menurunkan tarif bea masuknya untuk barang-
barang yang diperdagangkan di negara-negara ASEAN. Produk yang diimpor di bawah
skema CEPT dibebaskan dari pajak penjualan di Malaysia. Sementara tarif bea masuk
untuk Alas Kaki di bawah CEPT adalah 0%-5% tergantung dari klasifikasi produk yang
terdapat pada ASEAN Harmonized Tariff Nomenclature.

Untuk dapat menikmati fasilitas CEPT ini, terdapat beberapa ketentuan yang harus
dipenuhi, yaitu a.l. produk harus berasal dari negara anggota ASEAN, produk harus
masuk ke dalam barang yang ditawarkan di bawah skema CEPT dan produk dilengkapi
dengan formulir Surat Keterangan Asal Form D.

9. Regulasi Industri

Labelling

Di bawah ketentuan Price Control Act dan Price Control (Labelling by Manufacturer,
Importer, Producer, Wholesaler) Order 1980, label produk harus mencantumkan negara
asal barang.

Patent dan Copyrights


Guna melindungi merek dagang suatu produk direkomendasikan bagi perusahaan Alas
Kaki untuk mendaftarkan merek dagang dan hak ciptanya di Malaysia. Hal ini dapat
dilakukan dengan bekerjasama dengan Law Firm Malaysia yang memilki spesialisasi
hukum trademark dan copyrights. Perusahaan Alas Kaki juga dapat mendaftarkan
merek dagang dan hak ciptanya termasuk nama produk dan slogan (tag line). Contoh
merek dagang yang terdaftar dan meliputi brand name produk adalah Hush Puppies’
StreetSmart/OutSmart, Hush Puppies/ Wave Reflex, dan Nike’s NikeAir. Sementara
contoh merek dagang yang menyertakan slogan adalah: Adidas’ ”Impossible is Nothing”
dan Nike’s ”Just Do It”, Perusahaan juga dapat mendaftarkan logo dagangnya yang
mewakili produk dan brand name seperti misalanya ”tiga strip” yang mewakili Adidas.

Untuk desain Alas Kaki, sangat sedikit perusahaan yang mematenkan desain Alas
Kakinya karena proses pematenan ini memerlukan waktu lama dan desain Alas Kaki
mengikuti trend yang sangat cepat berubah. Namun demikian terdapat perusahaan Alas
Kaki yang telah mematenkan fitur khusus dari Alas Kakinya, yaitu Hush Puppies. Hush
Puppies telah mematenkan fitur Strike-Back dari seri Alas Kaki StreetSmart/OutSmart
yang menggunakan gel pad padat guna membuat Alas Kaki lebih nyaman apabila
digunakan.

Pemasaran dan Pengembangan Merek

Peraturan hukum di Malaysia mengijinkan Alas Kaki untuk dipromosikan dan


dipublikasikan baik melalui media cetak maupun media elektronik. Ketentuan umum
yang berlaku adalah iklan tidak boleh menampilkan bagian yang sensitif atau yang dapat
menyinggung suatu agama, ras, budaya atau kelompok etnis di Malaysia. Demikian juga
iklan tidak boleh mengandung elemen yang berbau pornografi, diskriminasi gender atau
pola hidup tidak sehat.

Upaya memperbandingkan iklan baik dalam dalam bentuk cetak maupun multi media
diijinkan asalkan nama merek produk pesaing tidak diperlihatkan atau disebutkan. Di
Malaysia terdapat larangan kegiatan pemasaran yang berbentuk pendistribusian flyers
kepada publik, penjualan door-to-door, telemarketing atau pengiriman barang
promosional melalui email. Perusahaan juga dapat berpromosi dengan cara
mensponsori acara tertentu. Tercatat Adidas dan Nike merupakan merek yang paling
aktif mensponsori acara olahraga besar.

Merek dagang dan desain logo tidak boleh mengandung hal-hal yang bersifat vulgar,
pornografi atau kebencian terhadap ras baik itu dalam bahasa Melayu, Inggris,
Mandarin, dialek China atau Tamil. Merek yang merujuk kepada nama Tuhan seperti
Allah, Jesus Kristus atau Buddha juga dilarang di bawah ketentuan hukum Malaysia.

10. Rekomendasi

Manufaktur

• Menghadapi kompetisi yang semakin meningkat dari negara dengan upah buruh
murah, direkomendasikan bahwa perusahaan Indonesia tidak ”terpancing” ke
dalam persaingan berbasis harga produk harga murah melainkan harus bersaing
dalam hal kualitas, desain dan cara pengerjaan (workmanship) yang lebih baik.

• Alas Kaki Indonesia perlu memusatkan perhatian pada upaya-upaya ”tampil


beda” di pasar Malaysia. Perusahaan Alas Kaki Indonesia disarankan untuk
menampilkan lebih banyak desain kontemporer guna menarik perhatian
konsumen. Indonesia dapat bekerjasama dengan studio desain asing untuk
perancangan desain dan produksi Alas Kaki Indonesia, seperti yang dilakukan
Bonia Corp dengan menunjuk Studio Pelleteria Alessandra, yaitu sebuah
perusahaan desain Italia.

Distribusi

• Karena saluran distribusi yang terdapat di Malaysia cukup bervariasi maka


perusahaan Indonesia perlu fokus kepada jenis saluran distribusi produk
Indonesia yang paling tepat untuk produknya.
• Terbuka kemungkinan bagi perusahaan Alas Kaki Indonesia untuk memasuki
pasar Malaysia secara langsung dan mendirikan kantor perwakilan atau cabang
perusahaannya yang akan mendistribusikan produk. Meskipun tidak ada
hambatan memasuki pasar, ketentuan yang mengatur aktivitas warga asing
untuk mendirikan bisnis di Malaysia seperti ketentuan pembagian pemilikan
saham perlu dipatuhi.
• Disarankan agar perusahaan Indonesia bekerjasama dengan importir Alas Kaki
dan distributor Malaysia yang mampu melakukan kegiatan pemasaran dan
promosional. Importer tersebut pada umumnya juga bergerak di bidang distribusi
dan perdagangan grosir. Beberapa importer dan sekaligus distributor Alas Kaki
yang terkemuka adalah Transmarco Concepts, A D Shoes dan Larrie Corp yang
memiliki outlet sendiri. Penunjukan importer dan distributor yang tepat akan
sangat menentukan bagi perusahaan Alas Kaki Indonesia apabila Indonesia
menginginkan untuk membangun “consumer awareness” atas produk dan merek
Indonesia.

Retailing
• Apabila sejalan dengan strategi pemasaran produk, perusahaan Indonesia dapat
mempertimbangkan untuk membatasi ketersediaan produknya hanya pada outlet
retail tertentu seperti department store terkemuka di Kuala Lumpur atau outlet
barang bermerek saja. Tujuannya adalah untuk menciptakan merek premium
dan daya tarik eksklusif. Pendekatan ini dapat diambil hanya bila didukung
dengan kegiatan pemasaran yang kuat dan kampanye melalui iklan secara
periodik.
• Opsi kedua adalah untuk memfokuskan ketersediaan produk di outlet retail baju
dan Alas Kaki seluruh Malaysia dan memastikan bahwa produk tersedia untuk
seluruh lapisan masyarakat. Hal ini juga harus didukung oleh kegiatan
pemasaran yang luas untuk membangun kesadaran konsumen akan brand
Indonesia.

Marketing
• Produk Alas Kaki Indonesia di Malaysia kurang dikenal oleh masyarakat
Malaysia. Hal ini disebabkan kurangnya kegiatan pemasaran. Kegiatan ini dapat
dilakukan oleh importir dan distributor produk apabila mereka diberikan hak
distribusi eksklusif di Malaysia. Transmarco Concept, sebagai contoh, adalah
distributor eksklusif untuk Alas Kaki Renoma, Hush Puppies dan Obermain di
Malaysia dan dengan demikian mereka juga bertanggungjawab untuk kegiatan
pemasaran dan promosional merek-merek tersebut. Kegiatan ini dapat meliputi
iklan di media cetak dan elektronik, artikel di surat kabar lokal atau mensponsori
event lokal.

**********