Anda di halaman 1dari 25

BAB I

PENDAHULUAN

Mual (nausea) dan muntah (vomiting), pening, perut kembung, dan badan terasa lemah
dapat terjadi hampir pada 50% kasus ibu hamil, dan terbanyak pada usia kehamilan 6-12 minggu.
Keluhan mual muntah sering terjadi pada waktu pagi sehingga dikenal juga dengan morning
sickness. Juga terdapat keluhan ptialisme, hipersalivasi yaitu banyak meludah. Mual dan muntah
terjadi pada 60-80% primigravida dan 40-60% multigravida. Batas mual dan muntah berapa
banyak yang disebut hiperemesis gravidarum tidak ada kesepakatan. Ada yang menyatakan, bisa
lebih dari 10 kali muntah. Namun yang jelas bila mual dan muntah mengakibatkan gangguan
yang berat pada ibu sehingga ibu perlu perawatan di rumah sakit maka kondisi ini disebut
hiperemesis gravidarum.
Perasaan mual disebabkan oleh meningkatnya kadar hormon estrogen dan HCG dalam
serum. Pengaruh fisiologik kenaikan hormon ini belum jelas, mungkin karena sistem saraf pusat
atau pengosongan lambung yang berkurang. Pada umumnya wanita dapat menyesuaikan dengan
keadaan ini.
Bayi yang dilahirkan dengan ibu yang menderita hiperemesis gravidarum yang persisten
akan mengalami prematuritas, berat badan lahir rendah, gangguan dari susunan saraf pusat dan
kelainan kulit.
Hiperemesis gravidarum harus dapat ditegakkan ketika semua penyebab mual dan muntah yang
persisten dapat disingkirkan seperti adanya pyelonefritis, pankreatitis, kolesistitis, hepatitis,
apendisitis, gastroenteritis, ulkus peptikum, tirotoksikosis, dan hipertiroid yang semuanya itu
memberikan gajala yang sama.

BAB II
LAPORAN KASUS

I.

IDENTITAS PASIEN
Nama
Umur
Agama
Pekerjaan
Alamat
Masuk RS

: Ny. A
: 35 tahun
: Islam
: Ibu rumah tangga
: RT 014/RW 006 Bengle, kec. Majalaya Kab. Karawang
: 28 Januari 2014

IDENTITAS SUAMI

II.

Nama

: Tn. H

Usia

: 38 tahun

Pekerjaan

: Buruh

Agama

: Islam

ANAMNESIS
Autoanamnesis dilakukan di ruang VK, tanggal 28 Januari 2014 pukul 22:45 WIB

Keluhan Utama
G3P2A0 Hamil 8-9 minggu, rujukan bidan dengan Hiperemesis Gravidarum
Riwayat Penyakit Sekarang (RPS)
G3P2A0 mengaku hamil 8-9 minggu datang dengan keluhan mual dan muntah lebih
dari 10 kali sejak 2 hari sebelum masuk rumah sakit.
Pasien mengeluh keluhan mual dan muntah sudah sering dialami sejak dari awal
kehamilan tapi tidak terlalu parah. Pasien muntah 2-3 kali sehari, lebih sering pada
waktu pagi, tapi pasien bisa makan dan minum.
Sejak 2 hari sebelum masuk rumah sakit, pasien mengaku keluhan mual dan muntah
bertambah parah. Pasien muntah lebih dari 10 kali sehari. Muntah berupa cairan
berwarna putih kekuningan, bercampur makanan dan minuman yang baru dimakan.
Dalam muntah tidak pernah bercampur darah. Pasien mengaku tidak bisa makan sama
sekali. Semua makanan dan minuman yang dimakan akan dimuntahkan lagi sehingga
2

nafsu makan pasien tidak ada sama sekali. Pasien mengeluh badan terasa sangat
lemah sehingga pasien tidak bisa melakukan aktivitas sama sekali.
1 hari sebelum masuk rumah sakit, pasien telah dibawa ke puskesmas. Di puskesmas,
pasien diberikan obat dan disarankan ke rumah sakit seandainya keluhan masih
berlanjut.
Sejak 4 jam sebelum masuk rumah sakit, pasien mengeluh sakit kepala bagian depan.
Sakit kepala dirasakan seperti berdenyut. Keluhan mual muntah masih berlanjut,
pasien tidak bisa makan, badan lemas, sehingga pasien dibawa ke rumah sakit.
Pasien menyatakan BAK warna kuning tua, jumlah sedikit. BAB tidak mencret.
Sering merasa haus. Pasien menyatakan berat badanya berkurang 5 kg (dari 60-55kg)
dari pertama kali ditimbang dipuskesmas dan dari hasil ditimbang dipuskesmas
kemarin. Pasien menyatakan pernah mengalami hal yang serupa saat hamil pertama
dan kedua tapi tidak pernah separah saat ini. Pasien menyangkal adanya rasa
kesemutan dan baal di tubuh.
a. Riwayat Haid
HPHT
Taksiran Partus
Usia Kehamilan
Menarche
Siklus Haid
Lama Haid
Banyaknya
Dismenore

: 25-11-2013
: 1-09-2014
: 8-9 minggu
: 15 thn
: teratur (antara 28-35 hari)
: 7 hari
: 2-3 pembalut per hari
: (-)

b. Riwayat Perkawinan
Status
: Menikah 1x
Usia saat Menikah
: 22 tahun
Lama Perkawinan
: 13 tahun
c. Riwayat Kehamilan, Persalinan, dan nifas yang lalu
I. 11 tahun, laki-laki, lahir normal di bidan, 3500gr. Mual, muntah (+) saat hamil
II. 7 tahun, laki-laki, lahir normal di bidan, 3200gr. Mual, muntah (+) saat hamil
III. Hamil ini
d. Riwayat Keluarga Berencana KB : menggunakan suntik KB per 3 bulan sekali, berhenti
suntik sejak 3 yang lalu.
e. Riwayat Antenatal dan Imunisasi

Pasien memeriksakan kehamilannya baru 1x ke bidan di posyandu, pasien belum


mendapatkan imunisasi TT. Belum pernah USG
Riwayat Penyakit Dahulu
Darah tinggi (-), kencing manis (-),jantung (-), asma (-), alergi (-), maag (-).
Riwayat Penyakit keluarga
Darah tinggi (-), kencing manis (-),jantung (-), asma (-), alergi (-), maag (-).
Riwayat Kebiasaan
Merokok (-), minum alkohol (-), jamu-jamuan (-), menggunakan narkoba atau obatobatan (-).
III.PEMERIKSAAN FISIK
Dilakukan pada tanggal 28 Januari 2014, jam 23:00 WIB
a. Status Generalis
Keadaan Umum
: Lemah, pucat
Kesadaran
: Compos mentis
Tanda Vital
Tekanan Darah
: 120/80 mmHg
Nadi
: 112x/menit
Suhu
: 36,9oC
Pernapasan
: 22x/menit
Kepala
: normocefali, deformitas (-)
Mata
: konjungtiva anemis (-/-), sklera ikterik (-/-), mata sedikit cekung
Mulut
Leher

(+/+)
: bibir kering (+), lidah kotor (-), sianosis (-), napas bau aseton (-)
: kelenjar getah benih tidak teraba membesar, tiroid tidak
teraba membesar.

Thorax
Mammae
Cor
Pulmo
Abdomen

: simetris, hiperpigmentasi pada kedua areola, retraksi puting -/: BJ I-II reguler, murmur (-), gallop (-)
: suara nafas vesikuler, rhonki -/-, wheezing -/: supel, nyeri tekan epigastrium (+), hepar dan lien tak teraba
membesar, turgor kulit menurun, bising usus (+) 2-

3x/menit
Ektremitas atas

: akral hangat +/+, edema -/-, refleks fisiologis +/+, refleks

Ektremitas bawah

patologis -/: akral hangat +/+, edema -/-

b. Status Obstetri
- Abdomen
Inspeksi

: datar
4

Palpasi
: supel, TFU belum teraba
Auskultasi
: DJJ belum bisa didengarkan
Pemeriksaan Dalam
I : v/v tenang, tidak tampak keluar carian dari vagina, perdarahan aktif (-)
Io : portio livid, licin, ostium tertutup, flour (-), fluxus (-)
Vt : korpus uteri membesar, OUE tertutup, massa adnexa (-), parametrium lemas,
nyeri goyang portio (-), cavum dauglas tidak menonjol.

IV.

PEMERIKSAAN PENUNJANG
Hematologi 28 Januari 2014
Hb
: 8 g/dl
Ht
: 23%
Leukosit
: 12,400/uL
Trombosit
:337.000/uL
HBsAg
: nonreaktif
Gol. darah/ rhesus
: O/ +
Masa perdarahan
: 2 menit
Masa pembekuan
: 12 menit
Kimia darah 28 Januari 2014
GDS
: 112 mg/dl
Ureum
: 11,9 mg/dl
Kreatinin
: 0,59 mg/dl
SGOT
: 15 U/L
SGPT
: 11,6 U/L
Natrium
: 140 mmol/L
Kalium
: 3,3 mmol/L
Klorida
: 107 mmol/L
Urinalisis Fisik / Kimiawi 28 Januari 2014
warna
: Kuning pekat
Kekeruhan
: Jernih
pH
:6
Protein
: negatif
Glukosa
: negatif
b-HCG
: positif
Keton
: (+3) positif
Epitel
: (+) positif
Leukosit
: 0-1
Eritrosit
: 0-1
Kristal
: negatif
USG tanggal 28 Januari 2014 jam 23.15 :
CRL : 76,6
BPD

: 31,5
5

Usia Kehamilan : 13 14 minggu HC


: 95,6
Kesan : Tampak janin tunggal hidup intrauterin, 13 14 minggu
RESUME
Wanita, 35 tahun, G3P2A0 hamil 8-9 minggu, dengan HPHT : 25-11-2013, taksiran
partus : 01-09-2014 datang dirujuk oleh bidan dengan hiperemesis gravidarum.
Sejak 2 hari SMRS, pasien mual dan muntah. Muntah >10x/sehari, berupa cairan
berwarna putih kekuningan, bercampur makanan dan minuman yang baru dimakan,
tidak bercampur darah. Semua makanan dan minuman akan dimuntahkan, tidak nafsu
makan (+), badan lemah (+), tidak bisa aktivitas (+). Sakit kepala (+) rasa berdenyut.
BAK warna kuning tua, sedikit. BAB tidak ada keluhan. sering haus (+), berat bsdan
turun (+). Baal, kesemutan (-). Sudah berobat ke puskesmas, tepi keluhan berlanjut.
Pernah mengalami hal serupa saat hamil pertama dan kedua.
Pada pemeriksaan fisik didapatkan:
o Tanda vital : TD: 120/80mmHg, N: 112x/menit, P: 22x/menit, S: 36,9oC
o Status generalis
: KU lemah, pucat. Mata cekung, lidah kering, nyeri tekan
epigastrium, turgor kulit menurun.

o Status obstetrik:
Inspeksi
: datar
Palpasi
: supel, TFU belum teraba
Auskultasi
: DJJ belum bisa didengarkan
Pemeriksaan Dalam
I : v/v tenang, tidak tampak keluar carian dari vagina, perdarahan aktif (-)
Io : portio livid, licin, ostium tertutup
Vt : korpus uteri membesar, OUE tertutup, massa adnexa (-), parametrium lemas,
nyeri goyang portio (-), cavum dauglas tidak menonjol.

Pada pemeriksaan laboratorium darah didapatkan Hb: 8 g/dl, Ht

: 23%, Ureum :

11,9

mg/dl, Kalium : 3,3 mmol/L, HCG : positif. Keton : (+3) positif.


V. DIAGNOSIS KERJA
Hiperemesis Gravidarum tingkat I pada G3P2A0 Hamil 9-10 minggu, JTH-intrauterin
VI. PENATALAKSANAAN
- Observasi keadaan umum, tanda vital, tanda-tanda dehidrasi
- Rawat ruangan
6

- Stop makanan peroral 24-48 jam (sampai mual muntah berkurang)


- Terapi medikamentosa :
o
o
o
o

IVFD D5% : RL + Neurobion 1 amp = 1 : 2 / 24 jam


Inj. Ondansetron 3 x 8 mg, iv
Inj. Ranitidin 2 x 1 amp
Asam Folat 1 x 1 tab

Follow Up
Tanggal 29 Januari 2014 (J 07:00)
Subjektif : pusing (+), berkurang. mual (+), muntah (+), berkurang. Pasien masih belum makan
per oral, minum per oral (+). Nyeri ulu hati (-), BAK biasa, BAB tidak ada keluhan.
Objektif :
Keadaan umum : Lemah (+), Kesadaran : Compos mentis
7

Tanda vital : TD : 100/70mmHg, Nadi : 80x/menit, RR : 20x/menit, Suhu : 36,4oC


Status generalis
Mata : cekung +/+, konjungtiva anemis -/Thoraks : dbn
Abdomen : turgor kulit menurun
Extremitas : akral hangat (+), CRT <2detik
Analisis : Hiperemesis Gravidarum tingkat I pada G3P2A0 Hamil 9-10 minggu, JTH-intrauterin
Planning :
-

Observasi keadaan umum, tanda vital, tanda-tanda dehidrasi berat

Terapi masih dilanjutkan secara perenteral sehingga mual, muntah tidak ada

Terapi medikamentosa :
o
o
o
o

IVFD D5% : RL + ondansentron 8 mg = 1 : 2 / 24 jam


Neurobion 1 x 1 ampul, im
Ranitidin 2 x 50 mg, iv
Kaltrofen 2 x 100 mg, supp

Tanggal 30 Januari 2014 (J 06:45)


Subjektif : pusing (-), mual (-)sangat berkurang, muntah (-), pasien sudah mulai makan bubur
3 sendok, tidak dimuntahkan lagi, minum per oral (+). Nyeri ulu hati (-), BAK biasa, BAB tidak
ada keluhan.
Objektif :
Keadaan umum : membaik, Kesadaran : Compos mentis
Tanda vital : TD : 110/80mmHg, Nadi : 82x/menit, RR : 18x/menit, Suhu : 36,4oC
Status generalis
8

Mata : cekung -/-, konjungtiva anemis -/Thoraks : dbn


Abdomen : turgor kulit normal
Extremitas : akral hangat (+), CRT <2detik
Analisis : Hiperemesis Gravidarum tingkat I pada G3P2A0 Hamil 9-10 minggu, JTH-intrauterin
Planning :
-

Observasi keadaan umum, tanda vital

Terapi diganti oral

Terapi medikamentosa :

o Ondansentron 2 x 4 mg, tab


o Ranitidin 2 x 150 mg, tab
o Neurobion 2 x 1, tab
o Asam folat 1 x 1, tab
Rencana pulang

BAB III
ANALISA KASUS

Pasien ini didiagnosis dengan Hiperemesis Gravidarum didasarkan atas dari hasil
anamnesia, pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan penunjang.
1) Dari anamnesia :
o Wanita, 35 tahun, G3P2A0, mengaku hamil 8-9 minggu
o Mual dan muntah selama 2 hari SMRS. Dialami sejak awal hamil, makin lama
makin parah. Muntah lebih dari 10x/hari. Muntah berisi makanan yang dimakan.

o Tidak nafsu makan, lemas, pusing, mengganggu aktivitas sehari-hari


o Merasa haus, kencing warna kuning, pekat, berat badan menurun
Pada pasien ini terdapat gejala-gejala Hiperemesis Gravidarum yang sesuai dengan
kepustakaan, dimana terjadi mual dan muntah yang terjadi pada trimester pertama kehamilan,
yang dirasakan semakin hari semakin bertambah parah, sehingga mengakibatkan gangguan
intake secara oral, gangguan gizi, hambatan aktivitas sehari-hari dan terdapat tanda-tanda
dehidrasi.
2) Dari pemeriksaan fisik :
o KU/KES : lemah, pucat / CM
o Tanda vital : TD 120/80 mmHg, N 112x/menit, RR 22x/menit, S 36,9oC
o Mata : cekung (+/+), Mulut : bibir kering (+/+)
o Abdomen : nyeri tekan epigastrium (+), turgor kulit menurun
o Status obstetrik

Inspeksi
: datar
Palpasi
: supel, TFU belum teraba
Auskultasi
: DJJ belum bisa didengarkan
Pemeriksaan Dalam
I : v/v tenang, tidak tampak keluar carian dari vagina, perdarahan aktif (-)
Io : portio livid, licin, ostium tertutup
Vt : korpus uteri membesar, OUE tertutu
Status generalis menunjukkan tanda-tanda dehidrasi yaitu nadi takikardia, mata
cekung, bibir kering, turgor kulit menurun, urin sedikit, pekat. Muntah yang berlebihan
menyebabkan iritasi pada mukosa lambung ditambah dengan motalitas usus yang
berkurang pada wanita hamil sehingga pemaparan mukosa lambung terhadap asam
lambung lebih lama, sehingga didapatkan nyeri epigastrium. Pada status obstetrik,
didapatkan perut mendatar, palpasi fundus belum teraba, DJJ belum bisa didengarkan,
portio livid, korpus uteri membesar, menyokong pernyataan pasien yang menyatakan
hamil muda. Hal ini penting untuk diketahui karena untuk dapat menegakkan diagnosis
10

Hiperemesis Gravidarum pertama kali kita harus yakin bahwa pasien dalam keadaan
hamil.
3) Dari pemeriksaan penunjang
o USG : tampak janin tunggal hidup intra-uterin, usia 9-10 minggu
o Lab : B-hCG (+), Keton (+), Hipokalemia (+), Ureum meningkat
Pada pemeriksaan darah didapatkan hipokalemia. Terjadi akibat muntah yang
berlebihan pada pasien. Ureum yang meningkat dapat terjadi karena keadaan pasien
dengan intake oral (terutama minum) berkurang, dan muntah yang berterusan
menyebabkan volume darah berkurang, darah yang dikirim ke organ-organ berkurang,
sehingga filtrasi ginjal berkurang, sehingga fungsi eksresi ginjal juga berkurang. Ini
menyebabkan ureum yang merupakan bahan yang harusnya dieksresi ginjal meningkat
dalam darah. Pada pemeriksaan urin didapatkan keton urin positif. Hal ini terjadi karena
cadangan karbohidrat sudah habis terpakai untuk energi, sehingga tubuh menggunakan
lemak sebagai sumber bahan bakar untuk menghasilkan energi atau dikenal sebagai
liposis. Hasil akhir proses lipolisis ini adalah benda keton. Benda keton dapat ditemukan
dalam darah atau dikenal dengan istilah ketosis, dan dapat juga ditemukan di urin.
4) Penatalaksanaan
o

Pada pasien ini, awalnya dberikan terapi parenteral sehingga

keluhan mual, muntahnya berkurang. Tujuan terapi yang pertama adalah


untuk memperbaiki keadaan umum pasien dan mengatasi dehidrasi.
Diberikan cairan rehidrasi dengan infuse Dextrose 5% : RL +
Ondansentron 8mg = 1:2 dalam 24 jam pertama. Diberikan infuse
Dextrose karena diharapkan tubuh akan mempergunakan karbohidrat
sebagai sumber energi, dan menghentikan proses lipolisis. Ondansentron
diberikan untuk mengurangi mual yang dialami pasien. Ranitidin
diberikan untuk mengurangi produksi asam lambung. Kaltrofen diberikan
sebagai analgetik untuk mengurangi sakit kepala pasien dan diberikan
secara suppositoria. Hari pertama pasien dirawat, terapi awal secara
parenteral masih dilanjutkan, dan ditambah neurobion 5000IU didrip
dalam RL 500cc. Hari kedua perawatan, pasien sudah tidak mual, muntah,
jadi pengobatan diganti per oral. Diberikan Ondansentron 2 x 4 mg tab,
11

Ranitidin 2 x 150 mg tab, Neurobion 2 x 1 tab, Asam folat 1 x 1 tab.


Instruksikan cara minum obat pada pasien yaitu : obat diminum sebelum
makan. Jarakkan tiap obat selama 15 menit sebelum makan obat yang lain.
30 menit setelah selesai minum obat, baru bisa makan. Makan dalam porsi
kecil, tapi lebih sering. Infuse juga di aff karena pasien sudah bisa intake
per oral. Karena pasien sudah bisa intake oral, dan tidak muntah lagi,
pasien direncanakan pulang.

BAB IV
TINJAUAN PUSTAKA

1.

DEFINISI DAN KLASIFIKASI1,2


Mual dan muntah dikeluhkan oleh sekitar tiga perempat ibu hamil, umumnya terjadi

selama trimester pertama. Biasanya mual dan muntah disertai dengan keluhan banyak meludah
(hipersalivasi), pening, perut kembung, dan badan terasa lemah. Keluhan ini secara umum
dikenal sebagai morning sickness karena terasa lebih berat pada pagi hari. Namun, mual dan
muntah dapat berlangsung sepanjang hari. Rasa dan intensitasnya seringkali dideskripsikan
menyerupai mual muntah karena kemoterapi untuk kanker.
Keluhan mual dan muntah pada ibu hamil jarang yang dapat dihilangkan seluruhnya.
Untungnya gejala dapat diringankan, misalnya dengan membatasi makan tidak sampai kenyang,
makan sedikit tapi sering, menghindari makanan tertentu, atau pemberian anti-emetik. Namun,
pada sejumlah kasus, mual muntah cukup berat sehingga langkah-langkah di atas tidak berhasil
dan terjadi masalah-masalah seperti penurunan berat badan, dehidrasi, kelainan keseimbangan

12

asam-basa, dan ketosis. Seringnya mual dan muntah mengakibatkan ibu kehilangan lebih dari
5% berat badannya. Kondisi ini disebut hiperemesis gravidarum.
Hiperemesis gravidarum dapat diklasifikasikan secara klinis menjadi tiga tingkat, yaitu1:

Tingkat I
Hiperemesis gravidarum tingkat I ditandai oleh muntah yang terus menerus disertai
dengan intoleransi terhadap makan dan minum. Terdapat penurunan berat badan dan
nyeri epigastrium. Pertama-tama isi muntahan adalah makanan, kemudian lendir beserta
sedikit cairan empedu, dan kalau sudah lama bisa keluar darah. Frekuensi nadi meningkat
sampai 100 kali/menit dan tekanan darah sistolik menurun. Pada pemeriksaan fisik,
ditemukan mata cekung, lidah kering, turgor kulit menurun, dan urin sedikit berkurang.

Tingkat II
Pada hiperemesis gravidarum tingkat II, pasien memuntahkan segala yang dimakan dan
diminum, berat badan cepat menurun, dan ada rasa haus yang hebat. Frekuensi nadi 100140 kali/menit dan tekanan darah sistolik kurang dari 80 mmHg. Pasien terlihat apatis,
pucat, lidah kotor, kadang ikterus, dan ditemukan aseton serta bilirubin dalam urin.

Tingkat III
Kondisi tingkat III ini sangat jarang, ditandai dengan berkurangnya muntah atau bahkan
berhenti, tapi kesadaran menurun (delirium sampai koma). Pasien mengalami ikterus,
sianosis, nistagmus, gangguan jantung, dan dalam urin ditemukan bilirubin dan protein.

2.

EPIDEMIOLOGI3
Mual dan muntah terjadi dalam 50-90% kehamilan. Gejalanya biasanya dimulai pada

gestasi minggu 9-10, memuncak pada minggu 11-13, dan berakhir pada minggu 12-16. Pada 110% kehamilan, gejala dapat berlanjut melewati 20-22 minggu. Hiperemesis berat yang harus
dirawat inap terjadi dalam 0,3-2% kehamilan.
Di masa kini, hiperemesis gravidarum jarang sekali menyebabkan kematian, tapi masih
berhubungan dengan morbiditas yang signifikan.

Mual dan muntah mengganggu pekerjaan hampir 50% wanita hamil yang bekerja.

13

Hiperemesis yang berat dapat menyebabkan depresi. Sekitar seperempat pasien


hiperemesis gravidarum membutuhkan perawatan di rumah sakit lebih dari sekali.

Wanita dengan hiperemesis gravidarum dengan kenaikan berat badan dalam kehamilan
yang rendah (7 kg) memiliki risiko yang lebih tinggi untuk melahirkan neonatus dengan
berat badan lahir rendah, kecil untuk masa kehamilan, prematur, dan nilai Apgar 5 menit
kurang dari 7.
Insiden hiperemesis gravidarum dalam 30 tahun terakhir ini telah menurun 1 diantara

1000 kehamilan. Hal ini disebabkan oleh, (1) pelaksanaan KB yang berjalan baik yang
menyebabkan penurunan angka kehamilan yang tidak diinginkan, (2) antenatal care yang baik,
(3) obat-obatan anti-emetik yang kuat.
3.

FAKTOR RISIKO3

Faktor risiko untuk hiperemesis gravidarum adalah:


o Kehamilan sebelumnya dengan hiperemesis gravidarum
o Primigravida, mola hidatidosa, dan kehamilan ganda
o Faktor organik : yaitu masuknya vili korialis dalam sirkulasi maternal dan
perubahan metabolik akibat hamil serta resistensi yang menurun dari pihak ibu
terhadap perubahan ini
o Alergi : sebagai respon jaringan ibu terhadap anak
o Faktor psikologis, memegang peranan yang penting terhadap penyakit ini.
Hubungan psikologis dengan hiperemesis gravidarum belum dikenal pasti. Tidak
jarang dengan memberikan suasana baru, sadah dapat membantu mengurangi
frekuensi muntah.

4.

Merokok berhubungan dengan risiko yang lebih rendah untuk hiperemesis gravidarum

PATOFISIOLOGI4,5
Etiologi mual dan muntah yang terjadi selama kehamilan masih belum diketahui, namun

terdapat beberapa teori yang dapat menjelaskan terjadinya hiperemesis gravidarum. Faktor
14

sosial, psikologis dan organo-biologik, yang berupa perubahan kadar hormon-hormon selama
kehamilan, memegang peranan dalam terjadinya hiperemesis gravidarum. Disfungsi pada traktus
gastrointestinal yang disebabkan oleh pengaruh hormon progesteron diduga menjadi salah satu
penyebab terjadinya mual dan muntah pada kehamilan. Peningkatan kadar progesteron
memperlambat motilitas lambung dan mengganggu ritme kontraksi otot-otot polos di lambung
(disritmia gaster). Selain progesteron, peningkatan kadar hormon human chorionic gonadotropin
(hCG) dan estrogen serta penurunan kadar thyrotropin-stimulating hormone (TSH), terutama
pada awal kehamilan, memiliki hubungan terhadap terjadinya hiperemesis gravidarum walaupun
mekanismenya belum diketahui. Pada studi lain ditemukan adanya hubungan antara infeksi
kronik Helicobacter pylori dengan terjadinya hiperemesis gravidarum. Sebanyak 61,8%
perempuan hamil dengan hiperemesis gravidarum yang diteliti pada studi tersebut menunjukkan
hasil tes deteksi genom H. pylori yang positif.

5.

GEJALA KLINIS1
Hiperemesis gravidarum dijumpai pada trimester pertama kehamilan, di mana pasien datang

dengan keluhan mual dan muntah. Sesuai dengan beratnya penyakit yang dialami, dapat pula
dijumpai penurunan berat badan, hipersalivasi, tanda-tanda dehidrasi (mata cekung, bibir dan
lidah kering, turgor kulit berkurang, hipotensi postural dan takikardi).
Gejala dan tanda awal :

Memuntahkan segala yang dimakan, muntah mengandung cairan empedu atau hanya
makanan

Terhambatnya aktivitas sehari-hari

Gangguan gizi

Pada pemeriksaan, tambah keadaan umum baik

Pemeriksaan darah dan urin dalam batas normal

Gejala lanjut :

15

Jumlah dan frekuensi muntah bertambah

Jumlah urin berkurang

Konstipasi, kadang diare

Nyeri ulu hati

Pasien berbaring terus

Terdapat tanda-tanda dari komplikasi yaitu


a) Ensefalopati Wernicke (apatis, gelisah, tidak bisa tidur, kejang, bahkan
koma)
b) Psikosis Karsakott (bingung dan kehilangan ingatan saat ini)
c) Nefritis perifer
d) Gangguan pada mata (diplopia, gangguan penglihatan bahkan kebutaan)

Tanda-tanda lanjut dari Hiperemesis Gravidarum :

6.

Badan menjadi kurus karena berat badan turun secara progresif

Lemas

Apatis

Turgor kulit menurun

Lidah kering, coklat, kotor

Napas bau aseton

Nadi 100-120x/menit

Tekanan darah sistolik <100 mmHg

Suhu meningkat

Gejala neurologis seperti nistagmus, strabismus, dan lumpuh

Ikterik

DIAGNOSIS1
Secara klinis penegakan diagnosis hiperemesis gravidarum dilakukan dengan menegakkan

diagnosis kehamilan terlebih dahulu (amenore yang disertai dengan tanda-tanda kehamilan).
Lebih lanjut pada anamnesis didapatkan adanya keluhan mual dan muntah hebat yang dapat
16

mengganggu pekerjaan sehari-hari. Pada pemeriksaan fisis diijumpai tanda-tanda vital abnormal,
yakni peningkatan frekuensi nadi (>100 kali per menit), penurunan tekanan darah, dan dengan
semakin beratnya penyakit dapat dijumpai kondisi subfebris dan penurunan kesadaran. Pada
pemeriksaan fisis lengkap dapat dijumpai tanda-tanda dehidrasi, kulit tampak pucat dan sianosis,
penurunan berat badan, uterus yang besarnya sesuai dengan usia kehamilan dengan konsistensi
lunak, dan serviks yang livide saat dilakukan inspeksi dengan spekulum. Pada pemeriksaan
laboratorium dapat diperoleh peningkatan relatif hemoglobin dan hematokrit, hiponatremia dan
hipokalema, benda keton dalam darah, dan proteinuria.
7.

KOMPLIKASI1
Hiperemesis gravidarum yang terjadi terus-menerus dapat menyebabkan dehidrasi pada

penderita. Dehidrasi muncul pada keadaan ini akibat kekurangan cairan yang dikonsumsi dan
kehilangan cairan karena muntah. Keadaan ini menyebabkan cairan ekstraseluler dan plasma
berkurang sehingga volume cairan dalam pembuluh darah berkurang dan aliran darah ke jaringan
berkurang. Hal ini menyebabkan jumlah zat makanan (nutrisi) dan oksigen yang akan diantarkan
ke jaringan mengurang pula. Dampak dari keadaan ini terhadap kesehatan ibu adalah
menurunnya keadaan umum, munculnya tanda-tanda dehidrasi (dalam berbagai tingkatan
tergantung beratnya hiperemesis gravidum), dan berat badan ibu berkurang. Risiko dari keadaan
ini terhadap ibu adalah kesehatan yang menurun dan bisa terjadi syok serta terganggunya
aktivitas sehari-hari ibu. Dampak dari keadaan ini terhadap kesehatan janin adalah berkurangnya
asupan nutrisi dan oksigen yang diterima janin. Risiko dari keadaan ini adalah tumbuh kembang
janin akan terpengaruh.
Selain dehidrasi, hiperemesis gravidarum dapat menyebabkan ketidakseimbangan
elektrolit. Ketidakseimbangan elektrolit muncul akibat cairan ekstraseluler dan plasma
berkurang. Natrium dan klorida darah akan turun. Kalium juga berkurang sebagai akibat dari
muntah dan bertambahnya ekskresi lewat ginjal. Dampak dari keadaan ini terhadap kesehatan
ibu adalah bertambah buruknya keadaan umum dan akan muncul keadaan alkalosis metabolik
hipokloremik (tingkat klorida yang rendah bersama dengan tingginya kadar HCO3 & CO2 dan
meningkatnya pH darah). Risiko dari keadaan ini terhadap kesehatan ibu adalah bisa munculnya
17

gejala-gejala dari hiponatremi, hipokalemi, dan hipokloremik yang akan memperberat keadaan
umum ibu. Dampak keadaan ini terhadap kesehatan janin adalah juga akan mempengaruhi
pertumbuhan dan perkembangan janin.
Hiperemesis gravidum juga dapat mengakibatkan berkurangnya asupan energi (nutrisi) ke
dalam tubuh ibu. Hal ini dapat mengakibatkan cadangan karbohidrat dan lemak dalam tubuh ibu
habis terpakai untuk keperluan pemenuhan kebutuhan energi jaringan. Perubahan metabolisme
mulai terjadi dalam tahap ini. Karena oksidasi lemak yang tidak sempurna, maka terjadilah
ketosis dengan tertimbunnya asam aseton-asetik, asam hidroksi butirik, dan aseton dalam darah.
Hal ini menyebabkan jumlah zat makanan ke jaringan berkurang dan tertimbunnya zat metabolik
yang toksik. Dampak dari keadaan ini terhadap kesehatan ibu adalah kekurangan sumber energi,
terjadinya metabolisme baru yang memecah sumber energi dalam jaringan, berkurangnya berat
badan ibu, dan terciumnya bau aseton pada pernafasan. Risikonya bagi ibu adalah kesehatan dan
asupan nutrisi ibu terganggu. Dampak keadaan ini terhadap kesehatan janin adalah berkurangnya
asupan nutrisi bagi janin. Risiko bagi janin adalah pertumbuhan dan perkembangan akan
terganggu.
Frekuensi muntah yang terlalu sering dapat menyebabkan terjadinya robekan pada
selaput jaringan esofagus dan lambung ( Sindroma Mallory Weiss). Keadaan ini dapat
menyebabkan perdarahan gastrointestinal. Pada umumnya robekan yang terjadi berupa robekan
kecil dan ringan. Perdarahan yang muncul akibat robekan ini dapat berhenti sendiri. Keadaan ini
jarang menyebabkan tindakan operatif dan tidak diperlukan transfusi.
8.

TATA LAKSANA DAN PENCEGAHAN


Penatalaksanaan utama sering melibatkan istirahat dan penghindaran dari rangsangan

yang berperan sebagai pemicu. Prinsip penatalaksanaan adalah untuk :


i.

Memperbaiki keadaan umum

ii.

Koreksi cairan, elektrolit, dan zat-zat metabolik

iii.

Mencegah atau mendeteksi lebih awal adanya komplikasi yang timbul

18

iv.

Memberikan pengertian bahwa mual dan muntah adalah gejala yang fisiologis
pada kehamilan muda dan akan hilang setelah kehamilan 4 bulan

Kadang hiperemesis cukup berat sehingga memerlukan perawatan di rumah sakit.


Keadaan yang mengharuskan pasien dirawat :
i.

Apa yang dimakan, diminum dimuntahkan lagi, apalagi kalau berlangsung


lama

ii.

BB turun lebih dari 1/10 BB sebelum hamil

iii.

Turgor kulit berkurang, lidah kering

iv.

Aseton dalam urin

Di bawah ini adalah penatalaksanaan dalam kondisi kegawatdaruratan:

Untuk keluhan hiperemesis yang berat, pasien dianjurkan untuk dirawat di rumah sakit
dan membatasi pengunjung.

Penghentian pemberian makanan per oral 24 48 jam.

Penggantian cairan dan pemberian anti-emetik jika dibutuhkan. Larutan normal saline
atau ringer laktat dapat digunakan dalam kondisi itu.

Penambahan glukosa, multivitamin, magnesium, pyridoxine, dan atau tiamin dapat


dipertimbangkan. Untuk pasien dengan defisiensi vitamin, tiamin 100 mg dapat diberikan
sebelum pemberian cairan dekstrosa.

Lanjutkan penatalaksanaan sampai pasien dapat mentoleransi cairan per oral dan sampai
hasil uji menunjukkan jumlah keton urin hilang atau sedikit.
Penatalaksanaan mual dan muntah pada kehamilan dengan vitamin B6 atau vitamin B6

ditambah doxylamine sangat aman dan efektif serta dapat digunakan sebagai terapi farmakologis
lini pertama (American College of Obstetricians and Gynecologists, 2004). Pemberian
multivitamin pada saat terjadinya konsepsi juga menurunkan derajat keparahan gejala.6
Penatalaksanaan Konvensional
Sampai saat ini belum ada penatalaksanaan farmakologi yang terbukti. Modalitas terapi
dan obat-obatan yang telah diteliti efektivitasnya dapat dilihat dalam tabel 1 dan 2. Pasien yang
mengalami mual dan muntah yang berat pada kehamilan sebelumnya dapat mengkonsumsi anti19

emetik sebagai profilaksis atau segera setelah mengalami gejala pada kehamilan berikutnya,
yang dikenal sebagai pre-emptive therapy.7
Anti-emetik konvensional, seperti penyekat reseptor H1, fenotiazin dan benzamin, telah
terbukti efektif dan aman. Antiemetik seperti proklorperazin, prometazin, klorpromazin dapat
menyembuhkan mual dan muntah dengan menghambat postsynaptic mesolimbic dopamine
receptors melalui efek antikolinergik dan penekanan reticular activating system. Terdapat obatobat kelas C dengan keamanan yang belum dipastikan untuk digunakan pada kehamilan. Namun,
hanya didapatkan sedikit informasi mengenai efek terapi antiemetik terhadap outcome fetus dari
randomized controlled trial, walaupun tidak didapatkan hubungan antara metoklopramid dan
efek sampingnya, seperti malformasi, berat lahir rendah, dan persalinan preterm. Terapi
kombinasi dengan pyridoxine dan metoklopramid terbuti lebih baik dibandingkan monoterapi
lain. Jika terapi itu gagal, cairan kristaloid dapat diberikan untuk memperbaiki dehidrasi,
ketonemia, defisit elektrolit, dan gangguan asam basa. Tiamin 100 mg dapat ditambahkan dalam
1 liter pertama dan pemberian cairan dilakukan sampai muntah terkontrol.
Profilaksis Wernickes encephalopathy dengan suplementasi tiamin dapat dilakukan
sebagai upaya pencegahan komplikasi hiperemsis. Komplikasi itu jarang terjadi, tetapi perlu
diwaspadai jika terdapat gejala muntah berat disertai dengan gejala okular, seperti perdarahan
retina atau hambatan gerakan ekstraokular.
Penatalaksanaan Diet
Diet hiperemesis I diberikan pada hiperemesis tingkat III. Makanan yang diberikan
berupa roti kering dan buah-buahan. Cairan tidak diberikan bersama makanan tetapi 1 2 jam
setelah makan. Diet itu kurang mengandung zat gizi, kecuali vitamin C, sehingga diberikan
hanya selama beberapa hari.
Diet hiperemesis II diberikan jika rasa mual dan muntah berkurang. Pemberian dilakukan
secara bertahap untuk makanan yang bernilai gizi tinggi. Minuman tidak diberikan bersama
makanan. Diet itu rendah dalam semua zat gizi, kecuali vitamin A dan D.

20

Diet hiperemesis III diberikan kepada penderita dengan hiperemesis ringan. Pemberian
minuman dapat diberikan bersama makanan. Diet ini cukup dalam semua zat gizi, kecuali
kalsium.
Selain diet hiperemesis, pasien juga perlu diinstruksikan supaya mematuhi aturan makan
yaitu :
o Makan bila lapar, walaupun melebihi frekuensi biasa makan sehari
o Makan dalam jumlah kecil, namun sering
o Hindari makanan tinggi lemak
o Hindari makanan pedas
o Hindari makanan atau bau-bauan yang membuat muntah
o Tingkatkan intake berupa makanan kering
o Hindari pil mengandung zat besi
o Makan makanan ringan yang tinggi protein
o Makan biskut di pagi hari sebelum sarapan
o Tingkatkan makanan yang berkarbonasi
Terapi Alternatif
Ada berbagai terapi alternatif lain yang sangat efektif. Akar jahe (Zingiber officinale
Roscoe) adalah salah satu pilihan non-farmakologik dengan efek yang cukup baik. Bahan
aktifnya, disebut gingerol, dapat menghambat pertumbuhan seluruh galur H. pylori, terutama
galur Cytotoxin associated gene (Cag) A+ yang sering menyebabkan infeksi. Ekstrak jahe ini
sangat direkomendasikan oleh ACOG. Dosisnya adalah 250 mg kapsul akar jahe bubuk per oral,
4 kali sehari.
The Systematic Cochrane Review mendukung penggunaan stimulasi akupunktur P6 pada
pasien tanpa profilaksis antiemetik. Stimulasi ini dapat mengurangi risiko mual. National
Evidence-based Clinical (NICE) Guidelines Oktober 2003 merekomendasikan jahe, akupunktur
P6 dan antihistamin untuk tata laksana mual dan muntah dalam kehamilan, dengan evidence
21

level I. Juga telah ditunjukkan bahwa terapi stimulasi saraf tingkat rendah pada aspek volar
pergelangan tangan dapat menurunkan mual dan muntah serta merangsang kenaikan berat badan.
Dengan muntah yang persisten, kita harus mencari adanya penyebab lain seperti
gastroenteritis, kolesistitis, pankreatits, hepatitis, ulkus peptikum, pielonefritis, dan perlemakan
hati dalam kehamilan.
Hampir semua wanita hamil akan memberikan respon yang baik dengan penatalaksanaan
yang telah disebutkan di atas. Bila masih ada muntah berkepanjangan, maka pemberian nutrisi
enteral harus dipikirkan. Vaisman dkk. (2004) telah menunjukkan keberhasilan pemberian makan
nasojejunal selama 4-21 hari pada 11 wanita hamil dengan mual dan muntah refrakter. Pada
sedikit sekali perempuan, nutrisi parenteral mungkin diperlukan.
9.

DIAGNOSIS BANDING1
Selain hiperemesis gravidarum, ada beberapa penyakit yang harus dipikirkan jika terjadi

mual dan muntah yang berat dan persisten pada ibu hamil, yaitu:

Ulkus peptikum
Ulkus peptikum pada ibu hamil biasanya adalah penyakit ulkus peptikum kronik yang
mengalami eksaserbasi. Gejalanya adalah nyeri epigastrik yang berkurang dengan
makanan atau antasid dan memberat dengan alkohol, kopi, atau OAINS. Nyeri tekan
epigastrik, hematemesis, dan melena dapat ditemukan.

Kolestasis obstetrik
Gejala yang khas untuk kolestasis adalah pruritus pada seluruh tubuh tanpa adanya ruam.
Ikterus, warna urin gelap, dan tinja terkadang pucat juga dapat ditemui walaupun jarang.
Pada pemeriksaan laboratorium ditemukan peningkatan kadar enzim hati atau
peningkatan bilirubin.

Acute fatty liver


Pada penyakit ini ditemukan perburukan fungsi hati yang terjadi cepat disertai dengan
gejala kegagalan hati seperti hipoglikemia, ganguan pembekuan darah, dan perubahan

22

kesadaran sekunder akibat ensefalopati hepatik. Penyebab kegagalan hati akut yang lain
harus disingkirkan, misalnya keracunan parasetamol dan hepatitis virus akut.

Apendiksitis akut
Pasien dengan apendiksitis akut mengalami demam dan nyeri perut kanan bawah.
Uniknya, lokasi nyeri dapat berpindah ke atas sesuai usia kehamilan karena uterus yang
semakin membesar. Nyeri dapat berupa nyeri tekan dan nyeri lepas. Dapat ditemukan
tanda Bryan (timbul nyeri bila uterus digeser ke kanan) dan tanda Alder (pasien berbaring
miring ke kiri dan letak nyeri tidak berubah).

Diare akut
Gejal diare akut adalah mual dan muntah disertai dengan peningkatan frekuensi buang air
besar di atas 3 kali per hari dengan konsistensi cair.

23

BAB V
PENUTUP
Mual dan muntah adalah gejala normal pada awal kehamilan. Jika keadaan ini berlanjut,
maka dapat menyebabkan keadaan yang serius yang dikenal sebagai Hiperemesis Gravidarum.
Muntah-muntah yang sering mengakibatkan keadaan umum ibu terganggu, dehidrasi, gangguan
elektrolit, gangguan gizi, yang akhirnya dapat menggangu ibu dan pertumbuhan janin.
Faktor psikologis sangat memegang peran penting dalam menyebabkan Hiperemesis
Gravidarum. Terapi ditujukan untuk memperbaiki keadaan umum, rehidrasi, dan diet ibu.
Pada ibu, disarankan untuk senantiasa tenang dan cukup istirahat selama masa kehamilan.
Diet diberikan secara bertahap agar muntah-muntah dapat berkurang. Antenatal care yang teratur
sangat membantu dalam mengawasi ibu dan janin sehingga apabila ada kelainan yang terjadi
dapat ditangani lebih dini.

24

DAFTAR PUSTAKA
1. Siddik D. Kelainan gastrointestinal. Dalam: Saifuddin AB, Rachimhadhi T, Wiknjosastro
GH, ed. Ilmu kebidanan Sarwono Prawirohardjo,`ed. 4. Jakarta: PT Bina Pustaka Sarwono
Prawirohardjo; 2008: 814-28.
2. Cunningham FG, dkk. Williams Obstetric, ed. 22. McGraw-Hill; 2007.
3. Ogunyemi DA, Fong A. Hyperemesis Gravidarum [halaman di Internet]. Diperbarui 19 Juni
2009.

Dikutip

November

2010.

Medscape;

2010.

Diunduh

dari:

http://emedicine.medscape.com/article/254751-overview
4. Miller AWF, Hanretty KP. Vomiting in pregnancy. Dalam: Miller AWF, Hanretty KP, eds.
Obstetrics Illustrated, 5th ed. London: Churchill Livingstone; 1998: 102-3.
5. Quinlan JD, Hill DA. Nausea and vomiting of pregnancy. Am Fam Physician (serial online)
2003

(dikutip

2010

Nov

6);

68(1):

121-8.

Diunduh

dar::

http://www.aafp.org/afp/2003/0701/p121.html.
6. ACOG (American College of Obstetrics and Gynecology): Practice Bulletin No. 52: Nausea
and Vomiting of Pregnancy. Obstet Gynecol. 2004;103:803-14.
7. Koren G, Maltepe C. Pre-emptive therapy for severe nausea and vomiting of pregnancy and
hyperemesis gravidarum. J Obstet Gynaecol. 2004;24:530-3.

25