Anda di halaman 1dari 18

Ivana Theresia

NIM : 102012111
Kelompok: F5
Email : therevanagirl@gmail.com
Fakultas Kedokteran
Universitas Kristen Krida Wacana
Jl. Arjuna Utara no. 6, Jakarta Barat, 11470

Pendahuluan
Hipertrofi prostat jinak atau benign prostate hypertrophy (BPH) ditandai dengan
pembesaran kelenjar prostat dan sangat sering ditemukan, muncul pada > 50% pria berusia >60
tahun dan 80% pada pria berusia >80. BPH biasanya muncul dengan gambaran obstruksi aliran
kandung kemih, aliran urin yang buruk, urin menetes setelah selesai berkemih, frekuensi
berkemih meningkat dan nokturia. Gejala lain yang mungkin saja ditimbulkan adalah disuria dan
inkontinensia overflow, kadang-kadang pada pasien dapat ditemukan gejala gagal ginjal kronis
atau retensi urin akut.

Skenario
Seorang laki-laki berusia 60 tahun datang ke poliklinik dengan keluhan sering BAK,
terutama pada malam hari. Setiap setelah selesai BAK, pasien selalu merasa tidak lampias dan
pancaran urinnya lemah. Keluhan ini sudah dirasakan selama 6 bulan terakhir dan dirasa semakin
memberat.

Anamnesis

Tanyakan pada pasien adakah kesulitan dalam berkemih?

Berapa kali pasien berkemih dalam sehari?

Apakah pasien harus terbangun untuk berkemih pada malam hari dan berapa
kali?

Adakah rasa nyeri pada waktu pasien berkemih?

Apakah pada saat berkemih pasien merasa tidak puas dan adakah urin yang
menetes?

Apakah ada nyeri pada perut bagian bawah (suprapubik)?

Apakah urin pasien berwarna merah?


1

Apakah pasien merasakan sakit seperti ditusuk-tusuk (kolik)?

Pemeriksaan Fisik
Pada pemeriksaan fisik kandung kemih dapat teraba atau terdeteksi lewat perkusi.
Pembesaran prostat dengan permukaan yang licin dapat ditemukan pada pemeriksaan colok
dubur (rectal toucher).
Rectal

toucher

(RT)

merupakan

pemeriksaan

yang wajib

dilakukan.

Pemeriksaan colok dubur dapat memberikan gambaran tentang keadaan tonus


spingter ani, reflek bulbo cavernosus, mukosa rektum, adanya kelainan lain
seperti benjolan pada di dalam rektum dan tentu saja teraba prostat. Pada
perabaan prostat harus diperhatikan :
o Konsistensi prostat (pada hiperplasia prostat konsistensinya
kenyal)
o Apakah asimetris ?
o Adakah nodul pada prostat (merupakan tanda dari adanya
keganasan)
o Apakah batas atas dapat diraba?
o Sulcus medianus prostat
o Adakah krepitasi
Pembesaran kelenjar prostat lobus lateral pada pemeriksaan colok dubur, simetris dan
keseluruhannya elastis. Lobus median berbatasan dengan vesica urinaria dan tidak teraba
membesar pada pemeriksaan ini. Pada pemeriksaan ini, prostat harus dipalpasi dengan teliti
terhadap kemungkinan adanya nodul atau pengerasan yang mengindikasikan pada adanya suatu
karsinoma.1

Gambar 1. Pemeriksaan Rectal Toucher


Secara umum, pemeriksaan colok dubur pada hiperplasia prostat menunjukkan
konsistensi prostat kenyal seperti meraba ujung hidung, lobus kanan dan kiri simetris dan tidak
didapatkan nodul. Sedangkan pada carcinoma prostat, konsistensi prostat keras dan atau teraba
nodul dan diantara lobus prostat tidak simetris. Sedangkan pada batu prostat akan teraba
krepitasi. Pada penderita retensi urin akut, benjolan yang teraba di atas rongga pelvis akan terasa
sangat nyeri pada waktu palpasi. Pada karsinoma prostat, prostat teraba keras atau teraba
benjolan yang konsistensinya lebih keras dari sekitarnya. Dengan colok dubur dapat pula teraba
batu prostat apabila teraba krepitasi. 1
Pada pemeriksaan fisik, apabila sudah terjadi kelainan pada traktus urinaria bagian atas
kadang-kadang ginjal dapat teraba dan apabila sudah terjadi pielonefritis akan disertai sakit
pinggang dan nyeri ketok pada pinggang. Vesica urinaria dapat teraba apabila sudah terjadi
retensi total, daerah inguinal harus mulai diperhatikan untuk mengetahui adanya hernia.
Genitalia eksterna harus pula diperiksa untuk melihat adanya kemungkinan sebab yang lain yang
dapat menyebabkan gangguan miksi seperti batu di fossa navikularis atau uretra anterior, fibrosis
daerah uretra, fimosis, condiloma di daerah meatus. 1
Meskipun pemeriksaan ini wajib dilakukan, ukuran besarnya prostat tidak mempunyai
korelasi dengan beratnya gejala, derajat obstruksi, hasil pengobatan dan tidak merupakan
pertimbangan untuk melakukan pengobatan secara aktif apabila dibutuhkan. Besarnya ukuran
prostat hanya berguna untuk menentukan prosedur bedah yang sesuai untuk penderita. Misalnya
pada prostat yang kecil dapat ditindaklanjuti dengan single Bladder Neck Incision (BDI),
sementara pada prostat yang sangat besar mungkin membutuhkan prostatectomy terbuka
dibandingkan dengan melakukan Transurethral Resection of the Prostat (TURP).

Setelah itu, dapat juga dilakukan pemeriksaan tanda-tanda vital seperti:


o Pemeriksaan Suhu : Suhu tubuh yang normal adalah 36-37,5C. 2
o Pemeriksaan Nadi : Untuk pemeriksaan nadi pada orang dewasa adalah sekitar 80 denyut
per menit.2
o Pemeriksaan RR( Respiratory Rate) : Frekuensi pernapasan pada orang dewasa adalah
16 kali per menit.2
o Pemeriksaan tekanan darah : Rata-rata tekanan darah normal pada orang dewasa adalah
120/80 mmHg.2

Pemeriksaan Penunjang
Urinalisis
Bertujuan untuk menyingkirkan adanya infeksi atau hematuria dan pengukuran kadar
serum ureum kreatinin untuk menilai fungsi ginjal dari pasien. Insufisiensi ginjal dapat
ditemukan pada 10% pasien dengan prostatism dan memerlukan pemeriksaan radiologi saluran
kemih bagian atas. Pasien dengan insufisiensi ginjal mempunyai risiko yang tinggi mengalami
komplikasi post-operasi setelah pembedahan BPH. Kadar PSA serum biasanya dapat dilakukan,
namun sebagian besar ahli memasukkan pemeriksaan PSA ke dalam pemeriksaan awal,
dibandingkan dengan pemeriksaan RT saja.

PSA
Disintesis oleh sel epitel prostat dan bersifat organ specifik tetapi bukan kanker specifik.
Serum PSA dapat dipakai untuk mengetahui perjalanan penyakit dari BPH. Apabila kadar PSA
tinggi berarti :
(a) Pertumbuhan volume prostat lebih cepat,
(b) Keluhan akibat BPH atau laju pancaran urin lebih buruk,
(c) Lebih mudah terjadinya retensi urine akut.
Pertumbuhan volume kelenjar prostat dapat diprediksikan berdasarkan kadar PSA,
makin tinggi kadar PSA makin cepat laju pertumbuhan prostat. Laju pertumbuhan volume
4

prostat rata-rata setiap tahun pada kadar PSA 0,2-1,3 ng/dl laju adalah 0,7 mL/tahun, sedangkan
pada kadar PSA 1,4-3,2 ng/dl sebesar 2,1 mL/tahun, dan kadar PSA 3,3-9,9 ng/dl adalah 3,3
mL/tahun. Kadar PSA di dalam serum dapat mengalami peningkatan pada keradangan, setelah
manipulasi pada prostat (biopsi prostat atau TURP), pada retensi urine akut, kateterisasi,
keganasan prostat, dan usia yang makin tua. Rentang kadar PSA yang dianggap normal
berdasarkan usia adalah:

40-49 tahun : 0-2,5 ng/ml

50-59 tahun :0-3,5 ng/ml

60-69 tahun :0-4,5 ng/ml

70-79 tahun : 0-6,5 ng/ml

Meskipun BPH bukan merupakan penyebab timbulnya karsinoma prostat, tetapi


kelompok usia BPH mempunyai resiko terkena karsinoma prostat. Pemeriksaan PSA bersamaan
dengan colok dubur lebih superior daripada pemeriksaan colok dubur saja dalam mendeteksi
adanya karsinoma prostat. Oleh karena itu pada usia ini pemeriksaan PSA menjadi sangat
penting guna mendeteksi kemungkinan adanya karsinoma prostat.
Pemeriksaan PSA sebagai salah satu pemeriksaan awal pada BPH, meskipun dengan
syarat yang berhubungan dengan usia pasien atau usia harapan hidup pasien. Usia sebaiknya
tidak melebihi 70-75 tahun atau usia harapan hidup lebih dari 10 tahun, sehingga jika memang
terdiagnosis karsinoma prostat tindakan radikal masih ada manfaatnya.

Pielogram Intravena (IVP) atau USG Ginjal


Dianjurkan bila ditemukan adanya kelainan saluran kemih atau komplikasi dari BPH
(misal: hematuria, ISK, insufisensi ginjal, dan riwayat batu saluran kemih).

Sistoskopi
Pemeriksaan sitoskopi tidak dianjurkan untuk menentukan perlunya dilakukan terapi
pada pasien. Sistoskopi membantu pemilihan terapi bedah pada pasien yang akan dilakukan
terapi invasif.
Sistometrogram dan Urodinamik
Sistometrogram dan urodinamik diperlukan pada pasien yang diduga mengalami
kelainan neurologis atau pada pasien dengan riwayat kegagalan operasi prostat. Pemeriksaan
urodinamika merupakan pemeriksaan optional pada evaluasi pasien BPH bergejala. Meskipun
merupakan pemeriksaan invasif, urodinamika saat ini merupakan pemeriksaan yang paling baik
dalam menentukan derajat obstruksi prostat (BPO), dan mampu meramalkan keberhasilan suatu
tindakan pembedahan. Pemeriksaan ini mempunyai sensitifitas 87%, spesifisitas 93%, dan nilai
prediksi positif sebesar 95%. Indikasi pemeriksaan urodinamika pada BPH adalah:

Berusia < 50 tahun atau lebih dari 80 tahun dengan volume residual
urine>300 mL,

Qmax>10 ml/detik, setelah menjalani pembedahan radikal pada daerah


pelvis,

Setelah gagal dengan terapi invasif, atau

Kecurigaan adanya buli-buli neurogenik

Residual Urine atau Post Voiding Residual Urine (PVR)


Merupakan pemeriksaan sisa urin yang tertinggal di dalam buli-buli setelah miksi. 78%
pria normal mempunyai residual urine kurang dari 5 mL dan semua pria normal mempunyai
residu urine tidak lebih dari 12 mL.
Pemeriksaan residual urine dapat dilakukan secara invasif, yaitu dengan melakukan
pengukuran langsung sisa urin melalui kateterisasi uretra setelah pasien berkemih, maupun non
invasif, yaitu dengan mengukur sisa urin melalui USG atau bladder scan. Pengukuran melalui
kateterisasi ini lebih akurat dibandingkan dengan USG, tetapi tidak nyaman bagi pasien, dapat
menimbulkan cedera uretra, menimbulkan infeksi saluran kemih, hingga terjadi bakteriemia.
6

Peningkatan volume residual urine tidak selalu menunjukkan beratnya gangguan pancaran urin
atau beratnya obstruksi. Watchful waiting biasanya akan gagal jika terdapat residual urine yang
cukup banyak dan volume residual urine lebih 350 ml seringkali telah terjadi disfungsi pada bulibuli sehingga terapi medikamentosa biasanya tidak akan memberikan hasil yang memuaskan.

Uroflometri
Uroflometri adalah pencatatan tentang pancaran urine selama proses miksi secara
elektronik. Pemeriksaan ini bertujuan untuk mendeteksi gejala obstruksi saluran kemih bagian
bawah yang tidak invasif. Dari uroflometri dapat diperoleh informasi mengenai volume miksi,
pancaran maksimum (Qmax), pancaran rata-rata (Qave), waktu yang dibutuhkan untuk mencapai
pancaran maksimum, dan lama pancaran.
Pemeriksaan ini sangat mudah, non invasif, dan sering dipakai untuk mengevaluasi
gejala obstruksi infravesika baik sebelum maupun setelah mendapatkan terapi. Hasil uroflometri
tidak spesifik menunjukkan penyebab terjadinya kelainan pancaran urin, sebab pancaran urin
yang lemah dapat disebabkan karena pembesaran kelenjar prostat yang menyebabkan terjadinya
obstruksi pada leher buli-buli dan uretra atau dikenal sebagai bladder outlet obstruction (BOO)
atau kelemahan otot detrusor. Demikian pula Qmax (pancaran) yang normal belum tentu tidak
ada BOO. Namun demikian sebagai patokan, pada IC-BPH 2000, terdapat korelasi antara nilai
Qmax dengan derajat BOO sebagai berikut:

Qmax < 10 ml/detik 90% BOO

Qmax 10-14 ml/detik 67% BOO

Qmax >15 ml/detik 30% BOO

Harga Qmax dapat dipakai untuk meramalkan hasil pembedahan. Pasien tua yang
mengeluh LUTS dengan Qmax normal biasanya bukan disebabkan karena BPH dan keluhan
tersebut tidak berubah setelah pembedahan. Sedangkan pasien dengan Qmax <10 mL/detik
biasanya disebabkan karena obstruksi dan akan memberikan respons yang baik. Penilaian ada
tidaknya BOO sebaiknya tidak hanya dari hasil Qmax saja, tetapi juga digabungkan dengan
pemeriksaan lain. Menurut Steele et al (2000) kombinasi pemeriksaan skor IPSS, volume prostat,
dan Qmax cukup akurat dalam menentukan adanya BOO.
7

Nilai Qmax dipengaruhi oleh: usia, jumlah urin yang dikemihkan, serta terdapat variasi
induvidual yang cukup besar. Oleh karena itu hasil uroflometri menjadi bermakna jika volume
urine >150 mL dan diperiksa berulangkali pada kesempatan yang berbeda. Spesifisitas dan nilai
prediksi positif Qmax untuk menentukan BOO harus diukur beberapa kali. Reynard et al (1996)
dan Jepsen et al (1998) menyebutkan bahwa untuk menilai ada tidak-nya BOO sebaiknya
dilakukan pengukuran pancaran urine 4 kali.
Bila pemeriksaan uroflometri hanya dapat menilai bahwa pasien mempunyai pancaran
urin yang lemah tanpa dapat menerangkan penyebabnya, pemeriksaan urodinamika (pressure
flow study) dapat membedakan pancaran urin yang lemah itu disebabkan karena BOO atau
kelemahan kontraksi otot detrusor. Pemeriksaan ini cocok untuk pasien yang hendak menjalani
pembedahan. Mungkin saja LUTS yang dikeluhkan oleh pasien bukan disebabkan oleh obstruksi
prostat (BPO) melainkan disebabkan oleh kelemahan kontraksi otot detrusor sehingga pada
keadaan ini tindakan desobstruksi tidak akan bermanfaat.

Diagnosis Kerja
Pada banyak pasien dengan usia di atas 50 tahun, kelenjar prostatnya mengalami
pembesaran, memanjang ke arah kandung kemih dan penyumbatan aliran urin dengan dengan
menutup orifisium uretra. Hipertrofi prostat adalah pertumbuhan dari nodula-nodula
fibroadematosa majemuk dalam prostat. Sebenarnya istilah hipertrofi kurang tepat karena yang
terjadi adalah hiperplasia kelenjar periuretra yang mendesak jaringan prostat yang asli ke perifer
dan menjadi simpai bedah.
Hiperplasia

adalah penambahan ukuran suatu jaringan yang disebabkan oleh

penambahan jumlah sel pembentuknya. Hiperplasia prostat adalah pembesanan prostat yang
jinak bervariasi berupa hiperplasia kelenjar atau hiperplasia fibromuskular. Namun orang sering
menyebutnya dengan hipertrofi prostat namun secara histologi yang dominan adalah hyperplasia.
Daerah yang sering terkena adalah lobus lateral bagian tengah dan lobus medial. Berat
prostat bisa mencapai 60-100 gram (normal 20 gram). Pernah juga dilaporkan pembesaran
prostat yang beratnya melebihi 200 gram. Secara mikroskopik gambaran yang terlihat tergantung
pada unsur yang berproliferasi. Bila kelenjar yang banyak berproliferasi maka akan tampak
8

penambahan jumlah kelenjar dan sering terbentuk kista-kista yang dilapisi oleh epitel silindris
atau kubis dan pada beberapa tempat membentuk papila-papila ke dalam lumen. Membrana
basalis masih utuh. Ketergantungan sejumlah relatif elemen stroma dan kelenjar, maka tipe
hiperplasia prostat yang sering ditemukan adalah fibromyoglandular dan fibromyomatosa.
Perubahan sekunder yang terjadi adalah infark akibat nodul menekan pembuluh darah.

Diagnosis Banding
Karsinoma Prostat (Ca Prostat)
Ca prostat awalnya asimtomatik dan mungkin terdeteksi secara klinis hanya dengan
ditemukan massa yang teraba pada pemeriksaan colok dubur. Tumor biasanya tumbuh di daerah
perifer sehingga menimbulkan gejala obstruksi lebih lambat kecuali sekunder karena BPH.
Banyak pasien yang menderita penyakit ini dan belum terdiagnosis dan timbul gejala yang
berhubungan seperti: gejala konstitutusi (seperti penurunan berat badan dan anemia), nyeri
tulang, limfadenopati atau komplikasi neurologis.

Etiologi
Dengan bertambahnya usia, akan terjadi perubahan keseimbangan testosteron estrogen
karena produksi testosteron menurun dan terjadi konversi testosteron menjadi estrogen pada
jaringan adiposa di perifer. Berdasarkan angka autopsi perubahan mikroskopik pada prostat
sudah dapat ditemukan pada usia 30-40 tahun. Bila perubahan mikroskopik ini terus berkembang
akan terjadi perubahan patologik anatomik. Karena proses pembesaran prostat terjadi secara
perlahan, efek perubahan juga terjadi secara perlahan.
Etiologi dari BPH belum dimengerti sepenuhnya, tetapi kemungkinan multifaktor dan
hormonal. Prostat tersusun oleh bagian stroma dan epitel, dan masing-masing maupun keduanya,
dapat menjadi nodul hiperplastik dan keluhan-keluhan yang berhubungan dengan BPH.
Beberapa penelitian menemukan adanya bukti bahwa BPH diatur oleh sistem endokrin.
Penelitian lanjutan menunjukkan adanya korelasi positif antara kadar testosteron dan estrogen
bebas dengan volume dari BPH. Hubungan antara pertambahan usia dengan BPH mungkin

akibat dari peningkatan kadar estrogen yang merangsang reseptor androgen, yang selanjutnya
meningkatkan sensitivitas kelenjar prostat terhadap testosteron bebas.

Epidemiologi
BPH merupakan tumor jinak paling sering pada laki-laki, dan insidensinya berhubungan
dengan bertambahnya usia. Faktor risiko BPH masih belum jelas. Beberapa penelitian
menunjukkan adanya predisposisi genetik, dan beberapa kasus dipengaruhi oleh ras. Prevalensi
BPH secara histologi pada otopsi didapatkan peningkatan dari sekitar 20% pada pria usia 41-50
tahun, menjadi 50% pada pria usia 51-60 tahun, dan >90% pada pria usia lebih dari 80 tahun.
Hiperplasia prostat merupakan penyakit pada pria tua dan jarang ditemukan sebelum
usia 40 tahun. Prostat normal pada pria mengalami peningkatan ukuran yang lambat dari lahir
sampai pubertas, dimana pada selang waktu tersebut terjadi peningkatan cepat dalam ukuran
yang berkelanjutan sampai usia akhir 30-an.
Berdasarkan angka autopsi perubahan mikroskopik pada prostat sudah dapat ditemukan
pada usia 30-40 tahun. Bila perubahan mikroskopik ini terus berkembang akan terjadi perubahan
patologi anatomi. Pada pria usia 50 tahun angka kejadiannya sekitar 50% dan pada usia 80 tahun
sekitar 80%. Sekitar 50% dari angka tersebut diatas akan menyebabkan gejala dan tanda klinik.
Dari beberapa autopsi dalam ukuran prostat dan insiden histologi hiperplasia prostat,
mereka melaporkan bahwa prostat tumbuh dengan cepat selama masa remaja sampai ukuran
dewasa dalam tiga dekade dan pertumbuhan melambat sampai laki-laki mencapai usianya yang
ke 40 dan 50 tahun, mulai memasuki pertumbuhan yang makin lama makin besar. Mereka juga
menetapkan insiden hiperplasia prostat makin meningkat dengan meningkatnya usia dimulai dari
dekade ke-3 kehidupan dan menjadi sangat besar pada waktu usia 80-90 tahun.

Patogenesis
Biasanya ditemukan gejala dan tanda obstruksi dan iritasi. Gejala dan tanda obstruksi
saluran kemih berarti penderita harus menunggu pada permulaan miksi, miksi terputus, menetes
pada akhir miksi, pancaran miksi menjadi lemah dan rasa belum puas sehabis miksi. Gejala
iritasi disebabkan hipersensitivitas otot detrusor yang berarti bertambahnya frekuensi miksi,

10

nokturia, miksi sulit ditahan, dan disuria. Gejala obstruksi terjadi karena detrusor gagal
berkontraksi dengan cukup kuat atau gagal berkontraksi cukup lama sehingga kontraksi terputusputus. Gejala iritasi terjadi karena pengosongan yang tidak sempurna pada saat miksi atau
pembesaran prostat menyebabkan rangsangan pada kandung kemih sehingga vesika sering
berkontraksi meskipun belum penuh.
Apabila vesika menjadi dekompensasi, akan terjadi retensi urin sehingga pada akhir
miksi masih ditemukan sisa urin di dalam kandung kemih dan timbul rasa tidak tuntas pada akhir
miksi. Jika keadaan ini berlanjut, pada suatu saat akan terjadi kemacetan total sehingga penderita
tidak mampu lagi miksi. Produksi urin yang terus terjadi, pada suatu saat vesika tidak mampu
lagi menampung urin sehingga tekanan intravesika terus meningkat. Apabila tekanan vesika
menjadi lebih tinggi dibanding tekanan sfingter dan obstruksi akan terjadi inkontinensia
paradoks. Retensi kronik menyebabkan refluks vesiko-ureter, hidroureter, hidronefrosis dan
gagal ginjal. Proses kerusakan ginjal dipercepat bila terjadi infeksi. Karena selalu terdapat sisa
urin, dapat terbentuk batu endapan di dalam kandung kemih. Batu ini dapat menambah keluhan
iritasi dan menimbulkan hematuria.
Obstruksi akibat BPH dapat dibagi menjadi obstruksi mekanik dan dinamik. Saat terjadi
pembesaran prostat, obstruksi mekanik mungkin merupakan akibat adanya penekanan ke lumen
uretra atau leher vesika urinaria, yang menyebabkan tahanan pelepasan kandung kemih yang
lebih tinggi. Sebelum adanya pembagian zona prostat, ahli urologi sering membagi prostat
menjadi 3 lobus yaitu lobus median dan 2 lobus lateral. Ukuran prostat pada pemeriksaan rectal
touche (RT) kurang begitu berhubungan dengan keluhan yang dirasakan pasien.
Komponen dinamik dari obstruksi prostat menjelaskan sifat dari keluhan yang dirasakan
pasien. Stroma prostat, terdiri dari otot polos dan kolagen, yang kaya dengan persarafan
adrenergik. Penggunaan penghambat -adrenergik menurunkan tonus dari uretra pars prostatika,
yang menurunkan tahanan pada kandung kemih.
Obstruksi saluran kandung kemih menyebabkan hipertrofi muskulus detrusor,
hiperplasia serta penumpukan kolagen. Penebalan muskulus detrusor dapat menjadi trabekulasi
pada pemeriksaan sistoskopi. Jika dibiarkan, terjadi herniasi mukosa antara muskulus detrusor,
selanjutnya terrbentuk divertikula (yang tersusun oleh lapisan mukosa dan serosa).
11

Gejala Klinis
Hiperplasia prostat hampir mengenai semua orang tua tetapi tidak semuanya disertai
dengan gejala-gejala klinik. Gejala klinis yang menonjol dan hiperplasia prostat adalah sumbatan
saluran kencing bagian bawah. Terjadinya gejala tersebut dapat disebabkan oleh dua komponen,
pertama adanya penekanan yang bersifat menetap pada uretra (komponen statik) dimana terjadi
peningkatan volume prostat yang pada akhirnya akan menekan uretra pars prostatika dan
mengakibatkan terjadinya hambatan aliran kencing. Kedua disebabkan oleh peningkatan tonus
kelenjar prostat yang diatur oleh sistem saraf otonom (komponen dinamik) yang akhimya dapat
meninggikan tekanan dan resistensi uretra, hal tersebut selanjutnya menyebabkan terjadinya
sumbatan aliran kencing.
Tanda dan gejala hiperplasia prostat antara lain sering buang air kecil, nocturia,
pancaran urin lemah, urin yang keluar menetes-netes pada bagian akhir masa buang air kecil.
Gejala hiperplasia prostat biasanya memperlihatkan dua tipe yang saling berhubungan, obstruksi
dan iritasi.
Keluhan obstruktif meliputi : hesitansi, penurunan kekuatan pancaran, dan kaliber aliran
urin, sensasi inkomplit dari pengosongan kandung kemih, intermiten, kencing mengedan dan
kencing menetes. Gejala obstruksi terjadi karena otot detrusor gagal berkontraksi dengan cukup
kuat atau gagal berkontraksi cukup lama sehingga kontraksi terputus-putus.
Keluhan iritatif meliputi urgensi, frekuensi dan nokturia. Anamnesis yang lengkap
mengenai keluhan traktus urinaria juga bertujuan untuk menyingkirkan etiologi selain prostat,
seperti infeksi saluran kemih, neurogenik bladder, striktur uretra, atau kanker prostat.
Gejala iritasi biasanya lebih memberatkan pasien dibandingkan obstruksi. Gejala iritasi
timbul karena pengosongan kandung kemih yang tidak sempurna pada akhir miksi atau
pembesaran prostat menyebabkan rangsangan pada kandung kemih, sehingga kandung kemih
sering berkontraksi meskipun belum penuh. Bila terjadi dekompensasi akan terjadi retensi urin
sehingga urin masih berada dalam kandung kemih pada akhir miksi. Retensi urin kronik
menyebabkan refluk vesiko-ureter, hidroureter, hidronefrosis dan gagal ginjal. Proses kerusakan
ginjal dipercepat bila terjadi infeksi.

12

Gejala dan tanda obstruksi maupun iritasi diberi skoring untuk menentukan berat
keluhan klinik. Pada waktu miksi penderita hampir selalu mengedan, sehingga lama kelamaan
akan menyebabkan hernia atau hermoroid. Karena selalu terdapat sisa urin dapat terbentuk batu
endapan dalam kandung kemih.
Adanya batu saluran kemih menambah keluhan iritasi dan menimbulkan hematuria.
Hematuria bisa juga terjadi karena ruptur dari vena-vena yang berdilatasi pada leher vesika
uninaria. Selain itu, batu tersebut bisa menyebabkan sistitis dan bila terjadi refluk dapat terjadi
pyelonefritis. Kadang-kadang tanpa sebab yang diketahui penderita sama sekali tidak dapat miksi
sehingga harus dikeluarkan dengan kateter.
Dengan pemeriksaan colok dubur, dapat memberi kesan keadaan tonus spingter anus,
kelainan yang berada di mukosa rektum dan pembengkakan dalam rektum dan prostat. Pada
pemeriksaan ini harus diperhatikan konsistensi prostat (pada hiperplasia prostat konsistensinya
kenyal) apakah simetris, adakah nodul pada prostat, apakah batas atas teraba. Apabila batas atas
masih bisa diraba biasanya diperkirakan berat prostat kurang dan 60 gram. Tentu saja penentuan
berat prostat dengan cara ini tidak akurat. Sebaliknya colok dubur cukup baik untuk mengetahui
adanya keganasan prostat. Pada karsinoma prostat, prostat teraba keras atau teraba benjolan yang
konsistensinya lebih keras dari sekitarnya atau letaknya asimetris dengan bagian yang lebih
keras.
Retensi urin dapat teriadi dengan kelenjar yang dirasakan normal pada pemeniksaan
colok dubur, sebaliknya kelenjar yang dirasakan membesar bisa tidak menimbulkan gejala
obstruksi saluran keluar vesika urinaria. Derajat berat obstruksi dapat diukur dengan menentukan
jumlah sisa urin setelah penderita miksi spontan. Sisa urin ditentukan dengan mengukur urin
yang masih dapat keluar dengan kateterisasi. Volume sisa urin setelah miksi normal pada pria
dewasa sekitar 35 ml. Sisa urin dapat juga diketahui dengan ultrasonografi kandung kemih
setelah miksi, sisa urin lebih dari 100 ml, biasanya dianggap sebagai batas indikasi untuk
melakukan intervensi pada hiperplasia prostat.

Komplikasi
Komplikasi yang sering terjadi akibat hipertrofi prostat jinak adalah :
13

1. Perdarahan (gross hematuria).


2. Pembentukan bekuan
3. Obstruksi kateter
4. Disfungsi seksual, namun hal ini tergantung dari jenis pembedahan yang dilakukan.
5. Batu pada buli-buli
6. Retensi urin yang dapat menyebabkan refluks vesiko ureter, hidroureter (ureter yang
melebar), hidronefrosis (ginjal yang melebar), hingga penurunan fungsi ginjal sampai
gagal ginjal.
7. Proses kerusakan ginjal dipercepat bila terjadi infeksi saat miksi.
8. Insufisiensi ginjal
9. Infeksi saluran kemih berulang
10. Inkontinensia (akibat sumbatan total urin sehingga isi vesika urinaria terlalu penuh).

Tatalaksana
Rekomendasi terapi spesifik dapat diberikan pada kelompok pasien tertentu. Pada
pasien dengan keluhan ringan (skor IPSS < 7), disarankan untuk pengamatan lebih lanjut.
Indikasi operasi absolut meliputi retensi urin refrakter, infeksi saluran kemih berulang, gross
hematuria berulang, batu buli, dan insufisiensi ginjal akibat BPH, atau adanya divertikula
kandung kemih yang cukup besar.
Watchful Waiting
Artinya pasien tidak mendapatkan terapi apapun tetapi perkembangan penyakitnya
keadaannya tetap diawasi oleh dokter. Pilihan tanpa terapi ini ditujukan untuk pasien BPH
dengan skor IPSS < 7, yaitu keluhan ringan yang tidak menggangu aktivitas sehari-hari.
Beberapa guidelines masih menawarkan watchful waiting pada pasien BPH bergejala dengan
skor sedang (IPSS 8-19). Pasien dengan keluhan sedang hingga berat (skor IPSS > 7), pancaran
urine melemah (Qmax < 12 mL/detik), dan terdapat pembesaran prostat > 30 gram tentunya
tidak banyak memberikan respon terhadap watchful waiting. Pada watchful waiting ini, pasien

14

tidak mendapatkan terapi apapun dan hanya diberi penjelasan mengenai hal-hal yang mungkin
dapat memperburuk keluhannya, antara lain :
(1) Jangan banyak minum dan mengkonsumsi kopi atau alkohol setelah makan malam,
(2) Kurangi konsumsi makanan atau minuman yang menyebabkan iritasi pada bulibuli (kopi atau cokelat),
(3) Batasi penggunaan obat-obat influenza yang mengandung fenilpropanolamin,
(4) Kurangi makanan pedas dan asin, dan
(5) jangan menahan kencing terlalu lama.
Setiap 6 bulan, pasien diminta untuk datang kontrol dengan ditanya dan diperiksa
tentang perubahan keluhan yang dirasakan, IPSS, pemeriksaan laju pancaran urine, maupun
volume residual urine. Jika keluhan miksi bertambah jelek daripada sebelumnya, mungkin perlu
dipikirkan untuk memilih terapi yang lain.

Terapi Medikamentosa

Penghambat alfa-adrenergik
Pada prostat dan basis vesika urinaria mengandung alfa-1-adrenoreseptor, dan prostat

menunjukkan respon kontraksi pada pemberian agonis alfa adrenergik. Fungsi kontraksi dari
prostat dan leher kandung kemih dimediasi oleh reseptor subtipe alfa-1a. Penghambat alfaadrenergik menunjukkan adanya perbaikan keluhan objektif maupun subjektif pada pasien BPH.

5--reduktase inhibitor
Finasteride merupakan penghambat 5--reduktase yang mencegah perubahan

testosteron menjadi dihidrotestosteron. Obat ini mempengaruhi komponen epitel dari prostat,
yang menyebabkan berkurangnya ukuran kelenjar prostat dan perbaikan gejala. Terapi selama 6
bulan diperlukan untuk mendapatkan efek maksimal obat terhadap ukuran prostat (berkurang
20%) dan perbaikan keluhan. Namun, perbaikan keluhan hanya terlihat pada pasien dengan
ukuran prostat > 40 cm3.
Efek samping obat antara lain penurunan libido, penurunan volume ejakulasi, dan
impotensi. Kadar serum PSA berkurang menjadi sekitar 50% pada pasien yang diterapi dengan
finasteride (bervariasi pada masing-masing individu).

15

Dutasteride berbeda dari finasteride karena menghambat isoenzim dari 5--reduktase.


Mirip dengan finasteride, dutasteride mengurangi kadar serum PSA dan ukuran prostat. Efek
samping utamanya antara lain disfungsi ereksi, penurunan libido, ginekomastia, dan kelainan
ejakulasi.

Fitofarmaka
Beberapa ekstrak tumbuh-tumbuhan tertentu dapat dipakai untuk memperbaiki gejala

akibat obstruksi prostat, tetapi data-data farmakologik tentang kandungan zat aktif yang
mendukung mekanisme kerja obat fitoterapi sampai saat ini belum diketahui dengan pasti.
Kemungkinan fitoterapi bekerja sebagai: anti-estrogen, antiandrogen, menurunkan
kadar sex hormone binding globulin (SHBG), inhibisi basic fibroblast growth factor (bFGF) dan
epidermal growth factor (EGF), mengacaukan metabolisme prostaglandin, efek antiinflamasi,
menurunkan outflow resistance, dan memperkecil volume prostat. Di antara fito-terapi yang
banyak dipasarkan adalah: Pygeum africanum, Serenoa repens, Hypoxis rooperi, Radix urtica
dan masih banyak lainnya.

Terapi Pembedahan
Indikasi pembedahan yaitu pada BPH yang sudah menimbulkan komplikasi,
diantaranya sebagai berikut :

Retensi urine karena BPO

Infeksi saluran kemih berulang karena obstruksi prostat

Hematuria makroskopik

Batu buli-buli karena obstruksi prostat

Gagal ginjal yang disebabkan obstruksi prostat, dan

Divertikulum buli buli yang cukup besar karena obstruksi

Transurethral resection of the prostate (TURP)


95% prostatektomi sederhana dapat dilakukan secara endoskopi. Sebagian besar

prosedur ini menggunakan teknik anestesi spinal dan memerlukan 1-2 hari perawatan di rumah
sakit. Skor keluhan dan perbaikan laju aliran urine lebih baik dibandingkan terapi lain yang

16

bersifat minimal invasive. Risiko TURP meliputi ejakulasi retrograd (75%), impotensi (5-10%),
dan inkontinensia (<1%).
TURP lebih sedikit menimbulkan trauma dibandingkan prosedur bedah terbuka dan
memerlukan masa pemulihan yang lebih singkat. Secara umum TURP dapat memperbaiki gejala
BPH hingga 90%, meningkatkan laju pancaran urine hingga 100%.17
Komplikasi operasi antara lain perdarahan, striktur uretra, atau kontraktur pada leher
kandung kemih, perforasi dari kapsul prostat dengan ekstravasasi, dan pada kondisi berat terjadi
sindroma TUR yang disebabkan oleh keadaan hipervolemik dan hipernatremia akibat absorbsi
cairan irigasi yang bersifat hipotonis. Manifestasi klinis sindroma TUR antara lain nausea,
muntah, hipertensi, bradikardi, confusing, dan gangguan penglihatan. Risiko terjadinya sindroma
TUR meningkat pada reseksi yang lebih dari 90 menit. Penatalaksanaan meliputi diuresis dan
pada kondisi berat diberikan larutan hipertonis.

Transurethral Incision of the Prostate (TUIP)


Pria dengan keluhan sedang sampai berat dan ukuran prostat yang kecil sering

didapatkan adanya hyperplasia komisura posterior (terangkatnya leher kandung kemih). Pasien
tersebut biasanya lebih baik dilakukan insisi prostat.
Prosedur TUIP lebih cepat dan morbiditasnya lebih rendah dibandingkan TURP. Teknik
TUIP meliputi insisi dengan pisau Collin pada posisi jam 5 dan 7. Insisi dimulai di arah distal
menuju orifisium ureter dan meluas ke arah verumontanum.

Prostatektomi Terbuka Sederhana


Ketika ukuran prostat terlalu besar untuk direseksi secara endoskopi, enukleasi terbuka

dapat dilakukan. Kelenjar prostat yang lebih dari 100 g biasanya merupakan indikasi enukleasi
terbuka. Prostatektomi terbuka juga dilakukan pada pasien dengan disertai divertikulum atau
batu buli atau jika posisi litotomi tidak mungkin dilakukan.

Prognosis
Gejala pada pasien yang menderita BPH akan terus meningkat, namun progresitasnya
pada masing-masing individunya tentunya akan berbeda. Untuk itu diperlukan diagnosis dini

17

yang tepat, agar dapat menentukan terapi secepatnya bagi pasien, BPH yang tidak segera
ditanggulangi memiliki prognosis yang buruk karena dapat berkembang menjadi kanker prostat.

Pencegahan
Sekarang ini sudah beredar suplemen makanan yang dapat membantu mengatasi
pembesaran kelenjar prostat. Salah satunya adalah suplemen yang kandungan utamanya saw
palmetto. Berdasarkan hasil penelitian, saw palmetto menghasilkan sejenis minyak, yang
bersama-sama dengan hormon androgen dapat menghambat kerja enzim 5-alpha reduktase,
yang berperan dalam proses pengubahan hormon testosteron menjadi dehidrotestosteron
(penyebab BPH). Hasilnya, kelenjar prostat tidak bertambah besar.11,16,20
Zat-zat gizi juga penting untuk menjaga kesehatan prostat antara lain : 11,16,20

Vitamin A, E, dan C, antioksidan yang berperan penting dalam mencegah pertumbuhan


sel kanker, karena menurut penelitian, 5-10% kasus BPH dapat berkembang menjadi
kanker prostat.

Vitamin B1, B2, dan B6, yang dibutuhkan dalam proses metabolisme karbohidrat, lemak,
dan protein, sehingga kerja ginjal dan organ tubuh lain tidak terlalu berat.

Copper (gluconate) dan Parsley Leaf, yang dapat membantu melancarkan pengeluaran air
seni dan mendukung fungsi ginjal.

L-Glysine, senyawa asam amino yang membantu sistem penghantaran rangsangan ke


susunan syaraf pusat.

Zinc, mineral ini bermanfaat untuk meningkatkan produksi dan kualitas sperma.

Kesimpulan
Daftar Pustaka
1.C. Joseph, J. Christopher. 2008. Neoplasm of the prostate gland in Smiths General
Urology. McGraw Hill. Chapter 22. p. 348-69
2. Berman, Audrey. Buku Ajar Praktik Keperawatan Klinis. Ed.V. Jakarta: EGC; 2009.h.21.

3.

18