Anda di halaman 1dari 21

Fraktur Coxae Dextra

yang disebabkan
Osteoporosis

I SA B E L L A R EG I N A N I K E N S H I G A N G G U T
102012417 (E5)

Identifikasi Istilah Yang Tidak Diketahui


TIDAK ADA
Rumusan Masalah
Seorang perempuan 65 tahun mengeluh panggul
kanannya terasa sangat sakit dan tidak bia berdiri

Analisis Masalah
anamnesis
PF, PP

komplikasi

Etiologi

prognosis

epidemiologi

penatalaksanaan

patofisiologi
Faktor
risiko

Anamnesa

Keluhan utama
Riwayat penyakit sekarang
Riwayat penyakit dahulu
Riwayat penyakit Keluarga
Riwayat penyakit obat
Riwayat sosialisasi

Faktor lain yang harus di tanya


Penurunan tinggi badan
Kurangnya paparan sinar matahari
Asupan kalsium fosfor dan vitamin D
Riwayat haid
Umur menarche dan menopause

Pemeriksaan fisik
Kesadaran umum pasien
Keadaan umum
TTV :

Tekanan darah : 130/70 mmHg


Nadi : 90x/menit
RR: 20x/menit
Suhu: 36,5 c
Tinggi badan : 158 cm
Berat badan : 60 kg
Inspeksi ( tanda-tanda fraktur)
Palapasi ( nyeri tekan, nyeri tarik, krepitasi)

Pemeriksaan penunjang

Pemeriksaan radiologi
Pemeriksaan kalsium darah
Densitometri

Densitometri
Kategori Diagnostik

T-score

Normal

>-1

Osteopenia

<-1

Osteoporosis
Osteoporosis berat

<-2,5 (tanpa fraktur)


<-2,5 (dengan

fraktur)

Working diagnosis

Fraktur coxae dextra et causa

osteoporosis

Etiologi dan Epidemologi


Aktivitas osteoklas > osteoblas

Menopause
kadar kalsitonin
kadar androgen adrenal

Aktivitas fisik
absorpsi kalsium
Kulit putih > kulit hitam

Tabel 2. Faktor resiko osteoporosis


Umur
Setiap peningkatan umur 1 dekade berhubungan dengan peningkatan risiko 1,4-1,8
Genetik

Etnis ( kaukasus/oriental > orang hitam/polinesia )


Gender ( perempuan > laki-laki )
Riwayat keluarga
Lingkungan
Makanan, defisiensi kalsium
Aktivitas fisik dan pembebanan mekanik
Obat-obatan misalnya kortikosteroid, antikonvulsan, heparin

Merokok
Alkohol
Jatuh ( trauma )

Hormon endogen dan penyakit kronik


Defisiensi estrogen
Defisiensi androgen
Gastrektomi, sirosis, tirotoksitosis, hiperkortisolisme
Sifat fisik tulang
Densitas masa tulang
Ukuran dan geometri tulang
Mikro arsitektur tulang
Kompoisi tulang

Tipe-tipe osteoporosis
Osteoporosis tipe I (pasca menopause)

Osteoporosis tipe II (gangguan absorbsi kalsium di usus)


Tipe1
Umur (tahun)

50-75

Perempuan/laki-laki

6/1

Tipe kerusakan tulang

terutama trabekular

Bone turnover

tinggi

Lokasi fraktur terbanyak


Fungsi paratiroid

vertebra,radius distal
menurun

Efek estrogen

terutama skeletal

Etiologi utama

defisiensi estrogen

Tipe 2
>70
2/1
trabekular dan kortikal
rendah
vertebra, collum femoris
meningkat
terutama extra skeletal
penuaan dan defisiensi estrogen

Peran estrogen pada tulang

estrogen ( homesotasis kalsium yang meliputi

regulasi absorbsi kalsium di usus, modulasi 1,25


(OH)2D, ekskresi kalsium di ginjal dan ekskresi
hormone paratiroid.

Patogenesis osteoporosis tipe 1

Patogenesis osteoporosis tipe 2

Penatalaksanaan
menghambat kerja osteoklas (anti resorptif)

- estrogen, anti estrogen, bisfosfonat


dan kalsitonin
meningkatkan kerja osteoblas (stimulator tulang)
- Na-flourida, PTH

Edukasi dan pencegahan


Olahraga teratur

Jaga asupan kalsium 1000-1500 mg/hari


Hindari merokok dan minum alkohol
Diagnosis dini dan terapi yang tepat

Hindari mengangkat barang berat


Hindarkan penderita dari hal yang menyebabkan

terjatuh
Hindari defisiensi vitamin D
Hindari ekskresi kalsium dan asupan natrium

Komplikasi osteoporosis

Beberapa orang yang menderita osteoporosis juga

menderita nyeri
penurunan kualitas hidup
untuk beberapa orang bahkan cacat permanen.
Sering kali bagi mereka yang menderita dari
fraktur osteoporosis mereka tidak pernah
sepenuhnya pulih

Efek glukokortikoid pada tulang


Histofotometri

Efek pada osteoblas dan formasi tulang


Efek pada resorpsi tulang
Efek pada hormone seks

Absorbsi kalsium di usus dan eksresi kalsium di

ginjal.
Efek pada metabolism hormone paratiroid dan
vitamin D

Prognosis

Semakin tinggi derajat BMD prognosis semakin baik

karena semakin rendah juga resiko menderita


fraktur.

Kesimpulan

Tulang merupakan bangunan pembentuk kerangka

manusia, tempat melekatnya jaringan otot sehingga


membentuh tubuh. Semua aktivitas dapat dilakukan
karena tubuh memiliki tulang yang kuat. Kelainan
pada osteoporosis seringkali secara diam-diam ibarat
kayu yang digerigoti rayap, setelah keropos kayu itu
akan mudah patah. Demikian pula dengan
osteoporosis, setelah tulang keropos, muncullah
gejala patah tulang yang terkesan mendadak.