Anda di halaman 1dari 17

LAPORAN PRAKTIKUM

FISIKA TANAH

PENGUKURAN KURVA RETENSI KADAR AIR TANAH DENGAN


HANGING METHOD

Oleh:
Raden Fahmi Husaini
NIM. A1H012033

KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN


UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN
FAKULTAS PERTANIAN
PURWOKERTO

2014

I. PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Penilaian kondisi fisik tanah di lapangan sebaiknya ditunjang oleh hasil


analisis di laboratorium. Dari berbagai sifat fisik tanah yang dapat ditetapkan
dilaboratorium, daya menaahan tanah teradap air atau retensi air merupakan salah
satu parameter yang penting untuk diketahui, retensi air secara umum tergantung
pada susunan atau distribusi ukuran partikel tanah, dan pengaturan atau struktur
partikel butiran tanah. Kandungan bahan organik dan komposisi larutan juga
berperan dalam menentukan fungsi retensi. Bahan organik mempunyai pengaruh :
langsung pada fungsi retensi, karena secara alami bersifat hidropilik dan tidak
langsung, karena berfungsi dalam memperbaiki struktur tanah.
Untuk menetapkan retensi air tanah dapat dilakukan dengan memberikan
tekanan pada contoh tanah jenuh air, dengan berbagai kekuatan tekanan pada
selang waktu tertentu (biasanya 48 jam). Sehingga mencapai titik keseimbangan,
selanjutnya ditetapkan kadar air tanahnya. Berbagai kekuatan tekanan yang
diberikan, pada dasarnya berhubungan dengan distribusi ukuran pori dan kapiler
yang terdapat di dalam tanah. Semakin kecil ukuran pori dan kapiler, semakin
besar tenaga yang dibutuhkan untuk mengeluarkan atau menghisap air yang
terkandung didalamnya. Karakteristik sistem pori tanah penting artinya dalam
hubungannya dengan penyimpanan serta pergerakan air dan udara di dalam tanah,

perakaran tanaman, masalah perambatan dan retensi panas, serta daya tahan
panas.
Tekanan yang diberikan biasanya disertakan dengan kemampuan tanah
dalam meloloskan air secara alami, penyediaan air bagi tanaman, dan kadar air
tanah dimana tanaman sudah tidak mampu menyerap air. Dengan demikian,
secara umum hasil analisis retensi air ini sangat berguna dalam pengaturan dan
efisiensi air irigasi, khususnya yang berhubungan dengan kebutuhan air untuk
tanaman dan pengolahan tanah, dengan berpedoman pada kondisi kapasitas
lapang, air tersedia dan titik layu permanen.

B. Tujuan
1.

Mengetahui cara pengukuran kurva retensi kadar air tanah dengan


menggunakan hanging method.

2.

Mengetahui skala pF pada pengukuran titik layu permanen dan kapasitas


lapang.

II. TINJAUAN PUSTAKA

Contoh tanah yang diambil dari lapisan permukaan untuk menentukan


hubungan antara kadar air pada berbagai hisapan matriks potensial (tegangan air)
tanah atau kurva pF, sebaliknya dikemas kembali atau menggunakan contoh tanah
mempengaruhi retensi air, terutama pada tekanan yang rendah. Untuk itu
disepakati, lebih baik menggunakan contoh tanah dengan struktur alami. Contoh
tanah yanh diambil dengan menggunakan ring akan memperoleh contoh tanah
dengan struktur tak terganggu (undisturbed) disimpan di dalam silinder yang
aman. Logam berdinding tipis dengan satu sisi yang dipertajam memungkinkan
untuk ditekan atau dimasukkan ke dalam tanah.
Penggunaan contoh tanah yang dikemas kembali, dapat memberikan hasil
yang tidak mewakili contoh tanah di tempat asal, sekalipun tanah yang dikemas
kembali itu kepadatannya sama dengan tanah ditempat asal. Penghancuran,
pengeringan, dan pengayakan tanah dapat merubah struktur tanah.
Retensi air tanah ditetapkan dengan memberikan tekanan pada contoh tanah
jenuh air dengan berbagai kekuatan tekanan. Pada dasarya, kekuatan tekanan yang
diberikan berhubungan dengan distribusi ukuran pori dan kapiler yang terdapat
didalam tanah. Presentase volume tanah yang tidak ditempati oleh bagian padat
tanah disebut porositas tanah. Jumlah seluruh ruang pori yang ada di dalam massa
tanah disebut dengan ruang pori total. Pada tanah kering mutlak, seluruh ruang

pori terisi oleh air, sedangkan pada tanah lembab, sebagian pori terisi udara dan
sebagian lagi terisi oleh air dalam perbandingan tertentu.
Retensi air biasanya ditampilkan dalam bentuk kurva, dikenal dengan kurva
pF. Dengan demikian, untuk satu contoh tanah perlu dilakukan penetapan
kandungan air tanah pada berbagai tekanan. Sehubungan dengan perbedaan
tekanan tekanan yang diberikan, maka diperlukan juga spesifikasi dan kapasitas
peralatan yang digunakan. Menurut klute (1986) terdapat tiga sistem, masingmasing sesuai untuk cakupan pengukuran yang diinginkan, yaitu (1) sistem
bertekanan rendah (low-range system), dinama sistem ini utamanya disesuaikan
untuk pengukuran pada tinggi tekanan matriks potensial tanah antara 0 dan 200
cm kolom air, (2) sistem bertekanan sedang (med-range system) dengan cakupan
pengukuran dengan besaran tekanan matriks potensial tanah anatar 200 dan 1000
cm tinggi kolom air, dan (3) sistem bertekanan tinggi kolom air atau 1 - 15 atm.
Besarnya tekanan biasanya dinyatakan dalam satuan atmosfer (atm) dan
dapat juga dipadankan dengan tinggi kolom air (cm) serta nilai pF yang
bersangkutan. Nilai pF adalah logaritma (log 10) dari tegangan air tanah yang
dinyatakan dalam cm kolom air, hubungan antara ukuran pori tanah dan tekanan
yang diperlukan untuk mengeluarkan air dari dalam pori tersebut, yang
disetarakan dengan cm tinggi kolom air, serta nilai pF untuk masing - masing
hisapan matriks potensial.
Pengetahuan tentang ukuran pori tanah lebih bermanfaat dibandingkan
dengan hanya pori total. Dengan mengetahui ukuran pori tanah dapat dilakukan
pengelompokan pori-pori tanah dalam hubungannya dengan kemampuan tanah

memegang air yang dapat tersedia bagi tanaman. Berdasarkan pada keragaman
dari penampang pori dan kapiler tanah, maka besarnya tekanan yang diperlukan
untuk mengeluarkan air dari pori tersebut juga berbeda - beda.
Menurut de Boodt (1972) pori - pori yang berdiameter kurang dari 0,2
mikron disebut pori tidak berguna, karena akar tanaman tidak dapat mengambil
air dari dalam tanah dengan ukuran pori - pori tanah berukuran kurang dari 0,2
mikron hanya dpat dikeluarkan dengan kekuatan atau tekanan hisap lebih dari 15
atm (pF 4,2).

III.

METODOLOGI

A. Alat dan Bahan

1. Sampel tanah
2. Air
3. Penggaris
4. Suntikan
5. Timbangan analitis
6. Stopwatch
7. Alat Hanging
8. Tabung Erlenmeyer

B. Prosedur Kerja

1. Alat hanging disiapkan pada tiang seperti sample chamber, porous plate,
cylinder ring, horizontal manometer, mariotte tube, three bays valve.
2. Mariottetube diisi dengan air secukupnya sampai air masuk kedalam semua
selang.
3. Mengalirkan selang masuk kedalam tabung erlenmeyer yang sudah terletak
diatas timbangan analitik dengan berat sudah 0 gram.

4. Ring sample diisi dengan sample tanah kemudian ring sample ditutup dengan
menggunakan sample chamber yang sudah diletakkan diatas porous plate.
5. Melakukan pengamatan dan menggambar alat - alat yag digunakan dalam
praktimum.

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Hasil

Terlampir

B. Pembahasan
Titik layu permanen
Titik layu permanen meruakan kandungan air tanah dimana tanaman
sepenuhnya layu, dan pada akhirnya mati, karena tidak mampu lagi
mengembalikan fungsi turgor dan aktivitas biologisnya. Ketika tanaman layu,
kandungan air di dalam daun mencapai nilai tertentu, tergantung jenis tanaman
dan stadium pertumbuhannya, serta kondisi lingkungan. Pada titik layu permanen
-

-30

bar).
Kadar air tersedia
Kadar air tersedia secara teoritis didefinisikan pada kondisi kelembaban
tanah terletak diantara kandungan lengas kapasitas lapang sebagai batas atas dan
kandungan lengas tanah titik layu permanen sebagai batas bawah. Pada jenis tanah
yang berbeda, berbeda pula kandungan lengas yang tersedia.

Pori air tersedia merupakan selisih kandungan air antara pF 2,54 (kapastas
lapang) dan pF 4,2 (titik layu permanen).
Kapasitas lapang
Kapasitas lapang adalah presentase kelembaban yang ditahan oleh
tanahsesudah terjadinya drainase dan kecepatan gerakan air ke bawah menjadi
sangatlambat. Selama air di dalam tanah masih lebih tinggi daripada kapasitas
lapang,maka air menjadi tidak mobile. Kapasitas lapang sangat penting karena
dapatmenunjukkan kandungan maksimum dari tanah dan dapat menentukan
jumlah air pengairan yang diperlukan untuk membasahi tanah sampe lapisan
dibawahnya.Tergantung dari tekstur lapisan tanahnya, maka untuk menaikkan
kelembaban 1feet tanah kering sampai kapasitas lapang diperlukan air pengairan
sebesar 0,5-3inches (Anonim, 2010).

Faktor-faktor yang mempengaruhi kapasitas lapang


1.

Istilah-istilah Yang Berkaitan Dengan Kinerja Lapang Alat Mesin


Pertanian
Kecepatan penggarapan suatu lapang dengan sebuah mesin, merupakan
salah satu dasar pertimbangan dalam menghitung biaya pengerjaan
tersebut per satuan luas.
Kapasitas lapang teoritis sebuah alat ialah kecepatan penggarapan lahan
yang akan diperoleh seandainya mesin tersebut melakukan kerjanya
memanfaatkan 100 % waktunya, pada kecepatan maju teoritisnya dan selalu
memenuhi 100 % lebar kerja teoritisnya.

Waktu per hektar teoritis ialah waktu yang dibutuhkan pada kapasitas
lapang teoritis tersebut.
Waktu kerja efektif ialah waktu sepanjang mana mesin secara aktual
melakukan fungsi/kerjanya. Waktu kerja efektif per hektar akan lebih besar
dibanding waktu kerja teoritik per hektar jika lebar kerja terpakai lebih kecil
dari lebar kerja teoritisnya.
Kapasitas lapang efektif ialah rerata kecepatan penggarapan yang aktual
menggunakan suatu mesin, didasarkan pada waktu lapang total sebagaimana
didefinisikan pada Bagian 2. Kapasitas lapang efektif biasanya dinyatakan
dalam hektar per jam.
Efisiensi lapang ialah perbandingan antara kapasitas lapang efektif dengan
kapasitas lapang teoritis, dinyatakan dalam persen. Efisiensi lapang melibatkan
pengaruh waktu hilang di lapang dan ketakmampuan untuk memanfaatkan
lebar teoritis mesin.
Efisiensi kinerja ialah suatu ukuran efektifitas fungsional suatu mesin,
misalnya prosentase perolehan produk bermanfaat dari penggunaan sebuah
mesin pemanen.
2. Kapasitas Lapang Efektif
Kapasitas lapang efektifsuatu alat merupakan fungsi dari lebar kerja
teoritis mesin, prosentase lebarteoritis yang secara aktual terpakai, kecepatan
jalan dan besarnya kehilangan waktu lapang selama pengerjaan. Dengan alatalat semacam garu, penyiang lapang,pemotong rumput dan pemanen padu,
secara praktis tidak mungkin untukmemanfaatkan lebar teoritisnya tanpa

adanya tumpang tindih. Besarnya tumpang tindih yang diperlukan terutama


merupakan fungsi dari kecepatan, kondisi tanah dan ketrampilan operator. Pada
beberapa keadaan, hasil suatu tanaman bisa jadi terlalu banyak sehingga
pemanen tidak dapat digunakan memanen selebar lebar kerjanya, bahkan pada
kecepatan maju minimum yang masih mungkin.
3. Waktu Hilang Untuk Belok
Belok di ujung atau di sudut suatu lapang menghasilkan suatu kehilangan
waktu yang seringkali sangat berarti, terutama pada lapang-lapang pendek.
Tidak peduli apakah suatu lapang dikerjakan pulang balik, dari tepi ke tengah
ataukah digarap dengan mengelilingi titik pusatnya, jumlah waktu belok per
satuan luas untuk sebuah alat dengan lebar tertentu akan berbanding terbalik
dengan panjang lapang. Untuk suatu lapang persegi tertentu digarap searah
panjangnya ataukah memutarinya, jumlah putaran perjalanan yang diperlukan
akan sama pada ketiga cara di atas. Menggarap secara pulang balik
memerlukan 2 kali belokan 1800 per putaran, sedang kedua cara lainnya
mencakup empat belokan 90o per putaran.
4. Waktu Hilang Yang Sebanding dengan Luas.
Beberapa waktu hilang, semacam karena istirahat dan penyetelan atau
pemeriksaan alat, biasanya cenderung sebanding dengan waktu kerja efektif
(atau dengan waktu lapang total) jika kecepatan kerja atau lebar alat ditambah.
Perjalanan tak kerja melintasi ujung lapang cenderung sebanding dengan waktu
kerja efektif jika kecepatan kerja normal dipertahankan saat melintasi ujung.

5. Waktu Hilang Berkenaan dengan Kehandalan Mesin


Peluang kerusakan alat, yang akan berakibat hilangnya waktu di lapang,
adalah berbanding terbalik dengan kehandalan mesin. Kehandalan keberhasilan
dapat didefinisikan sebagai peluang statistik berfungsinya suatu alat secara
memuaskan pada kondisi tertentu sepanjang periode waktu tertentu. Sebagai
contoh, jika sebuah alat memiliki kehandalan keberhasilan 1000 jam sebesar 90
%, rerata 10 % dari alat tersebut akan rusak sebelum 1000 jam dan 90 %-nya
akan berumur pakai lebih dari 1000 jam. Cara lain untuk menyatakan
kehandalan keberhasilan ialah dengan menyatakannya sebagai rerata selang
waktu antara terjadinya kerusakan-kerusakan.
6. Menghitung Waktu Hilang dan Efisiensi Lapang
Pengkajian waktu hilang telah dilakukan oleh sejumlah penyelidik untuk
menentukan efisiensi lapang dan memberi informasi untuk keperluan analisa
lapang. Pengkajian waktu terinci meliputi pengamatan dan pencatatan waktu
secara menerus pada tiap kegiatan yang tercakup dalam pengerjaan lapang,
untuk satu atau lebih perioda hari. Jika K = 100 %, efisiensi lapang ialah
persentase total waktu lapang sepanjang mana mesin secara aktual
menghasilkan fungsinya, dan dapat ditentukan secara langsung dari data waktu.
7. Memperbaiki Efisiensi Lapang
Dengan bertambah komplek dan bertambah mahalnya mesin, makin
pentinglah untuk mendapatkan keluaran maksimum dari mesin tersebut.
Meminimumkan waktu hilang di lapang merupakan salah satu cara guna

memperbaiki kapasitas lapang. Para insinyur dapat menyumbang usaha


mendapatkan efisiensi yang tinggi dengan merancang mesin yang memiliki
kehandalan maksimum dan kebutuhan perawatan minimum.
Penentuan kurva retensi
Penentuan kurva retensi air tanah merpakan langkah penting dalam
pengelolaan air tanah untuk berbagai keperluan, seperti irigasi pertanian, transpor
pestisida dalam tanah, residu pupuk dalam tanah, bahan bahan polutan dari
limbah industri ataupun perumahan yang mengalir dalam tanah. Kurva retensi
merupakan hubungan antara tegangan air tanah dengan kadar air menggambarkan
karakteristik penahanan matriks tanah terhadap air, kemampuan tanah untuk
menyediakan air tanaman, ataupun pola distribusi pori tanah.
Kemampuan tanah ditentukan oleh sifat fisik dan sifat kimianya, maka
penting untuk mengetahui sifat fisik dan kimianya. Pertumbuhan tanaman sangat
dipengaruhi oleh sifat - sifat fisik tanah seperti tekstur, struktur dan kekuatan
tanah. Kemampuan tanah untuk menahan air harus mendapatkan perhatian yang
serius agar tidak mengganggu ketersediaan air tanah dalam upaya mendapatkan
produksi tanaman yang optimum. Untuk memperbaiki kemampuan tanah dalam
menahan air salah satunya dengan memperbaiki struktur, distribusi ukuran
partikel serta tekstur tanah. Tyler and Wheatcraft (1992) menyatakan bahwa
analisa distribusi ukuran partikel dan tekstur satu bentuk dari sebagian besar
diskripsi umum tanah lapangan ini dapat digunakan untuk menduga sidat fisik
tanah termasuk retensi air, berat isi, permeabilitas dan porositas.

Infiltrasi merupakan proses masuknya air ke dalam tanah. Air yang telah
ada di dalam tanah kemudian akan bergerak ke bawah oleh gravitasi dan disebut
dengan perkolasi. Laju infiltrasi air ke dalam tanah, dalam hubungannya dengan
pengisian kembali tanah oleh air hujan atau oleh air irigasi, sangat penting.
Apabila daya infiltrasi tanah besar,berarti air mudah meresap kedalam tanah,
sehingga aliran permukaan kecil. Akibat erosi yang terjadi juga kecil. Daya
infiltrasi tanah dipengaruhi oleh porositas dan kemampuan struktur tanah. Karena
bentuk struktur tanah yang membulat (granuler, remah, gumpal membulat),
menghasilkan tanah dengan porositas tinggi sehingga air mudah meresap kedalam
tanah, dan aliran permukaan menjadi kecil, sehingga erosi juga kecil. Demikian
pula tanah - tanah yang mempunyai struktur tanah yang mantp (kuat), yang berarti
tidak mudah hancur oleh pukulan - pukulan air hujan, akan tahan terhadap erosi.
Sebaliknya struktur tanah yang tidak mantap, sangat mudah hancur oleh pukulan
air hujan, menjadi butiran - butiran halus sehingga menutup pori - pori tanah.
Akibatnya air infiltrasi terhambat dan aliran permukaan meningkat yang berarti
erosi juga meningkat.

V. KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan
1. Pori air tersedia merupakan selisih kandungan air antara pF 2,54 (kapastas
lapang) dan pF 4,2 (titik layu permanen).
2. Titik layu permanen meruakan kandungan air tanah dimana tanaman
sepenuhnya layu, dan pada akhirnya mati, karena tidak mampu lagi
mengembalikan fungsi turgor dan aktivitas biologisnya.
3. Infiltrasi merupakan proses masuknya air ke dalam tanah.
4. Besarnya tekanan biasanya dinyatakan dalam satuan atmosfer (atm) dan dapat
juga dipadankan dengan tinggi kolom air (cm) serta nilai pF yang
bersangkutan.
5.

Nilai pF adalah logaritma (log 10) dari tegangan air tanah yang dinyatakan
dalam cm kolom air, hubungan antara ukuran pori tanah dan tekanan yang
diperlukan untuk mengeluarkan air dari dalam pori tersebut, yang disetarakan
dengan cm tinggi kolom air, serta nilai pF untuk masing - masing hisapan
matriks potensial.

6. Deviasi yang signifikan dari isi tanah air telah terdeteksi sebagai air tanah
hisap melebihi 15.000 hPa. Deviasi kadar air terukur meningkat dengan
mengurangi kadar air hingga 0.300cm3.cm-3. Implikasi dari hasil ini
menunjukkan lebih halus standarisasi ketegangan lebih lanjut menentukan
status air di atas 10.000 hPa yang diperlukan.

B.Saran

1.

Untuk jadwal praktikum sebaiknya jangan mendadak.

2.

Alat-alat yang digunakan untuk praktikum harap diperbaiki untuk


menghasilkan suatu penelitian yang presisi.

DAFTAR PUSTAKA
Asdak, C. 1995. Hidrologi Dan Pengelolaan Daerah Aliran Sungai. Gadjah Mada
Univercity Press, Yogyakarta.
De Boodt, M. 1972. Soil Physics. International Training Center for Post
Graduate in Soil Science. State University of Ghent, Belgia.
Hakim, N.,et al. 1986. Dasar-Dasar Ilmu Tanah. Penerbit Universitas Lampung,
Sumatera Selatan.
Harrya, D. 1976. Ilmu Tanah. Bhratara Karya Aksara. Jakarta.
Islami, T., et al. 1995. Hubungan Tanah, Air dan Tanaman. IKIP Semarang Press,
Malang.
Klute, A. 1986. Water Retention: Laboratory Methods. Methods of Soil Analysis.
Part 1. Madison, Wisconsin. USA.
Lembaga Penelitian Tanah.1979. Penuntun Analisa Fisika Tanah. LPT. Bogor.
Lembaga Penelitian Tanah. 1980. Term of Reference (TOR) Tipe A Pemetaan
Tanah. Proyek Penelitian Pertanian Menunjang Transmigrasi (P3MT).
Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian. Bogor.

Beri Nilai