Anda di halaman 1dari 14

http://www.artikelkedokteran.com/540/pengertian-dasar-imunisasi.

html
IV. IMUNISASI WAJIB
PROGRAM PENGEMBANGAN IMUNISASI (PPI)

Jenis imunisasi ini mencakup vaksinasi terhadap 6 penyakit utama, yaitu BCG, DPT, Polio dan
Campak. Harus menjadi perhatian dan kewajiban orang tua untuk memberi kesempatan kepada
anaknya mendapat imunisasi lengkap, sehingga sasaran Pemerintah agar setiap anak mendapat
imunisasi dasar terhadap 6 penyakit utama pada tahun 1990 dapat tercapai.
1. Vaksin BCG
Vaksinasi dan jenis vaksin: pemberian imunisasi BCG bertujuan untuk menimbulkan kekebalan
aktif terhadap penyakit tuberkulosis (TBC). Vaksin BCG mengandung kuman BCG (Bacillus
Calmette guerin) yang masih hidup. Jenis kuman TBC ini telah dilemahkan.
Penjelasan penyakit: di Indonesia dan di negara sedang berkembang lainnya, TBC masih
merupakan penyakit rakyat yang sangat mudah menular. Di negara yang sudah berkembang,
penyakit ini sudah sangat jarang ditemukan, karena dilaksanakannya imunisasi BCG dengan luas,
pengawasan ketat terhadap penderita TBC dan perbaikan keadaan sosial ekonomi.
Seorang anak akan menderita TBC karena terhisapnya percikan udara yang mengandung kuman
TBC, yang berasal dari orang dewasa berpenyakit TBC. Mungkin juga bayi sudah terjangkit
penyakit TBC sewaktu lahir. Ia terinfeksi kuman TBC sewaktu masih dalam kandungan, bila ibu
mengidap penyakit TBC. Tetapi hal ini jarang terjadi. Pada anak yang terinfeksi, kuman TBC dapat
menyerang berbagai alat tubuh. Yang diserangnya ialah paru (paling sering), kelenjar getah
bening, tulang, sendi, ginjal, hati atau selaput otak. TBC selaput otak merupakan jenis TBC yang
paling berat. Salah satu dari sekian banyak upaya pemberantasan penyakit TBC ialah imunisasi
BCG. Dengan imunisasi BCG diharapkan penyakit TBC dapat diberantas dan kejadian TBC yang
berat dapat dihindari.
Cara imunisasi: pemberian imunisasi BCG sebaiknya dilakukan ketika bayi baru lahir sampai
berumur 2 bulan. Setiap 5 tahun imunisasi diulang 9lihatlah jadwal pemberian imunisasi, hal 61).
Pada anak yang berumur lebih dari 2 bulan, dianjurkan untuk melakukan uji Mantoux sebelum
imunisasi BCG. Gunanya untuk mengetahui apakah ia telah terjangkit penyakit TBC. Seandainya
hasil uji Mantoux positif, anak tersebut selayaknya tidak mendapat imunisasi BCG.
Tetapi bila imunisasi BCG akan dilakukan secara massal (misalnya di sekolah, RT/RW, perusahaan,
pabrik), maka pemberian suntikan BCG dilaksanakan secara langsung tanpa uji Mantoux terlebih
dahulu. Hal ini dilakukan mengingat pengaruh beberapa faktor, seperti segi teknis penyuntikan
BCG, keberhasilan program imunisasi, segi epidemiologik dan lain-lain. Penyuntikan BCG tanpa
dilakukan uji Mantoux pada dasarnya tidaklah membahayakan. Namun seandainya orang tua
merasa bimbang karena anak anda dengan tidak terduga mendapat imunisasi BCG di sekolah,
sebaiknya anda bertanya kepada dokter atau petugas kesehatan lain.
Bila pemberian imunisasi BCG itu berhasil, setelah beberapa Minggu di tempat suntikan akan
terdapat benjolan kecil. Tempat suntikan itu kemudian berbekas. Kadang-kadang benjolan
tersebut bernanah, tetapi akan menyembuh sendiri meskipun lambat. Biasanya penyuntikan BCG
dilakukan di lengan kanan atas. Karena luka suntikan meninggalkan bekas dan mengingat segi
kosmetiknya, pada bayi perempuan dapat diminta suntikan di paha kanan atas.
Kekebalan : Seperti telah diuraikan di atas, jaminan imunisasi tidaklah mutlak 100% bahwa anak
anda akan terhindar sama sekali dari penyakit TBC. Seandainya bayi yang telah mendapat
imunisasi terjangkit juga penyakit TBC, maka ia akan menderita penyakit TBC ini dalam bentuk
yang ringan. Ia pun akan terhindar dari kemungkinan mendapat TBC yang berat, seperti TBC paru
yang parah, TBC tulang atau TBC selaput otak yang dapat mengakibatkan cacat seumur hidup dan
membahayakan jiwa anak anda.
Reaksi imunisasi: biasanya setelah suntikan BCG bayi tidak akan menderita demam. Bila ia
demam setelah imunisasi BCG umumnya disebabkan oleh keadaan lain. Untuk hal ini dianjurkan
agar anda berkonsultasi dengan dokter.
Efek samping: umumnya pada imunisasi BCG jarang dijumpai akibat samping. Mungkin terjadi
pembengkakan kelenjar getah bening setempat yang terbatas dan biasanya menyembuh sendiri

walaupun lambat. Bila suntikan BCG dilakukan di lengan atas, pembengkakan kelenjar terdapat di
ketiak atau leher bagian bawah. Suntikan di paha dapat menimbulkan pembengkakan kelenjar di
selangkangan. Komplikasi pembengkakan kelenjar ini biasanya disebabkan arena teknik
penyuntikan yang kurang tepat, yaitu penyuntikan terlalu dalam. Dalam masalah komplikasi yang
ringan ini, bila terdapat keraguan dipersilahkan anda berkonsultasi dengan dokter.
Indikasi kontra: tidak ada larangan untuk melakukan imunisasi BCG, kecuali pada anak yang
berpenyakit TBC atau menunjukkan uji Mantoux positif.

Pemberian imunisasi BCG sebaiknya dilakukan sedini-dininya, dalam waktu beberapa hari
setelah bayi lahir.
Cara pemberian imunisasi BCG bagi perorangan berlainan dengan pemberian secara
massal.
-

Imunisasi BCG secara massal tanpa didahului uji Mantoux, tidak membahayakan.

Dengan imunisasi BCG akan anda akan bebas terjangkit penyakit TBC. Setidak-tidaknya ia
terhindar dari penyakit TBC yang berat dan parah.

2. Vaksin DPT (Difteriaa, Pertusis, Tetanus)


Vaksin dan jenis vaksin: manfaat pemberian imunisasi ini ialah untuk menimbulkan kekebalan
aktif dalam waktu yang bersamaan terhadap penyakit difteria, pertusis (batuk rejan) dan tetanus.
Dalam peredaran di pasaran terdapat 3 jenis kemasan vaksin ketiga penyakit ini. Anda dapat
memperolehnya dalam bentuk kemasan tunggal khususnya bagi tetanus, dalam bentuk kombinasi
DT (difteria dan tetanus), dan kombinasi DPT (dikenal pula sebagai vaksin tripel).
Cara imunisasi: imunisasi dasar diberikan 2-3 kali, sejak bayi berumur 2 bulan dengan jarak
waktu antara 2 penyuntikan 4-6 minggu. Imunisasi dasar dengan 3 kali penyuntikan lebih baik
daripada dengan 2 kali penyuntikan. Untuk imunisasi massal (di sekolah, RT/RW), biasanya cukup
diberikan 2 kali penyuntikan. Imunisasi ulang lazimnya diberikan ketika anak berumur 1 2
tahun, menjelang umur 5 tahun (sebelum masuk sekolah dasar), dan menjelang umur 10 tahun
(sebelum keluar Sekolah Dasar), masing-masing hanya diberi 1 kali suntikan.
Dalam hal imunisasi ulang ini anda tidak perlu cemas, seandainya anak mendapat suntikan ulang
sebelum waktunya. Kejadian demikian sering dialami para ibu. Dokter harus memberikannya bila
terjadi kontak antara anak dengan penderita lain, misalnya penyakit difteria atau batuk rejan.
Atau bila diduga luka pada anak akan terinfeksi tetanus. Demikian pula dalam keadaan yang
meragukan atau mencurigakan, biasanya dokter akan memberikan suntikan ulang. Para ahli telah
sepakat, bahwa lebih baik memberikan imunisasi berlebih daripada kurang.
Reaksi imunisasi: reaksi yang mungkin terjadi biasanya demam ringan, pembengkakan dan rasa
nyeri di tempat suntikan selama 1 2 hari.
Efek samping: kadang-kadang terdapat akibat samping yang lebih berat, seperti demam tinggi
atau kejang, yang biasanya disebabkan oleh unsur pertusisnya. Bila hanya diberikan DT (difteria
dan tetanus) tidak akan menimbulkan akibat samping demikian.
Indikasi kontra: imunisasi DPT tidak boleh diberikan kepada anak yang sakit parah, pernah
menderita kejang atau pada penyakit gangguan kekebalan (defisiensi imunologik). Sakit batuk,
pilek, demam atau diare yang sifatnya ringan, bukan merupakan indikasi kontra yang mutlak.
Dokter akan mempertimbangkan pemberian imunisasi, seandainya anak anda sedang menderita
sakit ringan.
3. Vaksin DT (difteria, Tetanus)
Jenis vaksin: vaksin ini dibuat untuk keperluan khusus. Misalnya anak anda tidak diperbolehkan
atau tidak lagi memerlukan imunisasi pertusis, tetapi masih memerlukan imunisasi difteria atau
tetanus.
Cara imunisasi: pemberian imunisasi dasar dan ulangan sama dengan pada imunisasi DPT.
Efek samping: akibat samping biasanya tidak ada atau hanya berupa demam ringan dan
pembengkakan lokal di tempat suntikan selama 1 2 hari.
Indikasi kontra: hanya pada anak yang sakit parah atau sedang menderita demam tinggi. Dengan
pengawasan dokter, anak yang pernah kejang masih dapat diberikan imunisasi DT.

Untuk lebih jelasnya, di bawah ini akan diuraikan secara terinci mengenai masing-masing vaksin
difteria, tetanus dan pertusis.
4. Vaksin Difteria
Vaksinasi dan jenis vaksin: Vaksin difteri terbuat dari toksin kuman difteri yang telah dilemahkan
(=toksoid). Biasanya diolah dan dikemas bersama-sama dengan vaksin tetanus dalam bentuk
vaksin DT, atau dengan vaksin tetanus dan pertusis dalam bentuk vaksin DPT.
Penjelasan penyakit: Di Indonesia difteri masih banyak dijumpai, bahkan mungkin timbul secara
luas dalam waktu bersamaan. Di negara maju pun difteri masih belum lenyap, misalnya di
Amerika Serikat masih terdapat di pelosok perkotaan yang penduduknya padat dan kurang
mampu.
Penyakit difteri disebabkan oleh sejenis bakteria yang disebut Corynebacterium diphtheriae.
Sifatnya sangat ganas dan mudah menular. Seorang anak akan terjangkit difteri bila ia
berhubungan langsung dengan anak lain sebagai penderita difteri atau sebagai pembawa kuman
(carrier), yaitu dengan terhisapnya percikan udara yang mengandung kuman. Bila anak nyata
menderita difteri dapat dengan mudah dipisahkan. Tetapi seorang carrier akan tetap berkeliaran
dan bermain dengan temannya yang belum pernah mendapat imunisasi akan tertular penyakit
difteri yang diperoleh dari temannya sendiri yang menjadi carrier.
Anak yang terjangkit difteri akan menderita demam tinggi. Selain itu pada tonil (amandel) atau
tenggorok terlihat selaput putih kotor. Dengan cepat selaput ini meluas ke bagian tenggorok
sebelah dalam dan menutupi jalan nafas, sehingga anak seolah-olah tercekik dan sukar bernafas.
Kegawatan lain pada difteri ialah adanya racun yang dihasilkan oleh kuman difteri. Racun ini dapat
menyerang otot jantung, ginjal dan beberapa serabut saraf. Kematian akibat difteri sangat tinggi;
biasanya disebabkan anak tercekik oleh selaput putih pada tenggorok atau karena lemah
jantung akibat racun difteri yang merusak jantung.
Cara imunisasi: pemberian imunisasi difteri biasanya dilakukan bersama-sama dengan tetanus
(Vaksin DT) dan batuk rejan (vaksin DPT), sejak bayi berumur 2 bulan (lihatlah jadwal imunisasi
hal. 61). Mula-mula diberikan dalam bentuk imunisasi dasar sebanyak 2-3 kali suntikan dengan
jarak waktu antara 2 suntikan 4-6 minggu. Kemudian disusul dengan imunisasi ulang pada umur 1
2 tahun, menjelang umur 5 tahun dan menjelang umur 10 tahun. Imunisasi ulang sewaktu
diperlukan juga bila anak anda berhubungan dengan anak lain yang menderita difteri. Jadi bila
anak terjangkit difteri, maka anak lain yang tinggal serumah harus mendapat imunisasi ulang
meski pun belum waktunya.
Kekebalan: Daya proteksi atau daya lindung vaksin difteri cukup baik yaitu sebesar 80-95%.
Reaksi imunisasi: Jarang terjadi, mungkin berupa demam ringan selama 1-2 hari.
Efek samping: biasanya tidak ada
Indikasi kontra: Hanya pada anak yang menderita demam tinggi atau sakit parah.
5. Vaksin tetanus
Vaksinasi dan jenis vaksin: Seperti telah dikemukakan, terhadap penyakit tetanus dikenal 2
jenis imunisasi, yaitu imunisasi aktif dan imunisasi pasif. Vaksin yang digunakan untuk imunisasi
aktif ialah toksoid tetanus, yaitu toksin kuman tetanus yang telah dilemahkan dan kemudian
dimurnikan. Ada 3 macam kemasan vaksin tetanus, yaitu bentuk kemasan tunggal, kombinasi
dengan vaksin difteri (vaksin DT), atau kombinasi dengan vaksin difteri dan pertusis (vaksin DPT).
Vaksin untuk imunisasi pasif dikenal dengan ATS (Anti Tetanus Serum). Serum anti tetanus ini
diperoleh dengan pengolahan serum yang berasal dari kuda yang mendapat imunisasi aktif
tetanus. Serum kuda yang telah diolah itu mengandung banyak zat anti tetanus. Jenis vaksin ini
dapat dipakai untuk pencegahan (imunisasi pasif), maupun pengobatan.
Penjelasan penyakit: penyakit tetanus masih terdapat di seluruh dunia, karena kemungkinan
anak mendapat luka tetap ada, misalnya terjatuh, luka tusuk, luka bakar, koreng, gigitan
binatang, gigi bolong, radang telinga. Luka tersebut merupakan pintu masuk kuman tetanus yang
dikenal sebagai Clostridium tetani. Kuman ini akan berkembang biak dan membentuk racun yang
berbahaya. Racun inilah yang merusak sel susunan saraf pusat tulang belakang yang menjadi
dasar timbulnya gejala penyakit. Gejala tetanus yang khas adalah kejang dan kaku secara
menyeluruh, otot dinding perut yang teraba keras dan tegang seperti papan, mulut kaku dan
sukar dibuka, serta muka yang menyeringai serupa setan.

Kejadian tetanus jarang dijumpai di negara yang telah berkembang tetapi masih banyak terdapat
di negara yang sedang berkembang, terutama dengan masih seringnya kejadian tetanus pada bayi
baru lahir (tetanus neonatorum). Penyakit ini terjadi karena kumanClostridium tetani memasuki
tubuh bayi baru lahir melalui tali pusat yang kurang terawat. Dukung memotong tali pusat dengan
memakai pisau atau sebilah bambu yang tidak steril. Tali pusat mungkin pula dirawat dengan
berbagai ramuan, abu, daun-daunan dan sebagainya. Oleh karena itu untuk mencegah kejadian
tetanus neonatorum ini, secara berkala Departemen Kesehatan mengadakan kursus perawatan ibu
dan bayi terhadap para dukun. Upaya lain untuk pencegahannya ialah pemberian imunisasi aktif
kepada ibu hamil pada trimester akhir yang persalinannya diduga akan ditolong oleh dukun.
Seandainya seorang ibu melahirkan bayi yang ditolong oleh dukun dan sebelumnya tidak pernah
mendapat imunisasi tetanus, maka seharusnya bayi itu segera dibawa ke dokter/Puskesmas.
Gunanya untuk mendapatkan perlindungan terhadap penyakit tetanus dengan pemberian Serum
Anti Tetanus (ATS). Cara perlindungan terhadap bayi baru lahir ini merupakan contoh suatu
imunisasi pasif.
Angka kematian tetanus masih sangat tinggi, yaitu pada bayi baru lahir sebesar 80-90%, pada
anak berumur 2-7 tahun sebesar 20-70%, dan pada anak berumur 8-12 tahun adalah 60%. Angka
kematiannya pada orang dewasa juga masih tinggi, yaitu 70-80%.
Cara imunisasi: Imunisasi dasar dan ulang pada anak diberikan sama dengan imunisasi difteria
(lihatlah jadwal imunisasi, hal. 61). Pada imunisasi tetanus, setelah anak berumur 10 tahun masih
harus tetap mendapat suntikan ulang secara berkala setiap 5 tahun selama masa hidup
selanjutnya.
Pada ibu hamil pemberian imunisasi tetanus dilakukan sebanyak 2 kali, masing-masing pada
kehamilan bulan ke-7 dan ke-8. sevaksinasi (vaksinasi ulang) dilakukan secara berkala setiap 5
tahun.
Untuk mencegah tetanus pada bayi baru lahir:
-

Imunisasi aktif dengan toksoid tetanus pada ibu hamil menjelang kelahiran bayi.

Seandainya kelahiran seorang bayi ditolong oleh dukun, bayi secepatnya dibawa ke
dokter/puskesmas untuk mendapat imunisasi pasif dengan serum anti tetanus.

Pertanyaan yang sering diajukan oleh ibu tentang imunisasi tetanus ialah: Bagaimana tindakan
seorang ibu seandainya anak mendapat luka karena kecelakaan. Dalam menghadapi masalah ini
sebaiknya anda berkonsultasi kepada dokter/Puskesmas, meskipun anak anda pernah mendapat
imunisasi tetanus. Dokter akan mempertimbangkan beberapa kemungkinan tindakan seperti
berikut:
(1)

Anak tidak perlu mendapat imunisasi tetanus

(2)

Anak hanya mendapat toksoid tetanus

(3)

Anak mendapat toksoid tetanus dan ATS bersama-sama

Selain luka, di Indonesia sumber utama lain tempat masuknya kuman Clostridium tetani pada
anak ialah radang telinga. Orang Jakarta mengatakan congean. Gejalanya berupa keluarnya
cairan berbau khas dari liang telinga. Bagi anak yang sering menunjukkan gejala keluarnya cairan
dari liang telinga dan belum pernah mendapat imunisasi tetanus, sangat dianjurkan untuk
mendapatkannya. Karena bila anak terinfeksi tetanus tidak jarang akan berakhir dengan suatu
kematian, yang pasti akan sangat disesalkan hanya karena gara-gara congean!
Kekebalan: daya proteksi vaksin tetanus sangat baik, yaitu sebesar 90-95%.
Reaksi imunisasi: Reaksi akibat imunisasi aktif tetanus biasanya tidak ada. Mungkin terdapat
demam ringan atau rasa nyeri, rasa gatal dan pembengkakan ringan di tempat suntikan yang
berlangsung selama 1-2 hari.
Efek samping: Pada imunisasi aktif dengan toksoid tetanus hampir tidak efek samping. Pada
pemberian imunisasi pasif dengan ATS mungkin terjadi reaksi yang lebih serius, seperti gatal
seluruh tubuh, nyeri kepala, bahkan renjatan (shock). Oleh karena itu penyuntikan ATS
seyogianya di bawah pengamatan dokter.
Indikasi kontra: tidak ada, kecuali pada anak yang sakit parah.
6. Vaksin Pertusis (Batuk rejan, Pertussis)

Vaksinasi dan jenis vaksin: Vaksin terbuat dari kuman Bordetella pertusis yang telah dimatikan.
Selanjutnya dikemas bersama dengan vaksin difteria dan tetanus (vaksin DPT, vaksin tripel).
Penjelasan penyakit: penyakit batuk rejan, atau lebih dikenal dengan batuk 100 hari,
disebabkan oleh kuman Bordetella pertusis. Penyakit ini cukup parah bila diderita oleh anak balita,
bahkan dapat menyebabkan kematian pada bayi berumur kurang dari 1 tahun. Gejalanya sangat
khas, yaitu anak tiba-tiba batuk keras secara terus menerus, sukar berhenti, muka menjadi merah
atau kebiruan, keluar air mata dan kadang-kadang sampai muntah. Karena batuk yang sangat
keras, mungkin akan disertai dengan keluarnya sedikit darah. Batuk akan berhenti setelah ada
suara melengking pada waktu menarik nafas. Kemudian anak nampak letih dengan wajahnya yang
lesu. Batuk semacam ini terutama terjadi malam hari.
Bila penyakit ini diderita oleh seorang bayi, terutama yang baru berumur beberapa bulan, akan
merupakan keadaan yang sangat berat dan dapat berakhir dengan kematian akibat suatu
komplikasi. Komplikasi yang sering terjadi ialah kejang. Kerusakan otak atau radang paru. Batuk
rejan jarang berakhir dengan kematian bila terjadi pada anak yang lebih besar, dengan ketentuan
kesehatan anak tersebut ada di bawah pengamatan dokter atau petugas kesehatan yang
berwenang.
Cara imunisasi: Imunisasi biasanya dilakukan bersama dengan vaksinasi difteria dan tetanus,
dengan cara penyuntikan vaksin DPT. Karena perjalanan penyakit pada anak berumur lebih dari 5
tahun tidak parah dan mengingat kemungkinan efek samping imunisasi pertusis pada golongan
umur lanjut lebih buruk, ada pendapat untuk tidak memberikan sevaksinasi pertusis pada anak
berumur lebih dari 5 tahun. Dengan demikian, imunisasi ulang hanya diberikan pada umur 1 2
tahun dan ketika menjelang umur 5 tahun.
Kekebalan: Daya proteksi vaksin pertusis masih rendah, yaitu 50-60%. Oleh karena itu tidak
jarang anak yang telah mendapat imunisasi pertusis masih terjangkit penyakit batuk rejan, tetapi
dalam bentuk yang lebih ringan. Oleh para sarjana masih sedang diteliti untuk mendapatkan jenis
vaksin yang lebih murni dan berdaya proteksi lebih tinggi.
Reaksi imunisasi: Reaksi akibat imunisasi dapat berupa demam selama 1-2 hari atau
pembengkakan lokal di tempat suntikan.
Efek samping: walaupun jarang terjadi, mungkin dijumpai efek samping berupa kejang.
Indikasi kontra: imunisasi pertusis tidak boleh diberikan pada anak yang sakit parah, anak
dengan gejala penyakit saraf, atau anak yang pernah kejang, juga tidak boleh diberikan kepada
anak dengan batuk yang diduga mungkin sedang menderita batuk rejan dalam tahap awal, atau
pada anak yang menderita penyakit defisiensi kekebalan.
7. Vaksin Poliomielitis
Vaksinasi dan jenis vaksin: imunisasi diberikan untuk mendapatkan kekebalan terhadap
penyakit poliomielitis. Terdapat 2 jenis vaksin dalam peredaran, yang masing-masing mengandung
virus polio tipe I, II dan III, yaitu:
(1) Vaksin yang mengandung virus polio tipe I, II, dan III yang sudah dimatikan (vaksin Salk).
Cara pemberian vaksin ini ialah dengan penyuntikan.
(2) Vaksin yang mengandung virus polio tipe I, II, dan II yang masih hidup, tetapi dilemahkan
(vaksin Sabin). Cara pemberiannya ialah melalui mulut dalam bentuk pil atau cairan.
Di Indonesia yang lazim diberikan ialah vaksin jenis Sabin. Kedua jenis vaksin tersebut
mempunyai kebaikan dan kekurangannya. Kekebalan yang diperoleh sama baiknya. Karena cara
pemberiannya lebih mudah melalui mulut, maka lebih sering dipakai jenis Sabin. Di beberapa
negara dikenal Tetra vaccine yang mengandung 4 jenis vaksin, yaitu kombinasi DPT dan polio,
cara pemberiannya dengan suntikan.
Penjelasan penyakit: Poliomielitits ialah penyakit infeksi akut yang disebabkan oleh virus polio.
Telah dikenal 3 jenis polio, yaitu tipe I, II dan III. Virus polio akan merusak bagian anterior
(bagian muka) susunan saraf tulang belakang. Penyakit ini terutama banyak terdapat di negara
yang sedang berkembang. Di Indonesia di Semarang tahun 1954, di Medan tahun 1957. Gejala
penyakit ini sangat bervariasi, dari gejala ringan sampai timbul kelumpuhan, bahkan mungkin
suatu kematian. Gejala yang umum dan mudah dikenal ialah anak mendadak menjadi lumpuh
pada salah satu anggota geraknya, setelah ia menderita demam selama 2-5 hari. Bila kelumpuhan
itu terjadi pada otot pernafasan, mungkin anak akan meninggal karena sukar bernafas. Penyakit
ini dapat langsung menular dari seorang penderita polio atau dengan melalui makanan.

Cara imunisasi: di Indonesia dipakai vaksin Sabin yang diberikan melalui mulut. Imunisasi dasar
diberikan ketika anak berumur 2 bulan, sebanyak 2-3 kali. Jarak waktu antara 2 pemberian ialah
4-6 minggu. Sevaksinasi diberikan ketika anak berumur 1 2 tahun, menjelang umur 5 tahun
dan menjelang umur 10 tahun (lihatlah jadwal imunisasi, hal 61). Vaksin polio dapat diberikan
bersama dengan vaksin DPT. Pada pemberian vaksin polio perlu diperhatikan bayi yang masih
mendapat ASI. Karena ASI mengandung zat anti terhadap polio, maka dalam waktu 2 jam setelah
minum vaksin polio bayi tersebut tidak diberi ASI dahulu. Zat anti yang terdapat dalam ASI akan
menghancurkan vaksin polio, sehingga imunisasi polio menjadi gagal. Sebenarnya masalah ini
masih dipertentangkan. Pada saat ini, banyak sarjana berpendapat bahwa tidak ada pengaruh ASI
terhadap imunisasi polio. ASI dapat diberikan seperti biasa, karena sifat dan jenis antibodi pada
ASI berlainan.
Masalah lain yang sering dipertanyakan adalah tentang perlunya pemberian imunisasi ulang
seandainya seorang anak pernah terjangkit polio. Jawabannya: Ya, masih diperlukan imunisasi
ulang. Alasannya adalah mungkin anak yang menderita polio ini hanya terjangkit oleh virus polio
tipe I. Artinya, bila penyakitnya telah menyembuh ia hanya mempunyai kekebalan terhadap virus
polio tipe I, tetapi tidak memungkinkan kekebalan terhadap jenis virus polio tipe II dan III.
Sehingga untuk mendapat kekebalan terhadap kedua jenis virus tersebut perlu diberikan imunisasi
ulang polio.
Kekebalan: Daya proteksi vaksin polio sangat baik, yaitu sebesar 95-100%.
Reaksi imunisasi: biasanya tidak ada, mungkin pada bayi akan terdapat berak-berak ringan.
Efek samping: Pada imunisasi polio hampir tidak terdapat efek samping. Bila ada, mungkin
berupa kelumpuhan anggota gerak seperti pada penyakit polio sebenarnya.
Indikasi kontra: Pada anak dengan diare berat atau yang sedang sakit parah, imunisasi polio
sebaiknya ditangguhkan. Demikian pula pada anak yang menderita penyakit defisiensi kekebalan
tidak diberikan polio. Alasan untuk tidak memberikan vaksin polio pada keadaan diare berat ialah
kemungkinan terjadinya diare yang lebih parah. Pada anak dengan penyakit batuk, pilek, demam
atau diare ringan, imunisasi polio dapat diberikan seperti biasanya.
8. Vaksin Campak (Morbili)
Vaksinasi dan jenis vaksin: Imunisasi diberikan untuk mendapat kekebalan terhadap penyakit
campak secar aktif. Vaksin campak mengandung virus campak hidup yang telah dilemahkan.
Vaksin campak yang beredar di Indonesia dapat diperoleh dalam bentuk kemasan kering tunggal
atau dalam kemasan kering di kombinasi dengan vaksin gondong/bengok (mumps) dan rubela
(campak Jerman). Di Amerika Serikat kemasan terakhir ini dikenal dengan nama MMR (Measles
Mumps-Rubela Vaccine).
Penjelasan
penyakit:
istilah
asing
untuk
penyakit
campak
ialah Marbilli (Latin), Measles(Inggris). Penyakit ini sangat mudah menular. Kuman penyebabnya
ialah sejenis virus yang termasuk ke dalam golongan paramyxo virus. Gejala yang khas yaitu
timbulnya bercak-bercak merah di kulit (eksantem), 3-5 hari setelah anak menderita deman,
batuk atau pilek. Bercak merah ini mula-mula timbul di pipi di bawah telinga. Kemudian menjalar
ke muka, tubuh dan anggota gerak. Pada stadium berikutnya bercak merah tersebut akan
berwarna cokelat kehitaman dan akan menghilang dalam waktu 7-10 hari kemudian. Tahap
penyakit ketika timbul gejala demam disebut stadium katarak. Tahap ketika kemudian timbul
bercak merah di kulit disebut stadium eksantem. Pada stadium katarak penyakit campak sangat
mudah menular kepada anak lain. Daya tular ini menjadi berkurang pada stadium eksantem.
Pada waktu stadium katarak dan stadium eksantem anak nampak sakit berat, lesu dan tidak ada
nafsu makan. Sebenarnya penyakit campak sendiri merupakan penyakit yang terbatas dan dapat
sembuh sendiri, tetapi sering diikuti oleh komplikasi yang cukup berat. Komplikasi penyakit
campak yang berbahaya ialah radang otak (ensefalitis atau ensefalopati), radang paru, radang
saluran kemih dan menurunnya keadaan gizi anak. Terutama pada anak yang kurang gizi, sering
terdapat komplikasi radang paru yang mungkin dapat mengakibatkan kematian.
Menurunnya berat badan anak akibat penyakti campak akan menyebabkan merendahnya daya
tahan, sehingga ia dengan mudah dihinggapi penyakit lain. Penyakit ini juga akan menyebabkan
lebih menurunnya berat badan dan begitulah seterusnya. Maka terdapat lingkaran setan antara
menurunnya berat badan, merendahnya daya tahan tubuh dan kejadian infeksi. Keadaan ini
mungkin berakhir dengan kematian.

Dengan memperhatikan komplikasi penyakit campak yang cukup berat ini, sebenarnya tidaklah
tepat pendapat tradisional bahwa sebaiknya anak itu dibiarkan menderita campak secara alamiah.
Atau dengan istilah awam: kalau anak sakit, biarkan supaya capkanya keluar.
Cara imunisasi: Bayi yang baru lahir telah mendapat kekebalan pasif terhadap penyakit campak
dari ibunya ketika ia dalam kandungan. Makin lanjut umur bayi, makin berkurang kekebalan pasif
tersebut. Waktu berumur 6 bulan biasanya bayi itu tidak mempunyai kekebalan pasif lagi. Dengan
adanya kekebalan pasif ini sangatlah jarang seorang bayi menderita campak pada umur kurang
dari 6 bulan.
Menurut WHO (1973) imunisasi campak cukup dilakukan dengan 1 kali suntikan setelah bayi
berumur 9 bulan. Lebih baik lagi setelah ia berumur lebih dari 1 tahun. Karena kekebalan yang
diperoleh berlangsung seumur hidup, maka tidak diperlukan revaksinasi lagi. Di Indonesia
keadaannya berlainan. Kejadian campak masih tinggi dan sering dijumpai bayi menderita penyakit
campak ketika ia berumur antara 6-9 bulan, jadi pada saat sebelum ketentuan batas umur 9 bulan
untuk mendapat vaksinasi campak seperti yang dianjurkan WHO. Dengan memperhatikan kejadian
ini, sebenarnya imunisasi campak dapat diberikan sebelum bayi berumur 9 bulan, misalnya pada
umur antara 6-7 bulan ketika kekebalan pasif yang diperoleh dari ibu mulai menghilang. Akan
tetapi kemudian ia harus mendapat satu kali suntikan ulang setlah berumur 15 bulan.
Bila ada seorang anak terjangkit campak, apakah imunisasi terhadap anak lain serumah yang
belum pernah campak perlu diberikan? Pertanyaan ini sering dikemukakan oleh para ibu. Vaksinasi
terhadap anak serumah yang mempunyai kontak dengan penderita campak dapat diberikan dalam
waktu 5 hari setelah terjadi kontak. Bila diberikan setelah hari ke-5, vaksinasi tidak akan
bermanfaat, karena anak sudah ketularan lebih dahulu dari anak penderita campak tadi. Yang
menjadi masalah ialah kesulitan menentukan waktu yang tepat terjadinya kontak. Untuk hal ini
sebagai patokan dapat diambil hari pertama terjadinya demam yang timbul pada penderita
campak tersebut, sebelum timbul bercak merah di kulit. Seperti diuraikan di atas masa penularan
yang paling berbahaya ialah pada awal penyakit, yaitu pada stadium katarak sebelum keluar
bercak merah. Dengan demikian dapat disimpulkan, bila seorang anak diketahui menderita
penyakit campak, yang biasanya dikenal ibunya karena timbulnya bercak merah, maka pada saat
ini tidak manfaatnya lagi untuk melakukan imunisasi pada anak lainnya. Saat kejadian ini biasanya
telah melampaui batas waktu 5 hari dari hari pertama terjadinya demam.
Seandainya anak serumah yang sudah ditulari virus campak, karena suatu hal tetap mendapat
imunisasi campak, hal ini tidak akan memperberat atau memperingan keadaan anak bila dalam
beberapa hari kemudian ia akan menderita campak yang sebenarnya.
Masalah lain yang sering timbul pada pihak ibu adalah perlukah vaksinasi campak diulang pada
anak yang telah menderita campak karena infeksi alamiah. Sebenarnya bila anak tersebut benarbenar telah menderita sakit campak, maka vaksinasi campak tidak perlu diberikan lagi.
Masalahnya adalah apakah anak tersebut benar-benar menderita campak? Biasanya seorang ibu
mendasarkan dugaan sakit anaknya itu hanya karena adanya demam yang disertai dengan
timbulnya bercak merah di kulit. Gejala demam dengan bercak merah tidak hanya terjadi pada
penyakit campak, tetapi dapat pula dijumpai pada penyakit lain, seperti penyakit demam 3 hari,
demam berdarah, campak Jerman, dan sebagainya.
Kekebalan: Daya proteksi imunisasi campak sangat tinggi, yaitu 96-99%. Menurut penelitian,
kekebalan yang diperoleh ini berlangsung seumur hidup, sama langgengnya dengan kekebalan
yang diperoleh bila anak terjangkit campak secara alamiah.
Reaksi imunisasi: Biasanya tidak terdapat reaksi akibat imunisasi. Mungkin terjadi demam
ringan dan nampak sedikit bercak merah pada pipi di bawah telinga pada hari ke 7-8 setelah
penyuntikan. Mungkin pula terdapat pembengkakan pada tempat suntikan.
Efek samping: Sangat jarang, mungkin terdapat kejang yang ringan dan tidak berbahaya pada
hari ke 10-12 setelah penyuntikan. Selain itu dapat terjadi radang otak, berupa ensefalitis atau
ensefalopati, dalam waktu 30 hari setelah imunisasi. Tetapi kejadiannya sangat jarang, yaitu 1
diantara 1 juta suntikan. Angka ini jauh lebih rendah dibandingkan dengan kejadian radang otak
akibat penyakit campak alamiah yang sebesar 1 diantara 250 kasus. Dengan demikian risiko untuk
terjadinya radang otak akibat infeksi alamiah 2.500 kali lebih besar daripada akibat imunisasi
(lihatlah tabel 1 pada hal. 12).
Demikian pula dapat terjadi akibat samping lain pada jaringan otak yang dikenal dengan istilah
SSPE (subacute sclerosing panencephalitis). Kejadiannya sangat jarang (1 diantara 1 juta
penderita campak).

Dari kenyataan angka-angka tersebut dapat disimpulkan, bahwa mengenai risiko terjadinya
kelainan otak akibat imunisasi ini tidak perlu terlampau dirisaukan, karena kejadiannya sangat
jarang. Selain itu, seandainya anak tersebut tidak mendapat imunisasi dan kemudian terjangkit
penyakit campak secara alamiah, maka ia tetap akan terjangkit kelainan otak serupa. Bahkan
dalam bentuk yang lebih parah.
Indikasi kontra: Menurut WHO (1963), indikasi kontra hanya berlaku terhadap anak yang sakit
parah, yang menderita TBC tanpa pengobatan, atau yang menderita kurang gizi dalam derajat
berat. Vaksinasi campak sebaiknya juga tidak diberikan pada anak dengan penyakit defisiensi
kekebalan. Juga tidak diberikan pada anak yang menderita penyakit keganasan atau sedang
dalam pengobatan penyakit keganasan. Karena belum terkumpulnya cukup informasi ilmiah,
sebaiknya imunisasi campak pada ibu hamil ditangguhkan. Pada anak yang pernah kejang,
imunisasi campak dapat diberikan seperti biasanya, asalkan dengan pengawasan dokter.

V. IMUNISASI YANG DIANJURKAN

Di Indonesia saat ini, dalam bidang imunisasi Departemen Kesehatan masih memberikan prioritas
utama terhadap 6 jenis penyakit yang tergabung dalam Program Pengembangan Imunisasi. Sesuai
dengan perkembangan pola hidup masyarakat dan kemajuan dalam bidang ilmu dan teknologi,
akan terjadi pula perubahan dalam pola penyakit. Hepatitis B misalnya, istilah awamnya penyakit
lever, muncul sebagai penyakit baru di negara yang beriklim tropis. Penyakit ini 20 tahun lalu
jarang terdengar di masyarakat, tetapi sejak beberapa tahun terakhir ini mulai dirasakan dampak
negatifnya. Surat kabar sering memberitakan tentang kematian beberapa tokoh masyarakat
karena mengidap sakit lever. Memang demikian kenyataannya. Dari laporan yang dibuat WHO,
Indonesia termasuk sebagai salah satu negara dengan kejadian penyakit hepatitis yang tinggi.
Demikian pula halnya dengan penyakit lain. Campak Jerman, misalnya tidak mustahil dalam
beberapa tahun mendatang akan menjadi masalah yang cukup serius. Penyakit tifus dan paratifus
sebenarnya tidak tergolong ke dalam penyakit yang berat, khususnya pada anak. Namun demikian
tifus dan paratifus merupakan penyakit endemik yang cukup menggelisahkan masyarakat.
Dengan memperhatikan pola penyakit pada saat ini serta kemungkinan perkembangannya pada
kurun waktu 10-20 tahun mendatang, penulis menggolongkan beberapa penyakit berikut ini ke
dalam kelompok imunisasi yang dianjurkan, yaitu penyakit: tifus, paratifus A-B-C,
gondong/bengok, rabies, campak Jerman (rubela) dan hepatitis B.
Vaksin terhadap penyakit tersebut di atas telah beredar di Indonesia. Sebagian diproduksi di
dalam negeri dengan harga yang terjangkau oleh masyarakat. Sebagian lagi masih harus diimpor
sehingga biaya imunisasinya cukup tinggi. Sebagai seorang ibu yang memberikan penuh kasih
sayang terhadap anaknya, seandainya ada kesempatan dipersilakan untuk mendapatkannya.
Setinggi-tingginya biaya vaksinasi, vaksinasi jauh lebih murah dan lebih aman dari pengobatan.
Jenis vaksin yang tergolong cukup mahal ialah vaksin gondong/bengok, campak Jerman dan MMR.
Vaksin hepatitis B ada;ah yang paling mahal. Dengan ditemukannya cara pembuatan vaksin yang
baru, diharapkan harganya menjadi lebih murah.
1. Vaksin Tipa (tifus, paratifus A-B-C)
Vaksinasi dan jenis vaksin: imunisasi ini diberikan untuk memperoleh kekebalan aktif terhadap
penyakit tifus dan paratifus. Vaksinasi ini tidak dimasukkan dalam prioritas Departemen Kesehatan
untuk Program Pengembangan Imunisasi, walaupun kejadian penyakit tifus dan paratifus di
Indonesia masih tinggi. Kebijakan ini didasarkan pertimbangan karena penyakit tersebut pada
anak tidak berbahaya dan jarang menimbulkan komplikasi. Berlainan sekali dengan pada orang
dewasa yang tidak jarang dapat menimbulkan kematian. Namun demikian tetap dianjurkan untuk
memberikan imunisasi tifus dan paratifus pada anak.
Untuk bepergian ke beberapa negara pun masih diperlukan keterangan vaksinasi terhadap tifus
dan paratifus. Vaksinasi dianjurkan pula bagi turis yang akan berkunjung ke negara tropis dengan
kejadian penyakit yang masih tinggi.
Vaksin tipa mengandung bakteria Salmonela typhi dan Salmonela paratyphi A-B-C yang telah
dimatikan dengan memakai bahan kimia. Vaksin ini masih diproduksi di dalam negeri oleh Perum,
Biofarma, Bandung.

Penjelasan penyakit: Penyakit ini biasanya terjadi setelah anak berumur 2 tahun. Perjalanan
penyakitnya tidak membahayakan. Tetapi sering mengkhawatirkan orang tua karena gejala
demamnya yang tinggi dan dapat berlangsung selama lebih dari 1 minggu. Berlainan halnya
dengan pada orang dewasa, komplikasi penyakit tifus jarang terjadi pada anak.
Penularan terjadi melalui mulut karena makanan yang kurang bersih dan mengandung bakteria
Salmonela. Pencegahan penularan penyakit mengalami berbagai hambatan, di antaranya karena
banyaknya carrier yang merupakan sumber penularan penyakit. Sering terjadi seorang juru masak
menjadi biang keladi penularan, karena sebagai carrier dapat menyebarkan penyakit ke seluruh
anggota keluarga di rumah, kapal laut, asrama, rumah makan dan sebagainya.
Cara imunisasi: imunisasi dasar diberikan sebanyak 3 kali, masing-masing pada umur 15 bulan,
16 bulan dan 17 bulan. Beberapa sarjana menyarankan agar vaksinasi diberikan setelah anak
berumur lebih dari 2 tahun, karena jarangnya kejadian penyakit ini pada anak yang lebih muda.
Revaksinasi dilakukan setiap tahun dengan 1 kali suntikan (lihatlah jadwal pemberian imunisasi
hal. 61). Revaksinasi diberikan pula bila sewaktu-waktu ada wabah atau kontak dengan penderita
serumah. Demikian pula pada orang dewasa, revaksinasi hendaknya diberikan setiap 3 tahun.
Cara pemberian imunisasi adalah dengan penyuntikan bawah kulit pada lengan atas atau dengan
penyuntikan dalam kulit pada lengan bawah depan seperti halnya suntikan pada uji Mantoux.
Ada yang berpendapat bahwa suntikan pertama dilakukan bawah kulit dan suntikan berikutnya
dalam kulit.
Reaksi imunisasi: Reaksi yang sering terjadi ialah demam yang timbul 1 hari setelah
penyuntikan. Demam ini dapat berlangsung selama 1-3 hari. Sering pula dijumpai reaksi lokal
berupa pembengkakan di tempat suntikan disertai dengan rasa nyeri pada pergerakan. Meskipun
sangat jarang, mungkin pula terdapat gejala menggigil dalam waktu 1 jam setelah penyuntikan.
Keadaan menggigil ini biasanya akan menghilang sendiri 15 menit kemudian. Pada penyuntikan
dalam kulit reaksi tersebut di atas terjadi dalam bentuk yang lebih ringan dan biasanya tidak
disertai adanya reaksi menggigil. Reaksi yang dijumpai pada penyuntikan dalam kulit biasanya
hanya reaksi kemerahan kulit di tempat suntikan.
Tindakan pertolongan: Bila terjadi demam tinggi dapat diberikan obat penawar panas, seperti
parasetamol, biogesic, tempra dan sebagainya. Pada tekanan menggigil dapat diberikan selimut
dan ujung tangan/kaki digosok dengan minyak kayu putih atau minyak gandapura. Kompres
dengan air hangat dapat diberikan untuk reaksi kemerahan kulit pada tempat suntikan.
Efek samping: Jarang terjadi efek samping imunisasi. Bila vaksin diberikan tipa diberikan kepada
ibu hamil mungkin dapat menyebabkan keguguran atau kelahiran bayi kurang bulan. Selain itu
vaksinasi dapat menimbulkan kelainan jantung atau kelainan jantung atau kelainan ginjal bila
diberikan kepada mereka yang memang sebelumnya telah berpenyakit jantung atau menderita
kelainan ginjal.
Kekebalan: Daya lindung vaksinasi tifus dan paratifus cukup baik.
Indikasi kontra: Bagi anak pada dasarnya tidak ada indikasi kontra untuk pemberian imunisasi
tipa, kecuali pada anak yang panas tinggi atau sedang sakit parah. Vaksinasi tipa hendaknya
dilakukan secara berhati-hati dan dengan pertimbangan khusus bila diberikan kepada ibu hamil
atau mereka yang pernah menderita penyakit jantung atau penyakit ginjal. Pada anak yang
pernah menunjukkan reaksi menggigil pada suntikan sebelumnya, dianjurkan agar vaksinasi
berikutnya diberikan dengan suntikan dalam kulit disertai pengamatan khusus.
2. Vaksin Gondong (Bengok, Parotitis)
Vaksinasi dan jenis vaksin: Pemberian imunisasi bertujuan untuk menimbulkan kekebalan
terhadap penyakit gondong/bengok. Istilah asing untuk penyakit ini ialah parotitis (Latin)
ataumumps (Inggris). Penyakit ini disebabkan oleh sejenis virus. Vaksin parotitis ini terbuat dari
jenis virus gondong yang telah dilemahkan. Di negara maju vaksin ini sudah lazim diberikan dan
biasanya dalam bentuk kombinasi dengan vaksin campak (Latin: Morbilli; Inggris: Measles) dan
vaksin campak Jerman (Latin: rubella; Inggris German Measles). Di Amerika Serikat misalnya
dikenal dengan nama vaksin MMR (Measles, Mumps, Rubella). Di Indonesia sejak beberapa tahun
terakhir jenis vaksin ini mulai beredar, meskipun harganya masih cukup tinggi dan pemakaiannya
terbatas.
Penjelasan penyakit: Penyakit gondong merupakan penyakit infeksi virus pada kelenjar air liur.
Penyakit ini sebenarnya tidak berbahaya, tetapi sewaktu-waktu dapat memberikan komplikasi
yang cukup serius. Komplikasi yang paling pembengkakan di daerah pipi yang biasanya tidak nyeri
tekan. Selain itu dapat timbul pula rasa kurang enak badan yang tidak menentu, nyeri kepala dan

rasa sakit bila menelan atau bila mengeluarkan air liur. Penyakit ini akan mereda dan sembuh
dalam waktu 7-8 hari.
Cara imunisasi: Imunisasi diberikan pada anak berumur lebih dari 12 bulan. Selain itu juga pada
orang dewasa yang belum pernah menderita penyakit gondong. Karena masih adanya kekebalan
alamiah pasif dari ibu, tidak dianjurkan pemberian imunisasi pada anak kurang dari 12 bulan.
Imunisasi cukup diberikan dengan 1 kali suntikan tanpa revaksinasi, bila imunisasi dilakukan pada
anak yang berumur lebih dari 12 bulan.
Kekebalan: Daya lindung vaksin gondong sangat baik, yaitu sebesar 97% pada anak dan 93%
pada orang dewasa.
Reaksi imunisasi: Biasanya jarang terjadi reaksi imunisasi. Bila ada dapat berupa kenaikan suhu
ringan atau rasa sakit dan panas pada tempat suntikan yang berlangsung selama 1-2 hari.
Efek samping: sangat jarang dijumpai. Bila ada, dapat berupa radang otak, timbulnya bercak
merah dan rasa gatal pada kulit.
Indikasi kontra: Sebaiknya vaksinasi tidak dilakukan pada ibu hamil, karena belum lengkapnya
informasi mengenai pengaruh vaksin terhadap janin. Vaksinasi juga tidak diberikan pada penderita
dengan keganasan atau yang dalam pengobatan terhadap penyakit keganasan.
3. Vaksin Campak Jerman (Rubella, German Measles)
Vaksinasi dan jenis vaksin: Pemberian imunisasi dimaksudkan untuk mendapat kekebalan aktif
terhadap penyakit rubela. Vaksinasi rubela pada saat ini belum diwajibkan. Mengingat adanya
laporan ilmiah pada tahun 1984 bahwa di Indonesia telah ditemukan beberapa kasus rubela, maka
imunisasinya mungkin diperlukan pada masa beberapa tahun mendatang. Pelaksanaan awalnya
sudah dapat dimulai saat ini.
Vaksin rubela terbuat dari sejenis virus rubela hidup yang telah dilemahkan. Sejak beberapa tahun
yang lalu vaksin rubela telah beredar di Indonesia, meskipun masih dalam kalangan terbatas.
Kemasan vaksin dapat berupa kemasan tunggal atau bersama-sama sebagai vaksin MMR
(Measles, Mumps, Rubella).
Penjelasan penyakit: Penyakit rubela telah ditemukan di Indonesia sejak beberapa tahun
terakhir. Penyebarannya ke Indonesia dari negara lain disebabkan karena kemudahan transportasi
internasional. Penyakit ini disebabkan oleh virus rubela dan ditularkan dengan perantaraan
percikan butir-butir halus udara melalui hidung atau mulut. Gejala penyakit yang khas ialah
timbulnya bercak merah di kulit (serupa dengan campak), panas dan adanya pembesaran kelenjar
getah bening di leher dan bagian belakang kepala. Penyakit rubela sendiri sebenarnya merupakan
penyakit yang ringan dan dapat sembuh spontan dalam waktu beberapa hari. Akan tetapi penyakit
ini dapat membahayakan karena dapat merusak janin dalam kandungan ibu, khususnya dalam
masa kehamilan muda. Bila seorang ibu menderita rubela dalam bulan-bulan pertama
kehamilannya, maka janin dalam kandungan akan mengalami berbagai kelainan bawaan. Ibu
sendiri akan sembuh dari penyakit rubela dalam waktu beberapa hari kemudian tanpa kelainan
apa pun. Biasanya bayi demikian akan lahir dengan berbagai jenis kelainan bawaan, berupa
kelainan jantung, mikrosefalia (ukuran kepala kecil) disertai dengan kelambatan perkembangan
intelektual, tuli dan buta. Atas dasar ini pemberian vaksinasi rubela khusus ditujukan bagi anak
perempuan, calon ibu atau ibu yang masih menginginkan kehamilan dan belum terinfeksi rubela.
Di negara yang menganggap perlu dilaksanakannya vaksinasi rubela, umumnya dianjurkan agar
seluruh calon ibu sudah mendapat kekebalan terhadap rubela sebelum hamil.

Penyakit rubela berakibat buruk bagi janin.


Penyakit rubela dapat mengakibatkan kelahiran bayi yang menderita berbagai penyakit
bawaan

Cara imunisasi: Imunisasi diberikan dengan satu kali suntikan dan tidak memerlukan vaksinasi
ulang, kecuali bila diberikan pada anak yang berumur kurang dari 12 bulan. Oleh karena itu
dianjurkan agar vaksinasi diberikan pada anak perempuan berumur lebih dari 12 bulan.
Dalam keadaan tertentu, kepada ibu yang hamil muda dapat diberikan imunisasi pasif dengan
suntikan immune serum globulin. Suntikan ini mengandung zat anti terhadap virus rubela.
Pemberian imunisasi pasif ini hendaknya dilakukan dalam waktu 7-8 hari setelah yang

bersangkutan kontak dengan penderita rubela. Hasil imunisasi pasif ini masih diragukan. Karena
itu tetap dianjurkan agar ibu hamil menghindarkan diri dari kontak dengan penderita rubela.
Kekebalan: Daya proteksi vaksin sangat baik, yaitu sebesar 99%. Meskipun sudah mempunyai
kekebalan akibat imunisasi, hendaknya ibu hamil menghindarkan diri dari kontak dengan
penderita rubela.
Reaksi imunisasi: Reaksi yang terjadi biasanya ringan. Mungkin terjadi kenaikan suhu,
kemerahan kulit, nyeri kepala, rasa nyeri atau pembengkakan pada tempat suntikan. Pada wanita
dewasa mungkin terdapat rasa pegal dan nyeri sendi yang biasanya terjadi 2-4 minggu setelah
suntikan imunisasi. Pada golongan remaja dan anak rasa nyeri ini sangat berkurang.
Efek samping: Imunisasi terhadap penyakit ini jarang sekali menimbulkan efek samping.
Indikasi kontra: Imunisasi rubela sama sekali tidak boleh diberikan kepada ibu hamil, tanpa
pengecualian dan tanpa mempertimbangkan usia kehamilan. Calon ibu hendaknya menghindarkan
terjadinya kehamilan untuk jangka waktu 3 bulan setelah pemberian imunisasi rubela. Imunisasi
juga tidak dapat diberikan pada keadaan sakit parah, penyakit keganasan, penyakit defisiensi
imun dan kepada penderita yang sedang dalam pengobatan untuk penyakit keganasan.
Tambahan: Seperti diuraikan di atas virus rubela mempunyai sifat yang sangat ganas terhadap
pertumbuhan janin, yaitu dapat menyebabkan cacat bawaan majemuk yang disebut sindrom
rubela.
Pada janin sindrom ini mempunyai ciri: kebutaan, kelainan jantung, bisu tuli, mikrosefall dengan
kelambatan perkembangan intelektual. Mengingat akibatnya yang sangat buruk terhadap janin,
maka di beberapa negara dapat dilakukan terminasi kehamilan pada seorang ibu hamil muda,
seandainya ada dugaan janin akan menderita sindrom rubela.
4. Vaksin MMR (Measles, Mumps, Rubella)
Vaksinasi dan jenis vaksin: Pemberian imunisasi bertujuan untuk mendapatkan kekebalan aktif
terhadap penyakit campak (measles), gondong (mumps) dan campak Jerman (German Measles)
dalam waktu yang bersamaan.
Vaksin MMR mengandung ketiga jenis virus campak, gondong dan rubela yang masih hidup tetapi
telah dilemahkan. Ketiga jenis virus ini dibeku-keringkan, kemudian dikemas dalam bentuk
kemasan tunggal sebagai vaksin MMR. Vaksin ini masih diimpor dan harganya masih cukup mahal,
tetapi lebih praktis. Biaya vaksinasi masih lebih murah bila dibandingkan dengan pemberian ketiga
jenis vaksin satu demi satu secara terpisah.
Penjelasan penyakit: Dapat dilihat pada Bab Penjelasan Penyakit masing-masing jenis vaksin.
Cara imunisasi: Imunisasi MMR diberikan dengan satu kali suntikan setelah anak berumur 12
bulan, akan lebih baik setelah berumur 15 bulan. Alasan pemberian imunisasi yang agak lambat
ini ialah agar pembentukan antibodi akibat penyuntikan tidak terganggu oleh masih adanya
kekebalan pasif yang diperoleh bayi dari ibunya. Dengan demikian pembuatan antibodi akan
berlangsung sempurna dan diharapkan imunisasi MMR cukup diberikan 1 kali seumur hidup, tanpa
memerlukan revaksinasi.
Tetapi keadaan di Indonesia agak berlainan, karena seorang bayi yang mulai menginjak umur 6
bulan telah mempunyai risiko untuk terinfeksi penyakit campak, seperti telah dikemukakan
terdahulu. Bila tidak ingin mempunyai risiko, sebaiknya bayi anda diberi dahulu imunisasi campak
setelah ia berumur 6 bulan. Kemudian dilakukan revaksinasi campak bersama dengan MMR pada
umur 15 bulan. Cara imunisasi demikian bukan hanya dapat dilaksanakan pada bayi perempuan
yang memang memerlukan vaksinasi rubela, tetapi dapat dianjurkan pula bagi bayi lelaki
walaupun sebenarnya ia tidak memerlukan vaksinasi rubela. Ingin digaris bawahi, bahwa cara
pemberian ini terutama berdasar atas kenyataan untuk tidak mengambil risiko terinfeksi campak
ketika anak berumur lebih dari 6 bulan.
Kekebalan: Daya proteksi vaksin MMR sangat baik, yaitu dapat mencapai 95-99%.
Reaksi imunisasi: Pada anak biasanya tidak terjadi reaksi imunisasi. Kadang-kadang timbul
kenaikan suhu ringan pada hari ke-5 atau hari ke-7, atau rasa nyeri dan kemerahan kulit pada
tempat suntikan.
Efek samping: akibat samping yang terjadi sesuai dengan yang dijumpai pada masing-masing
jenis vaksin. Sebenarnya akibat samping ini jarang terjadi dan tidak perlu dirisaukan.
Indikasi kontra: Pada anak biasanya tidak ada indikasi kontra, kecuali yang sifatnya imun dan
anak yang sedang dalam pengobatan penyakit keganasan. Indikasi kontra yang terdapat bagi

masing-masing jenis vaksin secara tersendiri, berlaku pula bagi vaksin MMR. Misalnya vaksin
campak yang tidak boleh diberikan pada anak yang menderita TBC tanpa pengobatan, vaksin
rubela yang tidak boleh diberikan pada ibu hamil, dan sebagainya.
5. Vaksin Rabies (Penyakit Gila Anjing)
Vaksinasi dan jenis vaksin: imunisasi diberikan untuk mendapat kekebalan aktif terhadap
penyakit gila anjing (rabies). Vaksin mengandung virus rabies yang telah dimatikan dengan cara
kimiawi dan mikrobiologi. Vaksin rabies dikemas dengan 2 cara: (1) Vaksin cair yang dibuat
dengan memakai otak kera, dan (2) vaksin kering yang dibuat dengan memakai otak mencit.
Di negara yang telah maju, karena pengawasan terhadap hewan sangat ketat tidak terdapat lagi
penderita gila anjing. Di sana imunisasi hanya diberikan kepada kelompok khusus, seperti dokter
hewan, pawang anjing, pegawai laboratorium hewan dan mereka yang sering berhubungan
dengan anjing atau kucing. Di Indonesia penyakit gila anjing masih sering dijumpai dan beberapa
propinsi dinyatakan sebagai daerah rawan, di antaranya: Sumatra Utara, DKI Jaya, Jawa Barat,
Sulawesi Utara. Dengan demikian vaksinasi rabies masih harus dilaksanakan secara lebih meluas.
Penjelasan penyakit: penyakit gila anjing disebabkan oleh virus rabies. Pada umumnya
ditularkan karena gigitan anjing (85-90%) atau gigitan kucing yang terjangkit virus rabies. Dalam
air liur hewan tersebut banyak terdapat virus rabies, yang bersama-sama dengan gigitannya
masuk ke tubuh manusia, kemudian dapat menyerang saraf dan otak. Gejala penyakit timbul 1-2
bulan setelah gigitan, bahkan mungkin lebih lambat. Gejalanya yang khas ialah: mudah
terangsang, gelisah, mengeluarkan banyak air liur, berkeringat. Kemudian timbul kejang pada
leher disertai dengan rasa tercekik dan rasa nyeri tenggorok pada waktu menelan atau minum.
Angka kematian pada rabies dapat dikatakan hampir sebesar 100%. Jarang sekali yang tertolong.
Bila ada yang sembuh atau tertolong, hanya karena pengecualian yang biasanya terjadi pada
anak.
Cara imunisasi: sangat dianjurkan agar yang mendapat prioritas untuk imunisasi rabies ialah
mereka yang pekerjaannya berkaitan dengan hewan pengidap rabies (anjing, kucing), seperti
dokter hewan, pegawai laboratorium hewan, pawang hewan, pemelihara hewan dan penyayang
binatang. Imunisasi harus dilakukan sedini-dininya setelah digigit hewan yang diduga terinfeksi
rabies.
Pemberian imunisasi dilakukan dengan 2 cara:
(1)
Sebelum gigitan hewan: tindakan ini merupakan imunisasi aktif biasa, yaitu dengan
penyuntikan vaksin rabies setiap 3-4 minggu sebanyak kali. Revaksinasi dilakukan satu kali setiap
tahun.
(2) Setelah gigitan hewan: Sebenarnya tindakan dalam hal ini merupakan imunisasi biasa yang
disertai dengan pengobatan yaitu dengan pemberian serum anti rabies dan vaksin rabies.
Bila yang dipakai vaksin rabies yang dibeku-keringkan, maka penyuntikannya dilakukan 1 kali
setiap hari selama 7 hari berturut-turut. Kemudian diulang pada hari ke-11, hari ke15 dan hari ke104. suntikan ulang (booster) diberikan sebanyak 2 kali pada hari ke-30 dan hari ke-90 bila
sebelumnya anak tidak mendapat suntikan serum anti rabies. Bila akan telah mendapat suntikan
serum anti rabies terlebih dahulu, maka suntikan ulang diberikan sebanyak 3 kali, yaitu pada hari
ke-25, hari ke-35 dan hari ke-90.
Reaksi imunisasi: tidak ada jarang sekali terjadi imunisasi. Kadang-kadang terdapat demam
ringan atau reaksi setempat yang tidak berarti, seperti gatal, kemerahan dan pembengkakan kulit.
Efek samping: Kadang-kadang ditemukan kelainan saraf, berupa rasa kaku atau mudah
terangsang yang sifatnya sementara. Gejala saraf lain jarang sekali terjadi.
Kekebalan: Daya lindung vaksin rabies sangat baik.
Tindakan pertolongan: Masalah yang sering dijumpai ialah bagaimana tindakan anda
seandainya anak atau anggota keluarga digigit anjing atau kucing. Berikut ini dikemukakan
pedoman pokok sebagai upaya pertolongan pertama:
1)
Diusahakan agar anjing atau kucing yang menggigit jangan melarikan diri dan harus dibawa
ke dokter hewan untuk pemeriksaan terhadap kemungkinan terjangkit rabies.
2)
Sebaiknya ibu mengusahakan untuk membersihkan luka gigitan secepatnya di rumah,
sebelum membawa ke tempat pengobatan lain. Caranya sebagai berikut: luka gigitan dicuci
dengan sabun atau detergen (betadin, physohes), kemudian dibilas dengan air bersih. Selanjutnya
diberi cairan pencuci hama seperti larutan alkohol 70% atau larutan yodium -3%. Sebagai

pengganti cairan pencuci hama dapat dipakai minyak wangi, eau de cologne, arak. Setelah itu luka
ditutup dengan kapas atau kain kasa yang telah dibasahi dengan cairan pencuci hama atau cairan
penggantinya tadi. Barulah anak anda secepatnya dikirim ke tempat pengobatan.
3)
Anak anda dibawa ke dokter, puskesmas atau tempat pengobatan lainnya untuk mendapat
pertolongan terhadap:

Luka setempat.
Kemungkinan mendapat imunisasi tetanus.
Kemungkinan mendapat imunisasi rabies.

4)
Tindakan dokter tergantung dari jenis dan letak luka, serta keadaan hewan yang menggigit.
Setelah 10 hari dokter hewan tersebut memberikan keterangan mengenai status rabies pada
hewan tersebut. Bila ternyata hewan tersebut tidak menunjukkan gejala penyakit rabies, maka
hewan dikembalikan dan anak anda dapat dibebaskan dari pemberian imunisasi. Sebaliknya, bila
hewan tersebut terjangkit rabies, maka hewan itu harus dimatikan dan anak anda harus mendapat
vaksinasi rabies. Imunisasi harus pula diberikan pada anak, bila hewan yang menggigit kabur dan
tidak tertangkap.
6. Vaksin Hepatitis B
Vaksinasi dan jenis vaksinasi: Vaksinasi dimaksudkan untuk mendapat kekebalan aktif terhadap
penyakit hepatitis B. Penyakit ini dalam istilah sehari-hari lebih dikenal dengan nama penyakit
lever. Jenis vaksin ini baru dikembangkan dalam waktu 10 tahun terakhir, setelah diteliti bahwa
virus hepatitis B mempunyai kaitan erat dengan terjadinya penyakit lever tadi. Vaksin terbuat dari
plasma carrier hepatitis B yang sehat dengan cara pengolahan tertentu. Dari bahan plasma
tersebut dapat dipisahkan dan dimurnikan bagian virus yang dapat dipakai dalam pembuatan
vaksin lebih lanjut. Di kalangan masyarakat dikhawatirkan pemakaian vaksin yang terbuat dari
plasma karena adanya berita akibat samping berupa penyakit AIDS. Namun setelah pemakaiannya
yang lebih dari 10 tahun, ternyata tidak didapatkan adanya efek samping yang berarti. WHO
melaporkan pula bahwa pemakaian vaksin tersebut cukup aman dan bebas dari penyakit AIDS.
Setelah percobaan yang lamanya bertahun-tahun, dalam 2-3 tahun terakhir ini telah beredar di
pasaran vaksin Hepatitis B yang pembuatannya menggunakan teknik rekombinasi DNA dengan
memakai bahan sel ragi. Dengan teknik ini diharapkan vaksin dapat diproduksi dalam jumlah yang
lebih banyak dan biaya pengolahannya lebih rendah, tanpa mengurangi mutu vaksin. Dengan
demikian harga yang cukup mahal ini dapat ditekan, sehingga terjangkau oleh sebagian besar
masyarakat.
Penjelasan penyakit: penyakit ini tersebar di seluruh dunia, tetapi angka kejadian yang paling
tinggi tercatat di negara Afrika dan Asia, khususnya di daerah Afrika Sahara dan Asia Tenggara. Di
Taiwan satu diantara 7 orang dilaporkan mengidap virus hepatitis B dalam darahnya. Di Indonesia
kejadiannya satu diantara 12-14 orang. Selanjutnya dinyatakan bahwa 10% di antara pengidap
virus tadi akan menjadi carrier yang menahun, yang setelah beberapa tahun kemudian
menunjukkan gejala kanker hati atau sirosis hati. Virus hepatitis B yang masuk dalam tubuh akan
berkembang biak di dalam jaringan hati dan kemudian merusaknya. Gejala utama penyakit
hepatitis ialah kekuningan pada mata, rasa lemah, mual, muntah, tidak nafsu makan dan demam.
Terhadap penyakit kanker terjadinya penularan hepatitis B, di antaranya: (1) Melalui tusukan di
kulit dan jaringan tubuh lainnya, misalnya dengan suntikan biasa, tusukan anting, tato,
akupunktur, goresan luka, tindakan operasi termasuk perawatan gigi. (2) Pemindahan cairan
tubuh, misalnya melalui susu ibu, bersenggama, berciuman, tindakan operasi. (3) Melalui darah
atau plasma waktu transfusi. (4) Selama masa janin dengan melalui uri, meskipun penularan cara
ini jarang terjadi.
Cara imunisasi: Imunisasi aktif dilakukan dengan cara pemberian suntikan dasar sebanyak 2 atau
3 kali dengan jarak waktu 1 bulan. Selanjutnya dilakukan 1 kali imunisasi ulang dalam waktu 5-12
bulan setelah imunisasi dasar. Revaksinasi berikutnya diberikan setiap 5 tahun. Cara pemberian
imunisasi dasar di atas mungkin berbeda, karena tergantung dari jenis vaksin yang dibuat oleh
pabrik. Misalnya imunisasi dasar dengan memakai vaksin buatan Pasteur Prancis berbeda dengan
penggunaan vaksin MSD Amerika Serikat.
Di samping itu perlu diberikan pula imunisasi pasif, khusus bagi bayi yang dilahirkan dari seorang
ibu yang mengidap virus hepatitis B. Caranya yaitu dengan pemberian imunoglobulin
khusus dalam waktu 12 jam setelah bayi lahir. Kemudian dalam waktu 7 hari berikutnya bayi ini
harus sudah mendapat imunisasi aktif dengan penyuntikan vaksin hepatitis B. Cara pemberian
imunisasi aktif selanjutnya sama seperti pemberian kepada anak lain.

Mengingat daya tularnya yang tinggi dari ibu kepada bayi, sebaiknya ibu hamil memeriksakan
darahnya untuk pemeriksaan hepatitis B, sehingga dapat dipersiapkan tindakan yang diperlukan
menjelang kelahiran bayi.
Dari berbagai hasil penelitian, ternyata bahwa vaksinasi hepatitis B tidak hanya perlu diberikan
pada anak dan bayi baru lahir, tetapi juga pada orang dewasa, khususnya mereka yang bertempat
tinggal di suatu negara dengan angka kejadian penyakit yang tinggi. Pemberian vaksinasi pun
perlu dilaksanakan terhadap karyawan kesehatan yang dalam pekerjaan sehari-harinya
berhubungan dengan penderita atau material manusia (darah, tinja, air kemih). Mereka itu ialah
dokter, dokter bedah, dokter gigi, perawat, bidan, pegawai laboratorium. Selanjutnya dianjurkan
pula pemberian vaksinasi terhadap turis yang akan berwisata ke negara atau daerah endemik.
Penulis ingin mengemukakan perihal imunisasi hepatitis B ini khusus untuk kepentingan keluarga.
Karena harga vaksin yang masih tinggi, sedangkan daya tular virus dalam lingkungan keluarga
sangat mudah, maka diperlukan suatu kebijakan dalam menentukan pemberian vaksinasi pada
anggota keluarga. Seandainya keadaan mengizinkan, khususnya keadaan keuangan keluarga,
maka seyogianya seluruh anggota keluarga mendapatkan vaksinasi hepatitis B. Sebaliknya dalam
keadaan keuangan keluarga yang terbatas, pilihan pertama hendaknya jatuh pada anak lebih
dahulu. Kemudian menyusul kesempatan bagi orang tua atau anggota keluarga lain setelah
keadaannya memungkinkan.
Kekebalan: Daya proteksi vaksin hepatitis B cukup tinggi, yaitu berkisar antara 94-96%.
Reaksi imunisasi: Reaksi imunisasi yang terjadi biasanya berupa nyeri pada tempat suntikan
yang mungkin disertai dengan timbulnya rasa panas atau pembengkakan. Reaksi ini akan
menghilang dalam waktu 2 hari. Reaksi lain yang mungkin terjadi ialah demam ringan.
Efek samping: Selama pemakaian 10 tahun ini, tidak dilaporkan adanya efek samping yang
berarti. Berbagai suara di masyarakat tentang kemungkinan terjangkit oleh penyakit AIDS,
merupakan pemberitaan yang dibesar-besarkan. Dengan penelitian yang luas, WHO tetap
menganjurkan pelaksanaan imunisasi hepatitis B.
Indikasi kontra: imunisasi tidak dapat diberikan kepada anak yang menderita sakit berat.
Vaksinasi hepatitis B ini dapat diberikan kepada ibu hamil dengan nama aman dan tidak akan
membahayakan janin. Bahkan akan memberikan perlindungan kepada janin selama dalam
kandungan ibu maupun kepada bayi selama beberapa bulan setelah lahir.