Anda di halaman 1dari 25

1 FRAKTUR MAHKOTA

Klasifikasi Fraktur Dentoalveolar


3.1 Menurut WHO
1) Kerusakan pada Jaringan Keras Gigi dan Pulpa
a. Infraksi Mahkota (Enamel infraction) : fraktur yang tidak sempurna pada email tanpa
kehilangan struktur gigi
b. Fraktur yang tidak kompleks (uncomplicated crown fracture)

Fraktur email : fraktur yang hanya mengenai lapisan email saja.

Fraktur email-dentin: fraktur pada mahkota gigi yang hanya mengenai email dan
dentin saja tanpa melibatkan pulpa.

c. Fraktur mahkota yang kompleks (complicated crown fracture) : fraktur yang mengenai
email, dentin, dan pulpa.
2) Kerusakan pada Jaringan Keras Gigi, Pulpa, dan Tulang Alveolar
a. Fraktur mahkota-akar : fraktur yang mengenai email, dentin, dan sementum.
b. Fraktur akar : fraktur yang mengenai dentin, sementum, dan pulpa tanpa melibatkan
lapisan email.
c. Fraktur dinding soket gigi : fraktur tulang alveolar yang melibatkan dinding soket labial
atau lingual, dibatasi oleh bagian fasial atau lingual dari dinding soket.
d. Fraktur prosesus alveolaris : fraktur yang mengenai prosesus alveolaris dengan atau tanpa
melibatkan soket alveolar gigi.
e. Fraktur korpus mandibula atau maksila : fraktur pada korpus mandibula atau maksila
yang melibatkan prosesus alveolaris, dengan atau tanpa melibatkan soket gigi.
3) Kerusakan pada Jaringan Peiodontal
a. Concusion
b. Subluxation

c. Luksasi ekstrusi (partial displacement)


d. Luksasi
e. Luksasi intrusi
f. Laserasi (hilang atau ekstrartikulasi)
4) Kerusakan pada Gusi atau Jaringan Lunak Rongga Mulut
a. Laserasi : Laserasi merupakan suatu luka terbuka pada jaringan lunak yang disebabkan
oleh benda tajam seperti pisau atau pecahan luka.
b. Kontusio : luka memar
c. Luka Abrasi : luka pada daerah superfisial yang disebabkan karena gesekan atau goresan
suatu benda.
5) Trauma / Fraktur Dentoalveolar
a. Comminution of the alveolar socket
b. Fraktur soket alveolar
c. Fraktur Processus alveolaris
d. Fraktur Mandibula atau Maxilla

3.2 Klasifikasi Ellis


a. Klas I

: Uncomplicated Crown Fractures yang Hanya Melibatkan Enamel

b. Klas II : Uncomplicated Crown Fractures yang Melibatkan Enamel dan Dentin


c. Klas III : Complicated Fractures Pada Mahkota dan Melibatkan Pulpa
d. Klas IV : Gigi mengalami trauma sehingga gigi menjadi non vital dengan atau tanpa
hilangnya struktur mahkota

2 BAHAN YANG DAPAT MENGIRITASI PULPA


1. Etsa Asam
2. Methyl Metacrylate pada Resin Komposit
Bahan-bahan ini masuk melalui tubulus dentin sehingga dapat mengiritasi pulpa
3 MACAM KARIES
Jenis

Keterangan
Karies yang terjadi pada permukaan enamel gigi (lapisan terluar dan

Karies inspiens

terkeras pada gigi), dan belum terasa sakit, hanya ada pewarnaan hitam atau
coklat pada enamel.
Karies yang sudah mencapai bagian dalam enamel dan kadang-kadang

Karies superfisialis terasa sakit.

karies yang sudah mencapai bagian dentin (tulang gigi) atau bahagian
Karies media

pertengahan antara permukaan gigi dan pulpa, gigi biasanya terasa sakit
apabila terkena rangsangan dingin, makanan masam dan manis.

Karies yang telah mendekati atau telah mencapai pulpa sehingga terjadi
Karies profunda

peradangan pada pulpa. Biasanya terasa sakit waktu makan dan sakit secara
tiba-tiba tanpa rangsangan. Pada tahap ini apabila tidak dirawat,maka gigi

akan mati dan memerlukan rawatan yang lebih kompleks.

Macam-macam karies:
1. Karies Email
Karies email adalah karies yang terjadi pada permukaan enamel gigi (lapisan terluar dan
terkeras pada gigi), dan belum terasa sakit, hanya ada pewarnaan hitam atau coklat pada enamel.
Setelah karies terbentuk proses demineralisasi berlanjut, email mulai pecah. Sekali permukaan
email rusak gigi tidak dapat memperbaiki dirinya sendiri.
Rencana perawatan karies:
Remineralisasi dengan pengulasan fluor.
Konsul diet dan factor risiko yang lain.
Aplikasi penutupan fisur.
Restorasi setelah ekkavasi lesi atau preparasi minimal.
2. Karies Dentin
Karies yang sudah mencapai bagian dentin atau bagian pertengahan antara permukaan
gigi dan pulpa. Gigi biasanya terasa sakit apabila terkena rangsang dingin, makanan masam, dan
manis. Karies sudah mencapai kedalaman dentin, dimana karies ini dapat menyebar dan
mengikis dentin. (Nurdin, 2001).
Rencana perawatan karies email:
a) Pembuatan ragangan restorasi yang diinginkan.
b) Pertimbangan resistensi dan retensi.
c) Pembuangan karies dentin dan penempatan restorasi.
d) Penyingkiran karies dentin.
e) Menghaluskan bagian dalam kavitas.
f) Menghaluskan tepi preparasi.
3. Karies Pulpa
Karies pulpa adalah yang telah mendekati atau telah mencapai pulpa sehingga
terjadi peradangan pada pulpa. Biasanya terasa sakit waktu makan dan sakit secara tiba-tiba
tanpa rangsangan. Pada tahap ini, apabila tidak dirawat, maka gigi akan mati dan memerlukan
perawatan yang lebih kompleks. Jika karies dibiarkan dan tidak dirawat maka akan mencapai
pulpa gigi. Disinilah dimana syaraf gigi dan pembuluh darah dapat ditemukan. Pulpa akan

terinfeksi. Abses atau fistula (jalan dari nanah) dapat terbentuk dalam jaringan ikat yang halus.
Rencana perawatan dengan restorasi dengan preparasi minimal dan perawatan endodontik.
Proses terjadinya karies
Penyebab utama karies adalah adanya proses demineralisasi pada email. Seperti
kita ketahui bahwa email adalah bagian terkeras dari gigi, bahkan paling keras dan padat di
seluruh tubuh. Sisa makanan yang bergula (termasuk karbohidrat) atau susu yang menempel
pada permukaan email akan bertumpuk menjadi plak, dan menjadi media pertumbuhan yang
baik bagi bakteri. Bakteri yang menempel pada permukaan bergula tersebut akan menghasilkan
asam dan melarutkan permukaan email sehingga terjadi proses demineralisasi. Demineralisasi
tersebut mengakibatkan proses awal karies pada email. Bila proses ini sudah terjadi maka
terjadi progresivitas yang tidak bisa berhenti sendiri, kecuali dilakukan pembuangan jaringan
karies dan dilakukan penumpatan (penambalan) pada permukaan gigi yang terkena karies oleh
dokter gigi.

PULPITIS
Pulpitis irreversible: keradangan pulpa yang disebabkan oleh adanya iritasi dengan atau tanpa
gejala.
Tanda - tanda :
- Nyeri spontan
- Karies profunda, perforasi
Pulpitis adalah peradangan pada pulpa gigi, biasanya disebabkan oleh infeksi bacterial dalam
karies gigi, fraktur gigi, atau kondisi lain yang mengakibtakan pajanan pulpa terhadap invasi
bakteri.
Tanda tanda :
- Nyeri spontan
- Profunda
Factor-faktor yang dapat menyebabkan pupitis adalah iritan kimiawi, factor termis, dan
perubahan hiperemik.
Gangren pulpa: kematian jaringan pulpa akibat invasi kuman kedalam ruang pulpa (dan saluran
akar)
Tanda - tanda :

- Gigi non-Vital
- Terdapat Fistula (rongga anatomis yang berisi pus)
- Karies profunda, perforasi
Ada tiga bentuk pertahanan dalam menanggulangi proses karies yaitu:
1. Penurunan permebilitas dentin.
2. Pembentukan dentin reparatif.
3. Reaksi inflamasi secara respons immunologik.
Apabila pertahanan tersebut tidak dapat mengatasi, maka terjadilah radang pulpa yang disebut
pulpitis. Radang adalah merupakan reaksi pertahanan tubuh dari pembuluh darah, syaraf dan
cairan sel di jaringan yang mengalami trauma (anonim, 2009).
Pulpitis Reversibel
Pasien dapat menunjukan gigi yang sakit dengan tepat. Diagnosis dapat ditegaskan oleh
pemeriksaan visual, taktil, termal, dan pemeriksaan radiograf. Pulpitis reversibel akut berhasil
dirawat dengan prosedur paliatif yaitu aplikasi semen seng oksida eugenol sebagai tambalan
sementara, rasa sakit akan hilat dalam beberapa hari. Bila sakit tetap bertahan atau menjadi lebih
buruk, maka lebih baik pulpa diekstirpasi. Bila restorasi yang dibuat belum lama mempunyai
titik kontak prematur, memperbaiki kontur yang tinggi ini biasanya akan meringankan rasa sakit
dan memungkinkan pulpa sembuh kembali. Bila keadaan nyeri setelah preparasi kavitas atau
pembersihan kavitas secara kimiawi atau ada kebocoran restorasi, maka restorasi harus
dibongkar dan aplikasi semen seng oksida eugenol. Perawatan terbaik adalah pencegahan yaitu
meletakkan bahan protektif pulpa dibawah restorasi, hindari kebocoran mikro, kurangi trauma
oklusal bila ada, buat kontur yang baik pada restorasi dan hindari melakukan injuri pada pulpa
dengan panas yang berlebihan sewaktu mempreparasi atau memoles restorasi amalgam.

Pulpitis Irreversibel
Definisi irreversibel adalah suatu kondisi inflamasi pulpa yang persisten, dapat
simtomatik atau asimtomatik yang disebabkan oleh suatu stimulus/jejas, dimana pertahanan
pulpa tidak dapat menanggulangi inflamasi yang terjadi dan pulpa tidak dapat kembali ke kondisi
semula atau normal. Pulpitis irreversibel akut menunjukkan rasa sakit yang biasanya disebabkan
oleh stimulus panas atau dingin, atau rasa sakit yang timbul secara spontan. Rasa sakit bertahan
untuk beberapa menit sampai berjam-jam, dan tetap ada setelah stimulus/jejas termal

dihilangkan. Pulpitis irreversibel kebanyakan disebabkan oleh kuman yang berasal dari karies,
jadi sudah ada keterlibatan bakterial pulpa melalui karies, meskipun bisa juga disebabkan oleh
faktor fisis, kimia, termal, dan mekanis. Pulpitis irreversibel bisa juga terjadi dimana merupakan
kelanjutan dari pulpitis reversibel yang tidak dilakukan perawatan dengan baik.
Pada awal pemeriksaan klinik pulpitis irreversibel ditandai dengan suatu paroksisme
(serangan hebat), rasa sakit dapat disebabkan oleh hal berikut: perubahan temperatur yang tibatiba, terutama dingin; bahan makanan manis ke dalam kavitas atau pengisapan yang dilakukan
oleh lidah atau pipi; dan sikap berbaring yang menyebabkan bendungan pada pembuluh darah
pulpa. Rasa sakit biasanya berlanjut jika penyebab telah dihilangkan, dan dapat datang dan pergi
secara spontan, tanpa penyebab yang jelas. Rasa sakit seringkali dilukiskan oleh pasien sebagai
menusuk, tajam atau menyentak-nyentak, dan umumnya adalah parah. Rasa sakit bisa sebentarsebentar atau terus-menerus tergantung pada tingkat keterlibatan pulpa dan tergantung pada
hubungannya dengan ada tidaknya suatu stimulus eksternal. Terkadang pasien juga merasakan
rasa sakit yang menyebar ke gigi di dekatnya, ke pelipis atau ke telinga bila bawah belakang
yang terkena.
Pulpitis irreversible merupakan suatu infeksi jaringan pulpa yang merupakan proses
lanjut dari karies yang bersifat kronis, oleh karena itu pada pemeriksaan histopatologi tampak
adanya respon inflamasi kronis yang dominan. Selain itu terdapat daerah mikro abses dan
daerah nekrotik serta mikroorganisme bersama-sama dengan limfosit, sel plasma, dan
makrofage. pulpitis irefersibel umumnya disebabkan oleh mikroorganisme dan sistem
pertahanan jaringan pulpa sudah tidak mampu mengatasinya, serta tidak dapat sembuh kembali.
Rasa nyeri pulpitis irreversible dapat berupa nyeri spontan, nyeri berdenyut, menjalar, dan
menyebabkan penerita tidak dapat tidur sehingga membuat kondisi menjadi lemah dan akan
mengganggu aktifitas penderita.

Cara praktis untuk mendiagnosa pulpitis irreversibel adalah:


Anamnesa: ditemukan rasa nyeri spontan yang berkepanjangan serta menyebar.
Gejala Subyektif: nyeri tajam (panas, dingin), spontan (tanpa ada rangsangan sakit), nyeri lama
sampai berjam-jam.
Gejala Obyektif: karies profunda, kadang-kadang profunda perforasi, perkusi dan tekan kadangkadang ada keluhan.

Tes vitalitas: peka pada uji vitalitas dengan dingin, sehingga keadaan gigi dinyatakan vital.
Macam Pulpitis irreversible berdasarkan lokasi nyeri terdiri dar 2 macam, yaitu pulpitis
irreversibel terlokalisasi dan pulpitis irreversible tidak terlokalisi. Pulpitis irreversibli
terlokalisasi lebih mudah dan cepat didiagnosis.
Tanda dan gejala dari pulpitis irreversible terlokalisasi antara lain:
1. Nyeri yang terus menerus hingga beberapa sampai berjam-jam.
2. Nyeri berdenyut atau nyeri yang hebat hingga menganggu aktifitas pasien.
3. Nyeri spontan berlangsung sepanjang hari atau ketika malam.
4. Nyeri ketika makan makanan yang dingin maupun panas.
Perawatan Pulpitis Irreversible
Dalam melakukan perawatan pulpitis irreversible terlokalisasi agar perawataan yang dilakukan
dapat akurat, ada dua faktor yang dapat mempengarui proses perawatan, antara lain:
1. Lokasi gigi yang pulpitis irreversible (anterior atau posterior).
2. Sensasi gigi saat dilakukan perkusi (sensitif atau nyeri).
Terapi: pulpektomi
Pulpektomi adalah pembuangan seluruh jaringan nekrotik pada ruang pulpa dan
saluran akar diikuti pengisian saluran akar dengan bahan semen yang dapat diresorbsi.
Perawatan terdiri dari
pengambilan seluruh pulpa, atau pulpektomi, dan penumpatan suatu medikamen intrakanal
sebagai desinfektan atau obtuden (meringankan rasa sakit) misalnya kresatin, eugenol, atau
formokresol.
Pada gigi posterior, dimana waktu merupakan suatu faktor, maka pengambilan pulpa
koronal atau pulpektomi dan penempatan formokresol atau dressing yang serupa di atas pulpa
radikuler harus dilakukan sebagai suatu prosedur darurat. Pengambilan secara bedah harus
dipertimbangkan bila gigi tidak dapat direstorasi. Prognosa gigi adalah baik apabila pulpa
diambil kemudian dilakukan terapi endodontik dan restorasi yang tepat.
4 PULPA POLIP
Karakteristik polip pulpa yaitu sedikit kemerahan, tapi sukar berdarah, tenderness dan
dengan kondisi gigi yang masih vital atau nekrosis parsial. Seringkali polip pulpa dibedakan
dengan polip gingiva. Polip pulpa berasal dari ruang pulpa, perforasi bifurkasi atau gingiva

(tapi jarang). Pada kondisi polip gingiva terjadi dikarenakan iritasi akibat gesekan dengan tepi
permukaan gigi yang tajam dan dengan ketinggian hampir sama atau dibawah crest gingiva,
biasanya berasal dari karies yang besar diproksimal, sehingga memungkinkan terbentukmya
polip gingiva. Polip gingiva sendiri memiliki karakteristik warna kemerahan dan mudah
berdarah namun tidak sakit jika ditekan [7].
Penatalaksanaan polip pulpa dan polip gingiva ada dua macam, yaitu perawatan
saluran dan ekstraksi. Hal ini tergantung dari kondisi giginya. Syarat-syarat gigi yang terdapat
polip pulpa/ polip gingiva dapat dilakukan perawatan saluran akar antara lain :
a. Jaringan penyangga masih bagus
b. Sisa mahkota masih dapat direstorasi
c. apakah gigi tersebut masih diperlukan
d. letaknya pada lengkung rahang
e. tidak ada kegoyangan lebih dari derajat 2
Sedangkan gigi yang tidak termasuk syarat di atas harus diekstraksi [6].

Perawatan Saluran Akar


Salah satu penatalaksanaan polip pulpa adalah dengan cara melakukan perawatan saluran
akar seperti halnya pada diagnosis pulpitis, hanya saja didahului dengan pengangkatan jaringan
polip [3]. Pengangkatan jaringan polip dilakukan dengan cara :
a. Anastesi jaringan polip
b. Oleskan larutan povidone iodine diatas permukaan polip
c. Angkat polip menggunakan eskavator yang tajam mulai dari tepi polip hingga seluruh polip
terangkat seluruhnya (pada saat polip terangkat akan terjadi perdarahan dari dalam saluran
akar)
d. Irigasi saluran akar dengan larutan NaOCl 2,5% untuk membersihkan sisa-sisa jaringan polip
serta jaringan darah
e. Segera lakukan ekstirpasi (pembersihan jaringan pulpa) dengan menggunakan panjang kerja
estimasi terlebih dahulu
f. Ketika perdarahan sudah dapat terkontrol, lanjutkan dengan pemeriksaan panjang kerja
sebenarnya, kemudian tahapan sama dengan perawatan pulpitis [9].
Ekstraksi

a. Pre medikasi sebelum dilakukan ekstraksi, misalnya dengan pemberian clindamicyn 3 dd 1


dan mefinal 3 dd 1
b. Ekstraksi tiga hari kemudian. Mengukur tekanan darah pasien sebelum ekstraksi. Bila tekanan
darah normal, dilanjutkan anestesi. Pengungkitan menggunakan bein. Apabila gigi sudah
goyang, bisa dilanjutkan dengan menggunakan tang sesuai dengan gigi apa yang akan
dicabut. Setelah gigi keluar, soket dibersihkan kemudian dicek kembali untuk memastikan
sisa-sisa polip sudah keluar semua. Pasien diinstruksikan menggigit tampon selama satu jam.
c. Medikasi dengan clindamicin 3 dd 1, mefinal 3 dd 1, dan asam traneksamat 2 dd 1
d. Kontrol [2].

Kesimpulan
Kesimpulan dari penatalaksanaan pulpa polip dan gingival polip adalah
tergantung dari kondisi gigi yang bersangkutan. Apabila gigi masih bisa dipertahankan maka
dilakukan kuretase polip terlebih dahulu kemudian dilakukan perawatan saluran akar. Apabila
sudah tidak bisa dilakukan perawatan, harus dilakukan ekstraksi

5 RASA NYERI PADA DENTIN


Rasa sakit dapat terjadi oleh karena :
adanya rangsangan terhadap syaraf pada dentin dan pulpa
adanya tekanan yang dihantarkan oleh serat tomes melalui tubulus dentin dan diteruskan
ke odontoblas dan oleh reseptor syaraf yang terdapat pada odontoblas diterima dan
dilanjutkan jaringan aferen ke otak dan diterima sebagai perasaan sakit.
timbulnya panas sewaktu pemboran gigi mengakibatkan penggumpalan serat tomes
sehingga menaikkan tekanan pada protoplasma tubulus dentin menyebabkan penekanan
pada ujung syaraf sehingga terjadi perasaan sakit
teori persyarafan pada dentin :
jaringan syaraf sampai predentin kemudian berbalik ke arah odontoblas
jaringan syaraf langsung masuk ke bagian odontoblas
jaringan syaraf masuk ke dentin dan kembali ke odontoblas

Tubulus dentin dipenuhi lubang kecil diseluruh permukaan dentin, yang menunjukkan
bahwa dentin tersebut berisi anyaman saluran yang kecil. Saluran ini mengandung perluasan
odontoblas yang vital dan biasanya sangat banyak sehingga apabila dentin terangsang akan
terasa sakit. salah satu teori penghantaran rangsang pada dentin adalah pergerakan cairan di
tubulus dentin mengaktifkan ujung syaraf dan pergerakan cairan ini diawali secara mekanis
oleh perubahan temperature, dehidrasi dentin atau pemakaian bahan kimiawi.
ketika cairan hipertonik (asam) diletakkan diatas permukaan dentin cairan dentin akan bergerak
keluar dan mengawali rasa nyeri. adanya asam diatas permukaan dentin atau email akan
membangkitkan potensi listrik yang mendorong ion Ca menuju permukaan gigi. selain itu, rasa
sakit juga dapat timbul pada pemaparan rangsangan panas, dingin, pemburan dan probing dentin.
panas mengembangkan cairan dentin, sedangkan dingin mengerutkan cairan dentin, pemburan
alau pemotongan dentin dapat memungkinkan cairan dentin keluar dan probing pada permukaan
dentin yang dipotong dapat merusak bentuk tubuli dan pergerakan cairan. semua ini dapat
menyebabkan gerakan cairan dentin dan menggiatkan ujung syaraf. pergerakan cairan yang cepat
ditubulus dentin akan merangsang syaraf didaerah pleksus subodontoblas (pleksus Raschkow).
yang akan menimbulkan sensasi nyeri.
Mekanisme sensori pulpa terdiri dari sistem aferen sensori dan sistem aferen otonomik.
Sistem aferen menyalurkan impuls yamg dirasakan oleh pulpa dari berbagai rangsangan pada
korteks otak yang diinterpretasikan sbg rasa sakit. Sistem eferen menyalurkan impuls dari sistem
sentral ke otot halus pembuluh arteri untuk mengatur volume dan kecepatan aliran darah.
Impuls aferen sensori dimulai dari ujung saraf tak bermielin. Pada lappisan odintoblas
dan predentin lapisan ini berjalan lurus atau spiral berakhir pada pembesaran berujung multipel
dan mungkin menembus dentin beberapa mikron. 10-20% tubuli dentin pada koronal
mengandung ujung saraf dan pada dentin radikular hampir tidak ada.
Hampir 80% saraf pulpa ada serabut tipe C, dan sisanya serabut tipe A. Serabut tipe C
tidak bermielin dan berdiameter 0,3-1,2 mikron dengan kecepatan konduksi 0,4-2 m/s. Konduksi
serabut yang tidak bermielin dan diameternya lebih kecil dari serabut A ini, adalah lambat.
Serabut ini menyalurkan rasa sakit berdenyut dan tidak tajam yang ada hubungannya dengan
kerusakan jaringan pulpa. Kekuatan tekanan jaringan yang meningkat, mediator kumia pada
ujung saraf menyebabkan rasa sakit.

Serabut A bermielin memiliki diameter 2-5 mikron dan kecepatan konduksinya adalah 6-30 m/s.
Serabut ini menghantarkan impuls pada kecepatan tinggi. Impuls diterjemahkan sebagai rasa
sakit yang tajam dan menusuk. serabut ini didistribusikan pada daerah odontoblastik dan
subodontoblastik dan. Dihubungkan dengan rasa sakit dentinal.

6 Abses Gigi
Abses gigi adalah kumpulan nanah yang disebabkan oleh infeksi bakteri di bagian
dalam gigi Anda. Abses gigi biasanya terjadi sebagai akibat dari rongga gigi tidak diobati, atau
retak pada gigiAnda yang memungkinkan bakteri masuk kebagian dalam gigi.
Pengobatan untuk abses gigi dengan mengeringkan abses dan membersihkan daerah
infeksi. Gigi itu sendiri dapat dipertahankan dengan perawatan saluran akar, tetapi dalam
beberapa kasus mungkin perlu dicabut. Meninggalkan abses gigi yang tidak diobati dapat
menyebabkan hal serius, bahkan mengancam jiwa dan terjadi komplikasi.
Tanda dan gejala abses gigi meliputi:
- Sakit gigi berdenyut
- Peka terhadap suhu panas dan dingin
- Peka terhadap tekanan mengunyah atau menggigit
- Demam
- Pembengkakan di wajah atau pipi
- Pembengkakan kelenjar getah bening di bawah rahang atau di leher
- Mendadak cairan berbau busuk muncul
Abses gigi terjadi ketika bakteri menyerang pulpa gigi yaitu bagian dari gigi yang berisi
pembuluh darah, saraf dan jaringan ikat. Bakteri masuk melalui baik rongga gigi atau keretakan

pada gigi dan tersebar di seluruh jalan ke akar. Infeksi bakteri menyebabkan pembengkakan dan
peradangan.
Faktor-faktor berikut dapat meningkatkan risiko abses gigi:
- Kesehatan gigi tidak memadai
- Tidak merawat gigi dan gusi dengan baik
- seperti tidak menyikat gigi dan flossing
- dapat meningkatkan risiko kerusakan gigi, penyakit gusi, abses gigi, dan komplikasi gigi dan
mulut lainnya
Perawatan Abses gigi:

Dengan melakukan incise dan drainasi/irigasi pada daerah abses.

Melakukan perawatan saluran akar

Setelah pengangkatan abses, berkumur dengan air yang telah dilaruti garam beberapa kali
dalam sehari

7 Kista
Kista adalah rongga patologis yang berisi cairan, semi cairan atau gas yang dibatasi oleh
epitel atau jaringan ikat. .Kista periapikal tergolong dalam kista odontogenik.
Kista odontogenik sendiri mempunyai pengertian yaitu kista yang disebabkan oleh gigi,
baik karena peradangan pada gigi atau karena malformasi (kelainan pembentukan) gigi selama
perkembangan. Sedangkan kista periapikal adalah kista yang terbentuk pada ujung akar gigi
yang jaringan pulpanya (sarafnya) sudah mati, yang merupakan kelanjutan dari peradangan
pada jaringan pulpa gigi (pulpitis). Diagnosis dari kista periapikal dapat ditentukan melalui
rontgen gigi dan pemeriksaan histologis.
Kista periapikal ini dapat terjadi di ujung gigi manapun, dan dapat terjadi pada semua
umur. Ukurannya berkisar antara 0.5-2 cm, tapi bisa jug alebih. Bila kista mencapai ukuran

diameter yang besar, ia dapat menyebabkan wajahm enjadi tidak simetri karena adanya benjolan
dan bahkan dapat menyebabkan parestesi karena tertekannya syaraf oleh kista tersebut.
Penyebab Kista periapikal
Kista periapikal disebabkan oleh infeksi gigi karena caries (gigi berlubang). Apabila gigi
yang berlubang dibiarkan terus menerus, maka akan menyebabkan peradangan pada jaringan
pulpa gigi (pulpitis) kemudian terjadi kematian saraf pada gigi tersebut. Setelah gigi non vital
(mati) lama-kelamaan akan dapat terbentuk kista periapikal pada ujung akar gigi tersebut.
Gejalanya
Kista periapikal umumnya tidak menimbulkan keluhan atau rasa sakit, kecuali jika terjadi infeksi
pada kista tersebut (infeksi sekunder).
Perawatannya
Perawatan untuk kista ini, antara lain:
1. Perawatan endodontik (perawatan saraf gigi)
Perawatan endodontic dilakukan apabila kista yang terbentuk belum terlalu besar atau
belum parah. Jika perawatan ini dilakukan, maka perlu dilakukan rontgen gigi secara periodic
untuk mengecek penyembuhan dari kista tersebut.
2. Pengambilan kista
Perawatan ini paling sering dilakukan untuk menangani kista periapikal, karena apabila
dengan perawatan endodontic penyembuhannya belum tentu berhasil. Pengambilan kista ini
kadang juga disertai pengambilan gigi yang terlibat.
8 DERAJAT KEGOYANGAN GIGI
Ada empat macam jenis derajat kegoyangan pada gigi :
- Derajat 1 : bila seorang penderita merasa terjadi kegoyangan pada gigi, akan tetapi operator
tidak melihat adanya kegoyangan

- Derajat 2 : gigi terasa seperti goyang dan memang terlihat goyang


- Derajat 3 : kegoyangan gigi pada arah horizontal oleh lidah
- Derajat 4 : kegoyangan gigi pada arah horizontal dan juga vertikal oleh lidah (Depkes. R.I.,
1996)

9 PENGGUNAAN KALSIUM HIDROKSIDA DAN ZINK OKSIDE EUGENOL DALAM


PULP CAPPING
Pulp Capping adalah perlindungan pada pulpa yang masih sehat atau sedikit terbuka
dengan menggunakan bahan bahan sedatif atau antiseptik yang bertujuan untuk mempertahankan
vitalitas dan fungsi pulpa (Grossman dkk, 1968: 94).
1.Kalsium Hidroksida
Kalsium hidroksida adalah suatu bahan yang bersifat basa kuat dengan pH 12-13
(Castagnola dan Orlay, 1956: 33). Bahan ini sering digunakan pada direct pulp capping. Jika
diletakkan kontak dengan jaringan pulpa, bahan ini dapat mempertahankan vitalitas pulpa tanpa
menimbulkan reaksi radang, dan dapat menstimulasi terbentuknya batas jaringan termineralisasi
atau jembatan terkalsifikasi pada atap pulpa (pulpa yang terbuka) (Sikri dan Dua, 1985; de
Queiroz dkk, 2005).

Sifat bahan yang alkali inilah yang banyak memberikan pengaruh pada

jaringan. Bentuk terlarut dari bahan ini akan terpecah menjadi ion-ion kalsium dan hidroksil
(Castagnola dan Orlay, 1956: 33).
Sifat basa kuat dari kalsium hidroksida dan pelepasan ion kalsium akan membuat
jaringan yang berkontak menjadi alkalis. Keadaan basa akan menyebabkan resorpsi atau aktifitas
osteoklas akan terhenti karena asam yang dihasilkan dari osteoklas akan dinetralkan oleh kalsium
hidroksida dan kemudian terbentuklah komplek kalsium fosfat. Ion kalsium Selain itu osteoblas
menjadi aktif dan mendeposisi jaringan terkalsifikasi, maka batas dentin akan dibentuk di atas
pulpa (Castagnola dan Orlay, 1956: 3; Kavitha,2005:10-11).

Ion hidroksil diketahui dapat memberikan efek antimikroba. Ion hidroksil akan
memberikan efek antimikroba dengan cara merusak lipopolisakarida dinding sel bakteri dan
menyebabkan bakteri menjadi lisis. Sifat basa dari kalsium hidroksida akan menetralisir daerah
lesi, baik dari bakteri maupun produknya (Castagnola dan Orlay, 1956: 34; Kavitha,2005:8).

2. Zink Okside Eugenol

Zink Okside Eugenol sering digunakan dalam indirect pulp capping dan mempunyai
kemampuan pembentukan odontoblas (Sikri dan Dua, 1985; Kavitha,2005:8). Eugenol, secara
biologis merupakan bagian yang paling aktif dari bahan ini dan merupakan derivat fenol yang
menunjukkan toksisitas pada jaringan serta memiliki sifat anti bakteri. Sifat antibakteri ini
memungkinkan nya menekan pertumbuhan bakteri, sehingga mengurangai pembentukan bahan /
metabolit toksik yang mungkin dapat menimbulkan inflamasi pulpa.
Manfaat eugenol dalam mengendalikan rasa nyeri disebabkan oleh kemampuannya memblokir
transmisi impuls syaraf. Selain itu eugenol menunjukkan penutupan biologis yang baik
Penelitian menunjukkan terjadinya reaksi inflamasi kronis setelah aplikasi zinc okside eugenol
dan akan diikuti oleh pembentukan lapisan odontoblastic yang baru dan terbentuklah dentin
sekunder (Walton dan Torabinejad, 1998:478; Kavitha,2005:8).

10 PULP CAPING ( DIRECT DAN INDIRECT )


Pulp capping adalah aplikasi selapis atau lebih material pelindung atau bahan untuk perawatan
diatas pulpa yang terbuka, misalnya hidroksida kalsium yang akan merangsang pembentukan
dentin reparative
Indikasi dan Kontraindikasi Indirect Pulp Capping
Indikasi
1. Lesi dalam dan tanpa gejala yang secara radiografik sangat dekat ke pulpa
mengenai pulpa.
2.Pulpa masih vital.
3. Bisa dilakukan pada gigi sulung dan atau gigi permanen muda.
Kontra Indikasi
Nyeri spontan nyeri pada malam hari.
Pembengkakan.
Fistula.
Peka terhadap perkusi.
Gigi goyang secara patologik.

tetapi tidak

Resorpsi akar eksterna.


Resorpsi akar interna.
Radiolusensi di periapeks atau di antara akar.
Kalsifikasi jaringan pulpa.

Indikasi dan Kontraindikasi Direct Pulp Capping


Indikasi
1. Gigi sulung dengan pulpa terbuka karena sebab mekanis dengan besar tidak lebih dari 1mm
persegi dan di kelilingi oleh dentin bersih serta tidak ada gejala.
2. Gigi permanen dengan pulpa terbuka karena sebab mekanis atau karena karies dan lebarnya
tidak lebih dari 1 mm persegi dan tidak ada gejala.
Pulpa masih vital.
3. Hanya berhasil pada pasien di bawah usia 30 tahun, misalnya pulpa terpotong oleh bur pada
waktu preparasi kavitas dan tidak terdapat invasi bakteri maupun kontaminasi saliva.
Kontraindikasi
Nyeri spontan nyeri pada malam hari.
Pembengkakan.
Fistula.
Peka terhadap perkusi.
Gigi goyang secara patologik.
Resorpsi akar eksterna.
Resorpsi akar interna.
Radiolusensi di periapeks atau di antara akar.
Kalsifikasi jaringan pulpa.
Terbukanya pulpa secara mekanis dan instrumen yang dipakai telah memasuki jaringan pulpa.
Perdarahan yang banyak sekali pada tempat terbukanya pulpa.
Terdapat pus atau eksudat pada tempat terbukanya pulpa.

Prosedur perawatan pulp capping adalah sebagai berikut :


Kunjungan I

1. Asepsis
2. Pembersihan jaringan karies
3. Membersihkan permukaan preparasi
4. Menempatkan Subbase dengan bahan dan prosedur sama dengan diatas
5. Melapisi subbase dengan base
6. Penumpatan sementaraa
7. Melakukan control seminggu kemudian
Kunjungan II:
1. Melakukan Tes vitalitas, tes perkusi dan tes tekan setelah membuka tumpatan sementara
2. Menanyakan Keluhan penderita
Setelah melakukan tes termal dan tes tekan serta tes perkusi lalu tanyakan keluhan penderita,
apabila sudah tidak ada keluhan maka langsung dilanjutkan dengan tumpatan tetap sesuai dengan
lesi kariesnya

Keberhasilan perawatan pulp capping direct,


ditandai dengan hilangnya rasa sakit, serta reaksi sensitive terhadap rangsang panas
atau dingin yang dilakukan pada pemeriksaan subjektif setelah perawatan. Kemudian pada
pemeriksaan objektif ditandai dengan pulpa yang tinggal akan tetap vital, terbentuknya jembatan
dentin yang dapat dilihat dari gambaran radiografi pulpa, berlanjutnya pertumbuhan akar dan
penutupan apikal.

Kegagalan perawatan
ditandai dengan pemeriksaan subjektif yaitu timbulnya keluhan, misalnya gigi
sensitive terhadap rangsang panas dan dingin atau gejala lain yang tidak diinginkan. Kemudian
pada pemeriksaan objektif dengan radiografi dilihat adanya gambaran radiolusen yang
menunjukkan gumpalan darah atau terjadinya resorpsi internal.
Kegagalan pada pulp Capping indirect adalah terjadinya perforasi akar sehingga nantinya
perawatan yang semula pulp capping indirect beralih menjadi direct pulp capping.

Alat alat yang digunakan dalam Pulp Caping:


bur bulat, ekscavator, hachet email atau pahat, pinset berkerat, plastis filling instrument, alat
pengaduk semen, stopper cement.
Bahan - bahan yang digunakan dalam Pulp Caping
1. Semen zinc oxide eugenol terdiri dari serbuk zinc oxide dicampur dengan cairan eugenol,
kemudian diaduk sehingga menghasilkan suatu massa dengan konsistensi pasta
Beberapa sifat semen zinc oxide eugenol adalah sifat fisis, sifat biologis, sifat mekanis, dan sifat
kimia
2. Kalsium Hidroksida merupakan powder yang lunak dan tidak berbau, namun kalsium
hidroksida juga tersedia dalam bentuk pasta, yaitu bila dicampur dengan champorated para
chlorophenol, metakresil asetat, metal selulosa, garam normal, atau hanya dengan air murni
Beberapa sifat kalsium hidroksida adlaah sifat fisis, sifat biologis, sifat mekanis, dan sifat kimia

Perbedaan Prosedur Pulp Caping Direct dan Indirect


Pulp Caping Direct
5. Seluruh dentin karies dihilangkan
6. Pulpa terbuka
7. Perawatannya hanya satu kali kunjungan
8. Bahan basis yang digunakan adalah Ca(OH)2

Pulp Caping Indirect


5. Hanya dentin tepi yang karies disingkirkan
6. Pulpa tidak terbuka
7. Perawatannya lebih dari dua kali kunjungan
8. Bahan basis yang digunakan adalah seng fosfat eugenol (OSE)
Mekanisme pembentukan dentin sekunder

Dentin sekunder disusun setelah erupsi gigi. Dapat dibedakan dari dentin primer
karena tubuli membengkok tajam dan menghasilkan suatu garis demarkasi. Dentin sekunder
ditumpuk secara tidak rata pada dentin primer dengan suatu kecepatan rendah dan mempunyai
pola inkremental dan struktur tubular kurang teratur dibandingkan dentin primer. Misalnya,
dentin sekunder ditumpuk dalam kuantitas lebih besar pada dasar dan atap ruang pulpa daripada
pada dinding pulpa. Deposisi yang tidak rata ini menerangkan pola reduksi kamar pulpa dan
tanduk pulpa kalau gigi menua. Deposisi dentin sekunder ini melindungi pulpa.

11 SALURAN AKAR
saluran akar yaitu untuk mencegah masuknya cairan maupun
kuman dari jaringan periapikal kedalam saluran akar agar tidak terjadi infeksi ulang.

BAHAN PENGISI SALURAN AKAR


Bahan pengisi saluran akar yang digunakan harus menutup seluruh sistem saluran
akar terutama di daerah apikal yang banyak terdapat saluran akar tambahan.
Syarat bahan pengisi saluran akar
- Mudah dimasukkan ke dalam saluran akar
- Dapat menutup saluran akar dengan rapat ke arah lateral dan apikal
- Tidak mengerut setelah dimasukkan ke dalam saluran akar
- Tahan kelembaban/ tidak larut dalam cairan tubuh
- Bersifat barterisid/ menghambat pertumbuhan bakteri.
- Bersifat radiografik.
- Tidak menyebabkan perubahan warna pada gigi
- Tidak mengiritasi jaringan periapikal
- Mudah dikeluarkan dari dalam saluran akar bila diperlukan
Bahan pengisi saluran akar utama biasanya bahan padat atau semi padat (pasta atau
bentuk padat yang dilunakkan) dan disertai dengan semen saluran akar
(sealer)
2.1. Bahan padat :
- Gutta-percha / gutta-point

- Ag-point / silver-point
2.1.1. Gutta-percha / gutta-point
Kandungan utama merupakan bahan an-organik 75 % yaitu oksida seng, bahan
organik 20 % yaitu gutta-percha dan tambahan wax, resin atau garam -garam metal,
memberikan sifat plastis, bahan tambahan 5% yaitu bahan pengikat, opaker, dan
pewarna
Berbentuk kon ada tipe standar dengan ukuran (#15 - #40, #45 - #80), maupun
bentuk kon tipe konvensional dimana ukurannya berbeda antara ujung kon maupun
badannya, misalkan ukurannya fine medium, ujungnya runcing, ba dannya medium.
Keuntungan :
- Bersifat plastis
- Larut dalam kloroform / ekaliptol.
- Dapat beradaptasi dengan baik terhadap dinding saluran akar
- Manipulasinya sederhana
- Dapat dikeluarkan dari saluran akar bila diperlukan
- Toksisitasnya rendah.
Kekurangan
- Sulit untuk saluran akar yang sempit dan bengkok
- Penyimpanan yang tidak baik / terlalu lama akan mudah patah.
2.1.2. Ag-point
Merupakan bahan pengisi yang padat
Indikasi :
- Saluran akar gigi dewasa
- Saluran akar yang sempit
- Saluran akar bengkok
- Diameter harus bulat
Kontra-indikasi
- Gigi belum tumbuh sempurna
- Saluran akar lebar
- Diameter saluran akar oval / tak teratur
- Bila akan dilakukan apeks-reseksi

Kebaikan :
- Dapat digunakan pada saluran akar yang sempit dan bengkok
- Radiopak
- Bakteiostatik
- Mudah disterilkan : termis / kimia
Kekurangan :
- Adaptasi dengan dinding saluran akar kurang baik
- Korosi
- Menyebabkan low grade pain
- Apikal seal kurang baik
- Sulit dikeluarkan bila diperlukan
2.2. Bahan semi padat / pasta
Biasanya merupakan bahan campuran yang akan mem adat setelah dimasukkan ke
dalam saluran akar. Dapat sebagai bahan pengisi utama maupun sebagai semen
3. TEKNIK PENGISIAN
3.1. Teknik Pengisian Gutta Point / Gutta Percha
- Single cone.
- Kondensasi
- Kloropercha / eucapercha
- Kompaksi
- Termoplastis
3.1.1. Teknik single cone :
Teknik ini dilakukan dengan memasuk kan kon gutta point tunggal ke dalam saluran
akar dengan ukuran sesuai dengan diameter preparasinya.
Untuk menambah adaptasi gutta point dan kerapatannya terhadap dinding saluran
akar ditambahkan semen saluran akar (sealer)
3.1.2. Teknik kondensasi
Teknik ini dilakukan dengan memasukkan guttap point ke dalam saluran akar,
kemudian dilakukan kondensasi atau penekanan kearah lateral maupun kearah
vertikal. Indikasi teknik ini jika bentuk saluran akarnya oval atau tidak teratur.
Teknik kondensasi lateral :

Saluran akar diulasi semen dan guttap point utama (#25) dimasukkan sesuai
dengan panjang preparasi, kemudian ditekan dengan spreader ke arah lateral.
Dengan cara yang sama dimasukkan guttap point tambahan (lebih kecil dari
spreader) hingga seluruh saluran akar terisi sempurna.
Teknik kondensasi vertikal :
Saluran akar diulasi semen dan guttap point utama dimasukkan sesuai dengan
panjang preparasi, kemudian guttap point dipanaskan ditekan dengan plugger ke
arah vertikal ke bawah. Dengan cara yang sama Gutt ap percha tambahan (dibuat
seperti bola) dimasukkan dan ditekan hingga seluruh saluran akar terisi
sempurna.
3.1.3. Teknik kloropercha / eucapercha
Teknik ini dilakukan dengan melunakkan ujung guttap point utama dengan kloroform
atau eucalyptol dan dimasukkan ke dalam saluran akar hingga guttap point akan
berubah bentuk sesuai dengan saluran akarnya terutama daerah apikal. Kon
dikeluarkan lagi untuk menguapkan bahan pelarutnya. Setelah saluran akar diulasi
semen guttap point dimasukkan ke dalam saluran aka r dan ditekan hingga seluruh
saluran akar terisi sempurna.
3.1.4. Teknik Termokompaksi
Teknik ini dilakukan dengan menggunakan alat McSpadden Compactor atau E ngine
Plugger yaitu alat yang mirip file tipe H (Hedstrom). Akibat putaran dan gesekan
dengan dinding saluran akar mampu melunakkan guttap point dan mendorong ke
arah apikal
3.1.5. Teknik termoplastis
Teknik ini dilakukan dengan menggunakan alat Ultrafil atau Obtura, yaitu alat yang
bentuknya mirip pistol dan mampu melunakkan guttap point serta mendorong ke
dalam sakuran akar ke arah apical
3.2. Teknik Pengisian Ag Point :
- Grossman
- Sommer
- Nichols / sectional

- Ag-Tip
3.2.1. Grossman
- Asepsis
- Memilih Ag-point
- Trial foto : sesuai dengan panjang kerja
- Ag-point dipotong sebatas orifice
- Saluran akar dikeringkan dan diulas pasta
- Ag-point disterilkan, diulas pasta dan dimasukkan ke dalam saluran akar
dengan tang Stieglietz forcep.
- Basis dengan semen
- Foto pengisian
3.2.2. Sommer
- Asepsis
- Memilih Ag-point
- Trial foto : sesuai dengan panjang kerja
- Saluran akar dikeringkan dan diulas pasta
- Ag-point disterilkan, diulas pasta dan dimasukkan ke dalam saluran akar.
- Sekitar orifice diberi gutta-percha
- Basis dengan semen
- Ag-point dipotong pada bidang oklusal
- Foto pengisian
3.2.3. Nichols / sectional
- Asepsis
- Memilih Ag-point
- Trial foto : sesuai dengan panjang kerja
- Ag-point pada 1/3 apikal digurat yang dalam dengan carborundum
- Saluran akar dikeringkan dan diulas pasta
- Ag-point disterilkan, diulas pasta dan dimasukkan ke dalam saluran akar.
- Luksasi Ag-point agar terpotong pada daerah guratan.
- Saluran akar diberi paper-point dan ditutup sementara
- Foto pengisian

Evaluasi pasca pengisian dilakukan dengan menggunakan ro photo


1. Bahan pengisi masuk ke periapikal (Overfilling atau over extension)
2. Kegagalan mendapatkan kepadatan apikal ( Underfilling)
3. Ro-photo tampak bagian yang kosong

Daftar pustaka
1. Grossman, l.i., oliet, s. & del rio, c. e. 1988. Endodontic practice. 11 th ed. Lea and
febiger. 263-285.
2. Harty, f.j. 1995. (penerjemah. L. Yuwono) endodonti klinis. Cetakan ke 3.
Penerbit hipokrates. 184-194. Ingle, j.i. & bakland, l.k. 1994. Endodontics. 4th ed.
Philadelphia. Lea and febiger. 228-251.
3. Walton, r.e. & torabinejad, m.1998. (penerjemah. N. Sumawinata) prinsip dan
praktek ilmu endodonsi. Cetakan ke i. Jakarta. Penerbit buku kedokteran egc.
305.hal 315 337