Anda di halaman 1dari 18

SEBELAS PRIORITAS YANG KOMPREHENSIF DALAM

MENANGGULANGI TANTANGAN PERMINTAAN ENERGI


DAN KENAIKAN SUBSIDI YANG TERUS MEMBENGKAK
(Dilihat dari sudut pelaku industri
perminyakan/energi)
Pada Program On Boarding Pekerja Baru SKMIGAS Angkatan XVIII Tahun 2012

GROUP 1
1.
2.
3. Della Septiani
4. M. Irfan
5. Rachmawati
6.
7.

Prioritas 6
BELUM WAKTUNYA IKUT GREEN
(It is not the time yet for Indonesia to
concentrate on environmental issues)

GREEN
GREEN MASIH TERLALU MAHAL BAGI INDONESIA.
Amerika Serikat tidak mau menandatangani Kyoto Protocol.
Menurut
Jakarta
Post
December
14,
2011,
Canada
mempertimbangkan pengunduran diri dari Kyoto Protocol yang ia
tandatangani. By Opting out, Ottawa avoids fines for failing to meet
emissions targets.
Dibebaskan dari Kyoto Protocol adalah negara berkembang seperti
Brazil, China, India, dan South Africa. Hal ini menyebabakan
Australia menolak penandatanganan Kyoto Protocol, tetapi dengan
desakan dari negara Eropa, Australia akhirnya pada tahun 2011
akan menandatanganinya.
Indonesia dilain pihak ingin memakai gas alam karena ramah
lingkungan, sebagai bahan bakar pembangkit listrik. Bagi Indonesia
Ini terlalu mahal mengingat Low Rank Coal di Indonesia berlimpah
dan teknologi telah terbukti LRC sebagai bahan pembangkit listrik.

AUSTRALIA FACE $4 BILLION CARBON TAX


Tahun 2011, Australia, yang sebelumnya menentang, dengan
terpilihnya Labour Government, akan mengenakan carbon tax.
Carbon tax dimulai tahun 2012 dengan harga $15/ton CO2 selama
tiga tahun percobaan.
Ternyata pengotoran CO2 terbesar datangnya dari lima pembangkit
listrik yang menggunakan batu bara, yaitu Macquarie Generation,
Delta Electricity, Greater Energy Alliance, International Power, dan
TRI Energy Holdings.
Untuk tahun 2012 diperkirakan carbon tax akan sebesar $4 billion
dan ini akan dikenakan kepada pelanggan listrik. Sekarang baru
terpikir oleh masyarakat Australia bahwa green adalah mahal.

JEPANG KELUAR DARI KYOTO PROTOCOL

Dengan resesi yang berkepanjangan dibarengi dengan Tsunami,


Jepang tidak bisa lagi menepati Kyoto Protocol yang menjanjikan
25% pengurangan CO2 pada tahun 2025 dari tahun 1990.
Jepang sekarang adalah penghasil CO2 nomer 5 didunia. Hal ini
dikarenakan 30% energy Jepang yang sebelumnya dari Nuclear,
pindah ke minyak dan coal. Nuclear plant terakhir ditutup bulan May
2012. Penduduk Jepang mengharapkan ditutup selamal-amanya.
Jepang terpaksa mengikuti US, Canada, dan Rusia mengabaikan
Kyoto Protocol sementara ini.

The Australian 29, 2012

CANADA JUGA INGIN KELUAR

Salah satu penyebab adalah akan terhentinya


penambangan Athabasca sands di provinsi
Alberta.
Cadangan
Athabasca
sands
hampir
menandingi cadangan Saudi Arabia. Namun jika
clean energy versi Kyoto harus dipenuhi,
Athabasca sands saat ini tidak ekonomis.

PRIORITAS 7
PEMERINTAH DAN MASYARAKAT MIGAS INDONESIA CENDERUNG
MENGGUNAKAN GAS MENGGANTIKAN MINYAK YANG LANGKA.

MEREKA MENGANGGAP GAS MASIH BERLIMPAH KARENA LEBIH


DARI

60%

MASIH

DI

EKSPOR.

INDONESIA

BISA

BANGGA

MENGATAKAN KEPADA DUNIA LUAR BAHWA INDONESIA JUGA


CONCERN DAN MEMAKAI GAS SEBAGAI CLEAN ENERGI

MINYAK SUDAH HABIS, SEKARANG SUBSIDI


MENJALAR KE GAS

Terminal regasing LNG pertama di teluk Jakarta akan beroperasi pertengahan


tahun 2012 dengan pasokan gas dari Bontang. Harga sekitar $12/mmbtu (11%
ICP) ditambah ongkos regassing $3.50 dan transpor $.050/mmbtu. Total
$16/mmbtu.

PT Nusantara Regas adalah joint venture Pertamina dan PGN.

PLN Muara Karang membeli gas $16/mmbtu seharusnya bisa "MINYAK SUDAH

HABIS, SEKARANG SUBSIDI MENJALAR KE GAS " membeli gas dari pemasok
lainnya dengan harga sama.

Gas pipa di Jawa dan Sumatra dari K3S hanya dibeli $5-6/mmbtu. Ini tidak fair.
Seandainya PLN berani membayar gas seharga gas impor LNG termasuk
regassing seharga $16/mmbtu, aktivitas eksplorasi otomatis akan bertambah.
Untuk jangka panjang hal ini akan menguntungkan semua pihak karena berakibat
penemuan lapangan gas baru termasuk alternative energy.

INDONESIA MEMBERIKAN SUBSIDI KEPADA IMPOR


DAN EKSPOR LNG

Impor LNG dari Bontang ke Jakarta. Pemerintah memberikan subsidi


terselubung $17-$11 atau $6/mmbtu.

Ekspor LNG dari Bontang ke China dan Korea, Indonesia memberikan


subsidi terselubung $17-$3.40 atau $13.60/mmbtu.

Dengan akan banjirnya LNG dunia, terutama dari Australia Barat dan
Queensland, dan berlimpahnya shale gas dari USA dan Canada,
seyogianya Indonesia melihat harga LNG pasaran dunia. Untuk jangka
panjang kemungkinan impor dari luar negari ke Jakarta bisa lebih murah
dari pada impor dari Bontang dengan harga fob. $11+/mmbtu.

Prioritas 8

PEMANFAATAN BATUBARA dengan KALOR


RENDAH (Low Rank Coal) UNTUK PEMBANGKIT
LISTRIK ADALAH hal yang MUTLAK
Kalimantan yang berlimpah energi seperti minyak, gas, dan
Kalimantan yang berlimpah energi seperti minyak, gas, dan
batubara, tetapi kekurangan likstrik hingga bergilir. Padahal
batubara kalor rendah berlimpah dan bahkan dibuang.
strik hingga bergilir. Padahal batubara kalor rendah berlimpah dan
bahkan diKalimantan yang berlimpah energi seperti minyak, gas,
dan batubara, tetapi kekurangan likstrik hingga bergilir. Padahal
batubara kalor rendah berlimpah dan bahkan dibuang.

KURANGNYA PEMANFAATAN BATUBARA KALOR


RENDAH DI INDONESIA

Indonesia yang berlimpah low rank coal kurang memanfaatkan dan bahkan
dibuang.

Banyak Negara memanfaatkan BKR(Batubara Kadar Rendah) atau LRC (Low


Rank Coal) sebagai bahan pembangkit listrik murah seperti India, Thailand
(Mie Mow dengan kadar tinggi ash, sulfur, dan air), China, dan bahkan negara

bagian Australia yang hanya punya BKR seperti: Victoria (Loy Yang 2700
kcal.), South Australia,(Leigh Creek less than 3,000 kcal), dan Western
Australia.

Australia

semulanya

tidak

menandatangani

Kyoto

Protocol.

Namun

Pemerintah baru (2011) mengambil kebijaksanaan baru dan akan ikut dalam
carbon credit. Karenan kebijakan baru, maka beberapa perusahaan pemakai
coal tsb. akan dibeli Pemerintah untuk ditutup.

Indonesia sebaiknya meniru China, India, dan Thailand, yang memanfaatkan


LRC sebagai pembangkit listrik.

KESIMPULAN

Batubara kalor rendah (3000kcal) untuk power


generation sudah terbukti dimana-mana.
Batubara sekitar 4,500+ kcal sebaiknya diekspor.
Yang rendah dipakai untuk power generation dalam
negeri.
Indonesia sebagai developing country, seperti China
dan India, tidak didenda karena pengotoran udara
jika menggunakan batubara kalor rendah.
Policy Dirjen Pertambangan upgrading LRC (BKR)
sebelum ekspor adalah kebijakan yang keliru dan
merugikan swasta.