Anda di halaman 1dari 77

CARDIAC ARREST PADA SECTIO CAESAREA

DAN SEPSIS POST-OPERATIF PADA G4P1A2M0


HAMIL ATERM DENGAN PREEKLAMPSIA DAN
GAGAL INDUKSI
Oleh: Laurensius Ivan Pantekosta S.Ked (I11108060)

Pembimbing: dr. Novi Salita, SpOG, MKes


SMF OBSTETRI DAN GINEKOLOGI
FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS TANJUNGPURA
RSUD DOKTER ABDUL AZIZ
SINGKAWANG
2014

PENYAJIAN KASUS

Identitas
MR
: 906 693
Nama
: Ny. D C
Tempat, Tanggal lahir
: Umur
: 27 tahun
Pendidikan
: Pekerjaan
: Ibu rumah tangga
Alamat
: Jalan Panglima Aim Gg. Aman
Suku Bangsa
: Agama
: Islam
Nama Suami
: Tn. Ahmad Husaini
Umur Suami
: 31 tahun
Pendidikan Suami
: Pekerjaan Suami : Tanggal Masuk RS
: 6 Oktober 2014, pukul 21:27

Anamnesis
(Dilakukan tanggal 6 Oktober 2014)

Anamnesis Utama: Autoanamnesis


Keluhan utama:

Pengeluaran lendir dan darah dari kemaluan.

Riwayat Penyakit Sekarang:


Pengeluaran lendir-darah sejak tanggal 5
Oktober 2014 pukul 18.00 WIB. Mules dirasakan
belum teratur. Pengeluaran air dari jalan lahir
tidak ada. Pergerakan janin masih dirasakan saat
masuk ke rumah sakit. Riwayat nyeri kepala
hebat, nyeri ulu hati, dan pandangan kabur
disangkal. Pasien dirujuk dari RS Jeumpa
dengan diagnosis gagal induksi.

Anamnesis
(Dilakukan tanggal 6 Oktober 2014)

Riwayat Penyakit Dahulu/Operasi:


Riwayat tekanan darah tinggi disangkal.
Penyakit jantung, penyakit paru, penyakit
hati, penyakit ginjal, penyakit kencing
manis juga disangkal oleh pasien.
Riwayat operasi sebelumnya tidak ada.

Riwayat Penyakit Keluarga:


Riwayat tekanan darah tinggi dalam
keluarga tidak diketahui.

Anamnesis
(Dilakukan tanggal 6 Oktober 2014)

Anamnesis Kebidanan
Riwayat Kehamilan Sekarang:
Riwayat muntah pada kehamilan muda (), bengkak (-), penglihatan terganggu (-),
sakit kepala (-), perdarahan (-), kejang ().
Pemeriksaan Antenatal:
Pasien melakukan pemeriksaan
kehamilan dengan bidan sebanyak 5 kali.

Anamnesis
(Dilakukan tanggal 6 Oktober 2014)

Riwayat Haid:

Haid pertama : usia 12 tahun


Lama Haid
: 5-7 hari, siklus teratur
HPHT
: 8-01-2013
HPL
: 15-10-2014
Kehamilan
: 39 minggu
Gangguan haid: -

Riwayat Menikah: Pasien menikah 1 kali


tahun 2007

Anamnesis
(Dilakukan tanggal 6 Oktober 2014)

Riwayat Kehamilan dahulu:


1. Pasien melahirkan anak pertama, perempuan, pada
tahun 2007, cukup bulan, lahir spontan, presentasi
kepala, berat badan lahir tidak ingat, dibantu oleh bidan
di klinik bersalin, hidup.
2. Pasien mengalami keguguran saat hamil anak kedua,
pada tahun 2012, dilakukan kuret di klinik bersalin oleh
dokter.
3. Pasien mengalami keguguran saat hamil anak ketiga,
pada tahun 2013, dilakukan kuret di klinik bersalin oleh
dokter.
4. Yang ini (2014)

Riwayat KB: Pasien belum pernah mengikuti


program KB sebelumnya.

Pemeriksaan Fisik
(Dilakukan tanggal 6 Oktober 2014)

Tanda Vital
Keadaan Umum: Baik
Kesadaran
: Kompos mentis, GCS 15
Tekanan darah
: 160/110 mmHg
Nadi
: 100x/menit, regular
Frek Napas : 20x/menit
Suhu
: 36,5C, peraksilar
BB/ TB
: -/ Gizi
:-

Pemeriksaan Fisik
(Dilakukan tanggal 6 Oktober 2014)

Status Generalis
Kepala :

Normosefalik, kepala bentuk simetris,


kedua konjungtiva tidak anemis, sklera
tidak ikterik, telinga normal, tidak ada
sekret yang keluar dari liang telinga,
hidung bentuk normal, dan tidak ada
sekret, tenggorokan tidak hiperemis,
karies dentis (-).

Leher

Tidak ditemukan pembengkakan kelenjar


getah bening

Pemeriksaan Fisik
(Dilakukan tanggal 6 Oktober 2014)

Paru :

Inspeksi : Statis simetris, dinamis simetris


Palpasi : Fremitus kanan=kiri, normal
Perkusi : Sonor (+/+)
Auskultasi : vesikuler (+/+), ronkhi (-/-), wheezing (-/-)

Jantung :
Inspeksi : Ictus cordis tak tampak
Palpasi : Ictus cordis teraba di SIC V linea midklavikula
sinistra
Perkusi :
Batas jantung kanan SIC IV linea parasternal dextra
Pinggang jantung SIC III linea sterna sinistra
Batas jantung kiri SIC V linea midklavikula sinistra

Auskultasi : BJ1/BJ2 (+) normal, murmur(-), gallop(-)

Pemeriksaan Fisik
(Dilakukan tanggal 6 Oktober 2014)

Abdomen :

Inspeksi
: Tampak distensi
Perkusi : Redup
Auskultasi: Bising usus (+) normal
Palpasi : Tinggi fundus uteri 30 cm, 3 jari di
bawah proccesus xiphoideus, hepar lien sulit
diperiksa.

Punggung :

Palpasi : Nyeri ketok CVA (+/+), massa (-)

Ekstrimitas :

Akral hangat, CRT <2s. Peritibial edema


(+/+)

Pemeriksaan Fisik
(Dilakukan tanggal 6 Oktober 2014)

Status Lokalis
(Obstetrik/Ginekologi)

Pemeriksaan Luar
TFU
: 30 cm
Letak Janin: Terbawah
kepala, punggung
kanan
DJJ
: (+)
144x/menit
His
: Jarang
TBJ
: 2790 gram

Pemeriksaan
Dalam

Portio : Tebal, lunak


Pembukaan : 1 cm
Penurunan : Hodge I
Terbawah
:
Kepala
Ketuban : (+)
Kesan Panggul :
Relatif

Pemeriksaan Penunjang
(Tanggal 6 Oktober 2014)

Lab Darah Rutin

Leukosit : 9.800/ mm3


Eritrosit : 4,79 M/L
Hb
: 12,1 g/dL
Ht
: 35,7%
MCV
: 71,5 fl
MCH
: 25,3 pg
MCHC : 33,9 g/dL
PLT
: 209.000/
mm3

Lab Kimia Darah


Ureum : 9,9 mg/dL
Kreatinin
: 0,4
mg/dL
GDS
: 74 mg/dL

Urin
Protein urin : +1

USG
Tidak dilakukan

Resume

Ny.DC 27 tahun G4P1A2M0


keluhan utama pengeluaran lendir bercampur
darah, mules jarang, pengeluaran air (-),
pergerakan janin (+) saat masuk RS.
Usia kehamilan menurut HPHT adalah 39
minggu, hamil aterm.
Riwayat hipertensi disangkal.
Pasien dirujuk dengan preeklampsia berat
dan gagal induksi.
Pada pemeriksaan fisik ditemukan tekanan
darah 160/110 mmHg dan pretibial edema.
Pemeriksaan darah rutin dalam batas normal,
ditemukan protein urin +1.

Diagnosis Antepartum

G4P1A2M0, 27 tahun, hamil aterm,


dengan preeklampsia berat dan gagal
induksi. Janin intrauterin, tunggal,
hidup, presentasi kepala.

Tata Laksana
IVFD RL drip MgSO4 40% 6 gram 20
gtt/menit
Nifedipin 3x10 mg p.o
Kateterisasi urin
Pro Sectio sesarea

Observasi Persalinan
6 oktober 2014

7 oktober 2014

Keadaan Umum Pre-Op


Kesadaran
Tanda vital

TD
N
R
DJJ

: Compos mentis
:

= 155/98 mmHg,
= 96x/menit,
= 14x/menit
= 140 x/menit

Laporan Operasi

Laporan Anastesi

10
0

Perdarahan 100cc

Keadaan Post-Op
Kesadaran
Tanda vital

: Koma (GCS = E1M1V1)

TD 155/89 mmHg, N = 147 x/menit, SpO2


100%

Urine output : 500 cc kuning jernih


Perdarahan : 100 cc
TFU dan kontraksi uterus : Sejajar
umbilikus, kontraksi baik

Diagnosis Postpartum

P2A2M0, 27 tahun, post-SCK atas


indikasi gagal induksi dan
preeklampsia berat serta postresusitasi atas indikasi cardiac arrest.

Instruksi Post-Op

Post-operasi rawat di ICU


Observasi keadaan umum, tanda vital, dan
kesadaran
O2 6 L/menit
Balanced cairan
Rawat bersama dokter IPD dan neurologi
Cek Hb transfusi sampai Hb 10 g/dL
Mulai makan dan minum (lewat NGT) bila BU (+)
Tramadol 100 mg dan ketorolac 30 mg didrip
dalam IVFD per 8 jam
Konsul penyakit dalam dobutamin 30 mcg i.v,
NaCl 200 ml guyur
Konsul saraf piracetam 3x1 g i.v, citicholin
2x250 mg i.v

Pemeriksaan Lab
(Tanggal 7 Oktober 2014)

Leukosit
Eritrosit
Hb
Hematokrit
MCV
MCH
MCHC
Trombosit

: 27.200/ mm3
: 3,57 M/L
: 8,7 g/dL
: 29,1%
: 81,6 fl
: 24,4 pg
: 29,9 g/dL
: 218.000/ mm3

Observasi Nifas
7 oktober 2014

TFU 2 jari umbilikus

TFU 2 jari umbilikus

TFU 2 jari umbilikus

TFU 2 jari umbilikus


TFU 2 jari umbilikus
TFU 2 jari umbilikus
TFU 2 jari umbilikus
TFU 2 jari umbilikus

Observasi Nifas
TFU 2 jari umbilikus

TFU 2 jari umbilikus

8 oktober 2014
TFU 2 jari umbilikus

TFU 2 jari umbilikus

Prognosis

Saat masuk ke rumah sakit


Ad vitam
Ad sanactionam
Ad functionam

: dubia ad malam
: dubia ad malam
: dubia ad malam

Setelah dilakukan seksio sesarea


Ad vitam
Ad sanactionam
Ad functionam

: Malam
: Malam
: Malam

DISKUSI DAN
PEMBAHASAN

Daftar Masalah
Preeklampsia berat
Cardiac arrest during operation
Penyebab kematian

Anamnesis, pemeriksaan fisik dan


obstetrik G4P1A2M0 27 tahun
hamil aterm, dengan preeklampsia
berat dan gagal induksi.
Kehamilan aterm ialah umur
kehamilan 37 minggu hingga 42
minggu dimana pada umur kehamilan
ini janin sudah dalam keadaan matur
dengan berat janin di atas 2500 gram.

Penentuan umur kehamilan :

HPHT (hari pertama haid terakhir),


pengukuran tinggi fundus uteri,
terabanya ballotement pada umur kehamilan
12 minggu,
gerakan janin pertama pada umur kehamilan
12 minggu,
terdengarnya bunyi jantung dengan Laennec
pada umur kehamilan 18-20 minggu atau
dengan fetal electrocardiography pada umur
kehamilan 12 minggu, dan
ultrasonografi.2,6

2. Cunningham FG, Gant FG, et al. Williams Manual of Obstetrics. Edisi 23. Boston: McGrawHill. 2010.
6. Wiknjosastro H (editor). Ilmu Kebidanan. Edisi Pertama. Jakarta: Penerbit Yayasan Bina Pustaka. 2007.

Berdasarkan HPHT Usia gestasi 39


minggu.
Leopold janin letak kepala, sudah
masuk pintu atas panggul, dengan
TFU 30 cm.
Taksiran tanggal partus dengan rumus
Naegele (6 Oktober 2014) aterm
TFU rumus Johnson Tussac (3012)cm x 155 g/cm = 2790 gram.

Persalinan (partus) adalah


pengeluaran hasil konsepsi janin dan
plasenta) yang telah cukup bulan atau
dapat hidup di luar kandungan melalui
jalan lahir atau melalui jalan lain,
dengan bantuan atau tanpa bantuan.7

7. Sutoto KH. Bedah Caesar, Histerektomi Caesarean dan Histerotomi. Dalam: Ilmu Fantom Bedah Obstetri. Semarang: Bagian
Obstetri dan Ginekologi FK Universitas Diponegoro. 1999.

Beberapa teori yang dikemukakan


sebagai penyebab persalinan ialah:6

Penurunan kadar progesteron.


Teori oksitoksin.
Ketegangan otot-otot.
Pengaruh janin/ fetal cortisol.
Teori prostaglandin.

6. Wiknjosastro H (editor). Ilmu Kebidanan. Edisi Pertama. Jakarta: Penerbit Yayasan Bina Pustaka. 2007

Dalam kasus ini, pasien datang


dengan pengeluaran lendir darah dan
mules yang belum teratur atau jarang.
Pada pemeriksaan dalam, didapatkan
porsio tebal lunak dan pembukaan 1
cm, artinya belum ditemukan
penipisan dan pendataran
(effacement) serviks.

Pelepasan lendir bercampur darah


adalah tanda klinis yang terjadi akibat
mulainya pembukaan serviks.
Pada primipara, penipisan dan
pendataran serviks mendahului
pembukaan serviks. Sedangkan, pada
multipara, penipisan dan pendataran
serviks bersamaan dengan
pembukaan serviks.

Saat pertama kali datang ke IGD,


dilakukan pemeriksaan tanda vital
didapatkan hasil keadaan umum baik,
kesadaran kompos mentis, tekanan
darah 160/110 mmHg, nadi 88 kali/
menit, dan napas 18 kali/ menit.
Pasien tidak mempunyai riwayat
hipertensi sebelumnya.
Pada pemeriksaan fisik ditemukan
edema peritibial. Pada pemeriksaan
protein urin didapatkan hasil +1.

Preeklampsia

Preeklampsia timbulnya hipertensi


disertai proteinuria dan/atau edema
akibat dari kehamilan setelah umur
kehamilan 20 minggu atau segera
persalinan, bahkan setelah 24 jam
post partum.2

2. Cunningham FG, Gant FG, et al. Williams Manual of Obstetrics. Edisi 23. Boston: McGrawHill. 2010.

Preeklampsia berat

Preeklampsia berat suatu


komplikasi kehamilan yang ditandai
dengan timbulnya tekanan darah
tinggi 160/110 mmHg atau lebih
disertai dengan proteinuria dan /atau
edema pada kehamilan 20 minggu
atau lebih.5,8,9

5. Saifuddin BA (editor). Buku Panduan Praktis Pelayanan Kesehatan Maternal dan Neonatal. Jakarta: Yayasan Bina Pustaka Sarwono
Prawirihardjo. 2002; M38-M42
8. Parulekar SV. Pregnancy Induced Hypertension. Pregnancy At Risk. Current Consepts. Edisi 4. India: Jaypee Brothers. 2004; 257-259.
9. James M. Raised Blood Pressure in Pregnancy. Pregnancy At Risk. Current Consepts. Edisi 4. India: Jaypee Brothers. 2004; 204-209.

Preeklampsia berat (POGI,


2010)

Preeklamsi berat ialah preeklamsi dengan salah satu atau


lebih gejala dan tanda dibawah ini :
Desakan darah : pasien dalam keadaan istirahat desakan sistolik
160 mmHg dan atau desakan diastolik 110 mmHg
Proteinuria : 5 gr/ jumlah urin selama 24 jam. Atau dipstick : 4 +
Oliguria : produksi urin < 400-500 cc/ 24 jam
Kenaikan kreatinin serum
Edema paru dan sianosis
Nyeri epigastrium dan nyeri kuadran atas kanan abdomen : disebabkan
teregangnya kapsula Glisoni. Nyeri dapat sebagai gejala awal ruptur
hepar.
Gangguan otak dan visus : perubahan kesadaran, nyeri kepala,
skotomata, dan pandangan kabur.
Gangguan fungsi hepar : peningkatan alanin atau aspartat amino
transferase
Hemolisis mikroangiopatik
Trombositopenia : < 100.000 cell/ mm3
Sindroma HELLP

Preeklampsia

Sebelumnya, edema termasuk ke


dalam salah satu kriteria diagnosis
preeklampsia, namun sekarang tidak
lagi dimasukkan ke dalam kriteria
diagnosis, karena pada wanita hamil
umum ditemukan adanya edema,
terutama di tungkai, karena adanya
stasis pembuluh darah.3

3. Angsar DMH. Pedoman Pengelolaan Hipertensi dalam Kehamilan di Indonesia. Edisi kedua. Semarang. 2005. p. 13-18.

Preeklampsia
Hipertensi umumnya timbul terlebih
dahulu daripada tanda-tanda lain.
Kenaikan tekanan sistolik >30 mmHg
dari nilai normal atau mencapai 140
mmHg, atau kenaikan tekanan
diastolik >15 mmHg atau mencapai 90
mmHg dapat membantu
ditegakkannya diagnosis hipertensi. 3

3. Angsar DMH. Pedoman Pengelolaan Hipertensi dalam Kehamilan di Indonesia. Edisi kedua. Semarang. 2005. p. 13-18.

Preeklampsia
Proteinuria ditandai dengan
ditemukannya protein dalam urin 24 jam
yang kadarnya melebihi 0,3 g/L atau
pemeriksaan kualitatif menunjukkan +1
atau +2 atau 1 g/L atau lebih dalam urin
yang dikeluarkan dengan kateter atau
midstream yang diambil minimal 2 kali
dengan jarak waktu 6 jam.
Umumnya proteinuria muncul lebih
lambat, sehingga harus dianggap
4
sebagai
tanda
yang
serius.
4. Pregnancy Induced Hypertension; ALARM International. Edisi 2. The Society of Obstetricians and Gynaecologist of Canada.

2001; 85-91.

Preeklampsia

Preeklamsia berat dapat dibagi dalam


beberapa kategori :
Preeklamsi berat tanpa impending
eclampsia
Preeklamsi berat dengan impending
eclampsia, dengan gejala2:

nyeri kepala
mata kabur
mual dan muntah
nyeri epigastrium
nyeri kuadran kanan atas abdomen

Dalam kasus ini pasien mengalami


preeklampsia berat tanpa impending
eclampsia. Pemeriksaan laboratorium
kimia darah juga masih dalam batas
normal.

Faktor Risiko Preeklampsia

Risiko yang berhubungan dengan


partner laki
Primigravida
Primipaternity
Umur yang ekstrim : terlalu muda atau
terlalu tua untuk kehamilan
Partner laki yang pernah menikahi wanita
yang kemudian hamil dan mengalami
preeklamsi.
Pemaparan terbatas terhadap sperma.
Inseminasi donor dan donor oocyte

Faktor Risiko Preeklampsia

Risiko yang berhubungan dengan riwayat


penyakit terdahulu dan riwayat penyakit keluarga

Riwayat pernah preeklamsi


Hipertensi kronik
Penyakit ginjal
Obesitas
Diabetes gestational, diabetes mellitus tipe 1
Antiphospholipid antibodies dan
hiperhomocysteinemia

Risiko yang berhubungan dengan kehamilan

Mola hidatidosa
Kehamilan ganda
Infeksi saluran kencing pada kehamilan
Hydrops fetalis

Faktor Risiko Preeklampsia


Preeklampsia dapat ditemui pada
sekitar 5-10% kehamilan, terutama
kehamilan pertama pada wanita
berusia di atas 35 tahun.
Frekuensi preeklampsia pada
primigravida lebih tinggi bila
dibandingkan dengan multigravida,
terutama pada primigravida muda. 4

4. Pregnancy Induced Hypertension; ALARM International. Edisi 2. The Society of Obstetricians and Gynaecologist of Canada.
2001; 85-91.

Pada kasus, faktor risiko yang mungkin


terjadinya preeklampsia tidak diketahui.
Berdasarkan usia dan paritas, pasien
tidak termasuk berisiko.
Faktor genetik masih memungkinkan
walaupun berdasarkan anamnesis tidak
diketahui riwayat preeklampsia dalam
keluarga.
Pada pemeriksaan fisik juga tidak
dilakukan pengukuran BB dan TB
sehingga tidak diketahui status gizi
pasien.

Riwayat Aborsi dan


Preeklampsia
Pada riwayat obstetri pasien pernah
mengalami keguguran selama 2 kali.
Eras et al. (2000)10 Seidman et al.
(1989)11
Aborsi memiliki efek protektif terhadap
preeklampsia.

10. Eras JL, Saftlas AF, Triche E, Hsu CD, Risch HA, Bracken MB. Abortion and Its Effect on risk of Preeclampsia and Transient
Hypertension. Epidemiolgy. 2000; 11(1):36-43.
11.Seidman DS, Ever-Hadani P, Stevenson DK, Gale R. The Effect of Abortion on the Incidence of Preeclampsia. Eur J Obstet
Gynecol Reprod Biol. 1989; 33(2):109-14.

Dasar Pengelolaan Preeklampsia


Berat

Pada kehamilan dengan penyulit


apapun pada ibunya, dilakukan
pengelolaan dasar sebagai berikut :
1. Rencana terapi pada penyulitnya :
yaitu terapi medikamentosa dengan
pemberian obat-obatan untuk
penyulitnya
2. Rencana sikap terhadap kehamilan

Dasar Pengelolaan Preeklampsia


Berat

Sikap terhadap kehamilan dibagi 2,


yaitu :
a. Ekspektatif ; konservatif : bila
umur kehamilan < 37 minggu, artinya
: kehamilan dipertahankan selama
mungkin sambil memberikan terapi
medikamentosa
b. Aktif, agresif ; bila umur kehamilan
37 minggu, artinya kehamilan
dikahiri setelah mendapat terapi
medikamentosa untuk stabilisasi ibu.

Dasar Pengelolaan Preeklampsia


Berat

Pemberian terapi medikamentosa


Segera masuk rumah sakit
Tirah baring miring ke kiri secara
intermiten
Infus Ringer Laktat atau Ringer Dekstrose
5%
Pemberian anti kejang MgSO4 sebagai
pencegahan dan terapi kejang.
Pemberian MgSO4 dibagi :
Loading dose (initial dose) : dosis awal
Maintenance dose : dosis lanjutan

Syarat pemberian MgSO4.


Refleks patella normal
Respirasi > 16 menit
Produksi urine dalam 4 jam sebelumnya >
100 cc ; 0,5 cc/kg BB/jam

Dasar Pengelolaan Preeklampsia


Berat
Anti-hipertensi diberikan bila tekanan darah
160/110 atau MAP 126.
Dosis awal Nifedipin10 mg akan
menurunkan tekanan darah dalam waktu 10
menit dan dengan efek maksimal setelah 3040 menit.
Untuk mempercepat absorpsi, obat
sebaiknya dikunyah lalu ditelan. Pemberian
sublingual tidak mempercepat pencapaian
efek maksimal.12
Tekanan darah diturunkan bertahap.
Penurunan awal 25% dari tekanan sistolik.
Tekanan darah diturunkan mencapai
12. Nafrialdi. Antihipertensi. Dalam: Farmakologi dan Terapi. Gunawan SG (editor). Edisi 5. Jakarta: FKUI. 2007. p. 359.
<160/105 mmHg atau MAP <125.

Dalam kasus ini tekanan darah pasien


saat masuk RS adalah 160/110 mmHg
dan MAP (sistolik + 2diastolik/ 3)
adalah 130 mmHg sehingga
pemberian nifedipin dapat dibenarkan.
Tekanan darah setelah pemberian
nifedipin menjadi lebih terkontrol,
dapat dilihat pada observasi
persalinan.

Observasi Persalinan

Cara Persalinan
Pasien dirujuk dari RS Jeumpa
dengan diagnosis preeklampsia berat
dan gagal induksi.
Cara persalinan pasien dengan
preeklampsia sedapat mungkin
persalinan pervaginam.
Induksi persalinan harus sudah
mencapai kala II dalam 24 jam. Bila
tidak, induksi persalinan dianggap
gagal, dan harus disusul dengan
pembedahan Caesar.

Pasien dilakukan tindakan operasi pada tanggal 7


Oktober 2014. Keadaan umum pasien sebelum
operasi adalah baik, kesadaran compos mentis,
tekanan darah 155/98 mmHg, nadi 96 kali/ menit,
dan napas 14 kali/ menit.
Operasi dilakukan dalam keadaan general
anaesthesia (GA).
Saat bayi lahir, SpO2 turun menjadi 85%.
Perdarahan selama operasi minimal 80 cc.
Penata anestesi melakukan evaluasi ETT dan
dilakukan reintubasi, kedua dada mengembang
bilateral, tetapi SpO2 tetap turun menjadi 68%
hingga terus turun menjadi 0%. Dilakukan
pengukuran nadi dan tidak teraba.

Segera dilakukan tindakan resusitasi jantung


paru (RJP), terjadi perdarahan pervaginam
yang aktif, perdarahan yang terjadi 100 cc.
Dilakukan resusitasi cairan untuk
mempertahankan status hemodinamik.
Tidak ada respon setelah dilakukan RJP
selama 30 menit.
Dokter anestesi melakukan defibrilasi dengan
energi 200 J, tetap tidak ada respon,
kemudian dinaikkan menjadi 300 J, dan ada
respon. Saturasi oksigen naik menjadi 40%,
nadi teraba 58 kali/ menit, tekanan darah
96/30 mmHg.
Pasien segera dibawa ke Intensive Care Unit
(ICU).

Tindakan Anastesi dan


Preeklampsia
Insidensi morbiditas dan mortalitas postoperasi tinggi setelah general anaesthesia
(GA) dibandingkan spinal anaesthesia (SA)
pada pasien preeklampsia berat yang
menjalani operasi caesar emergensi.13
Sekarang ini, teknik anestesi regional lebih
aman dan hasil obstetri yang lebih baik. Oleh
karena itu, anestesi regional digunakan luas
untuk menajemen obstetri pda wanita dengan
preeklampsia.
Data dari penelitian sebelumnya melaporkan
bahwa preeklampsia eklampsia dengan
komplikasinya serta perdarahan adalah
alasan utama untuk merawat pasien obstetri
di ICU.16,17

13. Ahsan-Ul-Haq M. Analysis of Outcome of General Versus Spinal Anaesthesia for Caesarean Delivery in Severe Preeclampsia with Fetal Compromise. Biomedica. 2004;
20:1-8.
16. Cohen J, Singer P, Kogan A, Hod M, Bar J. Course and Outcome of Obstetric Patients in A General Intensive Care Unit. Acta Obstet Gynecol Scand. 2000; 846-850.
17. Mirghani HM, Hamed M, Ezimokhai M, Weerasinghe DSL. Pregnancy-Related Admissions to the Intensive Care Unit. International J of Obs & Gynae. 2004; 82-85.

Ahsan-Ul-Haq (2004), 13

13. Ahsan-Ul-Haq M. Analysis of Outcome of General Versus Spinal Anaesthesia for Caesarean Delivery in Severe Preeclampsia with Fetal Compromise.
Biomedica. 2004; 20:1-8.

13. Ahsan-Ul-Haq M. Analysis of Outcome of General Versus Spinal Anaesthesia for Caesarean Delivery in Severe Preeclampsia with Fetal Compromise.
Biomedica. 2004; 20:1-8.

Cardiac Arrest dalam


Kehamilan

Cardiac arrest terjadi 1:30.000


kehamilan.18

18. Dabbous A, Souki F. Cardiac Arrest in Pregnancy. MEJ Anesth. 2007; 19(2):449-468.

Cardiac Arrest dan


Preeklampsia
Komplikasi preeklampsia yang dapat memicu
cardiac arrest meliputi: eklampsia, edema
pulmonal, disfungsi jantung, stroke, edema
serebral, dan sindrom HELLP.
Komplikasi iatrogenik preeklampsia seperti
toksisitas magnesium dan kelebihan cairan,
juga berkontribusi pada cardiac arrest
maternal.
Jika terjadi komplikasi cardiac arrest, hal
tersebut dapat dikarenakan penurunan
volume intravaskular, yang menjadi bagian
dari patofisiologi preeklampsia. Hipovolemia
membuat
kompresi
jantung
menjadi
kurang
19. Whitty JE. Maternal Cardiac Arrest During Pregnancy. Clinical J Obstet Gynec. 2003; 45(2):377-92.
efisien. 19

Emboli cairan amnion 1:50.000


kehamilan dan angka mortalitas
80%.20
Penyebab kematian emboli cairan
amnion adalah cardiac arrest. 21

20. Mahshid N, Ahmad S, Nahid M, Afshin F. Sudden Cardiac Arrest During Caesarean Section: A Posibble Case of amniotic
Fluid Embolism. MEJ Anesth. 2009; 20(2):315-317.
21. Amniotic Fluid Embolism Causing Catastrophic Pulmonary Vasoconstriction: Diagnosis by Transesophageal
Echocardiogram and Treatment by Caldiopulmonary Bypass. Obst and Gynecol. 2003; 102:496-498.

Komplikasi Anastesi Cardiac


Arrest
Komplikasi anestesi regional dan
general adalah penyebab lain cardiac
arrest selama persalinan.
Overdosis obat-obatan dapat memicu
toksisitas anestesi.
Perlu diingat juga bahwa induksi baik
pada GA atau anestesi regional dapat
menyebabkan hipotensi berat pada
pasien yang sebelumnya sudah
mengalami gejala dan tanda
hipovolemik.19

19. Whitty JE. Maternal Cardiac Arrest During Pregnancy. Clinical J Obstet Gynec. 2003; 45(2):377-92.

Dalam kasus ini terjadi cardiac arrest


saat dilakukan tidakan pembedahan.
Penyebab cardiac arrest pada pasien
ini kemungkinan dapat disebabkan
preeklampsia, emboli cairan ketuban,
maupun komplikasi tindakan anestesi.

Selama perawatan nifas di ICU,


pasien dalam keadaan koma,
hipotensi, takikardia, takipneu, dan
hipertermia. Berdasarkan hasil
pemeriksaan laboratorium didapatkan
hasil anemia normokrom normositer
dan leukositosis.

Cause of Death

Hampir satu pertiga pasien bedah


mengalami sepsis di Amerika serikat.
Sepsis merupakan penyebab kematian
non-kardiak utama pasien di ICU.
Menurut American College of Chest
Physicians and the Society of Critical
Care Medicines (ACCP/SCCM)
Consensus Conference, sepsis bedah
adalah systemic inflammatory response
syndrome (SIRS) ditambah infeksi dalam
14 hari setelah tindakan operasi mayor.22

22. Moore LJ, Moore FA. Epidemiology of Sepsis in Surgical Patients. Surg Clin N Am. 2012; 92:1425-1443.

SIRS

Dalam kasus, pasien memenuhi 4


gejala dari SIRS, yaitu hipertermia,
takikardia, takipneu, dan leukositosis.

22. Moore LJ, Moore FA. Epidemiology of Sepsis in Surgical Patients. Surg Clin N Am. 2012; 92:1425-1443.

Sepsis

Fokus infeksi dapat berasal dari luka


operasi ataupun nosokomial akibat
pemasangan intubasi. The U.S.
Department of Health and Human
Services (2009) menyatakan infeksi
yang didapat dari rumah sakit
berhubungan dengan 4 tipe infeksi:
infeksi luka operasi, akibat pemasangan
jalur infus, ventilator, dan pemasangan
kateter urin.23

23. Tazbir J. Early Recognition and Treatment of Sepsis in the Medical-Surgical Setting. CNE. 2012; 21(4): 205-209.

Syok Septik
Syok septik syok distributif
Vasodilatasi, kebocoran kapiler,
pelepasan faktor depresan miokard
abnormalitas distribusi TD rendah
perfusi metabolisme anaerob
asidosis laktat pompa Na+/K+
rusak, ruptur membran lisosom cell
death.24,25

24. Bridges, E.J., & Dukes, S. (2005). Cardiovascular aspects of septic shock: Pathophysiology, monitoring, and
treatment. Critical Care Nurse, 25(2), 14-16, 18-20, 22-24, 41-42.
25. Porth, C.M., & Matfin, G. (2009). Pathophysiology: Concepts of altered health states (8th ed.). Philadelphia, PA:
Lippincott Williams & Wilkins.

Pasien dinyatakan meninggal pada


tanggal 8 Oktober 2014 pukul 06.40
WIB setelah dilakukan tindakan
resusitasi.
Penyebab kematian pasien tersebut
kemungkinan disebabkan sepsis yang
mengarah ke syok.

TERIMA KASIH