Anda di halaman 1dari 11

Obat kardiovaskular atau obat jantung dan pembuluh darah

terbagi dari 16 golongan yaitu :


OBAT JANTUNG
Obat jantung biasanya digunakan untuk gagal jantung dan aritmia. Gagal Jantung
adalah suatu keadaan yang serius, dimana jumlah darah yang dipompa oleh jantung
setiap menitnya (cardiac output, curah jantung) tidak mampu memenuhi kebutuhan
normal tubuh akan oksigen dan zat-zat makanan.
* GOLONGAN ANTIANGINA
Obat kardiovaskular golongan antiangina digunakan untuk permasalahan jantung yang
berupa nyeri dada sementara atau suatu perasaan tertekan, yang terjadi jika otot
jantung mengalami kekurangan oksigen yang sering disebut Angina (angina pektoris).
* GOLONGAN ACE INHIBITOR
Obat kardiovaskular golongan ACE inhibitor, beta bloker, angiotensin II digunakan
untuk menurunkan tekanan darah yang tinggi dan biasanya dikombinasi dengan
diuretik. Untuk mengurangi penimbunan cairan yang akan menurunkan jumlah darah
yang masuk ke jantung sehingga mengurangi beban kerja jantung.
* GOLONGAN BETA BLOKER
Obat beta bloker merupakan obat yang menghambat efek sistem saraf simpatis.
* GOLONGAN ANTAGONIS KALSIUM
Obat kardiovaskular golongan Antagonis kalsium digunakan untuk menurunkan tekanan
darah yang tinggi dan biasanya dikombinasi dengan beta bloker.
* GOLONGAN ANTAGONIS ANGIOTENSIN II & KOMBINASINYA
Penggunaan obat antagonis angiotensin II ini digunakan pada gagal jantung kongestif
dan penyakit ginjal masih dalam penelitian.
* OBAT TEKANAN DARAH TINGGI / ANTIHIPERTENSI GOLONGAN LAIN.
Obat kardiovaskular golongan antihipertensi golongan lain biasa dalam bentuk
kombinasi dari satu sediaan obat.
Obat tekanan darah tinggi selain antagonis angiotensin I dan II, beta bloker, kalsium
antagonis dan diuretik juga ada obat tekanan darah tinggi golongan antagonis reseptor
alfa, agonis selektif reseptor alfa 2, penghambat saraf adrenergik dan kombinasinya.

* GOLONGAN DIURETIK
Fungsi utama diuretik adalah untuk memobilisasi cairan udem, yang berarti mengubah
keseimbangan cairan sedemikian rupa sehingga volume cairan ekstra sel kembali
menjadi normal.
* GOLONGAN VASODILATOR & AKTIVATOR SEREBRAL
Obat vasodilator adalah obat yang digunakan untuk mengurangi vasokontriksi (tekanan
pada pembuluh darah) yang sering terjadi penyakit jantung dan tekana darah tinggi
* GOLONGAN VASOKONTRIKTOR
Obat vasokontriksi mempunyai efek kebalikan dari obat vasodilator biasanya digunakan
untuk penderita hipotensi (tekanan darah yang rendah).
* OBAT MIGREN
Sakit Kepala Migren adalah nyeri berdenyut hebat dan berulang, yang biasanya
mengenai salah satu sisi kepala tetapi kadang mengenai kedua sisi kepala. Migren
terjadi jika arteri yang menuju ke otak menjadi sempit (konstriksi, mengkerut) dan
kemudian melebar (dilatasi), yang akan mengaktifkan reseptor nyeri di dekatnya.
Untuk mengatasi digunakan obat migren.
* GOLONGAN HEMOSTATIK
Obat kardiovaskular golongan hemostatik digunakan untuk mengurangi atau
menghentikan terjadinya pendarahan pada semua pembuluh darah di tubuh.
* GOLONGAN ANTIKOAGULAN, TROMBOLITIK & FIBRINOLITIK
Obat kardiovaskular golongan antikoagulan, trombolitik & fibrinolitik digunakan untuk
memperlancar peredaran darah dengan cara masing-masing. Antikoagulan berfungsi
dengan cara menghambat pembentukan atau menghambat fungsi beberapa faktor
pembekuan darah. Trombolitik melarutkan trombus yang sudah terbentuk, sedangkan
fibrinolitik melarutkan fibrin yang sudah terbentuk pada proses pembekuan darah.
* OBAT VARISES & PREPARAT FLEBITIS
Obat varises terutama ditujukan untuk mengurangi gejala, memperbaiki penampilan
dan mencegah komplikasi karena varises tidak bisa disembuhkan.
* GOLONGAN HEMORHEOROGIKAL
Hemoreologikal adalah obat yang digunakan untuk permasalahan sirkulasi darah. Di
Indonesia hemoreologikal yang beredar di pasaran adalah pentoksifilin, Naftidrofuril,

buflomedil, dan bencyclane. Gambar hemoreologikal


* GOLONGAN HEMOTOPOEITIK
Obat kardiovaskular golongan hemotopoeitik digunakan pada penderita anemia karena
gagal ginjal.
Obat kardiovaskuler atau yang lebih dikenal dengan obat jantung terbagi dari 4
kategori besar yaitu :
1. Obat gagal jantung
2. Obat jantung untuk aritmia/antiaritmia
3. Obat jantung untuk hipertensi/antihipertensi
4. Obat Jantung Untuk Angina
1. Obat gagal jantung
Obat gagal jantung jenis Digoxin meningkatkan kekuatan setiap denyut jantung dan
memperlambat denyut jantung yang terlalu cepat.
2. Obat jantung jenis antiaritmia
Ketidakteraturan irama jantung (aritmia, dimana denyut jantung terlalu cepat, terlalu
lambat atau tidak teratur), bisa diatasi dengan obat jantung jenis antiaritmia.
3. Obat jantung jenis antihipertensi
Sering digunakan obat jantung jenis antihipertensi yang melebarkan pembuluh darah
(vasodilator), yang bisa melebarkan arteri, vena atau keduanya.
4. Obat jantung jenis antiangina
Obat jantung untuk mengatasi angina pektoris (merupakan nyeri dada sementara atau
suatu perasaan tertekan, yang terjadi jika otot jantung mengalami kekurangan oksigen
) ada beberapa yang sering dipakai yaitu:

OBAT JANTUNG
(BISOPROLOL FUMARATE)

Komposisi :
Tiap tablet salut selaput mengandung:
Bisoprolol fumarate
5 mg

Farmakologi :
Bisoprolol adalah zat penyekat (blocking) adrenoreseptor S, selektif (kardioselektif)
sintetik tanpa aktivitas stabilisasi membran yang signifikan atau aktivitas

simpatomimetik intrinsik pada dosis terapi. Namun demikian, sifat


kardioselektivitasnya tidaklah mutlak, pada dosis tinggi ( >20 mg) bisoprolol fumarate
juga menghambat adrenoreseptor p2 yang terutama terdapat pada otot-otot bronkus
dan pembuluh darah; untuk mempertahankan selektivitasnya, penting untuk
menggunakan dosis efektif terendah.

Farmakodinamik :
Mekanisme kerja antihipertensi dari bisoprolol belum seluruhnya diketahui. Faktorfaktor yang terlibat adalah :
1.
2.
3.

Penurunan curah jantung


Penghambatan pelepasan renin oleh ginjal.
Pengurangan aliran tonus simpatis dari pusat vasomotor pada otak.

Pada orang sehat, pengobatan dengan bisoprolol menurunkan kejadian takikardia yang
diinduksi oleh aktivitas fisik dan isoproterenol. Efek maksimum terjadi dalam waktu 14 jam setelah pemakaian. Efek tersebut menetap selama 24 jam pada dosis >5 mg.
Penelitian secara elektrofisiologi pada manusia menunjukkan bahwa bisoprolol secara
signifikan mengurangi frekuensi denyut jantung, meningkatkan waktu pemulihan sinus
node, memperpanjang periode refrakter AV node dan dengan stimulasi atrial yang
cepat, memperpanjang konduksi/W node. Bisoprolol juga dapat diberikan bersamaan
dengan diuretik tiazid. Hidroklorotiazid dosis rendah (6,25 mg) digunakan bersamaan
dengan bisoprolol fumarate untuk menurunkan tekanan darah pada penderita
hipertensi ringan sampai sedang.

Farmakokinetik :
Bioavailabilitas dosis oral 10 mg adalah sekitar 80%. Absorpsi tidak dipengaruhi oleh
adanya makanan. Metabolisme lintas pertama bisoprolol fumarate sekitar 20%. Ikatan
dengan protein serum sekitar 30%. Konsentrasi puncak plasma pada dosis 5-20 mg
terjadi dalam 2-4 jam, dan nilai puncak rata-rata berkisar dari 16 ng/ml pada 5 mg
hingga 70 ng/ml pada 20 mg. Pemberian bisoprolol fumarate sekali sehari
memperlihatkan adanya variasi kadar plasma puncak intersubyek kurang dari dua kali
lipat. Waktu paruh eliminasi plasma adalah 9-12 jam dan sedikit lebih lama pada
penderita usia lanjut, hal ini disebabkan menurunnya fungsi ginjal. Steady state
dicapai dalam 5 hari, pada dosis sekali sehari. Akumulasi plasmanya rendah pada
penderita usia muda dan tua; faktor akumulasi berkisar antara 1,1 sampai 1,3, sesuai
dengan yang diharapkan dari kinetik urutan pertama dan pemberian sekali sehari.
Konsentrasi plasma pada dosis 5-20 mg adalah proposional. Karakteristik
farmakokinetik dari kedua enansiomer adalah serupa.Bisoprolol fumarate dieliminasi
melalui ginjal dan bukan ginjal, sekitar 50% dari dosis, tetap dalam bentuk utuh di urin
dan sisanya dalam bentuk metabolit tidak aktif. Kurang dari 2% diekskresikan melalui

feses. Bisoprolol fumarate tidak dimetabolisme oleh sitokrom P450 II D6 {debrisokuin


hidroksiiase). Pada subyek dengan bersihan kreatinin kurang dari 40 ml/menit, waktu
paruh plasma meningkat kira-kira 3 kali lipat dari orang sehat. Pada penderita sirosis
hati, eliminasi bisoprolol fumarate lebih bervariasi dalam hal kecepatan dan secara
signifikan lebih lambat dari orang sehat, dengan waktu paruh plasma berkisar antara
8,3 hingga 21,7 jam.

Indikasi :
Bisoprolol diindikasikan untuk hipertensi, bisa digunakan sebagai monoterapi atau
dikombinasikan dengan antihipertensi lain.

Kontraindikasi :
-

Hipersensitif terhadap bisoprolol fumarate.


Bisoprolol dikontraindikasikan pada penderita cardiogenic shock, kelainan
jantung, AV block tingkat II atau III, bradikardia sinus.

Dosis :
Dosis awal 5 mg sekali sehari atau dosis dapat ditingkatkan menjadi 10-20 mq sekali
sehari pada penderita bronkospastik, gangguan hati (hepatitis atau sirosis) dan
gangguan ginjal (bersihan kreatinin kurang dari 40 ml/menit), dengan dosis awal 2,5
mg sekali sehari.

Efek samping :
-

Sistim saraf pusat: dizziness, vertigo, sakit kepala, parestesia, hipoaestesia,


ansietas, konsentrasi berkurang.
Sistem saraf otonom: mulut kering.
Kardiovaskular : bradikardia, palpitasi dan gangguan irama lainnya, cold
extremities, klaudikasi, hipotensi, hipotensi ortostatik, sakit dada, gagal
jantung.
Psikiatrik : insomnia, depresi. Kardiovaskular: bradikardia, palpitasi dan
gangguan irama lainnya, cold extremities, klaudikasi, hipotensi, hipotensi
ortostatik, sakit dada, gagal jantung.
Psikiatrik: insomnia, depresi.
Gastrointestinal: nyeri perut, gastritis, dispepsia, mual, muntah, diare,
konstipasi.
Muskuloskeletal: sakit otot, sakit leher, kram otot, tremor.
Kulit: rash, jerawat, eksim, iritasi kulit, gatal-gatal, kulit kemerahan,

berkeringat, alopesia, angioedema, dermatitis eksfoiiatif, vaskulitis kutaneus.


Khusus: gangguan visual, sakit mata, lakrimasi abnormal, tinitus, sakit telinga.
Metabolik: penyakit gout.
Pernafasan: asma, bronkospasme, batuk, dispnea, faringitis, rinitis, sinusitis.
Genitourinaria: menurunnya libido/impotensi, penyakit Peyronie, sistitis, kolik
ginjal.
Hematologi: purpura.
Lain-lain: kelemahan, letih, nyeri dada, peningkatan berat badan.

Peringatan dan perhatian :


-

Hati-hati bila diberikan pada penderita kelainan ginjai dan hati.


Obat-obat golongan beta bloker sebaiknya tidak diberikan pada penderita
kelainan jantung.
Pada penderita bronkospastik sebaiknya tidak diberikan obat-obatan golongan
beta bloker karena sifat selektivitas beta-1 yang relatif, tetapi bisoprolol dapat
digunakan secara hati-hati pada penderita bronkospastik yang tidak
menunjukkan respon atau tidak toleran terhadap pengobatan antihipertensi
lain.
Beta bloker dapat menutupi beberapa bentuk hipoglikemia khususnya
takikardia. Oleh karena itu penderita hipoglikemia atau diabetes yang
mendapat insulin atau obat-obatan hipoglikemik harus hati-hati, begitu juga
dengan penggunaan bisoprolol fumarate.

Interaksi obat :
-

Bisoprolol sebaiknya tidak dikombinasikan bersama obat-obatan golongan beta


bloker.
Bisoprolol sebaiknya digunakan secara hati-hati bila diberikan bersamaan
dengan obat-obat penekan otot jantung atau penghambat konduksi AVseperti
kalsium antagonis [khususnya fenilalkilamin (verapamil) dan golongan
benzotiazepin (diltiazem)] atau obat-obatan antiaritmik seperti disopiramid.
Penggunaan bersama rifampisin dapat meningkatkan bersihan metabolit
bisoprolol.

OBAT GAGAL JANTUNG


( JENIS DIGOXIN )

Deskripsi:
Digoxin diperoleh dari daun tumbuhan digitalis (daun-daunan yang dipakai sebagai obat
memperkuat jantung). Digoxin membantu membuat detak jantung lebih kuat dan
dengan irama yang lebih teratur.
Komposisi :
Tiap tablet mengandung digoksin 0,25 mg.
Cara Kerja Obat :
Digoksin merupakan prototipe glikosida jantung yang berasal dari Digitalis lanata.
Mekanisme kerja digoksin melalui 2 cara, yaituefek langsung dan tidaklangsung. Efek
langsung yaitu meningkatkan kekuatan kontraksi otot jantung (efek inotropik positif).
Hal ini terjadi berdasarkan penghambatan enzim Na+, K+ -ATPasedan peningkatan arus
masuk ionkalsium keintra sel. Efektidak langsung yaitu pengaruh digoksin terhadap
aktivitas saraf otonom dan sensitivitas jantung terhadap neurotransmiter.

Indikasi:
Untuk mengobati gagal jantung kongestif, juga digunakan untuk mengobati fibrilasi
atrial, gangguan irama jantung pada atrium (serambi bagian atas jantung yang
membiarkan darah mengalir ke jantung).
Kontra indikasi :
BlokAVtingkat 2danblok AVtotal.
Aritmia supra ventrikular yang disebabkan sindroma Wolff - Parkinson - White.
Fibrilasi ventrikel.
Hipersensitif terhadap digoksin dan penderita dengan riwayat intoleransi terhadap
preparat digitalis.
Dosis:
62.5-250 mcg melalui mulut (per oral), 1 kali sehari
- Dewasa:
Dosis digitalisasi rata-rata 3-6 tablet sehari dalam dosis terbagi.
Untuk digitalisasi cepat dimulai2 - 3 tablet, diikuti 1 -2 tablet tiap 6-8 jam sampai
tercapai digitalisasi penuh. Untuk digitalisasi lambat dan dosis penunjang 1/2-2 tablet
sehari (1/2 - 1 tablet pada usia lanjut), tergantung pada berat badan dan kecepatan
bersihan kreatinin.
Dosis harusdikurangi pada penderita dengan gangguan fungsi ginjal.
- Anak-anak dibawah 10 tahun :
0.025 mg/kg BB sehari dalam dosis tunggalatau terbagi.
Interaksi Obat :

Kuinidin, verapamil, amiodarondan propafenon dapat meningkatkan kadar digitalis.


Diuretik, kortikosteroid, dapat menimbulkan hipokalemia, sehingga mudah terjadi
intoksikasi digitalis. Antibiotik tertentu menginaktivasi digoksin melalui metabolisme
bakterial di usus bagian bawah. Propantelin, difenoksilat, meningkatkan absorpsi
digoksin. Antasida, kaolin-peptin, sulfasalazin, neomisina, kolestiramin, beberapa obat
kanker, menghambat absorpsi digoksin. Simpatomimetik, meningkatkan resiko aritmia.
Beta - bloker, kalsium antagonis, berefek aditif dalam penghambatan konduksiAV.
Efek Samping:
1. Efek samping biasanya dalam kaitan dengan keracunan Digoxin atau kelebihan dosis
dan biasanya Digoxin dapat diterima dengan baik apabila diberikan sesuai dengan dosis
yang direkomendasikan untuk gagal jantung kongestif (CHF).
2. Keracunan Digoxin: Efek GI (N/V, anoreksia, diare, sakit di bagian perut) biasanya
merupakan tanda-tanda pertama dari keracunan Digoxin; Tanda-tanda lain dari
keracunan Digoxin: Efek CNS (sakit kepala, kelelahan, sakit di bagian wajah,
kelemahan, kepeningan, kebingungan mental); Gangguan penglihatan (mengaburkan
penglihatan, gangguan warna); Racun bisa menyebabkan efek CV yang serius
(memperburuk gagal jantung (HF), arrhythmias, ditemukan adanya konduksi).
3. Hipokalemia bisa mempengaruhi seseorang pada keracunan Digoxin.
4. Reaksi hipersensitif yang agak jarang terjadi.
Peringatan dan Perhatian :
Dosis lebih rendah pada pasien dengan berat badan rendah.usia lanjut, hipokalemia
dan hipotiroid. Setelah pemberian selama 14 hari, dosis hams diturunkan dan
disesuaikan dengan respon pasien. Hati-hati pemberian pada ibu hamil dan menyusui.
Hati-hati pemberian pada penderita gagal jantung yang menyertai glomerulonefritis
akut, karditis berat, gangguan fungsi ginjal sedang sampai berat, hipokalsemia,
hipomagnesemia, aritmia atrium yang disebabkan keadaan hipermetabolik, penyakit
nodus SA, Sindroma Wolff - Parkinson - White, perikarditis konstriktif kronik, bayi
neonatus dan bayi prematur. Blok AV tidak lengkap pada pasien dengan serangan
Stokes - Adams dapat berianjut menjadi Blok AV lengkap. Jangan digunakan untuk
terapi obesitas atau takikardia sinus, kecuali jika disertai gagal jantung.
Digoksin dapat menimbulkan perubahan ST-T yang pgsitjf semu pada EKG selama
testlatihan. Anoreksia, mual, muntan dan aritmia dapat merupakan gejala penyerta
gagal jantung atau gejala-gejala keracunan digitalis. Bila timbul keracunan digitalis
maka pemberian obat digitalis dandiuretik dihentikan.

Instruksi Khusus:
1. Dosis rendah Digoxin (62.5 mcg/hari atau 125 mcg setiap hari lainnya) harus
digunakan pada orang yang lebih tua, pasien dengan kerusakan fungsi ginjal atau
pasien dengan massa tubuh rendah (kurus).
2. Dosis muatan tidak diperlukan pada pasien gagal jantung kongestif (CHF).
3. Hindari pada pasien dengan kardiomiopati obstruktif kecuali jika ada gagal jantung
akut, pada pasien dengan sindrom Wolff-Parkinson-White (WPW); tidak boleh
digunakan untuk ventricular arrhythmias.
4. Gunakan dengan hati-hati pada kasus hambatan jantung parsial, gangguan batang
sinus, miokarditis akut, MI (myocardial infarction) akut, gagal jantung parah, penyakit
pulmonary akut, pada pasien yang menjalani cardioversion (pertimbangkan
menghentikan cardioversion dalam waktu 1-2 hari sebelum prosedur dilakukan) dan

dengan obat-obatan lain yang bisa menekan fungsi sinus dan fungsi AV nodal (misalnya,
Amiodarone atau beta-blocker).
5. Hipokalemia, hiperkalemia, hipomagnesemia, hipoksia, dan hipertiroidisme bisa
mempengaruhi sensitivitas terhadap digoxin.
6. Pengawasan tingkat digoxin hanya diperlukan jika diduga terjadi keracunan.

OBAT JANTUNG
(CARDIOVER VERAPAMIL)

Komposisi:
Tiap tablet salut selaput mengandung :
VerapamilHCI 80mg
Farmakologi:
CARDIOVER merupakan obat antagonis kalsium dengan menghambat
influks kalsium melalui calcium channel pada sel otot jantung dan otot
polos. Efektif untuk angina pektoris dan gangguan aritmia terutama
pada takiaritmia supraventrikular.Efek kalsium antagonis dapat
ditimbulkan karena dihambatnya pemasukan kalsium melalui membran
sel, akibatnya akan terjadi pengurangan aktivitas kalsium yang
tergantung pada myosin ATP-ase. Hal Ini berpengaruh terhadap
penurunan produksi energi yang tinggi yang didapat dari pembakaran
phosphat. Proses ini memperkecll kebutuhan okslgen otot jantung,
kenaikan laju pengaliran darah pada arterl koronersendiri.
Proses Ini dlsertal dengan penurunan reslstensi perlferyang disebabkan
oleh efek antagonis kalsium pada otot-otot polos dart pembuluh darah,
karena akan terjadi pengecilan tonus vascular.Penurunan resistensi
perifer akan mengurangi beban jantung dan akan mengurangi
kebutuhan jantung, akibat lanjutan terjadinya pengurangan konsumsl
okslgen otot-otot jantung.Efek anti aritmia terutama disebabkan oleh
efek langsungnya dalam memperlambat konduksi impuls melalui nodus
AV. Dengan memperlambat waktu konduksi dan memperpanjang masa
refrakter pada nodus AV, CARDIOVER" menghentikan takikardia di

supraventrikular. serta memperlambat respon ventrikel terhadap


kecepatan denyut atrium.
Indikasi:
Untuk mengobotl angina pektoris dan takiaritmia supraventrikular.
Dosis:
Dewasa: 240 - 480 mg dalam 3 - 4 dosis terbagi.
Penggunaan dan keamanan dosis dl atas 480 mg/hari belum dapat
dipastikan.
Kontra indikasi:
Cardiovascular shock.
Komplikasi akut myocardial infark.
Blokade atrio ventricular derajat 2-3. . BlokSA.
Penyakitsindrom sinus.
Hipotensi atau kardlogenik syok.
Disfungsi ventrikular kiri yang parah.
Penderita dengan atrial flutter atau fibrilasi atrial dan accessory by
pass tract (seperti wolf-parkinson-white, lown-ganong-Levine
Syndromes).
Penderita yang hipersensitif terhadap CARDIOVER".
Efek Samping:
Yang sering terjadi: konstipasi dan pusing.
Jarang terjadi : mual, sakit kepala, hipotensi. udema pergelangan kakt
kelelahan, bradikardi, aritmia.
Sangat jarang terjadi: nyeri otot, nyeri sendi, reaksi alergi kulit,
Gynecomastla.
Peringatan dan Perhatian:
Tidak boleh diberikan pada penderita yang sudah ada blokade di
nodus AV
Hati-hati pemberian pada penderita dengan disfungsi nodus SA,
karena efeknya yang sangat kuat terhadap konduksi AV.
Tidak diberikan pada penderita disfungsi jantung klrl berat, kecuall
blla keadaan Ini ditimbulkan oleh denyut jantung cepat.
Jika terjadi payah jantung, mutlak diperlukan pemberian "Cardiac
glycosides" sebelum diobati dengan CARDIOVER.
Pada kondisi akut, seperti pada infark miokard dan stroke tingkat
akut, kemungkinan dapat terjadi penurunan tekanan darah, terutama
jika hipotensi mulaiada.
Hati-hati pemberian pada penderita dengan kegagalan fungsi hati dan
ginjal.
Hati-hati pemakaian pada wanita hamil dan menyusui.

Keamanan dan efektivitas penggunaan pada anak-anak dibawah 18


tahun belum diketahui dengan pasti.
Interaksi Obat:
Pemakaian bersama S-Bloker atau Digitalis dapat menimbulkan
bradikardia atau Blok AV karena adanya efek aditif dari kedua obat Ini
pada nodus SA atau nodus AV.
Kombinasi dengan antihipertensi (Reserpin atau Metildopa) dapat
menekan nodus SA sehingga memperberat bradicardisinus.
Dapat mengurangi efek obat dengan adanya : Lithium, Rifampisin,
Fenobarbital.
Mempertinggi tingkat plasma obat dengan adanya : Siklosporin,
Teofilin, Digoksin, Carbamazepin.