Anda di halaman 1dari 84

SPONDILOSIS TB

1.

Anatomi Vertebrae

2.

Definisi dan Klasifikasi Spondilosis Tb

3.

Etiologi dan Epidemiologi Spondilosis Tb

4.

Manifestasi klinis Spondilosis Tb

5.

Patofisiologi Spondilosis Tb

6.

Diagnosis Banding Spondilosis Tb

7.

Diagnosis Spondilosis Tb (Anamnesis,Pemeriksaan Fisik,Pemeriksaan


Penunjang)

8.

Penatalaksanaan Spondilosis Tb (Farmako,Non farmako,Pencegahan)

9.

Komplikasi dan Prognosis Spondilosis Tb

Struktur Tulang Belakang

Vertebrae terdiri dari 33 ruas yaitu :

7 ruas vertebra cervicalis


12 ruas vertebra thoracalis
5 ruas vertebra lumbalis
5 ruas vertebra sakralis
4 os coccigeus

Secara anatomis setiap ruas vertebra akan


terdiri dari 2 bagian :
Bagian anterior Bagian ini struktur utamanya
adalah corpus vertebrae. Bagian ini fungsi
utamanya adalah untuk menyangga berat
badan. Di antara dua corpus vertebra yang
berdekatan dihubungkan oleh struktur yang
disebut diskus intervertebralis yang bentuknya
seperti cakram, konsistensinya kenyal dan
berfungsi sebagai peredam kejut (shock
absorber)

Bagian posterior
Fungsi proteksi, oleh karena bagian ini
bentuknya seperti cincin dari tulang yang
amat kuat dimana di dalam lubang di
tengahnya terdapat medulla spinalis
Fungsi stabilisasi. Fungsi ini didapat oleh
kuatnya persendian di bagian belakang
yang diperkuat oleh adanya ligamen dan
otot-otot yang sangat kuat

Ligamentum dan otot

Untuk memperkuat dan menunjang


tugas tulang belakang dalam
menyangga berat badan, maka
tulang belakang di perkuat oleh otot
dan ligament.

Ligament Intersegmental
(menghubungkan seluruh panjang
tulang belakang dari ujung ke ujung):
a. Ligament Longitudinalis Anterior
b. Ligament Longitudinalis Posterior
c. Ligament praspinosum

Ligament Intrasegmental
(Menghubungkan satu ruas tulang
belakang ke ruas yang berdekatan)
a. Ligamentum Intertransversum
b. Ligamentum flavum
c. Ligamentum Interspinosum

DEFINISI DAN KLASIFIKASI


Spondilitis Tuberkulosis

DEFINISI
Tuberkulosis tulang belakang atau spondilitis
tuberkulosa merupakan granulomatosa yang
bersifat kronik destruktif oleh mikobakterium
tuberkulosa.
Spondilitis tuberkulosa selalu merupakan infeksi
sekunder dari fokus di tempat lain.
Dikenal pula dengan nama Pott disease atau
tuberculos vertebral osteomyelitis

Klasifikasi
Spondilitis

Spondilitis
Ankilosis

Spondilitis
Tuberkulosis

Idiopatik

Mycobacterium
Tuberculosa

Spondilitis Ankilosis
Berasal dari bahasa Yunani,dari kata Spondylos (vertebrae)
dan ankylos (melengkung),adalah penyakit inflamasi
kronik,bersifat sistemik ditandai dengan kekakuan progresif
dan terutama menyerang sendi tulang belakang dengan
penyebab yang tidak diketahui.
Spondilitis Ankilosis umumnya menyerang usia 10-30 tahun

BERDASARKAN LOKASI INFEKSI AWAL PADA


KORPUS VERTEBRAE DIKENAL TIGA BENTUK
SPONDILITIS:

1) PERIDISKAL/PARADISKAL

Infeksi pada daerah yang


bersebelahan dengan diskus(di area
metafise di bawah ligamentum
longitudinal anterior/area
subkondral).banyak di temukan pada
orang dewasa.dapat menimbulkan
kompresi,iskemia,dan nekrosis
diskus,terbanyak ditemukan di regio
lumbal.

2) Sentral

Infeksi terjadi pada bagian


sentral korpus vertebra.
Sering terjadi pada anak-anak.
Keadaan ini menimbulkan
kolaps vertebrae lebih
dini,deformitas spinal yang
lebih hebat dan dapat terjadi
kompresi yang bersifat spontan
Terbanyak ditemukan di regio
Thorakal

3) Anterior

Infeksi terjadi akibat


perkontinuitatum dari vertebra di
atas dan dibawahnya.
Gambaran radiologis adanya
Scalloped karena erosi di bagian
anterior dari sejumlah vertebrae
Disebabkan karena perubahna
lokal dari suplai darah di
vertebral

Epidemiologi

Epidemiologi
Prevalensi TB di Indonesia pada 2013
ialah 297 per 100.000 penduduk
Kasus baru setiap tahun mencapai
460.000 kasus. Dengan demikian, total
kasus hingga 2013 mencapai sekitar
800.000-900.000 kasus.

Epidemiologi
Pada Global Report WHO 2010, didapat data TB
Indonesia, Total seluruh kasus TB tahun 2009
sebanyak 294.731 kasus
169.213 adalah kasus TB baru BTA positif
108.616 adalah kasus TB BTA negatif
11.215 adalah kasus TB Extra Paru
3.709 adalah kasus TB Kambuh
1.978 adalah kasus pengobatan ulang diluar
kasus kambuh (retreatment, relaps)

Epidemiologi
Berdasarkan Global Tuberkulosis Kontrol tahun 2011
Angka prevalensi semua tipe TB adalah sebesar 289 per 100.000
penduduk
atau sekitar 690.000 kasus.
Insidensi kasus baru TBC dengan BTA positip sebesar 189 per 100.000
penduduk atau sekitar 450.000 kasus.
Kematian akibat TB di luar HIV sebesar 27 per 100.000 penduduk atau 182
orang per hari.
Menurut laporan WHO tahun 2013, Indonesia menempati urutan ke tiga
jumlah kasus tuberkulosis setelah India dan Cina dengan jumlah sebesar
700 ribu kasus.
Angka kematian masih sama dengan tahun 2011 sebesar 27 per 100.000
penduduk,
Angka insidennya turun menjadi 185 per 100.000 penduduk di tahun 2012
(WHO, 2013).

Epidemiologi
Spondilitis tuberkulosa merupakan 50 % dari seluruh
tuberkulosis tulang dan sendi yang terjadi. Di Ujung
Pandang insidens spondilitis tuberkulosa ditemukan
sebanyak 70 % dan Sanmugasundarm juga menemukan
persentase yang sama dari seluruh tuberkulosis tulang
dan sendi. Spondilitis tuberkulosa terutama ditemukan
pada kelompok umur 2 10 tahun dengan
perbandingan yang sama antara wanita dan pria.
Sering mengenai vertebra 40 50 %, panggul 30% dan
sendi lutut dan sendi sendi lainnya. Dapat disertai
dengan adanya tuberkulosis paru paru

Etiologi

Spondilosis Tb
Infeksi sekunder dari tuberkulosis di tempat
lain di tubuh, 90-95% disebabkan oleh
Mycobacterium tuberculosa (2/3 dari tipe
human dan 1/3 dari tipe bovin)
M. tuberculosis dinamakan juga Basil Koch
karena pertama sekali ditemukan oleh Robert
Koch pada tahun 1882

Spondilosis Tb
Lokalisasi spondilitis tuberkulosa terutama
pada daerah vertebra torakal bawah dan
lumbal atas, sehingga diduga adanya infeksi
sekunder dari suatu tuberkulosis traktus
urinarius, yang penyebarannya melalui pleksus
Batson pada vena paravertebralis

Taksonomi
Mycobacterium tuberculosa

Kingdom
Phylum
Kelas
Ordo
Family
Genus
Spesies

: Plant
: Scizophyta
: Scizomycetes
: Actinomycetales
: Mycobacteriaceae
: Mycobacterium
: Mycobacterium tuberculosis

Morfologi
a. Bentuk
Kuman Mycobacterium tuberculosa berbentuk
batang lurus atau agak bengkok
Ukuran panjang 5 dan lebar 3 .
Dengan pewarnaan Ziehl-Neelsen akan
tampak berwarna merah dengan latar
belakang biru, seperti berikut :

Morfologi
b. Penanaman/kultur
Kuman ini tumbuh lambat (waktu pertumbuhan
sekitar 20 jam), koloni tampak kurang dari 2 minggu
bahkan kadang-kadang setelah 6-8 minggu.
Suhu optimum 37C, tidak tumbuh pada suhu 25C
atau lebih dari 40C.
PH 6,4 7,0
Media padat yang biasa dipergunakan adalah
Lowenstein-jensen.
Pada perbenihan berbentuk kokoid dan berfilamen
Koloni cembung,kering,kuning gading
Tidak berspora dan tidak bersimpai

Morfologi
Gram positif lemah yaitu sulit untuk diwarnai
tetapi sekali berhasil diwarnai sulit untuk dihapus
walaupun dengan zat asam, sehingga disebut
sebagai kuman batang tahan asam. Hal ini
disebabkan oleh karena kuman bakterium
memiliki dinding sel yang tebal yang terdiri dari
lapisan lilin dan lemak (asam lemak mikolat).
Selain itu bersifat pleimorfik

MORFOLOGI
c. Sifat dan Daya tahan
Aerob obligat
Energi didapat dari senyawa karbon yang sederhana
Dapat mati jika terkena cahaya matahari langsung
selama 2 jam.
Mudah menular, daya tahan tinggi , mampu bertahan
hidup beberapa jam ditempat gelap dan lembab. Oleh
karena itu, dalam jaringan tubuh kuman ini dapat
dormant (tidur), tertidur lama selama beberapa tahun.
Basil yang ada dalam percikan dahak dapat bertahan
hidup 8-10 hari

Manifestasi klinis Spondylitis TB

Gejala Sistemik
Sesak napas
Gangguan sirkulasi udara
diparu akibat kerusakan
jaringan paru (cavitas).

Batuk kronis (berdahak &


berdarah)
Usaha untuk mengeluarkan
bakteri dari saluran napas.

Keringat malam hari


Peningkatan metabolisme

Bila fokus
infeksi primer
di paru

Gejala Sistemik
Microbial products such as
bacterial cell wall compounds (e.g.,
lipopolysaccharides), microbial
nucleic acids (e.g., DNA, RNA)

stimulate

The cytokine-induced increase in


leptin expression or its serum levels

reduction in food intake

production of
proinflamatory cytokines
(e.g., ILs, TNF-).

TNF increases leptin gene


expression from fat tissue

Anorexia

Weight loss

http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/Leptin Levels in Various Manifestations of


Pulmonary Tuberculosis

Gejala Lokal
Nyeri punggung
Progresifitas fokus infeksi kompresi jaringan sekitarnya
Nyeri terlokalisir.

Progresifitas fokus infeksi kompresi medulla spinalis


Nyeri radikuler.

Infeksi regio cervical : nyeri daerah telinga/menjalar ke tangan


Infeksi regio thorakal atas : nyeri di dada & intercostal
Infeksi regio thorakal bawah : nyeri menjalar ke bagian perut
Infeksi regio lumbal : nyeri menjalar ke paha

Gejala lokal
Gangguan pergerakan vertebrae
Fokus infeksi

Destruksi corpus vertebrae

Kerusakan diskus interverteralis

Dehidrasi
diskus
intervertebralis

Kesulitan pergerakan rotasi & fleksi


vertebrae

Fibrosis diskus
intervertebralis

Penyempitan space
inter vertebralis

PATOFISIOLOGI

Spondilitis tuberkulosa atau


Potts disease adalah suatu
penyakit yang disebabkan oleh
infeksi kuman Mycobacterium
tuberkulosa ekstrapulmonal yang
mengenai satu atau lebih tulang
belakang.
Merupakan
bentuk
infeksi
muskuloskeletal yang paling
berbahaya karena menyebabkan
destruksi tulang, deformitas dan
paraplegia.

Patofisiologi
Infeksi kuman tb di
paru-paru

Kuman tb
hancur

Fagositosis oleh
makrofag
Kuman tb
tidak hancur

Makrofag lisis,
kuman tb
berkembang biak

Terbentuk fokus
primer Ghon di paru

Penyebaran kuman tb
limfogen/hematogen

Patofisiologi

Penyebaran
kuman tb

Limfogen

Kompleks
Primer

Hematogen

Seluruh
tubuh

Stadium II

Stadium III

Stadium I

Stadium IV

Organ
tulang

Kolonisasi
kuman tb di
jaringan tulang

Stadium I (Implantasi) : bakteri mengendap di jaringan tulang,


bila daya tahan tubuh host turun maka bakteri atau kuman tb
akan berkembang biak membentuk koloni, berlangsung
selama 6-8 minggu.
Stadium II (Destruksi awal) : selanjutnya akan terjadi destruksi
korpus bakteri vertebrae serta penyempitan ringan dari diskus
intervertebralis, berlangsung selama 3-6 minggu.
Stadium III (Destruksi lanjut dan Kolaps) : destruksi masif
korpus vertebrae dan membentuk massa kaseosa serta pus
(cold abses), berlangsung selama 2-3 bulan setelah stadium II.
Pada stadium ini dapat ditemukan gibus dan kifosis.
Stadium IV (Gangguan neurologis) : berkaitan dengan kifosis
yang sudah terjadi dan penekanan abses ke daerah kanalis
spinalis, menyebabkan gangguan neurologis yang disebut
dengan paraplegia.

Cold Abses

Destruksi Korpus Vertebrae

Gambaran Gibus

Diagnosis Banding

Infeksi
Piogenik

Infeksi Enterik

Tumor/
penyakit
keganasan

Scheurmanns
disease

Infeksi Piogenik
Contoh : karena Staphylococcal /Suppurative
Spondylitis

Pada Foto Rontgen :


Adanya sklerosis atau pembentukan tulang baru menunjukan adanya
Infeksi piogenik
Keterlibatan dua atau lebih corpus vertebrae yang berdekatan
menunjukan adanya infeksi tuberkulosa daripada infeksi bakterial lain

Infeksi Enterik
Contoh seperti : Typhoid dan Paratyphoid

Dibedakan dari pemeriksaan Laboratorium :


Pada typhoid bisa didapatkan anemia,jumlah keukosit normal,bisa
menurun atau meningkat , didapatkan tombositopenia dan Diff.count (
hitung jenis leukosit bergeser kekiri
Adanya leukopenia dan limfositosis diagnosis kuat typhoid .

Tumor / Penyakit keganasan


Contoh seperti :leukemia,hodgkins
disease,Eosinophilic granuloma dan Ewings
Sarcoma

Metastase dapat menyebabkan destruksi dan kolapsnya corpus vertebrae tetapi


berbeda dengan spondilitis tuberkulosa karna ruang diskusnya tetap
dipertahankan
Secara radiologis kelainan karena infeksi mempunyaki bentuk yang lebih difus
sementara Tumor tampak suatu lesi yang berbatas jelas

Scheuermanns Disease
Disebut juga Kifosis Scheuermann tulang
bagian atas terangkat menjadi seperti punuk
tejadi perubahan diskus dan ruang diskus yang
terjadi selama pertumbuhan

Mudah dibedakan dengan Spondilitis Tuberkulosa


Karena tidak adanya penipisan korpus vertebrae kecuali dibagian sudut
superior dan inferior bagian anterior dan tidak terbentuk abses
paraspinal

Diagnosis
(Anam, PJ, PP)

Anamnesis
Anamnesis dilakukan untuk mendapatkan
keterangan dari pasien, meliputi keluhan
utama, keluhan sistem badan,riwayat penyakit
sekarang, riwayat penyakit dahulu, dan
riwayat penyakit keluarga atau lingkungan.

Pemeriksaan fisik
a. Inspeksi Pada klien dengan spondilitis
tuberkulosa kelihatan lemah, pucat, dan pada
tulang belakang terlihat bentukkiposis.
b. PalpasiSesuai dengan yang terlihat pada inspeksi,
keadaan tulang belakang terdapat adanya gibbus
pada area tulangyang mengalami infeksi.
c. Perkusi pada tulang belakang yang mengalami
infeksi terdapat nyeri ketok.
d. Auskultasi pada pemeriksaan auskultasi, keadaan
paru tidak ditemukan kelainan.

Pemeriksaan penunjang (1)


1. Pemeriksaan laboratorium.
Pemeriksaan darah lengkap didapatkan leukositosis dan
LED meningkat.
b. Uji mantoux positif tuberkulosis.
c. Uji kultur biakan bakteri dan BTA ditemukan
Mycobacterium.
d. Biopsi jaringan granulasi atau kelenjar limfe regional.
e. Pemeriksaan hispatologis ditemukan tuberkel.
f. Pungsi lumbal didapati tekanan cairan serebrospinalis
rendah.
g. Peningkatan CRP (C-Reaktif Protein).

Pemeriksaan penunjang (2)


h. Pemeriksaan serologi dengan deteksi antibodi
spesifik dalam sirkulasi.
i. Pemeriksaan ELISA (Enzyme-Linked
Immunoadsorbent Assay) tetapi menghasilkan
negatif palsu pada penderitadengan alergi.
j. Identifikasi PCR (Polymerase Chain Reaction)
meliputi denaturasi DNA kuman tuberkulosis
melekatkan nukleotida tertentu pada fragmen
DNA dan amplifikasi menggunakan DNA
polimerase sampai terbentuk rantaiDNA utuh
yang diidentifikasi dengan gel.

Pemeriksaan radiologis
a. Foto toraks atau X-ray untuk melihat adanya tuberculosis pada paru.
Abses dingin tampak sebagai suatu bayangan yang berbentuk
spindle.
b. Pemeriksaan foto dengan zat kontras.
c. Foto polos vertebra ditemukan osteoporosis, osteolitik, destruksi
korpus vertebra, penyempitan diskus intervertebralis, dan mungkin
ditemukan adanya massa abses paravertebral.
d. Pemeriksaan mielografi.
e. CT scan memberi gambaran tulang secara lebih detail dari
lesiirreguler, skelerosis, kolaps diskus, dan gangguan sirkumferensi
tulang.
f. MRI mengevaluasi infeksi diskus intervertebralis dan osteomielitis
tulang belakang serta menunjukkan adanya penekanan saraf
(Lauerman, 2006).

Foto polos abdomen lateral

USG abdomen

Penalaksanaan Spondilitis
Tuberculosa

Tujuan Pengobatan
Mengeradikasi infeksi atau setidaknya
menahan progresifitas penyakit
Mencegah atau mengkoreksi deformitas atau
defisit neurologis

Penatalaksanaan
Terapi
konservatif

Terapi
operatif
Penatalaksanaan

Terapi Konservatif
1. Tirah Baring
Istirahat menggunakan gips untuk melindungi
vertebrae (terutama pada fase aktif)
Dilakukan sampai diperoleh keadaan tenang
secara klinis, radiologis dan laboratoris.

2. Pemberian anti tuberculosa


Tujuan pemderian obat antituberkulosa (OAT)
secara umum adalah:
Menyembuhkan penderita dalam waktu singkat
dengan gangguan yang minimal
Mencegah kematian akibat penyakit atau oleh
efek lanjutannya.
Mencegah kekambuhan
Mencegah timbulnya kuman yang resisten
Melindungi masyarakat dari penularan

Syarat Pemberian anti tuberculosa

Terapi sedini mungkin


Obat-obat dalam bentuk kombinasi
Diberikan secara teratur
Dosis harus cukup
Diberikan sesuai jangka
waktu pemberiannya.

Obat obat Anti tuberculosa

Penggunaan OAT Rekomendasi WHO

Penggunaan OAT di Indonesia


Paduan pengobatan yang digunakan oleh
Program Nasional Penanggulangan TB oleh
Pemerintah Indonesia :
Kategori 1
2HRZE
/4H3R3

Katergori 2
2HRZES/HRZE
/5H3R3E3.

Kategori 3
2 HRZ
/4H3R3.

Non Farmakologi

Pencegahan
Vaksin Bacillus Calmate-Guerin (BCG)
merupakan satu strain Mycobacterium bovis
yang dilemahkan sehingga virulensinya
berkurang. BCGstimulasi
imunitasmeningkatkan daya tahan tubuh.
Percobaan terkontrol di negara Barat,
sebagian anak-anak cukup gizi, BCG
menunjukkan efek proteksi sekitar 80%

Pencegahan
WHO dan International Union Against
Tuberculosis and Lung Disease tetap
menyarankan pemberian BCG pada negaranegara dengan prevalensi tuberkulosa tinggi
Dosis normal vaksin: 0,05ml untuk neonatus
dan bayi

Pencegahan
Anak yang lebih besar dan dewasa 0,1ml
(dosis normal)
*pada dewasa hanya mempunyai efek yg
sedikit dalam mengurangi jumlah infeksi
Bisa menggunakan terapi profilaksis dengan
INH berdosis harian 5mg/kg/hari selama 1
tahun karena mengurangi risiko tuberkulosa

Terapi Operatif
Medical Research Council pasien dengan
tuberkulosa tulang belakang mengalami
perbaikan hanya dengan kemopterapi saja
Intervensi operasi untuk pasien yang
mempunyai lesi kompresif secara radiologis
dan menyebabkan timbulnya kelainan
neurologis

Terapi Operatif
Tindakan dilakukan bila setelah 3-4 minggu
pemberian terapi obat anti tuberkulosa dan
tirah baring sudah dilakukan tapi tidak
memberi respon
Mengevakuai pus tuberkulosa mengambil
sekuster tuberkulosa yang telah
terinfeksimefusikan segmen tulang yang
terlibat

Komplikasi & Prognosis


Spondilitis TB

Komplikasi
Pottds paraplegiaa

stadium awal tekanan ekstradural oleh pus maupun


sequester atau invasi jaringan granulasi pada medula spinalis
stadium lanjut oleh terbentuknya fibrosis dari jaringan
granulasi atau perlekatan tulang di atas kanalis spinalis.

Ruptur abses paravertebrae

Pada vertebra torakal maka nanah akan turun ke dalam pleura


sehingga menyebabkan empiema tuberculosis
Pada vertebra lumbal maka nanah akan turun ke otot iliopsoas
membentuk psoas abses yang merupakan coldabsces

Cedera corda spinalis

adanya tekanan ekstradural sekunder karena pus tuberkulosa,


sekuestra tulang, sekuester dari diskus intervertebralis
karena keterlibatan korda spinalis oleh jaringan granulasi
tuberkulosa

Prognosis
Spondilitis tuberkulosa merupakan penyakit menahun.
Dengan jalan radikal operatif, penyakit ini dapat sembuh dalam waktu
singkat sekitar 6 bulan
Diagnosis sedini mungkin dan pengobatan yang tepat, prognosisnya baik
walaupun tanpa operasi. Penyakit dapat kambuh apabila pengobatan tidak
teratur atau tidak dilanjutkan setelah beberapa saat karena terjadi
resistensi terhadap pengobatan
Spondilitis dengan paraplegia awal prognosis untuk kesembuhan saraf
lebih baik
spondilitis dengan paraplegia akhir prognosis biasanya kurang baik

Referensi
Harsono, 2003. Spondilitis Tuberkulosa dalam Kapita Selekta Neurologi. Ed.
II. Yogyakarta: Gajah Mada University Press. p. 195-197
Rasjad C., 2003. Spondilitis Tuberkulosa dalam Pengantar Ilmu Bedah
Ortopedi. Ed.II. Makassar: Bintang Lamumpatue. p. 144-149
Jurnal Tuberkulosis Indonesia Vol. 8 - Maret 2012. Diterbitkan oleh
Perkumpulan Pemberantasan Tuberkulosis Indonesia
http://download.portalgaruda.org/article.php?article=149841&val=5652
&title=DETERMINASI%20PENYAKIT%20TUBERKULOSIS%20DI%20DAERA
H%20PEDESAAN
Website resmi Depkes RI http://www.depkes.go.id/

Referensi
Majalah Kedokteran Nusantara Volume 39 y No. 3 y September 2006
http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/20690/1/mknsep2006-%20sup%20(16).pdf
ejournal Keperawatan (e-Kp) Volume 1. Nomor 1. Agustus 2013
http://ejournal.unsrat.ac.id/index.php/jkp/article/viewFile/2247/1804
Website resmi WHO http://www.who.int/tb/country/data/profiles/en/
Sub Direktorat TB Departemen Kesehatan RI dan World Health
Organization (WHO). Hari TB Sedunia : Lembar Fakta Tuberkulosis.
http://www.tbindonesia.or.id/2013/10/24/who-laporan-global-tb-2013/
Koran Elektronik
http://health.kompas.com/read/2014/03/03/1415171/Indonesia.Pering
kat.4.Pasien.TB.Terbanyak.di.Dunia