Anda di halaman 1dari 13

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Pengertian Diabetes Mellitus


Diabetes Mellitus merupakan suatu penyakit yang ditandai dengan kadar glukosa
darah melebihi normal. Insulin yang dihasilkan oleh kelenjar pankreas sangat penting
untuk menjaga keseimbangan kadar glukosa darah yaitu untuk orang normal (non
diabetes) waktu puasa antara 60-120 mg/dL dan dua jam sesudah makan dibawah 140
mg/dL. Bila terjadi gangguan pada kerja insulin, keseimbangan tersebut akan
terganggu sehingga kadar glukosa darah cenderung naik. Gejala bagi penderita
diabetes mellitus adalah dengan keluhan keluhan banyak minum (polidipsi), banyak
makan (poliphagia), banyak buang air kecil (poliuri), badan lemas serta penurunan
berat badan yang tidak jelas penyebabnya, kadar gula darah pada waktu puasa 126
mg/dL dan kadar gula darah sewaktu 200 mg/dL (Badawi, 2009).

2.2. Etiologi Diabetes Mellitus


Etiologi terjadinya diabetes mellitus sampai saat ini masih belum jelas, akan tetapi
diperkirakan menjurus ke suatu sebab yang multifaktorial. Artinya ada penyakit
diabetes mellitus dapat terjadi karena kekurangan insulin yang disebabkan oleh
banyak keadaan-keadaan, antara lain : jumlah insulin yang dihasilkan pankreas
menurun, jumlah insulin yang dihasilkan cukup tetapi kebutuhan insulin meningkat
atau resistensi insulin (insulin tidak dapat berfungsi sebagaimana mestinya), akibatnya
kadar glukosa didalam darah menjadi tinggi sehingga timbullah diabetes mellitus
(Ranakusuma, 1987).
Penyakit diabetes mellitus biasanya muncul pada usia pertengahan dan usia
lanjut (berkisar 40-60 tahun), disini faktor hereditas (keturunan) memegang peranan
penting. Pada orang-orang yang memiliki riwayat keluarga yang menderita diabetes
mellitus dalam usia yang agak lanjut, kelebihan berat badan dapat merupakan faktor
resiko yang menambah peluang untuk terjadinya penyakit diabetes mellitus,
(Sidartawan, 1998).

2.3. Klasifikasi Diabetes Mellitus


Di Indonesia ada dua jenis utama diabetes mellitus yang paling sering ditemui, yaitu:
diabetes mellitus tergantung insulin (tipe I) dan diabetes mellitus tidak tergantung
insulin (tipe II), (Leslie, 1991).
2.3.1. Diabetes Mellitus Tergantung Insulin (DMTI/Tipe I)
Kebanyakan penderita diabetes mellitus tipe I mendapatkan penyakit ini pada usia
muda. Biasanya penderita diabetes mellitus yang termasuk dalam kelompok ini:
muda, kurus dan mendapatkan penyakitnya secara tiba-tiba. Produksi insulin oleh
pankreas sangat sedikit dan tidak mencukupi sehingga tergantung pada pemberian
insulin dari luar. Penyakit ini tidak dapat dikendalikan tanpa menggunakan insulin
sehingga setiap penderita harus disuntik insulin (Charles, 2002).
Diabetes Mellitus Tergantung Insulin (DMTI) disebabkan oleh penghancuran total
sel-sel penghasil pada pankreas. Kerusakan pada sel-sel penghasil insulin disebabkan
oleh peradangan. Kondisi tersebut disebabkan oleh faktor lingkungan, mungkin
berupa virus yang menyerang seseorang yang mudah terkena karena mempunyai pola
gen tertentu disebut dengan gen human leucocyte antygent (HLA).
Kebanyakan orang dengan pola gen HLA ini hanya membuat mereka lebih mudah
terkena dibanding orang lain. Fungsi utama insulin itu sendiri dalam menurunkan
kadar glukosa secara alami yaitu dengan cara:
1. Meningkatkan jumlah gula yang disimpan didalam hati
2. Merangsang sel-sel tubuh agar menyerap gula
3. Mencegah hati mengeluarkan terlalu banyak gula.
Jika insulin berkurang, kadar gula didalam darah akan meningkat. Gula dalam darah
berasal dari makanan kita yang diolah secara kimiawi oleh hati. Sebagian gula
disimpan dan sebagian lagi digunakan untuk tenaga. Disinilah fungsi hormon insulin
sebagai stabilizer alami terhadap kadar glukosa dalam darah. Jika terjadi
gangguan sekresi (produksi) hormon insulin pada sel-sel darah maka potensi
terjadinya diabetes mellitus sangat besar sekali.
2.3.2.

Diabetes

(DMTTI/Tipe II)

Mellitus

Tidak

Tergantung

Insulin

Diabetes Mellitus Tidak Tergantung Insulin paling banyak menyerang orang dewasa,
walaupun diabetes mellitus tipe II juga dapat timbul pada usia berapa saja. Pada
diabetes mellitus tipe II sel-sel penghasil insulin tidak rusak, tetapi tidak
menghasilkan cukup insulin sehingga hati, otot serta lemak tidak bereaksi secara
normal terhadap insulin yang dihasilkan (Charles, 2010).
Pasien-pasien yang termasuk dalam kelompok ini biasanya memiliki berat
badan yang lebih dan memiliki riwayat adanya anggota keluarga lain yang juga
menderita penyakit diabetes mellitus. Pada pasien diabetes mellitus tipe II yang tidak
gemuk, kadar glukosa di dalam darahnya tinggi karena sel beta pankreasnya terlalu
sedikit membentuk insulin sehingga tidak dapat mempertahankan kadar glukosa darah
tetap dalam batas-batas normal.
Pasien diabetes mellitus tipe II yang gemuk masih menghasilkan relatif cukup
banyak insulin, tetapi masih tetap tidak mencukupi kebutuhan untuk mempertahankan
kadar glukosa darahnya dalam batas-batas normal. Pada orang gemuk, insulin harus
bekerja keras untuk memasukkan glukosa kedalam sel-sel tubuh, karena pada darah
orang gemuk terdapat kadar glukosa yang tinggi, suatu saat akan menyebabkan
insulin tidak sanggup lagi untuk memasukkan glukosa tersebut kedalam sel-sel tubuh,
sehingga terjadilah resistensi insulin yang mengakibatkan timbulnya penyakit diabetes
mellitus.
2.4. Gejala-gejala dan Diagnosa Diabetes Mellitus
Diabetes Mellitus seringkali disebut sebagai The Great Imitato, karena
penyakit ini dapat mengenai semua organ tubuh dan menimbulkan berbagai macam
keluhan serta gejalanya bervariasi. Diabetes Mellitus dapat timbul dan menimbulkan
berbagai macam keluhan serta gejalanya bervariasi. Diabetes Mellitus dapat timbul
secara perlahan-lahan sehingga penderita tidak menyadari akan adanya perubahan
seperti minum menjadi lebih banyak, buang air kecil lebih sering ataupun berat badan
yang menurun. Gejala-gejala tersebut dapat berlangsung lama tanpa diperhatikan,
sampai kemudian ketika orang tersebut berobat ke dokter dan diperiksa kadar gula
darahnya, diketahui menderita diabetes mellitus. Terkadang pula gambaran klinisnya
tidak jelas dan baru diketahui menderita diabetes mellitus pada saat pemeriksaan
penyaring untuk penyakit lain. Dapat pula gejala diabetes mellitus timbul mendadak

tanpa melalui gejala-gejala umum seperti poliuria, polidipsia dan polifagia


(Syaifoellah, 1996).
Menurut Pusat Diabetes dan Nutrisi Sutomo (1994), gejala klinis khas seperti
poliuria (banyak kencing), polidipsia (banyak minum), polifagia (banyak makan), rasa
lemas dan turunnya berat badan merupakan petunjuk yang penting dalam
mendiagnosa diabetes mellitus.
Hal yang sering menyebabkan pasien datang berobat ke dokter dan kemudian
mendiagnosa sebagai diabetes mellitus ialah keluhan-keluhan berikut:
- Keluhan kulit: gatal-gatal, bisul
- Kelainan ginekologis : keputihan
- Kesemutan: rasa gatal
- Kelemahan tubuh
- Luka atau bisul yang tidak sembuh-sembuh
- Infeksi saluran kemih
Kelainan kulit berupa gatal-gatal, biasanya terjadi didaerah genital ataupun
lipatan kulit seperti didaerah ketiak dan dibawah payudara, biasanya akibat
tumbuhnya jamur. Sering pula dikeluhkan timbulnya bisul-bisul atau luka yang lama
yang tidak mau sembuh. Luka ini dapat timbul akibat hal yang sepele seperti: luka
lecet karena sepatu, tertusuk peniti dan sebagainya. Pada wanita, keputihan
merupakan salah satu keluhan yang menyebabkan pasien datang kedokter ahli
kebidanan dan sesudah diperiksa ternyata diabetes mellitus yang menjadi latar
belakang keluhan tersebut. Juga dalam hal ini, jamur terutama Candida, merupakan
penyebab tersering timbulnya keluhan keputihan ini.
Rasa kebas dan kesemutan akibat sudah terjadinya neuropati, merupakan juga
keluhan pasien, disamping keluhan lemah dan mudah merasa lelah. Pada pasien lakilaki terkadang timbul keluhan impotensi yang menyebabkan pasien tersebut dating
berobat kedokter. Keluhan lain yang mungkin menyebabkan pasien dating berobat
kedokter ialah keluhan mata kabur yang disebabkan katarak, ataupun gangguan
refraksi akibat perubahan-perubahan pada lensa oleh karena hiperglikemia
(Syaifoellah, 1996).
Untuk menetapkan diagnosis diabetes mellitus pada pasien dengan keluhan
khas (poliuria, polidipsia dan penurunan berat badan) cukup dilakukan dengan
pemeriksaan kadar glukosa darah. Apabila kadar glukosa darah kapiler pada waktu

puasa > 120 mg/dl atau 2 jam sesudah makan > 200 mg/dl setelah diberi beban
glukosa oral 75 gram, maka pasien tersebut dinyatakan menderita diabetes mellitus.
Mereka yang tidak mempunyai keluhan khas, tetapi menunjukkan hasil pemeriksaan
kadar gula darah > 200 mg/dl masih memerlukan pemeriksaan paling sedikit sekali
(Pusat Diabetes dan Nutrisi, 1994).
2.5. Faktor Resiko Penyebab Timbulnya Penyakit Diabetes Mellitus
2.5.1. Faktor Genetik
Menurut Wiyoto, dkk tahun 1978, faktor genetik dianggap memegang peranan
penting dalam terjadinya penyakit diabetes mellitus. Walaupun demikian bagaimana
peranan faktor genetik ini dan bagaimana faktor genetik ini diturunkan sampai
sekarang belum diketahui dengan jelas.
Peranan faktor genetik ini juga jelas pada kembar yang menderita diabetes mellitus.
Pada kembar yang monozygote insidensi agar keduanya menderita diabetes
mellitus berkisar anatara 45-90 %, sedangkan pada kembar yang dizygote insidensi
agar keduanya menderita diabetes mellitus berkisar antara 3-37 %.
Penelitian yang dilakukan oleh Nelson (1975) pada kembar monozygote
menunjukkan bahwa:
1. Diabetes Mellitus yang terjadi pada kembar monozygote yang dimulai sesudah
umur 45 tahun selalu concordant (keduanya menderita diabetes mellitus).
2. Diabetes Mellitus yang terjadi pada kembar monozygote yang mulai pada usia
muda, 50 % concordant (keduanya menderita diabetes mellitus) dan 50 %
discordant (salah seorang menderita diabetes mellitus).
Dari penelitian diatas jelaslah bahwa peranan faktor genetik pada diabetes
mellitus usia muda berlainan dengan diabetes mellitus pada usia lanjut. Orang usia
lanjut yang mempunyai saudara kandung penderita diabetes mellitus lebih mudah
untuk menderita diabetes mellitus.
3.5.2. Kurangnya Aktivitas Fisik
Menurut Leslie (1991), aktivitas fisik seperti pergerakan atau olahraga yang dilakukan
secara teratur adalah usaha yang dapat dilakukan untuk menghindari kegemukan atau
obesitas, sehingga kemungkinan untuk menderita diabetes mellitus semakin kecil.

Apabila kita berolahraga atau mengerjakan pekerjaan-pekerjaan yang berat kita


memerlukan lebih banyak energi. Ini berarti bahwa kita perlu lebih banyak glukosa
yang kemudian diubah menjadi energi.
Dengan demikian untuk menghindari timbulnya diabetes mellitus karena kadar
glukosa darah meningkat akibat mengkonsumsi makanan yang berlebihan dapat
Universitas Sumatera Utara diimbangi dengan aktivitas fisik (pekerjaan) yang
seimbang. Sehingga kadar glukosa darah dapat normal kembali dan cara kerja insulin
tidak terganggu.
2.5.3. Kehamilan
Kadang-kadang diabetes ditemukan pertama kali selama kehamilan, dan
kondisi ini dialami hanya sementara (sewaktu hamil) saja, dan kembali normal
sesudah hamil. Keadaan seperti ini disebut dengan istilah Diabetes Mellitus
Gestasional. Diabetes Mellitus Gestasional adalah suatu intoleransi karbohidrat baik
yang ringan maupun yang berat yang terjadi atau pertama kali diketahui pada saat
kehamilan berlangsung (Sidartawan, 1998).
Hal tersebut bisa dikaitkan dengan keadaan seperti kehamilan, ibu-ibu yang
hamil secara lahiriah akan lebih banyak makan dari biasanya dengan tujuan
memberikan makanan yang cukup kepada janin dan akhirnya mereka menjadi gemuk.
Pada saat tubuh tidak dapat lagi mengolah gula yang beredar didalam darah, maka
timbullah diabetes mellitus (Brudnell, 1996).
2.5.4. Usia Lanjut
Dengan bertambahnya umur maka terjadilah gangguan pada fungsi pankreas
dan kerja dari insulin yang menyebabkan kadar glukosa dalam darah meningkat.
Gangguan fungsi pankreas menyebabkan terjadinya sekresi insulin berkurang. Kerja
insulin yang berkurang akan menyebabkan terjaadinya resistensi insulin, sehingga
kadar glukosa dalam darah meningkat akibat terjadinya diabetes mellitus (Pusat
Diabetes dan Nutrisi, 1994).
2.5.5. Sosial Ekonomi
Perubahan pola penyakit di negara-negara berkembang khususnya di
Indonesia dianggap ada hubungannya dengan cara hidup yang berubah sesuai dengan

bertambahnya kemakmuran yang bercermin dalam pendapatan perkapita Indonesia


(Syaifoellah, 1996).
Beberapa penelitian menunjukkan dengan jelas suatu perubahan pada
prevalensi diabetes mellitus diantara kelompok sosial ekonomi yang berbeda. Pada
umumnya peningkatan prevalensi diabetes mellitus terjadi pada kelompok-kelompok
sosial ekonomi yang lebih tinggi pada negara-negara yang sedang berkembang
dibandingkan dengan kelompok-kelompok sosial yang lebih rendah. Perubahan dalam
gaya hidup, makanan, olahraga dan perpindahan ke kota dianggap mempunyai
kontribusi terhadap prevalensi diabetes mellitus yang lebih tinggi disuatu daerah.
2.6. Karakteristik Penderita Diabetes Mellitus
Perbedaan karakteristik paling mencolok dari seseorang dengan diabetes
mellitus tipe I atau tipe II adalah umur saat terjadinya penyakit ini. Umumnya
diabetes mellitus tipe I terjadi pada seseorang dengan usia dibawah 40 tahun bahkan
separuh dari pengidap penyakit ini didiagnosa pada saat mereka berumur kurang dari
20 tahun. Sebaliknya hampir sepuluh orang yang didiagnosa sebagai pengidap
diabetes mellitus tipe II diketahui setelah berumur diatas 30 tahun. Diabetes Mellitus
tipe II lebih sering terjadi pada individu dengan berat badan lebih dan obes (gemuk).
Obesitas merupakan pemicu terpenting penyebab diabetes mellitus tipe II. Kasus
diabetes mellitus tipe II lebih sering ditemukan pada wanita dengan riwayat
melahirkan bayi dengan berat badan diatas 4000 g, serta wanita yang pernah
didiagnosa sebagai diabetes pada waktu hamil (diabetes mellitus gestasional) dan
biasa terjadi pada usia 24 minggu masa kehamilan (Soewondo, 2006).
2.7. Pola Makan Pada Penderita Diabetes Mellitus
Pola makan adalah makanan yang seimbang antara zat gizi karbohidrat,
protein, lemak, vitamin dan mineral. Makanan yang seimbang adalah makanan yang
tidak mementingkan salah satu zat gizi tertentu dan dikonsumsi sesuai dengan
kebutuhan (Ramadhan, 2008).
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia pola diartikan sebagai suatu sistem,
cara kerja atau usaha untuk melakukan sesuatu. Dengan demikian pola makan dapat
diartikan sebagai suatu cara untuk melakukan kegiatan makan secara sehat.
Pola makan adalah suatu cara atau usaha dalam pengaturan jumlah dan jenis makanan
dengan maksud tertentu seperti mempertahankan kesehatan, status nutrisi, mencegah

atau membantu kesembuhan penyakit. Pola makan sehari-hari merupakan pola makan
seseorang yang berhubungan dengan kebiasaan makan setiap harinya (Depdiknas,
2001).
Pengaturan makan merupakan pilar utama dalam pengelolaan diabetes mellitus,
namun penderita diabetes mellitus sering memperoleh sumber informasi yang kurang
tepat yang dapat merugikan penderita tersebut, seperti penderita tidak lagi menikmati
makanan kesukaan mereka. Sebenarnya anjuran makan pada penderita diabetes
mellitus sama dengan anjuran makan sehat umumnya yaitu makan menu seimbang
dan sesuai dengan kebutuhan kalori masing-masing penderita diabetes mellitus.
Pengaturan diet pada penderita diabetes mellitus merupakan pengobatan yang utama
pada penatalaksanaan diabetes mellitus yaitu mencakup pengaturan dalam:
2.7.1. Jumlah Makanan
Syarat kebutuhan kalori untuk penderita diabetes mellitus harus sesuai untuk
mencapai kadar glukosa normal dan mempertahankan berat badan normal. Komposisi
energi adalah 60-70 % dari karbohidrat, 10-15 % dari protein, 2025 % dari lemak.
Makanlah aneka ragam makanan yang mengandung sumber zat tenaga, sumber zat
pembangun serta zat pengatur.
1. Makanan sumber zat tenaga mengandung zat gizi karbohidrat, lemak dan
protein yang bersumber dari nasi serta penggantinya seperti: roti, mie, kentang
dan lain-lain.
2. Makanan sumber zat pembangun mengandung zat gizi protein dan mineral.
Makanan sumber zat pembangun seperti kacang-kacangan, tempe, tahu, telur,
ikan, ayam, daging, susu, keju dan lain-lain.
3. Makanan sumber zat pengatur mengandung vitamin dan mineral. Makanan
sumber

zat

pengatur

antara

lain:

sayuran

dan

buah-buahan.

Ada beberapa jenis diet dan jumlah kalori untuk penderita diabetes mellitus
menurut kandungan energi, karbohidrat, protein dan lemak.
Table 2.1. Jenis Diet Diabetes Mellitus Menurut Kandungan
Energi, Karbohidrat, Protein dan Lemak
Jenis
Diet
I
II
III
IV

Energi
(kal)
1100
1300
1500
1700

Karbohidrat
(g)
172
192
235
275

Protein
(g)
43
45
51,5
55,5

Lemak
(g)
30
35
36,5
36,5

V
1900
299
VI
2100
319
VII
2300
369
VIII
2500
396
Sumber: Almatsier, 2006 Keterangan:

60
62
73
80

48
53
59
62

- Jenis diet I s/d III diberikan kepada penderita yang terlalu gemuk.
- Jenis diet IV s/d V diberikan kepada penderita diabetes tanpa komplikasi.
- Jenis diet VI s/d VIII diberikan kepada penderita kurus, diabetes remaja
(juvenile diabetes) atau diabetes dengan komplikasi.
2.7.2. Jenis Bahan Makanan
Banyak yang beranggapan bahwa penderita diabetes mellitus harus makan
makanan khusus, anggapan tersebut tidak selalu benar karena tujuan utamanya adalah
menjaga kadar glukosa darah pada batas normal. Untuk itu sangat penting bagi kita
terutama penderita diabetes mellitus untuk mengetahui efek dari makanan pada
glukosa darah. Jenis makanan yang dianjurkan untuk penderita diabetes mellitus
adalah makanan yang kaya serat seperti sayur-mayur dan buah-buahan segar. Hal
yang terpenting adalah jangan terlalu mengurangi jumlah makanan karena akan
mengakibatkan kadar gula darah yang sangat rendah (hypoglikemia) dan juga jangan
terlalu banyak makan makanan yang memperparah penyakit diabetes mellitus.
Ada beberapa jenis makanan yang dianjurkan dan jenis makanan yang tidak
dianjurkan atau dibatasi bagi penderita diabetes mellitus yaitu:
1. Jenis bahan makanan yang dianjurkan untuk penderita diabetes mellitus
adalah:
1). Sumber karbohidrat kompleks seperti nasi, roti, mie, kentang, singkong,
ubi dan sagu.
2). Sumber protein rendah lemak seperti ikan, ayam tanpa kulitnya, susu skim,
tempe, tahu dan kacang-kacangan.
3). Sumber lemak dalam jumlah terbatas yaitu bentuk makanan yang mudah
dicerna. Makanan terutama mudah diolah dengan cara dipanggang, dikukus,
disetup, direbus dan dibakar.
2. Jenis bahan makanan yang tidak dianjurkan atau dibatasi untuk penderita
diabetes mellitus adalah:

1). Mengandung banyak gula sederhana, seperti gula pasir, gula jawa, sirup,
jelly, buah-buahan yang diawetkan, susu kental manis, soft drink, es krim,
kue-kue manis, dodol, cake dan tarcis.
2). Mengandung banyak lemak seperti cake, makanan siap saji (fast-food),
goreng-gorengan.
3). Mengandung banyak natrium seperti ikan asin, telur asin dan makanan
yang diawetkan (Almatsier, 2006).
2.7.3. Interval Makan Penderita Diabetes Mellitus
Makanan porsi kecil dalam waktu tertentu akan membantu mengontrol kadar
gula darah. Makanan porsi besar menyebabkan peningkatan gula darah mendadak dan
bila berulang-ulang dalam jangka panjang, keadaan ini dapat menimbulkan
komplikasi diabetes mellitus. Oleh karena itu makanlah sebelum lapar karena makan
disaat lapar sering tidak terkendali dan berlebihan. Agar kadar gula darah lebih stabil,
perlu pengaturan jadwal makan yang teratur. Makanan dibagi dalam 3 porsi besar
yaitu makan pagi (20 %), siang (30 %), sore (25 %) serta 2-3 kali porsi kecil untuk
makanan selingan masing-masing (10-15 %).
2.8. Daftar Bahan Makanan Penukar
Daftar bahan makanan penukar yang digunakan adalah bahan makanan
penukar II yaitu suatu daftar nama bahan makanan dengan ukuran tertentu dan
dikelompokkan berdasarkan kandungan kalori, protein, lemak dan hidrat arang yang
diberikan oleh rumah sakit. Setiap kelompok bahan makanan mempunyai nilai gizi
yang kurang lebih sama. Menurut (Arisman, 2002) bahan makanan dikelompokkan
menjadi 7 bagian yaitu:
a. Golongan 1 : Bahan Makanan Sumber Karbohidrat
Tabel 2.3. Makanan Penukar dari Sumber Karbohidrat
Bahan
Makanan
Nasi
Nasi tim
Bubur beras
Nasi jagung
Talas

Berat
(gr)
12 gls
100
1 gls
200
2 gls
400
12 gls
100
1 bj bsr
200
URT

Ubi
Roti putih

1 bj sdg
4 iris

150
80

b. Golongan 2 : Bahan Makanan Sumber Protein Hewani


Tabel 2.4. Makanan Penukar dari Sumber Protein Hewani
Bahan
Makanan
Daging sapi
Daging ayam
Telur ayam
Ikan segar
Udang basah

Berat
(gr)
1 ptg sdg 50
1 ptg sdg 50
2 btr
60
1 ptg sdg 50
0 gls
50
URT

c. Golongan 3 : Bahan Makanan Sumber Protein Nabati


Tabel 2.5. Makanan Penukar dari Sumber Protein Nabati
Bahan
Makanan
Kacang hijau
Kacang kedele
Kacang merah
Oncom
Tahu
Tempe

Berat
(gr)
20 sdm 25
20 sdm 25
20 sdm 25
2 ptg sdg 50
1 bj bsr 100
2 ptg sdg 50
URT

D. Golongan 4 : Sayuran
1. Sayuran A
Bebas dimakan, kandungan kalori dapat diabaikan, sumbernya dari gambas
(oyong), jamur kuping sedang, ketimun, jamur segar, lobak, selada dan tomat.
Sumber bahan makanannya yaitu dari bayam, labu siam, bit, buncis, brokoli, genjer,
jagung muda, kol, wortel, sawi, toge kacang hijau, terong, kangkung, kacang panjang,
pare, rebung, papaya muda.
3. Sayuran C
Karbohidrat Sumber bahan makanannya yaitu dari bayam merah, daun katuk, daun
melinjo, daun papaya, daun singkong, toge kacang kedele, daun talas, melinjo, nangka
muda.

E. Golongan 5 : Buah-buahan
Tabel 2.6. Makanan Penukar dari Sumber Buah-buahan

Bahan
Makanan
Alpukat
Apel
Belimbing
Duku
Jambu air
Jambu biji
Jeruk manis
Mangga
Nanas
Papaya
Pir
Pisang ambon
Pisang raja
Semangka

Berat
(gr)
1 bh bsr 50
1 bh bsr 75
1 bh bsr 125
15 bh
75
2 bh sdg 100
1 bh sdg 100
1 bh bsr 100
1 bh sdg 50
1/6 bh sdg 75
1 ptg sdg 100
1 bh
100
1 bh sdg 75
2 bh kcl 50
1 ptg sdg 150
URT

F. Golongan 6 : Susu
Tabel 2.7. Makanan Penukar dari Sumber Susu
Bahan
Berat
URT
Makanan
(gr)
Susu sapi
1 gls 200
Susu kambing
1 gls 150
Susu kental manis 1 gls 100
Tepung susu skim 4 sdm 20
Yoghurt
1 gls 200
G. Golongan 7 : Minyak
Tabel 2.8. Makanan Penukar dari Sumber Minyak
Bahan
Makanan
Minyak goring
Minyak ikan
Margarin
Kelapa
Kelapa parut
Lemak sapi

Berat
(gr)
1 sdm 5
1 sdm 5
1 sdm 5
1 ptg kcl 30
5 sdm 30
1 ptg kcl 5
URT

2.9. Standar Jenis Diet Untuk Penderita Diabetes Mellitus


Standar jenis diet pada penderita diabetes mellitus yang rawat inap ada dua jenis
yaitu:

Jenis diet diabetes mellitus IV (1700 kalori)


Kandungan energi dari jenis diet diabetes mellitus IV adalah 1700 kalori dan
jumlah kandungan zat gizi karbohidrat 275 gram, protein 55,5 gram dan lemak
36,5 gram.

Jenis diet diabetes mellitus V (1900 kalori)


Kandungan energi dari jenis diet diabetes mellitus V adalah 1900 kalori dan
jumlah kandungan zat gizi karbohidrat 299 gram, protein 60 gram dan lemak
48 gram.

2.10 Kerangka Konsep


Kerangka konsep dalam analisis pemberian diet diabetes mellitus pada pasien rawat
inap di Rumah Sakit Umum yaitu:
Karakteristik penderita
diabetes mellitus :
- Umur
- Jenis Kelamin
- IMT
- Pekerjaan

Pemberian Diet
Diabetes Mellitus :

Dalam kerangka konsep di


karakteristik

penderita

diabetes

- Jenis diet
- Kecukupan zat
gizi (energi,
karbohidrat, protein
dan lemak

Standar jenis diet


diabetes mellitus
rawat inap :
- Jenis Diet DM IV
(1700 kalori)

atas dapat diketahui


mellitus (umur, jenis

kelamin, IMT, pekerjaan) dan pemberian diet diabetes mellitus di Rumah Sakit Umum
Rantau Prapat (jenis diet dan kecukupan zat gizi berupa energi, karbohidrat, protein
dan lemak) sesuai atau tidak dengan standar jenis diet yang seharusnya meliputi jenis
diet DM IV (1700 kalori) dan jenis diet DM V (1900 kalori) pada penderita diabetes
mellitus yang rawat inap.