Anda di halaman 1dari 26

PRESENTASI KASUS BEDAH PLASTIK

SEORANG LAKI-LAKI 32 TAHUN DENGAN


KONTRAKTUR DIGITI MANUS DEKSTRA ET
SINISTRA DAN WRIST JOINT DEXTRA ET SINISTRA
ET CAUSA COMBUTIO API
Periode : 20 -25 Oktober 2014

Oleh:
Deliza Ardela P

G99121011

Mustiqa Febriniata

G99122079

Pembimbing :
dr. Amru Sungkar, Sp. B. Sp.BP-RE

KEPANITERAAN KLINIK ILMU BEDAH


FAKULTAS KEDOKTERAN UNS / RSUD Dr. MOEWARDI
SURAKARTA
2014

BAB I
STATUS PASIEN
A. ANAMNESIS
I.

II.

Identitas pasien
Nama

: Tn. S

Umur

: 32 tahun

Jenis Kelamin

: Laki-laki

Agama

: Islam

Alamat

: Poncol 02/06 Tempursari sidoharjo Wonogiri

No. CM

: 01 06 29 20

MRS

: 10 Oktober 2014

Tanggal Periksa

: 21 Oktober 2014

Keluhan Utama
Kaku di jari dan pergelangan tangan kanan dan kiri setelah terkena
luka bakar.

III.

Riwayat Penyakit Sekarang


Pasien datang dengan keluhan jari dan pergelangan tangan kanan
kiri terasa kaku sejak 4 tahun yang lalu. Sekitar 4 tahun yang lalu,
pasien mengalami luka bakar akibat ledakan kompor gas elpiji.
Kompor gas yang meledak lansung mengenai wajah, tangan dan kaki
pasien. Oleh keluarga, pasien dibawa ke RS Klaten dan dirawat luka
selama beberapa hari. Karena keterbatasan biaya, pasien pulang paksa
dan dirawat keluarga di rumah. Selama perawatan di rumah, lambat
laun tangan dan kaki pasien menjadi kaku dan gerakannya terbatas.

IV.

Riwayat Penyakit Dahulu


a. Riwayat luka bakar

: (+) luka bakar akibat ledakan 4 tahun yll

b. Riwayat hipertensi

: disangkal

c. Riwayat Stroke

: disangkal

d. Riwayat Diabetes melitus: disangkal


e. Riwayat alergi/asma : disangkal
V.

Riwayat Pengobatan
-

2010

: Release kontraktur ekstremitas inferior dekstra et sinistra

2013

: Release kontraktur elbow dekstra et sinistra

B. ANAMNESIS SISTEMIK
Mata

: mata kuning (-), penglihatan kabur (-), pandangan


ganda (-), berkunang-kunang (-)

Telinga

: darah (-), lendir (-), cairan (-), telinga berdenging


(-), pendengaran berkurang (-)

Mulut

: darah (-), gusi berdarah (-), sariawan (-), mulut


kering (-), gigi goyah (-) sulit berbicara (-)

Hidung

: penciuman menurun (-), darah (-), sekret (-)

Sistem Respirasi

: sesak nafas (-), suara sengau (-), sering tersedak (-)

Sistem Kardiovaskuler : nyeri dada (-), sesak saat aktivitas (-)


Sistem Gastrointestinal : mual (-), muntah (-), nyeri perut (-), diare (-)
Sistem Muskuloskeletal : nyeri otot (-), nyeri sendi (-), kaku (+)
Sistem Genitourinaria : nyeri BAK (-), kencing darah (-)
Ekstremitas atas

: luka (+/+), tremor (-/-),ujung jari terasa dingin(-/-),


kesemutan (-/-), sakit sendi (-/-), nyeri (-/-)

Ektremitas bawah

: luka (+/+), tremor (-/-),ujung jari terasa dingin(-/-),


kesemutan (-/-), sakit sendi (-/-), nyeri (-/-)

Integumen

: nyeri (-), gatal (-)

C. PEMERIKSAAN FISIK
I.

Primary Survey
a. Airway
b. Breathing

: Bebas
: Pernapasan spontan, thoracoabdominal

RR: 20x/menit

II.

c. Circulation

: TD: 200/100 mmHg, N: 83x/menit.

d. Disability

: GCS: E4V5M6, lateralisasi (-)

e. Exposure

: t: 36,7 oC, jejas (+) (lihat status lokalis)

Secondary Survey
a. Kepala

: mesocephal, jejas (-)

b. Mata

: konjungtiva pucat (-/-), sklera ikterik (-/-), pupil

isokor (3mm/3mm), reflek cahaya (+/+), hematom periorbita(-/-)


c. Telinga

: secret (-), darah (-), nyeri tekan mastoid(-), Nyeri

Tragus (-)
d. Hidung

: bentuk simetris, nafas cuping hidung (-), secret (-),

darah (-)
e. Mulut

: gusi berdarah (-), lidah kotor (-), jejas (-), mukosa

basah (+), maxilla goyang (-), mandibula goyang (-), pelo (-)
f. Leher

: pembesaran tiroid (-), pembesaran limfonodi (-),

Nyeri tekan (-), JVP tidak meningkat


g. Thoraks

: bentuk normochest, simetris, gerak pernafasan

simetris, jejas (-)


h. Jantung
Inspeksi

: ictus cordis tidak tampak

Palpasi

: ictus cordis tidak kuat angkat

Perkusi

: batas jantung kesan tidak melebar

Auskultasi : bunyi jantung I-II intensitas normal, reguler,


bising(-)
i. Pulmo
Inspeksi

: pengembangan dada kanan = kiri

Palpasi

: fremitus raba kanan = kiri, nyeri tekan (-/-)

Perkusi

: sonor / sonor

Auskultasi : suara dasar vesikuler (+/+), suara tambahan (-/-)


j. Abdomen
Inspeksi

: distended (-)

Auskultasi : bising usus (+) normal


Perkusi

: timpani

Palpasi

: supel, nyeri tekan (-), defance muscular (-)

k. Genitourinaria

: BAK normal, BAK darah (-), BAK nanah

(-), nyeri BAK (-)


l. Muskuloskeletal

: nyeri (+), ROM terbatas pada kedua

ekstremitas atas dan bawah


m. Ekstremitas :
-

akral dingin

oedem

D. STATUS LOKALIS
-

Look

: Tampak kontraktur pada region manus dekstra et sinistra


dan wrist joint dekstra et sinistra

Feel

: Nyeri bila digerakkan (+)

Move

: Gerakan aktif dan pasif terhambat, tampak tidak dapat

digerakan (+)

E. ASSESMENT I
Kontraktur digiti manus dekstra et sinistra + wrist joint dekstra et sinistra
et causa combusio api
F. PLANNING I
Cek laboratorium darah lengkap dan elektrolit
G. PEMERIKSAAN PENUNJANG
1. Pemeriksaan Laboratorium (15 Oktober 2014)
Hb

: 13,8 g/dL

Hct

: 40 %

AE

: 4,34 106/uL

AL

: 8,2. 103/uL

AT

: 132. 103/uL

Golongan darah

:O

PT

: 12,9 detik

APTT

: 30,3 detik

GDS

: 91

SGOT

: 34 u/l

SGPT

: 7 u/l

Ureum

: 17 mg/dl

Kreatinin

: 0,8 mgdl

Alb

: 3,9 gdl

Na

: 132 mmol/L

: 3,8 mmol/L

Cl

: 105 mmol/L

HbsAg

: Nonreaktif

H. ASSESMENT II
Kontraktur digiti manus dekstra et sinistra + wrist joint dekstra et sinistra
et causa combusio api
I. PLANNING II
1. Rawat Bangsal
2. Pro release kontraktur
J. Prognosis
a. Ad vitam

: dubia ad bonam

b. Ad sanam

: dubia ad bonam

c. Ad kosmetikum

: dubia ad bonam

d. Ad fungsionam

: dubia ad bonam

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. DEFINISI
a. Kontraktur
Kontraktur adalah pemendekan jarak 2 titik anatomis tubuh
sehingga terjadi keterbatasan rentang gerak (range of motion). Kontraktur
adalah kontraksi yang menetap dari kulit dan atau jaringan dibawahnya
yang menyebabkan deformitas dan keterbatasan gerak. Kelainan ini
disebabkan karena tarikan parut abnormal pasca penyembuhan luka,
kelainan bawaan maupun proses degeneratif. Kontraktur yang banyak
dijumpai adalah akibat luka bakar.1,17
b. Luka Bakar
Luka bakar merupakan kerusakan jaringan atau kehilangan
jaringan yang diakibatkan sumber panas ataupun suhu dingin yang tinggi,
sumber listrik, bahan kimiawi, cahaya, radiasi dan friksi. Jenis luka dapat
beraneka ragam dan memiliki penanganan yang berbeda tergantung jenis
jaringan yang terkena luka bakar, tingkat keparahan, dan komplikasi yang
terjadi akibat luka tersebut. Luka bakar dapat merusak jaringan otot,
tulang, pembuluh darah dan jaringan epidermal yang mengakibatkan
kerusakan yang berada di tempat yang lebih dalam dari akhir sistem
persarafan.2, 3
c. Kontraktur Akibat Luka Bakar
Luka bakar derajat tiga yang dibiarkan sembuh sendiri akan
mengalami kontraktur. Jaringan parut sering terjadi setelah luka
bakar dapat mengakibatkan kontraktur. Bila terjadi di persendian, fungsi
sendi akan berkurang atau hilang.2,3,17
B. KLASIFIKASI
Klasifikasi kontraktur berdasarkan derajat keparahan 4,5 :

1) I: gejala berupa keketatan namun tanpa penurunan gerakan ruang lingkup


gerak maupun fungsi.
2) II: sedikit penurunan gerakan ruang lingkup gerak atau sedikit penurunan
fungsi namun tanpa mengganggu aktivitas sehari-hari secara signifikan,
tanpa penyimpangan arsitektur normal daerah yang terkena.
3) III: terdapat penurunan fungsi, dengan perubahan awal arsitektur normal
pada daerah yang terkena..
4) IV: kehilangan fungsi dari daerah yang terkena.
C. ETIOLOGI
Kontraktur diakibatkan karena kombinasi berbagai faktor meliputi:
posisi anggota tubuh, durasi imobilisasi, otot, jaringan lunak, dan patologis
tulang. Individu dengan luka bakar sering diimobilisasi, baik secara global
maupun fokal karena nyerinya, pembidaian, dan posisinya. Luka bakar dapat
meliputi jaringan lunak, otot, dan tulang. Semua faktor ini berkontribusi
terhadap kejadian kontraktur pada luka bakar. Berbagai hal yang dapat
menyebabkan kontraktur adalah sebagai berikut4 :
1. Trauma suhu
2. Trauma zat kimia
3. Trauma elektrik
4. Post-trauma (Volkmanns)
5. Infeksi ulkus buruli
6. Idiopatik (Dupuytrens)
7. Kongenital (camptodactyly)
D. DIAGNOSIS KONTRAKTUR AKIBAT LUKA BAKAR
Penegakkan diagnosis kontraktur akibat luka bakar dapat menggunakan bagan
sebagai berikut:

Bedakan antara kontraktur jaringan lunak dan ankilosis persendian

Bedakan antara kontraktur jaringan ikat dan kontraktur miogenik atau


neurogenik

Diagnosis banding kontraktur dari struktur anatomi:


a. Kontraktur kutan, subkutan, atau fasial
b. Kontraktur tendon
c. Kontraktur ligament
d. Kontraktur otot

Nilai dan klasifikasi parut kontraktur untuk menentukan metode terapi

Evaluasi secara fungsional dan estetika dari sendi atau jaringan pada
sebelum dan sesudah terapi

E. PATOFISIOLOGI
Mekanisme dasar pembentukan kontraktur didapat dari berbagai
macam etiologi yaitu congenital, didapat, atau idiopatik. Proses ini disebabkan
oleh aktifnya miofibroblas (sebuah sel dengan fibroblas dan dengan
karakteristik seperti otot polos yang terdistribusinya granulasi di seluruh
jaringan yang ada pada luka). Kontraksi dari miofibroblas menyebabkan luka
menyusut. Hal ini juga diikuti dengan deposisi kolagen dan saling
berhubungan

untuk

mempertahankan

kontraksi.

Pada

embryogenesis,

kegagalan diferensiasi jari-jari menyebabkan terbentuknya jaringan parut yang


menyebakan fleksi proksimal sendi interfalang yang mengakibatkan
camptodactyly.4, 21

F. PENCEGAHAN DAN PENATALAKSANAAN KONTRAKTUR PADA


LUKA BAKAR
Kontraktur dapat dicegah dari penyebab awal mulanya. Kontraktur
banyak disebabkan akibat luka bakar. Pencegahan luka bakar dibagi menjadi
pencegahan primer, sekunder dan tersier. Pencegahan primer bertujuan untuk
menurunkan insidensi luka bakar melalui cara memasak yang aman, pemadam
kebakaran, dan edukasi tentang zat yang menyebabkan trauma panas di
sekolah atau komunitas. Pencegahan sekunder bertujuan untuk menurunkan
beratnya luka bakar melalui edukasi terhadap pertolongan pertama.
Pencegahan tersier bertujuan untuk mengurangi mortalitas dan morbiditas
terhadap luka bakar.6,7,19
Terdapat dua kunci penting dalam pencegahan kontraktur. Hal pertama
adalah area yang terbakar dibidai pada posisi anatomis dan berlatih maksimal
lingkup gerak sendi tiap persendian. Perkembangan bidai selama lima belas
tahun terakhir berkontribusi terhadap penurunan kejadian kontraktur dan hal
ini semakin dikembangkan.6
Manajemen kontraktur membutuhkan prosedur yang panjang dan
rumit. Sehingga dalam memberikan tatalaksana kepada pasien perlu
dipertimbangkan berbagai masalah, seperti kehidupan sosial dan pekerjaan
pasien dan juga status psikologi dan motivasi pasien.13 Seperti yang telah
dijelaskan pada klasifikasi kontraktur, terutama kontraktur derajat III dan IV
memerlukan tindakan operasi sedangkan untuk derajat I dan II tidak
memerlukan tindakan operasi (konservatif).4, 18
a. Konservatif
Tindakan konservatif pada tatalaksana kontraktur yaitu dengan lebih
mengoptimalkan penanganan fisioterapi, yang meliputi:
1. Posisi yang mencegah kontraktur
Posisi yang melindungi dari kontraktur harus dimulai dari hari
pertama sampai beberapa bulan setelah trauma. Posisi ini diaplikasikan
terhadap semua pasien baik yang mendapat terapi cangkok kulit maupun
yang tidak. Posisi ini penting karena dapat mempengaruhi panjang

jaringan dengan menurunkan ruang lingkup gerak sebagai akibat dari parut
jaringan. Pasien diistirahatkan dengan posisi yang nyaman, posisi ini
biasanya adalah posisi fleksi dan juga merupakan posisi kontraktur. Tanpa
dorongan dan bantuan dari orang lain, pasien akan meneruskan posisi yang
menyebabkan kontraktur. Sekali kontraktur mulai terbentuk dapat terjadi
kesulitan untuk bergerak sempurna seperti sediakala. Penyesuaian awal
memiliki esesnsi untuk memastikan kemungkinan terbaik hasil terapi,
selain itu pula untuk meringankan nyeri.
Pasien harus selalu melakukan kebiasaan posisi pada stadium awal
penyembuhan. Pasien perlu dorongan untuk mempertahankan posisi yang
mencegah kontraktur (kecuali ketika program latihan dan aktivitas
fungsional lain), dukungan keluarga sangat penting.
Ketika luka bakar terjadi pada bagian fleksor tubuh, risiko
kontraktur akan semakin meningkat. Posisi yang mencegah terjadinya
kontraktur berdasarkan luka bakar adalah sebagai berikut3 :
a. Leher depan
Posisi yang dapat menyebabkan kontraktur adalah fleksi leher, dagu
ditarik ke arah dada, kontur leher menghilang sedangkan posisi yang
mencegah terjadinya kontraktur adalah ekstensi leher, tidak ada bantal
di belakang kepala, putar balik leher. Kepala dimiringkan bila posisi
duduk.

Gambar 2.2. Kontraktur pada Leher Depan

Gambar 2.3. Posisi yang Mencegah Terjadinya Kontraktur


b. Leher belakang
Posisi yang dapat menyebabkan kontraktur adalah ekstensi leher dan
pererakan leher yang lain sedangkan posisi yang mencegah terjadinya
kontraktur adalah duduk dengan posisi leher fleksi, berbaring dengan
menggunakan bantal di belakang kepala.

Gambar 2.4. Kontraktur pada Leher Belakang

Gambar 2.5. Posisi yang Mencegah Terjadinya Kontraktur


c. Aksila anterior, aksila posterior, maupun lipatan aksila
Posisi yang dapat menyebabkan kontraktur adalah terbatasnya abduksi
dan juga protraksi ketika luka bakar juga ada di dada sedangkan posisi
yang mencegah terjadinya fraktur adalah berbaring dan duduk lengan

abduksi 900 ditopang dengan menggunakan bantal atau alat lain


diantara dada dan lengan.

Gambar 2.6. Kontraktur pada Aksila

Gambar 2.7. Posisi yang Mencegah Terjadinya Kontraktur


d. Siku depan
Posisi yang dapat menyebabkan kontraktur adalah fleksi siku
sedangkan posisi yang mencegah terjadinya fraktur adalah ekstensi
siku.

Gambar 2.8. Kontraktur pada Siku

Gambar 2.9. Posisi yang Mencegah Terjadinya Kontraktur


e. Punggung tangan
Posisi yang dapat menyebabkan kontraktur adalah hiperekstensi
metacarpalphalangeal (MCP), fleksi interphalangeal (IP), adduksi ibu
jari, dan fleksi pergelangan tangan sedangkan posisi yang mencegah
terjadinya kontraktur adalah pada pergelangan tangan diekstensi 30-40
derajat, fleksi MCP 60-70 derajat, ekstensi sendi IP, dan abduksi ibu
jari.8

Gambar 2.10. Kontraktur pada Punggung Tangan

Gambar 2.11. Posisi yang Mencegah Terjadinya Kontraktur pada


Punggung Tangan
f. Telapak tangan
Posisi yang dapat menyebabkan kontraktur adalah adduksi dan fleksi
jari-jari tangan, telapak tangan ditarik ke dalam sedangkan posisi yang
mencegah terjadinya kontraktur adalah ekstensi pergelangan tangan,
fleksi minimal MCP, ekstensi dan abduksi jari-jari tangan.8,15

Gambar 2.12. Kontraktur pada Telapak Tangan

Gambar 2.13. Posisi yang Mencegah Terjadinya Kontraktur pada


Telapak Tangan
g. Groin
Posisi yang dapat menyebabkan kontraktur adalah fleksi dan adduksi
pangkal paha sedangkan posisi yang mencegah terjadinya kontraktur
adalah berbaring tengkurap dengan ekstensi tungkai, batasi duduk dan
berbaring posisi menyamping. Jika dengan posisi supine, berbaring
dengan posisi ekstensi tungkai, tanpa bantal di bawah lutut.

Gambar 2.14. Posisi yang Menyebabkan Kontraktur

Gambar 2.15. Posisi yang Mencegah Terjadinya Kontraktur


h. Belakang lutut
Posisi yang dapat menyebabkan kontraktur adalah fleksi lutut
sedangkan posisi yang mencegah terjadinya kontraktur adalah ekstensi
tungkai pada saat berbaring dan duduk.

Gambar 2.16. Kontraktur pada Belakang Lutut

Gambar 2.17. Posisi yang Mencegah Terjadinya Kontraktur

i. Kaki
Kaki adalah struktur komplek yang dapat ditarik dengan arah yang
berbeda-beda oleh jaringan yang telah menyembuh. Hal ini dapat
mengakibatkan mobilitas yang tidak normal. Posisi yang mencegah
terjadinya kontraktur adalah pergelangan kaki diposisikan 90 derajat
terhadap

telapak

kaki

dengan

menggunakan

bantal

untuk

mempertahankan posisi. Jika pasien dalam keadaan duduk maka posisi


kakinya datar di lantai (tanpa edem).

Gambar 2.18. Kontraktur pada Kaki

Gambar 2.19. Posisi yang Mencegah Terjadinya Kontraktur


j. Wajah
Kontraktur pada wajah dapat meliputi berbagai hal termasuk
ketiakmampuan untuk membuka maupun menutup mulut dengan
sempurna, ketidakmampuan menutup mata dengan sempurna, dan lain
sebagainya.posisi yang mencegah terjadinya kontraktur adalah secara
teratur merubah ekspresi wajah dan peregangan seperlunya. Tabung

empuk dapat dimasukkan ke dalam mulut untuk melawan kontraktur


mulut.

Gambar 2.20. Posisi yang Mencegah Terjadinya Kontraktur


2. Bidai
Pembidaian sangat efektif untuk membantu mencegah kontraktur
dan merupakan hal yang perlu dilakukan sebagai program rehabilitasi
komprehensif. Pembidaian membantu mempertahankan posisi yang
mencegah kontraktur terutama terhadap pasien yang mengalami nyeri
hebat, kesulitan penyesuaian atau dengan area luka bakar yang dengan
menggunakan posisi pencegahan kontraktur saja tidak cukup.
Pembidaian dilakukan dengan posisi yang diregangkan sehingga
memberikan suatu latihan peregangan awal yang lebih mudah. Parut tidak
hanya berkontraksi namun juga mengambil rute terdekat, parut sering
menimbulkan selaput atau anyaman diantara jari-jari, leher, lutut, aksilda,
dan

lain-lain.

Bidai

membantu

merenovasi

jaringan

parutkarena

membentuk dan mempertahankan kontur anatomis. Bidai adalah satusatunya modalitas terapeutik yang tersedia dan berlaku yang dapat
mengatur tekanan pada jaringan lunak sehingga dapat menimbulkan
remodeling jaringan.
Bidai dapat dibuat dari berbagai macam bahan. Bahan yang ideal
adalah yang memiliki temperature rendah dan ringan, mudah dibentuk,
dan disesuaikan kembali kemudian juga sesuai dengan kontur.

Gambar 2.21. Contoh Pembidaian


3. Peregangan dan mobilisasi awal
Sendi yang terkena luka bakar harus digerakkan dan diregangkan
beberapa kali setiap harinya. Pasien membutuhkan pendamping baik dari
tim medis maupun keluarganya untuk mencapai pergerakan yang penuh
terutama untuk anak-anak yang

memerluka perhatian yang lebih dari

orang tua. Pasien perlu mengembangkan kebiasaan tersebut dari hari ke


hari.15
4. Melakukan aktivitas sehari-hari
Pasien luka bakar sering merasa kehilangan rasa dan kemampuan
untuk beraktivitas secara normal. Aktivitas sehari-hari seperti makan,
mandi sangat penting untuk melatih pasien dapat hidup mandiri.
5. Pijat dan pemberian moisturiser
Pijatan pada parut sangat dianjurkan sebagai bagian dari penatalaksanaan
luka parut meskipun mekanisme efeknya belum begitu diketahui. Hal yang
dapat dilakukan adalah:
a. Pemberian moisturiser luka sering kehilangan kelembaban tergantung
dari dalamnya luka dan sejauh kerusakan struktur kulit. Luka tersebut
dapat menjadi sangat kering dan menimbulkan rasa tidak nyaman. Hal
ini dapat menimbulkan retak dan pecahnya parut. Pemijatan dengan
moisturizer atau minyak tanpa parfum pada bagian teratas parut dapat
melembutkan sehingga pasien merasa lebih nyaman dan untuk
mengurangi gatal.
b. Jika parut menjadi tebal dan meninggi dapat menggunakan pijatan kuat
dan dalam menggunakan ibujari atau ujung jari untuk mengurangi
kelebihan cairan pada tempat tersebut.

c. Parut akibat luka bakar mengandung kolagen empat kali dibandingkan


dengan luka parut biasa. Pijatan yang dalam dengan pola sedikit
memutar dapat meningkatkan kesegarisan luka parut.
d. Penurunan sensoris dan perubahan sensasi dapat terjadi. Pijatan rutin
dan sentuhan pada parut dapat membantu desensitisasi dari luka yang
sebelumnya hipersensitif
e. Faktor psikologis dari seseorang yang memiliki kesulitan dan merasa
tidak enak dipandang dapat dikurangi dengan menyentuh parut dan
belajar bagaimana menerima keadaannya.
6. Terapi tekanan
Terapi tekanan adalah modalitas primer dalam penatalaksanaan
parut akibat luka bakar meskipun efektivitas klinis secara sains masih
belum terbukti. Pemberian tekanan pada area luka bakar diduga dapat
mengurangi parut dengan mempercepat maturasi parut dan mendorong
reorientasi terbentuknya serta kolagen. Pola parallel yang bertentangan
dengan pola luka yang berputar pada parut. Mekanisme yang diduga
adalah, pemberian tekana dapat menciptakan hipoksia lokal pada jaringan
parut sehingga mereduksi aliran darah yang sebelumnya hipervaskuler
pada luka parut. Hal ini mengakibatkan menurunnya influks kolagen dan
penurunan pembentukan jaringan parut. Sesegera setelah luka menjadi
tertutup dan dapat menerima tekanan, pasien menggunakan pakaian
tekanan.
7. Pemanasan
Pada kontraktur otot dan sendi akibat scar yang disebabkan oleh
luka bakar, ultrasound adalah metode pemanasan yang paling baik,
pemberiannya yaitu selama 10 menit tiap lapang. Ultrasound merupakan
modalitas pilihan untuk semua sendi yang tertutup jaringan lunak, baik
sendi kecil maupun sendi besar.
8. Silicon
Silicon digunakan untuk mengobati parut hipetrofik. Mekanisme
dalam mencegah dan penatalaksanan parut hipertrofik masih belum jelas

namun

kemungkinan

silicon

mempengaruhi

fase

penyembuhan

remodeling kolagen.
b. Operatif
Prosedur operasi tidak boleh dilakukan selama fase aktif penyembuhan
dan pembentukan jaringan parut. Selama luka tersebut immature dan banyak
baskularisasinya tidak dilakukan operasi. Biasanya dibutuhkan waktu satu
tahun atau lebih. Luka harus menjadi matur, supel, dan avaskuler sebelum
dilakukan operasi.6,9,20
1. Pembebasan kontraktur
Pembebasan kontraktur yang tuntas harus dilakukan dengan mencegah
kerusakan berbagai struktur penting seperti arteri, saraf, tendon, dan lainlain. Insisi dimulai di pada lintasan ketegangan yang maksimal yaitu
daerah yang paling kencang. Titik ini biasanya berlawanan dengan garis
persendian. Insisi diperdalam sampai jaringan yang tidak ada parutnya.16
2. Penutupan kulit
Penutupan dengan menggunakan skin grafts atau skin flap. Umumnya area
dibuangnya setelah dibuangnya jaringan kontraktur akan ditutup dengan
menggunakan skin grafts. Penutupan menggunakan flap digunakan pada
situasi yang khusus. Lapisan grafts diusahakan dibuat luas dengan
menggunakan tautan. Teknik yang dapat digunakan adalah Full Thickness
Skin Graft (FTSG) merupakan skin graft yang menyertakan seluruh bagian
dari dermis. Karakteristik kulit normal dapt terjada setelah proses graft
selesai karena komponen dermis dipertahankan selama proses graft.
Teknik lain yang dapat digunakan adalah Split Thickness Skin Graft
(STSG).
Skin flap digunakan jika pembebasan kontraktur kemungkinan membuka
persendian terutama tangan dan kaki. Teknik yang dapat digunakan adalah
Z plasty. Z plasty adalah tindakan operasi yang bertujuan memperpanjang
garis luka sehingga dapat mencegah kontraktur terutama pada persendian.
Tindakan ini dilakukan dengan cara transposisi flap sehingga didapatkan

garis luka yang lebih panjang. Teknik lain yang dapat digunakan adalah
V-Y plasty, V-M plasty, split skin fraft (SSG) dan lain sebagainya.10,11,14
3. Perawatan postoperatif
Perawatan post operatif meliputi perawatan luka dan terapi. Perawatan
luka yang dilakukan oleh beberapa ahli dilakukan di minggu pertama
pasca bedah. Akan tetapi lebih disarankan untuk pemeliharaan dan
mempertahankan posisi sampai kurang lebih 3 minggu atau sampai garis
tepi flap sembuh. Dengan metode ini diharapkan mengurangi nyeri pasca
bedah dikaitkan dengan penggantian perban, dan mengurangi tindakan
perawatan dan biaya secara signifikan. Terapi postoperatif menggunakan
bidai statis atau dinamis dan juga terapi latihan fisik diperlukan untuk
menjaga ruang lingkup gerak persendian. Pasien juga diedukasi mengenai
perlunya kontrol rutin dan follow up jangka panjang.12

DAFTAR PUSTAKA
1. Offenbacher M, Sauer S, Rie J, Muller M, Grill E, Daubner A, Randzio O,
Kohls N, Majumdar AH. (2013). Contractures with special reference in
elderly: definition and risk factors-a systematic review with practical
implications. Journal Disabil Rehabil: 110.
2. Hermans M. (2005). A general overview of burn care. Int Wound J 2: 206-220.
3. Schneider JC, Holavanahalli R, Helm P, Goldstein R, Kowalske K. (2006).
Contractures in Burn Injury: Defining the Problem. J Burn Care Res 27:508
514.
4. Adu EJK. (2011). Management of contractures: a five-year experience at
komfo anokye teaching hospital in kumasi. Ghana Medical Journal 45(2):6672.
5. Gulgonen A, Ozer K. (2007). The Correction of Postburn Contractures of the
Second Through Fourth Web Spaces. J Hand Surg 32A:556564.
6. Schwarz RJ. (2007). Management of Postburn Contractures of the Upper
Extremity. Journal of Burn Care Research 28: 212219.
7. Edwin AD. (1990). The Management of burns. The New England Journals of
Medicine 323:1249-1253
8. Cheema SA. (2010). Reverse ulnar parametacarpal artery flap for soft tissue
defects of hand. J Ayub Med Coll Abbottabad 22(2): 61-63.
9. Al-kandari QA. (2008). X-Plasty for Post Burn Flexion Contractures of
Interphalangeal Joints of All Five Digits of Hand and Adduction Contractures
of Axilla. J. Plast. Reconstr. Surg (32)1: 67-69.
10. Amin MM, Iqbal T, Minhas TM, Sadaf J. (2012). A Comparison between
Plantar Skin Grafts and Split Thickness Ordinary Skin Grafts in the
Management of Postburn Flexion Contractures of Hand. Ann. Pak. Inst. Med.
Sci 8(1): 83-86.
11. Ali A, Khundkar SH. (2009). Outcome of Skin Graft in Postburn Finger
Contractures: An Integrated Technique of Evaluation. J Bangladesh Coll Phys
Surg 27: 25-29.

12. Sheridan RL, Baryza M.J, Pessina M, et al. (1999) Acute hand burns in
children; management and long term outcome based on a ten year experience
with 698 injured hands. Ann Surg. 1999:229564.
13. Saleh Y, Shazly M, Adly S. (2009). Management of Post Burn Mutilated
Hand. Egypt, J. Plast. Reconstr. Surg. 33:101-109.
14. Jabir S, Frew Q, El-Muttardi N, Dziewulski P. (2014). A systematic review of
the applications of free tissue transfer in burns. Journal Elsevier 1: 1-12.
15. Ravishanker R. (Distraction correction for flexion contractures of the fingers:
A minimally invasive technique. Indian J Plastic Surg (36)2: 99-103.
16. Uebelhoer NS, Ross EV, Shumaker PR. (2012). Ablative Fractional
Resurfacing for the Treatment of Traumatic Scars and Contractures. Semin
Cutan Med Surg 31:110-120.
17. Ahmad M. (2014). Management of digital flexion contractures. Isra Medical
Journal (6)1: 1-3.
18. Schwarz RJ, Joshi KD. (2004). Management of post-burn contractures.
Journal of Nepal Medical Association 43: 211-217.
19. Gven E, Uurlu AM, Hocaolu E, Kuvat SV, Elbey H. (2010). Treatment of
post-burn upper extremity, neck and facial contractures: report of 77 cases.
Turkish Journal of Trauma & Emergency Surgery 16 (5):401-406.
20. Conduta JL, Aldunate B, Vana LPM, Fontana C. (2012). Use of dermal matrix
and negative pressure dressings for the treatment of contractures in burn
patients. Brazilian Journal of Plastic Surgery 27(3): 369-73.
21. Gupta M, Pai AA, Ramachandra R, Sawarappa R, Majumdar KM, Banerjee T,
Kanoi A, et al. (2013). Perforator-Plus Fasciocutaneous Flaps in the
Reconstruction of Post-Burn Flexion Contractures of the Knee Joint. World J
Plast Surg 2(1): 27-34.
22. Balakrishnan H, Sugg KB, Huettner W, Jarrahnejad P. (2008). Depuytrens
contracture following burn injury of the hand : a case report and review of
literature. Canadian Journals Plastic Surgery 16:49-51.
23. Goel A & Shrivastava P. (2010). Post-burn scars and scar contractures. Indian
Journal of Plastic Surgery 43(3):63-71.

24. Procter F. (2010). Rehabilitation of the burn patient. Indian Journal of Plastic
Surgery 43(Suppl): S101-S113.
25. Sheridan RL, Ryan DP, Fuzaylov G, et al. (2008) Case : An 18-Month-Old
Girl with an Advanced Neck Contracture after a burn. The New England
Journals of Medicine 358:729-73.
26. Gokalan L, Ozgor F, Gursu G, Kecik A. (1996). Factors Affecting Results in
Thermal Hand Burns. Annals of Burns and Fire Disasters 9

http://www.pulsus.com/journals/abstract.jsp?
sCurrPg=journal&jnlKy=6&atlKy=7889&isuKy=771&spage=1&isArt=t&fold=A
bstract

http://www.uscplasticsurgery.net/downloads/burn/15_crih.pdf

http://www.nejm.org/doi/full/10.1056/NEJM199011013231806

http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC3038392/

http://www.medbc.com/annals/review/vol_9/num_4/text/vol9n4p222.htm

http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC3038404/

http://www.esprs.com/journal/331_17.pdf

http://www.nejm.org/doi/full/10.1056/NEJMcpc0708792

http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC1191743/