Anda di halaman 1dari 32

Pembimbing : Prof. Dr. dr.

Zainal M, SpJP (K), FIHA


Penyusun : Mutiara Insan Sangaji (07120090082)
KEPANITERAAN KLINIK ILMU PENYAKIT DALAM
RUMAH SAKIT PUSAT ANGKATAN DARAT GATOT SOEBROTO
Universitas Pelita Harapan

Penyakit Jantung dan pembuluh


darah merupakan masalah
kesehatan masyarakat dan
merupakan penyebab kematian
tertinggi di Indonesia.

26.4 %
16 %
5.9 %

19 %

9.1 %

Survey Kesehatan Rumah Tangga Litbangkes Departemen Kesehatan RI;1980.

Laporan Profil Kesehatan Kota


Semarang tahun 2010
Kejadian Penyakit jantung dan
pembuluh darah sebesar 96.957 dan
1.847 kasus merupakan kasus IMA
Selama periode 2005-2010 terjadi
kematian sebanyak 2.941 kasus dan
414 (14%) kasus diantaranya
disebabkan oleh Infark Miokard Akut
Dinas Kesehatan Kota Semarang. Profil Kesehatan Kota Semarang tahun 2010.

Etiologi

Faktor Resiko

Aterosklerosis pembentukan plak


aterosklerotik akibat akumulasi bahan
seperti makrofag yang mengandung :

Komponen berperan thdp trombosis:


Dinding pembuluh darah
Aliran darah
Darah (trombosit, sistem koagulasi,
sistem fibrinolitik, antikoagulan)

Foam cells
Lipid ekstraselular masif
Plak fibrosa (sel otot polos dan kolagen)

Kelainan dari:
Lapisan endotel
Pembentukan foam cell & fatty streaks
Fibrous cups yang tipis
Plak yang penuh dengan aktivitas sel
inflamasi
Plak aterosklerosis yang
rupture zat vasoaktif ke
dalam aliran darah
merangsang adhesi
agregasi trombosit
pembentukan fibrin
trombus

Plak
rentan
mengalami
erosi,
fisur,
rupture

Kematian sel miokard (bisa


diatasi dengan kolateral /
lisis trombus yg cepat

Oklusi
Trombus persisten, > 1jam
(tidak dikompensasi oleh
kolateral / tidak lisis)

trombosis

IMA
NSTEMI
Seluruh lapisan miokard
mengami nekrosis (nekrosis
transmural)

IMA STEMI +
Q patologis

Manifestasi
IMA biasanya didahului dengan serangan
angina pectoris pada sekitar 50%

Sifat Nyeri Dada Angina


Lokasi :
substernal, retrosternal dan perikordial

Sifat nyeri :
rasa sakit seperti ditekan, terbakar, ditindih
benda berat, ditusuk, diperas, dan dipelintir

Sifat Nyeri Dada Angina


Penjalaran :
lengan kiri, leher, rahang, bawah gigi,
punggung/interskapula, perut, ke lengan
kanan

Sifat Nyeri Dada Angina


Nyeri membaik atau hilang dengan
istirahat atau obat nitrat
Gejala menyertai:
mual, muntah, sulit bernapas, keringat dingin,
cemas, dan lemas.

Pemeriksaan Penunjang
Peningkatan nilai enzim dua kali lipat
menunjukan adanya nekrosis jantung
CKMB
Meningkat : 3-12 jam
Elevasi puncak : 24 jam
Rentang normal : 48 72 jam
cTn I
Meningkat : 3-12 jam
Elevasi puncak : 24 jam
Rentang normal : 5-10 hari
cTn T
Meningkat : 3-12 jam
Elevasi puncak : 12 jam 2
hari
Rentang normal 5-14 hari
IPD Jilid V

Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan enzim jantung yg lain :
Mioglobin
Kreatinin Kinase
Lactic dehydrogenase (LDH)

EKG

Diagnosis

10 MENIT !!

Time is muscle

Acute Coronary Syndromes


Gejala seperti iskemik atau infark

EMS assesment and care and Hospital preparation :

Monitoring, support ABC, mempersiapkan CPR dan defibrillation


Mempersiapkan Morfin, Oksigen, Nitroglycerin, Aspirin (jika diperlukan)
Pemasangan EKG, jika ST elevasa ST elevasi beri tahu kepada RS yang akan di tuju dan
catat waktu pertama kali mulai kontak medis.
Jika membutuhkan fibrinolisis, gunakan checklist fibrinolitik

Emergency (<10 menit)

Cek tanda vital, evaluasi saturasi oksigen


IV access
Melakukan anamnesa singkat, riwayat penyakit,
pemeriksaan fisik
Mengisi checklist fibrinolitik, mengecek
kontraindikasi dari fibrinolitik
Melakukak pemeriksaan marker cardiac,
electrolite, dan koagulasi
X-ray (<30 menit)

Jika saturasi O2 < 94 %,berikan Oksigen


4L/menit
Aspirin 160-325 mg (jika belum diberi)
Nitrogliserin sublingual / spray
Morfin IV (jika merasa masih tidak
nyaman dengan pemberian nitrogliserin)

EKG
Lokasi Infark

GelombangQ/

A.Koroner

ST elvasi (sandapan)
Antero-septal

V1 dan V2

LAD

Anterior

V3 dan V4

LAD

Lateral

V5 dan V6

LCX

Anterior-ektensif

I, AVL, V1-V6

LAD,LCX

High-lateral

I, AVL, V1-V6

LCX

Posterior

V7-V9 (V1-V2)

LCX PL

Inferior

II, III, dan AVF

PDA

Right ventrikel

V2R V4R

RCA

LAD : Left Descending Artery, LCX (Left Circumflex), RCA (Right Coronary Artery, PL
(Posterior Left Ventricular Artery, PDA (Posterior Descending Artery)

LAD : Left Descending Artery, LCX (Left Circumflex), RCA (Right Coronary Artery, PL
(Posterior Left Ventricular Artery, PDA (Posterior Descending Artery)

ST elevasi di v1, v2,v3,v4, v5, v6 LAD

Tatalaksana IMA dengan STEMI

IPD Jilid V

primary PCI
Pilihan terapi
reperfusi pada
STEMI
thrombolytic
therapy

bypass
surgery

Fibrinolitik
< 30 menit bila tidak ada kontraindikasi
Obat :
Tissue Plasminogen Activator (tPA)
Streptokinase
Tenekplase (TNK)
Reteplase (rPA)

Obat ini memicu konversi plasminogen


menjadi plasmin yang selanjutnya
melisiskan trombus fibrin

TIMI (trombolysis in myocardial infarction)


grading sistem )
Grade 0

Oklusi total pada arteri yang terkena infark

Grade 1

Penetrasi sebagian materi kontras melewati titik


obstruksi tetapi tanpa perfusi vaskular distal

Grade 2

Perfusi pembuluh yang mengalami infark ke arah


distal tetapi dengan aliran yang melambat
dibandingkan aliran arteri normal

Grade 3

Perfusi penuh pembuluh yang mengalami nfark


dengan aliran normal

Target terapi reperfusi adalah aliran TIMI grade 3

Indikasi terapi fibrinolitik


Kelas I

Kelas IIa

Jika tidak ada kontraindikasi, terapi


fibrinolitik harus dilakukan pada
pasien STEMI dengan onset
Onset gejala < 12 jam
Elevasi ST > 0.1 mV pada minimal 2
sandapan prekordial atau 2 sandapan
ekstremitas

Jika tidak ada kontraindikasi,


dipertimbangkan terapi fibrinolitik pada
pasien STEMI dengan
Onset Gejala < 12 jam
EKG 12 sandapan konsisten dengan
infark miokard posterior

Jika tidak ada kontraindikasi, terapi


fibrinolitik diberikan pada pasien
STEMI dengan onset :
Gejala < 12 jam
LBBB baru atau diduga baru

Jika tidak ada kontraindikasi,


dipertimbangkan terapi fibrinolitik pada
pasien STEMI dengan
Onset gejala < 12 jam 24 jam yang
mengalami gejala iskemi yang terus
berlanjut
Elevasi ST 0.1 mV pada sekurangkurangnya 2 sandapan prekordial yang
berdampingan / minimal 2 sandapan
ekstremitas

Indikasi fibrinolitik dianggap berhasil jika


Ada resolusi nyeri dada
Penurunan elevasi segmen ST < 50% dalam
90 menit pemberian fibrinolitik

Komplikasi

IPD Jilid V

Prognosis
Klasifikasi killip

IPD Jilid V

Kelas

Defnisi

Mortalitas %

Tak ada tanda gagal jantung kongestif

II

+S3 dan atau ronki basah

17

III

Edema paru

30-40

IV

Syok kardiogenik

60-80

Prognosis
TIMI risk score

sistem prognostic paling akhir yang menggabungkan anamnesis sederhana dan


pemeriksaan fisik yang dinilai pada pasien STEMI yang mendapat terapi fibrinolitik

Faktor Risiko (Bobot)

Skor Risiko/ Mortalitas 30


hari (%)

Usia 65-74 tahun (2 poin)

0 (0.8)

Usia >75 tahun (3 poin)

1 (1.6)

Diabetes mellitus/hipertensi atau

2 (2.2)

angina (1 poin)
Tekanan darah sistolik <100mmHg

3 (4.4)

(2 poin)

IPD Jilid V

Frekuensi jantung >100 (2poin)

4 (7.3)

Klasifikasi Killip II-IV (2 poin)

5 (12.4)

TERIMAKASIH

Kontraindikasi Terapi Fibrinolitik

Interpretasi EKG

STEMI:
ST elevasi / LBBB

Resioko tinggi NSTEMI / UA:


ST depresi, T-wave inversion

Memulai terapi
Jangan memperlambat
reperfusi
Onset dari gejala
12 jam

> 12 JAM

Elevasi troponin atau pd pasien


dengan resiko tinggi
Refractory ischemic chest
discomfort
Recurrent/ persistent ST deviation
Ventricular Tachycardia
Hemodynamic instability
Sign of heart failure

12 JAM

Goal dari reperfusi :


Door-to-ballon (PCI) 90
menit
Door-to-needle (fibrinolysis)
30 menit

Memulai adjunctive treatment :


Nitroglycerin
Heparin (UFH/LMWH
Mempertimbangkan : PO BBlocker
Mempertimbangkan : clopidogrel
Mempertimbangkan : Glikoprotein
Iib/IIIa inhibitor

Normal