Anda di halaman 1dari 4

TUGAS 5 - SETELAH UTS

Mata Kuliah
Sandi Mata Kuliah
Dosen Pembina
Nama mahasiswa
NIM mahasiswa
E-mail

:
:
:
:
:
:

LANDASAN DAN PROBLEMATIKA PENDIDIKAN


MKK 6035
Dr. Edy Herianto, M.Ed.
Andy Eddy
I2K 013 007
s2apunram.andy@gmail.com

Referensi
Dewey, John. 2002. Pengalaman dan Pendidikan. Alih bahasa: John de Santo.
Yogyakarta, Kepel Press.
Soerapto, Sri.2013. Landasan Aksiologis Sistem Pendidikan Nasional Indonesia Dalam
Perspektif Filsafat Pendidikan. Jurnal Cakrawala Pendidikan, Th. XXXII, No. 2
Pembahasan.
ANALISIS KOMPARATIF
ANTARA PENDIDIKAN PROGRESIF DENGAN PENDIDIKAN NASIONALISME
Komponen
1; Konsep

Pendidikan Progresif

Pendidikan Nasionalisme

Memberikan kemerdekaan danNilai-nilai


pancasila
berfungsi
kebebasan kepada pebelajar baiksebagai landasan
dan pengarah
secara fisik maupun intelektual agardalam mengembangkan potensi yang
dapat mengembangkan bakat dandimiliki pebelajar untuk kehidupan
kemampuan yang dimilikinya untukmasa sekarang dan masa depan.
memecahkan
persoalanTujuan pendidikan ialah untuk
kehidupannya saat ini. Tujuanmengembangkan potensi anak didik
pendidikan ialah Agar anak didikagar mampu berpikir secara rasional
mampu berbuat sesuatu dengandan berwatak yang luhur sesuai
berpikir krearif untuk mengadakandengan
nilai-nilai
pancasila
penyesesuaian terus-menerus sesuai(ketuhanan, kemanusian, persatuan,
dengan tuntutan lingkungan.
kerakyatan dan keadilan).

2; Peranan Guru. fasilitator, motivator, dan konselor;

Memotivasi, mendidik,
membimbing, dan membina.

3; Peranan siswa Berpikir rasionalitas yang pragmatis

Berpikir rasionalitas yang


berkeadaban

4; Pengalaman

belajar
5; Kontrol

Belajar

Memaknai dan menggali


pengetahuan.

Memaknai dan menggali pengetahuan


berlandaskan nilai.

Semua pebelajar terlibat dan


Nilai-nilai pancasila menjadi pedoman
mengambil bagian secara bersama.
dan pengontrol kegiatan.

KESIMPULAN
Pendidikan tradisional merupakan suatu Penomena yang terjadi (Tesis), sedangkan
pendidikan progresif hadir sebagai perlawanan (antitesis) dari sistem pendidikan Tradisional.
Maka, pilihan yang paling tepat bagi kita adalah suatu sistem pendidikan yang sesuai dengan
falsafah dan budaya bangsa kita sendiri, yakni sistem pendidikan Nasionalisme (sintesis).
1

Pendidikan merupakan salah satu proses penting dalam hidup bermasyarakat dan
berbangsa. Pendidikan perlu disesuaikan dengan perkembangan pemikiran rasional yang
ditandai kemajuan ilmu dan teknologi, tetapi teori-teori ilmu dan teknologi yang akan
disampaikan perlu mempertimbangkan peningkatan harkat dan martabat manusia. Nilai-nilai
dan norma-norma moral yang dijunjung tinggi dalam kehidupan bermasyarakat dan
berbangsa perlu diperhatikan agar kegiatan pendidikan dapat menghasilkan sumber daya
terdidik yang mampu membawa kemajuan sesuai cita-cita masyarakat dan bangsanya.
Bangsa indonesia memiliki falsafah hidup yakni Pancasila. Menurut Tilaar (2001:4)
Nilai-nilai dan norma moral Pancasila berfungsi sebagai landasan dan pengarah bagi
perumusan sistem pendidikan nasional untuk meningkatkan kecerdasan yang memadai.
Sementara menurut Kartodirdjo, (1994:49) Nilai-nilai dan norma moral Pancasila yang
dijunjung tinggi di Indonesia dapat berfungsi ganda, yaitu menanggulangi dampak negatif
modernisasi sekaligus hambatan dari ikatan-ikatan dan loyalitas primordial. Sistem
pendidikan nasional berfungsi untuk mendukung eksistensi bangsa Indonesia dan sekaligus
meningkatkan kualitasnya dalam menyesuaikan diri pada tata pergaulan dunia modern.
Menurut Makagiansar (1996) memasuki abad 21 pendidikan akan mengalami pergeseran
perubahan paradigma yang meliputi pergeseran paradigma:
1; Dari belajar terminal ke belajar sepanjang hayat,
2; Dari belajar berfokus penguasaan pengetahuan ke belajar holistik,
3; Dari citra hubungan guru-murid yang bersifat konfrontatif ke citra hubungan kemitraan,
4; Dari pengajar yang menekankan pengetahuan skolastik (akademik) ke penekanan
keseimbangan fokus pendidikan nilai,
5; Dari kampanye melawan buta aksara ke kampanye melawan buta teknologi, budaya, dan
komputer,
6; Dari penampilan guru yang terisolasi ke penampilan dalam tim kerja,
7; Dari konsentrasi eksklusif pada kompetisi ke orientasi kerja sama.
Dengan memperhatikan pendapat ahli tersebut nampak bahwa pendidikan dihadapkan
pada tantangan untuk menghasilkan sumber daya manusia yang berkualitas dalam
menghadapi berbagai tantangan dan tuntutan yang bersifat kompetitif. Untuk itulah
dibutuhkan sosok Guru yang profesional dan Siswa yang ideal agar mampu menjawab hal
tersebut diatas.
Sosok Guru Profesional yang maksud adalah sebagai berikut:
1; Memiliki Watak yang Luhur. Guru dalam dimensi kekinian digambarkan sebagai sosok
manusia yang berakhlak mulia, berkepribadian, jujur, obyektif, bertanggung jawab,
menarik, empatik, berwibawa, dan patut diteladani. Tidak kalah pentingnya adalah sosok
penampilan guru yang ditandai dengan keunggulan dalam nasionalisme dan jiwa juang.
2; Memiliki Semangat dan menjadi Penyemangat. Sebagai guru profesional wajib tumbuh
dalam dirinya jiwa semangat dan sebagai penyemangat. Dengan semangat tinggi, ia akan
selalu memiliki inisiatif, gigih, tidak mudah putus asa dan tidak gampang menyerah.
Sebaliknya, ia akan jarang mengeluh. Dan hatinya akan senantiasa berkata hanya ada dua
macam hari: hari baik dan hari sangat baik.
3; Futuristic dan paham IT. seorang guru harus manjadi manusia yang dinamis dan berfikir
ke depan (futuristic) dengan tanda-tanda dimilikinya sifat informatif, modern, dan
komitmen untuk pengembangan individu maupun bersama-sama. Dan yang tak kalah
penting, guru diharuskan mampu menguasai IT, atau setidak-tidaknya mampu
mengoperasionalkan.
4; Memiliki kekayaan pengetahuan dan kompetensi (akademik, pedagogik, sosial dan
budaya). Guru diharapkan benar-benar mampu mengajak siswanya siap dalam
menghadapi tantangan zaman. Guru mampu berpikir kritis, tanggap terhadap setiap
2

perubahan, dan mampu menyelesaikan masalah. Selain dari itu, hal mendasar yang harus
dimiliki guru adalah kekayaan pengetahuan tentang materi yang akan diajarkan. Tanpa
itu, mustahil guru akan dapat mengajar dengan baik, lugas dan lancar. Keminiman
penguasaan materi dan wawasan pendukungnya akan mengurung guru pada keminderan
dan bahkan merasa takut berhadapan dengan siswa.
5; Memiliki kemampuan Administrasi yang Unggul. Pendidikan di abad 21 menuntut adanya
administrasi pendidikan yang modern dan profesional dengan bernuansa pendidikan.
Lembaga-lembaga pendidikan diharapkan mampu mewujudkan peranannya secara efektif
dengan keunggulan dalam kepemimpinan, staf, proses belajar mengajar, pengembangan
staf, kurikulum, tujuan dan harapan, iklim sekolah, penilaian diri, komunikasi, dan
keterlibatan orang tua/masyarakat.
Sosok Siswa Ideal yang maksud adalah sebagai berikut:
1; Memiliki karakter sebagai pemikir. Karakter sebagai pemikir ini ditandai dengan
terampil berpikir inovatif lewat kecepatan beradaptasi dengan lingkungan, mampu
memecahkan masalah yang kompleks, dan dapat mengendalikan diri sendiri dalam
menghadapi tantangan yang ada, cerdas, kreatif, dan berani ambil resiko. Selain itu.
karakter yang relevan dengan kerja otak ini meliputi prilaku berpikir yang selalu ingin
tahu, berpikir terbuka, dan bersikap reflektif.
2; Memiliki etos kerja yang tinggi sehingga produktif. Hal ini ditandai dengan memiliki
kemampuan untuk menentukan prioritas, mengembangkan perencanaan, memetakan hasil
pencapaian, terampil menggunakan perangkat kerja, dan meningkatkan keterampilan yang
sejalan dengan perkembangan teknologi. Di samping itu, terampil mengembangkan
kecakapan yang relevan dengan kebutuhan hidup, dan selalu menghasilkan mutu produk
yang tinggi. Karakter yang relevan dengan hal ini adalah prilaku hidup yang bersih dan
sehat, disiplin, sportif, tidak kenal menyerah, tangguh, handal, berketetapan hati, kerja
keras, dan kompetitif.
3; Memiliki keterampilan berkomunikasi. Hal ini ditandai dengan kemampuan bekerja
dalam tim yang bervariasi, berkolaborasi, dan cakap mengembangkan hubungan
interpersonal sehingga selalu dapat menempatkan diri dalam interaksi yang harmonis.
Memiliki kecakapan komunikasi personal, sosial, dan terampil mengejawantahkan
tanggung jawab. Yang tidak kalah pentingnya adalah terampil dalam komunikasi interaktif
dengan cerdas dan rendah hati. Karakter yang relevan dengan keterampilan ini adalah
menghargai, toleran, peduli, suka menolong, gotong royong, nasionalis, kosmopolit,
mengutamakan kepentingan umum dan bangga terhadap produk bangsa sendiri.
4; Cakap dalam menggunakan teknologi dan informasi. Hal ini ditandai dengan kecakapan
untuk memvisualisasikan informasi dalam mengembangkan keterampilan multikultural,
bekerja sama dan berkomunikasi dalam ruang lintas bangsa, serta terampil
mengembangkan kesadaran global.
5; Berwatak yang luhur. Bangsa Indonesia memandang bahwa kecakapan intelektual,
digital, sosial, dan akademik belum cukup. Anak Indonesia wajib memiliki kecakapan
hidup yang yang lebih bernilai yang ditandai dengan keterampilan beriman dan bertakwa,
terampil hidup jujur, terampil menjalankan amanah, terampil berbuat adil, terampil
menjalankan tanggung jawab, terampil berempati, dan patuh menjalankan nilai-nilai dan
norma moral pancasila sabagai landasan hidup bermasyarakat dan berbangsa.
Daftar Rujukan:

Makagiansar, M. 1996. Shift in Global paradigma and The Teacher of Tomorrow, 17th.
Convention of the Asean Council of Teachers (ACT); 5-8 Desember, 1996, Republic of
Singapore.