Anda di halaman 1dari 7

1

REVIEW BUKU
Judul buku

: Manajemen Mutu Terpadu Pendidikan


(Total Quality Management in Education)

Pengarang

: Edward Sallis

Alih Bahasa : Dr. Ahmad Ali Riyadi dan Fahrurrozi, M.Ag


Penerbit

: IRCiSoD cetakan kelima

Tahun terbit

: 2012

Tebal buku

: 281 Halaman

Tentang Isi Buku:


Pada buku Total Quality Management In Education ini, menjelaskan tentang
latar belakang, konsep dan segala hal yang berkaitan dengan manajemen mutu
pendidikan yang sebenarnya diadopsi dari proses penerapan mutu di bidang
industri. Penerapan manajemen mutu ini di Indonesia sering disebut pula
Manajemen Mutu Terpadu Pendidikan (MMTP) yang dikembangkan dari konsep
Total Quality Management (TQM) yang pada mulanya diterapkan pada dunia
bisnis/perusahaan kemudian diterapkan pada dunia pendidikan. Oleh karena itu
proses peningkatan mutu pendidikan MMTP didasarkan pada manajemen
perusahaan TQM.
Peran Strategis Pendidikan Di Era Globalisasi Modern, Dimulai dari
lahirnya gerakan TQM dalam konteks Pendidikan. Untuk keberhasilan
penerapannya memang tidak mudah, diperlukan komitmen dan kerjasama yang
baik antara departemen terkait, antara departemen pusat dengan departemen
pendidikan di daerah serta institusi pendidikan setempat sebagai pihak yang
berhubungan langsung dengan masyarakat. Oleh karena itu, perlu adanya
kejelasan secara sistemik dalam memberikan kewenangan antar institusi terkait.
Jika manajemen ini diterapkan sesuai ketentuan yang ada dengan segala dinamika

dan fleksibilitasnya, maka akan menjadi perubahan yang efektif bagi


pengembangan dan peningkatan mutu pendidikan nasional.
Strategi yang dikembangkan dalam penggunaan TQM dalam pendidikan
adalah institusi pendidikan mempromosikan dirinya sebagai institusi/lembaga
jasa. Yakni institusi yang memberian

service jasa atau pelayanan yang

didinginkan pelanggan berupa sesuatu yang bermutu dan memberikan kepuasan


kepada mereka. Dalam ruang inilah institusi sebagai penyedia jasa dan para
pelanggan

sama-sama

membutuhkan

sistem

manajemen

yang

mampu

membercayakan institusi pendidikan agar bermutu.


Dalam pendangan TQM, Pelanggan kemudian dibedakan menjadi dua jenis,
internal customer dan external cutomer. pelanggan internal : guru, pustakawan,
laboran, teknisi dan tenaga administrasi, 2) Pelanggan eksternal terdiri atas :
pelanggan primer (siswa), pelanggan sekunder (orang tua, pemerintah dan
masyarakat), pelanggan tersier (pemakai, penerima lulusan baik di perguruan
tinggi maupun di dunia usaha). Oleh karena itu, apabila memposisikan institusi
pendidikan sebagai penyedia jasa maka harus memenuhi standar mutu, yaitu:
mutu sesungguhnya quality in fact dan mutu persepsi quality in perception.
Dengan indikator pengukuran: tanpa cacat zero defect dan baik sejak awal
right first time and every time.
Dalam operasi Total Quality Manajemen (TQM) di dunia pendidikan ada
beberapa hal pokok yang perlu diperhatikan pertama: Perbaikan secara terusmenerus ( continous improvement), kedua : Menentukan standar mutu ( quality
anssurance ), ketiga: Perubahan cultural (( change of culture ): keempat:
Perubahan organisasi ( upside down organization ), kelima: Mempertahankan
hubungan dengan pelanggan ( keeping close to the cutomer ). untuk keberhasilan
penerapan manjeman terpadu memenag tidak mudah diperlukan komitmen dan
kerjasama antar departemen yang ada. Oleh karena itu perlu kejelasan sistematis
pemberian wewenang antar institusi yang ada.

TANGGAPAN :
Total Quality Management (TQM) atau Manajemen Mutu Terpadu (MMT)
adalah suatu konsep manajemen yang telah dikembangkan sejak 50 tahun lalu dari
berbagai aspek/praktek manajemen serta usaha peningkatan dan pengembangan
produktivitas. TQM memperkenalkan pengembangan proses produk dan
pelayanan sebuah organisasi secara sistematik dan bekesinambungan. Pendekatan
ini berusaha untuk melibatkan semua pihak terkait, dan memastikan bahwa
pengalaman dan ide - ide mereka memiliki sumbangan dalam pengembangan
mutu. Jadi, Konsep Manajemen Mutu Terpadu (MMT) membuka jalan menuju
paradigma berpikir baru yang memberi penekanan pada kepuasan pelanggan,
inovasi, dan peningkatan mutu pelayanan secara berkesinambungan.
Memperhatikan perkembangan dunia, baik era klasik, modern, bahkan
post modern (era posmo) yang dalam buku Edward Sallis (pada bagian catatan
penerjemah) disebut era kontemporer bahwa dunia pendidikan dikejutkan
dengan diterapkannya TQM dalam dunia pendidikan. Penulis kira ini hal yang
wajar sebab dunia memang selalu dalam proses perkembangan. Ini juga berarti
ada perubahan budaya (culture change).
Dalam pandangan penulis, Dunia pendidikan harus menyambut baik dan
menerapkan TQM dalam pendidikan sebagai bagian dari keinginan pencapaian
mutu baik oleh internal customer maupun external customer. Di mana mutu
sebagai subjek yang diacu dan dikontrol. Hal ini tentu dapat ditempuh dengan
menerapkan metode-metode pendekatan TQM yang sesuai dengan konteks dunia
pendidikan.
Dalam konteks penerapan TQM pada manajemen mutu pendidikan, ada
banyak tantangan yang akan dihadapi dan itu tidaklah gampang karena ada
perbedaan pandangan tentang, pertama Apa produknya? dan yang kedua
Siapa customer-nya? dari pendidikan.
Pandangan pertama, Siswa dipandang sebagai produk/output dari
pendidikan, terutama jika kita bicara tentang kinerja institusi pendidikan.

Pernyataan bahwa pendidikan menyediakan lulusan telah membuat pendidikan


seperti suatu proses produksi dengan siswa muncul sebagai hasil akhir dari proses
tersebut. Hal ini, sekolah dianggap sebagai suatu unit produksi, dimana siswa
sebagai bahan mentah dan lulusan sekolah sebagai hasil produksi. Jika selanjutnya
kita memandang pendidikan sebagai sebuah proses produksi, hal pertama yang
harus diperhatikan ialah: agar ada jaminan mutu (quality assurance), yaitu
perlunya menentukan spesifikasi dan juga mengontrol sumberdaya/input untuk
proses produksi tersebut; Kedua, bahan mentah yang masuk kedalam institusi
pendidikan agar proses pendidikan memiliki jaminan mutu harus melalui sebuah
proses standar dan output harus memenuhi spesifikasi yang didefinisikan
sebelumnya. Model seperti itu jelas mensyaratkan sebuah proses seleksi awal para
siswa yang akan diterima.
Beberapa institusi pendidikan dapat melakukan hal ini, namun untuk
sebagian besar sekolah tidak mungkin melakukan hal ini. Meskipun telah dibuat
kurikulum dan standar proses pendidikan oleh pemerintah (Standar Isi, SKL,
standar proses, dsb), namun hasil akhirnya tetap sesuatu yang tidak dapat dibuat
seragam.

Dalam pandangan penulis,

sesuatu yang mustahil untuk

memproduksi siswa dengan jaminan standar tertentu yang seragam. Selain


itu, Ide bahwa siswa sebagai produk pendidikan mengabaikan kompleksitas dari
proses pembelajaran dan keunikan dari tiap-tiap individu pembelajar. Sehingga
apa sebenarnya produk pendidikan? Tidak dapat terjawab oleh pandangan ini.
Adapun pandangan kedua, menyatakan produk pendidikan adalah layanan
jasa. Dalam pandangan ini Manajemen Mutu Terpadu (MMT) sekolah dipahami
sebagai Unit Layanan Jasa, yakni pelayanan pembelajaran. Sebagai unit layanan
jasa, maka yang dilayani sekolah (pelanggan sekolah) adalah 1) pelanggan
internal : guru, pustakawan, laboran, teknisi dan tenaga administrasi, 2) Pelanggan
eksternal terdiri atas : pelanggan primer (siswa), pelanggan sekunder (orang tua,
pemerintah dan masyarakat), pelanggan tertier (pemakai, penerima lulusan baik di
perguruan tinggi maupun di dunia usaha)

Dalam peningkatan mutu pendidikan sebagai penerapan MMT, terkandung


upaya a) mengendalikan proses yang berlangsung di sekolah baik kurikuler
maupun administrasi, b) melibatkan proses diagnosa dan proses tindakan untuk
menindak lanjuti diagnosa, c) memerlukan partisipasi semua pihak; Kepala
sekolah, guru, staf administrasi, siswa, orang tua dan pakar.
Adapun penyusunan program peningkatan mutu dengan mengaplikasikan
empat teknik ; school riview, benchmarking, quality assurance, dan quality
control. Berikut penjelasan dari ke empat teknik tersebut.
School review merupakan suatu proses dimana seluruh komponen sekolah
bekerja sama khususnya dengan orang tua dan tenaga profesional (ahli) untuk
mengevaluasi dan menilai efektifitas sekolah, serta mutu lulusan. School review
akan menghasilkan rumusan tentang kelemahan-kelemahan, kelebihan-kelebihan
dan prestasi siswa, serta rekomondasi untuk pengembangan program tahun
mendatang.
Benchmarking merupakan suatu kegiatan untuk menetapkan standar dan
target yang akan dicapai suatu periode tertentu, harus mampu menjawab.
Seberapa baik kondisi kita ?, harus menjadi seberapa baik ?, dan bagaimana cara
untuk mencapai yang baik tersebut ?
Quality assurance merupakan suatu teknik untuk menentukan bahwa
proses pendidikan telah berlangsung sebagaimana seharusnya. Dengan teknik ini
akan dapat dideteksi adanya penyimpangan yang terjadi pada proses. Teknik
menekankan pada monitring yang berkesinambungan. Quality assurance akan
menghasilkan informasi, yang

merupakan umpan balik bagi sekolah dan

memberikan jaminan bagi orang tua siswa bahwa sekolah senantiasa memberikan
pelayanan terbaik bagi siswa.
Quality control merupakan suatu sistem untuk mendeteksi terjadinya
penyimpangan kualitas output yang tidak sesuai dengan standar quality control
memerlukan indikator kualitas yang jelas dan pasti, sehingga dapat ditentukan
penyimpangan kualitas yang terjadi.

Dalam aplikasinya, istilah Manajemen Mutu Terpadu (MMT) disebut pula


Total Quality Education (TQE). Dalam konteks aplikasi konsep manajemen mutu
terpadu pendidikan ditegaskan bahwa :
Total Quality Management is a philosophy improvement, which can
provide any educational institution with a set of practical tools for meeting and
exceeding present and future customers need, wants and expectation.
Definisi tersebut menjelaskan manajemen mutu terpadu menekankan pada
dua konsep utama. Pertama, sebagai suatu filosofi dari perbaikan terus menerus
(continous improvement) dan kedua, berhubungan dengan alat-alat dan teknik
seperti brainstorming dan force field analysis (analisis kekuatan tindakan
manajemen untuk mencapai kebutuhan dan harapan pelanggan).
Berarti manajemen mutu dalam pendidikan dapat saja disebutkan
mengutamakan pelajar atau program perbaikan sekolah yang mungkin
dilakukan secara lebih kreatif dan konstruktif. Penekanan yang paling penting
bahwa mutu terpadu dalam programnya dapat mengubah kultur sekolah. Para
pelajar dan orang tuanya menjadi tertarik terhadap perubahan yang ditimbulkan
manajemen mutu terpadu melalui berbagai program perbaikan mutu. Aplikasi
TQM dalam satuan pendidikan dapat pula disebut Total Quality School (TQS)
sebagaimana Arcaro (1995) yang dikutip Jalal dan Supriyadi (2001) dengan lima
pilar, yaitu : (1) fokus kepada pelanggan baik internal maupun eksternal, (2)
adanya keterlibatan total, (3) adanya ukuran baku mutu lulusan sekolah (4) adanya
komitmen dan (5) adanya perbaikan yang berkelanjutan.
SARAN

Penulis berpendapat bahwa manajemen mutu pendidikan merupakan


aplikasi konsep manajemen mutu yang disesuaikan dengan sifat dasar sekolah
sebagai organisasi jasa kemanusiaan (pembinaan potensi pelajar) melalui
pengembangan pembelajaran berkualitas, agar melahirkan lulusan yang sesuai
dengan harapan orang tua, masyarakat dan pelanggan pendidikan lainnya

CACATAN AKHIR:
Buku ini merupakan sebuah hand book yang telah digunakan banyak orang
dan telah memberikan banyak informasi dengan memperkenalkan TQM dalam
dunia pendidikan. Sallis dengan teliti melampirkan point-point penting dari
pemikiran Deming, Juran, Shewhart dalam buku ini. Sehingga informasi yang
diperoleh secara lengkap ada di dalamnya. Yang diawali dari pemaparan tentang
latar belakang lahirnya mutu, konsep mutu, pemikiran Deming, Juran dan
Shewhart. Yang menarik adalah Sallis mencoba memberikan benang merah antara
TQM dan TQM dalam konteks pendidikan.
Selanjutnya

Sallis

mengemukakan

standar-standar

mutu

bertaraf

internasional beserta jenis-jenis penghargaan seputar mutu. Obyektifitas Sallis


terlihat ketika ia tidak hanya menawarkan TQM dalam bukunya namun juga
memperkenalkan prinsip pencapain mutu dengan cara yang lain. Ia juga
mengetengahkan langkah-langkah membuat penilaian atau evaluasi bahkan
analisis. Dan menguncinya dengan kepemimpinan mutu.
Akhirnya yang tidak kalah pentingnya ucapan terima kasih kepada bapak
Dr. H. Sudirman Willian, MA. yang dengan jeli memilih dan memilah sumber
bacaan bagi mahasiswa. Sehingga benar-benar menjadi sumber informasi standar
dalam pengembangan mutu dan kepemimpinan dalam dunia pendidikan.