Anda di halaman 1dari 18

BAB I

PENDAHULUAN
A; Latar Belakang
Memasuki kerjasama ekonomi Negara-negara Asia Tenggara
melalui Kawasan Perdagangan Bebas Asean (Asean Free Trade
Area/AFTA) sejak tahun 2003 dan pasar bebas dunia tahun 2020 akan
menimbulkan persaingan ketat baik barang jadi/komoditas maupun jasa.
Ini berarti Indonesia harus meningkatkan daya saing baik mutu hasil
produksi maupun jasa. Peningkatan daya saing ini dimulai dari penyiapan
Sumber Daya Manusia (SDM) berkualitas yang m e r u p a k a n f a k t o r
k e u n g g u l a n menghadapi persaingan dimaksud. Jika kita tidak bisa
mengantisipasi

persiapan

SDM

yang

berkualitas

antara

lain,

berpendidikan, memiliki keahlian dan keterampilan terutama bagi tenaga


kerja dalam jumlah yang memadai, maka Indones ia akan me nj adi
korban perdagangan bebas. Oleh karena itu, negara kita perlu
menyiapkan SDM pada

tingkat

menengah

yang

memiliki

kemampuan yang sesuai dengan kebutuhan industri atau dunia


usaha. SDM dimaksud perlu dipersiapkan baik oleh pemerintah melalui
DEPDIKNAS,

DEPNAKER,

dan/atau

Departemen

Perdagangan

maupun oleh swasta melalui KADIN serta oleh masyarakat pengguna


jasa.
Pendidikan kejuruan di Indonesia telah beberapa kali berganti
nama yang kemudian saat ini disebut Sekolah Menengah Kejuruan
(SMK). SMK merupakan salah satu lembaga pendidikan yang bertujuan
untuk menciptakan SDM yang memiliki kemampuan, keterampilan, dan
keahlian. Lulusan SMK diharapkan dapat mengembangkan diri
apabila terjun dalam dunia kerja. Pendidikan SMK itu sendiri
bertujuan meningkatkan kemampuan peserta didik untuk dapat
mengembangkan diri sejalan dengan perkembangan ilmu pengetahuan,
teknologi dan kesenian, serta menyiapkan peserta didik untuk memasuki
lapangan kerja dan mengembangkan sikap profesional.
1

SMK mempunyai dua kelebihan bila dibandingkan dengan SMA,


pertama lulusan dari institusi ini dapat mengisi peluang kerja pada
dunia usaha/Industri, karena terkait dengan satu sertifikat yang
dimiliki oleh lulusan melalui uji kemampuan kompetensi. Dengan
sertifikat tersebut mereka mempunyai peluang untuk bekerja. Kedua,
lulusan SMK dapat untuk melanjutkan ke jenjang pendidikan yang
lebih tinggi sepanjang lulusan tersebut memenuhi persyaratan baik
nilai maupun program studi kejuruan sesuai dengan kriteria yang
dipersyaratkan.
Salah satu konsepsi pada pendidikan kejuruan adalah sistem
magang bagi peserta didik SMK. Di Jerman sistem ini disebut dual
system, di Australia disebut dengan Appretice System, di Indonesia
sistem magang khususnya pada SMK operasionalnya disebut dengan
Pendidikan Sistem Ganda (PSG) dan saat ini sering disebut Praktik
Kerja Industri (Prakerin) yang merupakan bagian dari PSG pada SMK
(Sugihartono, 2009).
Menyiapkan tenaga kerja sesuai dengan kebutuhan Dunia
Usaha/Dunia Industri menjadi pusat perhatian dunia pendidikan
kejuruan. Untuk itu pemerintah telah menyiapkan konsep link and
match dalam penyelenggaraan pendidikan kejuruan. Pendidikan
berbasis sistem ganda akan membawa konsekuensi dalam proses
pelaksanaan pembelajaran yaitu di sekolah mendapatkan teori dan
praktik dasar kejuruan sebagian proses pelaksanaan pembelajaran
lainnya dilaksanakan di dunia usaha/Industri, yaitu keterampilan produktif
yang diperoleh melalui prinsip learning by doing yang diperoleh dalam
Prakerin.
Praktik Kerja Industri merupakan suatu bentuk pendidikan yang
melibatkan peserta didik langsung bekerja di Dunia Usaha/Dunia
Industri. Praktik Kerja Industri bertujuan agar peserta didik memiliki
kompetensi yang sesuai dengan harapan dan tuntutan Dunia
Usaha/Dunia Industri, disamping juga agar diperoleh pengalaman
2

kerja sebagai salah satu hal untuk meningkatkan keahlian


profesional. Praktik Kerja Industri ini mulai dipopulerkan pada
tahun 1994 melalui kebijakan Pendidikan Sistem Ganda. Hal ini cukup
beralasan mengingat Dunia Industri memerlukan tenaga kerja yang
berkualitas dan ahli di bidangnya untuk mengoperasikan peralatan
teknologi yang canggih.
Praktik Kerja Industri yang disingkat dengan Prakerin adalah
bagian dari kompetensi pembelajaran yang harus ditempuh oleh peserta
didik pada sekolah kejuruan di Dunia Usaha/Dunia Industri. Prakerin
merupakan salah satu bentuk implementasi kebijakan Kementrian
Pendidikan dan Kebudayaan dalam konsep link and match melalui
Pendidikan Sistem Ganda (PSG) antara dunia pendidikan dengan dunia
kerja.
Tujuan penyelenggaraan Praktik Kerja Industri adalah untuk
meningkatkan kualitas lulusan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK)
baik pengetahuan, keterampilan, maupun etos kerja yang sesuai dengan
tuntutan lapangan kerja, sehingga lulusan SMK siap masuk ke pasar
kerja. Jenis keahlian dan jumlah lulusan yang dihasilkan oleh SMK
belum semua sesuai dengan permintaan pasar kerja. Seperti data yang
ditemukan oleh Samsudi (2008) pakar pendidikan SMK dari
Universitas Negeri Semarang,
idealnya secara nasional lulusan SMK yang bisa langsung
memasuki dunia kerja sekitar 80-85%, sedang selama ini yang
terserap baru 61%. Pada tahun 2006 lulusan SMK di Indonesia
mencapai 628.285 orang, sedangkan proyeksi penyerapan
tenaga kerja lulusan SMK tahun 2007 hanya 385.986 atau sekitar
61,43%.
Belum sesuainya jenis keahlian lulusan dengan permintaan
pasar kerja tersebut disebabkan masih ditemukannya berbagai
kendala, salah satunya kendala yang dirasakan adalah ditemukannya
berbagai masalah yang muncul dalam proses pembelajaran seperti
kurangnya

kompetensi

yang

dimiliki

siswa,

kurang

mendukungnya sarana dan prasarana sekolah. Perbaikan yang


3

terus menerus dalam proses pembelajaran harus terus diupayakan.


Salah satu tahapan yang dilakukan agar terjadi peningkatan mutu
pembelajaran adalah dengan melakukan evaluasi terhadap
program pembelajaran. Dengan evaluasi diharapkan akan dihasilkan
hal-hal yang perlu dibenahi dalam program tersebut. Apabila suatu
program tidak dievaluasi maka tidak dapat diketahui bagaimana
dan seberapa baik kebijakan yang sudah dikeluarkan dapat
terlaksana. Evaluasi terhadap pembelajaran lewat program Praktik
Kerja Industri pada peserta didik SMK sangat diperlukan, agar
program

Praktik

Kerja

Industri (Prakerin)

dapat

dilakukan

penyesuaian dan pembenahan secara berkelanjutan.


Penelitian ini dilakukan di SMK Negeri 2 Kota Bima, karena
merupakan Sekolah Menengah Kejuruan negeri yang telah
melaksanakan Prakerin dan cukup berprestasi bila dilihat dari
peringkat hasil Ujian Nasional Propinsi NTB. Kompetensi keahlian
teknik pemanfaatan tenaga listrik belum pernah dilakukan evaluasi,
sehingga perlu dilakukan penelitian evaluasi mengenai pelaksanaan
praktik kerja Industri untuk mengetahui bagaimana pelaksanaan
Praktik Kerja Industri di SMK Negeri 2 Kota Bima keahlian teknik
pemanfaatan tenaga listrik. Informasi yang dihasilkan dari penelitian
evaluasi ini berguna bagi setiap tahapan program Prakerin mulai dari
perencanaan dan pelaksanaan ataupun ketika akan melanjutkan
program Prakerin. Hasil dari penelitian dapat dijadikan acuan atau
penyempurnaan program Prakerin pada tahun ajaran berikutnya
dengan memperbaiki kendala yang ada dari pelaksanaan Prakerin
SMK Negeri 2 Kota Bima Tahun Ajaran 2015/2016.

B. Identifikasi Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah di atas maka dapat
diidentifikasi masalah sebagai berikut.
1;

Jenis keahlian dan jumlah lulusan yang dihasilkan SMK di


Indonesia belum sesuai dengan permintaan pasar kerja.

2;

Masih banyak ditemukannya kendala-kendala yang dihadapi


beberapa SMK-SMK dalam pembelajaran Praktik Kerja Industri.

3;

Kurangnya kompetensi yang dimiliki lulusan SMK.

4;

SMK Negeri 2 Kota Bima merupakan Sekolah Kejuruan yang telah


melaksanakan Praktik Kerja Industri.

5;

SMK Negeri 2 Kota Bima khususnya Keahlian Teknik Tenaga


Listrik belum pernah dievaluasi.

C. Batasan Masalah
Pembahasan dalam penelitian ini dibatasi pada Evaluasi
Pelaksanaan Praktik Kerja Industri di SMK Negeri 2 Kota Bima
Keahlian Tenaga Listrik dalam.
1;

Evaluasi input dengan fokus penelitian pada (kesiapan peserta


didik, kinerja guru mata pelajaran produktif, dan kesiapan
sarana dan prasarana) SMK Negeri 2 Kota Bima Keahlian Teknik
Tenaga Listrik tahun ajaran 2015/2016 dalam pelaksanaan Praktik
Kerja Industri.

2;

Evaluasi proses dengan fokus penelitian pada (kinerja peserta didik


dan kinerja guru pembimbing) SMK Negeri 2 Kota Bima Keahlian
Teknik

Tenaga Listrik tahun ajaran 2015/2016 dalam pelaksanaan Praktik


Kerja Industri.
3;

Evaluasi produk dengan fokus penelitian pada (kesiapan kerja)


peserta didik kelas XI SMK Negeri 2 Kota Bima Keahlian Teknik
Tenaga Listrik tahun ajaran 2015/2016 setelah pelaksanaan
Praktik Kerja Industri.

4;

Mengidentifikasi kendala-kendala yang dirasakan oleh guru


pembimbing dan peserta didik dalam pelaksanaan Praktik Kerja
Industri.

D. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang, identifikasi masalah, dan
batasan masalah, maka rumusan masalah penelitian ini adalah sebagai
berikut.
1;

Apakah komponen input (kesiapan peserta didik, kinerja guru


mata pelajaran produktif, dan kesiapan sarana dan prasarana) kelas
XI SMK Negeri 2 Kota Bima Keahlian Teknik Pemanfaatan
Tenaga Listrik tahun ajaran 2015/2016 pada pelaksanaan Praktik
Kerja Industri dalam kategori baik?

2;

Apakah komponen proses (kinerja peserta didik, dan kinerja


guru pembimbing) kelas XI SMK Negeri 2 Kota Bima Keahlian
Teknik Pemanfaatan Tenaga Listrik tahun ajaran 2015/2016 pada
pelaksanaan Praktik Kerja Industri dalam kategori baik?
7

3;

Apakah komponen produk (kesiapan kerja) peserta didik kelas XI


SMK Negeri 2 Kota Bima Keahlian Teknik Pemanfaatan Tenaga
Listrik tahun ajaran 2015/2016 pada pelaksanaan Praktik Kerja
Industri dalam kategori baik?

4;

Kendala-kendala apa yang dirasakan oleh guru pembimbing dan


peserta didik kelas XI SMK Negeri 2 Kota Bima Keahlian
Teknik Pemanfaatan Tenaga Listrik tahun ajaran 2015/2016 pada
pelaksanaan Praktik Kerja Industri?

E. Tujuan Penelitian
Berdasarkan uraian rumusan masalah yang ada dalam penelitian
ini, maka tujuan yang hendak dicapai dalam penelitian ini adalah.
1;

Mengetahui komponen input (kesiapan peserta didik, kinerja guru


mata pelajaran produktif, dan kesiapan sarana dan prasarana) kelas
XI SMK Negeri 2 Kota Bima Keahlian Teknik Pemanfaatan
Tenaga Listrik dalam pelaksanaan Praktik Kerja Industri.

2;

Mengetahui komponen proses (kinerja peserta didik, dan kinerja


guru pembimbing) kelas XI SMK Negeri 2 Kota Bima Keahlian
Teknik Pemanfaatan Tenaga Listrik tahun ajaran 2015/2016 dalam
pelaksanaan Praktik Kerja Industri.

3;

Mengetahui komponen produk (kesiapan kerja) peserta didik kelas


XI SMK Negeri 2 Kota Bima Keahlian Teknik Pemanfaatan
Tenaga Listrik tahun ajaran 2015/2016 setelah pelaksanaan
8

Praktik Kerja Industri.

4. Mengidentifikasi kendala-kendala yang dirasakan oleh guru


pembimbing dan peserta didik kelas XI SMK Negeri 2 Kota Bima
Keahlian Teknik Pemanfaatan Tenaga Listrik tahun ajaran
2015/2016 pada pelaksanaan Praktik Kerja Industri.

F. Manfaat Penelitian
Hasil penelitian ini diharapkan dapat berguna dan bermanfaat,
baik secara teoritis maupun secara praktis sebagai berikut.
1. Manfaat Teoretis.
a; Hasil penelitian ini diharapkan mampu memberikan kontribusi
bagi perkembangan ilmu pengetahuan dan bagi penelitian
sejenis sehingga mampu menghasilkan penelitian-penelitian
yang lebih mendalam.
b; Penelitian ini diharapkan dapat memberikan bahan masukan
bagi sekolah-sekolah dalam pelaksanaan Praktik Kerja Industri
diwaktu yang akan datang.
2. Manfaat Praktis.
a; Peneliti, diharapkan dapat menambah pengetahuan dan
wawasan

tentang masalah kependidikan sebelum terjun

langsung di lapangan kerja, serta dapat mendorong diadakannya


penelitian lanjutan.
b; SMK Negeri 2 Kota Bima, hasil penelitian ini diharapkan dapat
memberikan

informasi

dan
10

masukan

sebagai

bahan

pertimbangan dalam menyu sun kebijakan-kebijakan dalam


upaya meningkatkan

11

kualitas lulusan, melalui pelaksanaan Praktik Kerja Industri pada periode


yang akan datang.
c; Guru-guru SMK Negeri 2 Kota Bima, hasil penelitian ini diharapkan
dapat menambah wawasan dan bahan masukan untuk lebih meningkatkan
kinerja.
d; Dunia

Usaha/Dunia

punggung

Industri

pelaksanaan

pasangan

Praktik

Kerja

yang

merupakan

Industri,

tulang

penelitian

ini

diharapkan dapat meningkatkan kerja sama dengan pihak sekolah.


e; Universitas Negeri Yogyakarta, hasil penelitian ini diharapkan dapat
menambah koleksi perpustakaan sebagai bahan kajian dan referensi bagi
mahasiswa lainnya.

12

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Pendidikan Sistem Ganda (PSG)


Salah satu bentuk nyata implementasi kebijakan kesesuaian dan kesepadanan (link and
match) adalah pelaksanaan Pendidikan Sistem Ganda (PSG) pada Sekolah Menengah
Kejuruan (SMK). Pendidikan Sistem Ganda (PSG) pada dasarnya mengandung dua
prinsip, yaitu : Pertama, Program pendidikan kejuruan pada SMK adalah program bersama (joint
program) antara SMK dengan industri/perusahaan pasangannya. Prinsip ini merupakan
konkritisasi peralihan dari suppply driven ke demand driven. Peralihan dalam arti
kewenangan dan tanggung jawab secara sepihak oleh Departemen Pendidikan dan
Kebudayaan ke arah kebersamaan dan tanggung jawab bersama dengan piha-pihak yang
berkepentingan dengan pendidikan kejuruan. Kedua, Program pendidikan kejuruan dilakukan di
dua tempat sebagian program yaitu teori dan praktik dasar kejuruan di sekolah (SMK), dan
sebahagian lainnya dilaksanakan di dunia kerja, yaitu keahlian produktif yang diperoleh melalui
kegiatan bekerja di dunia kerja.
Pola penyelenggaraan pendidikan di dua tempat ini, akan memaksa SMK
mendekatkan dunianya (dunia sekolah) ke dunia kerja, menyesuaikan isinya dengan
kebutuhan kerja, untuk mempermudah transfer nilai-nilai dan perilaku kerja
sebagaimana yang berlaku di dunia kerja (Djojonegoro, 1995). PSG juga
dimaksudkan sebagai pranata (means) untuk mempercepat proses pembaharuan pendidikan

13

kejuruan serta strategi pengembangannya.


2.1.1. Konsep Pendidikan Sistem Ganda (PSG)
Pendidikan Sistem Ganda (PSG) adalah suatu bentuk penyelenggaraan
pendidikan dan pelatihan keahlian kejuruan yang memadukan secara sistematik dan sinkron
program pendidikan di sekolah dan program penguasaan keahlian yang diperoleh
melalui bekerja langsung di dunia kerja, terarah untuk mencapai suatu tingkat keahlian
profesional tertentu.
Dari pengertian di atas terlihat selain lembaga pendidikan dan pelatihan maka tanggung
jawab dalam penyelenggaraan program pendidikan dan pelatihan kejuruan juga menjadi
tanggung jawab dunia industri/ perusahaan tertentu. Tanggung jawab itu mulai dari tahap
perencanaan program, tahap penyelenggaraan, sampai pada tahap penilaian dan penentuan kelulusan
peserta didik, serta upaya pemasaran tamatannya.
Pada tahap perencanaan, industri/perusahaan yang telah mengikatkan diri
bekerjasama dengan lembaga pendidikan pelatihan Kejuruan atau sekolah
penyelengara dalam menyelenggarakan pelaksanaan program pelatihan, pendidikan yang
digunakan harus merupakan program yang dirancang dan disepakati bersama oleh kedua belah
pihak, melalui ikatan perjanjian (MoU), yang jelas dan tertulis dan tentunya tidak merugikan
kedua belah pihak, antara sekolah (siswa) dan pihak institusi pasangan (dunia
usaha/dunia industri). Mengapa ini penting, karena pelaksanaan pendidikan sistim ganda
diarahkan untuk menghasilkan tamatan yang memiliki keahlian/kompetensi atau kecakapan
hidup (life skills) tertentu secara terstandar sesuai denga kebutuhan tenaga kerja , maka
senantiasa mengacu pada pencapaian standar kemampuan/ kompetensi sesuai dengan
tuntutan jabatan pekerjaan atau profesi tertentu yang berlaku di lapangan kerja.
Berdasarkan standar kemampuan yang harus dikuasai dan materi yang harus di
pelajari, maka disepakati waktu atau berapa lama dilaksanakan di sekolah dan berapa

14

lama di institusi pasangannya (dunia industri/ perusahaan). Juga di sepakati pola


pelaksanaan, apakah model hour-release, day-release dan blok- release atau
kombinasi. Selanjutnya dalam pelaksanaan pelatihan, diserahkan pada dunia
industri/perusahaan penyelengara. Namun tidak terlepas dari kerangka yang telah disepakati.
Begitupun pada tahap penilaian di serahkan sepenuhnya kepada lembaga penyelenggara, tentu
saja penilaiannya dari tiga aspek, yaitu : aspek kognitif, aspek apektif dan aspek Psikomotorik.
Dalam penentuan kelulusan, selain ditentukan oleh sertifikat yang diperoleh dan dunia
industri juga di tentukan oleh hasil ujian kompetensi masing-masing bidang keahlian
yang telah dilaksanakan dalam PSG. Sistem penilaian ini diberikan oleh kedua belah pihak yaitu
pihak sekolah dan dunia industri.
Sertifikat yang didapat dari dunia industri atas pengakuan dan pengharagaan terhadap
pengalaman kerja sebagai bagian dari proses pendidikan mempakan tiket untuk diakui di
dunia kerja dalam upaya memenuhi kebutuhan tenaga kerja yang profesional. Selain itu diakui
bahwa peserta didik tersebut telah memiliki kecakapan hidup tertentu (life Skills) yang
mungkin tidak semua orang memilikinya
Dilihat dari uraian di atas, penyelenggaran Pendidikan dan pelatihan dengan
pendekatan Pendidikan Sistem Ganda (PSG) adalah untuk :
1;

Menghasilkan tenaga kerja yang memiliki keahlian profesional, yaitu tenaga kerja
yang memiliki tingkat pengetahuan, keterampilan dan etos kerja yang sesuai dengan
tuntutan lapangan kerja ;

2;

Meningkatkan dan memperkokoh kesesuaian dan kesepadanan (link and match)


antara lembaga pendidikan dan pelatihan kejuruan dengan dunia Kerja;

3;

Meningkatkan efisiensi penyelenggaraan pendidikan dan pelatihan tenaga kerja berkualitas,


dengan memamfaatkan sumberdaya yang ada di dunia kerja;

15

4;

Memberi pengakuan dan penghargaan terhadap pengalaman kerja sebagai bagian


dari proses pendidikan.

2.1.2. Strategi Pengembangan


Konsep PSG tersebut di atas merupakan inovasi pendidikan kejuruan bagi sistem
lama. Namun keterlaksanaan dan keberhasilan pelaksanaan program ini sangat ditentukan oleh
kadar pemahaman, kepedulian dan komitmen dari semua pihak pelaksana di lapangan, yaitu
manajemen SMK (sekolah yang bersangkutan), guru, dan pihak dunia usaha dan industri,
untuk mewujudkan hasil yang diinginkan mungkin dibutuhkan strategi pengembangan yang
mengena pada sasaran.
Strategi pentahapan dan pembabakan, adalah proses pembentukan
pemahaman, kepedulian dan komitmen, memerlukan proses penerimaan tata nilai barn,
perubahan pola pikir, sikap dan prilaku dari segenap pelaku yang terlibat. Pada tahap
pembabakan, di harapkan sejalan dengan langkah penyiapan sumberdaya manusia
menghadapi globalisasi.
1.2;

Praktek Kerja Industri (Prakerin)


Kemungkinan terlaksananya PSG di SMK sangat bergantung kepada
ketersedian dunia usaha dan industri menjadi pasangan SMK untuk bekerjasama
melaksanakan program tersebut, karena ikut berperan dalam penyelenggaraan PSG sebelum
menjadi kewajiban yang diatur dalam undang-undang. Ada atau tidak adanya kesedian
dunia usaha/industri untuk menjadi institusi pasangan sangat di tentukan oleh kemampuan
manajemen sekolah dalam mendekati dan menyakinkan dunia usaha dan industri. Kegiatan
kerjasama dengan dunia industri /dunia usaha yang telah di kembangkan, dapat menjadi
modal dasar untuk lebih difokuskan kepada kerjasama pelaksanaan PSG. Praktik kerja
industri (prakerin) yang dilaksanakan dalam PSG memiliki beberapa keuntungan,

16

baik bagi sekolah, siswa maupun institusi pasangan ( dunia industri/perusahaan ).


Bagi sekolah, terdapat kesesuaian dan kesepadanan (link and match) antara
program pendidikan dan kebutuhan lapangan kerja yang tersedia sesuai dengan
kebijakan link and match. Menjawab sebahagian permasalahan yang berkenaan
dengan biaya, sarana ,dan prasarana pendidikan yang kadang menjadi kendala dalam upaya
peningkatan mutu. Juga memberikan kepuasan bagi penyelenggara pendidikan kejuruan
(SMK dan para pelaku lainnya) karena tamatannya lebih terjamin memperoleh
bekal keahlian (life skills) yang bermakna, baik untuk kepentingan siswa itu sendiri
maupun untuk untuk kepentingan pembangunan bangsa pada umumnya.
Pelaksanaan praktik kerja industri (prakerin), bagi siswa memperoleh banyak
keuntungan. Produk lulusan/siswa akan lebih bermakna, karena setelah tamat akan betulbetul memiliki bekal keahlian (life skills) profesional untuk terjun ke lapangan kerja
sehingga dapat meningkatkan taraf kehidupannya dan untuk bekal
pengembangan dirinya secara berkelanjutan. Keahlian (life skills) yang diperoleh
melalui PSG dapat mengangkat harga dan rasa percaya dinri tamatan.
Penyelenggaran PSG bagi dunia industri/dunia usaha sebagai institusi pasangan
adalah institusi pasangan mengenal persis kualitas peserta didik yang belajar dan bekerja
di perusahaannya. Kalau dinilai bisa menjadi aset, dapat direkrut menjadi tenaga kerja di
perusahaan , tapi bila tidak maka tidak ada keharusan bagi perusahaan untuk
mempekerjakan siswa yang praktik tersebut. Selain itu, memberi kepuasan tersendiri bagi
dunia usaha dan industri penyelenggara karena memperoleh pengakuan ikut serta menentukan
masa depan bangsa melalui PSG.
Menurut Miraza (2008), pemerintah perlu meninjau ulang kebijakan pendidikan serta

17

penyempurnaan perangkat pendidikan, software ataupun hardware, yang selama ini


keberadaannya sudah seperti benang kusut tanpa arah yang jelas. Kebijakan pendidikan yang tambal
sulam dan tidak berlandaskan pada kebutuhan nyata masyarakat harus dibuang. Disusun suatu
kebijakan pendidikan barn yang sesuai dengan situasi dan kondisi serta kebutuhan
pembangunan bangsa dan negara. Keahlian, keterampilan, dan moral perlu
ditekankan pada para lulusan agar para lulusan memiliki sikap kemandirian dan
harga diri tinggi.

18