Anda di halaman 1dari 21

Diskusi kasus

PRE EKLAMSIA

oleh :
Elita Rahmi
G99131004

KEPANITERAAN KLINIK UPF / LABORATORIUM FARMASI


FAKULTAS KEDOKTERAN UNS / RSUD DR. MOEWARDI
SURAKARTA
2015

BAB I
PENDAHULUAN
Pre-eklampsia adalah timbulnya hipertensi disertai proteinuria dan edema akibat
kehamilan. Penyakit ini umumnya terjadi dalam triwulan ke 3 kehamilan, atau segera
setelah persalinan.
Pre-eklampsia adalah timbulnya hipertensi disertai proteinuria dan edema akibat
kehamilan . Penyakit ini umumnya terjadi dalam triwulan ke 3 kehamilan, atau segera
setelah persalinan.1,2
Faktor Risiko Pre-eklampsia; Usia ( pada wanita hamil berusia kurang dari 25
ahun insidens > 3 kali lipat, dan wanita hamil usia > 35 tahun ), primigravid muda
maupun tua, faktor keturunan, faktor, obesitas/overweight, iklim/musim, kehamilan
ganda, hidramnion, mola hidatidosa.1,2
Kehamilan preterm adalah suatu kehamilan yang terjadi pada seorang wanita
dengan usia kehamilan antara 20 minggu sampai 37 minggu, sedangkan persalinan
preterm atau kurang bulan didefinisikan sebagai persalinan yang terjadi di antara usia
gestasi sesudah 20 minggu dan sebelum genap 37 minggu.1,3,6,7
Predisposisi untuk persalinan preterm, misalnya : ruptura spontan selaput
ketuban, infeksi cairan ketuban, anomali hasil pembuahan, persalinan preterm
sebelumnya atau abortus lanjut, uterus yang overdistended (hidramnion, keberadaan dua
janin atau lebih), kematian janin, inkompetensi serviks, anomali uterus, plasentasi yang
salah (solusio plasenta atau plasenta previa), retensio IUD, kelainan maternal (kelainan
sistemik, misalnya pre-eklampsia, penyakit diabetes mellitus), infeksi dalam kandungan /
TORCH, induksi persalinan elektif, idiopatik atau tanpa kausa.1,8
Penyebab preterm pada kasus ini adalah adanya kelainan sistemik maternal yakni
pre-eklampsia.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A. PRE-EKLAMPSIA
Definisi
Pre-eklampsia adalah timbulnya hipertensi disertai proteinuria dan edema akibat
kehamilan . Penyakit ini umumnya terjadi dalam triwulan ke 3 kehamilan, atau segera
setelah persalinan.1,2
Definisi lain menyebutkan bahwa pre eklamsia adalah suatu sindroma klinik pada
kehamilan viable (usia kehamilan > 20 minggu atau berat janin > 500 gram) yang
ditandai dengan hipertensi, proteinuria, dan oedema.2
Etiologi
Penyebab preeklampsia sampai sekarang belum diketahui pasti. Teori yang dewasa
ini dapat dikemukakan sebagai penyebab preeklampsia ialah iskemia plasenta, yaitu
Pembuluh darah yang mengalami dilatasi hanya artei spirales didecidua, sedangkan
pembuluh darah di miometrium yaitu arteri. spirales dan arteria basalis tidak melebar.
Pada Preeklamsi invasi sel-sel thropoblast ini tidak terjadi sehingga tonus pembuluh
darah tetap tinggi dan seolah-olah terjadi vasokonsrtiksi.1,2
Faktor Risiko Pre-eklampsia 1,2
1. Usia : pada wanita hamil berusia kurang dari 25 ahun insidens > 3 kali lipat, dan
wanita hamil usia > 35 tahun
2. Paritas : insidens tinggi pada primigravid muda maupun tua
3. Faktor keturunan
4. Faktor gen : diduga bersifat resesif
5. Obesitas / overweight
6. Iklim / musim : di daerah tropis insidens lebih tinggi
7. Kehamilan ganda, hidramnion, mola hidatidosa

Patofisiologi
2

Patofisiologi pre-eklampsia adalah :1,2,3


1. Penurunan kadar angiotensin II
Penurunan angiotensia II menyebabkan pembuluh darah menjadi sangat peka
terhadap basan-basan vaso aktif. Pada kehamilan normal terjadi penigkatan yang
progresif angiotensia II, sedangkan pada preeklamsi terjadi penurunan
angiotensia II
2. Perubahan volume intravaskuler
Pada kehamilan preeklamsi terjadi vasokontriksi menyeluruh

pada sistem

pembuluh darah astiole dan prakapiler pada hakekatnya merupakan kompensasi


terhadap terjadinya hipovolemi.
3. Sistem kogulasi tidak normal
Terjadinya gangguan sistem koagulasi bisa menyebabkan komplikasi hemologik
seperti hellp syndrom (hemolytic anemia, elevated liver enzyme, low platelet)
Patofisiologi terpenting pada pre-eklampsia adalah perubahan arus darah di uterus
koriodesidua, dan plasenta yang merupakan faktor penentu hasil akhir kehamilan.1,2
1. Iskemia uteroplasenter
Ketidakseimbangan antara masa plasenta yang meningkat dengan perfusi darah
sirkulasi yang berkurang.
2. Hipoperfusi uterus
Produksi renin uteroplasenta meningkat menyebabkan terjadinya vasokonstriksi
vaskular dan meningkatkan kepekaan vaskuler pada zat zat vasokonstriktor lain
( angiotensi dan aldosteron ) yang menyebabkan tonus pembuluh darah
meningkat
3. Gangguan uteroplasenter
Suplai O2 jain berkurang sehingga terjadi gangguan pertumbuhan / hipoksia /
janin mati

Skema patofisiologi Pre-eklampsia


3

Faktor Predisposisi Pre-eklampsia


( umur, paritas, genetik, dll )

Perubahan plasentasi

Obstruksi mekanik dan fungsi dari arteri spiralis

Menurunkan perfusi uteroplasenter

PGE2/PGI2

Renin/angiotensin II

Kerusakan endotel

Vasokonstriksi arteri

Hipertensi sistemik

Ginjal

Proteinuri
GFR

Tromboksan

Disfungsi endotel
endotelin, NO

Aktivasi intravascular koagulasi

DIC

SSP

kejang
koma

Hati

LFT abnormal

Organ lainnya

iskemi

Edema

Klasifikasi
4

Pre eklampsia dibagi menjadi 2 golongan, yaitu :2


a. Pre eklampsia ringan
Tekanan darah 140/90 mmHg yang diukur pada posisi terlentang; atau
kenaikan sistolik 30 mmHg; atau kenaikan tekanan diastolik 15 mmHg.
Cara pengukuran sekurang-kurangnya pada dua kali pemeriksaan dengan
jarak periksa 1 jam, sebaiknya 6 jam.
Oedem umum, kaki, jari tangan dan muka, atau kenaikan berat badan 1 kg
per minggu.
Proteinuria kuantitatif 0,3 gram/liter; kualitatif 1+ atau 2+ pada urin kateter
atau mid stream.
b.

Pre eklampsia berat


Tekanan darah 160/110 mmHg.
Proteinuria 5 gram/liter.
Oligouria, yaitu jumlah urin kurang dari 500 cc/24 jam.
Adanya gangguan serebral, gangguan visus dan nyeri epigastrium.
Terdapat oedem paru dan sianosis.
Thrombosytopenia berat
Kerusakan hepatoseluler
Pertumbuhan janin intrauterin yang terhambat
Klasifikasi pre-eklampsia lain , yaitu :1,3

a. Genuine pre-eklampsia
Gejala pre-eklampsia yang timbul setelah kehamilan 20 minggu disertai dengan
oedem (pitting) dan kenaikan tekanan darah 140/90 mmHg sampai 160/90.
Juga terdapat proteinuria 300 mg/24 jam (Esbach)
b. Super imposed pre-eklampsia
Gejala pre-eklampsia yang terjadi kurang dari 20 minggu disertai proteinuria
300 mg/24 jam (Esbach), dan bisa disertai oedem. Biasanya disertai hipertensi
kronis sebelumnya.

Diagnosis
Diagnosis pre eklampsia didasarkan atas adanya dua tanda utama, yaitu
hipertensi, oedem dan proteinuria.
Menurut Organization Gestosis, impending eklampsia adalah gejala-gejala
oedema, protenuria, hipertensi disertai gejala subyektif dan obyektif. Gejala subyektif
antara lain : nyeri kepala, gangguan visual dan nyeri epigastrium. Sedangkan gejala
obyektif antara lain : hiperreflexia, eksitasi motorik dan sianosis. 5
Diagnosis eklampsia umumnya tidak mengalami kesukaran. Dengan adanya
tanda dan gejala pre eklampsia yang disusul oleh serangan kejang, maka diagnosis
eklampsia sudah tidak diragukan. 4
Pencegahan
Penerangan tentang manfaat istirahat dan diet berguna dalam pencegahan.
Istirahat tidak selalu berarti berbaring di tempat tidur, namun pekerjaan sehari-hari perlu
dikurangi dan dianjurkan lebih banyak duduk dan berbaring. Diet tinggi protein dan
rendah lemak, karbohidrat, garam dan penambahan berat badan yang tidak berlebihan
perlu dianjurkan. Mengenal secara dini preeklampsi dan segera merawat penderita tanpa
memberikan diuretik dan obat antihipertensi. Memang merupakan kemajuan dari
pemeriksaan antenatal yang baik.9
Komplikasi 2
-

HELLP syndrom

Perdarahan otak

Gagal ginjal

Hipoalbuminemia

Ablatio retina

Edema paru

Solusio plasenta

Hipofibrinogenemia

Hemolisis

Prematuritas, dismaturitas dan kematian janin intrauterin

Penatalaksanaan Pre-eklampsia Berat


1.

Penanganan aktif 1,2,3


Yaitu kehamilan diakhiri / terminasi bersama dengan pengobatan medisinal
Bila terdapat 1 / lebih kriteria :
-

Terdapat tanda tanda impending eklampsia

HELLP syndrom

Kegagalan penanganan konservatif

Tanda gawat janin

Kehamilan > 35 minggu

Penatalaksanaan :
-

O2 nasal 4 6 liter/menit

Obat anti kejang :

Larutan MgSO4 40 % disuntikkan intramuskular 4 gram bokong kanan


dan 4 gram bokong kiri

CPZ 50 mg I.M

Diazepam 20 mg I.M

Obat anti hipertensi :

Nifedipin 3-4 x 10 mg sublingual ( dapat diulang 2 jam bila tensi belum


turun )

2.

Penanganan konservatif 1,2,3


Kehamilan dipertahankan bersama dengan pengobatan medisinal
-

Kehamilan < 35 minggu tanpa tanda tanda impending eklampsia dan janin baik

Pengobatan sama seperti penanganan aktif, MgSO4 dihentikan bila ibu sudah
mencapai tanda peeklampsia ringan selambat lambatnya dalam waktu 24 jam

Bila tidak ada perbakan / > 6 jam tensi tetap naik maka dikatakan gagal dan
dilakukan terminasi kehamilan

B. KEHAMILAN PRETERM
Definisi
Kehamilan preterm adalah suatu kehamilan yang terjadi pada seorang wanita
dengan usia kehamilan antara 20 minggu sampai 37 minggu, sedangkan persalinan
preterm atau kurang bulan didefinisikan sebagai masa kehamilan yang terjadi sesudah 20

minggu dan sebelum genap 37 minggu. Persalinan yang terjadi di antara usia gestasi ini
didefinisikan sebagai persalinan kurang bulan.
Dalam literature yang digunakan adalah kriteria yang didasarkan pada berat
badan kelahiran kurang bulan yakni bobot lahirnya kurang dari 2500 gram. Keuntungan
dari parameter ini adalah kita mudah menentukan usia kehamilan, tetapi cara ini kurang
tepat, dimana berat badan lahir denagn berat badan rendah dengan umur gestasi aterm.
Etiologi
Penyebab untuk kelahiran kurang bulan biasanya tidak diketahui. Di bawah ini
tercantum sebagian kejadian yang menjadi predisposisi untuk persalinan preterm :
1. Ruptura spontan selaput ketuban
Persalinan spontan yang jauh sebelum aterm umumnya didahului oleh ruptura
spontan selaput ketuban. Penyebab ruptura selaput ketuban ini jarang diketahui,
tetapi infeksi setempat semakin sering terlibat dalam tahun-tahun belakangan ini.
2. Infeksi cairan ketuban
Meskipun insiden yang tepat bagi terjadinya persalinan preterm tidak diketahui,
terdapat semakin banyak bukti yang menunjukkan bahwa kemungkinan sepertiga
darikasus-kasus persalinan preterm berkaitan infeksi membran koriamnion.
Kasus-kasus ini mempunyai hubungan dengan ruptura preterm selaput ketuban di
samping dengan persalinan idiopatik.
3. Anomali hasil pembuahan
Malformasi janin atau plasenta bukan hanya merupakan faktor predisposisi
terjadinya retardasi pertumbuhan janin, tetapi juga meningkatkan kemungkinan
persalinan preterm.
4. Persalinan preterm sebelumnya atau abortus lanjut
Wanita yang pernah melahirkan jauh sebelum aterm, lebih besar kemungkinan
untuk mengalami hal yang sama sekalipun tidak ditemukan faktor predisposisi
lainnya.
5. Uterus yang overdistensi
Hidramnion, khususnya kalau bersifat akut atau mencolok, atau keberadaan dua
janin atau lebih, akan meningkatkan resiko persalinan preterm yang mungkin
disebabkan oleh overdistensi uteri.

6. Kematian janin
Kematian janin yang terjadi sebelum aterm umumnya, tapi tidak selalu diikuti oleh
persalinan preterm spontan.
7. Inkompetensi serviks
Pada wanita dalam presentasi kecil dengan kehamilan yang jauh dari aterm, serviks
yang inlompeten dapat menipis dan berdilatasi bukan sebagai akibat dari
peningkatan aktivitas uterus, melainkan akibat dari kelemahan intrinsik serviks.
8. Anomali uterus
Sangat jarang terjadi, anomali uterus ditemukan pada kasus-kasus persalinan
preterm.
9.

Plasentasi yang salah


Solusio plasenta dan plasenta previa besar kemungkinan berkaitan dengan
persalinan preterm.

10. Retensio IUD


Kemungkinan persalinan preterm meningkat secara nyata kalau kehamilan terjadi
sementara pasien menggunakan alat kontrasepsi dalam rahim (IUD).
11. Kelainan maternal yang serius
Penyakit sistemik pada ibu kalau berat dapat menyebabkan persalinan preterm.
12. Induksi persalinan elektif
Perkiraan usia gestasional yang keliru dapat menyebabkan kekhawatiran yang
tidak semestinya mengenai kemungkinan kehamilan posterm, atau menimbulkan
desakan yang cukup besar dari pasien agar melakukan tindakan. Induksi
persalinan pada sebagian kasus terutama dilakukan demi kenyamanan ibu namun
menggunakan oksitosin khusus.
13. Sebab-sebab yang tidak diketahui
Sayangnya terlalu banyak penyebab yang harus digolongkan ke dalam kategori
ini.
Diagnosis
Diagnosis persalian kurang bulan harus didasarkan pada adanya kontraksi rahim
teratur pada kehamilan kurang bulan yang berkaitan dengan perubahan serviks akibat
dilatasi atau pembukaan.

Pada umumnya seperti Inggris, Amerika juga Indonesia tidaklah lazim untuk
memeriksakan serviks pada kunjungan antenatal. Beberapa peneliti melaporkan manfaat
pemeriksaan tersebut untuk meramalkan kemungkinan persalinan preterm. Papiernik
menemukan untuk bahwa indikator yang paling sensitive ialah servik yang pendek < 2
cm dan pembukaan (tanda servik yang matang) mempunyai resiko relatif persalinan
preterm mencapai 3-4x. Meskipun masih terdapat kendala, yakni kuantifikasi penilaian
dan perbedaan antar pemeriksa.
Pencegahan Persalinan Preterm
1. Pendidikan masyarakat melalui media yang ada tentang bahaya dan kerugian
kelahiran preterm atau berat lahir rendah. Masyarakat diharapkan untuk
menghindari faktor resiko diantaranya ialah dengan menjarangkan kelahiran
menjadi lebih dari 3 tahun, menunda usia hamil sampai 22-23 tahun.
2. Menggunakan kesempatan periksa hamil dan memperoleh pelayanan antenatal
yang baik.
3. Mengusahakan makanan lebih baik pada masa hamil agar menghindarkan
kekurangan gizi dan anemia.
4. Menghindarkan kerja berat selam hamil. Dalam hal ini diperlukan peraturan yang
melindungi wanita hamil dari sangsi pemutusan hubungan kerja.
Kriteria persalinan premature antara lain :
-

kontraksi yang teratur dengan jarak 7-8 menit atau kurang dan adanya
pengeluaran lendir kemerahan cairan pervaginam diikuti salah satu berikut ini

periksa dalam :
pendataran 50-80% atau lebih
pembukaan 2 cm atau lebih

mengukur panjang servik dengan vaginal probe USG


panjang servik kurang dari 2 cm pasti terjadi persalinan premature

Penanganan
Tujuan utama adalah bagaimana mengetahui dan menghalangi terjadinya
persalinan premature.
Ketika mendiagnosis persalinan kurang bulan, beberapa keputusan penanganan
perlu dilakukan tentang :
10

- umur kehamilan, karena lebih bisa dipercaya untuk penentuan prognosis dari
berat janin
- pemeriksaan dalam
penilaian ini dilakukan bila tidak ada kontraindikasi seperti plasenta previa.
Penilaian awal harus dilakukan untuk memastikan panjang dan dilatasi servikal
serta kedudukan dan sifat dan bagian yang berpresentasi.
- apakah ada demam atau tidak
- kondisi janin (jumlahnya, letaknya, presentasi, taksiran berat badan janin,
hidup/gawat janin/mati, kelainan kongenital dan sebagainya dari USG).
- letak plasenta perlu diketahui untuk antisipasi seksio seksaria
- fasilitas dan petugas yang mampu menangani calon bayi terutama adanya seorang
neonatologi
- pada pasien ini juga diperiksa untuk mencari ada tidaknya setiap masalah yang
mendasari yang dapat dikoreksi, misalnya infeksi saluran kencing. Pasien harus
ditempatkan pada posisi lateral dekubitus dipantau untuk mendeteksi adanya
frekwensi aktifitas rahim, dan diperiksa ulang untuk mencari ada tidaknya
perubahan servik setelah selang waktu yang tepat. Selama periode observasi
hidrasi oral dan parental harus dilakukan.

11

BAB III
STATUS PENDERITA

A.

ANAMNESIS
Tanggal 12 Agustus 2007 jam 19.00 WIB
1. Identitas Penderita
Nama

: Ny. L

Umur

: 26 tahun

Jenis Kelamin

: Perempuan

Pekerjaan

: Ibu rumah tangga

Agama

: Islam

Alamat

: Karangpuring Rt.2/Rw.9, Kismoyoso


Ngemplak, Boyolali

Status Perkawinan

: Kawin 1 kali dengan suami 15 tahun

HPMT

: 7 Agustus 2014

HPL

: 14 Mei 2015

UK

: 28+5 minggu

Tanggal Masuk

: 26 Febuari 2015

No.CM

: 859730

Berat badan

: 67 Kg

Tinggi Badan

: 159 cm

2. Keluhan Utama
Muka, tangan dan kaki bengkak
3. Riwayat Penyakit Sekarang
Seorang G5P4A0, 39 tahun dengan keluhan muka, tangan, dan kaki
bengkak. Pasien hamil 7 bulan, kenceng-kenceng belum dirasakan, air ketuban
belum dirasakan keluar, gerak janin (+) masih dirasakan, lendir darah (-). Pasien
merasakan sakit kepala yang terpusat di dahi dan merasakan pandangan kabur.
4. Riwayat Penyakit Dahulu

Riwayat sesak nafas

: Disangkal

Riwayat Hipertensi

: Disangkal

Riwayat Penyakit Jantung

: Disangkal
12

Riwayat DM

: Disangkal

Riwayat Asma

: Disangkal

Riwayat Alergi Obat/makanan

: Disangkal

Riwayat Minum Obat Selama Hamil

: Disangkal

5. Riwayat Penyakit Keluarga

Riwayat Mondok

: Disangkal

Riwayat Hipertensi

: Disangkal

Riwayat Penyakit Jantung

: Disangkal

Riwayat DM

: Disangkal

Riwayat Asma

: Disangkal

Riwayat Alergi Obat/makanan

: Disangkal

6. Riwayat Fertilitas
Baik
7. Riwayat Obstetri
I

: perempuan, 13 thn, lahir spontan dgn BB 3000 gr

II : laki-laki, bulan ( meninggal ), lahir spontan dgn BB 2900 gr


III : laki-laki, 8 tahun, lahir spontan dgn BB 3200 gr
IV : perempuan, 5 tahun, lahir spontan dgn BB 3400 gr
V : sekarang
8. Riwayat Ante Natal Care (ANC)
Teratur, pertama kali periksa ke Puskesmas pada usia kehamilan 1 bulan.
9. Riwayat Haid
-

Menarche

: 14 tahun

Lama menstruasi

: 7 hari

Siklus menstruasi

: 28 hari

10. Riwayat Perkawinan


Menikah 1 kali ( umur 24 tahun )
11. Riwayat Keluarga Berencana
(-)

13

B.

PEMERIKSAAN FISIK
1. Status Interna
Keadaan Umum : Baik, CM, Gizi cukup
Tanda Vital

Tensi

: 180/110 mmHg

Nadi

: 88 x / menit

Respiratory Rate : 22 x/menit


Suhu

: 36,6 0C

Kepala

: Mesocephal

Mata

: Conjuctiva anemis (-/-), Sklera Ikterik (-/-)

THT

: Tonsil tidak membesar, Pharinx hiperemis (-)

Leher

: Pembesaran kelenjar tiroid (-)

Thorax

: Normochest, retraksi (-)

Cor

Inspeksi

: Ictus Cordis tidak tampak

Palpasi

: Ictus Cordis tidak kuat angkat

Perkusi

: Batas jantung kesan tidak melebar

Auskultasi : Bunyi jantung I-II intensitas normal, reguler, bising (-)


Pulmo :
Inspeksi

: Pengembangan dada kanan = kiri

Palpasi

: Fremitus raba dada kanan = kiri

Perkusi

: Sonor/Sonor

Auskultasi : Suara dasar vesikuler (+/+), Ronki basah kasar (-/-)


Abdomen:
Inspeksi

: Dinding perut > dinding dada


Stria gravidarum (+)

Palpasi

: Supel, NT (-), hepar lien tidak membesar

Perkusi

: Tympani pada bawah processus xiphoideus, redup pada daerah


uterus

Auskultasi : Peristaltik (+) normal


Genital

: Lendir darah (-), air ketuban (-)

14

Ekstremitas :

Oedema
+

Akral dingin
-

2. Status Obstetri
Inspeksi
Kepala

: Mesocephal

Mata

: Conjungtiva Anemis (-/-), sclera ikterik (-/-)

Wajah

: Kloasma gravidarum (+)

Thorax

: Glandula mammae hipertrofi (+), aerola mammae


hiperpigmentasi (+)

Abdomen

Inspeksi : Dinding perut > dinding dada, stria gravidarum (+)


Palpasi : Supel, nyeri tekan (-), terapa janin tunggal, intra uterin
(kepala di bawah, punggung di atas).
TFU

: 20 cm

TBJ

: 1085 gram

HIS (-)
Pemeriksaan Leopold
I

: TFU setinggi 20 cm, Teraba bagian lunak memanjang, Kesan perut


janin tunggal

II

: Di sebelah kiri teraba bagian keras, rata, memanjang, kesan


punggung

III

: teraba bagian keras dan bulat, kesan kepala

IV

: Kepala janin belum masuk panggul.


Perkusi

: Tympani pada bawah processus xipoideus, redup pada


daerah uterus

Auskultasi : DJJ (+) 11-12-12/12-12-12/11-11-12/reguler

15

Genital eksterna

: Vulva/uretra tidak ada kelainan, lendir darah (-),


peradangan (-), tumor (-)

Ekstremitas :

Oedema
+

akral dingin
-

Pemeriksaan Dalam :
VT

: vulva / uretra tenang, dinding vagina dalam batas normal, portio


lunak, mencucu = -cm, kulit ketuban (+), teraba kepala
terbawah, janin belum masuk panggul, sakrum di jam 8, air
ketuban (-), STLD (-)

UPD

: promontorium tidak teraba


linea terminalis teraba , 1/3 bagian
spina ischiadica tidak menonjol
arcus pubis > 90
kesan : panggul normal

C.

PEMERIKSAAN PENUNJANG
1.

Laboratorium Darah tanggal 26 Agustus 2007 :


Hemoglobin

: 10,9 gr/dl

Hematokrit

: 31,4 %

Antal Eritrosit

: 3,69 x 103/uL

Antal Leukosit

: 11,0 x 103/uL

Antal Trombosit

: 306 x 103/uL

Golongan Darah

:A

GDS

: 75 mg/dL

Ureum

: 18 mg/dL

Creatinin

: 0,8 mg/dL

Na+

: 140 mmol/L

K+

: 4,4 mmol/L

Ion klorida

: 107 mmol/L
16

2.

SGOT

: 18 u/l

SGPT

: 14 u/l

Albumin

: 3,4 g/dl

LDH

: 200 U/L

PT

: 15,8

APTT

: 30,0

HbS Ag

: negatif

Nitrazin Test

: (-) negatif

Protein Urin

: (+++) / positif 3

Ultrasonografi (USG) tanggal 26 Agustus 2007 :


Tampak janin tunggal, intrauterin, preskep, DJJ (+), dengan biometri :
I. BPD

: 62

FL

: 60

AC

: 206

EFBW

: 1100

Plasenta berinsersi di fundus Grade I-II


Air ketuban kesan cukup
Tak tampak kelainan kongenital mayor
Kesimpulan : saat ini janin dalam keadaan baik
D.

KESIMPULAN
Seorang G5P4A0, 39 tahun, UK 28+5 minggu, riwayat fertilitas baik, riwayat obstetri
baik, teraba janin tunggal, intra uterin, his (-), DJJ (+) reguler, TBJ : 1085 gram,
STLD (-).

E.

DIAGNOSA AWAL
PEB pada multigravida hamil prematur belum dalam persalinan

F.

PROGNOSA
baik

G. TERAPI
Terapi konservatif :
17

Tirah baring
Diet preeklamsi (TKTP rendah garam)
Pertahankan kehamilan
Awasi tanda tanda eklampsi
Sebagai balance cairan diberikan Infus Ringer Laktat.
Injeksi Sulfas Magneticus (Mg SO4) 40% (4 mg boka, 4 mg boki), dilanjutkan 4
mg/6jam menurut keadaan
Nifedipin 3x10 mg/hari sublingual

BAB IV
PEMBAHASAN
18

Resep
R/ Infus RL No I
Cum infus set No I
Iv catheter no 22 No I
S imm___________________________
R/ sulfas magnesikus 40% inj No III
S imm___________________________
R/ Nifedipine tab mg 10 no III
S prn 1-3 dd tab I__________________
Pro: Ny.L (26 tahun)
Pembahasan Obat
a. Ringer Laktat diberikan untuk mengembalikan keseimbangan cairan tubuh.
b. MgSO4
1) Sediaan 20% dan 40%
2) Sebagai anti kejang untuk preeklamsia dan eklamsia.
3) Pada wanita hamil terjadi penurunan magnesium darah.
Mekanisme kerja: menekan pengeluaran asetilkolin pada motor end plate sehingga
mencegah Ca masuk (sebagai Ca antagonis)
c. Nifedipin
1) Merupakan golongan Ca antagonis
2) Mekanisme kerja: menghambat masuknya Ca2+ ke dalam sel sehingga terjadi
relaksasi otot polos vaskuler sehingga menurunkan kontraksi

jantung dan

menurunkan kecepatan konduksi AV dan nodus SA.


3) Dosis 10mg per oral.
4) Efek samping : pusing, sakit kepala, hipotensi, takikaria, mual, muntah, edema
perifer, batuk.

DAFTAR PUSTAKA

19

1. Cunningham FG Mac Donal P.C. William Obsetric, Edisi 18, Appletion & Lange,
1998 : 881-903.
2. Fernando Arias, Practicial Guide to Hight Risk Pregnancy and Delivery,
Edition, St. Louis Missiori, USA, 1993 : 100-10, 213-223.

2 nd

3. Hacker Moore, Essential Obstetries dan Gynekology, Edisi 2, W.B Saunder


Company, Philadelphia, Pennsylvania, 297-309.
4. Hudono, S.T; Samil, R.S. 1999. Penyakit kardiovaskuler. Dalam Wiknjosastro H,
Ilmu Kebidanan. Edisi Ketiga Cetakan Keenam. Yayasan Bina Pustaka
Sarwono Prawirohardjo, Jakarta. Pp : 429-431
5. Neville, dkk. 2001. Esential Obstetri dan Gynecologi. Hipokrates, Jakarta. Pp : 2030
6. Hariadi R. Ilmu Kedokteran Fetomaternal. Edisi Perdana Himpunan Kedokteran
Fetomaternal Perkumpulan Obstetri dan Ginekologi Indonesia, Surabaya,
2004 : 364-382, 392-393, 426-443.
7. Wiknyosastro H. Kelainan Dalam Lamanya Kehamilan. Ilmu Kebidanan Yayasan
Bina Pustaka Sarwono Prawiroharjo, Jakarta, 1991. 281-301, 386-400,675688.
8. Buku acuan Nasional, Pelayanan Kesehatan Maternal dan Neonatal. Masalah yang
berhubungan dengan lamanya kehamilan. Yayasan BP Sarwono
Prawirohardjo, Jakarta, 2001, 300-304.
9. Sumapraja, S; Rachimhadhi, T. 1999. Infertilitas. Dalam Wiknjosastro H, Ilmu
Kebidanan. Edisi Ketiga Cetakan Keenam. Yayasan Bina Pustaka Sarwono
Prawirohardjo, Jakarta. Pp : 365-76

20