Anda di halaman 1dari 10

Makalah Energi Panas Bumi (Geothermal) dan Energi

Pasang Surut Air Laut


Ditulis Oleh Nugroho Pangestu pada Minggu, 25 Mei 2014 | 22:26

ENERGI PANAS BUMI / GEOTHERMAL


Energi geothermal merupakan sumber energi terbarukan berupa energi thermal (panas) yang dihasilkan dan
disimpan di dalam inti bumi. Istilah geothermal berakar dari bahasa Yunani dimana kata, "geo", berarti
bumi dan, "thermos", berarti panas, menjadi geothermal yang juga sering disebut panas bumi. Energi panas
di inti bumi sebagian besar berasal dari peluruhan radioaktif dari berbagai mineral di dalam inti bumi.
Energi geothermal merupakan sumber energi bersih bila dibandingkan dengan bahan bakar fosil karena
sumur geothermal melepaskan sangat sedikit gas rumah kaca yang terperangkap jauh di dalam inti bumi,
ini dapat diabaikan bila dibandingkan dengan jumlah gas rumah kaca yang dilepaskan oleh pembakaran
bahan bakar fosil.
Ada cukup energi geothermal di dalam inti bumi, lebih dari kebutuhan energi dunia saat ini. Namun, sangat
sedikit dari total energi panas bumi yang dimanfaatkan pada skala global karena dengan teknologi saat ini
hanya daerah di dekat batas-batas tektonik yang menguntungkan untuk dieksploitasi.
Pembangkit listrik geothermal saat ini beroperasi di 24 negara di seluruh dunia, dan negara yang terbesar
di dunia dalam hal kapasitas instalasi energi panas bumi adalah Amerika Serikat. Pada tahun 2010 Amerika
Serikat memiliki 77 pembangkit listrik tenaga panas bumi yang memproduksi lebih dari 3000 MW.
Amerika Serikat juga merupakan lokasi bagi kompleks pembangkit listrik tenaga geothermal terbesar di
dunia, terletak di Geysers, California. Namun, Amerika Serikat hanya memperoleh sekitar 0,3% pasokan
listriknya dari pembangkit listrik panas bumi, bahkan meskipun negara ini merupakan negara terbesar di
dunia dalam hal kapasitas instalasi geothermal.
Energi geothermal tidak hanya digunakan untuk pembangkit listrik tetapi juga untuk tujuan pemanasan. Di
banyak daerah di seluruh dunia, pemanasan geothermal adalah cara yang lebih ekonomis untuk
memanfaatkan energi panas bumi dibandingkan dengan pembangkit listrik geotermal.
Energi geothermal tersedia 24-7 dan karenanya tidak memiliki masalah intermitten (tidak kontinyu) seperti
energi surya dan angin. Setelah dibangun, pembangkit listrik geothermal membutuhkan biaya
pemeliharaan yang relatif rendah, dan tidak memerlukan banyak sumber daya air. Namun, memerlukan
biaya modal yang tinggi untuk pengeboran. Pengeboran sumur geothermal menyumbang lebih dari
setengah dari biaya modal.
Energi geotehermal memiliki lebih dari cukup potensi untuk memainkan peran penting di pasar energi
global masa depan. Kemajuan teknologi dan iptek harus membantu membuat biaya modal untuk proyek
panas bumi menjadi turun sehingga listrik tenaga geothermal terjangkau di berbagai area di seluruh dunia.

Bagaimana Energi Geothermal Diproduksi


Bayangkan pusat Bumi. Bagian ini sangat panas sehingga dapat mencairkan batu dengan cukup mudah.
Nah, bila Anda pergi menuju kerak bumi, suhu akan lebih tinggi dan lebih tinggi. Menurut perkirakan,
untuk kira-kira setiap empat puluh meter (belum sampai setengah panjang lapangan sepak bola), suhu naik
sekitar tiga puluh empat derajat Fahrenheit. Akibatnya adalah batu-batu yang panas di bawah permukaan
bumi ikut memanaskan air sehingga terjadilah peguapan. Untuk memanfaatkannya, kemudian dibuat
lubang dengan cara mengebor ke daerah panas bumi pada kedalaman tertentu sehingga uap air dapat
terbebaskan.
Selama proses, di stasiun panas bumi dibor lubang seperti disebutkan di atas dan dibuat sumur injeksi
dimana air dingin dipompakan ke sumur. Air dingin ini kemudian dialirkan melewati batu panas dan
kemudian tekanan digunakan untuk mengeluarkan air kembali. Setelah air panas mencapai permukaan, air
tersebut berubah menjadi uap, yang kemudian dimanfaatkan sebagai sumber daya. Nah, uap yang sudah
dibersihkan dan disaring lalu digunakan untuk menggerakkan turbin listrik, yang pada gilirannya akan
mengahasilkan energi listrik.
Kelebihan Energi Geothermal
Bila pembangkit listrik memanfaatkan tenaga panas bumi dilakukan dengan cara yang benar, tidak ada
produk samping yang berbahaya bagi lingkungan. Pemerhati lingkungan pasti akan menyukainnya!
Pada proses produksi, tidak digunakan bahan bakar fosil. Selain itu, energi geothermal tidak menyebabkan
efek rumah kaca apapun. Setelah pembangunan pembangkit listrik tenaga geothermal, hanya ada sedikit
pemeliharaan. Dalam hal konsumsi energi, pembangkit listrik tenaga panas bumi adalah pembangkit energi
mandiri. Keuntungan lain untuk energi geothermal adalah bahwa pembangkit listrik tidak harus yang besar
untuk melindungi lingkungan alam.
Kekurangan Energi Geothermal
Ada beberapa kekurangan pada energi geothermal. Pertama, Kita tidak bisa membangun pembangkit listrik
tenaga panas bumi di sembarang lahan kosong di suatu tempat. Daerah tempat pembangkit energi
geothermal yang akan dibangun harus mengandung batu-batu panas yang cocok pada kedalaman yang
tepat untuk pengeboran. Selain itu, jenis bebatuannya harus mudah untuk dibor ke dalam. Hal ini penting
untuk menjaga area sekitar karena jika lubang dibor dengan tidak benar, maka mineral dan gas yang
berpotensi membahayakan bisa menyembur dari bawah tanah. Pencemaran dapat terjadi karena
pengeboran yang tidak tepat di stasiun panas bumi. Dan juga, memungkinkan pula pada suatu area panas
bumi tertentu terjadi kekeringan.
Energi panas bumi yang ada di Indonesia pada saat ini dapat dikelompokkan menjadi :
1. Energi panas bumi uap basah
Pemanfaatan energi panas bumi yang ideal adalah bila panas bumi yang keluar dari perut bumi berupa uap
kering, sehingga dapat digunakan langsung untuk menggerakkan turbin generator listrik. Namun uap
kering yang demikian ini jarang ditemukan termasuk di Indonesia dan pada umumnya uap yang keluar
berupa uap basah yang mengandung sejumlah air yang harus dipisahkan terlebih dulu sebelumdigunakan
untuk menggerakkan Uap basah yang keluar dari perut bumi pada mulanya berupa air panas bertekanan
tinggi yang pada saat menjelang permukaan bumi terpisah menjadi kira-kira 20 % uap dan 80 % air. Atas
dasar ini maka untuk dapat memanfaatkan jenis uap basah ini diperlukan separator untuk memisahkan
antara uap dan air. Uap yang telah dipisahkan dari air diteruskan ke turbin untuk menggerakkan generator
listrik, sedangkan airnya disuntikkan kembali ke dalam bumi untuk menjaga keseimbangan air dalam
tanah.
2. Energi panas bumi air panas
Air panas yang keluar dari perut bumi pada umumnya berupa air asin panas yang disebut brine dan
mengandung banyak mineral. Karena banyaknya kandungan mineral ini, maka air panas tidak dapat
digunakan langsung sebab dapat menimbulkan penyumbatan pada pipa-pipa sistim pembangkit tenaga
listrik. Untuk dapat memanfaatkan energi panas bumi jenis ini, digunakan sistem biner (dua buah sistem
utama) yaitu wadah air panas sebagai sistem primemya dan sistem sekundernya berupa alat penukar panas

(heat exchanger) yang akan menghasilkan uap untuk menggerakkan turbin. Energi panas bumi uap panas
bersifat korosif, sehingga biaya awal pemanfaatannya lebih besar dibandingkan dengan energi panas bumi
jenis lainnya.
3.Energi panas bumi batuan panas
Energi panas bumi jenis ini berupa batuan panas yang ada dalam perut bumi akibat berkontak dengan
sumber panas bumi (magma). Energi panas bumi ini harus diambil sendiri dengan cara menyuntikkan air
ke dalam batuan panas dan dibiarkan menjadi uap panas, kemudian diusahakan untuk dapat diambil
kembali sebagai uap panas untuk menggerakkan turbin. Sumber batuan panas pada umumnya terletak jauh
di dalam perut bumi, sehingga untuk memanfaatkannya perlu teknik pengeboran khusus yang memerlukan
biaya cukup tinggi.
Potensi Panas Bumi
Potensi panas bumi Indonesia dapat dibagi dalam 2 (dua) kelas, yaitu : sumber daya dan cadangan; yang
masing-masing dibagi lagi menjadi subkelas-subkelas.
Kriteria sumber daya terdiri dari :
1. Spekulatif, dicirikan oleh terdapatnya manifestasi panas bumi aktif dimana luas reservoir dihitung dari
data geologi yang tersedia dan rapat dayanya berdasarkan asumsi.
2. Hipotesis, dicirikan oleh manifestasi panas bumi aktif dengan data dasar hasil survei regional geologi,
geokimia dan geofisika. Luas daerah prospek ditentukan berdasarkan penyebaran manifestasi dan batasan
geologi, sementara penentuan suhu berdasarkan geotermometer.
Kriteria cadangan terdiri dari :
1. Terduga, dibuktikan oleh data pemboran landaian suhu dimana estimasi luas dan ketebalan reservoir
serta parameter fisika batuan dan fluida dilakukan berdasarkan data ilmu kebumian terpadu, yang
digambarkan dalam bentuk model tentatif.
2. Mungkin, dibuktikan oleh sebuah sumur eksplorasi yang berhasil dimana estimasi luas dan ketebalan
reservoir didasarkan pada data sumur dan hasil penyelidikan ilmu kebumian rinci terpadu. Parameter
batuan, fluida dan suhu reservoir diperoleh dari pengukuran langsung dalam sumur.
3. Terbukti, dibuktikan oleh lebih dari satu sumur eksplorasi yang berhasil mengeluarkan uap/air panas,
dimana estimasi luas dan ketebalan reservoir didasarkan kepada data sumur dan hasil penyelidikan ilmu
kebumian rinci terpadu. Parameter batuan dan fluida serta suhu reservoir didapatkan dari data pengukuran
langsung dalam sumur dan atau laboratorium.
Saat ini terdapat tiga macam teknologi pembangkit panas bumi (geothermal power plants) yang dapat
mengkonversi panas bumi menjadi sumber daya listrik, yaitu dry steam, flash steam, dan binary cycle.
Ketiga macam teknologi ini pada dasarnya digunakan pada kondisi yang berbeda-beda.
1.

Dry Steam Power Plants

Pembangkit tipe ini adalah yang pertama kali ada. Pada tipe ini uap panas (steam) lang-sung diarahkan ke
turbin dan mengaktifkan generator untuk bekerja menghasilkan listrik. Sisa panas yang datang dari
production well dialirkan kembali ke dalam reservoir melalui injection well. Pembangkit tipe tertua ini pertama kali digunakan di Lardarello, Italia, pada 1904 dimana saat ini masih berfungsi dengan baik. Di
Amerika Serikat pun dry steam power masih digunakan seperti yang ada di Geysers, California Utara.
2.

Flash Steam Power Plants

Panas bumi yang berupa fluida misalnya air panas alam (hot spring) di atas suhu 1750 C dapat digunakan
sebagai sumber pembangkit Flash Steam Power Plants. Fluida panas tersebut dialir-kan kedalam tangki
flash yang tekanannya lebih rendah sehingga terjadi uap panas secara cepat. Uap panas yang disebut
dengan flash inilah yang menggerakkan turbin untuk meng-aktifkan generator yang kemudian menghasilkan listrik. Sisa panas yang tidak terpakai ma-suk kembali ke reservoir melalui injection well. Con-toh dari
Flash Steam Power Plants adalah Cal-Energy Navy I flash geothermal power plants di Coso Geothermal
field, California, USA.
3.

Binary Cycle Power Plants (BCPP)

BCPP menggunakan teknologi yang berbeda dengan kedua teknologi sebelumnya yaitu dry steam dan
flash steam. Pada BCPP air panas atau uap panas yang berasal dari sumur pro-duksi (production well) tidak
pernah menyentuh turbin. Air panas bumi digunakan untuk memanaskan apa yang disebut dengan working
fluid pada heat exchanger. Working fluid kemu-dian menjadi panas dan menghasilkan uap berupa flash.
Uap yang dihasilkan di heat exchanger tadi lalu dialirkan untuk memutar turbin dan selanjutnya
menggerakkan genera-tor untuk menghasilkan sumber daya listrik. Uap panas yang dihasilkan di heat
exchanger inilah yang disebut sebagai secondary (binary) fluid. Binary Cycle Power Plants ini sebetulnya
merupakan sistem tertutup. Jadi tidak ada yang dilepas ke atmosfer.
Keunggulan dari BCPP ialah dapat dioperasikan pada suhu ren-dah yaitu 90-1750C. Contoh pene-rapan
teknologi tipe BCPP ini ada di Mammoth Pacific Binary Geo-thermal Power Plants di Casa Di-ablo
geothermal field, USA. Diperkirakan pembangkit listrik panas bumi BCPP akan semakin banyak
digunakan dimasa yang akan datang.
Potensi Panas bumi Di Indonesia

Manifestasi panas bumi diindonesia yang berjumlah tidak kurang dari 244 lokasi tersebar di
Pulau Sumatera, Jawa, Bali, Kalimantan, Kepulauan Nusa Tenggara, Maluku, Pulau
Sulawesi, Halmahera dan Irian Jaya, ini menunjukkan betapa besarnya kekayaan energi
panas bumi yang tersimpan di dalamnya.

ENERGI PASANG SURUT AIR LAUT


Listrik tenaga pasang surut adalah energi terbarukan, hasil dari mengkonversi energi pasang
surut menjadi listrik. Listrik tenaga pasang surut adalah bentuk tenaga air di mana energi
didapatkan dari energi yang terkandung pada pasang surut air laut.

Listrik tenaga pasang surut merupakan sumber energi terbarukan karena pasang surut air laut di
bumi adalah hasil dari interaksi gravitasi bulan dan matahari dan rotasi bumi yang membuatnya
menjadi sumber tenaga listrik yang hampir tak ada habis-habisnya.
Listrik tenaga pasang surut memiliki potensi yang sangat baik tetapi banyak industri listrik
pasang surut masih sebatas proyek percontohan dan belum mendapat perhatian di seluruh
dunia.
Banyak daerah di dunia memiliki sumber daya pasang surut air laut yang kuat, konstan dan
dapat diprediksi. Energi pasang surut juga disebutkan sebagai salah satu sumber energi
terbarukan yang paling efisien, dengan efisiensi hingga 80%.
Listrik tenaga pasang surut tidak menghasilkan emisi gas rumah kaca berbahaya dan karena itu
tidak berkontribusi terhadap perubahan iklim seperti yang terjadi pada bahan bakar fosil.
Listrik tenaga pasang surut memiliki satu kelemahan utama, yaitu biaya konstruksinya yang
tinggi sehingga secara signifikan memperpanjang masa pengembalian investasi dan hal inilah
yang menghalangi masuknya para investor.
Energi pasang surut mampu menghasilkan listrik hanya disaat gelombang pasang yang rata-rata
sekitar 10 jam setiap hari. Ini berarti bahwa energi pasang surut adalah sumber
energiintermiten (seperti surya dan angin) dan karena itu memerlukan solusi penyimpanan
energi yang memadai.
Biaya konstruksi tinggi dan intermitten merupakan dua kekurangan besar yang menghalangi
listrik tenaga pasang surut menjadi pemain utama di pasar energi terbarukan global. Apakah
ilmu pengetahuan akan dapat membuat perbedaan dan membuat tenaga pasang surut
kompetitif dengan bahan bakar fosil dalam hal biaya? hal ini masih terus kita pantau, tetapi
potensi tersebut pastilah ada.
Tenaga pasang surut pada dasarnya adalah bentuk tenaga air yang menghasilkan daya listrik
melalui pemanfaatan dari aliran pasang surut. Listrik tenaga pasang surut walaupun memiliki
potensi besar masih belum banyak digunakan. Prinsip kerja dari tenaga pasang surut tidak
terlalu rumit: sekali air pasang datang, air akan disimpan dalam bendungan, dan ketika air surut,
air di bendungan akan disalurkan melalui pipa untuk menggerakkan turbin, yang kemudian
menghasilkan listrik.
Listrik tenaga pasang surut memiliki beberapa keunggulan. Pertama, tenaga pasang surut
adalah sumber energi terbarukan karena pasang surut di planet kita disebabkan oleh interaksi

gaya gravitasi antara Bulan dan Matahari, serta rotasi bumi, yang berarti bahwa listrik tenaga
pasang surut tidak akan habis selama paling tidak beberapa milyar tahun.
Satu keunggulan besar yang dimiliki tenaga pasang surut dibandingkan beberapa sumber energi
terbarukan lainnya (terutama energi angin) adalah bahwa tenaga pasang surut merupakan
sumber energi yang sangat handal. Hal ini dapat dipahami karena kita bisa memprediksi kapan
air pasang akan naik dan kemudian surut, karena pasang-surutnya air laut jauh lebih siklik
daripada pola cuaca yang acak.
Dan juga, listrik tenaga pasang surut tidak menghasilkan gas rumah kaca seperti bahan bakar
fosil, dan limbah berbahaya seperti ini juga dikhawatirkan akan terjadi pada penggunaan energi
nuklir. Waduk dan bendungan kecil yang diperlukan untuk memanfaatkan tenaga pasang surut
juga dapat memainkan peran yang sangat penting dalam melindungi kota-kota terdekat atau
pelabuhan dari gelombang berbahaya pada saat terjadi badai.
Listrik tenaga pasang surut merupakan sumber energi yang sangat efisien, dengan efisiensi
80%, ini berarti bahwa efisiensi energi pasang surut hampir tiga kali lebih besar dari batubara
dan minyak bumi yang memiliki efisiensi 30%, dan juga secara signifikan lebih tinggi dari
efisiensi energi surya dan angin.
Kelemahan utama energi pasang surut adalah pembangkit listrik pasang surut sangat mahal
untuk dibangun, yang berarti listrik tenaga pasang surut masih tidak efektif dalam hal biaya bila
dibandingkan dengan pembangkit bahan bakar fosil. Meskipun begitu, pembangkit listrik pasang
surut dibangun hanya sekali dan biaya pemeliharaannya relatif rendah.
Dan pula, di kehidupan nyata energi pasang surut hanya dapat dilakukan di pantai dengan
diferensial pasang surut yang baik, artinya tidak banyak lokasi yang benar-benar cocok untuk
jenis pembangkit listrik tenaga pasang surut, dan juga hanya menghasilkan listrik selama ada
gelombang pasang yang rata-rata terjadi sekitar 10 jam setiap hari.
Listrik tenaga pasang surut juga dapat memiliki dampak negatif terhadap lingkungan; turbin
pembangkit dapat mengganggu gerakan kapal dan hewan laut yang besar di sekitar kanal,
sedangkan bangunan pembangkit listrik tenaga pasang surut dapat mengganggu migrasi ikan di
lautan, dan bahkan membunuh populasi ikan ketika melewati turbin.
Tidak ada keraguan sedikitpun bahwa tenaga pasang surut memiliki potensi besar, namun juga
terdapat beberapa kelemahan serius yang menghambat listrik tenaga pasang surut memiliki nilai
komersial tinggi. Masih perlu banyak pengembangan agar teknologi listrik tenaga pasang surut
menjadi efektif dalam hal biaya, karena potensi besar saja tidak cukup untuk membuat tenaga
pasang surut kompetitif dengan bahan bakar fosil yang dominan di saat ini.

Indonesia dengan luas perairan hampir 60% dari total luas wilayah sebesar 1.929.317 km2, Indonesia
seharusnya bisa menerapkan teknologi alternatif ini. Apalagi dengan bentangan Timur ke Barat sepanjang
5.150 km dan bentangan Utara ke Selatan 1.930 km telah mendudukkan Indonesia sebagai negara dengan
garis pantai terpanjang di dunia. Pada musim hujan, angin umumnya bergerak dari Utara Barat Laut
dengan kandungan uap air dari Laut Cina Selatan dan Teluk Benggala. Di musim Barat, gelombang air laut
naik dari biasanya di sekitar Pulau Jawa. Fenomena alamiah ini mempermudah pembuatan teknik pasang
surut tersebut.
Keadaan pasang surut di perairan Nusantara ditentukan oleh penjalaran pasang surut dari
Samudra Pasifik, Hindia, morfologi pantai, dan batimeri perairan yang kompleks dimana terdapat
banyak selat, palung, dan laut yang dangkal dan laut dalam. Keadaan perairan tersebut
membentuk pola pasang surut yang beragam. Di Selat Malaka pasang surut setengah harian
(semi diurnal) mendominasi tipe pasut di daerah tersebut. Berdasarkan pengamatan pasang
surut di Kabil, Pulau Batam diperoleh bilangan Formzhal sebesar 0,69, sehingga pasang surut di
Pulau Batam dan Selat Malaka pada umumnya adalah pasut bertipecampuran dengan tipe
ganda yang menonjol. Pasang surut harian (diurnal) terdapat di Selat Karimata dan Laut Jawa.
Berdasarkan pengamatan pasut di Tanjung Priok diperoleh bilangan Formzhal sebesar 3,80.
Jadi tipe pasang surut di Teluk Jakarta dan laut Jawa pada umumnya adalah pasut bertipe
tunggal. Tunggang pasang surut di perairan Indonesia bervariasi antara 1 sampai dengan 6
meter. Di Laut Jawa, umumnya tunggang pasang surut antara 11,5 m, kecuali di Selat madura
yang mencapai 3 meter. Tunggang pasang surut 6 meter di jumpai di Papua.
Alat-Alat Pengukuran Pasang Surut Air Laut dan Metode Pengukurannya
Beberapa alat pengukuran pasang surut diantaranya sebagai berikut:
a. Tide Staff
Alat ini berupa papan yang telah diberi skala dalam meter atau centi meter. Biasanya digunakan pada
pengukuran pasang surut di lapangan. Tide Staff (papan Pasut) merupakan alat pengukur pasang surut
paling sederhana yang umumnya digunakan untuk mengamati ketinggian muka laut atau tinggi gelombang
air laut. Bahan yang digunakan biasanya terbuat dari kayu, alumunium atau bahan lain yang di cat anti
karat.

Syarat pemasangan papan pasut adalah:


o Saat pasang tertinggi tidak terendam air dan pada surut terendah masih tergenang oleh air;
o Jangan dipasang pada gelombang pecah karena akan bias atau pada daerah aliran sungai (aliran debit
air);
o Jangan dipasang didaerah dekat kapal bersandar atau aktivitas yang menyebabkan air bergerak secara
tidak teratur;
o Dipasang pada daerah yang terlindung dan pada tempat yang mudah untuk diamati dan dipasang tegak
lurus
o Cari tempat yang mudah untuk pemasangan misalnya dermaga sehingga papan mudah dikaitkan;
o Dekat dengan bench mark atau titik referensi lain yang ada sehingga data pasang surut mudah untuk
diikatkan terhadap titik referensi;

o Tanah dan dasar laut atau sungai tempat didirikannya papan harus stabil; dan
o Tempat didirikannya papan harus dibuat pengaman dari arus dan sampah
b. Tide Gauge
Perangkat untuk mengukur perubahan muka laut secara mekanik dan otomatis. Alat ini memiliki sensor
yang dapat mengukur ketinggian permukaan air laut yang kemudian direkam ke dalam komputer. Tide
gauge terdiri dari dua jenis, yaitu:
o Floating tide gauge (self registering)
Prinsip kerja alat ini berdasarkan naik turunnya permukaan air laut dapat diketahui melalui pelampung
yang dihubungkan dengan alat pencatat (recording unit). Pengamatan pasang surut dengan alat ini banyak
dilakukan, namun yang lebih banyak dipakai adalah dengan cara rambu pasut.
o Pressure tide gauge (self registering)
Prinsip kerja pressure tide gauge hampir sama dengan floating tide gauge, namun perubahan naik-turunnya
air laut direkam melalui perubahan tekanan pada dasar laut yang dihubungkan dengan alat pencatat
(recording unit). Alat ini dipasang sedemikian rupa sehingga selalu berada di bawah permukaan
air laut tersurut, namun alat ini jarang sekali dipakai untuk pengamatan pasang surut.

c. Satelit
Sistem satelit altimetri berkembang sejak tahun 1975 saat diluncurkannya sistem satelit Geos-3. Saat ini,
secara umum sistem satelit altimetri mempunyai tiga objektif ilmiah jangka panjang, yaitu mengamati
sirkulasi lautan global, memantau volume dari lempengan es kutub, dan mengamati perubahan muka laut
rata-rata (MSL) global.
Prinsip Dasar Satelit Altimetri adalah satelit altimetri dilengkapi dengan pemancar pulsa radar (transmiter),
penerima pulsa radar yang sensitif (receiver), serta jam berakurasi tinggi. Sistem ini, altimeter radar yang
dibawa oleh satelit memancarkan pulsa-pulsa gelombang elektromagnetik (radar) kepermukaan laut. Pulsapulsa tersebut dipantulkan balik oleh permukaan laut dan diterima kembali oleh satelit. Prinsip penentuan
perubahan kedudukan muka laut dengan teknik altimetri yaitu pada dasarnya satelit altimetri bertugas
mengukur jarak vertikal dari satelit ke permukaan laut.
Tinggi satelit di atas permukaan ellipsoid referensi diketahui maka tinggi muka laut (Sea Surface Height
atau SSH) saat pengukuran dapat ditentukan sebagai selisih antara tinggi satelit dengan jarak vertikal.
Variasi muka laut periode pendek harus dihilangkan sehingga fenomena kenaikan muka lautdapat terlihat
melalui analisis deret waktu (time series analysis). Analisis deret waktu dilakukan karena kita akan
melihat variasi temporal periode panjang dan fenomena sekularnya.

Anda mungkin juga menyukai