Anda di halaman 1dari 8

DASAR TEORI TAMBAHAN

Alkana dan sikloalkana merupakan dua golongan senyawa yang tergolong senyawa
hidrokarbon jenuh dimana semua ikatannya tunggal tunggal.alkana disebut juga senyawa
alifatik atau alisiklik yang artinya adalah senyawa rantai terbuka. Hidrokarbon jenuh yang
paling sederhana merupakan suatu deret senyawa yang memenuhi rumus umum CnH2n+2
yang dinamakan alkana atau paraffin. karena sukar bereaksi dengan senyawa-senyawa
lainnya. kadang-kadang alkana juga disebut sebagai hidrokarbon batas, karena batas
kejenuhan atom-atom H telah tercapai. Setiap senyawa yang merupakan anggota alkana
dinamakan suku. Suku alkana ditentukan oleh jumlah atom C dalam senyawa tersebut. Suku
pertama alkana adalah metana, CH4. Dalam molekul metana satu atom C terikat pada 4 atom
H. Metana dapat menurunkan senyawa alifatik lainnya.
Menurut Beyer pakar kimia organik yang hidup pada zaman kekule dan sikloalkana .
usaha untuk membuat sikloalkana yang lebih kecil dari siklopentana dan lebih besar dari
sikloheksana menemui jalan buntu. Pada saat itu sudah dapat di buktikan bahwa senyawa
organik adalah dalam bentuk tiga dimensi atau ruang. Sudut ikatan pada alkana dengan
tetrahedral normal adalah 1090, maka beyer mengemukakan konsep steric hidrance atau angel
strain.maka untuk siklopropana angel strain adalah 109 60 = 490, untuk siklobutana 190
untuk siklopentana 10 dan sikloheksana 110 .selanjutnya Bayer berpendapat bahwa struktur
sikloalkana dengan angel stain > 110 adalah tidak stabil . (Marham Sitorus . 2010)

Pengertian Alkana
Hidrokarbon jenuh yang paling sederhana merupakan suatu deret senyawa yang
memenuhi rumus umum CnH2n+2 yang dinamakan alkana atau parafin. Suku pertama sampai
dengan 14 senyawa alkana dapat kita peroleh dengan mensubstitusikan harga n kedalam
rumus tersebut, dengan n adalah jumlah atom C yang ada.
Alkana merupakan senyawa hidrokarbon jenuh yang seluruh ikatannya tunggal.
Sebagai hidrokarbon jenuh, alkana memiliki jumlah atom H yang maksimum. Alkana juga
dinamakan parafin (dari parum affinis), karena sukar bereaksi dengan senyawa-senyawa

lainnya. Kadang-kadang alkana juga disebut sebagai hidrokarbon batas, karena batas
kejenuhan atom-atom H telah tercapai.(Marwati, 2007)
Setiap senyawa yang merupakan anggota alkana dinamakan suku. Suku alkana
ditentukan oleh jumlah atom C dalam senyawa tersebut. Suku pertama alkana adalah metana,
CH4. Dalam molekul metana satu atom C terikat pada 4 atom H. Metana dapat menurunkan
senyawa alifatik lainnya. Jika satu atom H pada metana diganti dengan atom C, maka akan
terbentuk suku kedua alkana, yaitu etana. Berdasarkan tetravalensi atom C, maka atom C
kedua akan mengikat 3 atom H, sehingga rumus molekul etana adalah C2H6.
Alkana mempunyai titik didih yang rendah dibandingkan dengan senyawa organik
lain dengan berat molekul yang sama.Hal ini disebabkan karena daya tarik menarik diantara
molekul non polar lemah , sehingga proses pemisahan molekul satu dengan yang lainnya
( sama dengan proses pembuatan dari fase cair ke fase gas) relative memerlukan sedikit
energi.
Bagaimana sifat-sifat senyawa karbon yang termasuk dalam satu deret homolog ?.
Perhatikan Tabel 12.2 di atas di mana terdapat salah satu sifat, yaitu titik didih. Titik didih
semakin tinggi jika massa molekul relatifnya makin besar. Hal ini berarti bahwa pada suhu
kamar, wujudnya akan berubah dari gas ke cair kemudian padat. Kecenderungan sifat apa lagi
yang dapat kita ramalkan ?. Dalam kimia karbon adalah panting bagi kita untuk dapat
menuliskan rumus molekul dan rumus struktur. Rumus molekul menyatakan banyaknya atom
setiap unsur yang ada dalam suatu molekul. Sedangkan rumus struktur menggambarkan
bagaimana atom-atom itu terikat satu sama lain. Karena atom karbon merupakan tulang
punggung dari semua senyawa karbon, maka kita harus mampu menggambarkan rangka
karbon dalam suatu molekul senyawa karbon. Setiap atom karbon dikelilingi secara
tetrahedral oleh atom-atom yang terikat dalam gambaran tiga dimensi, tetapi biasanya
molekul-molekul senyawa karbon cukup digambarkan dengan tampilan dua dimensi saja.
Penggambaran rantai struktur senyawa ini sebenarnya mudah. Bila rantai karbonnya
panjang atau bercabang, maka setelah kita buat rangka atom karbonnya tinggal
membubuhkan atom-atom hidrogen pada ikatan atom karbon yang masih kosong. Contoh
molekul butana. Pertama sekali, dibuat rangkanya yang terdiri dari 4 atom karbon yang
diletakkan berdampingan. Selanjutnya, atom-atom hidrogennya diletakkan pada masingmasing atom karbonnya.

Kalau kita membuat molekul butana dengan molymod, terlihat bahwa rantai karbonnya
tidak benar-benar lurus seperti rumus trukturnya, karena atom karbon tetrahedral mencegah
gambaran rantai karbon lurus. Kebanyakan yang kita tuliskan adalah rumus struktur yang
lebih sederhana lagi yaitu:
CH3 - CH2 CH2 - CH3 atau CH3CH2CH2CH3
Jadi asal terbaca rantai karbonnya, itulah yang akan kita gunakan selanjutnya asal selalu
ingat bahwa sesungguhnya adalah gambaran ruang.

Reaksi Pembakaran pada alkana


Reaksi Pembakaran sempurna senyawa hidrokarbon akan menghasilkan gas karbon
dioksida dan air,sedangkan pembakaran tidak sempurna akan menghasilkan gas karbon
monoksida dan air.Terjadinya pembakaran sempurna atau tidak sempurna tergantung pada
perbandingan antara konsentrasi (kadar) senyawa hidrokarbon dengan konsentrasi (kadar)
oksigen.

Sifat dan struktur turunan Alkana


Alkana merupakan senyawa nonpolar, sehingga tidak larut dalam air makin banyak
atom C (rantainya makin panjang), maka titik didih makin tinggi pada tekanan dan suhu
biasa, CH4 - C4H10 berwujud gas, C5H12 - C17H36 berwujud cair, diatas C18H38 berwujud padat
mudah mengalami reaksi subtitusi dengan atom-atom halogen (F2, Cl2, Br2 atau I2 ) dapat
mengalami oksidasi (reaksi pembakaran) .
Rumus umum dari homolog alkana adalah CnH2n + 2dimana n menyatakan jumlah
atom karbon .Alkana yang paling sederhana adalah metana dengan formula CH4, sedangkan
struktur tiga dimensi dari metana akan di bahas kemidian .Metana dapat di hasilkan dan
ditemukan pada berbagai tempat seperti :

1. Sebagi hasil dekomposisi ( perubahan struktur )dari bahan organik seperti daun daun
busuk di dasar rawa, sehingga gas metana dikenal pula sebagai gas rawa.
2. Di dalam arang batu bara , gas metana ini sering menimbulkan ledakan ledakan pada
daerah tambang, oleh karena itu gas metana juga dikenal sebagai gas tambang.
3. Sebagai hasil tambang ,yang bercampur dengan sedikit etana, propana dan butana juga
termasuk sebagai gas alam .atau bercampur dengan minyak bumi pada pertambangan
minyak bumi.
4. Pada proses pencernaan dalam tubuh manusia memungkinkan terbentuk gas metana .
5. Pada atmosfer ,yupiter juga mengandung banyak metana .

Sifat fisik metana


Metana merupakan gas yang tidak berwarna dan tidak berbau, sangat sukar larut dalam air,
mudah larut dalam alkohol .

Sifat kimia dan struktur molekul metana


Metana merupakan senyawa yang amat stabil,tidak dapat bereaksi dengan asam,basa dan
pereaksi pereaksi yang umum yang terdapat dalam laboratorium,pereaksi mana dengan
mudah dapat bereaksi dengan senyawa hidrokarbon tak jenuh.reaksi oksidasi terhadap
metana dapat berlangsung dengan jalan pembakaran yang akan menampakan nyala warna
kuning.bila di campur dengan udarah pada konsentrasi tertentu (5,3-13,9%) dapat
menimbulkan ledakan ledakan dapat terjadi jika gas metana di campur dengan gas klorida
dalam perbandingan l:2 dan diberi sinar matahari,akan tetapi jika penambahan klorida sedikit
demi sedikit akan mejadi reaksi klorinasi berantai.apabila dipanaskan pada uap temperatur
1000c dengan kata lisator nitrogen,akan membentuk karbon monoksida dan hidrogen .

Tatanama alkana
Nyawa alkana termasuk dalam senyawa karbon. Ada beberapa senyawa karbon yang
sudah banyak dikenal diantaranya adalah alkana ,alkena, dan alkuna. Namun pada

pembahasan ini kita akan membahas tantang alkana khususnya tata nama senyawa alkana
menurut IUPAC. menurut IUPAC tata mana senyawa alkana adalah sebagai berukut :
1. Memilih dan menentukan rantai induk (yaitu rantai karbon yang memiliki rantai C
terpanjang).
2. Pemberian nomor pada rantai karbon tersebut dari ujung kanan hingga ujung kiri atau
sebaliknya.
3. Jika terdapat cabang maka usahakan agar cabang tersebut memperoleh nomor yang kecil.
4. Menuliskan nama mulai dengan nama cabang terlebih dulu (jika terdapat cabang)
pemberian nama cabang tersebut diurutkan secara alfabet (jika terdapat lebih dari satu
cabang alkil), kemudian diakhiri dengan nama rantai karbon tersebut. Posisi cabang
dinyatakan dengan awalan angka, antara angka dengan anka dipisahkan dengan tanda
koma.Antara angka dengan abjad dipisahkan dengan tanda penghubung.
5. Jika gugus cabang yang sama terletak pada atom karbon yang sama pula maka penulisa n
harus digabungkan dengan menggunakan awalan di untuk 2 gugus cabang tri untuk 3
gugus cabang dan tetra untuk 4 gugus cabang.(Michael Purba .2003 )
Alkana terbakar dalam oksigen membentuk karbon dioksida (jika reaksi
pembakarannya sempurna) dan air. Ini dikenal dengan reaksi oksidasi atau reaksi
pembakaran.
CH4(g) + O2(g)

CO2(g) +H2O (g)

Alkana bereaksi dengan khlorin dan fluorin dengan reaksi yang dinamakan reaksi
substitusi. Pada jenis reaksi ini, satu atau lebih atom khlorin atau fluorin mengambil tempat
satu atau lebih atom hidrogen.
CH4(g)+ Cl2 (g)

CH3Cl (g)

Reaksi ini mungkin berlanjut dengan substitusi hidrogen berikutnya jika terdapat
cukup khlorin. Karena masing-masing atom hidrogen yang tersisa diubah dari CH3Cl dan
diganti oleh atom khlorin, maka akan terbentuk campuran CH2Cl, CHCl3, dan CCl4.
Rantai karbon berurutan yang terpanjang dalam suatu molekul ditentukan sebagai
rantai induk. Carilah namanya pada tabel suku pertama sampai dengan 14 senyawa alkana
dan letakkan di bagian belakang. Kadang-kadang rumus struktur itu tidak digambarkan
dengan rantai karbon terpanjang dalam garis lurus.

Isomer bercabang diberi nama sebagai turunan rantai lurus di mana satu atau beberapa
atom hidrogen diganti dengan pecahan alkana. Pecahan alkana ini disebut gugus alkil, biasa
diberi tanda -R (dari kata radikal), dan mempunyai rumus umum -CnH2n+1. Tentu kita dapat
meneruskan untuk alkil-alkil lain, tetapi untuk gugus bercabang tentu jarang yang berantai
panjang. Letakkan nama gugus cabang ini di depan nama rantai induk. Untuk menentukan
cabang pada rantai induk, rantai induk itu diberi diberi nomor dari kiri atau dari kanan
sehingga cabang pertama mempunyai nomor terkecil. Kadang-kadang terdapat lebih dari satu
cabang. Jika cabang-cabang itu sama, namanya tidak perlu disebut dua kali. Cukup diberi
awalan di- , kalau 3 cabang sama awalannya tri-, tetra untuk 4 cabang yang sama dan
seterusnya. Ingat setiap cabang diberi satu nomor, tidak peduli cabangnya sama atau beda.
Dibawah ini adalah contoh penamaan yang lain. Jika cabang-cabang itu berbeda, maka urutan
menyebutnya adalah menurut urutan abjad huruf pertamanya, cabang etil disebut dulu dari
cabang metil.
Menurut aturan nomor satu, rantai C terpanjang 5, jadi namanya pentana dan kita
letakkan di bagian belakang.Cabangnya adalah metal, Letakkan cabang itu pada atom C
nomor dua dari kanan (karena kalau dari kiri menjadi nomor 4).

Ciri-ciri Alkana
1. Merupakan hidrokarbon jenuh (alkana rantai lurus dan siklo/cincin alkana)
2. Disebut golongan parafin : affinitas kecil (sedikit gaya gabung)
3. Sukar bereaksi
4. C1 C4 : pada T dan P normal adalah gas
5. C4 C17 : pada T dan P normal adalah cair
6. C18 : pada T dan P normal adalah padat
7. Titik didih makin tinggi : terhadap penambahan unsur C
8. Jumlah atom C sama : yang bercabang mempunyai TD rendah

9. Kelarutan : mudah larut dalam pelarut non polar


10. BJ naik dengan penambahan jumlah unsur C
11. Sumber utama gas alam dan petroleum.

Natrium Hidroksida

Kristal Natrium Hidroksida

SIFAT FISIKA dan KIMIA :


Keadaan fisik dan penampilan: Solid. (Deliquescent padat.)
Bau: berbau.
Molekul Berat: 40 g / mol
Warna: Putih.
pH (1% soln / air): [. Dasar] 13,5
Titik Didih: 1388 C (2530,4 F)
Melting Point: 323 C (613,4 F)
Spesifik Gravity: 2.13 (Air = 1)
Properti Dispersi: Lihat kelarutan dalam air.
Kelarutan: Mudah larut dalam air dingin.

Natrium Benzoat

Rumus kimia

C7H5NaO2

Massa molar

144.1 g mol1

Penampilan

Bubuk putih/ kristal


bening

Bau

Tanpa bau

Densitas

1.497 g/cm3

Titik lebur

410 C (770 F)

Kelarutan dalam air

62.7 g/100 mL (0 C)
62.78 g/100 mL (15 C)
62.6 g/100 mL (30 C)
71.11 g/100 mL (100 C)
[1]

Kelarutan

Larut dalam ammonia


cair, piridin

Kelarutan dalam
metanol

8.22 g/100 g (15 C)


7.55 g/100 g (66.2 C)

Kelarutan dalam etanol

2.3 g/100 g (25 C)


8.3 g/100 g (78 C)

Kelarutan dalam 1,4Dioksana

818 g/kg (25 C)