Anda di halaman 1dari 3

TPA Suwung adalah sarana yang dirancang dengan metode sanitary landfill, tetapi

kenyataan dalam pelaksanaan operasionalnya menggunakan system open dumping, sehingga


menimbulkan dampak negatif bagi kualitas lingkungan yang meliputi dampak pencemaran
terhadap air tanah, air sungai, air laut, udara, tumbuhnya hewan hama dan vector penyakit serta
dampak negatif terhadap kesehatan masyarakat sekitarnya. Sistem open dumping di TPA Sampah
Suwung akan sangat berpengaruh terhadap kualitas lingkungan sekitarnya, khusus kualitas air
tanah dangkal di sekitar TPA Suwung. Keberadaan Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Sampah
Suwung sebagai tempat pembuangan, penimbunan sampah dari Kota Denpasar dan Kabupaten
Badung, tidak jauh dari daerah pemukiman penduduk sehingga dikhawatirkan akan dapat
mencemari lingkungan, terutama kualitas air tanah dangkal sebagai sumber air yang
dimanfaatkan masyarakat sekitarnya. Dan sampai saat ini, penduduk yang bermukim di sekitar
TPA Sampah Suwung yaitu di Banjar Pesanggaran, Kelurahan Pedungan masih memanfaatkan
air tanah dangkal (air sumur) sebagai sumber air minum, MCK dan lain sebagainya. Tujuan
penelitian adalah (1) untuk mengetahui konsentrasi parameter pencemar dalam air lindi sampah
(leachate) yang berasal dari Tempat Pembuangan Akhir Sampah Suwung, (2) untuk mengetahui
pengaruh air lindi sampah (leachate) dari Tempat Pembuangan Akhir Sampah Suwung terhadap
kualitas air tanah dangkal yang berada pada jarak 1 375 m dari TPA, (3) untuk mengetahui
status kualitas air tanah dangkal yang berada pada jarak 1 375 m dari Tempat Pembuangan
Akhir Sampah Suwung.
Sesungguhnya, limbah yang dihasilkan deterjen sangat merusak lingkungan. Karena
deterjen merupakan hasil sampingan dari proses penyulingan minyak bumi yang diberi berbagai
tambahan bahan kimia, seperti surfaktan (bahan pembersih), alkyl benzene (ABS) yang
berfungsi sebagai penghasil busa, abrasif sebagai bahan penggosok, bahan pengurai senyawa
organik, oksidan sebagai pemutih dan pengurai senyawa organik, enzim untuk mengurai protein,
lemak atau karbohidrat untuk melembutkan bahan, larutan pengencer air, bahan anti karat dan
yang lainnya.
Berdasarkan penelitian lebih lanjut, diketahui ABS ternyata mempunyai efek buruk
terhadap lingkungan, yaitu sulit diuraikan oleh mikroorganisme. Sehingga sisa limbah deterjen
yang dihasilkan setiap hari oleh rumah tangga akan menjadi limbah berbahaya yang mengancam
stabilitas lingkungan hidup. Limbah deterjen yang dihasilkan rumah tangga akan bermuara pada

sebuah tempat, seperti selokan ataupun kolam. Biasanya, eceng gondok akan tumbuh dengan
populasi yang cukup besar pada ujung selokan.
Detergen memiliki efek beracun dalam air, karena detergen akan menghancurkan lapisan
eksternal lendir yang melindungi ikan dari bakteri dan parasit. Deterjen juga dapat menyebabkan
kerusakan pada insang. Kebanyakan ikan akan mati bila konsentrasi deterjen 15 bagian per juta.
Deterjen dengan konsentrasi rendah, sekitar 5 ppm tetap dapat membunuh telur ikan.
Surfaktan

yang

terkandung

dalam

deterjen

akan

mengurangi

kemampuan

perkembangbiakan organisme perairan. Deterjen juga memiliki andil besar dalam menurunkan
kualitas air. Bahan kimia organik seperti pestisida dan fenol, hanya dengan konsentrasi 2 ppm
saja dapat diserap ikan dua kali lipat dari jumlah bahan kimia lainnya.
Contoh nyata efek buruk dari limbah deterjen adalah Danau Toba. Seperti sama kita
ketahui, eceng gondok tumbuh subur nyaris tidak terkendali pada semua bibir pantai Danau
Toba. Hal tersebut terjadi, selain dari residu pelet yang ditabur pada kerambah yang berserak di
Danau Toba, ditengarai juga berasal dari sisa deterjen yang dipakai masyarakat Danau Toba yang
masih mencuci di perairan ditambah limbah dari restoran, rumah makan dan hotel-hotel yang
berada di sekitar Danau Toba yang membuang limbahnya secara langsung ke dalam danau.
Selain merusak keindahan Danau Toba sebagai daerah tujuan wisata andalan Sumatera
Utara, pertumbuhan eceng gondok yang tidak terkendali itu akan menutupi perairan, sehingga
bagian dasar air tidak terkena sinar matahari. Menyebabkan kadar oksigen berkurang secara
drastis, kehidupan biota air mengalami degradasi dan unsu hara meningkat sangat cepat. Jika hal
tersebut tetap dibiarkan, ikan-ikan akan mati karena kekurangan bahan makanan. Bahkan bisa
mengakibatkan cacat akibat mutasi gen.
Penggunaan deterjen memang seperti buah simalakama, di satu sisi penggunaannya
sangat dibutuhkan dan di sisi lain limbahnya ternyata berefek buruk. Beberapa negara di dunia
secara resmi telah melarang penggunaan zat ABS dalam pembuatan detergen dan
memperkenalkan senyawa kimia baru yang disebut Linier Alkyl Sulfonat (LAS) yang relatif
lebih ramah lingkungan. Akan tetapi penelitian terbaru oleh para ahli menyebutkan bahwa
senyawa ini juga menimbulkan kerugian yang tidak sedikit terhadap lingkungan. Menurut data
yang diperoleh bahwa dikatakan alam lingkungan membutuhkan waktu selama 90 hari untuk
mengurai LAS dan hanya 50 persen dari keseluruhan yang dapat diurai.

Sebagai insan yang perduli dengan keselamatan lingkungan, ada beberapa hal yang dapat
dilakukan untuk sedikit menekan efek buruk yang ditimbulkan penggunaan deterjen. Sebelum
memilih jenis deterjen, perhatikan jenis surfaktan yang terkandung dalam deterjen. Pilihlah yang
mengandung LAS atau LABS ( Linear Alkyl Benzene Sulfonate) bukan ABS yang sulit terurai.
Pilih deterjen yang sama sekali tidak mengandung fosfat atau yang kadar fosfatnya sangat
rendah. Limbah cucian dengan kadar fosfat rendah sebaiknya digunakan untuk menyiram
tanaman karena fosfat sangat baik untuk tanah dan tanaman, tapi tidak baik untuk badan air.
Beberapa deterjen mengandalkan produknya sebagai deterjen berlimpah busa, sebaiknya pilih
saja detergen yang mengandung sedikit busa. Sehingga air yang digunakan untuk membilas tidak
terlalu banyak. Terakhir, gunakan produk lokal. Selain membudayakan cinta produk dalam
negeri dan membantu perekonomian, penggunaan produk lokal akan meminimalisir jejak karbon
yang dihasilkan dari transportasi.