Anda di halaman 1dari 10

Syariah II

BAB I Pendahuluan
1.1 Latar Belakang Masalah
Latar belakang pembuatan makalah ini ialah untuk memberikan penjelasan tentang Zakat,
Wakaf, Sedekah dan Keharaman RIba. Selain itu makalah ini juga merupakantugas untuk mata
kuliah agama islam. Seperti yang kita ketahui, masih banyak orang diluar sana yang belum
begitu mengerti tentang apa itu Zakat, Wakaf, Sedekah dan Keharaman Riba beserta ketentuang
ketentuanya.
Zakat merupakan salah satu rukun Islam yang ketiga, zakat merupakan suatu ibadah
yangpalingpenting. Kerap kali dalam Al-Quran, Allah menerangkan zakat beriringan dengan
menerapkan sembahyang.Pada 82 tempat Allah menyebutkan Zakat beriringan dengan urusan
solat, ini menunjukan bahwa zakat dan solat mempunyai hubungan yang rapat sekali dalam hal
keutamaannya. Solat dipandang seutama-utama ibadah badaniyah, zakat dipandang seutamautama ibadah maliyah.
Wakaf merupakan salah satu ibadah kebendaan yang penting yang secara eksplisit tidak memiliki
rujukan dalam kitab suci Al-quran dan sunnah. Oleh karena itu, ulama telah melakukan
identifikasi untuk mencari Induk Kata sebagai sandaran hokum.
Defini sedekah dalam agama islam adalah suatu pemberian yang diberikan oleh seorang muslim
kepada orang lain secara spontan dan sukarela tanpa dibatasi oleh waktu dan jumlah tertentu;
suatu pemberian yang diberikan oleh seseoraang sabagai kebajikan yangmengharap ridha Allah
SWT dan pahala semata.
Dalam kehidupan seperti sekarang ini, umat islam hamper tidak bisa menghindari diri dari
bermuamalah dengan bank konvensional yang memakai system bunga dalam segala aspek
kehidupannnya. Juga tidak bisa dipungkiri bahwa Negara kita belum lepas dari bank bank
konvensional yang berorientasi pada bank bank internasional dan tentunya menggunakan suku
bunga dalam berbagai transaksi, dan hingga saat ini pula masih banyak terjadi perbedaan
pendapat dikalangan para ulama muslim tentang keharaman riba itu sendiri.
1.2 Rumusan Masalah
1.Apa yang dimaksud zakat dan ketentuan-ketentuannya?
2.Apa yang dimaksud waqaf dan ketentuan-ketentuannya?
3.Apa yang dimaksud Sadaqah?
4.Apa yang dimaksud Riba dan hukumnya?

1.3 Tujuan Penulisan


1. Dapat memahami zakat dan ketentuannya
2. Dapat memahami waqaf dan ketentuannya
3.Dapat memahami Sadaqah
4. Dapat memahami Riba dan ketentuannya.
1.4 Manfaat penulisan
Manfaat penulisan ini adalah untuk mengetahui definisi dan ketentuan dari zakat, wakaf,
sedekah, dan keharaman riba, serta cara menerapkannya di kehidupan sehari-hari demi
terciptanya keselarasan dalam menjalani kehidupan

BAB II ISI
A. Zakat

Istilah zakat berasal dari kata Arab yang berarti suci atau kesucian, atau arti lain yaitu
keberkahan. Menurut istilah Agama Islam zakat adalah ukuran/kadar harta tertentu yang
harus dikeluarkan oleh pemiliknya untuk diserahkan kepada golongan/orang-orang yang
berhak menerimanya dengan syarat-syarat tertentu. Jadii seorang muslim yang telah memiliki
harta dengan jumlah tertentu (nisab) sesuai dengan ketentuan dan waktu tertentu (haul) yaitu
satu tahun, wajib mengeluarkan zakatnya. Oleh sebab itu Hukum dari melaksanakan zakat
adalah Fardhu Ain (wajib bagi setiap orang) bagi oarang yang mampu.
Adapun Tujuan zakat adalah sebagaimana firman Allah dalam surat at- Taubah ayat 103 :
Ambillah zakat dari harta mereka, guna membersihkan dan menyucikan mereka, dan
berdoalah untuk mereka. Sesungguhnya doamu itu (menumbuhkan) ketentraman jiwa bagi
mereka. Allah Maha Mendengar, Maha Mengetahui.
Jadi tujuan Allah memerintahkan umat Islam untuk membayar zakat adalah agar harta yang
dimilikinya menjadi bersih dan suci. Karena kalau tidak dibayarkan zakatnya, harta yang
dimiliki menjadi kotor dan haram karena tercampur hak orang lain yang dititipkan kepada
orang yang berhak mengeluarkan zakat.
Macam-macam Zakat
a.

Zakat Fitrah

Zakat fitrah juga disebut zakat jiwa yaitu setiap jiwa/orang yang beragama Islam harus
memberikan harta yang berupa makanan pokok kepada orang yang berhak menerimanya, dan
dikeluarkan pada bulan Ramadhan sampai dengan sebelum shalat Idul Fitri pada bulan
Syawalfitrah berarti suci, sehingga tujuan kegiatan itu untuk mensucikan setiap jiwa seorang
muslim pada setiap tahunnya. banyaknya yang harus kita berikan perorang/jiwa sebanyak 3,1
Liter atau sekitar 2,5 Kg dan hanya diberikan dalam setahun sekali.
b. Zakat Maal
Zakat Maal juga disebut zakat harta yaitu kewajiban umat Islam yang memiliki harta benda
tertentu untuk diberikan kepada yang berhak sesuai dengan ketentuan nisab (ukuran
banyaknya) dan dalam jangka waktu tertentu.
Ketentuan-Ketentuan Zakat Maal
Adapaun harta benda yag wajib dizakati adalah :
1) Binatang ternak ( zakat Anam )
Binatang ternak yang wajib dizakati adalah :
a) Unta
Jumlah peling sedikit yang harus dizakati bagi yang memiliki unta adalah 5 unta dan
kelipatannya dengan zakat seekor kambing dan kelipatannya.
b) Sapi/Kerbau

2)
3)

4)
5)

Jumlah minimal seseorang wajib mengeluarkan zakat sapi/kerbau yang


kepemilikannya lebih dari 1 tahun adalah 30 sapi, maka wajib mengeluarkan zakat 1
ekor sapi/kerbau usia 1 tahun.
c) Kambing/domba
Jumlah minimal kepemilikan kambing yang harus dizakati adalah 40 ekor dengan
zakat 1 ekor kambing dengan usia 2 tahun lebih atau domba dengan usia 1.
d) Unggas
Untuk ketentuan zakat unggas ini disamakan dengan batas nisab emas yaitu 93,6
gram. Jika harga emas Rp. 65.000/gram maka emas 93,6 gr x Rp. 65.000 = Rp.
6.084.000,00.
Apabila seseorang memiliki usaha unggas dalam satu tahunnya memiliki keuntungan
Rp. 6.084.000,00 maka yang bersangkutan telah wajib membayar zakat 2,5 % dari
total keuntungan selama 1 tahun.
Emas dan perak (zakat nuqud)Adapun zakat yang harus dikeluarkan adalah 2,5 %.
Harta perniagaan/perusahaan/perdagangan ( Zakat Tijarah)
Nisab harta dagangan ini disamakan dengan kekayaan emas seberat 93,6 grm, apabila
seseorang dalam berdagang selama satu tahun keuntungannya minimal seharga emas
93,6 gram maka berdagang apapun seseorang telah wajib mengeluarkan 2,5 %
Hasil pertanian dan perkebunan ( zakat Ziraah)
Zakat hasil pertanian dan perkebunan ini apabila hasilnya minimal seharga emas 93,6
gram, Apabila hasilnya lebih dari itu maka petani wajib zakat dengan ketentuan.
Barang Temuan ( Zakat Rikaz)Yang dimaksud barang temuan/ rikaz adalah barangbarang berharga yang terpendam peninggalan orang-orang terdahulu. adapun jumlah
nisabnya seharga emas 93,6 gramdan dizakati 20 % dari nilai emas tersebut.

orang yang berhak menerima zakat diatas, dapat dirinci sebagai berikut :
a. Fakir dalah orang yang tidak memiliki harta benda dan tidak memiliki pekerjaan
untuk mencarinya
b. Miskin adalah orang yang memiliki harta tetapi hanya cukup untuk memenuhi
kebutuhan hidupnya
c. Amil adalah orang yang mengelola pengumpulan dan pembagian zakat
d. Muallaf adalah orang yang masih lemah imannya karena baru mengenal dan
menyatakan masuk Islam
e. Budak yaitu budak sahaya yang memiliki kesempatan untuk merdeka tetapi tidak
memiliki harta benda untuk menebusnya.
f. Garim yaitu orang yang memiliki hutang banyak sedangkan dia tidak bisa
melunasinya.
g. Fisabilillah adalah orang-orang yang berjuang di jalan Allah sedangkan dalam
perjuangannya tidak mendapatkan gaji dari siapapun.
h. Ibnu Sabil yaitu orang yang kehabisan bekal dalam perjalanan, sehingga sangat
membutuhkan bantuan
B. Wakaf
Secara etimologi (bahasa), wakaf artinya diam, tetap, atau berdiri.

Sedangkan secara terminologi (istilah para ahli fiqh), wakaf artinya mengabadikan
(menetapkan) sesuatu dan menjalankan (melepaskan) kemanfaatan atau kegunaannyadengan
mengharap pahala dari Alloh Taala.
Hukum asal wakaf adalah sunnah apabila dengan niat mencari pahala dari Alloh Taala. Akan
tetapi suatu ketika wakaf hukumnya bisa berubah sesuai dengan niatnya, karena setiap
amalan tergantung pada niatnya.
Sebagai contoh:
Seorang yang mewakafkan tanahnya dengan maksud supaya mendapatkan pujian manusia
maka hukum wakafnya menjadi haram, karena ini termasuk riya yang diharamkan dalam
Islam.
Rukun Wakaf
1) Orang yang berwakaf (wakif), syaratnya;
a. kehendak sendiri
b. berhak berbuat baik walaupun non Islam
2) sesuatu (harta) yang diwakafkan (mauquf), syartanya;
a. barang yang dimilki dapat dipindahkan dan tetap zaknya, berfaedah saat
diberikan maupun dikemudian hari
b. milik sendiri walaupun hanya sebagian yang diwakafkan atau musya
(bercampur dan tidak dapat dipindahkan dengan bagian yang lain
3) Tempat berwakaf (yang berhak menerima hasil wakaf itu), yakni orang yang memilki
sesuatu, anak kandung tidak syah.
4) Akad, misalnya: Saya wakafkan ini kepada masjid, sekolah orang yang tidak mampu
dan sebagainya tidak perlu qabul (jawab) kecuali yang bersifat pribadi (bukan
bersifat umum)

Ada dua cara/jalan yang dapat dianggap sebagai wakaf yang sah, yaitu:
1. Dengan perbuatan
Apabila seseorang mewakafkan sebagian hartanya dengan cara melakukan sesuatu yang
bermakna wakaf maka cara ini juga dianggap sebagai wakaf yang sah, walaupun dia tidak
mengucapkan kata wakaf dengan lisannya.
Sebagai contoh: Apabila seseorang membangun masjid kemudian membiarkan siapa saja
yang shalat dalarn masjid itu maka ini sama halnya orang tersebut mewakafkan tanahnya di
jalan Alloh shallallahu alaihi wa sallam walaupun dia tidak mengucapkan: Tanah ini aku
wakafkan untuk masjid.
Contoh lain: Apabila seorang menjadikan sebagian tanahnya untuk pekuburan umum dan
tidak melarang siapa saja yang menguburkan jenazah di sana, maka ini sama halnya orang

tersebut mewakafkan sebagian tanahnya di jalan Alloh Taala, walaupun dia tidak
mengucapkan: Tanah ini aku wakafkan menjadi kuburan umum.
2. Dengan perkataan
Wakaf dengan perkataan dibagi menjadi dua macam:
a. Perkataan yang jelas (sharih), maksudnya adalah dengan perkataan yang bermakna wakaf
secara jelas dan tidak mengandung arti selain wakaf. Contohnya, seorang berkata: Aku
wakafkan tanahku ini untuk pesantren.
b. Perkataan kiasan (kinayah), yaitu dengan perkataan yang mengandung kemungkinan
bermakna wakaf dan mengandung kemungkinan makna yang lain.
Contohnya, seorang berkata: Aku sedekahkan rumah ini untuk para penuntut ilmu.
Maka perkataan Aku sedekahkan dalam contoh di atas mengandung kemungkinan
bermakna sedekah sebagaimana lafazh yang tersurat dan mengandung kemungkinan
bermakna wakaf sebagaimana yang tersirat dan sebagaimana yang sering digunakan lafazh
ini untuk maksud wakaf.
Untuk membedakan dua makna yang terkandung di dalamnya maka orang yang
mengucapkan kalimat tersebut harus disertai niat salah satu dari dua maksud/makna tersebut,
kalau dia mengatakan: Aku sedekahkan tetapi niatnya adalah mewakafkan maka ini
dihukumi sebagai wakaf, tetapi kalau dia menginginkan/berniat sedekah maka perkataannya
dihukumi sebagai sedekah.
Syarat sah wakaf
a. Hendaknya orang yang mewakafkan adalah pemilik sah harta tersebut
b. Barang yang diwakafkan dapat dimanfaatkan
c. Barang yang diwakafkan tetap ada dan tidak habis walaupun telah
dimanfaatkan.
d. Hendaknya mewakafkan sesuatu di jalan Alloh untuk selama-lamanya.
e. Hendaknya pemilik harta tidak memberi syarat dalam wakafnya dengan syarat
yang menyelisihi sahnya wakaf atau membatalkan wakaf tersebut.
C. Shodaqa
Sedekah secara umum adalah pemberian sebuah barang atau apapun kepada orang lain
dengan benar-benar mengharap keridhoan Allah SWT.Sedekah atau shadaqah berasal dari
kata shadaqa yang berarti benar. Orang yang suka bersedekah adalah orang yang benar
pengakuan imannyaMenurut terminologi syariat, pengertian sedekah sama dengan pengertian
infak, termasuk juga hukum dan ketentuan-ketentuannya. Infak hanya berkaitan dengan
materi sedangkan sedekah memiliki arti luas, menyangkut hal yang bersifat nonmaterial.
Para fuqaha sepakat hukum sedekah pada dasarnya adalah sunah, berpahala bila dilakukan
dan tidak berdosa jika ditinggalkan. Di samping sunah, adakalanya hukum sedekah menjadi
haram yaitu dalam kasus seseorang yang bersedekah mengetahui pasti bahwa orang yang

bakal menerima sedekah tersebut akan menggunakan harta sedekah untuk kemaksiatan.
Terakhir ada kalanya juga hukum sedekah berubah menjadi wajib, yaitu ketika seseorang
bertemu dengan orang lain yang sedang kelaparan hingga dapat mengancam keselamatan
jiwanya, sementara dia mempunyai makanan yang lebih dari apa yang diperlukan saat itu.
Hukum sedekah juga menjadi wajib jika seseorang bernazar hendak bersedekah kepada
seseorang atau lembaga.
Menurut fuqaha, sedekah dalam arti sadaqah at-tatawwu berbeda dengan zakat. Sedekah
lebih utama jika diberikan secara diam-diam dibandingkan diberikan secara terang-terangan
dalam arti diberitahukan atau diberitakan kepada umum. Hal ini sejalan dengan hadits Nabi
SAW dari sahabat Abu Hurairah. Dalam hadits itu dijelaskan salah satu kelompok hamba
Allah SWT yang mendapat naungan-Nya di hari kiamat kelak adalah seseorang yang
memberi sedekah dengan tangan kanannya lalu ia sembunyikan seakan-akan tangan kirinya
tidak tahu apa yang telah diberikan oleh tangan kanannya tersebut.
Sedekah lebih utama diberikan kepada kaum kerabat atau sanak saudara terdekat sebelum
diberikan kepada orang lain. Kemudian sedekah itu seyogyanya diberikan kepada orang yang
betul-betul sedang mendambakan uluran tangan. Mengenai kriteria barang yang lebih utama
disedekahkan, para fuqaha berpendapat, barang yang akan disedekahkan sebaiknya barang
yang berkualitas baik dan disukai oleh pemiliknya. Hal ini sesuai dengan firman Allah SWT
yang artinya; Kamu sekali-kali tidak sampai kepada kebaktian (yang sempurna), sebelum
kamu menafkahkan sebagian harta yang kamu cintai (QS Ali Imran [3]: 92).
Pahala sedekah akan lenyap bila si pemberi selalu menyebut-nyebut sedekah yang telah ia
berikan atau menyakiti perasaan si penerima. Hal ini ditegaskan Allah SWT dalam firmanNya yang berarti: Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menghilangkan (pahala)
sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti perasaan si penerima. (QS Al
Baqarah [2]: 264).

D. Riba

Pengertian Riba
Riba secara bahasa bermakna; ziyadah (tambahan). Dalam pengertian lain, secara
linguistik riba juga berarti tumbuh dan membesar.
Menurut istilah teknis, riba berarti pengambilan tambahan dari harta pokok atau modal secara
batilKata riba juga berarti ; bertumbuh menambah atau berlebih. Al-riba atau ar-rima makna
asalnya ialah tambah tumbuh dan subur. Adapun pengertian tambah dalam konteks riba
adalah tambahan uang atas modal yang diperoleh dengan cara yang tidak dibenarkan syara.
2.

Jenis-Jenis Riba
Secara garis besar riba dikelompokkan menjadi dua. Masing-masing adalah riba
utang-piutang dan riba jual-beli. Kelompok yang pertama terbagi lagi menjadi riba jahiliyah

dan qardh. Sedangkan kelompok kedua riba jual beli terbagi menjadi riba Afdhl dan riba
nasiah. Adapun penjelasannya sebagai berikut
a. Riba Qardh
Suatu manfaat atau tingkat kelebihan tertentu yang disaratkan terhadap yang berhutang
(Muqtaridh).
b. Riba Jahiliyah
Utang dibayar lebih dari pokoknya, karena si peminjam tidak mampu membayar hutangnya
pada waktu yang ditentukan.
c. Riba fadhl
Pertukaran antar barang sejenis dengan kadar atau takaran yang berbeda, sedangkan barang
yang dipertukarkan itu termasuk jenis barang ribawi.
d. Riba nasiah
Penangguhan, penyerahan atau penerimaan jenis barang ribawi yang dipertukarkan dengan
jenis barang ribawi lainya. Riba dalam nasiah muncul karena adanya perbedaan, perubahan
atau tambahan antar yang diserahkan saat ini dengan yang diserahkan kemudian.
3. Hukum Riba
Hukum riba dalam Islam telah ditetapkan dengan jelas, yakni dilarang dan termasuk
dari salah satu perbuatan yang diharamkan.

BAB III KESIMPULAN


Islam zakat adalah ukuran/kadar harta tertentu yang harus dikeluarkan oleh pemiliknya untuk
diserahkan kepada golongan/orang-orang yang berhak menerimanya dengan syarat-syarat
tertentu.
wakaf artinya mengabadikan (menetapkan) sesuatu dan menjalankan (melepaskan)
kemanfaatan atau kegunaannyadengan mengharap pahala dari Alloh Taala.
Sedekah secara umum adalah pemberian sebuah barang atau apapun kepada orang lain
dengan benar-benar mengharap keridhoan Allah SWT
Kata riba juga berarti ; bertumbuh menambah atau berlebih. Intinya riba itu haram dan tidak
boleh dilakukan.