Anda di halaman 1dari 2

Hanifah Atsariyana

XI - IA 1
16

Indra Penciuman (Hidung)

Hidung merupakan organ penciuman dan jalan utama keluar masuknya udara dari dan ke
paru-paru. Hidung juga memberikan tambahan resonansi pada suara dan merupakan tempat
bermuaranya sinus paranasalis saluran air mata.
Fungsi hidung :
1. Hidung berfungsi sebagai organ untuk membau karena reseptor bau terletak di mukosa
bagian atas hidung
2. Hidung membantu menghasilkan dengungan (fonasi)
3. Menghirup udara pernapasan
4. Menyaring udara
5. Menghangatkan udara pernapasan
6. Menyiapkan udara inhalasi agar dapat digunakan paru-paru, mempengaruhi refleks
tertentu pada paru-paru dan memodifikasi bicara
7. Berperan dalam resonansi suara
Struktur hidung
a. Struktur hidung luar
1. Kubah tulang : letaknya paling atas dan bagian hidung yang tidak bisa digerakkan.
2. Kubah kartilago (tulang rawan) : letaknya di bawah kubah hidung dan bagian
hidung yang bisa sedikit digerakkan.
3. Lobulus hidung : letaknya paling bawah dan bagian hidung yang paling mudah
digarakkan.
b. Struktur penting hidung
1. Dorsum nasi (batang hidung)
Struktur yang membangun dorsum nasi :
i.
Bagian kaudal dorsum nasi : merupakan bagian lunak dari dorsum nasi.
Tersusun oleh kartilago lateralis dan kartilago alaris. Jaringan ikat yang keras
menghubungkan antara kulit dan perikondrium pada kartilago alaris.
ii. Bagian cranial dorsum nasi : merupakan bagian yang keras dari dorsum nasi.
Tersusun oleh os. Nasalis dan os. Maksila prosesus frontalis.
2. Septum nasi
Fungsi utama septum nasi :
Menopang dorsum nasi (batang hidung)
Membagi kavum nasi (lubang hidung) menjadi dua.
Struktur yang menbangun septum nasi adalah 2 tulang dan 2 kartilago. Septum
nasi membentang dari lubang hidung sampai ke tenggorokan bagian belakang.
3. Kavum nasi (lubang hidung)
Pintu masuk kavum nasi disebut nares anteriores atau nosetril sedaangkan batas
antara kavum nasi dan nasopharynx adalah choana (nares posteriores). Kavum
nasi merupakan suatu ruangan yang dibatasi oleh atap, lantai, lateral, dan medial.
a. Atap kavum nasi : os. Frontalis, os. Ethomoidal, os. Sphenoidal
b. Lantai kavum nasi : palatum durum (processus palatina os. Maxilla, lamina
horisontal os. palatina)
c. Dinding lateral :
Os. Nasal, os. Maxilla, os. Lacrimal, os. Ethomoidal, os. Concha nasalis
inferior, dan pars perpendicularis os. palatini
Cartilago lateralis nasi, cartilago alaris mayor crus lateral, caartilago alaris
minor, dan cartilago sessamoid.

Proses membau :

Bau di udara pernapasan masuk rongga hidung larut dalam selaput lendir
diterima saraf pembau menuju otak terjadi kesan bau.
Manusia mampu mendeteksi bau dengan menggunakan sel-sel reseptor yang ada di dalam
hidung. Sel-sel sensori penerima rangsang gas kimia (kemoreseptor) terdapat pada lapisan
epitelium yang terletak di sebelah dorsal rongga hidung, dan terlindung oleh lendir (mukus). Di
akhir setiap sel sensori terdapat beberapa silia atau rambut pembau. Molekul-molekul yang larut
dalam air dan lemak yang ada di udara akan larut dalam lapisan lendir tersebut dan menimbulkan
sensasi bau.
Aktifnya indra pembau dirangsang oleh gas yang terhirup oleh hidung. Indra pembau
tersebut sangat peka dan kepekaannya mudah hilang jika dihadapkan pada bau yang sama dalam
jangka waktu yang lama. Contohnya jika berada di ruangan yang sesak dan pengap, maka tidak
akan segera merasakan bau di ruangan tersebut.
Daerah yang sensitif terhadap bau terletak pada bagian atap rongga hidung. Pada daerah yang
sensitif ini terdapat 2 jenis sel sebagai berikut :
a. Sel penyokong berupa sel-sel epitel
b. Sel-sel pembau sebagai reseptor yang berupa sel-sel saraf
Gangguan pada hidung biasanya disebabkan oleh radang atau sakit pilek yang menghasilkan
lendir atau ingus sehingga menghalangi bau sampai ujung saraf pembau. Gangguan lain juga
dapat disebabkan oleh adanya kotoran pada hidung dan bulu hidung yang terlalu banyak .Kita
harus selalu membersihkan hidung dari kotoran dan merapikan bulu-bulunya supaya penciuman
kita tidak terganggu.
Kelainan-kelainan pada indra pembau (hidung) :
1. Anosmia
Anosmia adalah hilangnya atau berkurangnya kemampuan untuk membau. Dapat
disebabkan oleh penyumbatan rongga hidung karena polip atau tumor, atau reseptor
pembau rusak karena infeksi virus, sehingga menyebabkan kemampuan membaui dan
mengecap berkurang.
2. Salesma (cold) dan Influenza (cold)
Salesma dan influenza merupakan infeksi pada alat pernapasan yang disebabkan oleh
virus flu yang menyebabkan tersumbatnya rongga hidung, pada umumnya menyebabkan
batuk, pilek, sakit leher, dan kadang-kadang panas atau atau sakit pada persendian.
Gejalanya mencret ringan terutama pada anak-anak.
3. Gangguan sinus (sinusitis)
Sinusitis merupakan peradangan sinus, yaitu rongga-rongga dalam tulang yang
berhubungan dengan rongga hidung, yang gawat dan biasanya terjadi dalam waktu
menahun (kronis).
Tanda-tanda sinusitis :
a. Sakit pada muka disekitar mata. Pada daerah ini jika diketuk tulangnya atau
menundukkan kepala, muka akan terasa sakit.
b. Hidung sering sekali tersumbat oleh adanya nanah atau ingus yang kental.
c. Kadang-kadangdiikuti oleh panas.
4. Peradangan hidung karena alergi (rhinitis Allergica)
Rhinitis Allergica disebabkan oleh adanya reaksi alergi pada hidung yang ditimbulkan
oleh masuknya substansi asing ke dalam saluran tenggorokan.