Anda di halaman 1dari 2

alaria merupakan salah satu masalah kesehatan masyarakat di Indonesia dengan 15 juta kasus dan

mengakibatkan 38.000 kematian setiap tahun (SKRT 2001). Hal itu berarti ada 4 kematian setiap jam
atau sekitar 100 kematian setiap hari akibat malaria.

Salah satu kelompok yang rentang terhadap malaria adalah ibu hamil. Malaria dapat mengakibatkan
berbagai dampak negatif terhadap ibu hamil dan janin yang dikandungnya. Malaria dapat
mengakibatkan kematian ibu dan kematian bayi, atau menyebabkan berbagai komplikasi pada ibu,
janin, dan bayi baru lahir. Komplikasi malaria pada ibu hamil meliputi anemia, demam, hipoglikemia,
malaria serebral, edema paru, dan sepsis. Terhadap janin dalam kandungan, malaria dapat
mengakibatkan berat lahir rendah, abortus/keguguran, kelahiran prematur, kematian janin dalam
kandungan (intra-uterine fetal death, IUFD), gangguan/hambatan pertumbuhan janin (intra-uterine
growth retardation, IUGR), dan malaria bawaan.

Hasil penelitian WHO pada tahun 2005 di Lampung menunjukkan angka kejadian malaria pada ibu
hamil sebanyak 14%. Sementara itu data dari rumah sakit di Timika Papua tahun 2004-2006
menunjukkan bahwa pada kelompok ibu melahirkan, 16,8% di antaranya menderita malaria.

Untuk mencegah dan menanggulangi malaria pada ibu hamil, diperlukan integrasi program ANC dalam
upaya-upaya:
Pencegahan dan pengobatan malaria yang memadai pada ibu hamil diawali dengan kegiatan pendataan
ibu hamil dalam Program Perencanaan Persalinan dan Pencegahan Komplikasi (P4K).
Penggunaan kelambu berinsektisida bagi ibu hamil/pasca melahirkan dan bayinya. Kelambu diberikan
pada saat ibu hamil melakukan pemeriksaan kehamilannya pada triwulan pertama (K1 murni).
Kemudahan akses pelayanan kesehatan yang cepat untuk diagnosis dan pengobatan malaria.
Tanggap darurat terhadap kejadian luar biasa dan kegawatdaruratan akibat malaria.
Peran serta aktif keluarga dan masyarakat dalam pencegahan malaria pada ibu hamil dan bayi
Diagnosis pasti malaria ditegakkan dengan pemeriksaan sediaan darah malaria baik secara mikroskopis
(apusan darah tebal dan tipis) maupun dengan rapid diagnostic test (RDT). Pengobatan malaria hanya
dapat diberikan setelah diagnosis pasti ditegakkan melalui pemeriksaan sediaan darah.

Menurut WHO Guideline on Malaria Treatment (WHP 2006), obat antimalaria yang aman untuk
trimester pertama kehamilan adalah kina. Klindamisin juga aman, tetapi harus dikombinasikan. Kina
juga merupakan obat pilihan karena paling efektif dan dapat digunakan di semua masa kehamilan.
Sedangkan artemisinin-based combination therapy (ACT) diberikan pada trimester 2 dan 3. ACT yang
digunakan di Indonesia adalah dihidroartemisinin-piperakuin (DHP) dan kombinasi artesunatamodiakuin. Klorokuin dan sulfadoksin-pirimetamin (SP) saat ini tidak efektif untuk pengobatan
malaria karena adanya peningkatan resistensi. Sedangkan obat antimalaria yang tidak boleh digunakan
selama kehamilan adalah tetrasiklin, doksisiklin, dan primakuin.

Dengan pencegahan dan deteksi dini malaria pada ibu hamil serta penatalaksanaan yang adekuat,
diharapkan angka kesakitan maupun kematian ibu akibat malaria dapat diturunkan. Dengan demikian,
derajat kesehatan ibu hamil di Indonesia sebagai daerah endemis malaria diharapkan akan semakin
meningkat.

(Disarikan dari Buku Acuan Pelayanan Antenatal dalam Pencegahan dan Penanganan Malaria pada Ibu
Hamil, Kementerian Kesehatan RI, 2010)
Posted in Artikel, Hot News, Kesehatan Ibu Hamil
One Response to Ayo