Anda di halaman 1dari 18

BAB I

PENDAHULUAN
A; LATAR BELAKANG

Seluruh kehendak Allah tentang perbuatan manusia itu pada dasarnya terdapat
dalam Al Quran dan penjelasannya dalam sunnah Nabi. Tidak ada yang luput
satupun dari Al Quran. Namun Al Quran bukanlah kitab hukum dalam
pengertian ahli fiqh karena di dalamnya terkandung titah dalam bentuk suruhan dan
larangan , dengan ungkapan lain, Al Quran itu mengandung norma hukum.
Untuk memformulasikan titah Allah ke dalam hukum syara ( menurut istilah
ahli fiqh ) diperlukan suatu usaha pemahaman dan penelusuran atau disebut dengan
ijtihad.
Ijtihad dalam ruang pengembangan hukum Islam perlu dilaksanakan secara
terus menerus guna mengisi kekosongan hukum, sebab tidak mungkin ijtihad ulama
terdahulu dapat mencakup semua hal secara mendetail pada ketentuan hukum masa
sekarang. Apalagi saat ini frekuensi perubahan tingkah laku manusia sangat tinggi jika
dibandingkan dengan masa masa sebelumnya. Ijtihad yang dilaksanakan tidak boleh
menyimpang dari prinsip prinsip kemashlahatan dan harus sesuai dengan tujuan
syariat.
Oleh karena itu, diperlukan adanya syarat syarat orang yang beritihad,
macam macam ijtihad yang sesuai dengan syariat, peringkat atau tingkatan ijtihad,
lapangan ijtihad, dan urgensi ijtihad pada setiap masa. Yang akan dibahas secara detail
dalam makalah ini.
B; RUMUSAN MASALAH
1; Apakah Definisi ijtihad ?
2; Apakah dasar hukum ijtihad ?
3; Apakah syarat syarat Mujtahid ?
4; Apa saja Macam-macam Ijtihad
5; Apa saja peringkat Mujtahid ?
6; Apa saja lapangan Ijtihad ?
7; Apakah Urgensi Ijtihad Pada Setiap Masa ?

C; TUJUAN

1 | Page

1; Untuk mengetahui Definisi ijtihad


2; Untuk mengetahui dasar hukum ijtihad
3; Untuk mengetahui syarat syarat Mujtahid
4; Untuk mengetahui macam-macam Ijtihad
5; Untuk mengetahui peringkat Mujtahid
6; Untuk mengetahui apa lapangan Ijtihad
7; Untuk mengetahui urgensi Ijtihad Pada Setiap Masa

2 | Page

BAB II
PEMBAHASAN

A; Pengertian Ijtihad

Kata Ijtihad dalam lisanul Arab diambil dari kata al-Jahd dan al-Juhd,
secara umum berarti al-Thaqah, yaitu tenaga, kuasa dan daya. Menurut arti harfiyah,
ijtihad berarti mencurahkan tenaga, menguras pikiran, berusaha dengan sungguhsungguh, bekerja dengan semaksimal mungkin untuk mendapatkan sesuatu yang
diinginkan. Menurut istilah, ijtihad adalah upaya maksimal dari seorang fiqih
(mujtahid) dalam memperoleh ketentuan hukum yang bersifat dhanny. Menurut AlGhazali, melaksanakan ijtihad merupakan perbuatan yang bersifat dhanny yang sangat
berat dan sulit, hasil dari ijtihad itu harus diyakini baik oleh mujtahid itu sendiri
maupun oleh pengikutnya.
Disamping pengertian di atas, para pakar hukum Islam memberikan batasan
pengertian ijtihad dalam arti sempit dan luas. Menurut pengertian yang sempit, ijtihad
sama artinya dengan pengertian qiyas, dengan kata lain ijtihad itu hanya menjalankan
qiyas atau membandingkan suatu hukum dengan hukum yang lain. Sedangkan dalam
arti luas, Ijtihad adalah mempergunakan segala kesanggupan untuk mengeluarkan
hukum syara dari kittabullah dan hadis atau usaha maksimal dalam melahirkan
hukum-hukum syariat dari dasar-dasarnya melalui pemikiran dan penelitian yang
serius.
B; Dasar Hukum Ijtihad
Ijtihad bisa dipandang sebagai salah satu metode untuk menggali sumber
hukum Islam. Yang menjadi landasan diperbolehkannya ijtihad itu banyak sekali, baik
melalui pernyataan yang jelas maupun bedasarkan isyarat, di antaranya :
Firman Allah SWT QS. An Nisa : 105 :1


Sesungguhnya kami telah menurunkan kitab kepadamu dengan membawa
kebenaran, supaya kamu mengadili antara manusia dengan apa yang telah Allah
wahyukan kepadamu.
Dalam ayat lain, Allah SWT juga berfirman :

Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda tanda ( kebesaran Allah )
bagi kaum yang memikirkan. ( QS. Ar Radu : 3 )2
1 Al Quran Terjemah, QS. An Nisa ayat 105, hlm. 95
2 Al Quran Terjemah, QS. Ar Radu : 3, hlm. 249
3 | Page

Hadits Nabi Muhammad yang membolehkan berijtihad. Di antaranya hadits


yan diriwayatkan oleh Umar.

Jika seorang hakim menghukumi sesuatu dan benar, maka ia mendapat dua pahala,
dan bila salah maka ia mendapat satu pahala.
Demikian juga hadits Nabi yang menerangkan diutusnya seorang sahabat
Muadz Bin Jabal ke Yaman untuk menjadi hakim:
:
: : . : : .
. :
: ( ) .
Bahwasannya Rasulullah SAW ketika hendak mengutus Muadz Bin Jabal ke Yaman
bertanya : Dengan cara apa engkau menetapkan hukum seandainya kepadamu
diajukan suatu perkara : Muadz menjawab : Saya menetapkan hukum
berdasarkan kitab Allah . Nabi bertanya lagi : Bila engkau tidak menemukan
hukumnya di kitab Allah ? Jawab Muadz Dengan sunnah Rasulullah SAW .
Nabi bertanya lagi, kalau dalam sunnah Rasul tidak ditemukan dan tidak pul dalam
kitab Allah ? Muadz menjawab, saya akan menggunakan ijtihad dengan nalar
saya. Nabi bersabda : Segala puji bagi Allah yang telah memberi taufik kepada
utusan Rasulullah yang diridhoi Rasul Allah3
Hal itu diikuti oleh para sahabat setelah Nabi Muhammad wafat. Mereka
selalu berijtihad jika menemukan suatu masalah baru yang tidak terdapat dalam Al
Quran dan Sunnah Rasul.
Demikian juga dalam hal ijma, umat Islam dan berbagai madzhabnya telah
sepakat atas dianjurkannnya ijtihad, dan ijtihad ini telah dipraktikkan dengan benar.4
Akal kita pun mewajibkan ijtihad, karena sebagian besar dalil dalil hukum syara
praktis adalah bersifat zhanni yang menerima beberapa interpretasi pendapat,
sehingga memerlukan adanya ijtihad guna menentukan pendapatnya yang kuat atau
yang terkuat. Demikian juga perkara perkara yang tidak ada nashnya menuntut
adanya ijtihad agar bisa menjelaskan hukum syaranya. Oleh karena itu, syariat Islam
harus menetapkan semua hukum perbuatan hamba hamba Allah SWT maka tidak
ada jalan selain dengan ijtihad.
C; Syarat-syarat Mujtahid
Seorang mujtahid harus memiliki beberapa kriteria kemampuan yang telah ditetapkan,
antara lain:

3 Hadits ini diriwayatkan oleh Abu Dawud dalam Sunan-nya nomor 3592 dan 3593
4 Yusuf Qardhawi, Al Ijtihad Asy Syariah Al Islamiyah maa Nazharat Tahliyyyah fi Al
Ijtihad Al muashir , penj Ahmad Syathori ( Jakarta : PT. Bulan Bintang , 1987 ) , hal. 100

4 | Page

1; Harus mengetahui makna ayat-ayat hukum yang terkandung dalam al-Quran dan

2;
3;
4;
5;

6;

hadis. Ia tidak harus hafal ayat dan hadis tersebut, minimal mengetahui dan dapat
mencari secara cepat bila diperlukan.
Mengetahui bahasa Arab. Karena dengan mengetahui bahasa Arab ia dapat dengan
mudah menafsirkan segala sesuatu yang tersebut dalam al-Quran dan Hadis.
Mengetahui metodologi qiyas dengan baik.
Mengetahui Nasikh dan mansukh, sehingga ia dapat berpegang pada dalil yang
secara hukum sudah tidak dipakai lagi.
Harus mengetahui kaidah-kaidah ushul dengan baik dan juga harus mengetahui
dasar-dasar pemikiran yang mendasari rumusan-rumusan kaidah tersebut,
sehingga jika perlu ia menciptakan kaidah sendiri.
Mengetahui maqashid al-ahkam.5
Syarat-syarat ijtihad sebagaimana tersebut diatas merupakan syarat ijtihad yang
ditetapkan oleh ahli hukum Islam di kalangan para Ushuliyah, bukan secara
eksplisit ditetapkan oleh Allah dan Rasul-Nya.

Disamping syarat - syarat tersebut, mujtahid harus memiliki integritas teologis yang
merefleksikan sikap keberagamaan yang jujur dan dan dapat dipercaya. Terakhir seorang
mujtahid harus memiliki pengetahuan tentang zamanya, masyarakatnya, permasalahan umat,
aliran ideology, politik, agama dan mengetahui hubungan masyarakat dengan masyarakat lain
serta sejauh mana interaksi saling memengaruhi antarmasyarakat tersebut.6
Menurut pendapat Syakhrasthani, bahwa hukum ijtihad termasuk fardhu kifayah,
bukan fardhu ain. Artinya, apabila sudah ada satu orang yang telah melakukan ijtihad, maka
gugurlah kewajiban orang lain. Sebaliknya apabila seluruh penduduk pada suatu masa tidak
melakukan ijtihad, maka mereka telah berbuat tidak baik terhadap agamanya, dan apabila ini
terus berlanjut, maka ia akan dekat dengan bahaya dalam melaksanakan kehidutupan
bersama. Alasannya adalah hukum syara yang ijtihadi ( sebagai musabab ) sangat tergantung
pada ijtihad ( sebagai sebab ) . Apabila sebabnya itu tidak dilaksanakan, hukum tersebut
menjadi kosongndan seluruh tindakan dan pendapat menjadi salah. Agar hal ini tidak terjadi,
maka ijtihad terhadap suatu masalah hukum harus dilaksanakan dan hal ini menunjukkan
bahwa kebutuhan pada sosok mujtahid sangat diperlukan. Menutup diri dari ijtihad akan
mengakibatkan kemunduran dan keterbelakangan bagi umat Islam sendiri.

5 Rachmat Syafii, Ilmu Ushul Fiqh, Bandung : CV. Pustaka Setia, 1999
6 Manan Abdul, Reformasi hukum Islam di Indonesia, Rajawali Pers, Jakarta: 2006, halm. 159.

5 | Page

Seberapa jauh peranan ijtihad dapat dilaksanakan oleh para mujtahid, hal ini sangat
tergantung pada kriteria dari seorang mujathid itu sendiri. Para mujtahid yang melaksanakan
ijtihad dalam hukum Islam, menurut para ahli hukum Islam ada beberapa kriteria, yaitu :7
a; Mujtahid mutsaqil, adalah mujtahid yang sangat mandiri dalam melakukan kajian
b;
c;
d;

e;

ijtihadnya .
Mujtahid mutlak yang tidak tsaqil, mereka memilki kriteria yang ideal, tetapi tidak
melahirkan kaidah kaidah sendiri, ia hanya mengikuti kaidah kaidah imamnya.
Mujtahid takhriy, yaitu mereka yang sangat terikat dengan kaidah imamnya
Mujtahid tarjih, yaitu mereka yang tidak dapat memenuhi kriteria kriteria tertentu,
tetapi mereka menguasai ilmu fiqh dengan baik, mngetahui madzhab imamnya, dan
memenuhi dasar ijtihad serta mampu mengaplikasikannya
Mujatahid fatwa, adalah mereka yang cukup menguasai fatwa fatwa imam
madzhabnya, tetapi kurang menguasai kaidah kaida ushul nya, sehingga ia tidak
mempunyai kecakapan dalam menentukan kaidah kaidah tersebut. Hukum Islam.
Pembaruan hukum Islam tidak mungkin dilaksanakan tanpa ada mujtahid yang
memenuhi syarat untuk melaksanakannya. Jika proses ijtihad dapat dilaksanakan
dengan baik dan benar, maka hukum hukum yang dilaksanakan dari proses ijtihad
itu akan benar pula.

D; Macam-macam Ijtihad

Dalam menetapkan macam-macam ijtihad para ahli membagi ijtihad dengan melihat
kepada beberapa titik pandang yang berbeda: 8
1; Karya ijtihad yang dilihat dari segi dalil yang dijadikan pedoman, ada tiga macam:
a; Ijtihad Bayani, yaitu ijtihad untuk menemukan hukum yang terkandung di

dalam nash, namun sifatnya dhanny, baik dari segi ketetapanya maupun dari
segi penunjukanya. Contohnya menetapkan keharusan beriddah tiga kali suci
terhadap istri yang dicerai dalam keadaan tidak hamil, tetapi telah dicampuri,
berdasarkan firman Allah dalam surat al-Baqarah : 228, yang artinya:
Istri-istri yang tertalaq hendaklah beriddah tiga kali quru.
Dalam ayat tersebut, lafadz quru yang memiliki dua pengertian yang berbeda:
bisa berarti bersuci, juga bisa berarti haid. Ijtihad untuk menetapkan
pengertian quru dengan memahami beberapa petunjuk (qarinah) yang ada di
sebut ijtihad bayani.
7 Kutbuddin Aibak, Metodolgi Pembaruan Hukum Islam, Yogyakarta : Pustaka Pelajar,
2008
8 Syarifuddin Amir, Ushul Fiqih, Kencana, Jakarta: 2008, Jilid 2

6 | Page

b; Ijtihad Qiyasi, yaitu ijtihad untuk menggali dan menetapkan hukum terhadap

suatu kejadian yang tidak ditemukan dalilnya secara tersurat dalam nash, baik
secara qathI maupun secara dhanny, juga tidak ada ijma yang telah
menetapkan hukumnya. Ijtihad dalam hal ini untuk menetapkan hukum suatu
kejadian (peristiwa) dengan merujuk pada kejadian yang telah ada hukumnya,
karena antara dua peristiwa tersebut terdapat kesamaan dalam illat hukumnya.
Ijtihad seperti ini adalah melalui metode qiyas dan istihsan.
c; Ijtihad Istilahi, yaitu karya ijtihad untuk menggali, menemukan, dan
merumuskan hukum syari dengan cara menetapkan kaidah kulli untuk
kejadian yang ketentuan hukumnya tidak terdapat di nash, baik qathi maupun
dhanny, dan tidak memungkinkan mencari kaitannya dengan nash yang ada,
juga belum diputuskan dalam ijma. Dasar pegangan dalam ijtihad bentuk
ketiga ini hanyalah jiwa hukum syara yang bertujuan untuk menentukan
kemaslahatan umat, baik dalam bentuk mendatangkan manfaat maupun
menhindari mudarat.
2; Selanjutnya macam ijtihad dilihat dari segi pelaksanaanya atau dari segi siapa
yang terlibat langsung dalam melakukan penggalian dan penemuan hukum untuk
kasus tertentu. dilihat dari segi ini ijtihad dibagi menjadi dua macam, yaitu:
a; Ijtihad Fardi, atau ijtihad perseorangan, yaitu ijtihad yang pelakunya hanya
satu orang. Jenis ijtihad ini memungkinkan untuk dilakukan jika masalah atau
kasus yang dijadikan objek ijtihad bersifat sederhana dan terjadi di tengah
masyarakat yang sederhana, sehingga tidak memerlukan penelitian dan kajian
dari berbagai disiplin ilmu. Mungkin juga mujtahidnya menguasai berbagai
disiplin ilmu yang diperlukan untuk mengkaji masalah tersebut. contohnya
ijtihad dalam menetapkan berlakunya tayamum: apakah berlaku untuk satu
kali shalat atau lebih dari satu kali. Yang mungkin melakukan ijtihad individu
ini hanya mujtahid al-Kamil yang ilmunya dapat melingkupi seluruh bidang
ilmu.
b; Ijtihad Jamai atau ijtihad kolektif, yaitu ijtihad yang dilakukan oleh beberapa
orang secara kolektif (bersama). Ijtihad dalam bentuk ini terjadi karena
masalah yang diselesaikan sangat kompleks (rumit) meliputi bidang yang luas,
sehingga perlu melibatkan banyak ahli dari berbagai disiplin ilmu dan tidak
mungkin dilakukan oleh seorang spesialis pada satu bidang tertentu.
Contohnya mencari dan menentukan hukum bayi tabung. Untuk
menentukan hukumnya tidak dapat dilakukan oleh soeorang ahli hukum
(faqih), tetapi setidaknya melibatkan ahli biologi dan dokter ahli kandungan.

7 | Page

Hasil yang dicapai dalam bentuk ijtihad kolektif ini tidak sama dengan ijma
karena ulama yang berperan dalam ijtihad ini tidak meliputi seluruh ulama
yang menjadi persyaratan bagi suatu ijma.9
E; Peringkat Mujtahid
Ada beberapa tingkatan mujtahid menurut Abu Zahrah, yaitu :

Mujtahid dalam hukum syara


Penempatan mujtahid ini pada peringkat pertama karena melihat hasil temuan yang

dicapai dan ditetapkannya. Mujtahid ini menggali, menemukan, dan mengeluarkan hukum
langsung dari sumbernya. Ia menelaah hukum dari Al Quran dan mengistinbathkan hukum
dari hadits Nabi. Ia menggunakan qiyas dalam menetapkan hukum atas sesuatu yang
dilihatnya ada kesamaan illat ( sebab ) antara hukum yang sudah ada nashnya dengan yang
tidak ada nashnya, atau menggunakan istihan karena dilihatnya qiyas tidak mneyelasaikan
masalah, dan menetapkan hukum atas dasar ,mashlahah mursalah, istishab , dan dalil lain
bila tidak menemukan nash yang memberi petunjuk.

Mujtahid Muntasib
Mujtahid ini dalam berijtihad memilih dan mengikuti ilmu ushul serta metode yang

telah ditetapkan oleh mujathid terdahulu, namun ia tidak mesti terkait pada mujtahid tersebut
dalam menetapkan hukum furu ( fiqh ) meskipun temuan yang ditetapkannya ada kebetulan
yang sama dengan yang telah ditetapkan oleh imam mujtahid yang dirujuknya. Keterikatan
mujtahid ini dengan mujtahid sebelumnya karena ia berguru pada mujathid tersebut dan
mengambil cara cara yang dipergunakan oleh gurunya dalam berijtihad. Dalam beberapa
hal ia pun berbeda pendapat dengan gurunya itu.

Mujatahid Madzhab
Mujtahid madzhab ialah ,mujtahid yang mengikuti imam madzhab tempat ia

bernaung, baik dalam ilmu ushul maupun dalam furu ( cabang ). Ia mengikuti temuan yang
dicapai imam madzhab dan tidak menyalahi apa yang ditetapkan oleh imamnya.

9 Syarifuddin Amir, Ushul Fiqih, Kencana, Jakarta: 2008, Jilid 2, halm: 286-293.
8 | Page

Mujtahid ini dalam beberapa literatur disebut juga dengan mujtahid mukharrij, karena
posisinya dalam ijtihad adalah mentakhrijkan ( mengeluarkan ) pendapat imam mujtahid
dalam menjawab persoalan hukum pada kasus lain yang serupa.10

Mujtahid Murajjih
Mujtahid murajjih adalah mujtahid yang berusaha menggali dan mengenal hukum

furu, namun ia tidak sampai mengistinbathkan sendiri hukum dari dalil syari maupun dari
nash imamnya. Pengerahan kemempuannya hanya menemukan pendapat pendapat yang
pernah diriwayatkan dalam madzhab dan mentarjihkan di antara pendapat pendapat
tersebut bagi pengamalannya.
Ibnu Subki menamakan mujtahid dalam peringkat ini dengan mujtahid fatwa, yaitu
orang yang mempunyai pengetahuan luas dalam madzhab imamnya yang memungkinkannya
untuk melakukan tarjih dari beberapa pendapat tentang masalah dalam lingkup madzhab.
Dihubungkannya kata tarjih dengan fatwa di sini, tampaknya karena yang akan
difatwakan oleh mujtahid murajjih ini bukan hasil ijtihadnya, tetapi hasil tarjih yang
dilakukannya dari beberapa pendapat yang relah berkembang dalam madzhab.

Mujtahid Muwazin
Mujtahid muwazin oleh Abu Zahrah disebut juga dengan mustadillin, yaitu ulama

yang tidak mempunyai kemampuan untuk mentarjih di antara beberapa pendapat madzhab
kemudian berdalil dengan apa yang diangapnya lebih tepat untuk diamalkan.

Golongan Huffaz
Golongan ini tidak melakukan ijtihad dalam pengertian istilah ( yang berlaku pada

umumnya ), tetapi mempunyai kemampuan untuk menghafal dan mengingat hukum hukum
yang telah ditemukan oleh imam mujtahid terdahulu secara langsung dari nash atau apa yang
ditemukan oleh mujtahid madzhab dengan mentakhrijkannya dari pendapat imam madzhab.
Di samping ia menghafal hukum yang telah ditetapkan, juga mengahafal periwayatannya.

Golongan Muqallid

10 Kutbuddin Aibak, Metodolgi Pembaruan Hukum Islam, Yogyakarta : Pustaka Pelajar,


2008, hlm. 44

9 | Page

Golongan ini adalah golongan umat yang tidak mempunyai kemampuan dalam
melakukan ijtihad dalm pengertian istilah, juga tidak mempunyai kemampuan untuk
mentakhrijkan pendapat imam, dan ia juga tidak memahami dalil dalil. Dalam beramal ia
hanya mengikuti apa yang dikatakan imam madzhab, baik secara langsung atau menurut apa
yang telah dikembangkan oleh pengikut madzhab.
Dalam menetapkan siapa saja yang berhak menyandang peringkat mujtahid dan yang
tidak berhak pada peringkat di atas, terdapat perbedaan di kalangan ahli ushul :11
a; Salam Madzkur menempatkan peringkat pertama, kedua, dan ketiga pada jajaran

mujtahid, karena jelas mereka memliki karya ijtihad. Sedangkan pada peringkat
murajjih, muwazzin, dan peringkat yang di bawahnya ditempatkan pada golongan
muqallid.
b; Abu Zahrah menempatkan lima peringkat pertama sebagai mujtahid sedangkan yang
di bawah termasuk muqallid, karena ulama yang hanya memiliki kemampuan untuk
mentarjih, apalagi hanya mampu untuk membanding bandingkan di antara
penadapat yang berkembang tidak menampakkan kegiatan ijtihad dalam pengertian
yang umum digunakan.
F; Lapangan Ijtihad
Secara umum, lapangan atau objek ijtihad adalah pencapaian atau penggalian hukum
hukum syara ( al ahkam asy syariah ) yang tidak ditegaskan oleh nash baik Al
Quran maupun hadits. Hal ini sejalan dengan apa yang ditangkap dari dialog antara Nabi
dengan Muadz Bin Jabal yang menyatakan bahwa ia akan melakukan ijtihad bila tidak
mendapatkan dari Al Quran dan Hadits.
Tidak terdapatnya penjelasan hukum dalam Al Quran dan hadits itu dapat dilihat
dari dua segi, yaitu :
a

Al Quran dan hadits secara jelas dan langsung tidak menetapkannya, tidak secara
keseluruhan, dan tidak pula sebagiannnya. Seperti hukum menghimpun dan
membukukan Al Quran dalam satu mushaf. Dalam hal ini, Al Quran dan hadits
tidak menyuruh dan tidak pula melarang. Untuk menetapkan hukumnya diperlukan
ijtihad.
Secara jelas, langsung, dan menyeluruh memang tidak ada ketentun hukumnya
dalam Al Quran dan Hadits, namun secara tidak langsug ada bagiannya ada

11 Syarifuddin Amir, Ushul Fiqih, Kencana, Jakarta: 2008, Jilid 2, halm. 297
10 | P a g e

penjelasannya.12 Penjelasan tidak langsung itu seperti hukum memukul orang tua,
tetapi ada penjelasan mengenai larangan mengucapkan kata kata kasar ( uf )
terhadap orang tua. Meskipun secara tidak langsung kewajiban zakat padi tidak
tersebut dalam hadits ( karena padi tidak populer sebagai makanan pokok di zaman
Nabi ), namun secara tidak langsung telah dijelaskan dalam kewajiban mengeluarkan
zakat gandum.
Penjelasan mengenai memindahkan organ orang orang mati kepada orang hidup
( transplantasi ) memang tidak ada penjelasannya dalam Al Quran maupun hadits
secara jelas, namun ada larangan merusak jasad orang mati dalam hadits Nabi.
Karena tidak jelas dan tidak langsung penjelsan Al Quran dan Hadits, maka
diperlukan ijtihad.
Ketidakpastian tersebut dapat dilihat dari segi penunjukannya terhadap hukum, yang
disebut dilalahnya. Ketidakpastian dilalah itu berarti mangandung kemungkinan arti yang lain
dari itu. Dengan demikian, ketidakpastian itu dapat dirinci menjadi tiga macam , yaitu :
a

Tidak pasti keberadaannya sebagai nash, namun pasti penunjukannya terhadap


hukum. Seperti hadits Nabi dari Syurhabil menurut kelompok perawi hadits
selain Muslim tentang ucapan Ibnu Masud dalam hal kewarisan, Syara
menetapkan atas dasar apa yang ditetapkan oleh Nabi, yaitu untuk seorang anak
perempuan setengah, untuk cucu perempuan seperenam untuk melengkapi dua
pertiga dan selebihnya untuk saudara perempuan.
Hadits ini adalah hadits ahad yang dari segi wurudnya zhanni, namun dari segi
dilalahnya adalah qathi, sehingga bila dapat diterima kebenaran hadits ini
( datang dari Nabi ), maka kemungkinan bagi ahli waris tersebut ada
kemungkinan lain selain yang ditetapkan hadits tersebut. Namun karena
wurudnya bersifat zhanni maka timbul perbedaan pendapat dalam menetapkan
hukumnya.
Tidak pasti penunjukan terhadap hukum ( zhanni dilalah ) tetapi pasti
keberdaannya sebagai nash ( qathi al wurud ).
Seperti firman Allah QS; Al Baqarah : 228 :13

Istri istri yang tertalak hendaklah beriddah selama tiga kali quru
Dalil tersebut dari segi wurudnya adalah qathi karena ia adalah firman Allah
yang tidak diragukan keberadaannya. Namun penunjukannya terhadap hukum
yang ditimbukkannya tidak pasti . Karena kata quru dalam ayat itu terdapat

12 Syarifuddin Amir, Ushul Fiqih, Kencana, Jakarta: 2008, Jilid 2, halm. 307
13 Al Quran Terjemah, QS. Al Baqarah ayat 228, hlm. 36
11 | P a g e

dapat berarti suci dan dapat pula haidh, sehingga hukum yang ditimbulkan dari
kedua arti itu menjadi berlawanan.
Tidak pasti keberadaannnya sebagai dalil atau nash dan tidak pasti pula
penunjukannya terhadap hukum.
Seperti Hadits Nabi dari Aisyah yang dikeluarkan empat perawi hadits selain An
Nasai bahwa Nabi berasabda :

Perempuan mana saja yang nikah tanpa izin walinya, maka nikahnya batal.
Hadits tersebut bersifat zhanni al wurud, dalam arti tidak diyakini
keberadaannya dari Nabi, karena ia adalah hadits ahad, juga penunjukannya
terhadap hukum pun tidak meyakinkan. Karena dari hadits itu ada dua
kemungkinan pemahaman, yaitu : tidak sahnya pernikahan perempuan yang tidak
diakadkan oleh walinya, dan dapat pula dipahami bahwa sahnya pernikahan
perempuan itu apabila pernikahan itu telah mendapat izin walinya meskipun
tidak diakadkan oleh walinya sendiri secara langsung. Adanya beberapa
kemungkinan pemahaman itu menyebabkan hukum yang ditimbulkannya tidak
pasti ( zhanni ).

Setiap hukum yang telah ditetapkan melalui dalil yang qathi dari segi wurud dan
dilalahnya bukan merupakan lapangan ijtihad yang akan mengahsilkan hukum yang berbeda
dari ketentuan nash yang sudah pasti tersebut. Dalam hal ini para fuqaha menetapkan sebuah
kaidah :


Tidak ada lapangan untuk berijtihad dalam hal yang sudah ditetapkan dengan nash yang
jelas
Dalam hal ini para ulama telah menetapkan syarat syarat tertentu yang padanya
tidak boleh dilakukan ijtihad, yaitu :
a
b
c

Tidak boleh dilakukan terhadap keberadaan Allah.


Tidak diperkenankan terhadap keabsahan para Nabi Allah yang diutusNya langsung,
dan setiap usaha yang dilakukan untuk memikirkan tentang kenabian.
Tidak boleh dilakukan untuk menguji keabsahan kesucian Al Quran.
Hal yang serupa juga dikemukakan oleh Asy Syaukani, menurutnya ijtihad memiliki

lapangan yang sangat luas yaitu segala sesuatu yang tidak ditemukan hukumnya didalam nash

12 | P a g e

secara langsung dan sesuatu yang ditemukan hukumnya di dalam nash secara langsung, tetapi
bukan dalam nash yang qathi.14 Secara lebih jelas yang menjadi lapangan ijtihad itu adalah :
a

b
c

Masalah masalah yang telah ada nashnya yang zhanni ( diduga ) adanya dan
petunjuknya, yakni nashnya berupa hadits ahad. Dalam hal ini, mujtahid dapat
melakukan pengkajian mengenai sanad dan matan haditsnya untuk mengetahui dan
menentukan shahih atau tidaknya.
Masalah masalah yang telah ada nash yang qathi adanya ayat Al Quran atau
hadits mutawatir, tetapi zhanni petunjuknya terhadap hukum yang dicari.
Masalah masalah yang telah ada nashnya yang zhanni adanya dan yang qathi
petunjuknya. Dan hal ini tidak terdapat dalam Al Quran, tetapi hanya terdapat
dalam hadits. Dalam hal ini mujtahid mangkaji tentang sanad dan matannya untuk
menentukan shahih atau tidaknya.
Masalah masalah yang tidak ada nashnya dan belum tercapai ijma mengenai
hukumnya. Da inilah yang dikatakan ijtihad dengan rayu. Tugas mujtahid adalah
mencari dan menggali hukumnya melalui metode qiyas, istihsan, mashlahah
mursalah, urf, dan sebagainya.15

G; Urgensi Ijtihad Pada Setiap Masa

Sudah disinggung pada pembahasan sebelumnya, bahwa ijtihad itu hukumnya fardhu
kifayah. Pada setiap masa tidak boleh kosong dari keberadaan mujtahid. Apabila kosong di
suatu masa dari mujtahid maka kaum muslim berdosa. Dengan adanya seorang mujtahid atau
lebih dari suatu masa maka akan mengggugurkan dosa kaum Muslim pada masa itu. Hal ini
bisa ditetapkan dalam dua aspek, yaitu :
a; Sesungguhnya nash nash syariat Islam mengharuskan adanya ijtihad dari kaum

Muslim, karena nash nash tersebut tidak datang secara rinci.


b; Berbagai kejadian di dalam kehidupan ini senantiasa baru dan terus berkembang.
Jika tidak mengerahkan kesungguhan untuk menggali hukum yang berkaitan
dengan peristiwa peristiwa itu, kita tidak mungkin bisa menerapkan hukum
syara terhadapnya.
Oleh karena itu, ijtihad merupakan suatu kewajiban bagi orang yang mampu di setiap
masa. Dengan kata lain, ijtihad adalah fardhu kifayah.
Jadi, ijtihad termasuk ke dalam kaidah :
14 Nasrun Rusli, KonsepIjtihad Asy Syaukani, Jakarta : Logos. 1998, hlm. 101
15 Kutbuddin Aibak, Metodogi Pembaruan Hukum Islam, 40 - 42
13 | P a g e


Tidak sempurna ( pelaksanaan ) suatu kewajiban tanpa adanya sesuatu, maka
( hukum atas ) sesuatu itu wajib pula.
Tidak akan sempurna menghukumi (sesuatu) dengan hukum yang diturunkan Allah
pada setiap masalah, kecuali dengan adanya ijtihad. Begitulah , Islam telah mendorong kita
untuk berijtihad dan telah memberikan dua pahala kepada orang yang berijtiad dan benar
dalam ijtihadnya. Dan memberikan satu pahala saja kepada orang yang berijtihad tetapi salah
dalam ijtihadnya.
Ijtihad telah dilaksanakan oleh kaum Muslim pada permulaan Islam. Para sahabat
mempunyai ijtihad yang banyak dan perbedaan pendapat di antara mereka dalam berbagai
masalah yang sangat populer. Mereka senantiasa menggali hukum selama hal itu
memungkinkan, karena mereka adalah ahli bahasa dan saksi hidup yang menyaksikan
turunnya Al Quran serta mengambil langsung dari Rsulullah SAW. Apa yang dilakukan
para sahabat itu, pada generasi sesudahnya dilakukan pula oleh sekelompok orang, dan dari
mereka muncul banyak mujtahid, seperti imam imam madzhab dan murid murid mereka.
Masa Islam sesudahnya juga banyak terpancar mujtahid, sampai tiba pada masa kemunduran
dan lemahnya ijtihad, lalu sirna, dan taqlid pun menjadi marak. Hingga hukum hukum
Allah tidak mampu lagi diistinbathkan dari masalah masalah baru yang bermunculan.
Dengan demikian, ijtihad harus terus menerus berlangsung agar di dalam umat Islam
terdapat para mujtahid yag mempunyai kemampuan, agar Islam bisa kembali menjadi
pemimpin dunia, bisa menyelesaikan berbagai permasalahan, dan mampu mengeluarkan
manusia dari kegelapan menuju cahaya.16
H; Analisis

Ijtihad merupakan hal yang urgen di dalam kehidupan manusia. Sejak zaman
Rasulullah SAW, ijtihad sudah diterapkan hingga Rasulullah SAW wafat. Kemudian masalah
masalah hukum semakin berkembang di dalam masyarakat pada masa itu. Sahabat dalam
memutuskan perkara hukum yang tidak terdapat nashnya baik di Al Quran maupun
Hadits, maka sahabat berijtihad dengan melakukan ijma dengan sahabat, sehingga terjadi
hasil kesepakatan dari sahabat dan hukum pun ditemukan.

16 Atha Bin Khalil, Ushul Fiqh , hal 355 - 357


14 | P a g e

Ijtihad pun berkembang sesuai dengan perkembangan zaman dan kompleksnya


permasalahan yang berkembang di masyarakat, khususnya pada zaman sekarang di mana
manusia dimanjakan dengan teknologi yang canggih. Sehingga menimbulkan banyak
permasalahan hukum. Seperti perkawinan yang yang ijab qabulnya dilakukan melaui pesawat
telepon, wakaf dalam bentuk yang tunai, dsb.
Menurut kami, ada beberapa langkah untuk menyelesaikan masalah hukum di zaman
sekarang, yaitu :
a; Mengadakan kajian secara komperehensif terhadap keadaan tradisi Islam

( tradisonal maupun modern ). Dalam hal ini sangat diperlukan ijtihad fardhi
maupun jamai atau ijtihad kolektif.
b; Menggunakan kajian ilmiah kontemporer, tapi tidak mengabaikan intelektual
Islam klasik.
c; Menginterpretasikan Al Quran dan Hadits sesuai dengan keadaan sekarang
d; Membandingkan pendapat madzhab madzhab mengenai hukum

Dengan adanya beberapa langkah di atas, dapat menyatukan atau mengumpulkan para
ulama dan orang yang ahli di bidangnya dalam menyelesaikan berbagai perkara hukum.

15 | P a g e

BAB III
PENUTUP
A; KESIMPULAN

Ijtihad adalah hal yang urgen dalam kehidupan umat Islam di belahan dunia,
karena sebagian besar dalil dalil hukum syara praktis adalah bersifat zhanni
yang menerima beberapa interpretasi pendapat, sehingga memerlukan adanya
ijtihad guna menentukan pendapatnya yang kuat . Demikian juga perkara
perkara yang tidak ada nashnya menuntut adanya ijtihad agar bisa menjelaskan
hukum syaranya. Oleh karena itu, syariat Islam harus menetapkan semua
hukum perbuatan hamba hamba Allah SWT, maka tidak ada jalan selain
dengan ijtihad.
Adapun syarat syarat mujtahid , yaitu :
1; Harus mengetahui makna ayat-ayat hukum yang terkandung dalam al-Quran
dan hadis.
2; Mengetahui bahasa Arab.
3; Mengetahui metodologi qiyas dengan baik.
4; Mengetahui Nasikh dan mansukh, sehingga ia dapat berpegang pada dalil yang
secara hukum sudah tidak dipakai lagi.
5; Harus mengetahui kaidah-kaidah ushul dengan baik dan juga harus
mengetahui dasar-dasar pemikiran yang mendasari rumusan-rumusan kaidah
tersebut, sehingga jika perlu ia menciptakan kaidah sendiri.
6; Mengetahui maqashid al-ahkam.
Para ahli membagi ijtihad dengan melihat kepada beberapa titik pandang yang
berbeda, yaitu dari segi dari segi dalil yang dijadikan pedoman dan dari segi
pelaksanaanya atau dari segi siapa yang terlibat langsung dalam melakukan
penggalian dan penemuan hukum untuk kasus tertentu.
Ada beberapa tingkatan mujtahid menurut Abu Zahrah, yaitu Mujtahid dalam
hukum syara , Mujtahid muntasib,mujtahid madzhab, mujtahid
murajjih,mujtahid muwazzin, golongan huffaz, golongan muqallid.
Lapangan atau objek ijtihad adalah pencapaian atau penggalian hukum
hukum syara ( al ahkam asy syariah ) yang tidak ditegaskan oleh nash baik
Al Quran maupun hadits.
Hukum ijtihad adalah fardhu kifayah. Pada setiap masa tidak boleh kosong
dari keberadaan mujtahid. Apabila kosong di suatu masa dari mujtahid maka
kaum muslim berdosa. Dengan adanya seorang mujtahid atau lebih dari suatu
masa maka akan mengggugurkan dosa kaum Muslim pada masa itu.

16 | P a g e

DAFTAR PUSTAKA
Aibak, Kutbuddin, Metodologi Pembaruan Hukum Islam, Yogyakarta : Pustaka Pelajar, 2008
Manan, Abdul, Reformasi Hukum Islam di Indonesia, Jakarta : PT. Raja Grafindo Persada,
2006
17 | P a g e

Syarifuddin, Amir, Ushul Fiqh 2, Jakarta : Pranada Media Grup, 2008


Ibnu Atha, Khalil,penerjemah Yasin As- Sibai, Ushul Fiqh ,Bogor : Pustaka Thariqul Izzah,
2003
Yusuf Qardhawi, Al Ijtihad Asy Syariah Al Islamiyah maa Nazharat Tahliyyyah fi Al
Ijtihad Al muashir , penj Ahmad Syathori ( Jakarta : PT. Bulan Bintang , 1987 )
Syafii , Rachmat , Ilmu Ushul Fiqh, Bandung : CV. Pustaka Setia, 1999
Rusli, Nasrun, KonsepIjtihad Asy Syaukani, Jakarta : Logos. 1998
Al Quran dan Terjemahnya , Departemen Agma, 2005

18 | P a g e