Anda di halaman 1dari 11

BAB III

PEMBAHASAN

3.1 Profil Bijih Timbal


Menurut Widowati (2008), Timbal (Pb) pada awalnya adalah logam berat yang
terbentuk secara alami. Namun, Timbal (Pb) juga bisa berasal dari kegiatan manusia
bahkan mampu mencapai jumlah 300 kali lebih banyak dibandingkan Timbal (Pb)
alami. Timbal (Pb) meleleh pada suhu 328C (662F); titik didih 1740C (3164F);
dan memiliki gravitasi 11,34 dengan berat atom 207,20.
Sedangkan menurut ATSDR (2005), Timbal (Pb) adalah logam lunak berwarna
abu-abu kebiruan mengkilat yang secara alami terdapat pada lapisan kerak bumi.
Bagaimanapun, Timbal (Pb) jarang ditemukan dalam bentuk logam tunggal tetapi
biasanya ditemukan bergabung dengan dua atau lebih logam lainnya dalam satu
komposisi.
Penyebaran logam Timbal (Pb) di bumi sangat sedikit. Menurut Palar (2008),
jumlah Timbal (Pb) yang terdapat di seluruh lapisan bumi hanya 0,0002% dari jumlah
seluruh kerak bumi. Jumlah ini sangat sedikit jika dibandingkan dengan jumlah
kandungan logam berat lainnya yang ada di bumi. Di alam sendiri terdapat 4 macam
isotop plumbum yaitu:
1) Timbal-204 atau Pb204, diperkirakan berjumlah 1,48% dari seluruh isotop
timbal yang terdapat di alam.
2) Timbal-206 atau Pb206, ditemukan dalam jumlah sebesar 23,6% dari seluruh
isotop timbal yang terdapat di alam.
3) Timbal-207 atau Pb207, sebanyak 22,6% dari seluruh isotop plumbum yang
terdapat di alam. Timbal-208 atau Pb208, ditemukan sebanyak 52,32% dari
seluruh isotop plumbum yang terdapat di alam

III-1

III-2

Konsumsi penggunaan logam Pb banyak digunakan sebagai material suatu


komponen atau alat, seperti pada Tabel III.1 untuk USA, Jepang, dan Eropa Barat.
Tabel III.1. Aplikasi Penggunaan Material Pb (%)

Sumber : Metalistatistik 1977-1987

Terlihat pada tabel diatas, pengunaan material Pb ini sebagai bahan baku
pembuatan baterai (sumber energi). Contohnya pada kendaraan bermotor, logam
timbal ini terdapat pada accu. Pada accu, material timbal ini merupakan anoda
sedangkan logam Cu adalah bagian katodanya. Anoda dan katoda diletakkan di dalam
larutan elektrolit PbSO4 dan CuSO4 dihubungkan oleh sebuah jembatan garam.
Sistem ini akan menghasilkan arus listrik yang digunakan untuk menyalakan mesin
saat starting dan untuk pencahayaan lampu kendaraan.

III-3

Gambar 3.1 Skema Accu dalam Penerapan Pb


Selain pada accu, aplikasi material logam Pb banyak digunakan sebagai
paduan suatu logam lain. Contohnya untuk paduan dengan material Sn pada kawat
solder. Kegunaan logam PB adalah untuk menurunkan titik leleh dari kawat solder.
Dengan turunnya nilai titik leleh dari kawat solder, maka energi yang dibutuhkan
untuk melakukan penyolderan lebih rendah, imbasnya akan menghemat nilai dari
coast production-nya.
Timbal (Pb) adalah suatu logam transisi yang non reaktif. Pb dalam bentuk
ore dapat berupa galena (PbS) 86 % Pb, Cerrusite (PbCO2) 77 % Pb, Angelsite
(PbSO4) 68 % Pb.
Logam timbal telah dipergunakan oleh manusia sejak ribuan tahun yang lalu
hal ini disebabkan logam timbal terdapat diberbagai belahan bumi, selain itu timbal
mudah di ekstraksi dan mudah dikelola. Timbal memiliki warna putih kebiruan yang
terlihat ketika logam Pb dipotong akan tetapi warna ini akan segera berubah menjadi
putih kotor atau abu-abu gelap ketika logam Pb yang baru dipotong tersebut terekspos
oleh udara. Timbal merupakan logam yang lunak, tidak bisa ditempa, memiliki

III-4

konduktifitas listrik yang rendah, dan tergolong salah satu logam berat Dimana raksa
timbal dapat membahayakan kesehatan manusia. Elemen Pb memiliki elektron
valensi 2+ atau 4+, berarti konfigurasi elektronnya adalah sebagai berikut :

Sifat mekanik dan fisik dari logam Pb cukup baik dengan melting point-nya yang
rendah, densitas tinggi, kelunakkan dan sifat mampu tempanya. Berikut adalah sifat
dari logam Pb :

III-5

Timbal (Pb) adalah salah satu logam yang biasanya diekstraksi dari mineral
utama penghasil timbal yaitu Galena (PbS) yang mengandung 86,6% Pb, Cerussite
(PbCO3), dan Anglesite (PbSO4). Timbal biasanya didapatkan dari batuan induk
berupa gamping dan dolomite dengan mineral pengikut berupa Pirite (FeS2), Sfalerit
(ZnS), Kalkopirit (CuFeS2), Arsenopirit (FeAsS), Pirotit (FeS), Bornit (CuSFeS 4),
Enargit (Cu3AsS4), dan Tetrahidrit ((Cu,Fe,Ag)12Sb4S13).
Timbal biasanya terbentuk pada endapan hidrotermal tak teratur dalam batuan
karbonat dan beberapa terdapat dalam batuan kuarsit atau malihan. Keberadaan
endapan timbal banyak terindikasi diberbagai lokasi yang tersebar di wilayah
Indonesia. Akan tetapi, hingga saat ini endapan yang cukup besar cadangannya belum
ditemukan. Untuk ekspor bijih timbal yang tercatat pada tahun 1980-an pada
umumnya berasal dari penambangan skala kecil yang dikerjakan secara selektif dan
manual. Penambangan umumnya bersifat liar atau tanpa izin (PETI) sehingga
produksinya tidak menentu.
3.2 Metode dan Proses Penambangan
Metode penambangan endapan bijih timbal dapat dilakukan dengan tambang
terbuka, tambang bawah tanah, atau gabungan keduanya. Hampir 80 % bijih timbal di
dunia berasal dari tambang bawah tanah.
Endapan Timbal

Bijih dipecah dengan


Percussion drill

Pengangkutan dari muka kerja ke kantong-kantong


bijih dengan alat muat jenis front end yang bekerja
muat-angkut-timbun
Pengangkutan ke secara
alat peremuk
tahap pertama dalam tambang
dilakukan dengan lori sub-level atau conveyor

III-6

3.3 Pengolahan Timbal


Bijih timbal

peremukan dalam keadaan kering (dengan jaw crusher,

gyratory crusher atau cone crusher)

digiling secara basah dalam alat pelumat

(rod mill atau ball mill) sampai ukuran << 0,25 mm pengkonsentrasian mineral
timbal dengan flotasi atau gravity concentration dengan kepekatan suspense antara 5
sampai 40 % berat padatan (pereaksi yang digunakan xantat sebagai kolektor; soda
abu, asam belerang, natrium hidroksida sebagai pengatur PH; seng sulfat, belerang
dioksida, kalsium sianida sebagai depresan dan pembuih methyl isobutyl carbinol).
3.4 Peleburan Timbal
Prinsip utama peleburan timbal adalah sebagai berikut :
1. Menggunakan proses peleburan dengan tanur tiup.
2. Menggunakan proses peleburan satu atap yang disebut proses direct smelting.
3. Menggunakan proses peleburan langsung boliden menggunakan tanur listrik
dan converter sebagai pengganti tanur tiup.
4. Menggunakan proses queneau schumman-lurgi (QSL) yang merupakan
penggabungan peleburan autogen dengan reduksi langsung dalam tanur.
Proses :
Pada pembahasan kali ini proses ekstraksi metalurgi timbal yang dilakukan
melalui proses peleburan dalam tanur tiup secara pirometalurgi, dimana konsentrat
yang diproses dalam tanur tiup umumnya berkadar timbal di atas 60 %.
Proses peleburan meliputi tiga tahap yaitu :
1. Penyiapan umpan (charge)

III-7

Penyiapan umpan merupakan tahap yang sangat penting karena bijih


timbal dan konsentrat yang akan dilebur mengandung Zn, Cu, Ag, Sb atau Bi
yang sangat beragam. Bila pertimbangan antara timbal dengan unsur lain dalam
umpan tidak diatur dengan baik, logam timbal yang dihasilkan mungkin tidak
bisa diterima di pasar atau perlu biaya proses pemurnian yang tinggi. Umpan
peleburan berupa pellet dibuat dengan mencampur bahan-bahan dalam
perbandingan tertentu antara lain konsentrat timbal, bahan imbuh (flux) seperti
batu gamping, silica, bijih besi atau besi tua (scrap) dan flue dust. Pelet kemudian
dipanggang di bawah suhu leleh mineral (roasting) untuk menghilangkan
belerang atau dipanaskan pada suhu tinggi (sintering) sehingga membentuk
gumpalan yang keras dan berpori-pori yang disebut sinter.
2. Penyinteran (sintering)
Proses penyinteran dalam tanur dilakukan dengan menggunakan udara
isap alir bawah (down draft) atau alir atas (up draft). Teknik alir atas mampu
menghasilkan konsentrasi gas SO2 yang tinggi yang dapat diubah menjadi asam
belerang dalam pabrik asam.
Sinter bersama dengan kokas diumpankan ke dalam bagian atas tanur tiup.
Udara bertekanan rendah yang ditiupkan melalui tuyere dekat ke dasar tanur
membakar kokas. Kokas yang terbakar selain menghasilkan panas yang melebur
umpan juga menghasilkan gas pereduksi yang bereaksi dengan timbal oksida
membentuk timbal bullion (Pb yang terkotori dengan metal lain, missal Au, Zn
dsb). Sementara umpan membentuk terak yang lebih ringan mengapung di atas
timbal bullion. Terak yang mengandung seng, besi, silica, kapur dan lainnya
dikeluarkan dari tanur melalui lubang pengeluaran di atas lubang bullion. Timbal
bullion mengandung perak, emas, tembaga, bismuth, arsen, timah dan logam
minor lainnya. Debu flue mengandung berbagai unsur lain ; kadmium, indium,
timbal dan seng dalam jumlah cukup banyak.
3. Pereduksian dalam tanur tiup

III-8

Pendinginan timbal bullion dalam ketel sanga (drossing kettle)


menghasilkan sanga yang mengandung hampir seluruh tembaga dan sebagian
besar timbal. Sanga kemudian ditapis dan direkasikan dengan soda abu dalam
tangki pantul menghasilkan mat dan speiss yang kaya akan tembaga dan miskin
timbal. Sisa tembaga dihilangkan dengan menambahkan belerang. Bullion timbal
yang sudah dihilangkan tembaganya dikirim ke pabrik pemurnian.
Terak yang mengandung seng dan timbal diolah dengan cara diuapkan.
Debu dari proses pengolahan dikirim ke pabrik seng dan terak yang sudah tidak
mengandung unsur berharga dibuang. Debu dari pabrik sinter dan tanur
dikumpulkan sebagian campuran umpan tanur, sedangkan gasnya dibuang
melalui cerobong.
4. Reaksi yang terjadi :
2PbS + 3O2 2PbO + 2SO2
Kemudian PbO direduksi dengan karbon,
2PbO + C 2Pb + CO2

3.5 Proses Pemurnian Timbal


Ekstraksi timbal dari konsentrat menghasilkan bullion timbal (Pb yang
terkotori dengan metal lain) yang masih mengandung arsen, antimony, timah,
bismuth, perak dan emas. Pemurnian bullion timbal dapat dilakukan dengan proses
pirometalurgi atau proses elektrolisis. Kebanyakan logam timbal yang murni
diperoleh dengan proses pirometalurgi, sedangkan bullion timbal yang kandungan
bismuthnya relativ tinggi dimurnikan dengan proses elektrolisis.
Proses pemurnian secara pirometalurgi pada garis besarnya meliputi tahap :
1. Pelunakan
Dalam tahap awal proses piro, logam dilunakkan dengan menghilangkan
arsen, antimony dan timah dengan cara dioksida dengan udara dalam tungku

III-9

pantul kecil. Terak yang kaya dengan antimony dan timbal direduksi dengan
kokas menghasilkan paduan timbal antimonial. Unsure pengotor ini dapat pula
dihilangkan dengan proses Harris. Dalam proses Harris ini bullion timbal cair
disemprotkan dengan lelehan soda api dan lelehan natrium nitrat. Natrium nitrat
mengoksidasi arsen, antimony dan timah menjadi terak garam oksinatrium,
kemudian diambil.
2. Peng-awaperakan dengan proses Parkes
Pemisahan emas dan perak menggunakan

proses

Parkes

yang

memanfaatkan afinitas selektif emas dan perak terhadap seng. Serbuk seng yang
ditambahkan ke dalam bullion timbal membentuk senyawa emas-perak-seng
berupa kerak padat yang mengapung pada saat suhu turun. Kerak dicedok
kemudian diambil seng, emas dan peraknya melalui proses pemanasan,
penguapan, pendinginan, oksidasi dan elektrolisis. Pengulangan proses awaperak
dua atau tiga kali akan menghasilkan timbal yang relative bebas dari emas dan
perak kemudian timbal diproses lebih lanjut.
Sisa seng dalam bullion timbal dari proses Parkes dihilangkan dengan
destilasi dalam ruang hampa pada 600oC. seng yang diembunkan menjadi
padatan yang kemudian dikembalikan lagi ke dalam proses. Proses awaseng
dapat pula dilakukan dengan melewatkan gas kalor melalui bullion yang
menghasilkan seng klorida.
Bila kandungan bismuth dalam bullion timbal kecil, bismuth dihilangkan
dengan proses Betterton-Kroll dengan cara menambahkan kalsium dan
magnesium yang akan membentuk senyawa dengan bismuth sebagai sanga yang
mudah dicedok. Proses elektrolisis digunakan apabila kadar bismuth cukup
tinggi. Bullion dicetak menjadi anoda dan dimurnikan secara elektrolisis dengan
prosedur Betts. Sebagai katoda digunakan timbal murni dan elektrolit dari larutan
timbal fluosilikat yang mengandung timbal dan asam hidrofluosilikat bebas
dalam jumlah bervariasi. Logam-logam berharga dan pengotor lainnya yang

III-10

terkandung dalam timbal menempel pada anoda dalam bentuk lumpur. Timbal
kemurnian tinggi diendapkan pada katoda yang pada selang waktu tertentu
diambil, dicuci, dilelehkan dan akhirnya dicetak untuk dipasarkan.
3. Pengawasan dan perlakuan dengan soda api
Dalam proses pemurnian tahap akhir ditambahkan soda api untuk
menghilangkan sejumlah kecil pengotor yang masih ada seperti arsen, antimony,
dan kelebihan kalsium atau magnesium dari proses awabismuth. Timbal seng
telah dimurnikan dicetak sebagai batang berat 100 pounds atau bentuk balok
berat satu ton dengan kemurnian 99,95 % - 99,99 % Pb.
3.6 Reaksi-Reaksi Timbal
Timbal dapat oleh pengoksidasi, seperti HNO3 :
3Pb + 8HNO3 3Pb(NO3)2 + 2NO + 4H2O
Timbal dengan klor memebentuk PbCl2 :
Pb + Cl2 PbCl2
Dari reaksi diatas ternyata bahwa bilangan oksidasi timbal adalah +2. Timbal
dapat larut dalam basa membentuk ion plumbat.
Pb + 2OH- + 2H2O Pb(OH)42- + H2(g)
Senyawa timbal yang terpenting adalah PbO, suatu padatan berwarna kuning
yang dipakai sebagai bahan bakar tembikar. Jika PbO dipanaskan hati-hati diudara,
akan teroksidasi menjadi Pb3O4, yang merupakan campuran Pb(II) dan Pb(IV).
Campuran ini dipakai sebagai bahan cat anti korosi. PbO2 akan dapat terbentuk bila
ion plumbat dioksidasi.
Pb(OH)42- + OCl- PbO2 + H2O + 2OH- + Cl-

III-11

Kini telah diketahui bahwa timbal adalah logam yang beracun sehingga
pemakaian untuk bahan cat dibatasi. Cat yang mengandung timbal akan menghitam
bila kena H2S, karena membentuk PbS yang hitam.Reaksi timbal dengan HCl (aq)
dan H2SO4 (aq) encer terhenti tidak lama setelah reaksi dimulai sebab hasilnya, yaitu
PbCl2 (p) dan PbSO4 (p), melindungi logam dari serangan lebih jauh. Tetapi PbCl 2 (p)
lama kelamaan larut dalam HCl (aq) pekat dengan pembentukan ion kompleks
[PbCl3]. Setelah itu, timbal dapat larut seluruhnya.
Pb (p) + 3 HCl (aq pekat) [PbCl3] (aq) + H+ (aq) + H2 (g)
Timbal tidak diserang oleh H2SO4 (aq) pada suhu dibawah 200oC. hasil reaksi
dengan HNO3 (aq) ialah Pb(NO3)2 dan bermacam-macam oksida nitrogen, bergantung
dari keadaan reaksinya oksida timbal dengan udara, menghasilkan PbO (p) timbal
bereaksi dengan Cl2 (q) membentuk PbCl2, jika dipanaskan dengan S, logam tersebut
menghasilkan sulfida yaitu PbS.