Anda di halaman 1dari 5

BAB 6

PERKEMBANGAN ISLAM DI INDONESIA

Islam merupakan agama yang dipeluk oleh mayoritas penduduk Indonesia. Hal ini menunjukkan
bahwa Islam tidak dapat dipisahkan dengan sejarah Indonesia. Sebagaimana dipahami bahwa sebagian
besar pahlawan nasional dan para pendiri negeri ini adalah beragam Islam. Mengapa hal itu terjadi?
Tahukah anda sejarah perkembangan Islam di Indonesia?
Pada bab ini, anda akan memahami perkembangan Islm di Indonesia dengan berbagai contohnya.
A. Sejarah Islam di Indonesia
B. Perkembangan Ilmu Pengetahuan dan Kebudayaan
C. Hikmah Perkembangan Islam di Indonesia

A. Sejarah Islam di Indonesia


Mengenai masuknya Islam ke Indonesia terdapat banyak perbedaan pendapat. Namun, pendapat
yang paling banyak dianut adalah berdasarkan hasil seminar tentang msuknya Islam ke Indonesia yang
disimpulkan pada abad ke-7 Masehi. Hal ini didasarkan pada kenyataan, dilakukan oleh saudagarsaudagar Muslim dari Arab, Persia, dan Gujarat yang selalu pulang-pergi di Kepulauan Sumatra, bahkan
mereka menetap dan menikah dengan penduduk pribumi.
Menurut J.C. Van Leur, berdasarkan banyak cerita perjalanan dapat diperkirakan bahwa sejak
tahun 674 Masehi sudah ada koloni Arab di barat laut Sumatra, yaiutu di Barus, daerah penghasil kapur
barus yang terkenal. Selain itu, dari catatan Cina Dinasti Tang disebutkan bahwa orang-orang Tha Shi
(sebutan untuk pedagang Muslim dari Arab dan Persia) sudah berada di Kanton dan Sumatra.
1. Perkembangan Islam di Sumatra
Pulau Sumatra merupakan pulau yang merupakan pulau yang pertama kali bersentuhan
dengan Agama Islam. Hal ini terjadi karena para saudagar dari Arab, Persia, dan Gujarat kali
pertama melakukan kegiatan perdagangan di Bandar-bandar yang terletak di daerah pesisir pantai.
Pusat kegiatan perdagangan terutama terjadi di pesisir utara, yaitu di Samudra Pasai Dan Perlak.
Memasuki abad ke-13 Masehi, perkembangan Islam di Pulau Sumatra sangat jelas. Hal
ini dapat dilihat dengan adanya kerajaan Islam di Samudra Pasai dan Perlak. Bahkan,
perkembangan Islam lebih pesat lagi setelah raja Samudra Pasai yang bernama Marah Silu
masuk Islam dan mengubah namanya menjadi Malik al Saleh. Ia kemudian menikahi putrid dari
kerajaan Perlak yang bernama Ganggang Sari sehingga perpaduanb kedua kerajaan tersebut
merupakan kekuatan yang besar dalam penyebaran Islam di Sumatra dan daerah-daerah lainnya.
2. Perkembangan Islam di Pulau Jawa
Masuknya Islam di Pulau Jawa pada awalnya dibawa oleh pedagang muslim setelah
berdirinya Kerajaan Malaka yang mencapai puncak kejayaannya pada masa Sultan Mansur
Syah. Wilayah perdagangannya sangat luas sampai ke Demak, Jepara, Tuban, dan Giri. Melalui
hubungan perdagangan tersebut, akhirnya masyarakat Jawa mengenal Islam.

Selanjutnya, perkembangan Islam di Pulau Jawa banyak dilakukan oleh para wali adipati
dan para wali yang dikenal dengan sebutan walisongo, yaitu Maulana Malik Ibrahim, Sunan
Ampel (Rd. Rahmat), Sunan Giri (Rd. Paku), Sunan Bonang (Makhdum Ibrahim), Sunan
Drajat (Mas Said Munad), Sunan Kudus, Sunan Kalijaga (Joko Said), Sunan Muria, dan
Sunan Gunung Djati (Fatahillah).
Dengan meluasnya wilayah kekuasaan Kerajaan Demak, perkembangan Islam di Pulau Jawa juga
menjadi sangat luas, bahkan sampai ke Banten, Jakarta, Cirebon, dan daerah Jawa Barat lainnya.
3. Perkembangan Islam di Daerah Lain
Perkembangan Islam yang disebarkan dari Kerajaan Mal;aka ternyata bukan hanya di
Pulau Jawa, melainkan ke daerah-daerah lain di seluruh Nusantara. Misalnya, di Banjar,
Kalimantan Selatan berdiri kerajaan Islam dengan rajanya yang bernama Pangeran Samudra.
Selain itu, di Kalimantan Timur berdiri Kerajaan Kutai dengan rajanya bernama Raja Mahkota.
Perkembangan Islam masuk juga ke daerah Maluku, Ambon, dan Sulawesi, yaitu
Kerajaan Gowa dan Tallo. Dalam waktu yang singkat, Islam terus berkembang dengan pesat
sampai ke seluruh Nusantara. Oleh karena itu, sebagian besar penduduk Indonesia adalah
penganut Agama Islam. Pesatnya perkembangan Islam di Indonesia ini antara lain disebabkan
oleh beberapa faktor, yaitu,
a. Untuk memeluk Islam sangat mudah;
b. Para dai dalam menyampaikan Islam sangat menarik dan simpatik;
c. Para dai juga memiliki keistimewaan melalui ajaran tasawuf;
d. Kewajiban dakwah dibebankan kepada setiap muslim;
e. Ajaran Islam sesuai dengan kepribadian bangsa Indonesia;
f. Islam tidak membedakan manusia berdasarkan kasta/gelar.
Secara umum, perkembangan Islam di Indonesia sampai dengan munculnya kerajaan
kerajaan Islam dapat dikelompokkan melalui tiga fase, yaitu,
a. Persinggahan para pedagang Islam di kepulauan Nusantara;
b. Adanya komunitas muslim di kepulauan Nusantara;
c. Berdirinya kerajaan Islam di Kepuluan Nusantara.
Adapun jalur masuknya Islam ke Indonesia dapat dilakukan melalui jalur sebagai berikut.
a. Melalui Perdagangan
Islam disebarkan di seluruh Nusantara melalui jalur perdagangan yang dibawa oleh para
saudagar Muslim dari Arab, Persia, dan Gujarat. Dalam sebuah misi perdagangan biasanya
diikuti para ulama yang bertujuan menyebarkan dakwah Islam. Keberadaan para ulama
tersebut sangat penting, karena selain berdakwah mereka bertugas membina mentalal
rombongan pedagang.
b. Melalui Perkawinan
Para saudagar muslim yang menetap di Nusantara menikah dengan warga pribumi dan
berketurunan sehingga mempercepat perkembangan Islam. Sebagian besar keturunan yang
lahir mengikuti keyakinan bapaknya yang muslim.
c. Melalui Tasawuf
Pengajaran tasawuf yang dilakukan oleh para dai dan sufi dapat menarik simpati masyarakat
sehingga dapat mempercepat perkembangan Islam. Pendekatan dakwah para sufi cenderung
moderat, sehinga sangat mudah diterima orang-orang yang baru mengenal Islam.
d. Melalui Pendidikan
Islamisasi yang dilakukan melalui lembaga pendidikan terutama pondok pesantren dilakukan
oleh para kiai dan ulama dalam mencetak kader dai yang handal dalam menyebarkan Islam.

Selain itu, kader-kader santri tersebut kemudian mampu mendirikan pesantren di tempat asal
mereka.
e. Melalui Kesenian
Pendekatan persuasif yang dilakukan para wali dalam mengislamkan masyarakat sering
menggunakan kesenian sebagai media dakwah. Kesenian yang digunakan sarana dakwah
disesuaikan dengan budaya setempat. Dengan demikian secara perlahan ajaran Islam
mempengaruhi budaya dan mengubah keyakinan dan perilaku masyarakat.
f. Melalui Politik
Setelah masuk Islam para adipati dan raja banyak menempatkan para ulama sebagai
penasihat dan hakim sehingga dapat mempercepat penyebaran Islam. Para ulama tersebut
banyak memberi nasihat yang sangat mempengaruhi kebijakan raja.

B. Perkembangan Ilmu Pengetahuan dan Kebudayaan


Perkembangan Islam yang dilakukan oleh para pedagang dan dilanjutkan oleh para adipati dan
para wali telah memberikan konstribusi yang sangat besar terhadap perkembangan ilmu pengetahuan dan
kebudayaan di Indonesia.
Kedudukan para ulama yang diangkat sebagai penasihat kerajaan dan hakim dalam pemerintahan,
memacu para ulama dalam menyebarkan Islam untuk daerah yang jauh melalui berbagai macam cara
antara lain dengan mencetak kader-kader dai yang bertugas sebagai mubalig untuk daerah-daerah yang
jauh. Selain itu, para ulama juga giat menyusun buku dan kitab, baik dalam ilmu agama maupun dalam
ilmu umum. Buku tersebut dicetak dan disebarluaskan kepada masyarakat sehingga banyak sekali karyakarya hasil dari para ulama yang muncul dan menambah khazanah ilmu pengetahuan.
Para ulama yang terkenal pada masa itu antara lain,
1. Hamzah Fansuri
Hamzah Fansuri adalah tokoh sufi pertama di Indonesia yang telah banyak berjasa dalam
berbagai kegiatan pengembangan ilmu pengetahuan. Bukunya yang terkenal ialah Asrarul Arifin
Fi Bayan Ila Suluk Wal Tauhid. Karya lainnya ialah buku tasawuf dan mistik, yaitu Syair Perahu
dan Paham Wujudiyah atau Martabat Tujuh.
2. Syamsudin Al Sumatrani
Syamsudin Al Sumatrani adalah seorang ulama yang banyak menyebarkan Islam melalui
berbagai kitab atau buku. Salah satu bukunya, yaitu Miratul Mukminin.
3. Nurudin Ar Raniri
Nurudin Ar Raniri adalah seorang ulama yang banyak menulis berbagai ilmu pengetahuan baik
terminologi umum maupun agama, misalnya hokum, sejarah, fikih, dan tauhid. Buku-buku yang
disusunnya antara lain Shirat al Mustaqim (tentang hukum), Bustan al Salatin (tentang sejarah),
dan Ashar Al Ihsan Fi Marifati Arruh War Rahaman (tentang ilmu kalam.
4. Syekh Mahmud Arsyad Al Banjari
Syekh Mahmud Arsyad Al Banjari adalah seorang ulama fikih yang menyusun kitab Sabilul
Muhtadin.
5. Syekh Ahmad Khatib Al Minangkabau
Syekh Ahmad Khatib Al Minangkabau adalah seorang ulama yang menulis buku tentang ajaran
tarekat. Bukunya antara lain berjudul Izhamul Zaghlil Kadzibin Fi Tasyabuhin Bish Shadiqiin.
Selain para ulama tersebut, masih banyak ulama lain yang telah menulis berbagai buku ilmu
pengetahuan, baik tentang terminology agama maupun umum. Selain agama, perkembangan kebudayaan
pun sangat pesat karena para dai dan wali dalam penyebaran Islam menggunakan seni sebagai media
dakwah.

Demikian juga dalam pembangunan rumah ibadah sebagai pusat kegiatan umat, seperti masjid
yang mengembangkan gaya arsitektur yang indah dan estetis, misalnya, dalam pembangunan Masjid
Agung Demak, Masjid Agung Kasepuhan Cirebon, Masjid Agung Banten, dan Masjid Agung
Baiturrahman Aceh. Masjid-masjid tersebut menunjukkan betapa indah dan istimewanya arsitektur
masjid, dengan denah yang berbentuk persegi empat atau bujur sangkar, atap yang bertumpang, mihrab
yang lengkung pola kalamakara, dan mimbar yang penuh ukiran indah.
Di pintu gerbang atau keratin terdapat berbagai ukiran dalam bentuk candi lontar atau kiri agung.
Semua itu menunjukkan betapa pada saat itu seni dan budaya telah mengalami kemajuan yang sangat
pesat.

C. Hikmah Perkembangan Islam di Indonesia


Hikmah yang dapat diperoleh dengan mempelajari sejarah perkembangam Islam di Indonesia
antara lain:
1. Mengetahui dan memahami perkembangan Islam di Indonesia;
2. Mengetahui dan memahami perkembangan ilmu pengetahuan dan kebudayaan;
3. Menjadi cermin untuk memacu kehidupan yang lebih baik;
4. Mempelajari sejarah agar dapat melakukan perubahan yang lebih baik;
5. Menghargai kerja keras para pahlawan agama Islam.

TUGAS AGAMA

Nama
Kelas
No. Absen

: Prila Puspita Handayani


: XII IPA 1
: 23