Anda di halaman 1dari 27

LAPORAN PBL 4

BLOK NEFROURINARY
Benign Hyperplasia Prostat

Tutor :
dr. Yulia Fitriani, Sp.M
Anggota :
Mulia Sari

GIA011112

Tri Ujiana Sejati

GIA011113

Kania Kanistia

GIA011114

Nadhilah Idzni

GIA011115

Niswati Syarifah anwar

GIA011116

Katharina Listyaningrum P

GIA011117

FitrianiNurnadziah

G1a011118

Ria Pusparini

GIA011119

Wahyu Eko Pratomo

GIA011120

Witri Septia Ningrum

GIA011121

Primadevi laksita

GIA011124

KEMENTERIAN PENDIDIKAN NASIONAL DAN KEBUDAYAAN


UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN
FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU-ILMU KESEHATAN
JURUSAN KEDOKTERAN
PURWOKERTO
2013

BAB I
PENDAHULUAN
INFORMASI I
Tn. Senpai, usia 65 tahun datang ke IGD RSMS dengan keluhan tidak bisa
buang air kecil sejak 2 hari sebelum masuk RS.
INFORMASI 2
Sejak 3 bulan yang lalu, pasien harus mengedan dulu bila akan kencing
dan air kencing baru keluar setelah ditunggu beberapa saat. Pasien mengeluh
pancaran air kencingnya lemah, alirannya terputus-putus dan menetes setelah
kencing. Pasien sering merasakan nyeri saat buang air kecil dan merasakan tidak
nyaman pada perut bagian bawah tengah. Pasien sering merasakan sangat ingin
kencing, merasa tidak puas setelah buang air kecil dan merasa masih ada sisa air
kencing. Hal ini membuat pasien berkeinginan untuk kencing lagi meskipun baru
2-3 jam yang lalu buang air kecil.
Pada malam hari pasien sering terbangun untuk kencing sampai 5 kali.
Kencing pasien tetap tidak lancer meskipun pasien berusaha berubah posisi seperti
tiduran sesaat sebelum buang air kecil.
Dua hari sebelum masuk RS, keluhan dirasakan makin berat dan sangat
mengganggu sehingga pasien memutuskan untuk datang ke IGD RSMS. Riwayat
penyakit asma disangkal, riwayat trauma pada daerah alat kelamin disangkal,
riwayat nyeri saat kencing disangkal, riwayat kencing batu disangkal, riwayat
kencing darah disangkal.
INFORMASI 3
Pemeriksaan fisik
Hasil pemeriksaan fisik
Keadaan umum: baik
Kesadaran: compos mentis
Tekanan darah: 120/80mmHg

Nadi :100x/menit

Respirasi: 16x/menit

suhu : 36,5OC

Kepala: dalam batas normal


Thorax: jantung dan paru dalam batas normal
Abdomen: distensi suprapubik, terasa massa suprapubik, nyeri tekan (+)
Pemeriksaan Rectal Toucher (RT) setelah dilakukan pemasangan kateter
Tonus sfingter anus cukup, ampula rekti tidak kolaps, mukosa rectum licin, teraba
pembesaran pada arah jam 11-1, konsistensi kenyal, tidak bernodul, nyeri (-)
INFORMASI 4
INFORMASI 5

BAB II
ISI
A. Sasaran Belajar
1.

Bagaimana mekanisme normal miksi ? IPIT :)

2.

Apa itu retensi urin ? TRI


a.

Definisi
1) Retensi urin adalah suatu keadaan penumpukan urin di kandung
kemih

dan

tidak

mempunyai

kemampuan

untuk

mengosongkannya secara sempurna (Mansjoer, 2012).


2) Retensio urine adalah ketidakmampuan untuk melakukan urinasi
meskipun terdapat keinginan atau dorongan terhadap hal
tersebut (Brunner, 2002).
b. Etiologi
1) Supra

vesikal

berupa

kerusakan

pada

pusat

miksi

di

medullaspinalis
2) Vesikalberupa kelemahan otot detrusor karena lama teregang
3) Intravesikal berupa pembesaran prostat, kekakuan lehervesika,
batu kecil dan tumor
4) Dapat disebabkan oleh kecemasan, pembesaran prostat,kelainan
patologi uretra, trauma, disfungsi neurogenik kandung kemih.
c. Manifestasi Klinis
1) Urine mengalir lambat
2) Terjadi poliuria yang makin lama makin parah karena
pengosongan kandung kemih tidak efisien
3) Terjadi distensi abdomen akibat dilatasi kandung kemih
4) Berkemih tidak efisien :
a)

Terjadi distensi abdomen akibat dilatasi kandung kemih

b) Terasa ada tekanan, kadang terasa nyeri dan merasa ingin


BAK.
c)

Pada retensi berat bisa mencapai 2000-3000 cc.

3.

Bagaimana patofisiologi dari retensi urin ? TRI


Pada retensi urin, penderita tidak dapat miksi, buli-buli
penuh disertai rasa sakit yang hebat di daerah suprapubik dan
hasrat ingin miksi yang hebat disertai mengejan. Retensi urin
dapat terjadi menurut lokasi, faktor obat dan faktor lainnya
seperti ansietas, kelainan patologi urethra, trauma dan lain
sebagainya. Berdasarkan lokasi bisa dibagi menjadi supra
vesikal berupa kerusakan pusat miksi di medulla spinalsi
menyebabkan kerusakan simpatis dan parasimpatis sebagian
atau seluruhnya sehingga tidak terjadi koneksi dengan otot
detrusor yang mengakibatkan tidak adanya atau menurunnya
relaksasi otot sphinkter internal, vesikal berupa kelemahan otot
detrusor karena lama teregang, intravesikal berupa hipertrofi
prostat, tumor atau kekakuan leher vesika, striktur, batu kecil
menyebabkan obstruksi urethra sehingga urine sisa meningkat
dan terjadi dilatasi bladder kemudian distensi abdomen. Faktor
obat dapat mempengaruhi proses BAK, menurunkan tekanan
darah, menurunkan filtrasi glumerolus sehingga menyebabkan
produksi

urine

menurun.

Factor

lain

berupa

kecemasan,

kelainan patologi urethra, trauma dan lain sebagainya yang


dapat meningkatkan tensi otot perut, peri anal, spinkter anal
eksterna tidak dapat relaksasi dengan baik.
Dari semua faktor di atas menyebabkan urine mengalir
lambat kemudian terjadi poliuria karena pengosongan kandung
kemih tidak efisien. Selanjutnya terjadi distensi bladder dan
distensi

abdomen

sehingga

memerlukan

tindakan,

salah

satunya berupa kateterisasi urethra.

4.

Apa saja etiologi dari masa suprapubik ? IPIT :)

5.

Jelaskan anatomi, histologi, dan fisiologi dari kelenjar prostat !


KAEL
a.

Anatomi Prostat

Prostat adalah organ genitalia pria yang terletak di


sebelah

inferior

buli-buli,

di

depan

rektum

dan

membungkus uretra posterior. Bbentuknya seperti buah


kemiri dengan ukuran 4 x 3 x 2,5 cm dan beratnya kurang
lebih

20

gram.

Kelenjar

ini

terdiri

atas

jaringan

fibromuskular dan glandular yang terbagi dalam beberapa


daerah atau zona, yaitu zona perifer, zona sentralis, zona
transisional, zona preprostatik sfingter, dan zona anterior.
Sebagian besar hiperplasia prostat terdapat pada zona
transisional,

sedangkan

pertumbuhan

pertumbuhan

karsinoma prostat berasal dari zona perifer (Purnomo,


2013).
Prostat menghasilkan suatu cairan yang merupakan
salah satu cairan yang merupakan salah satu komponen
dari cairan ejakulat. Cairan ini dialirkan melalui duktus
sekretorius

dan

bermuara

di

uretra

posterior

untuk

kemudian dikeluarkan bersama cairan semen yang lain


pada saat ejakulasi. Volume cairan prostat merupakan
25% dari seluruh volume ejakulat. Jika kelenjar ini
mengalami hiperplasia jinak atau berubah menjadi kanker
ganas dan membuntu uretra posterior dan mengakibatkan
terjadinya obstruksi saluran kemih (Purnomo, 2013).

Gambar 1. Glandula prostate dilihat dari superior

Gambar 2. Glandula prostate dilihat dari samping


Prostat

diinervasi

parasimpatik.
prostatikus

Parasimpatik

atau

pleksus

otonomik
berasal
pelvikus

simpatik
dari
yang

dan

pleksus
menerima

masukan serabut parasimpatik dari korda spinalis S 2-4 dan


saraf simpatik berasal dari nervus hipogastrik T 10-L2.
Rangsangan parasimpatik akan meningkatkan sekresi
kelenjar pada epitel prostat, sedangkan simpatik akan
merangsang pengeluaran cairan prostat ke dalam uretra
posterior, seperti pada saat proses ejakulasi. Sistem saraf
simpatik menginervasi otot polos prostat, kapsula prostat,
dan leher buli-buli Error: Reference source not found..
Vaskularisasi prostat (Snell, 2006)
Aorta pars abdominalisa.iliaca communisa.iliaca
internaa.pudendi interna,a. vesicalis inferior,a.rectalis
mediakelenjar prostat
b. Histologi Prostat
Secara umumnya, kalenjar prostat terbentuk dari
glandular fibromaskuler dan juga stroma, di mana, prostat
berbentuk piramida, berada di dasar musculofascial pelvis
dimana dan dikelilingi oleh selaput tipis dari jaringan ikat
(Dixon et al, 2001).
Secara histologinya, prostat dapat dibagi menjadi 3
bagian atau zona yakni perifer, sentral dan transisi. Zona
perifer, memenuhi hamper 70% dari bagian kalenjar prostat
di mana ia mempunyai duktus yang menyambung dengan
urethra prostat bagian distal. Zona sentral atau bagian
tengah pula mengambil 25% ruang prostat dan juga seperti
zona perifer tadi, ia juga memiliki duktus akan tetapi
menyambung dengan uretra prostat di bagian tengah,
sesuai dengan bagiannya. Zona transisi, atau bagian yang
terakhir dari kalnjar prostat terdiri dari dua lobus, dan juga
seperti dua zona sebelumnya, juga memiliki duktus yang

mana duktusnya menyambung hampir ke daerah sphincter


pada urethra prostat dan menempati 5% ruangan prostat.
Seluruh duktus ini, selain duktus ejakulator dilapisi oleh sel
sekretori kolumnar dan terpisah dari stroma prostat oleh
lapisan sel basal yang berasal dari membrana basal (Dixon
et al. 2001).

Gambar 3. Histologi prostat


c.

Fisiologi Prostat
Cairan

ejakulat

merupakan

suatu

cairan

hasil

produksi kelenjar prostat. Cairan ejakulat ini dialirkan


melalui

duktus

sekretorius

dan

bermuara

di

urethra

posterior untuk selanjutnya dikeluarkan bersama dengan


cairan semen pada saat ejakulasi. Volume cairan prostat
kurang lebih 25% dari seluruh volume ejakulat (Purnomo,
2013).

6.

Jelaskan mengenai LUTS (Lower Urinary Tract Symptoms) dan IPSS


(International Prostatic Symptom Score) ! SARI
Kumpulan gejala pada BPH dikenal dengan LUTS (Lower
Urinary Tract Symptoms). Gejala BPH dibagi 2, yaitu gejala obstruksi
dan gejala iritasi. Gejala obstruksi terjadi karena detrusor gagal

berkontraksi dengan cukup kuat atau gagal berkontraksi cukup lama


sehingga kontraksi terputus-putus. Sedangkan gejala iritasi terjadi karena
pengosongan yang tidak sempurna pada saat miksi atau pembesaran
prostat menyebabkan rangsangan pada kandung kemih. Antara lain gejala
obstruksi : hesitansi, pancaran urin lemah, intermittensi, terminal
dribbling, terasa ada sisa setelah miksi; dan gejala iritasi : urgensi,
frekuensi, nokturia, serta disuria (Sjamsuhidayat, 2003).
IPSS (International Prostatic Symptom Score) merupakan skor
yang digunakan untuk mengetahui derajat keparahan dari BPH. Dimana
nantinya ketika skor dijumlahkan, maka dapat diinterpretasikan
(Purnomo, 2013) :
a.

Skor 0-7

: ringan

b.

Skor 8-19

: sedang

c.

Skor 20-35

: berat

Gambar 4. Skor IPSS


7.

Jelaskan mengenai BPH ! KANIA & ARIN


a.

Definisi BPH
BPH adalah pertumbuhan berlebihan sel-sel prostat yang
tidak ganas. BPH merupakan sejenis keadaan di mana
kelenjar prostat membesar dengan cepat (Roehborn, 2002).

b. Etiologi BPH
Penyebab BPH belum jelas. Beberapa teori telah
dikemukakan berdasarkan faktor histologi, hormon, dan
faktor perubahan usia, diantaranya (Purnomo, 2013) :
1) Teori DHT (dihidrotestosteron)
Testosteron

dengan

bantuan

enzim

5-

reduktase dikonversi menjadi DHT yang merangsang


pertumbuhan kelenjar prostat.
2) Teori Reawakening
Teori ini berdasarkan kemampuan stroma untuk
merangsang pertumbuhan epitel. Menurut Mc Neal,
seperti pada embrio, lesi primer BPH adalah penonjolan
kelenjar

yang

kemudian

kelenjar-kelenjar

baru

bercabang
di

menghasilkan

sekitar

prostat.

Ia

menyimpulkan bahwa hal ini merupakan reawakening


dari induksi stroma yang terjadi pada usia dewasa.
3) Teori stem cell hypotesis
Isaac

dan

Coffey

mengajukan

teori

ini

berdasarkan asumsi bahwa pada kelenjar prostat, selain


ada hubungannya dengan stroma dan epitel, juga ada
hubungan antara jenis-jenis sel epitel yang ada di
dalam jaringan prostat. Stem sel akan berkembang
menjadi sel aplifying, yang keduanya tidak tergantung
pada androgen. Sel aplifying akan berkembang menjadi
sel

transit

yang

tergantung

secara

mutlak

pada

androgen, sehingga dengan adanya androgen sel ini


akan berproliferasi dan menghasilkan pertumbuhan
prostat yang normal.

4) Teori growth factors


Teori ini berdasarkan adanya hubungan interaksi
antara unsur stroma dan unsur epitel prostat yang
berakibat BPH. Faktor pertumbuhan ini dibuat oleh selsel stroma di bawah pengaruh androgen. Adanya
ekspresi berlebihan dari epidermis growth factor (EGF)
dan atau fibroblast growth factor (FGF) dan atau adanya
penurunan ekspresi transforming growth factor- (TGF
- ), akan menyebabkan terjadinya ketidakseimbangan
pertumbuhan prostat dan menghasilkan pembesaran
prostat.
Namun demikian, diyakini ada 2 faktor penting
untuk terjadinya BPH, yaitu adanya dihidrotestosteron
(DHT)

dan

proses

penuaan.

Pada

pasien

dengan

kelainan kongenital berupa defisiensi 5- reduktase,


yaitu enzim yang mengkonversi testosteron ke DHT,
kadar serum DHT-nya rendah, sehingga prostat tidak
membesar. Sedangkan pada proses penuaan, kadar
testosteron

serum

menurun

disertai

meningkatnya

konversi testosteron menjadi estrogen pada jaringan


periperal. Pada anjing, estrogen menginduksi reseptor
androgen.

Peran

androgen

dan

estrogen

dalam

pembesaran prostat benigna adalah kompleks dan


belum jelas. Tindakan kastrasi sebelum masa pubertas
dapat

mencegah

Penderita

dengan

pembesaran
kelainan

prostat

genetik

benigna.

pada

fungsi

androgen juga mempunyai gangguan pertumbuhan


prostat. Dalam hal ini, barangkali androgen diperlukan
untuk memulai proses BPH, tetapi tidak dalam hal
proses pemeliharaan. Estrogen berperan dalam proses
pembesaran

stroma

yang

selanjutnya

pembesaran epitel.
c. Faktor Risiko BPH (Roehborn, 2002).
1) Kadar Hormon

merangsang

Kadar

hormon

berhubungan

dengan

testosteron
peningkatan

yang
risiko

tinggi
BPH.

Testosteron akan diubah menjadi androgen yang lebih


poten yaitu dihydrotestosteron (DHT) oleh enzim 5reductase,

yang

memegang

peran

penting

dalam

proses pertumbuhan sel-sel prostat .


2) Usia
Pada usia tua terjadi kelemahan umum termasuk
kelemahan pada buli (otot detrusor) dan penurunan
fungsi persarafan. Perubahan karena pengaruh usia tua
menurunkan

kemampuan

buli-buli

dalam

mempertahankan aliran urin pada proses adaptasi oleh


adanya obstruksi karena pembesaran prostat, sehingga
menimbulkan gejala.
3) Ras
Orang dari ras kulit hitam memiliki risiko 2 kali
lebih besar untuk terjadi BPH dibanding ras lain. Orangorang Asia memiliki insidensi BPH paling rendah.
4) Riwayat keluarga
Riwayat keluarga pada penderita BPH dapat
meningkatkan risiko terjadinya kondisi yang sama pada
anggota keluarga yang lain. Semakin banyak anggota
keluarga yang mengidap penyakit ini, semakin besar
risiko anggota keluarga yang lain untuk dapat terkena
BPH. Bila satu anggota keluarga mengidap penyakit ini,
maka risiko meningkat 2 kali bagi yang lain. Bila 2
anggota keluarga, maka risiko meningkat menjadi 2-5
kali.
5) Obesitas
Pada obesitas terjadi peningkatan kadar estrogen
yang berpengaruh terhadap pembentukan BPH melalui
peningkatan sensitisasi prostat terhadap androgen dan
menghambat proses kematian sel-sel kelenjar prostat.
Pola

obesitas

pada

laki-laki

penimbunan lemak pada abdomen.

biasanya

berupa

6) Pola Diet
Kekurangan

mineral

penting

seperti

seng,

tembaga, selenium berpengaruh pada fungsi reproduksi


pria. Yang paling penting adalah seng, karena defisiensi
seng berat dapat menyebabkan pengecilan testis yang
selanjutnya berakibat penurunan kadar testosteron.6
Selain itu, makanan tinggi lemak dan rendah serat juga
membuat penurunan kadar testosteron.
7) Aktivitas Seksual
Kalenjar prostat adalah organ yang bertanggung
jawab

untuk

pembentukan

hormon

laki-laki.

BPH

dihubungkan dengan kegiatan seks berlebihan dan


alasan kebersihan. Saat kegiatan seksual, kelenjar
prostat mengalami peningkatan tekanan darah sebelum
terjadi ejakulasi. Jika suplai darah ke prostat selalu
tinggi,

akan

terjadi

hambatan

prostat

yang

mengakibatkan kalenjar tersebut bengkak permanen.


Seks yang tidak bersih akan mengakibatkan infeksi
prostat yang mengakibatkan BPH. Aktivitas seksual
yang tinggi juga berhubungan dengan meningkatnya
kadar hormon testosteron.
8) Kebiasaan merokok
Nikotin dan konitin (produk pemecahan nikotin)
pada

rokok

meningkatkan

aktifitas

enzim perusak

androgen, sehingga menyebabkan penurunan kadar


testosteron.
9) Kebiasaan minum-minuman beralkohol
Konsumsi

alkohol

akan

menghilangkan

kandungan zink dan vitamin B6 yang penting untuk


prostat yang sehat. Zink sangat penting untuk kelenjar
prostat.
10) Olah raga
Para pria yang tetap aktif berolahraga secara
teratur, berpeluang lebih sedikit mengalami gangguan
prostat, termasuk BPH. Dengan aktif olahraga, kadar

dihidrotestosteron dapat diturunkan sehingga dapat


memperkecil

risiko

gangguan

prostat.

Selain

itu,

olahraga akan mengontrol berat badan agar otot lunak


yang melingkari prostat tetap stabil. Olahraga yang
dianjurkan adalah jenis yang berdampak ringan dan
dapat memperkuat otot sekitar pinggul dan organ
seksual.
11) Penyakit Diabetes Mellitus
Laki-laki yang mempunyai kadar glukosa dalam
darah

>

terjadinya

110

mg/Dl

BPH,

mempunyai

sedangkan

untuk

risiko
laki-laki

tiga

kali

dengan

penyakit Diabetes Mellitus mempunyai risiko dua kali


terjadinya BPH dibandingkan dengan laki-laki dengan
kondisi normal.

8.

Apa saya pemeriksaan penunjang untuk BPH ? (Mansjoer, 2012; IAUI,


2004) MBA MAWAR & NADIL

Pemeriksaan laboratorium :
a.

Sedimen urin
Untuk mencari kemungkinan adanya proses infeksi atau
inflamasi pada salurankemih. Mengevaluasi adanya eritrosit,
leukosit, bakteri, protein atau glukosa.

b.

Kultur urin
Mencari jenis kuman yang menyebabkan infeksi dan
sekaligus

menentukan

sensifitas

kuman

terhadap

beberapa

antimikroba yang diujikan


c.

Faal ginjal
Mencari kemungkinan adanya penyulit yang mengenai
saluran kemih bagian atas. Elektrolit, BUN, dan kreatinin berguna
untuk insufisiensi ginjal kronis pada pasienyang memiliki postvoid
residu (PVR) yang tinggi

d.

Gula darah

Mencari kemungkinan adanya penyekit diabetes mellitus


yang dapat menimbulkankelainan persarafan pada buli-buli (buli-buli
neurogenik
e.

Penanda tumor PSA (prostat spesifik antigen)


Jika curiga adanya keganasan prostat

Pemeriksaan Patologi Anatomi :


Mikroskopis, ciri khas BPH adalah nodularity. Komposisi nodul
berkisar dari nodul fibromuskular murni stroma ke nodul fibroepithelial
dengan dominasi kelenjar. Proliferasi kelenjar mengambil bentuk
agregasi besar kecil ke kelenjar cystically melebar, dilapisi oleh dua
lapisan, sebuah kolumnar batin dan epitel kuboid atau diratakan luar.
Diagnosis BPH biasanya tidak dapat dilakukan pada biopsi jarum, karena
histologi kelenjar atau campuran kelenjar-stroma nodul BPH tidak dapat
dihargai dalam sampel yang terbatas. Juga, biopsi jarum tidak biasanya
sampel zona transisi di mana BPH terjadi (Kumar, 2010)

Nodular hiperplasia prostat. Nodul


A. Didefinisikan BPH kompres uretra ke dalam lumen slitlike.
B. Pandangan mikroskopis dari puncak seluruh prostat
menunjukkan nodul kelenjar hiperplastik di kedua sisi
uretra.

C. Under daya tinggi populasi sel karakteristik ganda:


kolumnar dalam dan luar sel basal rata dapat dilihat (Kumar,
2010).
Pencitraan pada Benigna Prostat Hiperplasia:
a.

Foto polos
Berguna untuk mencari adanya batu opak di saluran kemih,
adanya batu/kalkulosa prostat dan kadangkala menunjukan bayangan
buli-buli yang penuh terisi urine, yang merupakan tanda suatu retensi
urine

b.

Pemeriksaan ultrasonografi transrektal (TRUS)


Adalah tes USG melalui rectum. Dalam prosedur ini, probe
dimasukkan ke dalam rektum mengarahkan gelombang suara di
prostat. Gema pola gelombang suara merupakan gambar dari
kelenjar prostat pada layar tampilan. Untuk menentukanapakah suatu
daerah yang abnormal tampak memang tumor, digunakan probe dan
gambar USG untuk memandu jarum biopsi untuk tumor yang
dicurigai. Jarum mengumpulkan beberapa potong jaringan prostat
untuk pemeriksaan dengan mikroskop. Biopsy terutama dilakukan
untuk pasien yang dicurigai memiliki keganasan prostat.Transrektal
ultrasonografi (TRUS) sekarang juga digunakan untuk pengukur
volume prostat, caranya antara lain :

c.

Metode step planimetry


Yang menghitung volume rata-rata area horizontal diukur dari
dasar sampai puncak.

d.

Metode diameter
Yang

menggabungkan

pengukuran

tinggi

(H/height)

,lebar(W/width) dan panjang (L/length) dengan rumus : (H x W x


L).c
e.

Sistoskopi
Dalam pemeriksaan ini, disisipkan sebuah tabung kecil
melalui pembukaan urethra di dalam penis. Prosedur ini dilakukan
setelah solusi numbs bagian dalam penis sehingga sensasi semua

hilang. Tabung, disebut sebuah cystoscope , berisi lensa dan sistem


cahaya yang membantu dokter melihat bagian dalam uretra dan
kandungkemih. Tes ini memungkinkan dokter untuk menentukan
ukuran kelenjar dan mengidentifikasi lokasi dan derajat obstruksi
f.

Ultrasonografi trans abdominal


Gambaran sonografi benigna hyperplasia prostat menunjukan
pembesaran bagiandalam glandula, yang relatif hipoechoic dibanding
zona perifer. Zona transisihipoekoik cenderung menekan zona central
dan perifer. Batas yang memisahkan hyperplasia dengan zona perifer
adalah

surgical

capsule.USG

transabdominal

mampu

pula

mendeteksi adanya hidronefrosis ataupun kerusakan ginjal akibat


obstruksi BPH yang lama.
g.

Pemeriksaan lain
1) Pemeriksaan derajat obstruksi prostat dapat diperkirakan dengan
cara mengukur:
a)

Residual urin : Jumlah sisa urin setelah miksi, dengan cara


melakukan kateterisasi/USG setelah miksi.

b) Pancaran urin/flow rate : Dengan menghitung jumlah urine


dibagi dengan lamanya miksi berlangsung (ml/detik)atau
dengan alat uroflometri yang menyajikan gambaran grafik
pancaran urin. Aliranyang berkurang sering pada BPH. Pada
aliran urin yang lemah, aliran urinnya kurangdari 15mL/s
dan terdapat peningkatan residu urin.
2) Post-void residual
Mengukur jumlah air seni yang tertinggal di dalam kandung
kemih setelah buang air kecil. PRV kurangdari 50 mL umum
menunjukkan pengosongan kandung kemih yang memadai dan
pengukuran 100 sampai 200 ml atau lebih sering menunjukkan
sumbatan. Pasien diminta untuk buang air kecil segera sebelum
tes dan sisa urin ditentukan oleh USG atau kateterisasi.
3) Catatan harian miksi (voiding diaries)

Voiding diaries saat ini dipakai secara luas untuk


menilai fungsi traktus urinarius bagian bawah dengan
reliabilitas dan validitas yang cukup baik. Pencatatan
miksi ini sangat ber-guna pada pasien yang mengeluh
nokturia sebagai keluhan yang menonjol. Dengan
mencatat kapan dan berapa jumlah asupan cairan
yang dikonsumsi serta kapan dan berapa jumlah urine
yang

dikemihkan dapat

menderita

nokturia

diketahui

idiopatik,

seorang

instabilitas

pasien
detrusor

akibat obstruksi infra-vesika, atau karena poliuria


akibat asupan air yang berlebih. Sebaiknya pencatatan
dikerjakan 7 hari berturut-turut untuk mendapatkan
hasil yang baik.
4) Uretrosistoskopi
Pemeriksaan ini secara visual dapat mengetahui
keadaan uretra prostatika dan bulibuli. Terlihat adanya
pembesaran prostat, obstruksi uretra dan leher bulibuli, batu buli-buli, trabekulasi buli-buli, selule, dan
divertikel bulibuli. Selain itu sesaat sebelum dilakukan
sistoskopi diukur volume residual urine pasca miksi.
5) Pemeriksaan urodinamik
Pemeriksaan

urodinamika(pressure

flow

study)

dapat mem-bedakan pancaran urine yang lemah itu


disebabkan karena obstruksi leher buli-buli dan uretra
(BOO)

atau

kelemahan

kontraksi

otot

detrusor.

Pemeriksaan ini cocok untuk pasien yang hendak


menjalani

pembedahan.

Mungkin

saja

LUTS

yang

dikeluhkan oleh pasien bukan disebabkan oleh BPO


melainkan disebabkan oleh kelemahan kontraksi otot
detrusor

sehingga

pada

keadaan

ini

tindakan

desobstruksi tidak akan bermanfaat. Pemerik-saan


urodinamika merupakan pemeriksaan optional pada
evaluasi pasien BPH bergejala.

9.

Bagaimana penatalaksanaan pasien BPH ? (Roehrborn, 2009)


WAHYU
a.

Watchfull Waiting
Tatalaksana pada penderita BPH saat ini tergantung
pada LUTS yang diukur dengan sistem skor IPSS. Pada
pasien dengan skor ringan (IPSS 7 atau Madsen Iversen
9), dilakukan watchful waiting atau observasi
mencakup

edukasi,

reasuransi,

kontrol

yang

periodik,

dan

pengaturan gaya hidup. Bahkan bagi pasien dengan LUTS


sedang yang tidak terlalu terganggu dengan gejala LUTS
yang

dirasakan

juga

dapat

memulai

terapi

dengan

melakukan watchful waiting. Saran yang diberikan antara


lain :
1) Mengurangi minum setelah makan malam (mengurangi
nokturia)
2) Menghindari obat dekongestan (parasimpatolitik)
3) Mengurangi minum kopi dan larang minum alkohol
(mengurangi frekuensi miksi)
4) Setiap 3 bulan mengontrol keluhan: sistem skor, Qmax,
sisa kencing, TRUS
b. Medical Treatment
1) Penghambat adrenergik alfa
Obat ini menghambat reseptor alfa pada otot
polos di trigonum, leher vesika, prostat, dan kapsul
prostat, sehingga terjadi relaksasi, penurunan tekanan
di

uretra

obstruksi.

pars

prostatika,

Perbaikan

gejala

sehingga
timbul

meringankan

dengan

cepat,

contohnya Prazosin, Doxazosin, Terazosin, Afluzosin,


atau Tamsulosin. Efek samping yang dapat timbul
adalah karena penurunan tekanan darah sehingga
pasien bisa mengeluh pusing, capek, hidung tersumbat,
dan lemah.
2) Finasteride
Finasteride
menyebabkan

menghambat

pembesaran

prostat

hormon
sehingga

yang
dapat

memperkecil ukuran prostat.Obat ini juga menyebabkan


meningkatnya laju aliran air kemih dan mengurangi
gejala. tetapi diperlukan waktu sekita 3-6 bulan sampai
terjadinya perbaikan yang berarti. Efek samping dari
Finasteride ini adalah berkurangnya gairah sexual dan
impotensi.
3) Penghambat enzim 5 reduktase
Obat ini menghambat kerja enzim 5 reduktase
sehingga

testosteron

tidak

diubah

menjadi

DHT,

konsentrasi DHT dalam prostat menurun, sehingga


sintesis

protein

terhambat.

Perbaikan

gejala

baru

muncul setelah 6 bulan, dan efek sampingnya antara


lain melemahkan libido, dan menurunkan nilai PSA.
4) Phytoterapi
Obat dari tumbuhan herbal ini mengandung
Hypoxis Rooperis, Pygeum Africanum, Urtica Sp, Sabal
Serulla, Curcubita pepo, populus temula, Echinacea
pupurea, dan Secale cereale. Banyak mekanisme kerja
yang belum jelas diketahui, namun PPygeum Africanum
diduga mempengaruhi kerja Growth Factor terutama bFGF dan EGF. Efek dari obat lain yaitu anti-estrogen,
anti-androgen,

menurunkan

sex

binding

hormon

globulin, hambat proliferasi sel prostat, pengaruhi


metabolisme

prostaglandin,

anti-inflamasi,

dan

menurunkan tonus leher vesika.


c.

Tatalaksana Invasif
Tatalaksana

invasif

pada

BPH

bertujuan

untuk

mengurangi jaringan adenoma. Indikasi absolut untuk


melakukan tatalaksana invasif :
1) sisa kencing yang banyak
2) infeksi saluran kemih berulang
3) batu vesika
4) hematuria makroskopik
5) retensi urin berulang
6) penurunan fungsi ginjal

Standar emas untuk tatalaksana invasif BPH adalah


Trans Urethral Resection of the Prostate (TURP) yang
dilakukan untuk gejala sedang sampai berat, volume
prostat kurang dari 90 gram, dan kondisi pasien memenuhi
toleransi operasi. Komplikasi jangka pendek pada TURP
antara lain perdarahan, infeksi, hiponatremi, retensi karena
bekuan darah. Komplikasi jangka panjang TURP adalah
striktur uretra, ejakulasi retrograd, dan impotensi.
Trans Urethral Incision of the Prostate (TUIP) dapat
dilakukan apabila volume prostat tidak begitu besar/ada
kontraktur leher vesik / prostat fibrotik. Indikasi TUIP yaitu
keluhan sedang atau berat dan volume prostat tidak begitu
besar.
Bila alat yang tersedia tidak memadai, maka dapat
dilakukan operasi terbuka dengan teknik transvesikal atau
retropubik. Karena morbiditas dan mortalitas yang tinggi
yang ditimbulkannya, operasi sejenis ini hanya dilakukan
apabila ditemukan pula batu vesika yang tidak bisa
dipecah dengan litotriptor / divertikel yang besar (sekaligus
diverkulektomi) / volume prostat lebih dari 100cc.

10. Apa saja komplikasi dari BPH ? (Purnomo, 2013) WITRI


Komplikasi yang bisa terjadi pada penderita BPH adalah bila pada
buli-buli menjadi dekompensasi akan terjadi retensio urin. Produksi urin
terus berlanjut walaupun vesika urinaria rusak, sehingga saat vesika
urinaria tidak mampu menampung urin, tekanan intra vesika meningkat
dan menimbulkan hidroureter, hidronefrosis dan gagal ginjal. Proses
kerusakan ginjal dapat dipercepat bila terdapat infeksi.
Sisa urin yang tertinggal dapat menjadi batu endapan di dalam
vesika urinaria. Adanya batu tersebut dapat menimbulkan terjadinya
iritasi, sehingga dapat timbul hematuria, sistitis dan bila terjadi refluks
dapat timbul pielonefritis. Penderita BPH merasa kesusahan saat mereka
berkemih sehingga mereka harus mengedan saat berkemih. Hal ini dapat
mengakibatkan timbulnya hernia atau hemorrhoid.

11. Bagaimana prognosis dri pasien BPH ? WITRI


Prognosis BPH tidak dapat diprediksi dengan tepat tetapi
dapat dikatakan buruk jika tidak segera ditangani karena dapat
berkembang mengakibatkan terjadinya kelainan pada saluran
urinaria (Purnomo, 2013).

DAFTAR PUSTAKA
Brunner, L dan Suddarth D. 2002. Buku Ajar Keperawatan Medical Bedah Edisi 8
Volume 1. Jakarta : EGC.
Dixon, Shannon et al. 2001. A Randomized Phase II Trial of Thalidomide, an
Angiogenesis Inhibitor, in Patients with Androgen-independent Prostate
Cancer.
IAUI. 2004. Pedoman Penatalaksanaan BPH di Indonesia.

Mansjoer, Arief. 2012. Kapita Selekta Kedokteran Edisi 4. Jakarta : Media


Aesculapius Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.
Purnomo, Basuki. 2013. Dasar-dasar Urologi. Jakarta : Sagung Seto.
Roehrborn, Mcconnell. 2009. Benign Prostatic Hyperplasia. Wein. CampbellWalsh Urology. 9th edition. Philadelphia : Saunders.
Sjamsuhidayat R, Wim De Jong. 2003. Buku Ajar Ilmu Bedah. Jakarta : EGC.
Snell, Richard S. 2006. Anatomi Klinik Untuk Mahasiswa. Jakarta: EGC.