Anda di halaman 1dari 3

Marilah kita panjatkan puji syukur kehadirat Allah SWT yang telah memberikan kita

berbagai kenikmatan sehingga kita masih dipertemukan dengan Ramadhan tahun ini.
Sholawat dan salam semoga senantiasa tercurahkan kepada junjungan kita nabi agung
Muhammad SAW yang kita nantikan syafaatnya di Yaumul Akhir.
Allah berfirman QS Al Baqarah 256:

256. Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam); Sesungguhnya

telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang sesat. karena itu
Barangsiapa yang ingkar kepada Thaghut[162] dan beriman kepada Allah,
Maka Sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang Amat kuat
yang tidak akan putus. dan Allah Maha mendengar lagi Maha mengetahui.

Ada 3 hal penting yang sering disebut diperlukan oleh setiap seorang Mukmin yaitu iman,
ilmu dan amal. Ketiga hal tersebut saling berkaitan dan harus dimiliki untuk kebahagiaan
hidup di dunia dan akhirat. Untuk dapat beramal dengan benar, maka seseorang harus
memiliki ilmu. Beramal tanpa ilmu akan menimbulkan banyak kerusakan. Sebagai contoh,
seseorang yang tidak mengetahui hakikat puasa, maka dia berpuasa hanya menahan haus dan
lapar saja, tidak menahan ucapan atau perbuatan keji yang dapat merusak ibadah puasa.
Umar bin Abdul Aziz pernah berkata: Barang siapa yang beramal tanpa didasari ilmu,
maka unsur merusaknya lebih banyak daripada mashlahatnya (Sirah wa manaqibu Umar
bin Abdul Azis, oleh Ibnul Jauzi).
Orang yang ikhlas beramal, tetapi tidak memiliki pemahaman yang benar dapat merusak
amalannya dan bahkan dapat memberikan madhorot kepada orang lain. Rasulullah SAW
pernah menyampaikan bahwa adalah orang yang sesat padahal mereka melaksanakan sholat,
puasa, dan amalan lainnya yang sangat banyak.
Rasulullah SAW bersabda, (Ada sekelompok kaum), mereka menganggap sholat yang
dilakukan oleh kamu sangat kecil bila dibandingkan sholat mereka, dan puasanya dianggap
lebih rendah dari puasa mereka. Mereka membaca Al Quran, tetapi tidak melampaui
kerongkongan mereka. (Fathul Bari 6/714).
Imam Ibnu Taimiyah berkata: Meskipun sholat, puasa dan tilawah Quran mereka banyak,
namun mereka keluar dari kelompok ahlus Sunah wal Jamaah. Mereka adalah kaum ahi
ibadah, wara dan zuhud, tetapi itu semua tidak didasari dengan ilmu.
Maksudnya mereka beribadah dan membaca Al Quran, tetapi amalan tersebut dilaksanakan
hanya sebagai rutinitas, tanpa pemahaman terhadap apa yang dilakukan. Mereka memahami
ibadah itu suatu perintah yang harus dilaksanakan tanpa memahami hikmah dibaliknya.
Terkadang pelaksanaan ibadah dibuat untuk rutinitas saja. Ada pelaksanaan sholat Jumat
berjamaah dengan khutbah yang berisi nasihat dari beberapa ayat Quran dan doa yang sudah
tertulis pada beberapa lembar kertas. Dan cara ini sudah dilakukan bertahun-tahun. Tentu saja
sangat disayangkan jamaah yang sholat Jumat di masjid tersebut. Tidak ada nasehat atau
taujih yang dapat dipahami dan amal yang dapat dilaksanakan.
Terdapat cerita nyata pada suatu perumahan dimana beberapa ibu rumah tangga terjerat
hutang dengan rentenir yang memberikan pinjaman uang dengan bunga yang mencekik.
Ternyata para rentenir terebut adalah ibu-ibu yang terlibat aktif dalam pengajian pekanan.
Kisah ini menunjukkan bahwa kegiatan pengajian rutin yang dilaksanakan tidak memberikan
dampak positif pada aktifitas muamalah yang dilakukan.
Keutamaan seseorang bukan didasarkan pada banyaknya ilmu, hafalan atau amalan, akan
tetapi dilihat dari benar dan dalamnya pemahaman terhadap agama Islam secara menyeluruh.
Oleh sebab itu, Rasulullah SAW pernah bersabda, Satu orang faqih itu lebih berat bagi
setan daripada seribu ahli ibadah. HR. Tirmidzi.

Sahabat Umar bin Khathab ra juga pernah berkata, Kematian seribu ahli ibadah yang selalu
sholat di waktu malam dan berpuasa di siang hari itu lebih ringan daripada kematian orang
cerdas yang mengetahui halhal yang dihalalkan dan diharamkan oleh Allah.
Bagusnya pemahaman terhadap agama mengalahkan faktor yang lainnya. Sebagai contoh,
khalifah Umar bin Khathab ra pernah mengangkat sahabat Ibnu Abbas ra yang pada saat itu
masih berusia 15 tahun untuk menjadi anggota majelis syuro. Umar bin Khathab ra
menjulukinya sebagai pemuda tua karena ketinggian pemahamannya pada usia yang sangat
muda.
Oleh karena itu berusahalah kita mendapatkan pemahaman yang benar terhadap Islam yaitu
pemahaman yang jernih, murni, integral dan universal. Hal ini akan menyelamatkan
kehidupan kita di dunia dan akhirat. Ibnul Qayyim pernah berkata, Benarnya kepahaman
dan baiknya tujuan merupakan nikmat terbesar yang Allah berikan kepada hamba-Nya.
Tiada nikmat yang lebih utama setelah nikmat Islam melebihi kedua nikmat tersebut. Karena
nikmat itulah seseorang memahami Islam dan komitmen pada Islam. Dengannya seorang
hamba dapat terhindar dari jalan orang-orang yang dimurkai, yaitu orang yang buruk
tujuannya. Juga terhindar dari jalan orang-orang yang sesat, yaitu orang yang buruk
pemahamannya, serta akan menjadi orang-orang yang baik tujuan dan pemahamannya.
Wallahu alam.